Anda di halaman 1dari 12

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Selama siklus hidupnya tanaman memperoleh air dengan cara menyerap

air dari lingkungannya yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan faktor

tanaman. Faktor lingkungan yang berpengaruh adalah kandungan air tanah,

kelembaban udara dan suhut anah. Faktor tanaman yang berpengaruh adalah

efisiensi perakaran, perbedaan tekanan difusi air tanah keakar, dan keadaan

protoplasma tanaman (Ai, 2013).

Sebagai salah satu organ tanaman, akar berperan penting pada saat

tanaman merespon kekurangan air dengan cara mengurangi laju transpirasi untu k

menghemat air. Pada umumnya tanah mongering dari permukaan tanah hingga

kelapisan tanah bawah selama musim kemarau. Keadaan ini menghambat

pertumbuhan akar di lapisan tanah yang dangkal, karena sel-selnya tidak dapat

mempertahankan turgor yang diperlukan untuk pemanjangan. Akar yang terdapat

di lapisan tanah lebih dalam masih dikelilingi oleh tanah yang lembab, sehingga

akar tersebut akan terus tumbuh. Dengan demikian sistem akar akan

memperbanyak diri dengan cara memaksimumkan pemaparan air tanah (Ai,

2013).

Proses metabolisme pada tumbuhan sangat bergantung pada tersedianya

unsur hara dalam jumlah yang cukup bagi tanaman. Simbiosis antara tanaman

dengan fungi mikoriza akan meningkatkan kebugaran salah satu atau kedua mitra

yang bersimbiosis (Setiawan, 2015).

Unsur hara yang langka pada media tumbuh menyebabkan perakaran

berkembang lebih panjang untuk menjangkau wilayah yang luas. Perluasan


wilayah jelajah akar belum tentu memiliki berat kering yang tinggi dibandingkan

perakaranyang normal dikarenakan jenisakar yang dikembangkanya itu perakaran

serabut (Amir, 2016).

II.1 Sirih-sirihan Peperomia pellucida

Tumbuhan ini tergolong kedalam tumbuhan dikotil berdasarkan bentuk

hidupnya suruhan termasuk Kamaefit (chamaephyte) yaitu semak kecil dengan

sifat yang memiliki batang dengan percabangan yang tahan pada ketinggian

kurang dari 25 cm diatas permukaan tanah (Sarjani, 2017).

Daun tumbuhan suruhan berbentuk bangun jantung (cordatus) dengan

tulang daun berjumlah tiga berwarna hijau muda. Ujung daun (apex folii) runcing

(acutus) dan pangkal daun (Basis folii) bertoreh, bentuk tulang daun melengkung

(cervinervis), tepi daun rata (interger). Daging daun (interverium) tipis lunak

(herbaceous). Permukaan daun licin (laevis) mengkilat (nitridus). Tumbuhan

suruhan ini bunganya berbentuk bulir (spica) yang tersusun dalam rangkaian

berwarna hijau. Bunga tanaman suruhan muncul pada bagian ujung tangkai dan

ketiak daun. Tanaman suruhan berkembangbiak menggunakan biji (Sarjani,

2017).

II.2 Pacar Air Impatiens Balsamina

Pacar air Impatiens balsamina berasal dari suku Balsaminaceae. Secara

umum masyarakat Indonesia memanfaatkan pacar air sebagai obat dengan cara

direbus dan digiling untuk dioleskan pada bagian tubuh yang terinfeksi bakteri.

Daun pacar air mengandung senyawa naftaquinon, turunan kumarin, flavonoid,

steroid (Suhendra, 2016).


II.3 Transport Air dan Mineral kedalam Xilem

Menurut (Advinda, 2018) air bergerak di dalam tanah terutama dengan

cara aliran massa. Namun, ketika air bersinggungan dengan permukaan akar,

maka transportasi air kedalam jaringan tanaman menjadi lebih kompleks. Sebelum

air ditranspor hingga pucuk tumbuhan, ada tiga lintasan pada akar tanaman yang

dapat ditempuh air mulai dari epidermis akar sampai ke endodermis akar, yaitu:

1. Lintasan apoplas

Pada lintasan apoplas ini air hanya bergerak melalui dinding sel tanpa

menembus membran sel pengangkutan air ini sepanjang jalur ekstraseluler yang

terdiri atas bagian tidak hidup dari akar tumbuhan (dinding sel dan ruang

antarsel). Air masuk dengan cara difusi. Ketika mencapai endodermis, pergerakan

air melalui lintasan apoplas terhalang oleh pita kaspari. Jalur ini merupakan pita di

dinding radial sel endodermis yang memiliki pencobalan dinding sel dari suberin

(bahan seperti lilin yang hidrofobik). Suberin menghalangi pergerakan air dan

larutan. Endodermis yang bersuberin ini terdapat pada bagian akar yang sudah

tidak mengalami pertumbuhan, yaitu beberapa milimeter di atas ujung akar. Pita

kaspari memutuskan lintasan apoplas dan memaksa air serta larutan melewati

endodermis melalui membran plasma. Akhirnya lintasan mcnjadi simplas sampai

kesilinder pusat.

2. Lintasan transmembran transeluler

Pada lintasanini air yang secara berurutan masuk ke sel dari satu sisi dan

keluar melalui sisi lainnya, dan selanjutnya masuk ke sel lain, dan seterusnya.

Pada lintasanini, air sedikitnya melintasi dua membrane dalam sel yang

dilewatinya, yaitu membran plasma dan tonoplas.


3. Lintasan simplas

Pada lintasan simplas ini air bergerak dari sel ke sel yang lain melalui

plasmodesmata. Lintasan simplas mencakup kcseluruhan hubungan sitoplasma sel

yang dihubungkan oleh plasmodesmata. Sistem lintasanini menyebabkan air dapat

mencapai bagian silinder pusat. Adapun lintasan aliran air pada pengangkutan

simplas adalah sel-sel bulu akar menuju sel-sel korteks, endodermis, perisikel, dan

xilem. Dari sini, air siap diangkut keatas menuju batang dan daun.

II. 4 Perjalanan air dalam tubuh tumbuhan

Tanah, tanaman, atmosfir merupakan rangkaian penting dalam penyediaan

air bagi jaringan dan organ tanaman. Air akan selalu bergerak kearah sebuah situs

dengan potcnsial air yang lebih rendah. Menurut definisi, air murni memiliki

potensi air 0 megapascal (MPa). Pada kelembaban relatif 20, potensial air

atmosfer adalah -500 MPa. Perbedaan ini mengakibatkan air akan cenderung

menguap ke atmosfer (Advinda, 2018).

Air dan pembuluh xylem terus-menerus di bawah ketegangan dan

bergerak dalam keadaan stabil dari akar kedaun sepanjang gradient tekanan

hidrostatik. Tergantung pada ketersediaan kelembapan tanah dan deficit tekanan

uap atmosfer. Tegangan itu dapat melebihi kekuatan kohesif yang mengikat

molekul air menghasilkan pembentukan kekosongan gas yang mengambang.

Setelah kavitas pembuluh menjadi disfungsional dan transport air serta nutrisi

menurun (Pfautschdkk, 2015).

Transportasi air ketika bersinggungan dengan permukaan akar kedalam

jaringan akar merupakan pergerakan horizontal. Bagian-bagian yang dilalui air

tersebut adalah bulu-bulu akar, korteks, endodermis, perisikel dan akhirnya


sampai ke xilem. Namun, di dalam xylem ini air tidak lagi bergerak secara

horizontal menuju daun, akan tetapi secara vertikal. Air mampu bergerak naik

sampai ke daun pohon tanaman yang mempunyai tinggi berpuluh-puluh meter

(Advinda, 2018).

Menurut Advinda (2018) beberapa ahli menjelaskan ada dua kemungkinan

atau kombinasi keduanya yang menyebabkan naiknya air mencapai daun pohon

tanaman yang tinggi tersebut. Pertama, air mungkin didorong dari bawah keatas.

Kedua, air mungkin ditarik dari bawah keatas. Kemungkinan selanjutnya adalah

kombinasi keduanya yaitu air mungkin ditarik dan sekaligus didorong. Beberapa

teori di bawah ini mencoba member jawaban terhadap kemungkinan yang terjadi

tentang gerakan air yang dapat mencapai daun pohon tanamanyang tinggiyaitu:

1. Teori vital

Teori vital menyatakan, air dapat diangkut kedaun karena adanya pompa

yang menghisap dan mendorong air naik kedaun. Perjalanan air ini hanya dapat

berlangsung karena adanya sel-sel hidup, misalnya sel-sel parenkim dan sel-sel

jari-jari empelur di sekitar xilem.

2. Tekanan akar

Tekanan pada akar akan terjadi jika potensial air tinggi dan laju transpirasi

yang rendah. Pada malam hari sel-sel akan memompa ion-ion mineral menuju

xilem, akumulasi mineral-mineral yang terjadi akan menurunkan potensial air

dalam stele. Aliran air dari korteks akar akan menghasilkan tekanan akar. Adanya

tekanan akar dapat diperlihatkan jika batang tumbuhan muda dipotong sedikit,

maka beberapa saat kemudian pada bagian terpotong tersebut akan

mengeluarkan cairan dari xilemnya. Bila sebuah manometer dipasang pada bagian
batang terpotong tersebut, maka akan terlihat tekanan yang positif, sekitar 0.05

sampai 0.5 MPa.

3. Hukum kapilaritas

Pada tanaman, xylem merupakan pipa-pipa yang satu sama lain

berhubungan. Sehingga xylem merupakan bagian terpanjang dari Iintasan transpor

air pada tanaman. Pembuluh xy lemdapat dikatakan.


BAB III

METODOLOGI PERCOBAAN

II.1 Alat dan Bahan

II.1.1 Alat

Adapun alat yang digunakan pada percobaan ini yaitu mikroskop, pipet

tetes, object glass, cover glass, 2 botol You C1000, silet dan kamera.

II.1.2 Bahan

Adapun bahan yang digunakan pada percobaan ini yaitu tanaman pacar air

Impatiens balsamina dan sirih-sirhan Peperomia pellucid, air destilata, dan

pewarna (safranin dan bromtimol blue).

II.2 Tahapa Kerja

Adapun metode percobaan ini yaitu

1. Disiapkan alat dan bahan

2. Dicampurkan air destilata dengan safranin dan bromtimol blue kedalam botol

You C secara terpisah.

3. Dimasukkan tanaman Impatiens balsamina kedalam botol larutan safranin dan

Peperomia pellucid kedalam botol cairan bromtimol blue.

4. Ditunggu selama 30 menit

5. Tanaman diangkat dari botol dan diiris sayatan melintang pada batang

6. Diamati bagian-bagian yang berwarna dengan menggunakan mikroskop


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Hasil

IV.1.1 Pacar Air (Impatiens balsamina)

Gambar 4.1 Rangkaian alat dan bahah Pacar Air Impatiens balsamina

IV.1.2 Sirih-sirihan (Peperomia pellucid)

Xilem

Gambar 4.2 Penampang melintang batang Pacar air Impatiens balsamina


IV.1.2 Sirih-sirihan (Peperomia pellucid)

Gambar 4.3 Rangkaian alat dan bahah Sirih-sirihan Peperomia pellucida

Xilem

Gambar 4.4 Penampang melintang batang Sirih-sirihan Peperomia pellucida

IV.2 Pembahasan

Jaringan transport air merupakan proses pergerakan air di dalam akar.

Pada percobaan ini dilakukan pengamatan pada proses transport air dengan cara
menyediakan dua botol You C1000 kemudian diisi dengan larutan bromtimol blue

dan safranin di masing-masing botol. Botol yang diisi dengan bromtimol blue di

masukkan tanaman sirih-sirihan (peperomia pellucida) dan botol yang diisi

dengan safranin dimasukkan tanaman pacar air (Impatiens balsamina). Kemudian

dibiarkan 30 menit sampai akar tanaman tersebut dapat menyerap cairan berwarna

tersebut.

Pada percobaan ini digunakan pacar air (Impatiens balsamina) dan

tanaman sirih-sirihan (Peperomia pellucida). Kedua tanaman tersebut digunakan

karena keduanya termasuk tanaman herbarius. Tanaman itu juga memiliki batang

yang transparan dan agak bening, sehingga akan lebih mudah melihat pergerakan

air dan akan terlihat jelas perbedaan warna pada xylem saat batang dipotong

melintang.

Pada irisan melintang tanaman pacar air Impatiens balsamina terlihat

perbedaan warna pada bagian xilem. Hal itu menandakan terjadi transport air dari

akar kebagian xylem sedangkan pada tanaman sirih-sirihan Peperomia pellucida

tidak terlalu terlihat perbedaan warna pada bagian xilemnya hal ini dikarenakan

waktu perendaman akar tanaman pada cairan bromtimol blue terlalu singkat

sehingga pengangkutan air oleh xylem belum maksimal

Faktor-faktor yang mempengaruhi transport air yaitu tekanan akar,

kapilaritas batang, bukaan stomata dan daya isap daun. Selain itu, untuk

percobaan waktu perendaman akar memerlukan waktu yang cukup lama untuk

mendapatkan pewarnaan maksimal pada xilem


BAB V

KESIMPULAN

V.1 KESIMPULAN

Adapun kesimpulan dari percobaan ini yaitu, jaringan yang berperan

dalam proses transport air pada tanaman yaitu jaringan pengangkut berupa xilem.

Akar tanaman melalui cela-cela epidermis menyerap air dari dalam tanah

kemudian diteruskan kejaringan korteks, endodermis kemudian xylem melalui

batang kemudian ke adau dan keluar melalui stomata.

V.2 SARAN

Saran percobaan

Adapun saran pada percobaan ini yaitu pada perendaman akar tanaman di

cairan safranin dan bromtimol blue agar kiranya dilakukan oleh praktikan satu

hari sebelum praktikum dan dilakukan pengamatan dalam rentang waktu tertentu

agar praktikan dapat mengamati langsung pergerakan cairan berwarna tersebut.


DAFTAR PUSTAKA

Advinda, L., 2018, Dasar-Dasar FisiologiTumbuhan, Deepublish: Yogyakarta.

Ai, N. S. dan Patricia T., 2013,


Karaktermorfologiakarsebagaiindikatorkekurangan air pada tanaman,
JurnasBioslogos, Vo 3(1): 31-39.

Amir, B., 2016, PengaruhPerakaranTerhadapPenyerapanNutrisi dan


SifatFisiologis pada TanamanTomat(lycopersicumesculentum),
JurnalPerbal, Vol 4(1): 1-9.

Campbell, N. A. & J. B. Reece, 2008, BIologiEdisiKedelapanJilid 2, Erlangga:


Jakarta

Sarjani, T. M., Mawardi, E. S. Pandia& D. Wulandari, 2017,


IdentifikasiMorfologi dan AnatomiTipe Stomata FamiliPiperaceaedi Kota
Langsa, Jurnal IPA dan Pembelajaran IPA, Vol 1(2): 182-191.

Pfautsch, S., 2015, Phloem as Capacitor-Radial Transfer of Water Into Xylem of


Tree Stems Occurs Via Symplastic Transport in Ray Parenchyma, Journal
of Plant Pysiology, Vol 3(1): 1-31.

Suhendra, 2016, efektifitasekstrakdaunpacarcina dan pacar air


terhadappertumbuhanjamurcolletotrichummusae (berkeley et curtis)
arxpenyebabpenyakitantraknosa pisang secarain vitro, Bandar Lampung.

Setiawan, A. B., S.W. Budi R. dan C.Wibowo, 2015,


HubunganKemampuanTranspirasidenganDimensiTumbuhBibitTanamanA
cacia decurrensTerkolonisasiGlomus etunicatumdanGigaspora margarita,
JurnalSilvikulturTropika, Vol. 6(2): 107-113