Anda di halaman 1dari 14

PENGAWASAN TERHADAP PEMANFAATAN

TENAGA NUKLIR DI INDONESIA

Oleh:
As Natio Lasman

SEMINAR NASIONAL TEKNOLOGI NUKLIR 2012


Yogyakarta, 31 Maret 2012

BAPETEN, Jl. Gajah Mada No. 8, Jakarta 10120, INDONESIA Telp:+62-21-63858269/70, Fax:+62-21-638 58275,
PO.Box. 4005 JKT 10040, e-mail: info@bapeten.go.id
PENDAHULUAN

 Definisi Tenaga Nuklir dalam UU No.10 Tahun 1997:


Tenaga nuklir adalah tenaga dalam bentuk apapun yang dibebaskan dalam
proses transformasi inti, termasuk yang berasal dari sumber radiasi pengion.
Radiasi pengion adalah gelombang elektromagnetik dan partikel bermuatan
yang karena energi yang dimilikinya mampu mengionisasi media yang
dilaluinya.

 Berdasar atas definisi tersebut maka ruang lingkup pelaksanaan maupun


pengawasannya meliputi lingkup:
<> energi, yakni: reaktor nuklir (riset, daya), dan Daur Bahan
Bakar Nuklir (mining, proses, pemanfaatan, pengelolaan limbah
radioaktif)
[Lingkup: IBN, Instalasi dan Bahan Nuklir]
<> bidang non energi, yakni dalam lingkup kesehatan, industri,
litbang, dan pendidikan.
[Lingkup FRZR: Fasilitas Radiasi dan Zat Radioaktif]
PENDAHULUAN

 Pengawasan Pemanfaatan Tenaga Nuklir dilakukan melalui:


<> peraturan
<> perijinan, dan
<> inspeksi

Untuk mendukung tugas pengawasan tersebut, sehingga pemanfaatan


tenaga nukilr di Indonesia memenuhi kriteria safety, security, dan
safegurads, maka dilakukan kegiatan pengkajian, dan kesiapsiagaan
nuklir.
Dalam hal kesiapsiagaan nuklir maka BAPETEN berkoordinasi dengan
BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana). Untuk itu BAPETEN
membentuk Satuan Tanggap Darurat Nuklir yang difungsikan guna
melindungi masyarakat dan lingkungan hidup dari bahaya kontaminasi
radiasi.
INSTALASI DAN BAHAN
NUKLIR
PEMANFAATAN

Penambangan bahan nuklir

Proses bahan bakar muklir

Fabrikasi nahan bakar nuklir

Reaktor Nuklir (riset, daya)

Pengelolaan limbah radioaktif


Presentasi IAEA pada the International Conference on Safety, Security,
and Safeguards in Nuclear Energy, Bangkok, Sept. 1-2, 2011

GWe
Presentasi Singapur pada the International Conference on
Safety, Security, and Safeguards in Nuclear Energy, Bangkok,
Sept. 1-2, 2011

 Hingga tahun 2030, 321 buah reaktor nuklir dari 550


buah yang baru dioperasikan berada di Asia

 Tujuh dari 18 negara yang untuk pertamakali


membangun PLTN tersebut berasal dari Asia.

● Dokumen resmi Pem.RI hingga saat ini:


Perpres No. 5 Tahun 2006, dan
UU No. 17 Tahun 2007
FASILITAS RADIASI DAN
ZAT RADIOAKTIF
PEMANFAATAN
• Tracer
• Industri Perminyakan
• Radiografi
• Sterilisasi
• Pertanian
• Kegiatan industri lainnya
• Kesehatan
• Pendidikan
• Kegiatan Litbang
• ...
PENGAWASAN

 Pengawasan dilaksanakan oleh BAPETEN terhadap seluruh pemanfaatan


tenaga nuklir di tanah air. Pengawassan dilaksanakan melalui: peraturan,
perijinan, dan inspeksi.

 Tujuan dari Pengawasan terhadap pemanfaatan tenaga nuklir tersebut adalah:


a) Terjaminnya kesejahteraan, keamanan, dan ketenteraman masyarakat;
b) Menjamin keselamatan dan kesehatan pekerja dan anggota masyarakat
serta perlindungan terhadap lingkungan hidup;
c) Memelihara tertib hukum dalam pelaksanaan pemanfaatan tenaga
nuklir;
d) Meningkatkan kesadaran hukum pengguna tenaga nuklir untuk
menimbulkan budaya keselamatan di bidang nuklir;
e) Mencegah terjadinya perubahan tujuan pemanfaatan bahan nuklir, dan
f) Menjamin terpeliharanya dan ditingkatkannya disiplin petugas dalam
pelaksanaan pemanfaatan tenaga nuklir.
PENGAWASAN

 Pengawasan juga dilaksanakan untuk memastikan bahwa segenap konvensi


yang telah ditandatangani dan diratifikasi oleh Pemerintah Indonesia
dilaksanakan dengan baik, dalam koridor pemanfaatan teknologi nuklir
hanya untuk tujuan damai.

 Instalasi dan Bahan Nuklir


– Antara lain terdapat 3 buah reaktor riset, instalasi fabrikasi bahan bakar
nuklir, pengelolaan limbah radioaktif.

 Fasilitas Radiasi dan Zat Radioaktif


– Dalam bidang kesehatan, hingga awal Maret 2012, terdapat sekitar 6800
ijin yang memanfaatkan radiasi.
– Dalam bidang industri, hingga awal Maret 2012, terdapat sekitar 5900 ijin.
– Trend: Dari waktu ke waktu terdapat kecenderungan kenaikan
pemanfaatan tenaga nuklir dalam bidang kesehatan dan industri.
PERATURAN

 Berbagai peraturan telah dikeluarkan terkait dengan IBN maupun FRZR.


 Dalam bidang IBN hingga 6 tahun terakhir peraturan-peraturan yang
dikeluarkan dikonsentrasikan pada Introduksi PLTN, terutama pada perijinan
Tapak. Kemudian pada aspek konstruksi, komisioning, operasi, dan
dekomisioning.
 Dalam bidang FRZR peraturan-peraturan yang dikeluarkan mayoritas dalam
bidang kesehatan dan industri. Saat ini hal-hal yang terkait dengan
TENORM perlu diatur dengan lebih baik.
PERIJINAN dan INSPEKSI

 Setiap pemanfaatan tenaga nuklir harus mempunyai ijin dari BAPETEN


 Bilamana ijin diberikan, berarti BAPETEN menjamin keselamatan dan
kesehatan pekerja dan anggota masyarakat serta perlindungan terhadap
lingkungan hidup
 Sistem perijinan terus ditingkatkan, hingga semakin mudah di-akses.
 Inspeksi dilaksanakan untuk memastikan apakah FRZR ataupun IBN
dimanfaatkan sesuai dengan perijinan yang telah diberikan.
PENUTUP

 Pemanfaatan tenaga nuklir, baik dalam bidang IBN maupun FRZR,


harus memenuhi berbagai syarat perijinan sehingga dapat diwujudkan
keselamatan dan kesehatan bagi pekerja dan anggota masyarakat serta
perlindungan terhadap lingkungan hidup

 Kecenderungan pemanfaatan tenaga nuklir dalam lingkup FRZR,


terutama dalam bidang kesehatan dan industri, dari waktu ke waktu,
mengalami kenaikan. Kondisi ini harus terus ditumbuhkembangkan
disertai pengawasan pemanfaatan tenaga nuklir yang memadai.

-Terimakasih -