Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH KARYA TULIS ILMIAH

PENGGUNAAN BAHASA DI BENGKULU SELATAN

DISUSUN OLEH

KELAS : IX IPA 4
NAMA KELOMPOK 1 :
1. ADE
2. FELDY
3. REYPI
4. WALPAN
5. ANGGUN
6. DINA
7. JUNI
8. RANTI

DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


SMA NEGERI 5 BENGKULU SELATAN
TAHUN 2020

i
KATA PENGANTAR

Berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa karena telah memberikan segala kemudahan
sehingga pembuat makalah dapat menyelesaikan makalah Penggunaan Bahasa Di Bengkulu
Selatan dengan mudah dan lancar.
Dan makalah ini diharapkan dapat menjadi media informasi dan edukasi untuk
meningkatkan pengetahuan dan pemahaman mengenai Pengaruh Bahasa Daerah Terhadap
Bahasa Indonesia
Pembuat makalah telah berusaha menyajikan materi pada makalah ini dengan sebaik-
baiknya, tetapi kekurangan dan kesalahan pasti ada. Seperti kata pepatah “ tak ada gading
yang tak patah”. Semua yang ada dibumi ini tidak ada yang sempurna. Yang sempurna itu
adalah kesempurnaan itu sendiri. Atas dasar kenyataan tersebut, saran dan kritik yang bersifat
membangun agar makalah ini menjadi lebih baik, sangat diharapkan dan diterima tim
penyusun dengan tangan terbuka. Akhirnya, semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk
menambah wawasan dan pengetahuan. Amin

PENULIS

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................................................ii
DAFTAR ISI......................................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.........................................................................................................1
B. Rumusan Masalah....................................................................................................1
C. Tujuan......................................................................................................................1

BAB II PEMBAHASAN
A. Suku Bangsa Bengkulu............................................................................................2
B. Bahasa Suku Bangsa Bengkulu...............................................................................5

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan..............................................................................................................10
B. Saran........................................................................................................................10

DAFTAR PUSTAKA........................................................................................................11

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bengkulu adalah salah satu provinsi yang ada di Indonesia, dan kota Bengkulu
merupakan ibu kota dari provinsi Bengkulu itu sendiri yang terletak di kawasan pesisir barat
pulau Sumatera yang berhadapan langsung dengan Samudera Indonesia Propinsi Bengkulu
memiliki luas 19.919 km2 dengan jumlah penduduk sekitar 1,828 juta jiwa (BPS Propinsi
Bengkulu). Wilayah Bengkulu memiliki keragaman suku bangsa dan bahasa. Hal tersebut
terjadi karena factor lingkungan alam yang ada di wilayah Bengkulu. Hal inilah yang
melahirkan keberagaman suku bangsa dan bahasa dengan ciri khas masing-masing suku.
Suku bangsa yang mendiami Provinsi Bengkulu dapat dikelompokkan menjadi suku asli dan
pendatang, meskipun sekarang kedua kelompok ini mulai bercampur baur. Menururt Giyarto
(dalam Daimun, H dkk. 2016: 40) Penduduk asli Bengkulu terdiri atas suku besar yaitu:
Suku bangsa Rejang yang berpusat di Kabupaten Rejang Lebong, Suku bangsa Serawai yang
berpusat di Kabupaten Bengkulu Selatan, Suku bangsa Melayu berpusat di Kota Bengkulu
dan suku bangsa Enggano berpusat di Bengkulu utara.
Sedangkan menurut lapian, A.B dan Soewaji, S (dalam Daimun, H dkk. 2016: 40) penduduk
Bengkulu menurut kelompok etnis dan bahasa daerah yang berkembang dapat dibedakan atas
suku bangsa antara lain: Kaur, Pasemah, Semendo, Serawai (Bengkulu Selatan), Melayu
Bengkulu (kota madya Bengkulu), Rejang, Lembak beliti, Muko-muko, Pekal, Enggano.

B. Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang kami angkat adalah:
1. Untuk mengetahui suku-suku yang ada di propinsi Bengkulu dan letak geografisnya
2. Untuk mengetahui bahasa yang digunakan oleh suku-suku tersebut

C. Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini adalah untuk:
1. Mengetahui dan memahami suku-suku yang ada di propinsi Bengkulu dan letak
geografisnya
2. Mengetahui dan memahami bahasa yang digunakan oleh suku-suku tersebut

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Suku Bangsa Bengkulu


Indonesia mempunyai budaya yang beragam. Keragaman budaya Indonesia terlihat
dari adanya keragaman suku bangsa, bahasa daerah, alat musik, alat-alat tradisional, dan
rumah adat. Keanekaragaman budaya daerah tersebut menunjukkan betapa kaya corak
budaya yang tersebar di Indonesia. Wilayah Bengkulu memiliki keberagaman dalam hal suku
bangsa, hal tersebut terjadi karena factor lingkungan alam yang ada di wilayah Bengkulu. Hal
inilah yang melahirkan keberagaman suku bangsa dengan ciri-ciri khas masing-masing suku.
Terdapat 10 suku bangsa yang terbesar di provinsi Bengkulu, antara lain: suku melayu
Bengkulu, suku lembak, suku rejang, suku pasemah, suku serawai, suku muko-muko, suku
pekal, suku kaur, suku enggano, dan suku nasal. Keberagaman tersebut dapat terjadi karena
adanya interaksi antar suku bangsa pencampuran budaya dalam keberagaman suku bangsa
melahirkan ciri khas masing-masing yang terpengaruh dari keadaan geografis wilayah dan
letak persebaranya.

1. Suku Bangsa Melayu Bengkulu


Melayu Bengkulu adalah suku bangsa yang ada di provinsi Bengkulu dan merupakan
suku berpolulasi terbesar keempat di provinsi bengkulu. Pada umumnya, Melayu
Bengkulu bermukim di ibu kota provinsi Bengkulu yaitu kota Bengkulu.
Permainan belacik merupakan permainan tradisional anak yang berasal dari suku
bangsa melayu khususnya kota madya.

2. Suku Bangsa Lembak


Suku Lembak adalah suku bangsa yang pemukimannya tersebar di kota Bengkulu,
Bengkulu Utara, kabupaten Bengkulu Tengah, kabupaten Rejang Lebong, dan
kabupaten Kepahiang. Suku Lembak di kabupaten Rejang Lebong bermukim di
kecamatan Padang Ulak Tanding, Sindang Kelingi, dan Kota Padang. Di Kabupaten
Kepahiang, suku Lembak mendiami desa Suro Lembak. Suku lembak juga mendiami
wilayah daerah Kota Lubuklinggau dan kabupaten Musi Rawas yang berada di
wilayah provinsi Sumatera Selatan
Kata Lembak ada beberapa arti. Ada yang mengartikan "lembah", dan juga "lebak",
yaitu daratan sepanjang aliran sungai, dan ada pula yang mengartikan "belakang".
Masyarakat ini sendiri memang berdiam di daerah pedalaman provinsi Bengkulu, di
pegunungan Bukit Barisan yang menjadi perbatasan dengan provinsi Sumatera
Selatan.
Suku bangsa lembak memuliki tulisan asli yang disebut surat Ulu. Dalam
http://id.wilipedia.org/wiki/aksara_rencong disebutkan Aksara Rencong adalah istilah
yang mula-mula digunakan oleh para peneliti Belanda untuk merujuk pada aksara
Surat Ulu yang digunakan di kawasan ulu (pegunungan) Sumatra, khususnya di
Kerinci, Bengkulu, Sumatra Selatan, dan Lampung. Surat Ulu merupakan turunan dari
Aksara Pallawa. Pada masa lalu surat ulu dituliskan pada bambu, tanduk kerbau, dan

2
kulit kayu. Aksara Ulu yang kadang-kadang juga dinamakan Aksara KaGaNga
berdasarkan tiga huruf pertama dalam urutan abjadnya.
Mata pencaharian pokok orang Lembak adalah bercocok tanam di sawah dan ladang.
Daerah suku Lembak juga merupakan daerah perkebunan karet. Selain itu mereka
mengelola pabrik pembuatan batu bata di pedesaan. Binatang ternak mereka antara
lain: domba, kerbau, ayam dan itik.

3. Suku Bangsa Rejang


Suku Rejang adalah salah satu suku bangsa tertua di Sumatera. Suku Rejang
mendominasi wilayah Kabupaten Rejang Lebong, Kabupaten Kepahiang, Kabupaten
Bengkulu Tengah, Kabupaten Bengkulu Utara, dan Kabupaten Lebong Propinsi
Bengkulu dan wilayah Kabupaten Lahat di Propinsi Sumatera Selatan. Wilayah
tersebut mencakup sebagian pegunungan Bukit Barisan. Orang Rejang suka pula
menyebut diri orang Lebong. Berasal dari kata telebong (berkumpul).
Menurut tambo (sejarah lisan dalam Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas)
mereka berasal dari Bandar Cina mereka pergi ke lembah Ranah Sikelawi di
pegunungan Bukit Barisan dan menetap di sana menjadi Orang Rejang. Sebagian lagi
berdiam di wilayah Provinsi Sumatera Selatan, yaitu di daerah perbatasan dengan
Provinsi Bengkulu, tepatnya di Kabupaten Lahat. Ciri-ciri masyarakat dan
kebudayaan Rejang di Lahat ini sama dengan orang Rejang di Provinsi Bengkulu.
Masyarakat rejang berada dalam satu-kesatuan yang dinamakan Adat Tiang Empat
atau biasa disebut Rejang Empat Petulai.

4. Suku Bangsa Pasemah


Suku bangsa pasemah mendiami wilayah Kabupaten Bengkulu Selatan dan Kaur.
Suku bangsa Pasemah sebenarnya terdiri atas tiga sub-suku bangsa, yaitu Gumai,
Semidang dan Pasemah. Menurut cerita rakyat setempat ketiga sub-suku bangsa ini
berasal dari satu negeri. Mereka datang dan berdiam di hulu sungai Lematang dan
Lembah Dempo secara bergelombang dan kurun waktu yang berbeda. Gelombang
pertama dan dianggap tertua adalah Gumai, disusul oleh kelompok Semidang dan
Pasemah. Pada masa sekarang ketiganya dikenal dengan nama Pasemah.

5. Suku Bangsa Serawai


Suku bangsa serawai memiliki sebaran di Seluma, Talo, Pino dan Manna di
Kabupaten Bengkulu Selatan, dan beberapa desa di Kabupaten Kepahiang. Pada
zaman dulu daerah suku bangsa serawai mencakup Marga Semidang Alas, Pasar
Manna, Ilir Tallo, Ulu Tallo, Ulu Manna, dan Ilir Manna. Tanah kediaman suku
bangsa serawai cukup subur sehingga mata pencaharian pokoknya adalah bercocok
tanam di sawah dan ladang. Selain bertanam padi mereka banyak membuka kebun
kopi, cengkehkepala dan karet. Perairan sungai dan lautnya banyak menyediakan ikan
dan hasil hutannya, kayu, rotan, damar dan lain-lain cukup menguntungkan kehidupan
mereka.

3
6. Suku Bangsa Muko-muko
Suku bangsa Muko-muko secara geografis terletak diperbatasan antara Propinsi
Bengkulu dan propinsi Sumatera Barat. Sebara etnik muko-muko meliputi sebagaian
wilayah Kecamatan Muko-Muko Utara dan Muko-Muko Selatan, Kabupaten Muko-
muko wilayah Bengkulu Utara Propinsi Bengkulu. Keunikan dari suku bangsa Muko-
muko yang merupakan campuran antara Minangkabau dan suku bangsa yang ada di
Bengkulu.

7. Suku Bangsa Pekal


Suku bangsa Pekal berada diantara dua suku bangsa dominan berada diperbatasan
mereka yakni Suku bangsa Minangkabau dan suku bangsa Rejang. Wilayah
kebudayaan Pekal secara langsung berbatasan dengan daerah kebudayaan lainnya. Di
utara wilayah kebudayaan Pekal berbatasan dengan daerah budaya sukubangsa Muko-
muko, di Timur berbatasan langsung dengan daerah budaya suku bangsa Rejang, di
Selatan berbatasan dengan wilayah suku Rejang yaitu urai Bengkulu Utara dan di
Barat berbatasan langsung dengan lautan Indonesia. Suku pekal itu sendiri berada
bermungkim di daerah Ketahun dan sebagian di Ipuh Kecamatan Bengkulu Utara.
Mulai dari Muara Ketahun sampai dengan Muara Santan

8. Suku Bangsa Kaur


Suku bangsa Kaur memiliki sebaran di sebagaian wilayah Kabupaten Kaur. Secara
garis besar suku bangsa kaur dapat dibedakan atas dua bagian. Suku bangsa kaur yang
mendiami kaur selatan yang biasa disebut orang Bintuhan (Daimun H, dkk. 2016: 50)
Suku bangsa Kaur lebih banyak dipengaruhi oleh adat dan budaya orang Lampung.
Suku bangsa kaur yang berdiam di kaur utara lebih banyak beasimilasi dengan orang
pasemah

9. Suku Bangsa Enggano


Suku bangsa Enggano berdiam di sebuah pulau yang dinamakan pulau enggano, pulau
ini termasuk dalam wilayah kabupaten Bengkulu utara. Letak pulau ini dinyatakan
sebagai daerah terpencil di wilayah propinsi Bengkulu, karena jarak pulau enggano
sekitar 233 km dari kota argamakmur (Daimun, H. dkk. 2016: 52).
Mata pencaharian suku bangsa enggano adalah bercocok tanam ubi, pisang, kedelai
dan kelapa yang menjadi makanan pokok, mata pencaharian lainya adalah berburu
binatang hutan dan menagkap ikan. Namun sekarang mereka sudah menanam padi
yang diperkenalkan kaum pendatang.

10. Suku Bangsa Nasal


Suku bangsa Nasal memiliki sebaran diwilayah bagian kecamatan nasal dan
kecamatan Maje.

4
B. Bahasa Suku Bangsa Bengkulu
Bengkulu adalah sebuah provinsi yang mempunyai berbahasa bermacam-macam,
karena banyaknya suku-suku yang berbeda dalam suatu provinsi Bengkulu, walaupun begitu
Bengkulu mempunyai logat yang tidak terlalu kental. logatnya hanya terlihat lebih keras bisa
juga dibilang kasar padahal sebenarnya logat Bengkulu itu lembut bagi orang Bengkulu.
Berikut adalah bahasa yang digunakan oleh suku bangsa yang ada di propinsi Bengkulu :

1. Bahasa Suku Bangsa Melayu


Bahasa Melayu Bengkulu yang dikenal dengan bahasa Bengkulu. Bahasa Bengkulu
mempunyai kosa kata yang bisa dibilang amat mudah, karena cukup mengubah dari
kosa kata bahasa indonesia yang baik dan benar, cukup mengganti huruf "a" yang ada
dibelakang kata dengan huruf “o”. Contoh: "Kata" menjadi "kato", "kenapa" menjadi
"kenapo", "apa" menjadi "apo", "siapa" menjadi "siapo" "saya" menjadi "sayo/ambo".

2. Bahasa Suku Bangsa Lembak


Orang Lembak menyebut bahasa mereka bahasa Bulang yang masih termasuk rumpun
bahasa Melayu. Ciri yang menonjol dari bahasa Bulang ini adalah pemakaian vokal
"e" untuk menggantikan vokal "a" di belakang sebuah kata. Misalnya apa diucapkan
"ape", ke mana diucapkan "kemane", siapa menjadi "siape" dan seterusnya.

3. Bahasa Suku Bangsa Rejang


Bahasa Rejang, adalah bahasa yang dituturkan oleh suku Rejang di daerah Lebong,
Kepahiang, Curup dan sampai di tepi sungai ulu musi di perbatasan Sumatera Selatan.
Suku bangsa rejang yang terletak dikaabupaten rejang lebong terbagi atas tiga dialek
yakni dialek lebong terletak dikecamatan lebong utara dan lebong selatan. Dialek
musi yang terletak di kecamatan curup dan sebagian kepahiang, dan dialek kebon
agung yang terletak di sebagian selatan kecamatan kepahiang.
4. Menurut Voorheove dan MeGinn (dalam Daimun H, dkk. 2016: 46) bahasa rejang
secara umum terbagi atas empat dialek besar, yakni dialek lebong, dialek musi, dialek
kebon agung dan dialek pesisir.

Contoh kata yang digunakan oleh suku bangsa rejang :


 adu' = suami
 bilo' = belok
 dia bernapas = bernafas
 ana' = anak
 bitang = bintang
 dilɨa' = lidah
 angin = angin
 biyoa = air
 dio = ini
 asəp = rokok
 boa' = buah
 dolom = jarum

5
 atəp = ilalang / atap
 bu' = rambut
 do'o = bahwa
 awe ipə = bagaimana?
 bulən = bulan
 dukut = rumput
 ba' = ayah
 buləw = bulu
 dung = ular
 balət = akar
 bungə̃y = bunga
 epen = gigi
 bebea['] = mulut
 burung = burung
 gəlong = cacing (cacing tanah)
 bə'ət = berat
 butəw = batu
 gəmãũt = menggaruk
 bələw = baru
 bu'u' = busuk
 gəm'ew = menggaruk
 bəpanəw = berjalan kaki
 coa [tidak] = tidak
 gəmũ' = lemak / minyak
 bərb̃ urəw = berburu
 daging = daging / daging
 kənɛ' = mendaki
 bərñ ang = berenang
 dalən = jalan / jalur
 kətawəy = tertawa
 bətəkɛ' = ludah
 dalɨa' = darah
 kətə = semua
 bətəngət̃ = gigit
 dan = daun
 kicu = tahu
 bətina' = kunyah
 danuəw = danau
 kidɛ' = jahat
 bətiup [bertiup] = meniup
 dawən = daun
 kiduəw = kiri
 biɛ = perempuan
 dəbʡw = debu

6
 kilat = petir
 biləy = hari
 di tempat = di
 kiyuəw = kayu

Bilangan :
 do : satu lapen : delapan
 duəy : dua smilan : sembilan
 tələw : tiga sepoloak : sepuluh
 pat : empat dueipoloak : duapuluh
 lemo : lima mopoloak : limapuluh
 enum : enam sotos : seratus
 tojok : tujuh serebay : seribu

5. Bahasa Suku Bangsa Pasemah


Bahasa pasemah merupakan salah satu bahasa yang penuturannya menyebar di dua
propinsi, yakni propinsi sumatera selatan tepatnya di kabupaten lahat dan propinsi
Bengkulu tepatnya di kecamatan perwakilan kedurang dan daerah padang guci
kecamatan kaur utara kabupaten Bengkulu selatan.
Masyarakat pasemah menggunakan bahasa melayu dialek “e”. Contoh nya:
a) bemimpi = mimpi bunge = bunga
b) betine = perempuan empai = baru

6. Bahasa Suku Bangsa Serawai


Dalam kebahasaan dan aksara, Suku Serawai adalah masyarakat pemakai bahasa
Melayu seperti Suku Bangsa Melayu lainnya yang tinggal di Sumatera, namun Suku
Serawai memiliki pembeda dalam hal dialeknya yang hampir dalam setiap katanya
menggunakan kata "Au", dan dari segi aksara, mereka menggunakan aksara Rencong.
Bahasa dan adat Serawai ini dipakai oleh masyarakat yang berada di distrik Pino, Ulu
Manna, Manna, dan Bengkenang yaitu dalam : Marga Anak Gumai, Marga Tanjung
Raya, Marga VII Pucukan, Marga Anak Lubuk Sirih, Marga Anak Dusun Tinggi,
Sumbai Besar Manna, Sumbai Kecil Manna dan Luar Khalifah Manna.

7. Bahasa Suku Bangsa Muko-muko


Bahasa Muko-Muko termasuk rumpun bahasa Melayu, tetapi mengalami perubahan
khusus. Cirinya antara lain pemakaian bunyi sengau "ng" di belakang kata yang
diakhiri dengan vokal, contohnya kunci menjadi kuncing, kopi menjadi koping,
telinga menjadi telingow, pintu menjadi pintung.

8. Bahasa Suku Bangsa Pekal


Sebaran bahasa Pekal digunakan oleh etnik pekal yang tersebar dibeberapa kecamatan
di Kabupaten Muko-muko antara lain: Kecamatan Ketahun, Kecamatan Napal Putih,
Kecamatan Sebal, Kecamatan Ipuh. Ciri-ciri bahasa suku bangsa pekal adalah

7
menggunakan akhiran “o” atau “I” pada akhir kata, misalnya apo, siapo, moi, emai,
lutui dan sebagainya.

9. Bahasa Suku Bangsa Kaur


Secara garis besar, orang kaur dapat dibedakan atas dua bagian yaitu bagian kaur
selatan yang biasa disebut Bintuhan lebih banyak dipengaruhi oleh adat dan budaya
lampung terutama dari segi bahasa dan dialeknya. Orang kaur utara lebih banyak
berasimilasi dengan orang Pasemah. Bahasa kaur termasuk dalam rumpun Melayu.
Ciri khas bahasa kaur adalah pada dialek keseharian penggunaan kata “r” diganti
dengan “a”, misalnya: “juara” menjadi “jua’ae”, “suara” menjadi “sua’ae”.

10. Bahasa Suku Bangsa Enggano


Bahasa Daerah Enggano hanya digunakan di wilayah kepulauan Enggano Pemakai
bahasa ini termasuk kategori paling sedikit dibawah dua ribuan orang tetapi ada juga
satu bahasa hanya digunakan ratusan orang saja. Bahasa daerah Enggano digunakan
oleh masyarakat sebagai bahasa sehari-hari dan bahasa keadatan. Bahasa ini juga
salah satu unsur budaya daerah yang perlu mendapat perhatian, perlindungan dan
pemeliharaan dari negara .
Sebagai bahasa local Enggano, bahasa ini tidak didapati di daerah lain, bisa dikatakan
bahasa Enggano menjadi identitas orang Enggano. Untuk mengenal seseorang
berasal dari Enggano atau bukan cara yang paling mudah mengenali dialek bahasanya
atau bahasa yang digunakannya. Bahasa daerah ini juga membedakan antara
masyarakat kepulauan Enggano dengan kepulauan lainnya seperti Mentawai, Nias dan
daratan Sumatera. Dibawah ini diperkenalkan bahasa Enggano yang berkaitan dengan
anggota tubuh manusia.
1. Kepala : eyurru
2. Rambut kepala : epururuiuru
3. Mata : ebak’kha
4. Alis mata : kepenneubakkha
5. Bulu mata : epururuyubakkha
6. Biji mata : herabakkha
7. Kelopak mata : eiyeeubakkha
8. Hidung : epannhu
9. Lobang hidung : eheyepannu
10. Bulu hidung : pururuiupannu
11. Tulang hidung : ekhikihya
12. Telinga : ekarihhya
13. Daun telinga : epururuiukarihya
14. Lobang telinga : eheyeppa ukarihya
15. Bulu telinga : epururui’ukarihya
16. Mulut : ekha’a
17. Gigi : eeyakha’a
18. Gigi geraham : ekerekukha’a
19. Bibir : yukurippha

8
20. Dagu : ekhi’i
21. leher : eyahannu’a
22. Batang leher : eeyauahannu’a
23. Jakun : epuahannu’a
24. Bahu : eyanianni
25. Tangan : eeyapphe
26. Lengan tangan : eydehaediuappe
27. Badan tangan : ekarahhauappehe
28. Telapak tangan : eheyeuappe
29. Jari-jari tangan : eminuuapphe

10. Bahasa Suku Bangsa Nasal


Bahasa Nasal merupakan sebuah bahasa yang dituturkan oleh suku Nasal yang
mendiami beberapa 4 desa di kabupaten Kaur, Bengkulu, yaitu: Kecamatan Maje,
Tanjung Agung, Tanjung Baru, Kecamatan Nasal.

9
BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis dapat menarik kesimpulan menganai suku
bangsa Bengkulu dan bahasa yang digunakan suku bangsa Bengkulu adalah :
a. Suku bangsa Melayu Bengkulu bermukim di ibu kota provinsi Bengkulu yaitu kota
Bengkulu. Bahasa yang digunakan cukup mengganti huruf "a" yang ada dibelakang
kata dengan huruf “o”. Contoh: "Kata" menjadi "kato", "kenapa" menjadi "kenapo",
b. Suku Bangsa Lembak adalah suku bangsa bermukim di kecamatan Padang Ulak
Tanding, Sindang Kelingi, dan Kota Padang. bahasa mereka adalah bahasa Bulang
yang masih termasuk rumpun bahasa Melayu. Ciri yang menonjol dari bahasa Bulang
ini adalah pemakaian vokal "e" untuk menggantikan vokal "a" di belakang sebuah kata.
Misalnya apa diucapkan "ape", ke mana diucapkan "kemane", siapa menjadi "siape".
c. Suku Rejang adalah salah satu suku bangsa tertua di Sumatera. Suku Rejang
mendominasi wilayah Kabupaten Rejang Lebong, Kabupaten Kepahiang, Kabupaten
Bengkulu Tengah, Kabupaten Bengkulu Utara, dan Kabupaten Lebong. bahasa rejang
secara umum terbagi atas empat dialek besar, yakni dialek lebong, dialek musi, dialek
kebon agung dan dialek pesisir.
d. Suku bangsa pasemah mendiami wilayah Kabupaten Bengkulu Selatan dan Kaur. Suku
bangsa Pasemah sebenarnya terdiri atas tiga sub-suku bangsa, yaitu Gumai, Semidang
dan Pasemah. Bahasa suku bangsa pasemah adalah melayu dialek “e”. Contoh nya:
betine, bunge.
e. Suku bangsa serawai memiliki sebaran di Seluma, Talo, Pino dan Manna di Kabupaten
Bengkulu Selatan. Bahasa suku bangsa serawai adalah melayu namun menggunakan
kata "Au", dan dari segi aksara, mereka menggunakan aksara Rencong.
f. Suku bangsa muko-muko mendiami wilayah Kecamatan Muko-Muko Utara dan Muko-
Muko Selatan, Kabupaten Muko-muko wilayah Bengkulu Utara. Bahasa Muko-Muko
termasuk rumpun bahasa Melayu, tetapi mengalami perubahan khusus. Cirinya antara
lain pemakaian bunyi sengau "ng" di belakang kata yang diakhiri dengan vokal,
contohnya kunci menjadi kuncing, kopi menjadi koping.
g. Suku bangsa Pekal mendiami wilayah perbatasan Suku bangsa Minangkabau dan suku
bangsa Rejang. Ciri-ciri bahasa suku bangsa pekal adalah menggunakan akhiran “o”
atau “I” pada akhir kata, misalnya apo, siapo, moi, emai, lutui.
h. Suku bangsa Kaur memiliki sebaran di sebagaian wilayah Kabupaten Kaur. Ciri khas
bahasa kaur adalah pada dialek keseharian penggunaan kata “r” diganti dengan “a”,
misalnya: “juara” menjadi “jua’ae”, “suara” menjadi “sua’ae”.
i. Suku bangsa Enggano berdiam di sebuah pulau yang dinamakan pulau enggano, pulau
ini termasuk dalam wilayah kabupaten Bengkulu utara. Bahasa suku bangsa enggano
adalah bahasa enggano, contohnya Kepala : eyurru, Mulut : ekha’a.
j. Suku bangsa Nasal memiliki sebaran diwilayah bagian kecamatan nasal dan kecamatan
Maje. Bahasa Nasal merupakan sebuah bahasa yang dituturkan oleh suku Nasal yang
mendiami beberapa 4 desa di kabupaten Kaur, Bengkulu, yaitu: Kecamatan Maje,
Tanjung Agung, Tanjung Baru, Kecamatan Nasal

10
B. Saran
Upaya dalam melestarikan keanekaragaman suku bangsa Bengkulu dan bahasa suku
bangsa Bengkulu, antara lain:
a. Tidak boleh saring merendahkan atau mengejek suku dan budaya daerah lain
b. Menjaga dan melestarikan suku dan bahasa budaya kita.
c. Bangga dan senang akan keberadaan suku kita sendiri dan suku bangsa lain
d. Selalu berupaya meningkatkan dan memajukan berbagai suku yang ada di wilayah
lingkungan kita.

11
DAFTAR PUSTAKA

Daimun. H, dkk. 2016. Ayo Kenali dan Jaga Kekayaan Bengkulu. Bengkulu: Ristekdikti

http://id.wikipedia.org/wiki/aksara_rencong. Diakses 24 Desember 2016

http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Rejang. Diakses 24 desember 2016

12