Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRATIKUM KOMPUTASI PROSES

BAB VI. PERSAMAAN DIFERENSIAL ORDINER

Disusun Oleh:

Nama : Erina Endah Kusuma Wardani


NIM : 17521036
Kelas/Hari : A/Senin (15:30-17:00)
Asisten :
1. Aditya Kurniawan
2. Anantri Nugraheni Maghfirohwati
3. Gigih Lintang Prasetyo
4. Malik Nur Hakim

LABORATORIUM KOMPUTASI PROSES


JURUSAN TEKNIK KIMIA
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
YOGYAKARTA
2019
BAB I
PENDAHULUAN

A. Tujuan
Agar mahasiswa dapat menyelesaikan persamaan diferensial ordiner menggunakan
initial value problem (IVP).

B. Dasar Teori
Perkembangan dan kemajuan matematika memberikan bantuan dalam berbagai
bidang, diantaranya teknik, ekonomi, sosial dan sains. Masalah dalam bidang tersebut dapat
diselesaikan dengan menerjemahkan masalah menjadi model matematika. Dalam model
matematika persamaan diferensial merupakan salah satu alat dalam pemodelan itu.
Persamaan diferensial adalah suatu hubungan yang terdapat antara suatu variabel independen
x, suatu variabel dependen y, dan satu atau lebih turunan y terhadap x. Orde dari suatu
persamaan diferensial ditentukan oleh turunan tertinggi dalam persamaan tersebut. Persamaan
diferensial berperan pentting dalam bidang ilmu Teknik kimia karena banyak fenomena fisis
dapat diformulasikan dalam bentuk persamaan diferensial.
Persamaan diferensial juga dapat didefinisikan sebagai persamaan matematis yang
mengandung satu variabel bebas, variabel terikat dan turunan-turunan variabel terikat
terhadap variabel bebasnya. Persamaan diferensial diklasifikasikan sebagai:
1. Menurut jenis atau tipe: ada persamaan diferensial biasa (ordinary differential equation)
dan persamaan diferensial parsial (partial differential equation). Persamaan diferensial
biasa didefinisikan sebagai suatu persamaan yang mengandung satu atau lebih turunan
biasa suatu fungsi yang tidak diketahui dengan dua atau lebih peubah bebas. Sedangkan
persamaan diferensial parsial didefinisikan sebagai suatu persamaan yang mengandung
satu atau lebih turunan parsial suatu fungsi yang tidak diketahui dengan dua atau lebih
peubah bebas.
2. Menurut orde: orde persamaan diferensial adalah orde tertinggi turunan fungsi yang ada

d3 y d2 y dy
dalam persamaan. adalah orde tiga 2 ; adalah orde dua; adalah orde satu.
dx 3
dx dx
3. Menurut derajat: derajat suatu persamaan diferensial adalah pangkat tertinggi dari turunan

2 5
d3 y d2 y y
fungsi orde tertinggi. Sebagai contoh: ( )( )
dx 3
+
dx 2
+ 2 =e x adalah persamaan
x +1
diferensial biasa, orde tiga, derajat dua.
Jika dalam suatu persamaan diferensial diberikan suatu kondisi tambahan dengan
sebuah nilai yang sama pada variabel independent-nya (baik fungsi maupun turunannya),
maka dikatakan bahwa persamaan diferensial tersebut sebagai masalah nilai-awal (initial-
value problem). Jika kondisi tambahan yang diberikan merupakan nilai yang berbeda pada
variabel independent-nya, maka dikatakan sebagai masalah nilai-batas (boundary-value
problem).
Pada persamaan diferensial, jika hanya terdapat satu variabel bebas, maka
persamaannya disebut persamaan diferensial ordiner (ODE). Jika terdapat lebih dari satu
variabel bebas, maka disebut persamaan diferensial parsial. Persamman diferensial orde
pertama hanya mengandung turunan pertama. Persamaan diferensial orde pertama dikatakan
dalam bentuk eksplisit jika ditulis :
dy
= f (x , y ) (6.1)
dx
ODE dengan nilai awal disebut sebagai initial value problem (IVP).
1. Metode Euler
Persamaan yang digunakan dalam metode Euler adalah :
y i+1 = y i+ f ( t i , y i ) h (6.2)
Nilai baru y diprediksi menggunakan sLope (sama dengan turunan pertama pada nilai t)
untuk ekstrapolasi secara linear dengan step size h. Untuk mengimplementasikan metode
Euler dakam matlab, prlu dibuat suatu M-file ini menggunakan metode Euler untuk
menghitung nilai variabel terikat y pada berbagai nilai variable bebas t.
function [t,y] = Eulode(dydt,tspan,y0,h)
% [t,y] = Eulode(dydt,tspan,y0,h):
% menggunakan metode Euler untuk mengintegralkan ODE
% input:
% dydt = nama M-file yang mengevaluasi ODE
% tspan = [ti, tf] dimana ti dan tf masing-masing adalah nilai awal dan akhir dari
variabel bebas
% y0 = nilai awal dari variabel terikat
% h = step size
% output:
% t = vektor variabel bebas
% y = vektor solusi untuk variabel terikat

ti = tspan(1);
tf = tspan(2);
t = (ti:h:tf)';
n = length(t);

if t(n)<tf
t(n+1) = tf;
n = n+1;
end
y = y0*ones(n,1);
for i = 1:n-1
y(i+1) = y(i) + feval(dydt,t(i),y(i))*(t(i+1)-t(i));
end

Contoh soal :
Gunakan metode Euler untuk mengintegrasikan y ' =4 e 0,8 t−0,5 y dari t = 0 sampai 4 dengan
step size 1. Kondisi awal pada t = 0 adalah y = 2.
Solusi :
Persamaan diferensial yang akan diselesaikan dapat didefinisikan sebagai function inline.
>> dydt = inline('4*exp(0.8*t) - 0.5*y','t','y')
dydt =
Inline function:
dydt(t,y) = 4*exp(0.8*t) - 0.5*y
Solusinya kemudian dapat dituliskan
>> [t,y] = Eulode(dydt,[0 4],2,1);
>> disp([t y])
0 2.0000
1.0000 5.0000
2.0000 11.4022
3.0000 25.5132
4.0000 56.8493

2. Metode Runge-Kutta Orde Keempat


Metode Runge Kutta merupakan alternatif lain dari metode deret Taylor yang tidak
membutuhkan perhitungan turunan. Metode ini berusaha mendapatkan tingkat ketelitian yang
lebih tinggi, dan sekaligus menghindarkan keperluan mencari turunan yang lebih tinggi
dengan jalan mengevaluasi fungsi f (x,y) pada titik terpilih dalam setiap selang langkah.
Metode Runge Kutta adalah metode PDB yang paling popular karena banyak dipakai dalam
masalah dunia nyata. Metode Runge Kutta merupakan metode yang memiliki ketelitian
paling tinggi diantara metode–metode lain selain taylor seperti metode Euler, Heun, dan
Poligon. Metode ini juga merupakan pengembangan dari metode Euler. Kelebihan dari
metode ini adalah bahwa untuk memperoleh hasil-hasil tersebut hanya diperlukan nilai-nilai
fungsi dari titik-titik sebarang yang dipilih pada suatu interval bagian. Semakin kecil Δx
maka semakin baik. Persamaan yang digunakan dalam metode Runge-Kutta orde keempat
adalah
1
yi + 1 = yi + ( k + 2k2 + 2k3 + k4) h
6 1
dimana
k1= f (ti , yi)
1 1
k2 = f(ti + h , yi + h. k1)
2 2
1 1
k3 = f(ti + h , yi + h. k2)
2 2
k4 = f(ti + h , yi + k3.h)

Alogaritma :

dy
1. Didefinisikan =f ( x , y)
dx
2. Menentukan Xo, Yo, Xn dan i
Xn−Xo
3. Mencari nilai Δx → Δx=
i
4. Mencari nilai K1 = f (xi , yi) Δx
Ki
5. Mencari nilai K2 = f ¿,Yi+ )
2
K2
6. Mencari nilai K3 = f ¿,yi+ ¿ Δx
2
7. Mencari nilai K4 = f (Xi+ Δx , yi+ K 3) Δx
8. Mencari nilai Δy = 1/6(K1+2K2+2K3+K4)
9. Mencari nilai Yi+1 ,Yi+1=Δy+yi
10. Diiterasi hingga harga Xn

BAB II

PERSOALAN DAN PENYELESAIAN

C. LATIHAN
1. Diketahui suatu persamaan diferensial sebagai berikut
dy y
=2 x 2 + x
dx e

Jika diketahui nilai x dari 1 sampai 5 dengan step sixe sebesar 0,5 dan kondisi awal pada
saat x = 1 diketahui y = 0,4. Tentukan integrase dari persamaan diferensial tersebut
dengan menggunakan metode euler !

Penyelesaian :

dydt=inline('2*t^2+y/exp(t)');
[t,y]=Eulode(dydt,[1 5],0.4,0.5);
disp([t,y])
1.0000 0.4000
1.5000 1.4736
2.0000 3.8880
2.5000 8.1511
3.0000 14.7356
3.5000 24.1024
4.0000 36.7163
4.5000 53.0526
5.0000 73.5973

2. Diketahui suatu persamaan diferensial sebagai berikut


dy x 3 y 3
= +y√x
dx 2

Jika diketahui nilai x dari 1 sampai 2 dengan step sizesebesar 0,2 dan kondisi awal pada
saat x = 1 diketahuiy = 1,4. Tentukan integrasi dari persamaan diferensial tersebut dengan
menggunakan metode euler!

Penyelesaian :

dydt=inline('((t^3)*y)/2+y*(t^(1/3))');
[t,y]=Eulode(dydt,[1 2],1.4,0.2);
disp([t,y])
1.0000 1.4000
1.2000 1.8200
1.4000 2.5213
1.6000 3.7773
1.8000 6.2080
2.0000 11.3389

3. Diketahui suatu persamaan sebagai berikut :


dy 8 x
= 2 + 3 x 4 −e 2 x
dx 3 y

Jika diketahui nilai x dari 2 sampai 4 dengan step size sebesar 0,25 dan kondisi awal pada
saat x =2,3. Tentukan integrase dari persamaan diferensial tersebut dengan menggunkan
metode runge-kutta orde 4!

Penyelesaian :
>> dydt=inline('(8*t)/(3*y^2)+3*t^4-exp(2*t)');

>> [t,y]=rungek4(dydt,[2 4],2.3,0.25);

>> disp([t,y])

2.0000 2.3000

2.2500 0.9039

2.5000 12.2194

2.7500 5.4734

3.0000 -22.3936

3.2500 -81.4970

3.5000 -199.6705

3.7500 -425.5677

4.0000 -842.5843

4. Diketahui suatu persamaan diferensial sebagai berikut !


2
dy
dx
=

4
3y
x
8 7
− 5+9x
4x
Jika diketahui nilai x dari 3 samapi 6 dengan step size sebesar 0,5 dan kondisi awal pada
saat x = 3 diketahui y = 1,8. Tentukan integrase dari persamaan diferensial tersebut
dengan menggunakan metode runge kutta orde 4 !
Penyelesaian :
>> dydt=inline('((3*y^(2/7))/x)^(1/4)-7/(4*x^5)+9*x');
>> [t,y]=rungek4(dydt,[3 6],1.8,0.5);
>> disp([t,y])
3.0000 1.8000
3.5000 16.9901
4.0000 34.4592
4.5000 54.1839
5.0000 76.1590
5.5000 100.3823
6.0000 126.8529
D. TUGAS
1. Diketahui suatu persamaan diferensial sebagai berikut :
2 2y

( )
5
dy ( y+ 5 y) x 3 − y 0.05
dx √
3
= 2 x+
x y2
+
3x

Jika diketahui nilai x dari 1 sampai 2 dengan step size sebesar 0,05 dan kondisi awal
pada saat x = 1 diketahui y = 0,2. Tentukan integrase dari persamaan diferensial
tersebut dengan menggunakan metode euler !

Penyelesaian :

>> dydt=@(t,y)(((2*t)+((y+5*y)/(t*(y^2))))^(3/5))+(((t^(2/3))-(y^0.05))/(3*t))^(2*y);

>> [t,y]=Eulode(dydt,[1 2],0.2,0.05);

>> disp([t y])

1.0000 0.2000

1.0500 0.6116

1.1000 0.8278

1.1500 1.0121

1.2000 1.1790

1.2500 1.3347

1.3000 1.4827

1.3500 1.6249

1.4000 1.7630

1.4500 1.8979

1.5000 2.0305

1.5500 2.1614

1.6000 2.2910

1.6500 2.4197
1.7000 2.5479

1.7500 2.6758

1.8000 2.8037

1.8500 2.9316

1.9000 3.0599

1.9500 3.1886

2.0000 3.3177

2. Diketahui suatu persamaan diferensial sebagai berikut :

√3 3( y +5)3 2 x3
( 2
x4 y ) (
dy= )
3 y +4
dx

Jika diketahui nilai x dari 1 sampai 5dengan step size sebesar 0,2 dan kondisi awal
pada saat x = 1diketahui y = 1. Tentukan integrase dari persamaan diferensial tersebut
dengan menggunakan metode runge kutta orde 4 !
Penyelesaian :
>> dydt=@(t,y)((2*t^(3))/(3*y+4))/((((3*(y+5)^(3))^(1/3))/(t^(2/4)*y)));
>> [t,y]=rungek4(dydt,[1 5],1,0.2);
>> disp([t,y])
1.0000 1.0000
1.2000 1.0093
1.4000 1.0261
1.6000 1.0541
1.8000 1.0978
2.0000 1.1635
2.2000 1.2588
2.4000 1.3936
2.6000 1.5796
2.8000 1.8302
3.0000 2.1596
3.2000 2.5810
3.4000 3.1052
3.6000 3.7393
3.8000 4.4863
4.0000 5.3460
4.2000 6.3161
4.4000 7.3932
4.6000 8.5734
4.8000 9.8530
5.0000 11.2290

3. Diketahui reactor RATB pada gambar 6.1, dimana c in = 50 mg/m3, Q = 5 m3/menit, V


= 100 m3 dan co = 10 mg/ m3. Tentukan variasi konsentrasi di dalam reactor, c, pada
dari t = 0 sampai 5 menit dengan h = 0,5 dengan menggunakan metode Euler.

Q
iC
ni

Q
C

Gambar 6.1 RATB dengan satu input dan satu output


Penyelesaian :
>> dydt=@(t,y)(0.05*(50-y));
>> [t,y] = Eulode(dydt,[0 5],10,0.5);
>> disp=[t,y]
disp =

0 10.0000
0.5000 11.0000
1.0000 11.9750
1.5000 12.9256
2.0000 13.8525
2.5000 14.7562
3.0000 15.6373
3.5000 16.4963
4.0000 17.3339
4.5000 18.1506
5.0000 18.9468

BAB III
PENUTUP
E. Kesimpulan Dan Saran

Kesimpulan :

 Kualitatif
1. Persamaan Diferensial adalah persamaan yang terdiri dari fungsi
yang tidak diketahui dan turunannya.
2. Metode Penyelesaian ODE :
a. Metode Euler
b. Metode Runge Kutta
c. Metode Heun
d. Metode Euler Modifikasi (Metode Poligon)

 Kuantitatif

Latihan :

1. Hasil pada latihan nomer 1 :

1.0000 0.4000
1.5000 1.4736
2.0000 3.8880
2.5000 8.1511
3.0000 14.7356
3.5000 24.1024
4.0000 36.7163
4.5000 53.0526
5.0000 73.5973
2. Hasil pada latihan nomer 2 :

1.0000 1.4000
1.2000 1.8200
1.4000 2.5213
1.6000 3.7773
1.8000 6.2080
2.0000 11.3389
3. Hasil pada latihan nomer 3 :
2.0000 2.3000

2.2500 0.9039

2.5000 12.2194

2.7500 5.4734

3.0000 -22.3936

3.2500 -81.4970

3.5000 -199.6705

3.7500 -425.5677

4.0000 -842.5843

4. Hasil pada latihan nomer 4 :

3.0000 1.8000
3.5000 16.9901
4.0000 34.4592
4.5000 54.1839
5.0000 76.1590
5.5000 100.3823
6.0000 126.8529

5. Hasil pada tugas nomer 1 :

1.0000 0.2000
1.0500 0.6116

1.1000 0.8278

1.1500 1.0121

1.2000 1.1790

1.2500 1.3347

1.3000 1.4827

1.3500 1.6249

1.4000 1.7630

1.4500 1.8979

1.5000 2.0305

1.5500 2.1614

1.6000 2.2910

1.6500 2.4197

1.7000 2.5479

1.7500 2.6758

1.8000 2.8037

1.8500 2.9316

1.9000 3.0599

1.9500 3.1886

2.0000 3.3177

6. Hasil pada tugas nomer 2 :

1.0000 1.0000
1.2000 1.0093
1.4000 1.0261
1.6000 1.0541
1.8000 1.0978
2.0000 1.1635
2.2000 1.2588
2.4000 1.3936
2.6000 1.5796
2.8000 1.8302
3.0000 2.1596
3.2000 2.5810
3.4000 3.1052
3.6000 3.7393
3.8000 4.4863
4.0000 5.3460
4.2000 6.3161
4.4000 7.3932
4.6000 8.5734
4.8000 9.8530
5.0000 11.2290

7. Hasil pada tugas nomer 3 :

0 10.0000
0.5000 11.0000
1.0000 11.9750
1.5000 12.9256
2.0000 13.8525
2.5000 14.7562
3.0000 15.6373
3.5000 16.4963
4.0000 17.3339
4.5000 18.1506
5.0000 18.9468

Saran :

1. Memperbanyak latihan soal-soal persamaan diferensial ordiner.


2. Tenang dan teliti dalam mengaplikasikan soal pada MATLAB
3. Asisten Laboratorium, baiknya menggunakan spidol yang tebal ketika menulis
dipapan tulis.

DAFTAR PUSTAKA

http://iffatul.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/46564/BAb-
+08+Solusi+Persamaan+Diferensial+Biasa.pdf. Solusi Persamaan Diferensial Biasa.
- . Iffatul. Diakses Sabtu, 16 November 2019 17.53 WIB.

http://maulana.lecture.ub.ac.id/files/2014/09/BAB-I-KONSEP-DASAR-
PERSAMAAN-DIFERENSIAL.pdf. BAB 1. Konsep Dasar Persamaan Diferensial.
2014. Maulana. Diakses Sabtu, 16 November 2019 18.01 WIB.