Anda di halaman 1dari 7

Gambar 1

K.H. Ahmad Dahlan

1. Bidang Pendidikan
Menurut KH. Ahmad Dahlan, upaya strategis untuk menyelamatkan umat islam dari pola berpikir
yang statis menuju pada pemikiran yang dinamis adalah melalui pendidikan. Pendidikan hendaknya
ditempatkan pada skala prioritas utama dalam proses pembangunan umat, hal ini sebagaimana
dijelaskan oleh Syamsul Nizar, dalam bukunya Filsafat Pendidikan Islam. Mereka hendaknya dididik
agar cerdas, kritis dan memiliki daya analisis yang tajam dalam memeta dinamika kehidupannya
pada masa depan. Adapun kunci untuk meningkatkan kemajuan umat Islam adalah dengan kembali
pada Al-Qur’an dan Hadis, mengarahkan umat pada pemahaman ajaran Islam secara komfrehensif,
dan menguasai berbagai disiplin ilmu pengetahuan.

Adapun upaya untuk mengaktualisasikan gagasan tersebut maka konsep pendidikan Islam menurut
KH. Ahmad Dahlan ini meliputi; Tujuan pendidikan, Materi pendidikan, Metode pembelajaran, dan
Pendidikan Integralistik.

2. Bidang Sosial Budaya


Pemikiran bidang sosial KH Ahmad Dahlan tertuang dalam gerakan Muhammadiyah yang ia
dirikan pada tanggal 18 November 1912. Organisasi ini mempunyai karakter sebagai
gerakan sosial keagamaan. Titik tekan perjuangannya mula-mula adalah pemurnian ajaran
Islam dan bidang pendidikan. Muhammadiyah mempunyai pengaruh yang berakar dalam upaya
pemberantasan bid’ah, khurafat dan tahayul. Lebih lanjut menurut Sanusi (2013: 91) sebagai
berikut. “dalam praktik sosialnya, K.H Ahmad Dahlan hendak menyederhanakan praktik sosial
yang dianggapnya rumit dan menjadi beban bagi masyarakat. Seperti halnya acara
slametanyang bila dilaksanakan akan membutuhkan modal yang tidak sedikit”.
Gambar 2

K.H. Hasyim Asy’ari

1. Bidang Pendidikan
peranan KH. Hasyim Asy’ari dalam Pendidikan Islam di Indonesia yaitu dalam bentuk mendirikan
Pesantren Tebuireng. Awalnya, di Dusun Tebuireng merupakan sarang maksiat dan kejahatan di
mana terjadi banyak kriminalitas, perampokan, pencurian bahkan pembunuhan, KH. Hasyim Asy’ari
sengaja memilih lokasi Tebuireng karena orang - orang di sekitar tempat itu sangat jauh dari agama,
maka KH. Hasyim Asy’ari berpikir bahwa dakwah harus menyentuh masyarakat yang masih jauh dari
pesan Islam yaitu dengan mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng, konsep pendidikan Islam
menurut KH. Hasyim Asy’ari dapat dirangkum dalam yaitu, kelebihan ilmu dan ilmuwan, tanggung
jawab dan tugas peserta didik, serta tanggung jawab dan tugas pendidikan. Peranan pendidikan
Islam di bawah pengaruh KH. Hasyim Asy’ari dalam membentuk masyarakat berwarganegara
Indonesia yaitu dalam bentuk Piagam Jakarta yang diwakilkan oleh putranya KH. Wahid Hasyim.
Saran penulis, para peneliti hendaknya menindaklanjuti hasil penelitian dengan fokus kajian yang
lebih spesifik. Masyarakat dapat menambah wawasan akan peranan tentang pendidikan Islam KH.
Hasyim Asy’ari di Indonesia. Generasi muda, alangkah baiknya jika generasi muda sekarang
meneladani sikap KH. Hasyim Asy’ari. KH. Hasyim Asy’ari yang memiliki semangat untuk kerja keras,
tekun, pantang menyerah, cermat, teliti, dan setia pada tugas. Hal tersebut berpengaruh dalam
pendidikannya dari masih kecil hingga tumbuh dewasa menjadikan beliau sebagai Kyai yang sangat
disegani dan di kenang di Indonesia. (Pada tahun 1899 M)

2. Bidang Sosial Budaya


Aktivitas K. H. Hasyim Asy’ari di bidang sosial lainnya adalah mendirikan organisasi Nahdatul Ulama,
bersama dengan ulama besar di Jawa lainnya, seperti Syekh ‘Abd Al-Wahhab dan Syekh Bishri
Syansuri. Mengenai orientasi pemahaman dan pemikiran keislaman, kiai Hasyim sangat dipengaruhi
oleh salah seorang guru utamanya: Syekh Mahfuz At-Tarmisi yang banyak menganut tradisi Syekh
Nawawi. Selama belajar di Mekkah, sebenarnya, ia pun mengenal ide-ide pembaharuan Muhammad
Abduh. Tetapi ia cenderung tidak menyetujui pikiran-pikiran Abduh, terutama dalam hal kebebasan
berpikir dan pengabaian Mazhab. Menurutnya kembali langsung ke Al-Qur’an dan As-Sunnah tanpa
melalui hasil-hasil Ijtihad para imam mazhab adalah tidak mungkin. Menafsirkan Al-Qur’an dan
Hadits secara langsung, tanpa mempelajari kitab-kitab para ulama besar dan imam mazhab, hanya
akan menghasilkan pemahaman yang keliru tentang ajaran Islam. Latar belakang orientasi
pemahaman keislaman seperti inilah yang membuat kiai Hasyim menjadi salah seorang pendiri dan
pemimpin utama Nadhatul Ulama. Tidak kurang dari 21 tahun ia menjadi Rais ‘Am, ketua umum
Nadhatul Ulama (1926-1947).

Kampus UIN Syarif Hidayatullah

Sejarah
Pada 1 Juni 2007, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta merayakan golden anniversary. Selama setengah
abad, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta telah menjalankan mandatnya sebagai institusi pembelajaran
dan transmisi ilmu pengetahuan, institusi riset yang mendukung proses pembangunan bangsa, dan
sebagai institusi pengabdian masyarakat yang menyumbangkan program-program peningkatan
kesejahteraan sosial. Selama setengah abad itu pula, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta telah melewati
beberapa periode sejarah sehingga sekarang ini telah menjadi salah satu universitas Islam
terkemuka di Indonesia.

Secara singkat sejarah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dapat dibagi ke dalam beberapa periode, yaitu
periode perintisan (Sekolah Tinggi Islam dan Akademi Dinas Ilmu Agama), periode fakultas IAIN al-
Jami’ah, periode IAIN Syarif Hidayatullah, dan periode UIN Syarif Hidayatullah.
Nama Syarif Hidayatullah diambil dari nama asli Sunan Gunung Jati, salah satu Walisongo, sembilan
penyiar Islam di Pulau Jawa. Syarif Hidayatullah (1448-1568) adalah putra Nyai Rara Santang, putri
Prabu Siliwangi dari Pajajaran, yang menikah dengan Syarif Abdullah, penguasa di salah satu wilayah
Mesir. Syarif Hdayatullah memiliki banyak gelar, antara lain Muhammad Nuruddin, Syaikh Nurullah,
Sayyid Kamil, Maulana Syekh Makhdum Rahmatullah, dan Makhdum Jati. Setelah wafat ia diberi
gelar Sunan Gunung Jati dan dimakamkan di Cirebon. Setelah mendapat pendidikan di tempat
kelahirannya, Syarif Hidayatullah menjadi aktor penting penyiaran Islam di Jawa, terutama bagian
Barat. Dia berhasil menempatkan putranya, Maulana Hasanuddin, sebagai penguasa Banten. Pada
1527 M, atas bantuan Falatehan (Fatahillah), dia berhasil menguasai Sunda Kelapa setelah mengusir
pasukan Portugis yang dipimpin oleh Fransisco de Sa. Karena itu, Syarif Hidayatullah dikenal sebagai
salah satu Walisongo yang memiliki peran ganda, yakni sebagai penguasa sekaligus ulama.

Syarif Hidayatullah melakukan dakwah langsung kepada pemimpin masyarakat dan bangsawan
setempat dengan cara bijaksana (bi al-hikmah wa mauidha hasanah). Ia mulai dengan memberikan
pengetahuan ajaran Islam atau tazkirah (peringatan) tentang pentingnya ajaran Islam dengan cara
lemah lembut. Ia bertukar pikiran dari hati ke hati dengan penuh toleransi. Jika cara ini dianggap
kurang berhasil maka ia menempuh cara berdebat atau mujadalah. Cara terakhir ini diterapkan
terutama kepada orang-orang yang secara teang-terangan menunjukkan sikap yang kurang setuju
terhadap Islam. Metode dakwah yang dipergunakan oleh Syarif Hidayatullah telah berhasil menarik
simpati masyarakat. Ia juga dikenal sebagai tokoh yang memiliki sikap sosial yang tinggi dengan
banyak memberikan bantuan kepada masyarakat miskin. Ia banyak bergaul dengan bahasa rakyat,
sehingga ajarannya dapat dengan mudah diterima.

Syarif Hidayatullah tidak bersikap frontal terhadap agama, kepercayaan, dan adat istiadat peenjalin
ikatan perkawinan dengan adik Bupati Banten, putri Kunganten (1475), ibu Maulana Hasanuddin;
seorang putri Cina, Ong Tien, pada tahun 1481 (tidak memperoleh keturunan); putri Arab bernama
Syarifah Baghdad, ibu dari Pangeran Jaya Kelana dan Pangeran Brata Kelana; dan Nyi Tepasari dari
Majapahit, ibu dari Ratu Winahon dan Pangeran Pasarean. Syarif Hidayatullah memiliki peranan
yang besar dalam pengukuhan kekuasaan Islam di Sunda Kelapa yang di kemudian hari ia beri nama
Jayakarta dan diubah menjadi Batavia oleh Belanda. Penamaan IAIN Jakarta dengan Syarif
Hidayatullah antara lain bertujuan menghargai jasa sekaligus menjadikannya sebagai sumber
inspirasi bagi pengembangannya di masa yang akan datang.

IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai salah satu IAIN tertua di Indonesia yang bertempat di
Jakarta, menempati posisi yang unik dan strategis. Ia tidak hanya menjadi "Jendela Islam di
Indonesia", tetapi juga sebagai simbol bagi kemajuan pembangunan nasional, khususnya di bidang
pembangunan sosial-keagamaan. Sebagai upaya untuk mengintegrasikan ilmu umum dan ilmu
agama, lembaga ini mulai mengembangkan diri dengan konsep IAIN dengan mandat yang lebih luas
(IAIN with Wider Mandate) menuju terbentuknya Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta.
Gambar 4

Pondok Pesantren Darussalam Gontor

Sejarah
Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo (PMDG) atau lebih dikenal dengan Pondok Modern
Gontor adalah salah satu pondok pesantren yang terletak di Kabupaten Ponorogo Jawa Timur.
Pesantren ini terkenal dengan penerapan disiplin, penguasaan bahasa asing (Arab dan Inggris),
kaderisasi dan jaringan alumni yang sangat kuat. Sejak didirikan pada 1926, Gontor merupakan
lembaga pendidikan yang tidak terikat dengan organisasi politik dan organisasi kemasyarakatan
mana pun.

Cikal bakal Pondok Modern Darussalam Gontor bermula pada abad ke-18, saat Kyai Ageng Hasan
Besari mendirikan Pondok Tegalsari di Desa Jetis Ponorogo Jawa Timur (10 KM ke arah selatan kota
Ponorogo). Pondok Tegalsari sangat termasyhur pada masanya, sehingga didatangi ribuan santri dari
berbagai daerah di pelosok nusantara. Kepemimpinan Pondok Tegalsari berlangsung selama enam
generasi.

Pada pertengahan abad ke-19 yaitu pada masa Kyai Hasan Khalifah, Pondok Tegalsari mulai
mengalami kemunduran. Pada saat itu, dia mempunyai seorang santri kesayangan bernama R.M.
Sulaiman Djamaluddin, seorang keturunan Keraton Kasepuhan Cirebon. Kyai Hasan Khalifah
kemudian menikahkan putri bungsunya Oemijatin (dikenal dengan Nyai Sulaiman) dengan R.M.
Sulaiman Djamaluddin dan mereka diberi tugas mendirikan pesantren baru untuk meneruskan
Pondok Tegalsari, yang di kemudian hari pesantren baru ini dikenal dengan Pondok Gontor Lama.

Pondok Gontor Lama

Berbekal 40 santri yang dibawa dari Pondok Tegalsari, Kyai R.M. Sulaiman Djamaluddin bersama
istrinya mendirikan Pondok Gontor Lama di sebuah tempat yang terletak ± 3 kilometer sebelah timur
Tegalsari dan 11 kilometer ke arah tenggara dari kota Ponorogo. Pada saat itu, Gontor masih
merupakan hutan dan kerap kali dijadikan persembunyian perampok, penjahat, dan penyamun.
Kepemimpinan Pondok Gontor Lama berlangsung selama tiga generasi:

 Generasi 1: Kyai R.M. Sulaiman Djamaluddin (pendiri Pondok Gontor Lama)


 Generasi 2: Kyai Archam Anom Besari (putra Kyai R.M. Sulaiman)

 Generasi 3: Kyai Santoso Anom Besari (putra Kyai Archam Anom Besari)

Kyai Santoso Anom Besari menikah dengan Rr. Sudarmi, keturunan R.M. Sosrodiningrat (Bupati
Madiun). Kyai Santoso Anom wafat pada tahun 1918 di usia muda dan meninggalkan 7 anak yang
masih kecil. Kepemimpinan Pondok Gontor Lama pun akhirnya berakhir, Di kemudian hari, tiga dari
tujuh putra-putri Kyai Santoso Anom Besari menghidupkan kembali Pondok Gontor Lama dengan
memperbarui dan meningkatkan sistem serta kurikulumnya.

Pondok Modern Darussalam Gontor

Trimurti Pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor

Setelah menuntut ilmu di berbagai pesantren tradisional dan lembaga modern, tiga orang putra Kyai
Santoso Anom akhirnya kembali ke Gontor dan pada tanggal 20 September 1926 bertepatan dengan
12 Rabiul Awwal 1345, dalam peringatan Maulid Nabi SAW, mereka mengikrarkan berdirinya Pondok
Modern Darussalam Gontor (PMDG). Ketiganya dikenal dengan sebutan Trimurti Pendiri Pondok
Modern Darussalam Gontor, yaitu:

 K.H. Ahmad Sahal (1901–1977)

 K.H. Zainudin Fananie (1908–1967)

 K.H. Imam Zarkasyi (1910–1985)

Pada tanggal 12 Oktober 1958 bertepatan dengan 28 Rabi’ul Awwal 1378, Trimurti mewakafkan
PMDG kepada Umat Islam. Sebuah pengorbanan kepemilikan pribadi demi kemaslahatan umat.
Pihak penerima amanat diwakili oleh 15 anggota alumni Gontor (IKPM) yang kemudian menjadi
Badan Wakaf PMDG.[

Pondok Modern Darussalam Gontor bercermin pada lembaga-lembaga pendidikan internasional


terkemuka guna mewujudkan sebuah lembaga pendidikan berkualitas. Empat lembaga pendidikan
yang menjadi sintesis Pondok Modern Darussalam Gontor adalah:

 Universitas Al-Azhar Kairo Mesir, yang memiliki wakaf yang sangat luas sehingga mampu
mengutus para ulama ke seluruh penjuru dunia, dan memberikan beasiswa bagi ribuan
pelajar dari berbagai belahan dunia untuk belajar di Universitas tersebut.

 Aligarh, terletak di India yang memiliki perhatian sangat besar terhadap perbaikan sistem
pendidikan dan pengajaran.

 Syanggit, di Mauritania, yang dihiasi kedermawanan dan keihlasan para pengasuhnya.

 Santiniketan, di India, dengan segenap kesederhanaan, ketenangan dan kedamaiannya.

Orientasi Pondok Modern Darussalam Gontor adalah membentuk pribadi beriman, bertakwa,
dan berakhlak karimah yang dapat mengabdi pada umat dengan penuh keihlasan dan
berperan aktif dalam memberdayakan masyarakat. Maka PMDG mencanangkan bahwa
"Pendidikan lebih penting dari Pengajaran". Secara Garis besar arah dan tujuan pendidikan
dan pengajaran di Pondok Modern Darussalam Gontor adalah:

 Pendidikan Kemasyarakatan
 Kesederhanaan
 Tidak Berpartai
 Menuntut ilmu karena Allah

Gambar 1

http://putreetanfhanhama.blogspot.com/2012/06/pemikiran-pendidikan-islam-kh-ahmad.html?
m=1

https://media.neliti.com/media/publications/132206-ID-pemikiran-kh-ahmad-dahlan-dalam-
bidang-s.pdf

Gambar 2

https://repository.unej.ac.id/handle/123456789/79725q

https://youchenkymayeli.blogspot.com/2012/10/kh-hasyim-asyari-intelektual-indonesia.html

Gambar 3

https://id.wikipedia.org/wiki/Universitas_Islam_Negeri_Syarif_Hidayatullah_Jakarta

https://www.uinjkt.ac.id/id/tentang-uin/

Gambar 4

https://id.wikipedia.org/wiki/Pondok_Modern_Darussalam_Gontor

Nama :Salsa Nabilla Afrimadani

Kelas : XII MIPA 3 (FISIKA)