Anda di halaman 1dari 45

Dasar stoikiometri larutan

Istilah “konsentrasi” larutan ialah menyatakan jumlah zat terlarut yang dilarutkan ke dalam sejumlah
tertentu pelarut ataupun sejumlah tertentu larutan. Konsentrasi larutan bisa dinyatakan dalam
molaritas. Molaritas (M) didefinisikan sebagai jumlah mol zat terlarut per liter larutan

Dasar Stoikiometri Gas Ideal

Volum molar, di definisikan sebagai volum dari 1 mol entitas (atom, ion, molekul, unit formula) dari
materi. Satuan dari volum molar ialah L/mol.

Stoikiometri bersandar pada hukum seperti hukum perbandingan tetap, hukum perbandingan ganda
dan hukum kekekalan massa.

Hukum kekekalan massa = Menggunakan hukum-hukum fisika seperti hukum kekekalan massa, yang
menyatakan massa reaktan sama dengan massa produk, Stoikiometri dipakai untuk mengumpulkan
informasi tentang jumlah berbagai unsur yang digunakan di dalam reaksi kimia , dan apakah mereka
mengambil bentuk gas, padat atau cairan.

Hukum perbandingan tetap = Ini menyatakan bahwasanya senyawa kimia (zat yang terdiri dari 2
atau lebih usnur) selalu berisi proporsi yang sama dari unsur (senyawa dengan satu jenis atom)
dengan massa.

Contoh Soal Stoikiometri

Sebuah senyawa Propana terbakar dengan persamaan reaksi sebagai berikut ini :

C3H8+O2⟶H2O+CO2

Jika 200 g propana yang terbakar, maka hitunglah berapa jumlah H2O yang harusnya terbentuk?
Penyelesaian :

Setarakan persamaan reaksinya!

Hitung mol C3H8!

mol=m/Mr -> mol= 200 g/ 44 g/mol ->mol= 4.54 mol

Hitung rasio H2O : C3H8 -> 4:1

Hitung mol H2O dengan perbandingan contohnya 1

mol H2O : 4 = mol C3H8 : 1

-> mol H2O : 4 = 4.54 mol : 1

-> mol H2O = 4.54 x 4= 18.18 mol

Konversi dari mol ke gram.

mol = m/Mr

m = mol x Mr

m = 18.18 mol x 18

m = 327.27 gram

Pengertian Konsep Mol. Satuan jumlah zat dalam ilmu kimia disebut dengan mol. Satu mol zat
mengandung partikel yang jumlahnya sama dengan jumlah partikel dalam 12 gram C–12, yaitu 6,02
× 1023 partikel. Jumlah partikel ini disebut sebagai bilangan Avogadro. Partikel zat dapat berupa
atom, molekul, atau ion seperti dijelaskan dengan contoh-contoh di bawah.

Perhatikan Contoh-contoh berikut:


• 1 mol besi (Fe) mengandung 6,02 × 1023 atom besi (dalam hal ini partikel unsur besi adalah atom).
Jadi jumlah partikel besi adalah sama dengan jumlah atom besi.

• 1 mol air (H2O) mengandung 6,02 × 1023 molekul air (dalam hal ini partikel senyawa air adalah
molekul). Jadi jumlah partikel air adalah sama dengan jumlah molekul air.

• 1 mol Na+ mengandung 6,02 × 1023 ion Na+ (dalam hal ini partikel ion Na+ adalah ion). Jadi jumlah
partikel Na+ adalah sama dengan jumlah ion Na+ .

• 5 mol CO2 mengandung 5 × 6,02 × 1023 = 3,01 × 1024 molekul CO2.

• 0,2 mol hidrogen mengandung 0,2 × 6,02 × 1023 = 1,204 × 1023 atom hidrogen.

Menghitung Jumlah Partikel Suatu Zat.

Hubungan antara jumlah partikel dalam zat dengan jumlah mol dapat dinyatakan dengan formula
sebagai berikut:

X=nxL

X = jumlah partikel

n = mol
L = tetapan Avogadro = x 6,02 × 1023 partikel/mol

Contoh:

Jumlah partikel (atom emas) yang dimiliki oleh 5 mol emas murni adalah:

X = n × 6,02 × 1023 partikel/mol

X = 5 mol × 6,02 × 1023 partikel/mol

X = 3,01 × 1024 atom emas

Jadi dalam 5 mol emas terdapat 3,01 x 1024 atom emas.

Menghitung Jumlah Massa Molar Suatu Zat.

Massa molar menyatakan massa yang dimiliki oleh 1 mol zat. Massa molar umumnya dinotasikan
dengan mm. Massa 1 mol zat sama dengan massa molekul relatif zat tersebut dengan satuannya
dinyatakan oleh gram/mol. Massa molekul relatif biasanya dinyatakan dengan Mr.

Untuk unsur yang partikelnya berupa atom, maka massa molar adalah sama dengan massa atom
relatifnya dalam satuan gram/mol. Massa atom relatif biasa dinotasikan dengan Ar

Perhatikan Contoh-contoh berikut:

• Massa molar kalsium (Ca) = massa dari 1 mol kalsium (Ca) = massa relatif atom (Ar) Ca = 40
gram/mol.

• Massa molar besi (Fe) = massa dari 1 mol besi (Fe) = massa relatif atom (Ar ) Fe = 56 gram/mol.
• Massa molar aluminium (Al) = massa dari 1 mol aluminium (Al) = = massa relatif atom (Ar ) Al = 27
gram/mol.

Dengan demikian diketahui bahwa:

Massa molar Ca = 40 gram/mol

Massa molar Fe = 56 gram/mol

Massa molar Al = 27 gram/mol

Menghitung Jumlah Mol Suatu Zat

Satu mol didefinisikan sebagai jumlah zat yang mengandung partikel zat itu sebanyak atom yang
terdapat dalam 12,000 g atom karbon –12. Sedangkan Massa satu mol zat dinamakan massa molar
(dinotasikan sebagai Mr). Besarnya massa molar zat adalah massa atom relatif atau massa molekul
relatif zat yang dinyatakan dalam satuan gram per mol. Jumlah mol yang terkandung dalam suatu zat
dapat diformulasikan sebagai berikut:

n = M/Ar atau n = M/Mr

n = mol

M = massa zat atau massa molekul (gram)

Ar = massa atom relatif

Mr = massa molekul relatif


Contoh Perhitungan Mol:

Jumlah mol untuk besi sebanyak 560 gram adalah:

M = 560 gram

Ar Fe = 56

Karena massa atom relatif besi dapat dinyatakan dengan massa molar besi, maka satuan massa
atom relatif besi dapat dinyatakan dengan gram/mol. Jadi jumlah mol dalam 560 gram zat besi
adalah:

n = 560 gram/56 gram/mol

n = 10 mol

Contoh Perhitungan Mol.

Mengitung jumlah mol dalam 180 gram air adalah:

Mr = massa molekul relatif air adalah:

Mr H2O = (2 x Ar H) + (1 x Ar O)

Mr H2O = (2 x 1) + (1 x 16)

Mr H2O = 18
Dengan demikian, jumlah mol dalam 180 gram air adalah:

n = 180 gram/18 gram/mol = 10 mol

Konsep Mol
Jauh sebelum konsep mol dikembangkan, ada ide tentang kesetaraan kimia dalam jumlah tertentu
dari zat yang dapat bereaksi dengan zat lain pada tingkat yang sama.

Gagasan ekivalen kimia dinyatakan oleh Henry Cavendish pada tahun 1767, diklarifikasi oleh
Jeremias Richter pada 1795 dan dipopulerkan oleh William Wollaston pada tahun 1814. Wollaston
menerapkan konsep tersebut ke dalam atom-atom dan mendefinisikannya sehingga satu ekuivalen
dari suatu elemen sesuai dengan massa atomnya.

Pengertian Konsep Mol


Dalam kimia, mol merupakan unit dasar yang digunakan dalam sistem satuan internasional (SI)
sehingga secara internasional perhitungan untuk mengukur jumlah zat menggunakan satuan mol.
Kuantitas ini juga terkadang disebut sebagai jumlah bahan kimia.

Mol berupa sebuah angka yang nilainya sama dengan bilangan Avogadro yaitu 6.022*10 23 yang
menyatakan jumlah partikel. Jadi, ketika seseorang menyatakan suatu materi jumlah molnya adalah
1, maka materi tersebut mengandung sebanyak 6.022*10 23 jumlah partikel. Dalam hal ini jumlah
partikel dapat berarti atom, molekul, ion, elektron, atau elemen lainnya.

Identitas suatu zat tidak hanya didefinisikan oleh jenis atom atau ion yang dikandungnya, namun juga
oleh jumlah dari masing-masing jenis atom atau ion.

Sebagai contoh, air (H2O) dan hidrogen peroksida (H2O2) keduanya sama-sama mengandung atom
hidrogen dan oksigen, yang membedakan yaitu pada jumlah atom yang dimilikinya dimana pada air
hanya mengandung satu oksigen sedang pada hidrogen peroksida mengandung dua buah atom
oksigen.

Konsep mol memberikan ukuran spesifik jumlah atom atau molekul dalam suatu sampel materi yang
besar. Satu mol didefinisikan sebagai jumlah zat yang mengandung entitas diskrit yang sama. Mol
menyediakan hubungan antara sifat makroskopik yang mudah diukur, massa, dan sifat dasar lain
yang sangat penting seperti jumlah atom, jumlah molekul, dan jumlah partikel.

Perhitungan Massa Molar


Sesuai dengan definisinya sebagai satuan jumlah, 1 mol elemen apapun akan mengandung jumlah
atom yang sama dengan 1 mol elemen lainnya. Akan tetapi, massa 1 mol elemen dapat berbeda
dengan massa 1 mol elemen lain karena massa atom secara individu juga berbeda.
Dengan hal ini maka muncul istilah Massa Molar yang biasa ditampilkan sebagai Massa Atom untuk
zat dengan atom tunggal atau pada gabungan atom (senyawa) hal ini disebut sebagai massa relatif.
Massa molar ini dinyatakan dalam satuan gram per moll yang dapat didefinisikan sebagai massa
untuk satu mol zat tersebut. Massa molar ini akan sangat berguna dalam perhitungan yang
melibatkan massa zat dan mol.

Sebagai contoh yaitu pada atom karbon yang memiliki nomor atom 6 dan nomor massa 12. Kita
dapat mengetahui bahwa atom karbon memiliki massa 12 gram setara dengan 1 mol atom karbon
tersebut. Ketika kita menemukan atom karbon dengan massa 24 gram, itu berarti atom karbon berada
dalam jumlah 2 mol.

Sama halnya dengan oksigen yang memiliki nomor massa 16, itu berarti untuk 1 mol oksigen
membutuhkan 16 gram oksigen. Ketika atom karbon bereaksi dengan oksigen dan membentuk
karbon dioksida (CO2), maka kita dapat menghitung massa relatif dari CO2 yaitu :

Pada CO2  mengandung 1 atom C dan 2 atom O

1 x massa C = 1 x 12 = 12 gram/mol

2 x massa o = 2 x 16 = 32 gram/mol

Total = 12 + 32 = 44 gram/mol

Jadi untuk molekul CO2 memiliki massa relatif sebesar 44 gram/mol.

Perhitungan Konsep Mol


Konsep mol dapat diterapkan untuk berbagai situasi, pada umumnya konsep mol ini selalu digunakan
dalam membuat reaksi kimia. Hal itu berguna untuk menentukan berapa massa zat yang akan
direaksikan sehingga jumlahnya setara dan efisien untuk bereaksi.

Dalam suatu reaksi, jumlah mol sangat menentukan reaksi terutama dalam menentukan produk yang
akan terbentuk. Sebagai contoh untuk membentuk produk H 2O dalam suatu reaksi, dibutuhkan
sebanyak 2 mol hidrogen dan 1 mol oksigen.

Ketika jumlah tersebut tidak terpenuhi maka H2O juga tidak akan terbentuk, itulah mengapa konsep
mol ini sangat menentukan reaksi kimia.

Untuk menghitung mol, kita dapat mengkonversinya dari jumlah zat awal yang diketahui baik dengan
satuan konsentrasi (untuk larutan), volume (untuk gas), massa (untuk padatan), atau jumlah partikel.
Konsep mol untuk perhitungan tersebut dapat dilihat dalam gambar berikut;
Jika diketahui massa zat
Untuk menghitung jumlah mol jika diketahui massa awal suatu zat ini seperti yang telah dicontohkan
pada bagian awal.

Dalam hal ini anda perlu mengetahui rumus kimia dari  zat tersebut, rumus kimia ini dapat berupa
jenis atom atau rumus senyawanya. Rumus kimia tersebut akan digunakan dalam menentukan
massa molar zat tersebut berdasarkan massa atomnya.

Contoh soal
Jika diketahui massa molekul H2O sebesar 50 gram, tentukan jumlah molnya!

Step 1 : Menghitung massa molar H2O

2 x massa H = 2 x 1 = 2 gram/mol

1 x massa O = 1 x 16 = 16 gram/mol

Massa molar H2O = 2 + 16 = 18 gram/mol

Step 2 : Menghitung mol H2O

Mol = Massa Zat / massa molar

Mol H2O = 50 / 18 = 2.7 mol

Jika diketahui volume zat


Volume zat ini pada umumnya diterapkan dalam perhitungan mol untuk zat dengan fasa gas. Dalam
keadaan STP atau Standar Temperature & Pressure, 1 mol setara dengan 22.4 L zat gas apapun
jenisnya. Untuk menggunakan perhitungan ini anda harus memastikan terlebih dahulu bahwa zat gas
diukur dalam keadaan STP, karena pada keadaan diluar STP 1 mol belum tentu setara dengan 22.4
L gas.

Contoh soal
Tentukan jumlah mol gas H2 yang diukur pada keadaan STP sebanyak 1.5 L!

Step : Menghitung mol gas H2

Mol = Volume / 22.4

Mol H2  = 1.5 / 22.4 = 0.0669 mol

Jika diketahui konsentrasi


Konsentrasi merupakan satuan ukuran untuk suatu larutan. Jika dalam larutan tersebut diketahui jenis
zat dan konsentrasinya serta jumlah volume total larutan, maka anda dapat menghitung jumlah mol
zat tersebut. Satuan konsentrasi dapat didefinisikan sebagai jumlah mol zat terlarut dalam 1 liter
pelarut yang pada umumnya pelarutnya yaitu air. Satuan yang paling umum untuk konsentrasi adalah
Molaritas (M) yang sama dengan mol/L.

Contoh Soal
Diketahui HCl 0.5 M sebanyak 25 mL, tentukan jumlah molnya!

Step 1 : Mengubah satuan volume menjadi liter

25 mL = 0.025 L

Step 2 : Menghitung mol HCl dalam larutan

Mol = Konsentrasi x Volume

Mol HCl = 0.5 M x 0.025 L = 0.0125 mol

Jika diketahui jumlah partikel


Jika suatu materi hanya diketahui jumlah partikelnya, maka dalam hal ini anda dapat menerapkan
prinsip yang digagas oleh Avogadro, dimana 1 mol suatu materi setara dengan 6.022*10 23 partikel.
Partikel yang dimaksud dapat berarti atom, elektron, atau jenis partikel lain.

Contoh Soal
Diketahui jumlah mol suatu zat adalah 0.05 mol, tentukan jumlah partikelnya!

Step : Menghitung jumlah partikel

Mol = jumlah partikel / 6.022*1023

Maka

Jumlah partikel = Mol x 6.022*1023

Jumlah partikel = 0.05 mol x 6.022*1023  = 3.011*1022 partikel


PENGERTIAN KONSEP MOL
Untuk menyederhanakan jumlah partikel yang luar biasa kecilnya ini
digunakan konsep mol. Mol menyatakan satuan jumlah zat. Satuan jumlah zat
ini sama halnya dengan penyederhanaan jumlah suatu barang. Contoh,1 lusin
digunakan untuk menyederhanakan 12 satuan barang pecah belah dan 1 rim untuk
menyatakan 500 lembar kertas. Penyederhanaan ini perlu dilakukan karena proses
kimia yang berlangsung dalam kehidupan sehari-hari melibatkan sekumpulan
partikel sangat kecil yang jumlahnya sangat besar. Satuan partikel-partikel tersebut
terlampau sulit untuk diamati.

1 mol = L partikel

L =Bilangan Avogadro = 6,02 x 1023

Jadi, konsep mol adalah satuan jumlah zat yang menyatakan banyaknya partikel


zat itu.

RUMUS KONSEP MOL


Dengan demikian, 1 mol zat mengandung 6,02 x 1023 partikel. Hubungan antara
jumlah mol dan jumlah partikel dapat dirumuskan sebagai berikut:

Jumlah mol X (n) = jumlah partikel X/ L

atau

Jumlah partikel X = n x L

Bilangan Avogadro (L) ditemukan oleh Johann Loschmidt pada 1865. Nama Avogadro
dipilih sebagai penghormatan kepada Avogadro karena beliau orang pertama yang
mengusulkan perlunya satuan jumlah partikel. Adapun nama Loschmidt diabadikan
sebagai simbol bilangan tersebut, L.

Nilai bilangan Avogadro adalah L = 6,02 x 1023. Dapatkah Anda bayangkan besarnya
angka tersebut? Seandainya dikumpulkan sebanyak 6,02 x 10 23 butir beras, beras itu
dapat ditimbunkan pada permukaan benua Australia dengan ketinggian mencapai
satu kilometer! Atau, jika dimisalkan atom sebesar kelereng dan disebarkan di
permukaan bumi, seluruh permukaan bumi akan tertutup kelereng dengan
ketebalan lapisan 80 km! Bilangan yang luar biasa besarnya ini dipilih untuk
menyatakan jumlah atom karena kepraktisan dan ketepatannya.
Bayangkan,alangkah rumitnya jika jumlah atom dinyatakan dalam satuan butir,
lusin, gros, kodi, atau satuan lainnya.

Bilangan Avogadro bersifat istimewa karena menguhungkan satuan gram dengan


sma. Contoh, sebanyak 6,02 x 1023 atom C-12 memiliki massa sebesar 12 gram.
Anda perhatikan, angka 12 gram setara dengan massa atom realtif C-12 yakni 12
sma. Inilah inti dari konsep mol yang diusulkan oleh Avogadro.

Berikut ini contoh penggunaan bilangan Avogadro dalam perhitungan kimia.


CONTOH SOAL KONSEP MOL
CONTOH SOAL KONSEP MOL 1
Reaksi pembakaran yang sempurna menghasilkan gas karbon dioksida (CO2). Jika
dalam satu hari sebuah bus rata-rata melepaskan 1 mol CO2 dalam emisi gas
buangnya, berapa jumlah atom dari CO2 yang dilepaskan bus tersebut selama
seminggu?

Penyelesaian:

Jumlah mol CO2 = 1 mol/hari x 7 hari = 7 mol

Jumlah atom dalam satu molekul CO2 = 1 atom C + 2 atom O = 3 atom

Jumlah Molekul CO2 = 7 x 6,02 x 1023 molekul = 42,14 x 1023 molekul

Jadi, jumlah atom dari CO2yang dilepaskan = 42,14 x 1023 molekul x 3 atom/molekul


= 1,26 x 1025atom

CONTOH SOAL KONSEP MOL 2


Berapa jumlah mol natrium yang terdapat dalam 6,02 x 1024 atom Na?

Penyelesaian:

Jumlah mol Na = Jumlah partikel / L = 6,02 x 1024 molekul / 6,02 x 1023 molekul mol-1=


10 mol

Jadi, 6,02 x 1024 atom Na = 10 mol.

CONTOH SOAL KONSEP MOL 3


Berapa jumlah mol ammonia yang terdapat dalam 3,01 x 1026 molekul NH3?

Penyelesaian

Jumlah mol NH3 = 3,01 x 1026 molekul / 6,02 x 1023 molekul mol-1 = 500 mol

Jadi, 3,01 x 1026 molekul NH3 = 500 mol

umus molekul merupakan gabungan lambang unsur yang menunjukkan jenis unsur pembentuk
senyawa dan jumlah atom masing-masing unsur dengan perbandingan yang tetap. Atas dasar
perbandingan molekul, volume dan massa yang setara dengan jumlah mol, maka rumus molekul juga
dapat berarti perbandingan mol dari atom-atom penyusunnya.
Sebagai contoh rumus molekul air H2O, terdiri dari jenis atom H dan O, dengan jumlah mol sebanyak
2 mol atom hydrogen dan 1 mol atom Oksigen.

Demikian pula untu senyawa Glukosa dengan rumus molekul C6H12O6 terdiri dari atom C, H dan O,
dengan komposisi mol yaitu 6 mol atom C, 12 mol atom H dan 6 mol atom O, lihat bagan 6.25.

Bagan 6.25. Komposisi mol atom dalam rumus molekul

Informasi yang didapat dari rumus molekul tidak terbatas pada jumlah atom namun kita juga dapat
menentukan massa dari atom penyusunnya ataupun persentasenya.

Rumus molekul C2H2. menunjukkan ada 2 mol atom Karbon dan 2 mol atom Hidrogen, jika massa
atom C = 12, dan H =1.

Massa Karbon = 2 x 12 = 24
Massa Hidrogen = 2 x 1 = 2
Massa Molekulnya (Mr) = 26

Dengan komposisi tersebut maka persen massa Karbon adalah :

Sedangkan persen massa Hidrogen adalah :


Dengan rasio mol, ini juga terkandung penertian rumus empiris bagi satu zat.

Beberapa contoh soal di bawah ini mengangkat berbagai makna yang terkandung di dalam rumus
molekul dan rumus empiris.

Sebuah senyawa (NH4)2SO4, dengan massa atom N=14, H=1, S=32 dan O=16. Tentukan masing
persen berat dari atom-atom penyusunnya.

Untuk atom N = 2, atom H = 4, atom S = 1 dan atom O=4.

N = 2 x 14 = 28
H =4 x 2 x 1 = 8
S = 1 x 32 = 32
O = 4 x 16 = 64

Massa molekulnya adalah = 132

Persen berat N = 28/132 x 100% = 21.21%


Persen berat H = 8/132 x 100% = 6.06%
Persen berat S = 32/132 x 100% = 24.24%
Persen berat O = 64/132 x 100% = 48.49%

Untuk soal yang lebih kompleks, misalnya sebuah senyawa tersusun atom Karbon dan atom
Hidrogen, Persen berat Karbon adalah 92.3% dan sisanya Hidrogen, Jika massa molekul tersebut
adalah 78, dimana atom C = 12 dan atom H = 1. Tentukan rumus molekulnya.

1. Pertama kita tetapkan massa Karbon Berdasarkan persen berat terhadap massa molekul
senyawanya.
C = 0.923 x 78 = 71.994 dibulatkan 72

2. Kedua kita tetapkan massa hidrogen Berdasarkan persen berat terhadap massa molekul
senyawanya
100% – 92.3% = 7.7%
H = 0.077 x 78 = 6.006 dibulatkan 6

3. Jumlah karbon dan hidrogen


C = 72/12 = 6
H = 6/1 = 6
4. Rumus Molekulnya
C6H6

Seorang petani memiliki masalah dengan lahannya yang membutuhkan unsur Nitrogen, namun dia
tidak tahu bagaimana cara menghitung kadar N dalam sebuah pupuk urea yang memiliki rumus
molekul CO(NH2)2. Berat atom untuk C: 12, O:16, N:14 dan H:1.

Jika petani tersebut memiliki 1 karung pupuk urea dengan berat yang tertulis dalam labelnya adalah
120 Kg. Berapakah kadar Nitrogen dalam 1 karung pupuk urea tersebut. Pemecahan masalah ini
dapat anda lihat dalam Bagan 6.26. di sebelah.

 Persen Komposisi Senyawa


Nopriawan Berkat Asi, S.Si, M.Pd9:01 PM No comments

Seperti yang telah kita ketahui, rumus senyawa


memberitahukan kepada kita tentang jumlah atom dari
setiap unsur dalam satu satuan senyawa tersebut. Namun,
jika untuk digunakan dalam eksperimen laboratorium kita
perlu menguji kemurnian senyawa tersebut. Dari rumus
kimianya kita dapat menghitung berapa persen dari total
massa senyawa yang dikontribusikan oleh masing-masing
unsur. Kemudian, dengan membandingkan hasilnya dengan
komposisi persen yang diperoleh secara eksperimental untuk
sampel yang digunakan, maka dapat ditentukan kemurnian
sampel.

Persen komposisi berdasarkan massa adalah persentase


massa dari setiap unsur yang terkandung dalam suatu
senyawa. Persen komposisi diperoleh dengan membagi
massa setiap unsur dalam 1 mol senyawa dengan massa
molar senyawa dan mengalikannya dengan 100 persen.
Secara matematis, komposisi persen suatu unsur dalam suatu
senyawa dinyatakan sebagai

dimana n adalah jumlah mol unsur dalam 1 mol senyawa.


Misalnya, dalam 1 mol hidrogen peroksida (H₂O₂) ada 2 mol
atom H dan 2 mol atom O. Massa molar H₂O₂, H, dan O
masing-masing adalah 34,02 g, 1,008 g, dan 16,00 g. Oleh
karena itu, komposisi persen dari H₂O₂ dihitung sebagai
berikut:

Jumlah persentase adalah 5,926% + 94,06% = 99,99%.


Perbedaan kecil dari 100 persen adalah karena cara kita
membulatkan massa molar dari unsur. Jika kita menggunakan
rumus empiris HO untuk perhitungan, kita akan
mendapatkan persentase yang sama. Ini karena kedua rumus
molekul dan rumus empiris memberitahukan kepada kita
komposisi persen dari massa senyawa.
Contoh 3.8
Asam fosfat (H₃PO₄) merupakan cairan tak berwarna, seperti
sirup yang digunakan untuk membuat deterjen, pupuk, dan
pasta gigi. Senyawa ini pada minuman berkarbonasi
memberikan rasa yang “tajam”. Hitung  persen komposisi
massa dari H, P, dan O dalam senyawa ini.

Strategi
Ingat prosedur untuk menghitung persentase. Asumsikan
bahwa kita memiliki 1 mol H₃PO₄. Persen massa setiap unsur
(H, P, dan O) diberikan oleh massa molar gabungan dari atom
unsur dalam 1 mol H₃PO₄ dibagi dengan massa molar H₃PO₄,
kemudian dikalikan dengan 100 persen.

Penyelesaian
Massa molar H₃PO₄ adalah 97,99 g. Persen massa masing-
masing unsur dalam H₃PO₄ dihitung sebagai berikut:
Periksa
Apakah persentase bertambah hingga 100 persen? Jumlah
persentase adalah (3,086% + 31,61% + 65,31%) = 100,01%.
Perbedaan kecil dari 100 persen adalah karena cara
pembulatan.

Latihan
Hitung  persen komposisi massa masing-masing unsur dalam
asam sulfat (H₂SO₄).

Prosedur yang digunakan dalam contoh dapat dibalik jika


perlu. Mengingat  persen komposisi massa senyawa, kita
dapat menentukan rumus empiris senyawa (Gambar 3.5).
Karena kita berurusan dengan persentase dan jumlah dari
semua persentase adalah 100 persen, akan lebih mudah
untuk mengasumsikan bahwa kita mulai dengan 100 g
senyawa, seperti ditunjukkan Contoh 3.9.
Contoh 3.9
Asam askorbat (vitamin C) menyembuhkan sariawan. Asam
ini terdiri dari 40,92 persen karbon (C), 4,58 persen hidrogen
(H), dan 54,50 persen oksigen (O) berdasarkan massa.
Tentukan rumus empirisnya.

Strategi
Dalam rumus kimia, subskrip (indeks bawah) mewakili rasio
jumlah mol setiap elemen yang bergabung membentuk satu
mol senyawa. Bagaimana kita dapat mengkonversi dari
persen massa menjadi mol? Jika kita mengasumsikan sampel
100 g senyawa, apakah kita tahu massa setiap unsur dalam
senyawa? Bagaimana kita mengkonversi dari gram menjadi
mol?

Penyelesaian
Jika kita memiliki 100 g asam askorbat, maka setiap
persentase dapat dikonversi langsung ke gram. Dalam sampel
ini, akan ada 40,92 g C, 4,58 g H, dan 54,50 g O. Karena
subskrip dalam rumus mewakili rasio mol, kita perlu
mengubah gram setiap unsur menjadi mol. Faktor konversi
yang dibutuhkan adalah massa molar dari setiap unsur.
Misalkan n mewakili jumlah mol setiap unsur sehingga

Jadi, kita sampai pada rumus C₃,₄₀₇H₄,₅₄O₃,₄₀₆, yang


memberikan identitas dan rasio mol atom yang ada.
Tetapi, rumus kimia ditulis dengan bilangan bulat.
Cobalah untuk mengkonversi ke seluruh nilai dengan
membagi semua subskrip dengan subskrip terkecil
(3,406):

dimana tanda ≈ berarti “kira-kira sama dengan”. Hasilnya


adalah CH₁,₃₃O sebagai rumus untuk asam askorbat.
Selanjutnya, kita perlu mengkonversi subskrip 1,33 untuk H,
menjadi sebuah bilangan bulat. Ini dapat dilakukan dengan
prosedur coba-coba:

1,33 x 2 = 2,66
1,33 x 3 = 3,99 ≈ 4

Karena 1,33 x 3 memberikan bilangan bulat 4, kita


mengalikan semua subskrip dengan 3 dan
memperoleh C₃H₄O₃ sebagai rumus empiris untuk asam
askorbat.

Ingat rumus empiris tidak selalu sama dengan rumus


molekul! Rumus molekul untuk asam askorbat
adalah C₆H₈O₆.   

Latihan
Tentukan rumus empiris senyawa yang mempunyai persen
komposisi massa sebagai berikut K = 24,75 persen, Mn =
34,77 persen, O = 40,51 persen.

Para Kimiawan sering ingin mengetahui massa sebenarnya


dari salah satu unsur dalam suatu senyawa dengan massa
tertentu. Misalnya, dalam industri pertambangan, informasi
ini akan memberi tahu para ilmuwan tentang kualitas bijih.
Karena  persen komposisi dari massa unsur-unsur dalam
senyawa dapat dengan mudah dihitung, masalah seperti itu
dapat dipecahkan dengan cara yang cukup sederhana.

Contoh 3.10
Kalkopirit (CuFeS₂) adalah mineral utama tembaga. Hitung
jumlah kilogram Cu dalam 3,71 x 10³ kg kalkopirit.

Strategi 
Kalkopirit (Chalcopyrite) terdiri dari Cu, Fe, dan S. Massa Cu
didasarkan pada persentasenya dari massa dalam senyawa
tersebut. Bagaimana cara menghitung persen massa unsur?

Penyelesaian
Massa molar Cu dan CuFeS₂ masing-masing 63,55 g dan 183,5
g. Jadi, persen massa Cu
Untuk menghitung massa Cu dalam sampel 3,71
x 10³ kg CuFeS₂, kita perlu mengubah persentase menjadi
desimal (yaitu, mengkonversi 34,63 persen menjadi
34,63/100, atau 0,3463) dan menulis

massa Cu dalam CuFeS₂ = 0,3463 x (3,71 x 10³ kg) = 1,28 x 10³ kg Cu

Periksa
Sebagai perkiraan, perhatikan bahwa persen massa Cu kira-
kira 33 persen, sehingga sepertiga dari massanya harus
massa Cu; yaitu, (1/3) x 3,71 x 10³ kg ≈ 1,24 x 10³ kg. Jumlah
ini cukup mendekati dengan jawabannya.

II. MASSA ATOM RELATIF DAN MASSA MOLEKUL RELATIF


III. KONSEP MOL

a. Dalam ilmu kimia satuan jumlah yang digunakan adalah mol

b. satu mol adalah sejumlah zat yang mengandung 6,02 x 10^23 partikel

Hubungan Mol dengan jumlah partikel

Jumlah Partikel = mol x 6,02 x 10^23

mol = Jumlah partikel / 6,02 x 10^23

Hubungan Mol dengan Massa 

Untuk unsur :

 mol = gram / Ar
 gram = mol x Ar

Untuk senyawa :

 mol = gram/Mr
 gram = mol x Mr

Hubungan Mol dengan Volume Gas


Setiap satu mol gas apa saja keadaan standard (0oC, 1 atm) mempunyai
volume : 22, 4 liter.

 Volume gas = mol x 22,4


 mol = Volume / 22,4

Hubungan mol, jumlah partikel dan hubungan gas dapat digambarkan


dalam bentuk
diagram sebagai berikut :
A. KONSEP MOL
1. Mol  =        gram
                 Ar atau Mr
2. Mol =    jumlah partikel
                      6,02 x 1023
    Jumlah partikel = molekul/ion/atom
3. Mol =       volume
                      22,4 L     (dalam keadaan STP)
    bila tidak dalam keadaan STP (00C,1 atm) 
                 Mol 1   =   volume 1
                 Mol 2        volume 2
4. Mol =    M x V
    M     =     Mol
                     V
    M     =   konsentrasi (M)
    V     =   volume (L)
Langkah-langkah perhitungan :
Untuk menghubungkan rumus yang satu dengan rumus yang lainnya selalu dirubah
dalam bentuk MOL

B. RUMUS KIMIA
1. Rumus Empiris
Rumus empiris adalah rumus yang menyatakan perbandingan terkecil atom-atom
yang menyusun suatu senyawa
Langkah-langkah perhitungan :
Perbandingan atom-atom penyusunnya sama dengan perbandingan massa  (gr)
atau persen massa yang dibagi dengan Ar nya masing-masing
2. Rumus Molekul
Rumus molekul adalah rumus yang menyatakan jumlah atom-atom sebenarnya
yang menyusun suatu senyawa
(Mr rumus empiris) x  = Mr rumus molekul
X = kelipatan

C. HUKUM PERBANDINGAN TETAP (PROUST)


Hukum perbandingan tetap dalam AxBy :
massa A      =   x.Ar A
massa B            y.Ar B
  massa A      =     x.Ar A
massa AxBy        Mr AxBy
%A  =        x.Ar A    x  100%
                 Mr AxBy
%A  =         massa A     x  100%
                massa AxBy

D. PERSAMAAN REAKSI
Koefisien reaksi menyatakan perbandingan mol zat-zat dalam reaksi
Jika mol-mol zat yang direaksikan tidak sebanding, mol zat yang digunakan adalah
mol yang jika dibagi dengan koefisiennya hasilnya paling kecil

Reaksi pembakaran senyawa organik  :


CxHy + (x + ¼ y) O2  -->  x CO2 + ½ y H2O
mol O2 : mol CO2 : mol H2O = (x + ¼ y) : x : ½ y

Pemanasan seny. hidrat(mengandung air)


Senyawa.xH2O  -->  Senyawa  +  xH2O
X  =        mol H2O
          mol Senyawa

E. HUKUM GAS
RUMUS :       PV   =   nRT
P  =  tekanan (atm)
V  =  volume (L)
n  =   mol zat
R  =  0,0082
T  =  suhu (0K),  x0C  =  (x + 273)0K

Koefisien reaksi = perbandingan volume

Rumus molekul dan rumus empiris suatu senyawa hanya terjadi perbedaan jumlah atom,
sedangkan atom unsur penyusun senyawa tetap. Namun demikian beberapa senyawa memiliki
rumus molekul dan rumus empirisnya yang sama, misalnya H 2O (air) dan NH3 (amoniak).

                  Jumlah atom dalam suatu rumus kimia menyatakan jumlah mol dari unsur terkait,
jadi rumus kimia suatu senyawa merupakan perbandingan mol atom unsur penyusun senyawa
tersebut. Dari perbandingan atom atau perbandingan mol ini dapat ditentukan perbandingan
massa dan % massa dari unsur-unsur yang menyusun senyawa tersebut.

                   Untuk memperjelas hal ini perhatikan contoh berikut! misalnya vitamin C yang
mengandung asam askorbat dengan rumus molekul C6H8O6, maka:

· Rumus molekul C6H8O6


· Perbandingan mol atom unsur
C:H:O=6:8:6
· Perbandingan massa unsur
C : H : O = 6 x Ar. C : 8 x Ar.H : 6 x Ar.O
= (6 x 12) : (8 x 1) : (6 x 16)
= 72 : 8 : 96
· Jumlah perbandingan = Mr
72 + 8 + 96 = 176
· % massa masing-masing unsur

Berikut adalah rumus untuk menghitung % massa unsur dalam senyawa


Contoh soal menentukan kadar unsur dalam senyawa
Berapa persen (%) C, O, N dan H yang terdapat dalam urea, CO(NH 2)2, jika diketahui Ar.C = 12,
Ar.O = 16, Ar.N = 28 dan Ar.H =1?
Jawab
Langkah penyelesaian
1. Tentukan mol masing unsur-unsur dalam senyawa
Atom C = 1 mol
Atom O = 1 mol
Atom N = 2 mol
Atom H = 4 mol
2. Dari mol atom tentukan massa masing-masing unsur dalam senyawa dengan cara: kalikan
dengan atom relatif (Ar) masing-masing atom
Atom C = 1 mol x 12 g/mol = 12 g
Atom O = 1 mol x 16 g/mol = 16 g
Atom N = 2 mol x 14 g/mol = 28 g
Atom H = 4 mol x 1 g/mol = 4 g
3. Jumlahkan massa semua atom yang telah diperoleh untuk memperoleh massa molekul (massa

molekul relatif) 
Atau dengan cara

4. Tentukan % massa masing-masing unsur dengan cara:


Massa masing-masing atom dibagi dengan massa semua atom dalam senyawa (massa molekul
relatif) kemudian dikali 100%.
Dengan cara ini diperoleh:

Jika terdapat 120 Kg urea maka massa N adalah sebesar = 46, 67% x 120 Kg = 56 Kg.
Rumus Empiris dan Rumus Molekul
Rumus Empiris
                Rumus empiris adalah rumus kimia yang menyatakan perbandingan terkecil jumlah
atom-atom pembentuk senyawa. Misalnya senyawa etena yang memiliki rumus molekul C 2H4,
maka rumus empiris senyawa tersebut adalah CH2.
                 Dalam menentukan rumus empiris yang dicari terlebih dahulu adalah massa atau
persentase massa dalam senyawa, kemudian dibagi dengan massa atom relatif (Ar) masing-
masing unsur. artinya untuk menentukan rumus empiris yang perlu dicari adalah perbandingan
mol dari unsur-unsur dalam senyawa tersebut.
Contoh
Suatu senyawa mengandugn 64,6 g natrium, 45,2 g belerang dan 90 g oksigen. Jika diketahui
Ar.N = 23, Ar.S = 32, ddan Ar.O = 16. Maka tentukan rumus empiris senyawa tersebut?
Jawab

Jadi rumus empiris senyawa tersebut adalah Na 2SO4.

Rumus Molekul
                 Rumus molekul adalah rumus kimia yang menyatakan jenis dan jumlah atom yang
menyusun suatu senyawa. Misalnya: C2H4 (etena), CO(NH2)2 (urea) dan asam asetat atau asam
cuka (CH3COOH). Rumus molekul  dapat didefinisikan sebagai rumus kimia yang menyatakan
perbandingan jumlah dan jenis atom sesungguhnya dari suatu senyawa.
               Dari rumus molekul asam cuka diketahui bahwa rumus molekul tersebut tidak ditulis
C2H4O2. Beberapa alasan rumus molekul asam cuka tidak ditulis demikian yaitu
1. Untuk membedakan dengan senyawa lain yang memiliki jumlah atom penyusun yang sama
misalnya metil format (HCOOCH3).
2. Rumus molekul menggambarkan struktur molekul. Artinya dari rumus molekul kita dapat
menunjukan atom-atom saling berikatan. Pada molekul asam cuka atom C yang pertama
mengikat 3 atom H dan 1 atom C berikutnya dan atom C berikunya mengikat 2 atom O kemudian
1 atom O mengikat 1 atom H.
Contoh soal menentukan rumus molekul dari rumus empiris
               200 g senyawa organik mempunyai massa molekul relatif = 180, senyawa ini terdiri dari
40% karbon, 6,6% hidrogen dan sisanya adalah oksigen. Jika diketahui Ar.C = 12, Ar.H = 1, dan
Ar.O = 16. Maka tentukan rumus molekul senyawa ini?
Jawab

Jadi rumus empiris senyawa tersebut adalah CH2O


Dari rumus molekul yang telah diperoleh maka rumus molekul dapat ditentukan sbagai berikut
CH2O)n
(Ar C x n) + (2.Ar H x n) + (Ar.O) = Mr senyawa
12n + 2n + 16n = 180
30n = 180
n=6
jadi rumus molekulnya adalah C6H12O6.
Menentukan Rumus Empiris dan Rumus Molekul Berdasarkan Ar dan Mr
             Tentukan rumus molekul yang dimiliki senyawa dengan umus empiris CH, jika diketahui
Mr senyawa tersebut adalah 78?
Jawab
Mr senyawa = (CH)n
78 = (12 + 1)n
78 = 13n
n=6
jadi rumus molekul yang dimiliki senyawa tersebut adalah (CH)n = C 6H6.

Contoh Soal
               Massa molekul relatif suatu senyawa organik yang memiliki rumus empiris CH 2O adalah
180, jika diketahui Ar.C= 12, Ar.H =1 Ar.O = 16, tentukan rumus molekul senyawa tersebut?
Jawab
Mr senyawa = (CH2O)n
180 = (12 + 2+ 16)n
180 = 30n
n=6
jadi rumus molekul yang miliki senyawa tersebut adalah (CH 2O)n = C6H12O6
Persamaan Reaksi
              Seperti yang telah disinggung pada bab sebelumnya, bahwa perubahan kimia yang
terjadi pada materi disebut juga reaksi kimia. Reaksi kimia yang terjadi dapat berlangsung
secara eksoterm dan endoterm. Reaksi berlangsung secara eksoterm bila reaksi yang terjadi
disertai pembebasan sejumlah energi, sedangkan kebalikan dari reaksi eksoterm disebut reaksi
endoterm. Energi yang terlibat dapat berupa energi cahaya, energi panas dan energi-energi yang
lainnya.
                Pada reaksi kimia terdapat zat awal yang belum mengalami perubahan yang disebut
reaktan atau pereaksi dan zat yang telah mengalami perubahan yang disebut produk atau zat hasil
reaksi. Zat-zat yang terlibat dalam reaksi kimia dapat berupa unsur dan senyawa. Rekasi yang
dimaksud disini bukan reaksi fisi atau reaksi fusi, sehingga zat-zat sebelum dan sesudah reaksi
adalah zat-zat yang sama.
                Reaksi kimia yang terjadi biasanya tulis dalam bentuk persamaan reaksi. Persamaan
reaksi merupakan pernyataan yang mengungkapkan atau menggambarkan suatu proses kimia
dengan menggunakan rumus kimia. Karena itu penulisan persamaan reaksi harus dapat
menyatakan fenomena kimia yang sebenarnya, dimana zat-zat yang bereaksi dan zat-zat hasil
reaksi harus tergambarkan dengan jelas. Agar lebih jelas perhatikan reaksi yang terjadi antara gas
hidrogen dan gas oksigen untuk membentuk air, yang digambarkan sebagai berikut:

Keterangan:
·   tanda panah menunjukan arah reaksi. Dibaca membentuk atau menghasilkan atau
bereaksi menjadi.
· Huruf kecil dalam tanda kurung yang setelah rumus kimia (yang ditulis miring) menyatakan
wujud zat. Wujud zat dinyatakan dengan singkatan yakni
§ s (solid) untuk zat berwujud padat
§ l (liquid) untuk zat berwujud cair
§ g untuk zat berwujud gas
§ aq (aqueous, baca:  akues) untuk zat yang larut dalam air.
· Bilangan yang mendahului rumus kimia (2 pada H 2, 1 pada O2 dan 2 pada H2O) disebut koefisien
reaksi. Koefisien reaksi untuk menyetarakan jumlah atom atau jumlah molekul atau jumlah ion
sebelum dan sesudah reaksi.

             Pada contoh di atas dapat diketahui bahwa jumlah atom sebelum dan sesudah reaksi
adalah sama, hal ini disebut persamaan setara. Berikut adalah penjumlahannya:
· Jumlah atom H di ruas kiri = jumlah atom H di ruas = 4
· Jumlah atom O di ruas kiri = jumlah atom O di ruas = 2
Untuk keperluan tertentu, persamaan reaksi dibubuhkan atribut lain. Berikut adalah beberapa
atribut yang biasa ditemukan pada persaaman reaksi:
· Warna zat
· Δ ada bawah atau atas anak panah= tanda proses pemanasan
·  = tanda kesetimbangan
· ΔH = harga perubahan entalpi
· E° = harga potensial elektrode
Tujuan dan Penyetaraan Persamaan Reaksi
             Tujuan dari penyetaran persamaan reaksi yaitu untuk memenuhi hukum kekekalan
massa atau hukum Lavoisier dan teori atom Dalton. Hukum kekealan massa berbunyi “dalam
sistem tertutup massa zat sebelum dan setelah reaksi adalah tetap” dan tori atom dalton
menyatakan “dalam reaksi kimia tidak ada atom yang hilang atau tercipta tetapi hanya
terjadi penataan ulang”. Artinya jumlah dan jenis atom dalam reaksi kimia adalah tetap atau
sama.
              Agar jumlah dan jenis atom yang terdapat pada reaktan dan produk tetap maka pada
persamaan reaksi masing-masing spesi yang terlibat dalam reaksi kimia diberi koefisien yang
sesuai. Seperti pada contoh pembentukan H2O koefisien reaksi menyatakan jumlah atom, jumlah
ion ataupun jumlah molekul, namun selain itu kofisien reaksi juga menyatakan mol zat yang
terlibat dalam reaksi kimia. Misalnya contoh pembentukan air:

                 Koefisien yang dimiliki menyetakan 2 mol gas hidrogen bereaksi dengan 1 mol gas
oksigen membentuk 2 mol air atau 2 molekul gas hidogen bereaksi dengan 1 molekul gas oksigen
membentuk 2 molekul air.

Berikut adalah langkah-langkah menulis persamaan reaksi dan penyetaraannya


              Misalnya logam aluminium bereaksi dengan gas O2 membentuk aluminium oksida.
Tulislah persamaan reaksi dan penyetaraannya?
1) Menulis rumus kimia atau lambang unsur dari reaktan dan produk dengan wujud masing-
masing spesies.

2) Tetapkan koefisien salah satu spesi sama dengan 1 (biasanya spesi yang rumus kimianya lebih
kompleks).
Pada reaksi di atas spesi yang lebih kompleks adalah Al2O3 = 1
3) Setarakan unsur yang terkait langsung dengan zat yang telah diberi koefisien 1.
Koefisien Al2O3 = 1
Maka Al diruas kanan = 2
Al diruas kiri = 1
Agar jumlah atom Al pada kedua ruas sama maka Al pada ruas kiri diberi kofisien 2. Mka
persamaan reaksinya menjadi:

Atom O
Koefisien Al2O3 = 1
Maka atom O diruas kanan = 3
Jumlah atom O diruas kiri = 2
Agar jumlah atom O pada kedua ruas sama maka atom O pada ruas kiri diberi koefisien 3/2.
Persamaan reaksinya menjadi:

width="315">
Agar koefisien tidak dalam bentuk pecahan koefisien pada kedua ruas dikalikan dengan satu
bilangan sehingga memberikan suatu bilangan bulat. Agar diperoleh bilangan bulat maka kedua
ruas dikali 2, sehingga diperoleh persamaan reaksi yang setara dengan koefisien dalam bentuk
bilangan bulat:

4) Biasanya oksigen disetarakan paling terakhir jika masih terdapat unsur-unsur lain.
Contoh
Reaksi gas metana (CH4) dengan gas oksigen membentuk gas karbon dioksida dan uap air.
Tulislah persamaan reaksi dan setarakan persamaan reaksi tersebut?
Jawab
1. Menulis rumus kimia atau lambang unsur dari reaktan dan produk dengan wujud masing-
masing spesies.

2. Tetapkan koefisien salah satu spesi sama dengan 1 (biasanya spesi yang rumus kimianya lebih
kompleks). Sedangkan koefisien yang lainnya disetarakan huruf sebagai kofisien sementara.
CH4 = 1, koefisien zat yang lain disetarakan dengan huruf, maka persamaan reaksinya menjadi:

3. Setarakan unsur yang terkait langsung dengan zat yang telah diberi koefisien 1.
Dari reaksi tersebut unsur yang beriktan langsung dengan zat telah diberi koefisien 1 adalah C dan
H.
penyetaraan atom C
Atom C diruas kiri = 1
Atom C diruas kanan = b
Maka jumlah atom C diruas kanan = b = 1
Penyetaraan atom H
Jumlah atom H di ruas kiri = 4
Jumlah atom H di ruas kanan = 2c
Maka jumlah atom H di ruas kanan atau harga koefisien c = 2c = 4, c = 2
Dari penyetaraan ini maka persamaan reaksi menjadi

4. Setarakan atom O
Jumlah atom O di ruas kanan = 2 + 2 = 4
Jumlah atom O di ruas kiri = 2a
Maka jumlah atom O di ruas kiri atau harga koefisien a = 2a = 4, a = 2
Maka persamaan reaksinya menjadi:

Catatan: koefisien 1 biasanya tidak ditulis, penulisan du atas dan untuk penyetaraan reaksi
selanjutnya hanya untuk memberikan gambaran mengenai tahap-tahap penyetaraan saja.

Contoh
              Reaksi besi(III) oksida dengan larutan asam sulfat membentuk besi(III) sulfat dan air.
Tulislah persamaan reaksi dan setarakan persamaan reaksi tersebut?
Jawab
1. Menulis rumus kimia atau lambang unsur dari reaktan dan produk dengan wujud masing-
masing spesies.
2. Tetapkan koefisien salah satu spesi sama dengan 1 (biasanya spesi yang rumus kimianya lebih
kompleks). Sedangkan koefisien yang lainnya disetarakan huruf sebagai kofisien sementara.
Koefisien Fe2(SO4)3 = 1 dan koefisien yang lain menggunakan huruf. Persamaan reaksi menjadi:

3. Setarakan unsur yang terkait langsung dengan zat yang telah diberi koefisien 1.
Dari reaksi tersebut unsur yang beriktan langsung dengan zat telah diberi koefisien 1 adalah Fe, S
dan O. Namun O disetarakan terakhir karena unsur O terdapat di lebih dari dua zat.
Penyetaraan atom Fe
Jumlah atom Fe di ruas kiri = 2a
Jumlah atom Fe di ruas kanan = 2
Maka jumlah atom Fe diruas kiri atau harga koefisien a = 2a = 2, a = 1
Penyetaraan atom S
Jumlah atom S di ruas kiri = b
Jumlah atom S di ruas kanan = 3
Maka jumlah atom S di ruas kiri atau harga koefisien b = 3
Persamaan reaksinya menjadi:

4. Setarakan atom lainnya. Atom O disetarakan setelah semua atom setara.


Penyetaraan atom H
Jumlah atom H di ruas kiri = 6
Jumlah atom H di ruas kanan = 2c
Maka jumlah atom H di ruas kanan atau harga koefisien b = 2c = 6, c = 3
Persamaan reaksinya menjadi:

5. Setarakan atom O. Karena semua atom telah setara, maka oksigen seharusnya telah setara
juga. Untuk meyakinkan jumlah atom O pada kedua ruas telah setara, maka dilakukan
penjumlahan atom O pada kedua ruas.
Jumlah atom O di ruas kiri = 3 + 12 = 15
Jumlah atom O di ruas kanan = 12 + 3 = 15.
Dari penjumlahan ini, terbukti jumlah atom O pada ruas kiri dan ruas kanan telah setara. Jadi
persamaan reaksi setaranya adalah sebagai beriktu:

Contoh
               Reaksi antara tembaga dengan larutan asam nitrat encer menghasilkan tembaga(II)
sulfat, gas nitrogen oksida dan air. Tulislah persamaan reaksi dan setarakan persamaan reaksi
tersebut?
Jawab
1. Menulis rumus kimia atau lambang unsur dari reaktan dan produk dengan wujud masing-
masing spesies.

2. Tetapkan koefisien salah satu


spesi sama dengan 1 (biasanya spesi yang rumus kimianya lebih kompleks). Sedangkan koefisien
yang lainnya disetarakan huruf sebagai kofisien sementara.
Koefisien Cu(NO3)2 = 1, dan koefisien yang lain menggunakan huruf. Persamaan reaksi menjadi:

3. Setarakan unsur yang terkait langsung dengan zat yang telah diberi koefisien 1.
Pada reaksi di atas, hanya Cu yang dapat langsung disetarakan yaitu a = 1. Untuk unsur yang
lainnya walaupun terkait langsung dengan Cu(NO 3)2 tetapi tidak dapat langsung disetarakan
karena terdapat di lebih dari dua zat yang belum mempunyai harga korfisien. Maka untuk
menyetarakannya ikuti persamaan-persamaan berikut:
· Menyetarakan atom N : b = 2 + c ……………………… (1)
· Menyetarakan atom H : b = 2d …………………………. (2)
· Menyetarakan atom O : 3b = 6 + c + d ……………… (3)
Dari persamaan-persamaan di atas nyatakan nilai c dan d dalam b, sebagai berikut:
· Dari persamaan (1), b = 2 + c berarti c = b – 2
· Dari persamaan (2), b = 2d berarti d = 0,5 b
Substitusikan nilai c cdan d ke dalam persamaan (3)
3b = 6 + c + d
3b = 6 + b – 2 + 0,5 b
1,5b = 4

b = 
nilai b yang telah diperoleh di substitusikan ke persamaan (1) dan (2) untuk memperoleh nilai c

dan d. Maka nilai c dan d berturut-turut adalah      


Maka persamaan reaksinya menjadi:

karena masih dalam bentuk pecahan maka dikalikan 3 sehingga diperoleh koefisien dalam bentuk
bilangan bulat.

Sifat persamaan reaksi


a. Jenis unsur-unsur sebelum dan sesudah reaksi selalu sama
b. Jumlah masing-masing atom sebelum dan sesudah reaksi selalu sama
c. Perbandingan koefisien reaksi menyatakan perbandingan mol. Khusus untuk yang berwujud gas
perbandingan koefisien menyatakan perbandingan volume pada suhu den tekanannya sama.
Stoikiometri Reaksi
Hubungan mol dengan koefisien reaksi
              Seperti yang telah dijelaskan pada bagian-sebelumnya, koefisien zat dalam suatu
persamaan reaksi menyatakan jumlah mol zat itu. Oleh sebab itu jumlah mol zat atau massa zat
yang terlibat dalam suatu reaksi dapat ditentukan. Aspek kuantitatif zat-zat yang terlibat dalam
dalam reaksi inilah yang disebut stoikiometri reaksi. Stoikiometri reaksi ini sangat diperlukan
terutama dalam merencanaakan banyaknya zat yamg akan dihasilkan dari suatu reaksi kimia
dalam industri maupun dalam laboratorium.
                    Dengan mengeahui koefisien persamaan reaksi maka jumlah mol suatu zat
dalam persamaan reaksi telah diketahui. Mol zat yang telah diketahui dapat digunakan
untuk menentukan massa zat yang diperlukan dalam suatu reaksi. Karena hal tersebut
koefisien reaksi disebut sebagai dasar stoikiometri reaksi.

Contoh
Logam aluminium yang dilarutkan ke dalam asam sulfat menghasilkan aluminium sulfat dan gas
hidrogen, sesuai reaksi berikut:
Berapa mol mol gas hidrogen yang dihasilkan jika digunakan 0,5 mol aluminium yang dilarutkan
dalam asam sulfat?
Jawab

artinya dengan melarutkan 0,5 mol aluminium menghasilkan 0,75 mol gas hidrogen.
Dari mol gas hidrogen yang telah diketahui dapat ditentukan massa hidrogen yang dihasilkan.
Massa hidrogen dapat ditentukan dengan cara mengalikan mol hidrogen yang diperoleh dengan
Mr.H2.

Contoh
Perhatikan reaksi berikut:

Berapa volume gas hidrogen (STP) yang terbentuk jika digunakan 5,4 gram Al? (Ar Al = 27)
Jawab
a) Setarakan reaksi kimia yang terjadi jika persamaan reaksi belum setara. Pada persamaan
reaksi di atas telah setara sehingga tidak perlu disetarakan.

b) Menyatakan jumlah mol zat yang diketahui, yakni aluminium.

c) Menentukan jumlah mol zat yang ditanyakan yakni gas H 2.

d) Menentukan volume gas H 2 yang dihasilkan


V = n x Vm
= 0,3 mol x 22,4 L mol‾  =
1
6,72 L.
Hipotesis Avogadro dan Hubungan Volume dengan Koefisien Reaksi
                  Pada tahun 1811, Ameo Avogadro mengemukakan sebuah hipotesis yang
mengatakan: “pada tekanan (P) dan suhu (T) yang sama, gas-gas yang memiliki volume
sama mengandung jumlah molekul (jumlah mol) yang sama pula”.
Artinya pada P dan T sama, perbandingan volume gas-gas yang terlibat dalam suatu reaksi sama
dengan perbandingan jumlah mol zat yang terlibat dalam reaksi tersebut. Karena pada persamaan
reaksi, koefisien menyatakan jumlah mol zat, maka volume gas yang terlibat dalam suatu reaksi
sama dengan koefisien zat itu.
Hubungan antara koefisien suatu zat dengan volume dapat dirumuskan sebagai berikut:

Contoh
            Pada suhu dan tekanan tertentu 0,5 mol gas oksigen volumenya adalah 2 liter. Hitunglah
volume dari 1,5 mol gas hidrogen pada suhu dan tekanan yang sama dengan gas oksigen tersebut
Jawab

Contoh
              Tentukan berapa volume gas belerang trioksida (SO 3) yang dihasilkan dan berapa
volume gas O2 yang dibutukan, jika direaksikan 1 liter gas belerang dioksida (SO 2) dengan gas
oksigen?
Jawab
Persamaan reaksi
SO2(g) + O2(g)                                    2SO3(g)
SO2 yang bereaksi = 1 liter

1. HUKUM KEKEKALAN MASSA = HUKUM LAVOISIER


"Massa zat-zat sebelum dan sesudah reaksi adalah tetap".

Contoh:
Hidrogen  + Oksigen    Hidrogen Oksida 
   (4g)         (32g)               (36g)

2. HUKUM PERBANDINGAN TETAP = HUKUM PROUST


"Perbandingan massa unsur-unsur dalam tiap-tiap senyawa adalah tetap"

Contoh:
a. Pada senyawa NH3 = massa N : massa H
= 1 Ar . N : 3 Ar . H
= 1 (14)  : 3 (1)
= 14 : 3
b. Pada senyawa SO3 = massa S : massa 0
= 1 Ar . S : 3 Ar . O
= 1 (32) : 3 (16)
=2:3

Keuntungan dari hukum Proust:


Bila diketahui massa suatu senyawa atau massa salah satu unsur yang membentuk senyawa
tersebut make massa unsur lainnya dapat diketahui.

Contoh:
Berapa kadar C dalam 50 gram CaCO3 ? (Ar: C = 12; 0 = 16; Ca=40) ????
Massa C = (Ar C / Mr CaCO3) x massa CaCO3
= 12/100 x 50 gram = 6 gram

Kadar C = massa C / massa CaCO3 x 100%


= 6/50 x 100 % = 12%

3. HUKUM PERBANDINGAN BERGANDA = HUKUM DALTON


"Bila dua buah unsur dapat membentuk dua atau lebih senyawa untuk massa salah satu unsur
yang sama banyaknya maka perbandingan massa unsur kedua akan berbanding sebagai
bilangan bulat dan sederhana".

Contoh:

Bila unsur Nitrogen dan oksigen disenyawakan dapat terbentuk,


NO dimana massa N : O = 14 : 16 = 7 : 8
NO2 dimana massa N : O = 14 : 32 = 7 : 16

Untuk massa Nitrogen yang sama banyaknya maka perbandingan massa Oksigen pada
senyawa NO : NO2 = 8 :16 = 1 : 2

4. HUKUM-HUKUM GAS
Untuk gas ideal berlaku persamaan : PV = nRT

dimana:
P = tekanan gas (atmosfir)
V = volume gas (liter)
n = mol gas
R = tetapan gas universal = 0.082 lt.atm/mol Kelvin
T = suhu mutlak (Kelvin)

Perubahan-perubahan dari P, V dan T dari keadaan 1 ke keadaan 2 dengan kondisi-kondisi


tertentu dicerminkan dengan hukum-hukum berikut:

 HUKUM BOYLE
Hukum ini diturunkan dari persamaan keadaan gas ideal dengan
n1 = n2 dan T1 = T2 ; sehingga diperoleh : P1 V1 = P2 V2

Contoh:
Berapa tekanan dari 0,5 mol O2 dengan volume 10 liter jika pada temperatur tersebut 0.5 mol
NH3 mempunyai volume 5 liter den tekanan 2 atmosfir ?

Jawab:
P1 V1 = P2 V2
2.5 = P2 . 10     P2 = 1 atm
 HUKUM GAY-LUSSAC
"Volume gas-gas yang bereaksi den volume gas-gas hasil reaksi bile diukur pada suhu dan
tekanan yang sama, akan berbanding sebagai bilangan bulat den sederhana".

Jadi untuk: P1 = P2 dan T1 = T2 berlaku : V1 / V2 = n1 / n2

Contoh:
Hitunglah massa dari 10 liter gas nitrogen (N2) jika pada kondisi tersebut 1 liter gas hidrogen
(H2) massanya 0.1 g.
Diketahui: Ar untuk H = 1 dan N = 14

Jawab:

V1/V2 = n1/n2   10/1 = (x/28) / (0.1/2)   x = 14 gram

Jadi massa gas nitrogen = 14 gram.

 HUKUM BOYLE-GAY LUSSAC

Hukum ini merupakan perluasan hukum terdahulu den diturukan dengan keadaan harga n = n2
sehingga diperoleh persamaan:

P1 . V1 / T1 = P2 . V2 / T2

 HUKUM AVOGADRO

"Pada suhu dan tekanan yang sama, gas-gas yang volumenya sama mengandung jumlah mol
yang sama. Dari pernyataan ini ditentukan bahwa pada keadaan STP (0o C 1 atm) 1 mol setiap
gas volumenya 22.4 liter volume ini disebut sebagai volume molar gas.

Contoh:
Berapa volume 8.5 gram amoniak (NH3) pada suhu 27o C dan tekanan 1 atm ?
(Ar: H = 1 ; N = 14)

Jawab:
85 g amoniak = 17 mol = 0.5 mol

Volume amoniak (STP) = 0.5 x 22.4 = 11.2 liter

Berdasarkan persamaan Boyle-Gay Lussac:

P1 . V1 / T1 = P2 . V2 / T2
1 x 112.1 / 273 = 1 x V2 / (273 + 27) 
 V2 = 12.31 liter

1. Hukum Kekekalan Massa (Hukum Lavoisier)

“massa zat sebelum reaksi sama dengan massa zat setelah reaksi”
Contoh :

S(s) +  O2(g) →  SO2(g)

1 mol S bereaksi dengan 1 mol O2 membentuk 1 mol SO2. 32 gram S


bereaksi dengan 32 gram O2 membentuk 64 gram SO2. Massa total
reaktan sama dengan massa produk yang dihasilkan.

H2(g) +  ½ O2(g) →  H2O(l)

1 mol H2 bereaksi dengan ½ mol O2 membentuk 1 mol H2O. 2 gram


H2 bereaksi dengan 16 gram O2 membentuk 18 gram H2O. Massa
total reaktan sama dengan massa produk yang terbentuk.

2. Hukum Perbandingan Tetap (Hukum Proust)

“perbandingan massa unsur-unsur pembentuk senyawa selalu tetap,


sekali pun dibuat dengan cara yang berbeda”

Contoh :

S(s) +  O2(g) →  SO2(g)

Perbandingan massa S terhadap massa O2 untuk membentuk


SO2adalah 32 gram S berbanding 32 gram O2 atau 1 : 1. Hal ini
berarti, setiap satu gram S tepat bereaksi dengan satu gram
O2membentuk 2 gram SO2. Jika disediakan 50 gram S, dibutuhkan 50
gram O2 untuk membentuk 100 gram SO2.

H2(g) +  ½ O2(g) →  H2O(l)

Perbandingan massa H2 terhadap massa O2 untuk membentuk H2O


adalah 2 gram H2 berbanding 16 gram gram O2 atau 1 : 8. Hal ini
berarti, setiap satu gram H2 tepat bereaksi dengan 8 gram
O2membentuk 9 gram H2O. Jika disediakan 24 gram O2, dibutuhkan 3
gram H2 untuk membentuk 27 gram H2O.

3. Hukum Perbandingan Volume (Hukum Gay Lussac)

Hanya berlaku pada reaksi kimia yang melibatkan fasa gas


“pada suhu dan tekanan yang sama, perbandingan volume gas
pereaksi dengan volume gas hasil reaksi merupakan bilangan bulat
dan sederhana (sama dengan perbandingan koefisien reaksinya)”

Contoh :

N2(g) +  3 H2(g) →  2 NH3(g)

Perbandingan volume gas sama dengan perbandingan koefisien


reaksinya. Hal ini berarti, setiap 1 mL gas N2 tepat bereaksi dengan
3 mL gas H2 membentuk 2 mL gas NH3. Dengan demikian, untuk
memperoleh 50 L gas NH3, dibutuhkan 25 L gas N2 dan 75 L gas H2.

CO(g) +  H2O(g) →  CO2(g) +  H2(g)

Perbandingan volume gas sama dengan perbandingan koefisien


reaksinya. Hal ini berarti, setiap 1 mL gas CO tepat bereaksi dengan
1 mL gas H2O membentuk 1 mL gas CO2 dan 1 mL gas H2. Dengan
demikian, sebanyak 4 L gas CO membutuhkan 4 L gas H2O untuk
membentuk 4 L gas CO2 dan 4 L gas H2.

4. Hukum Avogadro

Hanya berlaku pada reaksi kimia yang melibatkan fasa gas

“pada suhu dan tekanan yang sama, gas-gas yang volumenya sama
mengandung jumlah mol yang sama”

Hukum Avogadro berkaitan erat dengan Hukum Gay Lussac

Contoh :

N2(g) +  3 H2(g) →  2 NH3(g)

Perbandingan mol sama dengan perbandingan koefisien reaksinya.


Hal ini berarti, setiap 1 mol gas N2 tepat bereaksi dengan 3 mol gas
H2 membentuk 2 mol gas NH3. Perbandingan volume gas sama
dengan perbandingan koefisien reaksinya. Hal ini berarti, setiap 1 L
gas N2 tepat bereaksi dengan 3 L gas H2 membentuk 2 L gas NH3.
Dengan demikian, jika pada suhu dan tekanan tertentu, 1 mol gas
setara dengan 1 L gas, maka 2 mol gas setara dengan 2 L
gas.Dengan kata lain, perbandingan mol gas sama dengan
perbandingan volume gas.

Berikut ini diberikan beberapa contoh soal serta penyelesaian


perhitungan kimia yang menggunakan hukum-hukum dasar kimia :

1. Serbuk kalsium sejumlah 20 gram (Ar Ca = 40) direaksikan


dengan 20 gram belerang (Ar S = 32) sesuai dengan persamaan
reaksi Ca + S → CaS. Zat apakah yang tersisa setelah reaksi
selesai?Berapa massa zat yang tersisa setelah reaksi selesai?

Penyelesaian :

Perbandingan mol Ca terhadap S adalah 1 : 1. Hal ini berarti, setiap


40 gram Ca tepat bereaksi dengan 32 gram S membentuk 72 gram
CaS. Perbandingan massa Ca terhadap S adalah 40 : 32 = 5 : 4.

Jika 20 gram S tepat habis bereaksi, dibutuhkan (5/4) x 20 = 25


gram Ca, untuk membentuk 45 gram CaS. Sayangnya, jumlah Ca
yang disediakan tidak mencukupi.

Oleh karena itu, 20 gram Ca akan tepat habis bereaksi. Massa S


yang diperlukan sebesar (4/5) x 20 gram = 16 gram. Dengan
demikian, zat yang tersisa adalah belerang (S). Massa belerang yang
tersisa adalah 20-16=4 gram.

2. Gas A2 sebanyak 10 mL tepat habis bereaksi dengan 15 mL gas


B2 membentuk 10 mL gas AxBy pada suhu dan tekanan yang sama.
Berapakah nilai x dan y?

Penyelesaian :

Perbandingan volume gas A2 terhadap gas B2 dan gas AxBy adalah 10


mL : 15 mL : 10 mL = 2 : 3 : 2. Perbandingan volume gas sama
dengan perbandingan koefisien reaksinya. Dengan demikian,
persamaan reaksi menjadi :

2 A2(g) +  3 B2(g) → 2 AxBy

Nilai x = 2 dan nilai y = 3.


3. Gas amonia dapat dibuat dengan mereaksikan 100 mL gas
nitrogen dan 150 mL gas hidrogen dengan reaksi N2(g) +  3 H2(g) →  2
NH3(g). Hitunglah volume gas amonia yang dihasilkan pada akhir
reaksi!

Penyelesaian :

Perbandingan volume gas N2 terhadap gas H2 dan NH3 sama dengan


perbandingan koefisien reaksinya, yaitu 1 : 3 : 2.

Jika 100 ml gas N2 tepat habis bereaksi, dibutuhkan 300 mL gas H2.
Sayangnya, jumlah gas H2 yang disediakan tidak mencukupi.

Dengan demikian, 150 mL H2 lah yang tepat habis bereaksi. Volume


gas N2 yang dibutuhkan sebesar (1/3) x 150 mL = 50 mL. Setelah
reaksi selesai, masih tersisa 50 mL gas N2. Volume gas NH3 yang
dihasilkan adalah sebesar (2/3) x 150 mL = 100 mL.

4. Pada suhu dan tekanan tertentu, sebanyak 0,5 L gas hidrogen (Ar
H = 1) memiliki massa sebesar 0,05 gram. Berapakah volume gas
oksigen yang dapat dihasilkan jika sebanyak 12,25 gram padatan
KClO3 dipanaskan? (Mr KClO3 = 122,5)

Penyelesaian :

mol H2 =  gram / Mr  =  0,05 / 2  =  0,025 mol

Persamaan reaksi pemanasan KClO3 adalah sebagai berikut :

KClO3(s) →  KCl(s) +  3/2 O2(g)

mol KClO3 = gram / Mr  = 12,25 / 122,5 = 0,1 mol

Dengan demikian, mol O2 = (3/2) x 0,1 mol = 0,15 mol

Pada suhu dan tekanan yang sama, Hukum Avogadro berlaku pada


sistem gas. Perbandingan mol gas sama dengan perbandingan
volume gas. Dengan demikian :

mol H2 :  mol O2 =  volume H2 :  volume O2

0,025 : 0,15 =  0,5 : volume O2


Volume O2 = ( 0,15 x 0,5) / 0,025  =  3 L

5. Suatu campuran gas terdiri atas 2 mol gas N2O3 dan 4 mol gas
NO. Jika campuran gas ini terurai sempurna menjadi gas nitrogen
dan gas oksigen, berapakah perbandingan volume gas nitrogen
terhadap gas hidrogen dalam campuran tersebut?

Penyelesaian :

Persamaan reaksi penguraian masing-masing gas adalah sebagai


berikut :

N2O3(g) →  N2(g) +  3/2 O2(g)

NO(g) →  ½ N2(g) +  ½ O2(g)

Sebanyak 2 mol gas N2O3 akan terurai dan menghasilkan 2 mol gas


N2 dan 3 mol gas O2. Sementara itu, sebanyak 4 mol gas NO akan
terurai dan menghasilkan 2 mol gas N2 dan 2 mol gas O2.

Dengan demikian, mol total gas N2 yang terbentuk adalah 2 + 2 = 4


mol N2. Mol total gas O2 yang terbentuk adalah 3 + 2 = 5 mol O2.
Perbandingan mol gas sama dengan perbandingan volume gas. Jadi,
perbandingan volume gas nitrogen terhadap gas hidrogen dalam
campuran tersebut adalah 4 : 5.

Jenis – Jenis Stoikiometri

1. Stoikiometri Reaksi

Stoikiometri tersebut juga sering digunakan untuk dapat menyeimbangkan suatu persamaan kimia
yang dapat ditemukan pada stoikiometri reaksi. Hal tesebut dapat menggambarkan bahwa
hubungan kuantitatif antara zat yang disebabkan karena mereka berpartisipasi dalam reaksi kimia.

2. Stoikiometri Komposisi
Stoikiometri komposisi ini dapat menjelaskan ialah kuantitatif (massa) suatu hubungan antara
berbagai unsur-unsur dalam senyawa. Misalnya yakni pada stoikiometri komposisi tersebut dapat
menggambarkan (massa) senyawa nitrogen dengan hidrogen yang bergabung dan dapat menjadi
amonia kompleks. Yakni 1 mol nitrogen dan juga 3 mol hidrogen dalam setiap 2 mol amonia. Mol
ialah satuan yang dapat digunakan didalam kimia untuk jumlah zat.

3. Stoikiometri Gas

Jenis stoikiometri ialah yang dapat berkaitan dengan salah satu reaksi yang dapat melibatkan gas,
yang mana gas tersebut berada pada suatu suhu, tekanan dan juga volume yang dapat dikenal dan
juga dapat dianggap suatu gas ideal.

Untuk gas, pada perbandingan volume idealnya tersebut sama saja dengan hukum gas ideal. Namun
pada sebuah rasio massa reaksi tunggal tersebut harus dapat dihitung dari massa molekul reaktan
serta juga pada suatu produk yang mana massa molekul ialah massa 1(satu) molekul zat.

Hukum gas ideal memiliki persamaan yakni sebagai berikut :

PV = nRT

Keterangan:

P = tekanan (atm)

V = volume gas (liter)


n = jumlah mol (mol)

R = tetapan gas = 0,082 L atm/mol K

T = 0 °C = 273 K

√ Stoikiometri : Pengertian, Jenis - Jenis dan Hukum Dasar Terlengkap

√ Stoikiometri : Pengertian, Jenis – Jenis dan Hukum Dasar Terlengkap

Rasio Stoikiometri

Sejumlah stoikiometri (rasio reagen) atau sebuah zat yang dapat ditambahkan ke sistem dalam
rangka yang membuat reaksi kimia ialah jumlah atau juga rasio yang dimana dengan suatu asumsi
bahwa hasil dari reaksi selesai dengan dasar sebagai berikut ini :

Tidak ada sisa-sisa pada residu.

Semua reagen yang dapat dikonsumsi.

Tidak ada defisit pada suatu reagen.

Reaksi hanya dapat terjadi pada rasio stoikiometri. Stoikiometri ini bersandar pada hukum seperti
hukum perbandingan tetap, hukum perbandingan ganda dan juga hukum kekekalan massa.

Contoh Soal Stoikiometri

Sebuah senyawa Propana yang terbakar dengan persamaan reaksi yakni sebagai berikut ini :

C3H8+O2⟶H2O+CO2
Jika 200 g propana yang terbakar, maka hitunglah berapa jumlah H2O yang harusnya dapat
terbentuk?

Penyelesaian :

Setarakan persamaan reaksinya!

Hitung mol C3H8!

mol=m/Mr -> mol= 200 g/ 44 g/mol ->mol= 4.54 mol

Hitung rasio H2O : C3H8 -> 4:1

Hitung mol H2O dengan perbandingan contohnya 1

mol H2O : 4 = mol C3H8 : 1

-> mol H2O : 4 = 4.54 mol : 1

-> mol H2O = 4.54 x 4= 18.18 mol

Konversi dari mol ke gram.

mol = m/Mr

m = mol x Mr

m = 18.18 mol x 18

m = 327.27 gram