Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Salah satu fungsi dari pemerintah, baik pemerintah pusat maupun
pemerintah daerah adalah sebagai lembaga ekonomi. Pemerintah pusat
sebagai lembaga ekonomi akan melakukan pengerluaran berbagai macam
biaya untuk semua kegiatan operasional, maka pemerintah akan
melakukan berbagai upaya untuk memperoleh pendapatan guna memenuhi
pengeluaran atas biaya tersebut.
Namun sejak krisis ekonomi yang melanda Indonesia tahun 1997
membawa dampak di berbagai aspek kehidupan, terutama sektor ekonomi
yang ditandai dengan menurunnya aktivitas ekonomi masyarakat. Dalam
hal ini pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk mengatasi
krisis tersebut, salah satunya adalah dengan memberlakukan otonomi
daerah.
Sejalan dengan diundangkannya UU No. 22 Tahun 1999 tentang
Pemerintah Daerah (Otonomi Daerah) dan UU No. 25 Tahun 1999 tentang
Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintah
Daerah, yaitu mengenai pola pemerintahan sentralisasi menjadi
desentralisasi. Dengan demikian, pemerintah daerah memiliki kewenangan
untuk mengatur dan mengelola pemasukan daerahnya. Pemasukan daerah
berupa pajak daerah, retribusi daerah, laba badan usaha milik daerah,
penrimaan dari dinas, bagi hasil pajak, pinjaman pemerintah, dan lainnya
memberikan kontribusi yang cukup besar bagi pendapatan asli daerah.
Pajak merupakan sumber pendapatan bagi pemerintah yang cukup penting.
Pemasukan terbesar pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
(APBN) di dominasi oleh sektor pajak.
Pajak tidak hanya dirasakan manfaatmya bagi kepentingan pemerintah
pusat tetapi juga pemerintah daerah. Menurut lembaga pemungutannya,
pajak dibagi menjadi dua yaitu pajak pusat dan pajak daerah. Pajak daerah

1
sendiri dibagi menjadi dua yaitu, pajak tingkat provinsi dan pajak tingkat
kabupaten / kotamadya.
Penerimaan daerah bersumber dari pajak hotel dan restoran, pajak
kendaraan alat berat, pajak kendaraan bermotor, pajak bea balik nama
kendaraan bermotor, pajak bahan bakar, pajak pengambilan air bawah
tanah, pajak pengambilan air permukaan, sisa kewajiban pokok perseroan
terbatas, kompensasi penggunaan lahan, bagi hasil penjualan kayu, pajak
penjualan atas barang mewah, pajak pengalihan hak atas tanah dan
bangunan (PPHTB).
Kendaraan bermotor merupakan objek pajak yang memberikan
kontribusi cukup besar bagi pendapatan asli daerah. Dewasa ini
penggunaan kendaraan bermotor dari tahun ke tahun terus meningkat. Hal
ini dikarenakan semakin banyaknya dealer kendaraan bermotor dari
berbagai perusahaan di Indonesia. Dengan semakin banyaknya merk dan
jenis kendaraan bermotor, maka produsen kendaraan bermotor saling
bersaing dengan mengeluarkan berbagai kebijakan yang mempermudah
dan menarik masyarakat untuk membeli kendaraan bermotor.
Sebagai contoh, banyak dealer yang memberikan kemudahan kredit dan
pemberian diskon yang menguntungkan bagi pembeli. Dengan munulnya
berbagai kebijakan tersebut, maka semakin banyak masyarakat yang
membeli kendaraan bermotor. Dengan bertambahnya jumlah kendaraan
bermotor maka akan menjadi keuntungan bagi pemerintah dalam
penerimaan pajak kendaraan bermotor. Menurut data BPS tahun 2017
jumlah kendaraan bermotor sebanyak 138.556.669 unit.

1.2 Tujuan Penulisan


Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi
tuntutan tugas mata kuliah “Perpajakan 1” dan juga untuk menambah
pemahaman mahasiswa tentang pentingnya pajak kendaraan bermotor dan
mengetahui ketentuan - ketentuannya.

2
1.3 Sistematika Penulisan
1. BAB I PENDAHULUAN
Dalam bab ini akan diuraikan tentang latar belakang masalah,
tujuan penulisan dan sistematika penulisan.
2. BAB II PEMBAHASAN
Dalam bab ini akan menjelaskan beberapa point seperti dibawah
ini:
a) Pengertian Tentang Pajak Kendaraan Bermotor
b) Teori Dasar Pengenaan Pajak Kendaraan Bermotor
c) Subjek dan Bukan Subjek
d) Objek dan Bukan Objek
e) Penetapan Tarif
f) Dasar Hukum
g) Jenis Pajak yang Dapat Dikenakan Terhadap Kendaraan
Bermotor
h) Dasar Pengenaan Pajak
i) Sistem Pemungutan
j) Masa Pajak
k) Bayar Pajak Kendaraan Bermotor
l) Contoh Perhitungan Pajak Kendaraan Bermotor
3. BAB III KESIMPULAN
4. DAFTAR PUSTAKA

3
BAB II

KAJIAN TEORI

2.1 Pengertian Pajak Kendaraan Bermotor


Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) adalah pajak yang dipungut atas
kepemilikan dan / atau penguasaan kendaraan bermotor. Kini, pajak
kendaraan bermotor dapat dibayar melalui aplikasi. Kendaraan bermotor
yang dimaksud adalah kendaraan beroda beserta gandengannya yang
digunakan disemua jenis jalan darat, dan digerakkan oleh peralatan teknik
berupa motor, mobil atau kendaraan beroda lebih dari dua lainnya.
Pengertian ini termasuk alat berat dan alat besar yang dalam operasinya
menggunakan roda dan motor yang tidak melekat secara permanen serta
kendaraan bermotor yang dioperasikan di air. Penjelasan tersebut dapat
kita temukan dalam Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2015 tentang Pajak
Kendaraan Bermotor.
Adapun pengertian pajak menurut beberarap ahli :
1. Menurut P.J.A.Andriani yang dikutip oleh Waluyo (2011 : 2)
“Pajak adalah iuran masyarakat kepada negara (yang dipaksakan) yang
terutang oleh yang wajib membayarnya menurut peraturan – peraturan
umum (Undang - Undang) dengan tidak mendapat prestasi kembali
yang langsung dapat ditunjuk dan yang gunanya adalah untuk
membiayai pengeluaran – pengeluaran umum berhubung tugas negara
untuk menyelenggarakan pemerintahan”

2. Menurut Rochmat Soemitro yang dikutip oleh Mardiasmo


(2011 : 1)
“Pajak ialah iuran rakyat kepada kas Negara berdasarkan Undang –
Undang (yang dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa timbal

4
(kontraprestasi) yang langsung dapat ditunjukkan dan yang digunakan
untuk membayar pengeluaran umum”.

3. Menurut Anderson, W.H yang dikutip dari Diana Sari (2013 : 35)
“Pajak adalah pembayaran yang bersifat paksaan kepada negara yang
dibebankan pada pendapatan kekayaan seseorang yang diutamakan
untuk membiayai pengeluaran negara.

2.2 Teori Dasar Pengenaan Pajak Kendaraan Bermotor


1. Gross / Net Weight (berat kotor atau berat bersih kendaran
bermotor).
2. Horse Power (kekuatan mesin).
3. Ownership (kepemilikan)
4. Seat Capacity (kapasitas tempat duduk).
5. Type (jenis kendaraan).

2.3 Subjek dan Bukan Subjek


Subjek dari pajak kendaraan bermotor merupakan orang pribadi dan
badan atau perusahaan yang memiliki atau menguasai kendaraan bermotor.
Kita dapat melihat peraturan subjek pajak kendaraan bermotor dalam pasal
4 Undang – Undang Nomor 28 Tahun 2009.
Sedangkan bukan subjek dari pajak kendaraan bermotor adalah orang
pribadi dan badan atau perusahaan yang tidak memiliki atau menguasai
kendaraan bermotor.

2.4 Objek dan Bukan Objek


Objek pajak kendaraan bermotor adalah :
1. Kepemilikan dan / atau penguasaan kendaraan bermotor.
2. Termasuk dalam pengertian kendaraan bermotor sebagaimana
dimaksud pada poin sebelumnya yakni :

5
a. Kendaraan bermotor beserta gandengannya yang dioperasikan
disemua jenis jalan darat seperti sepeda motor, mobil, truk, bis dan
lain sebagainya.
b. Kendaraan bermotor yang dioperasikan di air dengan ukuran isi
kotor GT 5 (Lima Gross Tonnage) sampai dengan GT 7.

3. Dikecualikan dari pengertian kendaran bermotor sebagaimana yang


dimaksud pada poin ke-2 adalah :
a. Kereta api.
b. Kendaraan bermotor yang semata – mata digunakan untuk
keperluan pertahanan dan keamanan negara.
c. Kendaraan bermotor yang dimiliki dan / atau dikuasai kedutaan,
konsultan, perwakilan negara asing dengan atas timbal balik dan
lembaga – lembaga internasional yang memperoleh fasilitas
pembebasan pajak dari pemerintah.
d. Kendaraan bermotor yang dimiliki dan / atau dikuasai oleh
pabrikan atau importir yang semata – mata disediakan untuk
keperluan pameran dan tidak untuk dijual.

Objek kendaraan bermotor menurut Samudra, 1995 : 148-149

Ordonisasi pajak kendaraan bermotor tahun 1934, telah merinci objek


pajak kendaraan bermotor secara jelas yaitu :

a. Kendaraan bermotor : yang digerakkan oleh motor, yang


dihidupkan dengan generator, gas, arang, atau oleh motor yang
memakai bahan bakar minyak tanah dan bensin.
b. Segala kendaraan bermotor lainnya yang tidak digerakkan oleh
motor yang semata-mata memakai bensin sebagai bahan bakar.
c. Kendaraan bermotor yang digerakkan oleh motor dengan semata-
mata menggunakan bensin sebagai bahan pembakar, yang
mempunyai berat total yang diijinkan 3.500 kg atau lebih.

6
d. Kereta tambahan (kereta gandengan) dari kendaraan bermotor
(wagon trailers).

Contoh objek pajak kendaraan bermotor adalah :

a. Bandara
b. Pelabuhan laut
c. Perkebunan
d. Kehutanan
e. Pertanian
f. Pertambangan
g. Industri
h. Perdagangan
i. Sarana olahraga dan rekreasi

Sedangkan bukan objek pajak kendaraan bermotor adalah kepemilikan


dan / atau penguasaan kendaraan bermotor oleh :

1. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah.


2. Kedutaan, konsulat, perwakilan negara asing, dan perwakilan lembaga-
lembaga internasional dengan asas timbal balik.
3. Pabrikan atau importir yang semata-mata disediakan untuk dipamerkan
atau tidak untuk dijual.
4. Kendaraan bermotor milik pelancong (turis) dan lain-lain yang berada
di wilayah kabupaten atau kota tersebut.
5. Kendaraan bermotor yang menurut bentuk dan sifatnya semata-mata
digunakan untuk mengangkut orang sakit, jenazah, dan bulldozer.
6. Kendaraan bermotor milik lembaga-lembaga keagamaan.

7
2.5 Penetapan Tarif

Tarif pajak kendaraan bermotor (Samudra, 1995 : 152-154)


a. 1,5 % untuk kendaraan bermotor bukan umum (pribadi)
b. 1 % untuk kendaraan bermotor umum
c. 0.5 % untuk kendaraan bermotor alat-alat berat dan besarT
Tarif Pajak Kendaraan Bermotor kepemilikian oleh orang pribadi
ditetapkan sebagai berikut:
1. Untuk kepemilikan kendaraan bermotor pertama, sebesar 2% (dua
persen)
2. Untuk kepemilikan kendaraan bermotor kedua, sebesar 2,5% (dua koma
lima persen)
3. Untuk kepemilikan kendaraan bermotor ketiga, sebesar 3% (tiga
persen)
4. Untuk kepemilikan kendaraan bermotor keempat, sebesar 3,5% (tiga
koma lima persen)
5. Untuk kepemilikan kendaraan bermotor kelima, sebesar 4% (empat
persen)
6. Untuk kepemilikan kendaraan bermotor keenam, sebesar 4,5% (empat
koma lima persen)

8
7. Untuk kepemilikan kendaraan bermotor ketujuh, sebesar 5% (lima
persen)
8. Untuk kepemilikan kendaraan bermotor kedelapan, sebesar 5,5%
(lima koma lima persen)
9. Untuk kepemilikan kendaraan bermotor kesembilan, sebesar 6%
(enam persen)
10. Untuk kepemilikan kendaraan bermotor kesepuluh, sebesar 6,5%
(enam koma lima persen)
11. Untuk kepemilikan kendaraan bermotor kesebelas, sebesar 7% (tujuh
persen)
12. Untuk kepemilikan kendaraan bermotor kedua belas, sebesar 7,5%
(tujuh koma lima persen)
13. Untuk kepemilikan kendaraan bermotor ketiga belas, sebesar 8%
(delapan persen)
14. Untuk kepemilikan kendaraan bermotor keempat belas, sebesar 8,5%
(delapan koma lima persen)
15. Untuk kepemilikan kendaraan bermotor kelima belas, sebesar 9%
(sembilan persen)
16. Untuk kepemilikan kendaraan bermotor keenam belas, sebesar 9,5%
(Sembilan koma lima persen)
17. Untuk kepemilikan kendaraan bermotor ketujuh belas, sebesar 10%
(sepuluh persen)
Kepemilikan kendaraan bermotor oleh badan tarif pajak sebesar 2%
(dua persen)
Tarif Pajak Kendaraan Bermotor untuk :
1. TNI/POLRI, Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, ditetapkan
sebesar 0,50% (nol koma lima nol persen
2. Angkutan umum, ambulans, mobil jenazah dan pemadam kebakaran,
sebesar 0,50% (nol koma lima nol persen)
3. Sosial keagamaan, lembaga sosial dan keagamaan sebesar 0,50% (nol
koma lima nol persen)

9
4. Tarif Pajak Kendaraan Bermotor alat-alat berat dan alat-alat besar
ditetapkan sebesar 0,20% (nol koma dua nol persen)

Hasil penerimaan dari pajak kendaraan bermotor dibagi hasilkan


kepada kabupaten / kota dalam provinsi yang bersangkutan dengan
komposisi 70 % untuk provinsi dan 30 % untuk kabupaten atau kota.
Bagi hasil penerimaan tersebut kepada pemerintah kabupaten atau kota
dilaksanakan berdasarkan asas potensi antar daerah dan asas pemerataan.

2.6 Dasar Hukum


Yang menjadi dasar hukum pemungutan Pajak Kendaraan Bermotor
adalah :
a. Undang-Undang No. 18 Tahun 1997 terutang pajak daerah dan
retribusi daerah Undang-Undang No. 34 Tahun 2000.
b. Peraturan Pemerintah No. 65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah
c. Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 11 Tahun 2002 tentang
Perhitungan Dasar Pengenaan Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea
Balik Nama Kendaraan Bermotor Tahun 2002.
d. Surat keputusan bersama KAPOLRI, Dirjen Pemerintahan Umum dan
Dirut. PT. Jasa Raharja (Persero) No. SKEP/06/X/1999, No. 937-
1228, No. SKEP/02/X/1999 yang mengatur tentang pedoman tata
laksana Sistem Administrasi Manunggal Dibawah Satu Atap
(SAMSAT).

2.7 Jenis Pajak Yang Dapat Dikenakan Terhadap Kendaraan


Bermotor
Ada beberapa jenis pajak yang dapat dikenakan terhadap kendaraan
bermotor menurut Troy J. Cauley, yaitu :
a. Motor Fuels Tax (pajak minyak atas kendaraan bermotor).
b. Motor Vehicle Tax (pajak lisensi atas kendaraan bermotor).
c. License Tax / DLT (pajak atas surat ijin mengemudi).

10
d. Motor Vehicle Purchase Tax (pajak pembelian atas kendaraan
bermotor).

2.8 Dasar Pengenaan Pajak


1. Dasar pengenaan Pajak Kendaraan Bermotor adalah hasil perkalian
dari 2 (dua) unsur pokok :
a. Nilai Jual Kendaraan Bermotor; dan
b. Bobot yang mencerminkan secara relative tingkat kerusakan jalan
dan/atau pencemaran lingkungan akibat penggunaan Kendaraan
Bermotor.
2. Dasar pengenaan pajak khusus untuk kendaraan bermotor yang
digunakan di luar jalan umum, termasuk alat-alat berat dan alat-alat
besar serta kendaraan di air, adalah Nilai Jual Kendaraan Bermotor.
3. Nilai Jual Kendaraan Bermotor sebagaimana dimaksud pada angka (1)
huruf a dan angka (2), ditentukan berdasarkan Harga Pasaran Umum
atas suatu Kendaraan Bermotor.
4. Nilai Jual Kendaraan Bermotor sebagaimana dimaksud pada angka
(3), ditetapkan berdasarkan harga Pasaran Umum pada minggu
pertama bulan Desember Tahun Pajak sebelumnya.
5. Harga Pasaran Umum sebagaimana dimaksud pada angka (4), adalah
harga rata-rata yang diperoleh dari berbagai sumber data yang akurat.
6. Dalam hal Harga Pasaran Umum suatu kendaraan bermotor tidak
diketahui, Nilai Jual Kendaraan Bermotor dapat ditentukan
berdasarkan sebagian atau seluruh faktor-faktor :
a. Harga kendaraan bermotor dengan isi silinder dan/atau satuan
tenaga yang sama;
b. Penggunaan kendaraan bermotor untuk umum atau pribadi;
c. Harga kendaraan bermotor dengan merek kendaraan bermotor yang
sama;

11
d. Harga kendaraan bermotor dengan tahun pembuatan kendaraan
bermotor yang sama;
e. Harga kendaraan bermotor dengan pembuat kendaraan bermotor;
f. Harga kendaraan bermotor dengan kendaraan bermotor sejenis; dan
g. Harga kendaraan bermotor berdasarkan dokumen Pemberitahuan
Impor Barang (PIB).
7. Bobot sebagaimana dimaksud pada angka (1) huruf b, dinyatakan
dalam koefisien yang nilainya 1 (satu) atau lebih besar dari 1 (satu),
dengan pengertian sebagai berikut :
a. Koefisien sama dengan 1 (satu) berarti kerusakan jalan dan/atau
pencemaran lingkungan oleh penggunaan kendaraan bermotor
tersebut dianggap masih dalam batas toleransi; dan
b. Koefisien lebih besar dari 1 (satu) berarti penggunaan kendaraan
bermotor tersebut dianggap melewati batas toleransi.
8. Bobot sebagaimana dimaksud pada angka (7), dihitung berdasarkan
faktor-faktor :
a. Tekanan gandar, yang dibedakan atas dasar jumlah sumbu, roda
dan berat kendaraan bermotor;
b. Jenis bahan bakar kendaraan bermotor yang dibedakan menurut
solar, bensin, gas, listrik, tenaga surya, atau jenis bahan bakar
lainnya; dan
c. Jenis, penggunaan, tahun pembuatan, dan cirri-ciri mesin
kendaraan bermotor yang dibedakan berdasarkan jenis mesin 2
(dua) taka tau 4 (empat) tak, dan isi silinder.
9. Penghitungan dasar pengenaan Pajak Kendaraan Bermotor
sebagaimana dimaksud pada angka (1) sampai dengan angka (8),
dinyatakan dalam suatu tabel yang ditetapkan oleh Menteri Dalam
Negeri setelah mendapat pertimbangan dari Menteri Keuangan.
10. Penghitungan dasar pengenaan Pajak Kendaraan Bermotor
sebagaimana dimaksud pada angka (9), ditinjau kembali setiap tahun.

12
2.9 Sistem Pemungutan
1. Sistem pemungutan yang berlaku pada dasarnya menganut sistem Self
Assessment (Penetrapan Pajak oleh Wajib Pajak Sendiri).
2. Dalam sistem ini wajib pajak harus aktif, sedang fiskus dalam
pelaksanaannya hanya memberi bimbingan, pengarahan, dan
mengawasinya.
3. Keuntungan sistem ini bahwa wajib pajak (WP dapat langsung
mengontrol pajaknya). Kesalahan penetapan pajaknya dapat dengan
mudah dikoreksi dan pelayanannya lebih cepat.
4. Sistem ini dilaksanakan dengan sistem administrasi manunggal di
bawah satu atap yang dikenal dengan SAMSAT.

2.10 Masa Pajak

1. Pajak Kendaraan Bermotor dikenakan untuk masa pajak 12 (dua


belas) bulan berturut-turut terhitung mulai saat pendaftaran kendaraan
bermotor
2. Pajak Kendaraan bermotor dibayar sekaligus dimuka
3. Untuk Pajak Kendaraan Bermotor yang karena keadaan kahar (force
majeure) masa. Pajaknya tidak sampai 12 (dua belas) bulan, dapat
dilakukan restitusi atas pajak yang sudah dibayar untuk porsi masa
pajak yang belum dilalui
4. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pelaksanaan restitusi diatur
dengan Peraturan Gubernur.

2.11 Bayar Pajak Kendaraan Bermotor


Bagi anda yang memiliki kendaraan bermotor, tentu wajib membayar
kewajiban pajaknya setiap tahun. Pembayaran pajak kendaraan bermotor
dibagi menjadi dua jenis pajak, yakni pajak yang dibayar setiap tahun dan
pajak yang dibayar lima tahun sekali. Jika pajak tahunan merupakan pajak

13
rutin yang harus dibayarkan setiap tahun, pajak lima tahun ditandai dengan
pergantian plat nomor kendaraan dan STNK.
Khusus pajak lima tahunan, Anda harus datang ke Kantor Samsat
karena jenis pembayaran pajak ini belum bisa dilakukan melalui E-Samsat.
Bila anda ingin membayar pajak tahunan, berikut adalah dokumen
yang perlu Anda siapkan :
1. Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) asli dan foto kopi.
2. Kartu Tanda Penduduk (KTP) asli.
3. Uang sejumlah nominal pajak.
Sedangkan, syarat pembayaran pajak lima tahunan adalah :
1. STNK asli dan foto kopi.
2. Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB) asli dan foto kopi.
3. KTP asli dan foto kopi.
4. Formulir untuk cek fisik kendaraan oleh petugas.
Jika seluruh dokumen tersebut sudah siap, berikut ini cara melakukan
pembayaran PKB secara manual di kantor Samsat :
1. Kunjungi kantor Samsat di daerah Anda.
2. Ambil formulir di loket kantor Samsat dan isi formulir pembayaran
pajak.
3. Setelah mengisi formulir, serahkan formulir tersebut beserta
dokumen-dokumen yang diperlukan untuk diperiksa lebih lanjut oleh
petugas.
4. Tunggu hingga Andadipanggil oleh petugas untuk melakukan
pembayaran.
5. Jangan lupa untuk memeriksa ulang bukti pembayaran yang sudah
Anda terima.

Bila Pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor Secara Online

Kemajuan teknologi informasi memberikan banyak kemudahan dalam


hidup. Tidak terkecuali dalam hal membayar pajak kendaraan. Kini, untuk
membayar pajak kendaraan tidak perlu lagi datang ke kantor Samsat

14
karena anda bisa melakukan pembayaran secara online. Ada berbagai jalur
yang bisa anda manfaatkan untuk membayar pajak kendaraan yakni
melalui ATM, E-Samsat, SMS, dan aplikasi ponsel.

Berikut adalah langkah-langkah cara membayar pajak kendaraan


bermotor melalui ATM dan E-Samsat:
1. Kunjungi ATM terdekat.
2. Lanjutkan transaksi dengan menu “Bayar”, kemudian lanjut ke “Menu
Lainnya “.
3. Pilih menu “Pajak” / “Penerimaan Negara”
4. Pilih menu “E-Samsat”
5. Masukkan nomor polisi (Nopol)
6. Lakukan pembayaran pajak
7. Simpan Struk pembayaran yang dikeluarkan ATM.
Langkah pembayaran PKB melalui situs E-Samsat:
1. Akses portal E-Samsat
2. Masukkan kode dan dapatkan konversi nopol
3. Bayar tagihan pajak anda melalui ATM
4. Jangan lupa simpan struk pembayran pajak anda

2.12 Contoh Perhitungan Pajak Kendaraan Bermotor

No Urutan Kepemilikan Persentase Tarif


Kendaraan Pajak
1 Motor Pertama 1,5%
2 Motor Kedua 2%
3 Motor Ketiga 2,5%
4 Motor Kempat 4%

Pak Iwan memiliki 4 motor yang tipe dan tahunnya sama. Diketahui
pajak masing masing motornyapun sama ( hal ini supaya memudahkan
untuk melihat kenaikan pajaknya) yaitu :

Pajak Kendaraan Bermotot (PKB): Rp 450.000

15
Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan (SWDKLLJ):
Rp 50.000
Lalu berapakah pajak tiap-tiap motor Pak Iwan?
NJK: (PKB x 2/3 x 100) : Rp 450.000 x 2/3 x 100 = Rp 30.000.000
Jadi pajak tiap-tiap motor Pak Iwan ialah:
Motor Pertama :
PKB : Rp 30.000.000 x 1,5% = Rp 450.000
Motor Kedua :
PKB : Rp 30.000.000 x2% = Rp 600.000 ( Terjadi Kenaikan)
Motor Ketiga :
PKB : Rp 30.000.000 x 2,5 % = Rp 750.000 (Terjadi Kenaikkan)
Motor Keempat
PKB : Rp 30.000.000 x 4% = Rp 1.200.000 ( Terjadi Kenaikkan)

Cara menghitung denda Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) sampai


dengan 1 bulan :
1. Denda PKB = keterlambatan 2 hari sampai 1 bulan = 25%
2. Jika terlambat dari lebih 1 bulan = 25% + [(jumlah keterlambatan
bulan – 1) x 2%)]
3. Perhitungan keterlambatan dihitung maksimal 48 bulan, jika lewat 48
bulan tetap hanya dikalikan 48 bulan.
4. Denda SDWKLLJ = Rp. 100.000

16
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) adalah pajak atas kepemilikan atau
penguasaan kendaraan bermotor. Objek PKB adalah kepemilikan atau
penguasaan kendaraan bermotor yang digunakan disemua jenis jalan darat.
Wajib pajak adalah orang pribadi atau badan yang memiliki kendaraan
bermotor. Wajib pajak yang melakukan pembayaran pajak diberikan tanda
bukti pelunasan atau pembayaran pajak dan Penning.
Tarif PKB dibagi menjadi 3 kelompok sesuai dengan jenis penguasaan
kendaraan bermotor, yaitu :
1. 1,5% untuk kendaraan bermotor bukan umum
2. 1% untuk kendaraan bermotor umum
3. 0,5% untuk kendaraan bermotor alat-alat berat dan alat-alat besar
4. Keterlambatan melaksanakan pendaftaran melebihi waktu yang
ditetapkan atau tanggal jatuh tempo, dikenakan denda berupa
kenaikan sebesar 25% dari Pokok Pajak ditambah Sanksi Administrasi
berupa bunga sebesar 2% perbulan, dihitung dari pajak yang kurang
atau terlambat dibayar untuk jangka waktu paling lama 48 bulan
dihitung saat terhutangnya pajak.

17