Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN PRAKTIKUM

DIAGNOSA KLINIK
SCABIES DAN DIARE PADA KUCING

OLEH
KELOMPOK 2

Made Bagus Erlangga 115130100111054


Ratih Wahyu F. S 115130100111055
Min Rahmatilah 115130100111056
Esa Valian G. 115130100111057
Angelina K. Primaden 115130100111058

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER HEWAN


PROGRAM KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2014
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Seiring dengan perubahan jaman banyak orang yang memiliki hewan
peliharaan bukan hanya sebagai hobi bahkan sebagai gaya hidup. Hewan
peliharaan yang banyak diminati contohnya ialah anjing, kucing, kelinci, burung
berkicau, ikan hiasbahkan hewan peliharaan yang tidak lazim seperti ular, iguana,
dan sebagainya. Dari berbagai macam hewan peliharaan, anjing dan kucing paling
banyak diminati karenajenisnya yang beragam sehingga dapat disesuaikan dengan
kebutuhan masing-masing orang dan perawatannya yang cukup mudah.

Sejak lahir sampai dewasa pakan sangat diperhatikan, vaksinasi rutin


harus dilakukan untuk mencegah penyakit yang berbahaya bagi kucing dan kelinci
terutama jenis ras. Kucing akan lebih tahan terhadap penyakit bila sudah diberi
vaksinasi. Perawatan tubuh seperti grooming kini juga sudah menjadi suatu
kewajiban untuk kebersihan kucing. Saat ini mulai banyak fasilitas yang
ditawarkan Pet Shop, klinik hewan dan Rumah Sakit Hewan. (Saraswati,2009).

Hambatan yang sering di temui dalam pengelolaan kucing dan kelinci


adalah adanya penyakit, diantaranya adalah penyakit kulit scabies. Penyakit ini
sangat mudah menular dari satu kucing ke kucing yang lain sehingga sangat
merugikan dan berakibat fatal bila tidak diobati (Tjahajati, 2002).

Sarcoptes scabiei merupakan salah satu ektoparasit yang biasa


menyerang hewan peliharaan. Gejala umum hewan yang terindikasi scabies
adalah adanya keropeng dibagian tubuhnya. Tungau ini senang hidup dan
bereproduksi diliang kulit bagian epidermis. Hewan terserang mengalami
penurunan kondisi tubuh, menimbulkan ketidak senangan pemelihara dan
lingkungan karena sifatnya yang zoonosis. Gejala klinis pada kulit hewan yang
terserang berupa adanya gatal-gatal (menggosok-gosokkan badan), luka pada kulit
dan bulu rontok. Penularan terjadi dengan cara kontak langsung antara hewan
sakit dan hewan sehat. (Budiantono, 2004).

Selain Scabies, penyakit lain yang sering menyerang hewan peliharaan


adalah diare. Diare adalah suatu gejala klinis dari gangguan pencernaan yang
ditandai dengan bertambahnya frekuensi defekasi lebih dari biasanya dan berulang
ulang yang disertai adanya perubahan bentuk dan konsistensi feses menjadi
lembek atau cair dibandingkan dengan biasanya tergantung dari indivisu.
Penyebab diare bisa karena virus, bakteri, dan keracunan makanan.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana prosedur pemeriksaan terhadap pasien yang terkena scabiosis
dan diare?
2. Faktor apa sajakah yang dapat menyebabkan scabiosis dan diare?
3. Bagaimana pengobatan dan pencegahan scabiosis dan diare?
1.3 Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk:
1. Mengetahui alur administrasi dalam klinik
2. Mengetahui cara diagnosa awal pada pasien
3. Mengetahui teknik pemeriksaan pada pasien
4. Mengetahui cara pemberian terapi pada pasien
5. Untuk mengetahui prosedur pemeriksaan terhadap pasien yang terkena
scabiosis dan diare
6. Untuk mengetahui faktor yang dapat menyebabkan scabiosis dan diare
7. Untuk mengetahui pengobatan dan pencegahan scabiosis dan diare
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Scabies Pada Kucing

2.1 Studi Kasus

Seekor kucing betina, Lulu berumur 4 bulan memiliki berat badan 1,1
kg, ras campuran, memiliki warna kulit abu-abu datang ke klinik Pendidikan
Program Kedokteran Hewan dengan keluhan rambut pada bagian kepala rontok,
rambut kusam, permukaan kulit tidak rata karena terjadi allopecia, dan dibawah
dengan menggunakan kandang dengan kucing lain yang juga mengalami
kerontokan rambut. Setelah dilakukan inspeksi oleh dokter hewan, kucing
tersebut diduga terkena scabies.

2.2 Etiologi

Scabies adalah erupsi kulit yang disebabkan infestasi dan sensitasi oleh
kutu Sarcoptes scabiei var. Hominis dan bermenfestasi lesi populer, pustul,
vesikel; kadang-kadang erosi serta krusta, dan terowongan berwarna abu-abu
yang disertai keluhan yang sangat gatal terutama pada daerah lipatan kulit
(Aisah, 2006).

Sarcoptes scabiei termasuk famili sarcoptidaedari kelas Arachnida,


berbentuk lonjong, punggungnya cembung, dan bagian perutnya rata. Besar
tungau ini sangat bervariasi, yang betina berukuran kira-kira 0,4 mm x 0,3 mm
sedangkan yang jantan ukurannya lebih kecil 0,2 mm x 0,15 mm. Tungau ini
ini translusen dan bewarna putih kotor, pada bagian dorsal terdapat bulu-bulu
dan duri serta mempunyai 4 pasang kaki, bagian anterior 2 pasang sebagai alat
untuk melekat sedangkan 2 pasang sebagi alat untuk melekat sedangkan 2
pasang kaki terakhir pada betina berakhir dengan rambut. Pada yang jantan
pasangan kaki yang ketiga berakhir dengan rambut dan yang keempat berakhir
dengan alat perekat (Hamzah, 2007).
Kelainan kulit dapat disebabkan tidak hanya dari tungau scabies, akan
tetapi juga oleh penderita sendiri akibat garukan. Dan karena bersalaman atau
bergandengan sehingga terjadi kontak kulit yang kuat,menyebabkan lesi timbul
pada pergelangan tangan. Gatal yang terjadi disebabkan leh sensitisasi terhadap
secret dan ekskret tungau yang memerlukan waktu kira-kira sebulan setelah
infestasi. Pada saat itu kelainan kulit menyerupai dermatitis dengan
ditemukannya papula, vesikula, dan urtikaria. Dengan garukan dapat timbul
erosi, ekskoriasi, krusta, dan infeksi sekunder. Kelainan kulit dan gatal yang
terjadi dapat lebih luas dari lokasi tungau (Partosoedjono, 2003).

2.3 Patofisiologi

Infestasi dimulai saat tungau betina yang telah dibuahi tiba di permukaan
kulit. Dalam waktu satu jam, tungau tersebut akan mulai menggali terowongan.
Setelah tiga puluh hari, terowongan yang awalnya hanya beberapa millimeter
bertambah panjang menjadi beberapa centimeter. Meskipun begitu,
terowongan ini hanya terdapat di stratum korneum dan tidak akan menembus
lapisan kulit di bawah epidermis. Terowongan ini dibuat untuk menyimpan
telur- telur tungau, kadang- kadang juga ditemukan skibala di dalamnya.
Tungau dan produk- produknya inilah yang berperan sebagai iritan yang akan
merangsang sistem imun tubuh untuk mengerahkan komponen- komponennya
(Robert and Fawcett, 2003).

Dalam beberapa hari pertama, antibodi dan sel sistem imun spesifik
lainnya belum memberikan respon. Namun, terjadi perlawanan dari tubuh oleh
sistem imun non spesifik yang disebut inflamasi. Tanda dari terjadinya
inflamasi ini antara lain timbulnya kemerahan pada kulit, panas, nyeri dan
bengkak. Hal ini disebabkan karena peningkatan persediaan darah ke tempat
inflamasi yang terjadi atas pengaruh amin vasoaktif seperti histamine, triptamin
dan mediator lainnya yang berasal dari sel mastosit. Mediator- mediator
inflamasi itu juga menyebabkan rasa gatal di kulit. Molekul- molekul seperti
prostaglandin dan kinin juga ikut meningkatkan permeabilitas dan mengalirkan
plasma dan protein plasma melintasi endotel yang menimbulkan kemerahan
dan panas (Suhardono et al, 2005).
Faktor kemotaktik yang diproduksi seperti C5a, histamine, leukotrien akan
menarik fagosit. Peningkatan permeabilitas vaskuler memudahkan neutrofil
dan monosit memasuki jaringan tersebut. Neutrofil datang terlebih dahulu
untuk menghancurkan/ menyingkirkan antigen. Meskipun biasanya berhasil,
tetapi beberapa sel akan mati dan mengeluarkan isinya yang juga akan merusak
jaringan sehingga menimbulkan proses inflamasi. Sel mononuklear datang
untuk menyingkirkan debris dan merangsang penyembuhan (Walton et al,
2004).

Bila proses inflamasi yang diperankan oleh pertahanan non spesifik belum
dapat mengatasi infestasi tungau dan produknya tersebut, maka imunitas
spesifik akan terangsang. Mekanisme pertahanan spesifik adalah mekanisme
pertahanan yang diperankan oleh sel limfosit, dengan atau tanpa bantuan
komponen sistem imun lainnya seperti sel makrofag dan komplemen
(Lawrence et al, 2004).

Antigen akan berikatan dengan imunoglobulin permukaan sel B dan


dengan bantuan sel Th, kemudian akan terjadi aktivasi enzim dalam sel B
sedemikian rupa hingga terjadilah transformasi blast, proliferasi, dan
diferensiasi menjadi sel plasma yang mensekresi antibodi dan membentuk sel
B memori. Antibodi yang disekresi dapat menetralkan antigen sehingga
infektivitasnya hilang, atau berikatan dengan antigen sehingga lebih mudah
difagosit oleh makrofag dalam proses yang dinamakan opsonisasi. Kadang
fagositosis dapat pula dibantu dengan melibatkan komplemen yang akan
berikatan dengan bagian Fc antibodi sehingga adhesi kompleks antigen-
antibodi pada sel makrofag lebih erat, dan terjadi endositosis serta
penghancuran antigen oleh makrofag. Adhesi kompleks antigen-antibodi
komplemen dapat lebih erat karena makrofag selain mempunyai reseptor Fc
juga mempunyai reseptor C3b yang merupakan hasil aktivasi komplemen.
Selain itu, ikatan antibodi dengan antigen juga mempermudah lisis oleh sel Tc
yang mempunyai reseptor Fc pada permukaannya. Peristiwa ini disebut
antibody-dependent cellular mediated cytotoxicity (ADCC). Lisis antigen dapat
pula terjadi karena aktivasi komplemen. Komplemen berikatan dengan bagian
Fc antibodi sehingga terjadi aktivasi komplemen yang menyebabkan terjadinya
lisis antigen (Robert and Fawcett, 2003).

2.4 Gejala klinis skabies

Gejala klinis, Sarcoptes scabiei menyukai bagian tubuh yang jarang


rambutnya, misalnya bagian abdomen. Hewan terlihat tidak tenang karena rasa
gatal dengan menggaruk atau bahkan menggosokkan bagian yang gatal pada
benda keras. Rasa gatal ditimbulkan akibat adanya allergen yang merupakan
hasil metabolisme Sarcoptes scabiei. Selain itu adanya aktifitas Sarcoptes
scabiei misalnya berpindah tempat, rambut rontok dan patah-patah akibat
sering menggaruk pada bagian yang gatal. Adanya lesi dengan tepi yang tidak
merata disertai keropeng, kulit bersisik dan diikuti terjadinya reruntuhan
jaringan kulit. Nafsu makan hewan pun menjadi turun, dan pada akhirnya
diikuti penurunan berat badan sehingga hewan tampak lebih kurus. Scabies
merupakan salah satu penyakit zoonosis. Tungau sarcoptic dapat menular dari
hewan ke manusia. Pada manusia daerah yang diserang biasanya adalah daerah
yang berkulit tipis seperti daerah lipatan paha, sela jari kaki dan tangan, lipatan
perut, ketiak dan daerah vital (Lawrence et al, 2004).

2.5 Diagnosa

Diagnosa scabies pada kucing, dapat dilakukan dengan cara inspeksi


gejala klinis yang muncul seperti warna rambut kusam, rambut rontok atau
mengalami allopecia serta keropeng pada kulit. Selain itu, dilakukan
pemeriksaan laboratorium melalui kerokan kulit pada keropeng sampai keluar
darah dengan menggunakan skalpel. Hasil kerokan kulit itu diberi beberapa
tetes KOH 10% agar tungau terpisah dari reruntuhan jaringan kulit yang
terbawa tersebut. Setelah itu campuran tersebut diperiksa di bawah mikroskop.

2.6 Diagnosa Banding

Diagnosa banding dari demodekosis adalah :

1. Demodekosis
2. keratosis

2.7 Prognosa

Dengan memperhatikan pemilihan dan cara pemakaian obat, serta


syarat pengobatan, dan menghilangkan faktor predisposisi, penyakit ini dapat
diberantas dan memberi prognosis yang baik.

2.8 Pencegahan

Pencegahan bisa dilakukan dengan cara:

1. Menghindari kontak dengan kucing liar atau kucing yang telah terkena
penyakit ini. Kucing yang tinggal di dalam rumah  biasanya jarang sekali
terkena penyakit ini
2. Cuci dan desinfeksi alat-alat grooming seperti sisir, sikat, dll setelah
digunakan pada kucing yang terkena penyakit ini

3. Hindari penitipan hewan atau tempat grooming yang tidak mempunyai


sanitasi/kebersihan yang baik. Perhatikan juga apakah alat-alat grooming
di desinfeksi sebelum digunakan terhadap kucing lain.

4. Bila salah satu kucing menunjukan gejala penyakit ini, segera isolasi dan
cegah kontak dengan kucing lain yang masih sehat. Mandikan dengan
shampoo khusus atau bawa ke dokter hewan untuk pengobatan.

2.9 Pengobatan

Beberapa obat untuk skabies pada hewan telah banyak diuji dan dilaporkan.
Pemberian salep Asuntol 50 WP 2% mampu mengatasi skabies pada kerbau.
Telur dan larva yang masih tersisa di dalam kulit dapat dibasmi dengan
melakukan pengobatan kembali pada hari kesepuluh (ISKANDAR, 1982).
MANURUNG et al . (1986a) telah menguji khasiat Neguvon 0,15% dan Asuntol
0,05 - 0,2% yang mampu mengobati skabies pada kelinci. Kambing yang
terserang skabies dapat diobati menggunakan ivermectin dengan dosis 0,2 mg/kg
bobot badan secara subkutan . Pengobatan dapat diulangi kembali pada hari ke-
21 .Selain ivermectin, kambing yang menderita skabies juga dapat dimandikan
dengan larutan Asuntol 0,1% sebanyak lima kali setiap sepuluh hari
(MANURUNG et al ., 1986b ; MANURUNG et a!., 1990) . Penggunaan
ivermectin secara subkutan untuk pengobatan anjing yang terserang skabies
dilaporkan oleh JAGANNATH dan YATHIRAJ (1999)

B. Diare Pada Kelinci

2.1 Contoh Kasus Diare Pada Kelinci

Seekor kelinci anggora berumur  3 bulan dibawa oleh pemiliknya ke


klinik PKH UB dengan keluhan mengalami diare sejak 3 hari yang lalu. Kelinci
diberi pakan hijauan berupa kangkung, kubis, dan sesekali diberikan konsentrat.
Dari pemeriksaan fisik diketahui kelinci chocco tidak mengalami kelainan pada
bagian fisiknya. Nafsu makan dan minum baik namun chocco mengalami sedikit
kelesuan. Daerah sekitar anus kotor dan ada bekas kotoran menempel. Kelinci
chocco didiagnosa mengalami gangguan pencernaan (diare) akibat kesalahan
pemberian pakan.

2.2 Etiologi
Diare adalah sebuah penyakit di mana tinja atau feses berubah menjadi
lembek atau cair dan biasanya terjadi dalam jumlah besar dan lebih dari 3 kali
selama 24 jam. Dua penyebab paling umum diare pada anak kelinci adalah
karena salah konsumsi pakan dan parasit usus.
Makanan membutuhkan waktu sekitar 8 jam untuk melewati usus kecil.
Selama waktu tersebut, sebagian besar makanan dan 80% air akan terserap.
Sisanya dikonsentrat oleh usus besar. Pada akhirnya, akan dikeluarkan feses
dengan bentuk normal/baik. Feses yang normal adalah tidak mengandung lendir,
darah atau makanan yang tidak tercerna.
Diare bisa terjadi salah satunya karena adanya rapid transit, yaitu
karena suatu hal proses penyerapan makanan di usus kecil terganggu sehingga
dampaknya makanan tidak dicerna kemudian segera masuk ke usus besar.
Makanan yang tidak dicerna dan tidak diserap usus akan menarik air dari
dinding usus. Pada keadaan ini proses transit di usus menjadi sangat singkat
sehingga air tidak sempat diserap oleh usus besar. Hal inilah yang menyebabkan
tinja berair pada diare.
Pemberian hijauan basah seperti kangkung dan kubis yang mengandung
air bisa memicu munculnya gangguan pencernaan seperti diare. Selain itu waktu
pemberian pakan tidak tetap demikian dengan jumlah dan jenisnya antara pakan
yang berserat kasar dengan pakan yang tidak berserat dan kadar protein tidak
seimbang dengan kebutuhannya. Pada anak kelinci umur 2-3 bulan hindari
pemberian hijauan yang mengandung kadar air tinggi dan berikan konsentrat
atau wortel.
Parasit usus merupakan penyebab umum dari diare akut dan kronis
pada anak kelinci dan kelinci dewasa. Masalah terbesar disebabkan oleh cacing
gelang (roundworms), cacing tambang (hookworms), whipworms, threadworms
dan protozoa (giardia). Dapat juga disebabkan karena infeksi bakteri.

2.3 Patofisiologi

Berdasarkan gangguan fungsi fisiologis saluran cerna dan macam


penyebab diare, maka patofisiologi diare dapat dibagi dalam tiga macam kelainan
pokok yang berupa:

a. Kelainan Gerakan Transmukosal Air dan Elektrolit

Gangguan reabsorbsi pada sebagian kecil usus halus sudah dapat


menyebabkan diare. Disamping itu peranan faktor infeksi pada patogenesis diare
akut adalah penting, karena dapat menyebabkan gangguan sekresi (diare
sekretorik), difusi (diare osmotik), malabsorbsi dan keluaran langsung. Faktor lain
yang cukup penting dalam diare adalah empedu, karena dehidroksilasi asam
dioksikolik dalam empedu akan mengganggu fungsi mukosa usus, sehingga
sekresi cairan di jejunum dan kolon serta menghambat reabsorbsi cairan di kolon.
Diduga bakteri mikroflora usus turut memegang peranan dalam pembentukan
asam dioksikolik tersebut (Mansjoer et al, 2000).

Hormon-hormon saluran diduga juga dapat mempengaruhi absorbsi air


pada hewan, antara lain gastrin, sekretin, kolesistokinin dan glikogen. Suatu
perubahan pH cairan usus seperti terjadi pada Sindrom Zollinger Ellison atau pada
jejunitis dapat juga menyebabkan diare (Ngastiyah, 2005).

b. Kelainan Laju Gerakan Bolus Makanan dalam Lumen Usus

Suatu proses absorbsi dapat berlangsung sempurna dan normal bila bolus
makanan tercampur baik dengan enzim-enzim saluran cerna dan berada dalam
keadaan yang cukup tercerna. Juga waktu sentuhan yang adekuat antara hasil
pencernaan dan permukaan mukosa usus halus diperlukan untuk absorbsi yang
normal (Simadibrata dan Setiati, 2006).

c. Kelainan Tekanan Osmotik dalam Lumen Usus

Dalam beberapa keadaan tertentu setiap pembebanan usus yang melebihi


kapasitas dari pencernaan dan absorbsinya akan menimbulkan diare. Adanya
malabsorbsi karbohidrat, lemak, dan protein akan menimbulkan kenaikan daya
tekanan osmotik intra lumen, yang akan menimbulkan gangguan absorbsi air.
Malabsorbsi karbohidrat pada umumnya sebagai malabsorbsi laktosa, yang terjadi
karena defisiensi enzim laktase. Dalam hal ini laktosa yang terdapat dalam susu
mengalami hidrolisis yang tidak sempurna sehingga kurang diabsorbsi oleh usus
halus. Sebagai akibat diare, baik yang akut maupun kronis akan terjadi
(Soegijanto, 2006).

2.4 Gejala Klinis

Diare atau mencret didefinisikan sebagai buang air besar dengan feses
yang tidak berbentuk (unformed stools) atau cair dengan frekwensi lebih dari 3
kali dalam 24 jam.Biasanya gejala klinis yang menyertai adalah keluhan
abdominal seperti mulas sampai nyeri seperti kolik, mual, muntah, demam,
tenesmus, serta gejala dan tanda dehidrasi. Pada pemeriksaan tinja rutin secara
makroskopis ditemukan lendir dan/atau darah, secara mikroskopis didapati
leukosit polimorfonuklear. Mikroorganisme penyebab seperti, E.histolytica,
Shigella, Entero Invasive E.coli (EIEC),V.parahaemolitycus, C.difficile, dan
C.jejuni. Non Inflamatory diarrhea dengan kelainan yang ditemukan di usus halus
bagian proksimal, Proses diare adalah akibat adanya enterotoksin yang
mengakibatkan diare cair dengan volume yang besar tanpa lendir dan darah, yang
disebut dengan Watery diarrhea. Keluhan abdominal biasanya minimal atau tidak
ada sama sekali, namun gejala dan tanda dehidrasi cepat timbul, terutama pada
kasus yang tidak segera mendapat cairan pengganti. Pada pemeriksaan tinja secara
rutin tidak ditemukan leukosit. Mikroorganisme penyebab seperti, V.cholerae,
Enterotoxigenic E.coli (ETEC), Salmonella. Penetrating diarrhea lokasi pada
bagian distal usus halus. Penyakit ini disebut juga Enteric fever, Chronic
Septicemia, dengan gejala klinis demam disertai diare. Pada pemeriksaan tinja
secara rutin didapati leukosit mononuclear. Mikrooragnisme penyebab biasanya
S.thypi, S.parathypi A,B, S.enteritidis, S.cholerasuis, Y.enterocolitidea, dan
C.fetus ((Juffrie et al, 2010).

2.5 Diagnosa

Diagnosa diare pada kelinci berdasarkan gejala klinis yang muncul. Selain
itu, dapat dilakukan melalui anamnesa, inspeksi terhadap gejala klinis yang
muncul seperti frekuensi dan konsistensi feses, intake cairan dan output urin.
Palpasi dilakukan pada bagian abdomen serta dilakukan auskultasi untuk
mengetahui frekuensi pulsus dan pernafasan.

Pemeriksaa fisik pada diare dilakukan untuk menentukan beratnya derajat


dehidrasi yang terjadi dengan cara dengan mengamati kualitas sistem sirkulasi
dengan melihat waktu pengisian kembali kapiler. CRT yang normal pada kelinci<
2 detik. CRT dapat diamati pada mukosa mulut atau pada kelinci betina dapat
diamati pada membran mukosa vulva.

Evaluasi lanjutan berupa tes laboratorium tergantung lama dan beratnya


diare, gejala sistemik, dan feses bercampur darah. Pemeriksaan feses rutin
dilakukan untuk menemukan leukosit pada feses yang berguna untuk mendukung
diagnosis diare. Apabila hasil tes negatif, kultur sel tidak diperlukan.
2.6 Diagnosa Banding

Enteritis merupakan suatu proses radang usus yang berjalan akut atau
kronis, akan menyebabkan peningkatan peristaltik usus, kenaikan jumlah sekresi
kelenjar pencernaan serta penurunan proses penyerapan cairan maupun
penyerapan sari-sari makanan didalamnya. Radang usus primer maupun sekunder
ditandai dengan menurunnya nafsu makan, menurunnya kondisi tubuh, dehidrasi
dan diare. Perasaan sakit karena adanya radang usus bersifat bervariasi,
tergantung pada jenis hewan yang menderita serta derajat radang yang
dideritanya.

2.7 Prognosa

Prognosa pada kelinci yang mengalami diare akibat kesalahan pemberian


pakan yaitu fausta. Perkiraan kesembuhannya bisa infausta tergantung cepatnya
penanganan dan pemberian terapi yang tepat.

2.8 Pencegahan
 Pisahkan kelinci yang terkena mencret/diare dari komunitas lain di
kandang
 Ganti pakan yang berkadar air tinggi/basah dan gantikan dengan pakan
konsentrat /pelet khusus kelinci.
 Bersihkan kandang dengan disinfectant untuk memutus rantai penyebaran
bakteri ke kandang lain.
2.9 Pengobatan
Penanganan anak kelinci / kelinci yang mengalami diare:

1. Bersihkan kandangnya desinfektan, bersihkan juga bulu2nya dari


kotorannya. Pisahkan dari kelinci lain agar tidak menular.
2. Beri air minum yang cukup. Kelinci yg diare bisa mengalami dehidrasi
yang justru sangat berbahaya baginya. Oleh karena itu minum harus
diberikan terus.
3. Tempatkan kelinci ditempat yang tidak dingin
4. Beri Kaopectate atau Neo Kaolana, atau obat – obatan yang mengandung
Kaolin dan Pektin. Bisa juga diberi Nitrofurazone 210 mg/l air minum

BAB III
METODOLOGI

3.1 Alat dan Bahan


1. Alat
 Spuit 1 cc
 Stetoskop
 Penlight
 Termometer
 Intravena Chateter
 Tampon

2. Bahan
 Ivermectin 0,03 mg
 infus RL
 injeksi Biosalamin 0,2 ml
 Injeksi sulfadiazin 0,15 ml
 Neokaominal 0,2 cc peroral
3.2 Prosedur Kerja
Prosedur kerja yang harus dilakukan ketika pasien datang atau kita
mendatangi pasien adalah :
1. Registrasi merupakan pencatatan data pemilik dan pasien pada ambulator
2. Anamnesa merupakan wawancara dokter hewan dengan pasien tentang
sejarah dari keadaan pasien sebelum dibawa ke dokter hewan
3. Pemeriksaan fisik meliputi gejala yang tampak saat dilakukan pemeriksaan.
Tidak hanya tampak mata, tapi yang dapat kita dengar, raba, bau dan melalui
metode pemeriksaan lain meliputi inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi serta
pemeriksaan lanjutan seperti laboratorium , rontgen dan sebagainya
4. Diagnosa
5. Prognosa
6. Penanganan meliputi pengobatan dan pencegahan dengan cara memberi
edukasi kepada pasien
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
A. Scabies pada kucing

PEMERIKSAAN FISIK

1. Anamnesa
Rambut berwarna kusam, rambut pada bagian kepala rontok,
permukaan kulit tidak rata karena terjadi allopecia, dan bau kulit menyengat
2. Signalemen hewan

Nama : Lulu
Jenis hewan/kelamin : kucing betina
Ras/breed : campuran
Warna bulu/kulit : abu-abu
Umur : 4 bulan
Berat badan : 1.1 kg
Tanda khusus :-
3. Status present
3.1 Keadaan Umum

perawatan : tidak terawat


habitus/ tingkah laku : aktif
gizi : buruk
pertumbuhan badan : buruk
sikap berdiri : tegak dan tidak terlihat adanya kelainan pada
anggota gerak
suhu tubuh : 38.1 0C
frekuensi nadi : 80 kali/ menit
frekuensi nafas : 32 kali/ menit

3.2 Adaptasi Lingkungan: tidak cepat adaptasi dengan lingkungan baru


3.3 Kulit dan Rambut
aspek rambut : kusam, rontok
kerontokan : tinggi
kebotakan : tinggi
turgor kulit : jelek, > 2detik
permukaan kulit : tidak rata karena terjadi allopecia
bau kulit : menyengat, tidak seperti baumkucing lain
3.4 Kepala dan Leher
1. Inspeksi
ekspresi wajah : apatis
pertulangan kepala : simetris, tidak terlihat patah
posisi tegak telinga : tegak
posisi kepala : lurus
2. mata dan orbita kiri
palpebrae : membuka dan menutup secara sempurna
cilia : melekuk keluar
konjungtiva : pink
membran niktitans : tidak terlihat
3. mata dan orbita kanan
palpebrae : membuka dan menutup secara sempurna
cilia : melekuk keluar
konjungtiva : pink
membran niktitans : tidak terlihat
4. bola mata kiri
sclera : berwarna putih
cornea : bersih, jernih
iris : kuning
limbus : datar
pupil : tidak ada perubahan
reflek pupil : cepat
vasa injeksio : tidak ada kelainan
ukuran : sedang
posisi : simetris
5. bola mata kanan
sclera : berwarna putih
cornea : bersih, jernih
iris : kuning
limbus : datar
pupil : tidak ada perubahan
reflek pupil : cepat
vasa injeksio : tidak ada kelainan
ukuran : sedang
posisi : simetris
6. hidung dan sinus
kesimetrisan cupin hidung : simetris
aliran udara : mengalir sempurna, baik
kelembaban : lembab/norma
discharge : tidak ada discharge
7. mulut dan rongga mulut
rusak/ luka bibir : Tidak ada kerusakan
mukosa : pink, basah
gigi geligi : tidak ada kelainan
lidah : pink, basah
8. telinga
posisi : tidak tegak
bau : bau busuk
kebersihan : kotor
permukaan daun telinga: kasar
krepitasi : ada krepitasi
reflek panggilan : respon lambat
9. leher
perototan : kompak, padat
trachea : teraba
esofagus : teraba
10. kelenjar pertahanan
lymphonodus rethropharingealis
ukuran : Sedang
lobulasi : lonjong
perlekatan : melekat sempurna
konsistensi : kenyal
suhu kulit : sama dengan suhu lingkungan, tidak rata seluruh tubuh
kesimetrisan : simetris
3.5 thoraks

sistem pernafasan

1. inspeksi
bentuk rongga thorax: simetris
tipe pernafasan : pernafasan dada
ritme : teratur
intensitas : sedang
frekuensi : 32 kali/ menit
trakhea : trakhea terlihat
batuk : tidak timbul refleks batuk
2. palpasi
trakhea : tidak ada refleks batuk
penekanan rongga thorax : tidak ada refleks sakit
palpasi intercostal : tidak ada refleks sakit
3. perkusi

lapangan paru-paru : tidak ada perubahan


gema perkusi : nyaring/ resonan

4. auskultasi
suara pernafasan : suara bronchial
suara ikutan antara inspirasi & ekspirasi: tidak ada suara ikutan yang
abnormal
sistem persedaran darah
1. inspeksi
ictus cordis : tidak terlihat penonjolan apex jantung
2. perkusi
lapangan jantung : tidak ada perubahan pada daerah pekak jantung
dan terletak pada costae 3-6
1. auskultasi
frekuensi : 80 kali/menit
intensitas : kuat
ritme : teratur
suara sistolik dan diastolik: jelas LUB-DUB
ekstrasistolik : tidak ada bising atau murmur
lapangan jantung : tidak ada perubahan suara pada lapangan jantung
sinkron pulsus dan jantung: sinkron
1.6 abdomen dan organ pencernaan yang berkaitan
1. inspeksi
besarnya : tidak mengalami pembesaran
bentuknya : simetris
legok lapar : tidak terlihat
2. auskultasi
suara persitaltik lambung : terdengar
3. palpasi
epigastricus : teraba dan tidak ada refleks sakit
mesogastricus : teraba dan tidak ada refleks sakit
hipogastricus : teraba dan tidak ada refleks sakit
isi usus halus : teraba
isi usus besar : teraba
4. auskultasi

peristaltik usus : terdengar


Anus
sekitar anus : kotor
reflek spinkter ani : ada refleks
pembesaran kolon : tidak mengalami pembesaran
kebersihan daerah perianal : kotor
1.7 alat perkemihan dan kelamin (urogenitalis) betina
1. Inspeksi
Mukosa Vulva : tidak terlihat karena sangat kotor
1. Kelenjar mammae
Besar : kecil
Letak : di tengah
Bentuk : bulat
Kesimetrisan : simetris kanan dan kiri
Konsistensi kelenjar : kenyal
1.8 alat gerak
1. inspeksi
perototan kaki depan : kompak
perototan kaki belakang : kompak
spasmus otot : tidak ada
tremor : tidak ada
sudut persendian : gerakan otot fleksibel
cara bergerak-berjalan : tidak ada kepincangan
cara bergerak-berlari :seimbang/ koordinatif
1. kestabilan pelvis
konformasi : kompak, kokoh
kesimetrisan : simetris kanan dan kiri
tuber ischii : tidak terlihat
tuber coxae : tidak terlihat
2. palpasi
struktur pertulangan
kaki kiri depan : kompak dan kokoh
kaki kanan depan : kompak dan kokoh
kaki kiri belakang : kompak dan kokoh
kaki kanan belakang : kompak dan kokoh
konsistensi pertulangan : keras
reaksi saat palpasi : tidak ada reaksi saat dipalpasi
panjang kaki depan kanan-kiri : simetris
panjang kaki belakang kanan-kiri: simetris
3. limphoglandula poplitea
ukuran : kecil
konsistensi : kenyal
lobulasi : jelas
perlekatan : tidak mengalami pembesaran, tidak melekat
suhu kulit : tidak rata
kesimetrisan : simetris kanan dan kiri
1.9 pemeriksaan lanjutan : -
1.10 diagnosa : Scabies
1.11 diagnosa banding : Demodexocis, keratosis
1.12 prognosa : Fausta sampai infausta
1.13 terapi : Ivermectin 0,03 mg dan RL diberikan
untuk membersihkan keropeng yang ada di
daerah telinga

Hari : Selasa
Tanggal : 16-12-2014
Catatan :-
Dokter jaga : Drh. Dodik

B. Diare pada kelinci


PEMERIKSAAN FISIK
1. Anamnese
Kelinci mengalami mencret kurang lebih sejak 3 hari, diberi pakan
kangkung dan konsentrat, nafsu makan dan minum baik, bulu rontok,
vulva dan anus kotor.
2. Signalment Hewan
Nama : Chocco
Jenis hewan/kelamin : Kelinci/Betina
Ras/breed : Anggora
Warna bulu/kulit : Putih krem, kecoklatan
Umur :  3 bulan
Berat badan :0,35 kg
Tanda khusus : Ada garis hitam di telinga
3. Status Present
3.1 Keadaan Umum
Perawatan : Terawat baik
Habitus/tingkah laku : sedikit lesu dan lemah
Gizi : Baik
Pertumbuhan badan : Baik
Sikap berdiri : berdiri tegak dan tidak ada kelainan pada
anggota gerak

Suhu tubuh : 34,3 0 C


Frekuensi nadi :
Frekuensi pulsus :

3.2 Adaptasi Lingkungan : Mudah beradaptasi dengan lingkungan dan


tidak menunjukkan gejala stress karena
lingkungan baru

3.3 Kulit dan Rambut

Aspek rambut : kusam dan kotor


Kerontokan : Tinggi
Kebotakan : Tidak ada
Turgor kulit : bagus, kembali < 1 detik
Permukaan kulit : Baik, rata, tidak ada luka/alopecia
Bau kulit : Tidak bau
3.4 Kepala dan Leher
Inspeksi
Ekspresi wajah : Lesu
Pertulangan kepala : simetris, tidak ada kelainan
Posisi tegak telinga : tegak berdiri
Posisi kepala : tegak, lurus

Mata dan Orbita kiri


Palpebrae : membuka & menutup dengan sempurna
Cilia : melekuk keluar
Konjungtiva : pink
Membrana niktitans : tidak terlihat

Mata dan Orbita kanan


Palpebrae : membuka & menutup dengan sempurna
Cilia : melekuk keluar
Konjungtiva : pink
Membrana niktitans : tidak terlihat

Bola Mata kiri


Sclera : berwarna putih
Cornea : bersih, jenih
Iris : kuning
Limbus : datar
Pupil : tidak ada perubahan
Reflek pupil : cepat
Vasa injeksio : tidak ada kelainan
Ukuran : sedang
Posisi : simetris

Bola Mata kanan


Sclera : berwarna putih
Cornea : bersih, jenih
Iris : kuning
Limbus : datar
Pupil : tidak ada perubahan
Reflek pupil : cepat
Vasa injeksio : tidak ada kelainan
Ukuran : sedang
Posisi : simetris

Hidung dan sinus


Kesimetrisan cuping : simetris
Aliran udara : mengalir sempurna, baik
Kelembapan : lembab, normal
Discharge : tidak ada discharge

Mulut dan Rongga mulut


Rusak/luka bibir : tidak ada kerusakan
Mukosa : pink, basah
Gigi geligi : tidak ada kelainan
Lidah : pink, basah

Telinga
Posisi : tegak
Bau : tidak bau
Kebersihan : bersih
Permukaan daun telinga : halus, normal
Krepitasi : tidak ada krepitasi
Reflek panggilan : respon cepat/baik

Leher
Perototan : kompak, padat
Trachea : teraba
Esofagus : teraba

3.5 Kelenjar pertahanan


Lymphonodus rethropharingealis
Ukuran : sedang
Lobulasi : lonjong
Perlekatan : melekat sempurna
Konsistensi : kenyal
Suhu kulit : sama dengan suhu lingkungan
Kesimetrisan : simetris

3.6 Thoraks
Sistem pernafasan
Inspeksi
Bentuk rongga thorax : simetris
Tipe pernafasan : pernafasan abdomen
Ritme : teratur
Intensitas : sedang
Frekuensi :
Trakhea : tidak terlihat
Batuk : tidak timbul refleks batuk
Palpasi
Trakhea : tidak ada refleks batuk
Penekanan rongga thorax : tidak ada refleks sakit
Palpasi intercostal : tidak ada refleks sakit
Perkusi
Lapangan paru-paru : tidak ada perubahan
Gema perkusi : nyaring/resonan
Auskultasi
Suara pernafasan : suara bronchial
Suara ikutan antara inspirasi dan ekspirasi : tidak ada suara ikutan yang
abnormal
3.7 Sistem peredaran darah
Inspeksi
Ictus cordis : tidak terlihat penonjolan apex jantung
Perkusi
Lapangan jantung : tidak ada perubahan pada daerah pekak
jantung
Auskultasi
Frekuensi :
Intensitas :
Ritme : teratur
Suara sistolik dan diastolik : jelas lub-dub
Ekstrasistolik : tidak ada bising atau mur-mur
Lapangan jantung : tidak ada perubahan suara pada lapangan
jantung
Sinkron pulsus jantung : sinkron
3.8 Abdomen dan Organ Pencernaan yang Berkaitan
Inspeksi
Besarnya : tidak mengalami pembesaran
Bentuknya : bentuk simetris
Legok lapar : tidak terlihat
Auskultasi
Suara peristaltik lambung : terdengar
Palpasi
Epigastricus : teraba dan tidak ada refleks sakit
Mesogastricus : teraba dan tidak ada refleks sakit
Hipogastricus : teraba dan tidak ada refleks sakit
Isi usus halus : teraba
Isi usus besar : teraba
Auskultasi
Peristaltik usus : terdengar
Anus
Sekitar anus : kotor
Refleks sfinkter ani : ada refleks
Pembesaran kolon : tidak mengalami pembesaran
Kebersihan daerah perianal : kotor

Alat perkemihan dan kelamin (urogenitalis) betina


Inspeksi
Mukosa vulva : terlihat
Kelenjar mammae
Besar : kecil
Letak : tepi
Bentuk : bulat
Kesimetrisan : simetris kanan kiri
Konsistensi kelenjar : kenyal

3.9 Alat Gerak


Inspeksi
Perototan kaki depan : kompak
Perototan kaki belakang : kompak
Spasmus otot : tidak ada
Tremor : tidak ada
Sudut persendian : gerakan otot fleksibel
Cara bergerak-berjalan : tidak ada kepincangan
Cara bergerak-berlari : melompat dengan koordinatif

Kestabilan pelvis
Konformasi : kompak/kokoh
Kesimetrisan : simetris kanan kiri
Tuber ischii : tidak terlihat
Tuber coxae : tidak terlihat
Palpasi
Struktur pertulangan
Kaki kiri depan : kompak/kokoh
Kaki kanan depan : kompak/kokoh
Kaki kiri belakang : kompak/kokoh
Kaki kanan belakang : kompak/kokoh
Konsistensi pertulangan : keras
Reaksi saat palpasi : tidak ada reaksi sakit
Panjang kaki depan kanan kiri : simetris
Panjang kaki belakang kanan kiri : sama kanan kiri

Limphoglandula poplitea
Ukuran : kecil
Konsistensi : kenyal
Lobulasi : kurang jelas
Perlekatan : tidak melekat
Suhu kulit : sama dengan suhu tubuh
Kesimetrisan : simetris kanan kiri

Pemeriksaan lanjutan : tidak ada

Diagnosa : kelainan pencernaan akibat kesalahan pakan


(diare)
Diagnosa Banding : enteritis
Prognosa : baik/fausta
Terapi : - injeksi Biosalamin 0,2 ml
- Injeksi sulfadiazin 0,15 ml
- Neokaominal 0,2 cc peroral 3x sehari

Hari : Selasa
Tanggal : 16 Desember 2014
Catatan : perbaiki tipe pakan, berikan konsentrat
kering dan wortel.

1.1 Pembahasan
A. Scabies pada kucing
Setiap pasien yang datang terlebih dahulu melakukan registrasi
dengan mengisi kertas ambulator. Ambulator berisi data pribadi clien dan
pasien., anamnesa, dan status present. Pasien yang datang pada saat
kelompok 2 jaga adalah kucing bernama lulu dengan berat badan 1,1 kg
dan suhu tubuh 38,1 0C. Pasien datng dengan keluhan scabies. Setelah
diperiksa respirasi dan pulsus, pasien diberikan terapi ivermectin (dosis
nya aku gak nyatat). setelah itu pasien dibersihkan bagian keropengnya
yang ada dibagian telinga dan dibersihkan telinga bagian dalam. Setelah
serangkaian pemeriksaan selesai kucing dimasukan dalam kandang inap.
Kandang inap seharusnya antara hewan dengan penyakit menular ridak
dalam satu ruangan. Akan tetapi di klinik kedokteran hewan UB, kamu
menemukan pasien yang kami rawat karena skabies (menular) dalam satu
ruangan dengan pasien yang belum terken skabies.

B. Diare pada kelinci


1. Pemeriksaan fisik pasien
Pada awal mula dokter melakukan anamnesa pada pemilik
mengenai sejarah chocco. Anamnesa dilakukan dengan menggali
informasi melalui pertanyaan-pertanyaan pada pemilik/klien guna mearik
diagnosa. Kemudian melakukan pendataan pada hewan dan dilanjutkan
mengisi ambulator. Setelah itu dilakukan serangkaian pemeriksaan fisik
pada chocco seperti pemeriksaan temperatur, pulsus, respirasi, serta CRT
untuk mengetahui status dehidrasi hewan. Dilanjutkan dengan melakukan
pendataan seperti keadaan umum pasien dll. Dokter hewan juga perlu
melakukan inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi untuk mengetahui
kondisi-kondisi yang abnormal pada pasien.
2. Pengobatan

Pengobatan yang diberikan pada chocco yaitu :

- injeksi Biosalamin 0,2 ml melalui rute subcutan


- Injeksi sulfadiazin 0,15 ml melalui rute subcutan
- Neokaominal 0,2 cc peroral 3x sehari

Pemberian Biosalamin diaplikasikan sebagai vitamin untuk


menambah stamina tubuh kelinci yang tampak lesu karena diare sejak 3
hari. Sulfadiazin diberikan sebagai antibiotik untuk membunuh agen
infeksi (parasit/protozoa) dan untuk neokaminal digunakan untuk
mengurangi irritant dan toksis serta melindungi mukosa usus. Pemberian
injeksi biosalamin dan sulfadiazin dilakukan melalui rute subcutan (SC)
karena tidak memungkinkan dilakukan secara IntraMuscular (IM) melihat
kondisi kelinci yang masih terlalu muda dan musculus di daerah femur
belum berkembang. Untuk neokaminal diberikan secara peroral dengan
pemberian sehari dua kali selama  3-4 hari.
Menurut literatur, penentuan diagnosa yang tepat dalam hal yang
menyebabkan diare merupakan faktor utama dalam menentukan tingkat
kesembuhan diare. Diagnosa awal bisa ditelusuri dari sejarah makanan
yang dikonsumsi. Setelah kita menentukan diagnosa maka langkah
selanjutnya adalah menentukan obat yang harus diaplikasikan atau
diberikan pada kelinci yang mengalami diare.
Untuk kelinci yang mengalami diare akibat bakteri maka
pengobatan yang paling cocok dengan memberikan antibiotik bisa melalui
rute injeksi maupun peroral. Antibiotik yang dapat dipilih yaitu preparat
sulfa, oxytetracyclin, metronidazole, dll. Untuk pengobatan kelinci yang
mengalami diare akibat mengkonsumsi hijauan yang masih muda dan
menunjukkan indikasi bloat/kembung maka perlu diberikan antibloat atau
dimeticon, namun jika sudah mengarah pada infeksi sekunder oleh bakteri
perlu diberikan kombinasi dimeticon dan antibiotik.
Biasanya jika diare kelinci akan mengalami dehidrasi atau
kekurangan cairan tubuh sehingga kelinci akan menjadi lemas, untuk itu
bisa diberi cairan elektrolit dan vitamin seperti pemberian biosalamin atau
bisa diberi larutan oralit.
3. Advice
Advice yang diberikan kepada klien pasca pengobatan sbb:
- Pisahkan kelinci yang terkena mencret/diare dari komunitas lain di
kandang
- Ganti pakan yang berkadar air tinggi/basah dan gantikan dengan pakan
konsentrat /pelet khusus kelinci.
- Bersihkan kandang dengan disinfectant untuk memutus rantai
penyebaran bakteri ke kandang lain.
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan

1. Penulisan rekam medis sangat dibutuhkan untuk mengetahui riwayat


penyakit yang pernah diderita pasien
2. Anamnesa dan diagnosis sangat penting untuk dokter hewan
3. Terapi diberikan setelah diagnosis diputuskan. Diagnosa yang baik adalah
diagnosa kausatif

5.2 Saran

Perlu adanya pengawasan sejak dini terhadap kesehatan hewan peliharaan.


Apabila tidak dilakukan, maka akan timbul berbagai macam penyakit seperti
diare, dehidrasi, scabies, cacingan dan kutuan pada hewan khususnya kucing
maupun kelinci.
DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI. 2005. Pedoman Teknis Imunisasi Tingkat Puskesmas. Depkes RI.
Juffrie, Mohammad. 2010. Gastroenterologi-hepatologi Jilid I. Jakarta: IDAI.
Lawrence, G., J . Leafasia, J . Sheridan, S . Hills, J . Wate, C. Wate, J .
Montgomery, N . Pandeya And D. Purdie . 2004 . Control Of Scabies, skin
sores and haematuria in children in the Solomon Islands : Another role for
ivermectin . Bull . WHO. 83(1) : 34-42.
Mansjoer,Arif, dkk., 2000. Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3. Jakarta: Medica
Aesculpalus FKUI.
Partosoedjono, S . 2003 . Scabies dan kualitas sanitasi masyarakat. Kompas,
Jum'at, 05 September 2003 .
Robert, S . And M.D .M.S . Fawcett . 2003 . Ivermectin use in scabies. Am. Fam .
Physic. 68(6) : 1089 - 1092 .
Simadibrata, M dan Setiati S. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi IV.
Pusat Penerbitan Departemen.
Soegijanto S. 2006. Ilmu Penyakit Anak “Diagnosa dan Penatalaksanaan”.
Surabaya: Airlangga University Press.
Suhardono, J. Manurung, A.P . Batubara, Wasito Dan H . Harahap. 2005 .
Pengendalian penyakit kudis pada kambing di Kabupaten Deli Serdang.
Pros . Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner, Bogor, 12 -
13 September 2005. Puslitbang Peternakan, Bogor . him . 1001 - 1014 .
Suraatmaja, S. 2007. Aspek Gizi Air Susu Ibu. Jakarta: EGC.
Walton, S.F ., C.H . Deborah, B .J . Currie And D .J . Kemp . 2004 . Scabies :
new future for a neglected disease . Adv. Parasitol . 57 : 309 - 376 .