Anda di halaman 1dari 18

A.

Pengertian Kanker
Pengertian kanker Kanker merupakan kumpulan sel abnormal yang terbentuk oleh
sel-sel yang tumbuh secara terus-menerus, tidak terbatas, tidak terkoordinasi dengan
jaringan sekitarnya dan tidak berfungsi fisiologis.Kanker terjadi karena timbul dan
berkembang biaknya jaringan sekitarnya (infiltratif) sambil merusaknya (dekstrutif),
dapat menyebar kebagian lain tubuh, dan umumnya fatal jika dibiarkan.
Pertumbuhan sel-sel kanker akan menyebabkan jaringan menjadi besar dan
disebut sebagai tumor. Tumor merupakan istilah yang dipakai untuk semua bentuk
pembengkakan atau benjolan dalam tubuh. Sel-sel kanker yang tumbuh cepat dan
menyebar melalui pembuluh darah dan pembuluh getah bening. Penjalarannya kejaringan
lain disebut sebagai metastasis. Kanker mempunyai karakteristik yang berbeda-beda.

B. Mekanisme Kanker
Beberapa konsep dasar tentang mekanisme terjadi kanker telah banyak diajukan.
Di antaranya adalah Doll's nature, nurture and luck dan teori promotion and initiation.
1. Doll's Nature, Nurture and Luck
Nurture yang dimaksud adalah bawaan genetika dari individu semenjak lahir,
misalnya orang kulit putih lebih berkemungkinan menderita kanker kulit daripada
berkulit berwarna. Nurture berkaitan dengan apa yang dilakukan sejak lahir dan luck
be rkaitan dengan nasib atau faktor kemungkinan.Gabungan ketiga faktor inilah
yang menentukan terjadinya kanker. Antara nature dan nurture, faktor nurture
kelihatan menonjol pada kanker tertentu dan sebaliknya faktor nurture menonjol
pada aspek lain terjadinya kanker. Misalnya dari riwayat keluarga wanita yang
memiliki anggota keluarga penderita kanker payudara maka risikonya 2-3 kali lebih
tinggi daripada wanita yang tidak memiliki anggota keluarga penderita kanker
payudara.
2. Teori Promotion dan Initiation
Permulaan terjadinya kanker dimulai dengan adanya zat bersifat initation, yang
merangsang permulaan perubahan sel. Untuk terjadinya kanker initiation perlu
disusul dengan zat promotion yang mempunyai efek reversible terhadap perubahan
sel sehingga diperlukan perangsangan yang lama dan berkesinambungan.Initiaty
agent biasanya berupa unsur kimia, fisik atau biologis yang berkemampuan beraksi
langsung dan mengubah struktur dasar dari komponen genetic/DNA sel. Keadaan
selanjutnya diikuti dengan tahap promosi. Proses ini ditandai dengan
berkembangnya neoplasma dengan terbentuknya formasi tumor.

C. Pengertian Kanker Endometrium


Kanker endometrium adalah kanker yang terjadi pada organ endometrium atau
pada dinding rahim. Endometrium adalah organ rahim yang berbentuk seperti buah pir
sebagai tempat tertanam dan berkembangnya janin. kanker endometrium kadang-kadang
disebut kanker rahim, tetapi ada sel-sel lain dalam rahim yang bisa menjadi kanker
seperti otot atau sel miometrium. kanker endometrium sering terdeteksi pada tahap awal
karena sering menghasilkan pendarahan vagina di antara periode menstruasi atau setelah
menopause. (Whoellan 2009)

D. Anatomi Fisiologi Sistem Reproduksi Wanita


Anatomi fisiologi sistem reproduksi wanita dibagi menjadi 2 bagian yaitu: alat
reproduksi wanita bagian dalam yang terletak di dalam rongga pelvis, dan alat reproduksi
wanita bagian luar yang terletak di perineum.
1. Genetalia Eksterna

Genetalia Eksterna terdiri dari:


a) Tundun (Mons veneris)
Bagian yang menonjol meliputi simfisis yang terdiri dari jaringan dan lemak, area
ini mulai ditumbuhi bulu (pubis hair) pada masa pubertas. Bagian yang dilapisi lemak,
terletak di atas simfisis pubis.
b) Labia Mayora
Merupakan kelanjutan dari mons veneris berbentuk lonjong. Kedua bibir ini
bertemu di bagian bawah dan membentuk perineum. Labia mayora bagian luar tertutup
rambut, yang merupakan kelanjutan dari rambut pada mons veneris. Labia mayora bagian
dalam tanpa rambut, merupakan selaput yang mengandung 3 kelenjar sebasea (lemak).
Ukuran labia mayora pada wanita dewasa panjang 7 - 8 cm, lebar 2 - 3 cm, tebal 1 - 1,5
cm. Pada anak- anak kedua labia mayora sangat berdekatan.
c) Labia Minora
Bibir kecil yang merupakan lipatan bagian dalam bibir besar (labia mayora),
tanpa rambut. Setiap labia minora terdiri dari suatu jaringan tipis yang lembab dan
berwarna kemerahan. Bagian atas labia minora akan bersatu membentuk preputium dan
frenulum clitoridis. Di Bibir kecil ini mengeliligi orifisium vagina bawahnya akan
bersatu membentuk fourchette.
d) Klitoris
Merupakan bagian penting alat reproduksi luar yang bersifat erektil. Glans
clitoridis mengandung banyak pembuluh darah dan serat saraf sensoris sehingga sangat
sensitif. Analog dengan penis pada laki-laki. Terdiri dari glans, corpus dan 2 buah crura,
dengan panjang rata-rata tidak melebihi 2 cm.
e) Vestibulum (serambi)
Merupakan rongga yang berada di antara bibir kecil (labia minora). Pada vestibula
terdapat 6 buah lubang, yaitu orifisium urethra eksterna, introitus vagina, 2 buah muara
kelenjar Bartholini, dan 2 buah muara kelenjar paraurethral. Kelenjar bartholini
berfungsi untuk mensekresikan cairan mukoid ketika terjadi rangsangan seksual.
Kelenjar bartholini juga menghalangi masuknya bakteri Neisseria gonorhoeae maupun
bakteri-bakteri patogen.

f) Himen (selaput dara)


Terdiri dari jaringan ikat kolagen dan elastic. Lapisan tipis ini yang menutupi sabagian
besar dari liang senggama, di tengahnya berlubang supaya kotoran menstruasi dapat
mengalir keluar. Bentuk dari himen dari masing- masing wanita berbeda-beda, ada yang
berbentuk seperti bulan sabit, konsistensi ada yang kaku dan ada lunak, lubangnya ada
yang seujung jari, ada yang dapat dilalui satu jari. Saat melakukan koitus pertama sekali
dapat terjadi robekan, biasanya pada bagian posterior.
g) Perineum (kerampang)
Terletak di antara vulva dan anus, panjangnya kurang lebih 4 cm. Dibatasi oleh otot-otot
muskulus levator ani dan muskulus coccygeus. Otot-otot berfungsi untuk menjaga kerja
dari sphincter ani

2. Genetalia Interna

a) Vagina
Merupakan saluran muskulo-membraneus yang menghubungkan rahim
dengan vulva. Jaringan muskulusnya merupakan kelanjutan dari muskulus
sfingter ani dan muskulus levator ani, oleh karena itu dapat dikendalikan.
Vagina terletak antara kandung kemih dan rektum. Panjang bagian depannya
sekitar 9 cm dan dinding belakangnya sekitar 11 cmBagian serviks yang
menonjol ke dalam vagina disebut portio. Portio uteri membagi puncak
(ujung) vagina menjadi :
-Forniks anterior
-Forniks dekstra
-Forniks posterior
-Forniks sisistra
Sel dinding vagina mengandung banyak glikogen yang menghasilkan
asam susu dengan pH 4,5. keasaman vagina memberikan proteksi terhadap
infeksi.Fungsi utama vagina:
1) Saluran untuk mengeluarkan lendir uterus dan darah menstruasi
2) Alat hubungan seks
3) Jalan lahir pada waktu persalinan.
b) Uterus
Merupakan Jaringan otot yang kuat, terletak di pelvis minor diantara
kandung kemih dan rektum. Dinding belakang dan depan dan bagian atas
tertutup peritonium, sedangkan bagian bawah berhubungan dengan kandung
kemih. Vaskularisasi uterus berasal dari arteri uterina yang merupakan cabang
utama dari arteri illiaka interna (arterihipogastrika interna).
Bentuk uterus seperti bola lampu dan gepeng.
1) Korpus uteri : berbentuk segitiga
2) Serviks uteri : berbentuk silinder
3) Fundus uteri : bagian korpus uteri yang terletak diatas kedua pangkal tuba.
Untuk mempertahankan posisinya, uterus disangga beberapa ligamentum,
jaringan ikat dan parametrium. Ukuran uterus tergantung dari usia wanita dan
paritas. Ukuran anak-anak 2-3 cm, nullipara 6-8 cm, multipara 8-9 cm dan >
80 gram pada wanita hamil. Uterus dapat menahan beban hingga 5
literDinding uterus terdiri dari tiga lapisan :
a) Peritonium
Meliputi dinding rahim bagian luar. Menutupi bagian luar
uterus. Merupakan penebalan yang diisi jaringan ikat dan pembuluh
darah limfe dan urat syaraf. Peritoneum meliputi tuba dan mencapai
dinding abdomen.
b) Lapisan otot
Susunan otot rahim terdiri dari tiga lapisan yaitu lapisan luar,
lapisan tengah, dan lapisan dalam. Pada lapisan tengah membentuk
lapisan tebal anyaman serabut otot rahim. Lapisan tengah ditembus
oleh pembuluh darah arteri dan vena. Makin kearah serviks, otot
rahim makin berkurang, dan jaringan ikatnya bertambah. Bagian
rahim yang terletak antara osteum uteri internum anatomikum, yang
merupakan batas dari kavum uteri dan kanalis servikalis dengan
osteum uteri histologikum (dimana terjadi perubahan selaput lendir
kavum uteri menjadi selaput lendir serviks) disebut isthmus. Isthmus
uteri ini akan menjadi segmen bawah rahim dan meregang saat
persalinan.
c) Endometrium
Pada endometrium terdapat lubang kecil yang merupakan muara
dari kelenjar endometrium. Variasi tebal, tipisnya, dan fase
pengeluaran lendir endometrium ditentukan oleh perubahan hormonal
dalam siklus menstruasi. Pada saat konsepsi endometrium mengalami
perubahan menjadi desidua, sehingga memungkinkan terjadi
implantasi (nidasi).Lapisan epitel serviks berbentuk silindris, dan
bersifat mengeluarakan cairan secara terus-menerus, sehingga dapat
membasahi vagina. Kedudukan uterus dalam tulang panggul
ditentukan oleh tonus otot rahim sendiri, tonus ligamentum yang
menyangga, tonus otot-otot panggul. Ligamentum yang menyangga
uterus adalah:
1. Ligamentum latum Ligamentum latum seolah - olah tergantung
pada tuba fallopii.
2. Ligamentum rotundum (teres uteri): Terdiri dari otot polos dan
jaringan ikat. Fungsinya menahan uterus dalam posisi
antefleksi.
3. Ligamentum infundi bulopelvikum : Menggantung dinding
uterus ke dinding panggul.
4. Ligamentum kardinale Machenrod: Menghalangi pergerakan
uteruske kanan dan ke kiri.Tempat masuknya pembuluh darah
menuju uterus.
5. Ligamentum sacro-uterinum :Merupakan penebalan dari
ligamentum kardinale Machenrod menuju os.sacrum.
6. Ligamentum vesiko-uterinum: Merupakan jaringan ikat agak
longgar sehingga dapat mengikuti perkembangan uterus saat
hamil dan persalinan

c) Tuba Fallopi
Tuba fallopii merupakan tubule - muskuler, dengan panjang 12 cm
dan diameternya antara 3 sampai 8 mm. fungsi tubae sangat penting, yaiu
untuk menangkap ovum yang di lepaskan saat ovulasi, sebagai saluran
dari spermatozoa ovum dan hasil konsepsi, tempat terjadinya konsepsi,
dan tempat pertumbuhan dan perkembangan hasil konsepsi sampai
mencapai bentuk blastula yang siap melakukan implantasi.
d) OVARIUM
Merupakan kelenjar berbentuk buah kenari terletak kiri dan kanan
uterus di bawah tuba uterina dan terikat di sebelah belakang oleh
ligamentum latum uterus. Setiap bulan sebuah folikel berkembang dan
sebuah ovum dilepaskan pada saat kira-kira pertengahan (hari ke-14)
siklus menstruasi. Ovulasi adalah pematangan folikel de graaf dan
mengeluarkan ovum. Ketika dilahirkan, wanita memiliki cadangan ovum
sebanyak 100.000 buah di dalam ovariumnya, bila habis menopause.
Ovarium yang disebut juga indung telur, mempunyai 3 fungsi:
a. Memproduksi ovum
b. Memproduksi hormone estrogen
c. Memproduksi progesterone
Memasuki pubertas yaitu sekitar usia 13-16 tahun dimulai
pertumbuhan folikel primordial ovarium yang mengeluarkan hormon
estrogen. Estrogen merupakan hormone terpenting pada wanita.
Pengeluaran hormone ini menumbuhkan tanda seks sekunder pada wanita
seperti pembesaran payudara, pertumbuhan rambut pubis, pertumbuhan
rambut ketiak, dan akhirnya terjadi pengeluaran darah menstruasi
pertama yang disebut menarche.
Awal-awal menstruasi sering tidak teratur karena folikel graaf
belum melepaskan ovum yang disebut ovulasi. Hal ini terjadi karena
memberikan kesempatan pada estrogen untuk menumbuhkan tanda -
tanda seks sekunder. Pada usia 17-18 tahun menstruasi sudah teratur
dengan interval 28-30 hari yang berlangsung kurang lebih 2-3 hari
disertai dengan ovulasi, sebagai kematangan organ reproduksi wanita.

Fisiologi Sistem Reproduksi Wanita


1. Hormon pada Wanita
Pada wanita, peran hormon dalam perkembangan oogenesis dan perkembangan
reproduksi jauh lebih kompleks dibandingkan pada pria. Salah satu peran hormon pada
wanita dalam proses reproduksi adalah dalam siklus menstruasi. Siklus menstruasi
Menstruasi (haid) adalah pendarahan secara periodik dan siklik dari uterus yang disertai
pelepasan endometrium. Menstruasi terjadi jika ovum tidak dibuahi oleh sperma. Siklus
menstruasi sekitar 28 hari. Pelepasan ovum yang berupa oosit sekunder dari ovarium
disebut ovulasi, yang berkaitan dengan adanya kerjasama antara hipotalamus dan
ovarium. Hasil kerjasama tersebut akan memacu pengeluaran hormone - hormon yang
mempengaruhi mekanisme siklus menstruasi.
Untuk mempermudah penjelasan mengenai siklus menstruasi, patokannya adalah
adanya peristiwa yang sangat penting, yaitu ovulasi. Ovulasi terjadipada pertengahan
siklus (½ n) menstruasi. Untuk periode atau siklus hari pertama menstruasi, ovulasi
terjadi pada hari ke-14 terhitung sejak hari pertama menstruasi.Siklus menstruasi
dikelompokkan menjadi empat fase, yaitu fase menstruasi, fase pra-ovulasi, fase ovulasi,
fase pasca-ovulasi.
1. Fase menstruasi
Fase menstruasi terjadi bila ovum tidak dibuahi oleh sperma, sehingga korpus
luteum akan menghentikan produksi hormon estrogen dan progesteron. Turunnya
kadar estrogen dan progesteron menyebabkan lepasnya ovum dari dinding uterus
yang menebal (endometrium). Lepasnya ovum tersebut menyebabkan endometrium
sobek atau meluruh, sehingga dindingnya menjadi tipis. Peluruhan pada
endometrium yang mengandung pembuluh darah menyebabkan terjadinya
pendarahan pada fase menstruasi. Pendarahan ini biasanya berlangsung selama lima
hari. Volume darah yang dikeluarkan rata-rata sekitar 50mL.
2. Fase pra - ovulasi
Pada fase pra - ovulasi atau akhir siklus menstruasi, hipotalamus mengeluarkan
hormon gonadotropin. Gonadotropin merangsang hipofisis untuk mengeluarkan
FSH. Adanya FSH merangsang pembentukan folikel primer di dalam ovarium yang
mengelilingi satu oosit primer. Folikel primer dan oosit primer akan tumbuh sampai
hari ke-14 hingga folikel menjadi matang atau disebut folikel de Graaf dengan
ovum di dalamnya. Selama pertumbuhannya, folikel juga melepaskan hormon
estrogen. Adanya estrogen menyebabkan pembentukan kembali (proliferasi) sel-sel
penyusun dinding dalam uterus dan endometrium. Peningkatan konsentrasi
estrogen selama pertumbuhan folikel juga mempengaruhi serviks untuk
mengeluarkan lendir yang bersifta basa. Lendir yang bersifat basa berguna untuk
menetralkan sifat asam pada serviks agar lebih mendukung lingkungan hidup
sperma.
3. Fase ovulasi
Pada saat mendekati fase ovulasi atau mendekati hari ke - 14 terjadi perubahan
produksi hormon. Peningkatan kadar estrogen selama fase pra - ovulasi
menyebabkan reaksi umpan balik negatif atau penghambatan terhadap pelepasan
FSH lebih lanjut dari hipofisis. Penurunan konsentrasi FSH menyebabkan hipofisis
melepaskan LH. LH merangsang pelepasan oosit sekunder dari folikel de Graaf.
Pada saat inilah disebut ovulasi, yaitu saat terjadi pelepasan oosit sekunder dari
folikel de Graaf dan siap dibuahi oleh sperma. Umunya ovulasi terjadi pada hari ke-
14.
4. Fase pasca-ovulasi
Pada fase pasca - ovulasi, folikel de Graaf yang ditinggalkan oleh oosit
sekunder karena pengaruh LH dan FSH akan berkerut dan berubah menjadi korpus
luteum. Korpus luteum tetap memproduksi estrogen (namun tidak sebanyak folikel
de Graaf memproduksi estrogen) dan hormon lainnya, yaitu progesteron.
Progesteron mendukung kerja estrogen dengan menebalkan dinding dalam uterus
atau endometrium dan menumbuhkan pembuluh - pembuluh darah pada
endometrium. Progesteron juga merangsang sekresi lendir pada vagina dan
pertumbuhan kelenjar susu pada payudara. Keseluruhan fungsi progesteron (juga
estrogen) tersebut berguna untuk menyiapkan penanaman (implantasi) zigot pada
uterus bila terjadi pembuahan atau kehamilan.
Proses pasca-ovulasi ini berlangsung dari hari ke-15 sampai hari ke-28. Namun,
bila sekitar hari ke-26 tidak terjadi pembuahan, korpus luteum akan berubah
menjadi korpus albikan. Korpus albikan memiliki kemampuan produksi estrogen
dan progesteron yang rendah, sehingga konsentrasi estrogen dan progesteron akan
menurun. Pada kondisi ini, hipofisis menjadi aktif untuk melepaskan FSH dan
selanjutnya LH, sehingga fase pasca-ovulasi akan tersambung kembali dengan fase
menstruasi berikutnya.
2. Fertilisasi
Fertilisasi atau pembuahan terjadi saat oosit sekunder yang mengandung ovum
dibuahi oleh sperma. Fertilisasi umumnya terjadi segera setelah oosit sekunder memasuki
oviduk. Namun, sebelum sperma dapat memasuki oosit sekunder, pertama-tama sperma
harus menembus berlapis-lapis sel granulosa yang melekat di sisi luar oosit sekunder
yang disebut korona radiata. Kemudian, sperma juga harus menembus lapisan sesudah
korona radiata, yaitu zona pelusida. Zona pelusida merupakan lapisan di sebelah dalam
korona radiata, berupa glikoprotein yang membungkus oosit sekunder.
Sperma dapat menembus oosit sekunder karena baik sperma maupun oosit
sekunder saling mengeluarkan enzim dan atau senyawa tertentu, sehingga terjadi aktivitas
yang saling mendukung. Pada sperma, bagian kromosom mengeluarkan:
1.Hialuronidase : Enzim yang dapat melarutkan senyawa hialuronid pada korona
radiata.
2. Akrosin : Protease yang dapat menghancurkan glikoprotein pada zona pelusida.
3. Antifertilizin Antigen terhadap oosit sekunder sehingga sperma dapat melekat
pada oosit sekunder. Oosit sekunder juga mengeluarkan senyawa tertentu, yaitu fertilizin
yang tersusun dari glikoprotein dengan fungsi :
a.Mengaktifkan sperma agar bergerak lebih cepat.
b.Menarik sperma secara kemotaksis positif.
c.Mengumpulkan sperma di sekeliling oosit sekunder.
Pada saat satu sperma menembus oosit sekunder, sel-sel granulosit di
bagian korteks oosit sekunder mengeluarkan senyawa tertentu yang menyebabkan
zona pelusida tidak dapat ditembus oleh sperma lainnya. Adanya penetrasi sperma
juga merangsang penyelesaian meiosis II pada inti oosit sekunder , sehingga dari
seluruh proses meiosis I sampai penyelesaian meiosis II dihasilkan tiga badan
polar dan satu ovum yang disebut inti oosit sekunder.Segera setelah sperma
memasuki oosit sekunder, inti (nukleus) pada kepala sperma akan membesar.
Sebaliknya, ekor sperma akan berdegenerasi. Kemudian, inti sperma yang
mengandung 23 kromosom (haploid) dengan ovum yang mengandung 23
kromosom (haploid) akan bersatu menghasilkan zigot dengan 23 pasang
kromosom (2n) atau 46 kromosom.
E. Etiologi
Etiologi Sampai saat ini belum diketahui secara pasti penyebab kanker
endometrium, tetapi  beberapa penelitiian menunjukkan bahwa rangsangan estrogen yang
berlebihan dan terus menerus bisa menyebabkan kanker endometrium. Berikut ini
beberapa faktor resiko yang  bisa meningkatkan munculnya kanker endometrium :
a. Obesitas atau kegemukan. Pada wanita obesitas dan usia tua terjadi peningkatan
reaksi konversi androstenedion menjadi estron. Pada obesitas konversi ini ditemukan
sebanyak 25-20 kali. Obesitas merupakan faktor resiko utama pada kanker
endometrium sebanyak 2 sampai 20 kali. Wanita dengan berat badan 10-25 Kg diatas
berat badan normal menpunyai resiko 3 kali lipat dibanding dengan wanita dengan
berat badan normal. Bila berat badan lebih dari 25 Kg diatas berat badan normal
maka resiko menjadi 9 kali lipat.
b. Haid pertama (menarche).
Wanita mempunyai riwayat menars sebelum usia 12 tahun mempunyai resiko 1,6
kali lebih tinggi daripada wanita yang mempunyai riwayat menars setelah usia lenih
dari 12 tahun. Menstruation span merupakan metode numerik untuk menentukan
faktor resiko dengan usia saat menarche, usia menopause dari jumlah  paritas.
Menstruasion span (MS) = usia menars (jumlah paritas x1,5). Bila MS 39 maka
resiko terkena kanker endometrium sebanyak 4,2 kali dibanding MS < 29.
c. Tidak pernah melahirkan
Memiliki resiko terkena kanker endometrium lebih tinggi baik sudah menikah atau
belum dibanding wanita yang pernah melahirkan. Penelitian menunjukkan  bahwa 25%
penderita kanker endometrium tidak pernah melahirkan anak (nulipara). Penelitian lainnya
juga menunjukkan bahwa faktor ketidaksuburan(infertilitas) lebih  berperan daripada
jumlah melahirkan (paritas)
d. Penggunaan Estrogen
Estrogen sering digunakan sebagai terapi sulih hormon. Peningkatan  penggunaan
hormon ini diikuti dengan meningkatnya resiko kanker endometrium.
e. Hiperplasia endometrium.
Hiperplasia endometrium adalah pertumbuhan yang berlebihan dari jaringan
selaput lendir rahim disertai peningkatan vaskularisasi akibat rangsangan estrogen
yang berlebihan dan terus menerus. Disebut neoplasia endometrium intraepitel jika
hiperplasia endometrium disertai sel-sel atipikal dan meningkatkan resiko menjadi
kanker endometrium sebesar 23%.
f. Diabetes mellitus (DM).
Diabetes melitus dan tes toleransi glukosa (TTG) abnorml merupakan faktor
resiko keganasan endometrium. Angka kejadian diabetes melitus klinis pada
penderita karsinoma endometrium berkisar antara 3-17%, sedangkan angka kejadian
TTG yang abnormal berkisar antara 17-64%.
g. Hipertensi. 50% dari kasus endometrium menderita hipertensi dibandingkan dengan
1/3  populasi kontrol yang menderita penyakit tersebut, kejadian hipertensi pada
keganasan endometrium menurut statistik lebih tinggi secara bermakna daripada
populasi kontrol.
h. Faktor lingkungan dan diet. Faktor lingkungan dan menu makanan juga
mempengaruhi angka kejadian keganasan endometrium lebih tinggi daripada di
negara-negara yang sedang  berkembang. Kejadian keganasan endometrium di
Amerika Utara dan Eropa lebih tinggi daripada angka kejadian keganasan di Asia,
Afrika dan Amerika latin. Agaknya perbedaan mil disebabkan perbedaan menu dan
jenis makan sehari-hari dan  juga terbukti dengan adanya perbedaan yang menyolok
dari keganasan endometrium  pada golongan kaya dan golongan miskin. Keadaan ini
tampak pada orang-orang negro yang pindah dari daerah rural ke Amerika Utara. Hal
yang sama juga terjadi  pada orang-orang Asia yang pindah ke negara industri dan
merubah menu   makanannya dengan cara barat seperti misalnya di Manila dan
Jepang, angka kejadian keganasan endometrium lebih tinggi daripada di negara-
negara Asia lainnya.
i. Riwayat keluarga.
Ada kemungkinan terkena kanker endometrium, jika terdapat anggota keluarga
yang terkena kanker ini, meskipun prosentasenya sangat kecil.  
j. Tumor memproduksi estrogen.
Adanya tumor yang memproduksi estrogen, misalnya tumor sel granulosa, akan
meningkatkan angka kejadian kanker endometrium.
F. Patofisiologi
Kanker endometrium adalah kanker yang terbentuk di dalam endometrium yang
merupakan lapisan dalam halus rahim atau rahim. Rahim terletak di daerah panggul dan
menyerupai bentuk sebuah pepaya atau buah pir. 90% dari semua kanker rahim yang
terbentuk di endometrium. Profesional medis tidak tahu persis apa yang menyebabkan kanker
endometrium, tetapi telah dikaitkan dengan estrogen terlalu banyak, yang merupakan hormon
wanita. Ini adalah ovarium yang memproduksi estrogen, tetapi mereka juga memproduksi
hormon lain yang disebut progesteron yang membantu untuk menyeimbangkan estrogen.
Kedua hormon harus seimbang, tetapi jika terlalu banyak estrogen yang diproduksi akan
menyebabkan endometrium tumbuh, sehingga meningkatkan risiko kanker endometrium. Ada
faktor lain yang meningkatkan kadar estrogen dan salah satunya adalah obesitas. Jaringan
lemak dalam tubuh juga memproduksi hormon estrogen. Pola makan dengan asupan tinggi
lemak hewani, termasuk daging, susu, dan unggas, bersama dengan makanan olahan dan gula
halus adalah nomor satu penyebab obesitas. Makanan ini harus dihindari terutama oleh
mereka yang beresiko. Mereka yang berisiko adalah wanita yang telah melalui menopause,
tidak punya anak, menderita diabetes, memiliki kanker payudara, atau sering mengkonsumsi
makanan dengan lemak tinggi.
Tanda pertama kanker endometrium adalah perdarahan atau bercak. Pendarahan atau
bercak mungkin tidak selalu hasil dari kanker, tetapi ide yang baik untuk segera
memeriksakan ke dokter agar diperiksa lebih detail lagi. Gejala lain dari kanker endometrium
adalah penurunan berat badan, kelelahan, nyeri panggul, kesulitan buang air kecil dan nyeri
selama hubungan seksual. Kanker ini terutama mempengaruhi wanita yang telah melewati
menopause. Mayoritas kasus pada perempuan berusia 55-70 tahun (Corwin: 1999).

H. Manifestasi Klinis
Keluhan utama yang dirasakan pasien kanker endometrium adalah perdarahan pasca
menopause bagi pasien yang telah menopause dan perdarahan intermenstruasi bagi pasien
yang belum menopause. Keluhan keputihan merupakan keluhan yang paling banyak
menyertai keluhan utama. Gejalanya bisa berupa:
1)      Perdarahan rahim yang abnormal
2)      Siklus menstruasi yang abnormal
3)      Perdarahan diantara 2 siklus menstruasi (pada wanita yang masih mengalami menstruasi)
4)      Perdarahan vagina atau spotting pada wanita pasca menopause
5)      Perdarahan yang sangat lama, berat dan sering (pada wanita yang berusia diatas 40
tahun)
6)      Nyeri perut bagian bawah atau kram panggul
7)      Keluar cairan putih yang encer atau jernih (pada wanita pasca menopause)
8)      Nyeri atau kesulitan dalam berkemih
9)      Nyeri ketika melakukan hubungan seksual (Isdaryanto: 2010).
I. Stadium
Saat ini, stadium kanker endometrium ditetapkan berdasarkan surgical staging,
menurut The International Federation of Gynecology and Obstetrics(FIGO) 1988 :
Tingkat Kriteria
   0 Karsinoma In Situ, lesiparaneoplastik seperti hyperplasia
adenomatosa endometrium atau hyperplasia endometrium atipik
   I Proses masih terbatas pada korpus uteri
   IA Tumor terbatas pada endometrium (miometrium intak)
   IB Invasi miometrium minimal, kurang dari separuh miometrium
   IC Invasi miometrium lebih dari separuh tebal miometrium
   II Proses sudah meluas ke servik, tapi tidak meluas ke atas uterus
   IIA Keterlibatan kelenjar endoserviks
   IIB Sudah melibatkan stroma serviks
   III Proses sudah keluar uterus,tapi masih berada dalam panggul kecil
   IIIA Invasi cairan serosa uterus, adneksa, atau hasil positif pada sitologi
cairan peritoneum
   IIIB Invasi ke vagina
   IIIC Metastasis ke kelenjar getah bening pelvis dan/atau paraaorta
   IV Proses sudah keluar dari panggul kecil
   IVA Invasi ke kandung kemih dan/atau rectum
   IVB Metastasis jauh, termasuk ke organ visera atau KGB inguinal

J. Pemeriksaan Penunjang 
Sebelum tindakan operasi, pemeriksaan yang perlu dilakukan:
1. Foto toraks untuk menyingkirkan metastasis paru-paru
2. Tes Pap, untuk menyingkirkan kanker serviks
3. Pemeriksaan laboratorium yang meliputi pemeriksaan darah tepi, faal hati, faal ginjal,
elektrolit

K. Penatalaksaan Medis
Sampai saat ini belum ada metode skrining untuk kanker endometrium.
Hanya untuk pasien yang termasuk dalam risiko tinggi seperti Lynch syndrome tipe 2 perlu
dilakukan evaluasi endometrium secara seksama dengan hysteroscopy dan biopsy.
Pemeriksaan USG transvaginal merupakan test non invasif awal yang efektif dengan negative
predictive value yang tinggi apabila ditemukan ketebalan endometrium kurang dari 5 mm.
Pada banyak kasus histeroskopi dengan instrumen yang fleksibel akan membantu dalam
penemuan awal kasus kanker endometrium.
Pada stadium II dilakukan histerektomi radikal modifikasi, salpingo-ooforektomi bilateral,
deseksi kelenjar getah bening pelvis dan biopi paraaorta bila mencurigakan, bilasan
peritoneum, biopsi omenteum (omentektomi partialis),biopsi peritoneum.
Pada stadium III dan IV : operasi dan/atau radiasi dan/atau kemoterapi. Pengangkatan
tumor merupakan terapi yang utama, walaupun telah bermetastasis ke abdomen.
a) Kemoterapi
Adalah pemberian obat untuk membunuh sel kanker. Kemoterapi merupakan terapi
sistemik yang menyebar keseluruh tubuh dan mencapai sel kanker yang telah menyebar
jauh atau metastase ke tempat lain.

b) Tujuan Kemoterapi bertujuan untuk :


1. Membunuh sel-sel kanker.
2. Menghambat pertumbuhan sel-sel kanker.
3. Meningkatkan angka ketahanan hidup selama 5 tahun.
  Jenis kemoterapi:
1. Terapi adjuvan Kemoterapi yang diberikan setelah operasi, dapat sendiri atau bersamaan
dengan radiasi, dan bertujuan untuk membunuh sel yang telah bermetastase.
2. Terapi neoadjuvan Kemoterapi yang diberikan sebelum operasi untuk mengecilkan
massa tumor, biasanya dikombinasi dengan radioterapi.
3. Kemoterapi primer Digunakan sendiri dalam penatalaksanaan tumor, yang
kemungkinan kecil untuk diobati, dan kemoterapi digunakan hanya untuk mengontrol
gejalanya.
4. Kemoterapi induks Digunakan sebagai terapi pertama dari beberapa terapi berikutnya.
5. Kemoterapi kombinasi Menggunakan 2 atau lebih agen kemoterapi.

c) Kemoterapi pada Kanker Endometrium

Adjuvan AP (Doxorubicin 50-60 mg/m2,


Cisplatinum 60 mg/m2 dengan
interval 3 minggu)

Kemoradiasi Cis-platinum 20-40 mg/m2 setiap


minggu (5-6 minggu)

Xelloda 500-1000mg/hari (oral)

Gemcitabine 300mg/m2

Paclitacel 60-80 mg/m2, setiap


minggu (5-6 minggu)
Docetaxel 20 mg/m2setiap minggu (5-
6 minggu)
Daftar Pustaka

https://edoc.pub/anatomi-fisiologi-sistem-reproduksi-5-pdf-free.html

Brunner and Suddarth.(2002). Keperawatan Medikal Bedah.Jakarta. EGC

http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/16397/Chapter%20II.pdf;sequence=4

https://www.academia.edu/9058023/CA_ENDOMETRIUM

https://images.search.yahoo.com/search/images;_ylt=Awr9Fqyba9JchWEAT5iJzbkF;_ylu=X3oDMTBsZ29
xY3ZzBHNlYwNzZWFyY2gEc2xrA2J1dHRvbg--;_ylc=X1MDOTYwNjI4NTcEX3IDMgRhY3RuA2NsawRjc3JjcHZ
pZANyS05oU1RFd0xqSmFXb1E2WER5SG1nT1dNVGd5TGdBQUFBRENleXBPBGZyA21jc2FvZmZibG9jawR
mcjIDc2EtZ3AEZ3ByaWQDdXJLUzdqS05RVy44STk1SzhkeTZRQQRuX3N1Z2cDMTAEb3JpZ2luA2ltYWdlcy5
zZWFyY2gueWFob28uY29tBHBvcwMwBHBxc3RyAwRwcXN0cmwDBHFzdHJsAzQ3BHF1ZXJ5A2dhbWJhci
UyMHNpc3RlbSUyMHJlcHJvZHVzaSUyMGVrc3Rlcm5hJTIwd2FuaXRhBHRfc3RtcAMxNTU3Mjk0MDAx?
p=gambar+sistem+reprodusi+eksterna+wanita&fr=mcsaoffblock&fr2=sb-top-images.search&ei=UTF-
8&n=60&x=wrt#id=47&iurl=https%3A%2F%2Fduniapendidikan.co.id%2Fwp-content%2Fuploads
%2F2018%2F11%2Falat-reproduksi-wanita.jpg&action=click