Anda di halaman 1dari 7

Mut’ah

Mut’ah berasal dari Bahasa Arab yang secara harfiah, artinya barang yang sedikit atau barang
yang menyenangkan. Kata Mut’ah sering dipergunakan untuk sebutan bagi suatu atau uanag
pemberian suami kepada istrinya yang ditalak sebelum dicampuri terlebih dahulu sesuai dengan
kesanggupan dan keikhlasan suami, sebagaimana firman Allah Swt dalam surah al-Baqarah
(2):236 dan al-Ahzab (33):49. Nikah Mut’ah bisa disebut juga dengan nikah muwaqqat
(perkawinan sementara yang dibatasi waktunya) dan nikah munqathi’ (perkawinan yang
terputus). Nikah mut’ah adalah seseorang menikah dengan seorang wanita dalam batas waktu
tertentu, dengan sesuatu pemberian kepadanya, berupa harga, makanan, pakaian atau yang lain
nya. Jika masanya telah selesai, maka dengan sendirinya mereka berpisah tanpa kata thalak dan
tanpa warisan intinya. Nikah mut’ah berarti pernikahan yang hanya untuk waktu tertentu. Ibnu
Hajar mendefinisikan nikah mut’ah adalah menikahi wanita sampai waktu tertentu, jika waktu
itu habis terjadilah perpisahan, nikah mut’ah dalam pandangan para pengikut Ahlulbait, adalah
sebagaimana definisi diatas.

Bentuk pernikahan ini tidak mensyaratkan adanya wali atau saksi. Mahar dianggap sebagai
servis jasa pelayanan untuk jangka waktu tertentu yang disepakati, biasanya tidak lebih dari
empat puluh lima hari, tidak ada nafkah, tidak saling mewariskan dan tidak ada iddah kecuali
istibra’ (yaitu satu hari haid bagi wanita monopouse, dua kali haid bagi wanita biasa, dan empat
bulan sepuluh hari bagi yang suaminya meninggal), dan tidak ada nasab kecuali disyariatkan.
Rukun nikah mut’ah menurut Syiah Imamiah, adalah (1) Shighat, seperti ucapan: ”aku nikahi
emgkau”, atau “aku mut’ahkan engkau”; (2) Calon istri, dan diutamakan dari wanita Muslimah
atau kitabiah; (3) Mahar, dengan syarat saling rela sekalipun hanya satu genggam gandum; (4)
Jangka waktu tertentu. Perkawinan model ini identic dengan perilaku prostitusi yang dikemas
dengan akad, untuk memenuhi Hasrat biologis mengabaikan konsekuensi hukum.

1. Dasar Hukum Mut’ah

Mempercayai bahwa nikah mut’ah pernah disyariatkan oleh Rasulullahh Muhammad Saw
tidaklah keliru, baik dilandasi nash Al-Quran maupun hadis Nabi. Namun demikian adanya hadis
tentang di perbolehkan nya atau dilarang nya nikah mut’ah, menyikapinya dengan metode jamak
(menggabungkan antara riwayat-riwayat). Bahkan telah berlaku pembolehan kemudian
pelarangan beberapa kali. Diperbolehkan sebelum khibar, lalu diharamkan, kemudian
diperbolehkan tiga hari penaklukan Mekkah, kemudian diharamkan hingga kiamat. Demikian
menunjukkan syari’at tetntang nikah mut’ah telah dihapus. Ibnu Katsir menegaskan, bahwa
“Keumuman Q.S Al-Nisa’ (4):24 boleh dijadikan dalil nikah, dan tidak diragukan lagi bahwa
sesungguhnya nikah mut’ah itu ditetapkan dalam syariat pada awal islam, kemudian setelah itu
di Mansukh-kan”, sebagaimana pendapat jumhur ulama berpendapat sesungguhnya yang
dimaksud dengan ayat ini ialah nikah ,,ut’ah yang berlaku diawal masa islam. Pendapat ini
dikuatkan oleh qira’at Ubai bin Ka’ab, Ibnu Abbas dan Said bin Jubair.

Terdapat tiga hadis yang dinyatakan shahih, yaitu saat perang Khaibar (Muharram 7 H),
penaklukan kota Mekkah (Ramadhan 8 H), perang Awthas yang dikenal dengan perang Hunain
(Syawal 8 H). Riwayat-riwayat tersebut sebagai berikut:

Riwayat pengharaman nikah mut’ah pada masa perang Khaibar:

“Dari Muhammad bin Ali (yang dikenal dengan sebutan Muhammad bin Hnanfiah), bahwa ayah
nya Ali (bin Abu Thalib) berkata kepada Ibnu Abbas ra: “Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi
wa sallam melarang mut’ah dan daging keledai pada masa Khaibar.”

Riwayat pengharaman nikah mut’ah pada penaklukan kota Mekkah, yaitu Riwayat dari
Rabi’ bin Sabrah Radhiyallahu alaihi wa sallam pada penaklukan kota Mekkah. Kami tinggal
lima belas hari. Kemudian, oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kami diperbolehkan
untuk mut’ah. Akupun keluar Bersama seseorang dari kabilahku. (Kebetulan) aku mempunyai
sedikit ketampanan sedangkan kerabatku tersebut lebih mendekati jelek. Setiap kami membawa
sal, salku jelek, sedangkan sal anak pamanku tersebut baru dan mengkilap. Ketika kami sampai
di kaki Mekkah atau di puncaknya, kami bertemu dengan seseorang gadis perawan, panjang
lehernya semampai. Kami berkata, “Apakah engkau mau bermut’ah dengan salah satu dari
kami?” Dia berkata, “Dengan apa kalian bayar?” Maka kami membentangkan sal nya. Lalu
wanita itu melihat kami, dan sahabatku itu melihat ketiaknya dan berkata “Sesungguhnya sal dia
jelek, sedangkan sal ku baru, mengkilap.” Dia berucap, “salnya tidak apa-apa,” dua kali atau tiga.
Lalu aku melakukan mut’ah dengan nya. Belum usai aku keluar dari Mekkah, kiranya Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengharamkannya.
Sedangkan Riwayat pengharaman mut’ah pada perang Awthas atau Hunain, yaitu hadis
Salamah bin Akwa’. Berhubung perang Awthas dan tahun penaklukan Mekkah pada tahun yang
sama, maka Sebagian ulama menjadikan nya satu waktu, yaitu pada penaklukan Mekkah.

Milkul Yamin

a) Terminologi Milkul Yamin

Menurut Abu bakar Jabir Al-Jaza’ir, perbudakan sudah di kenal manusia sejak beribu-
ribu tahun yang lalu, dan telah dijumpai dikalangan bangsa-bangsa kuno seperti Mesir, Cina,
India, Yunani dan Romawi, dan juga disebutkan dalam kitab-kitab samawi seperti Taurat dan
Injil. Budak dalam islam disebutkan dengan istilah: ‘abd, amat, raqabah, riqab, dan ma
malakat aimanukum (milkul yamin).

‘Abd yang dimaknai dengan al-raqiq (budak/hamba), lafadz amat bermakna al-jariyah
dimaknai dengan al-‘abdu al-mamluk (hamba sahaya/budak). Quraish Shihab menjelaskan
bahwa pada dasarnya lafadz riqab bermakna leher, namun berkembang menjadi bermakna
hamba sahaya dikarenakan banyak hamba sahaya yang ditawan saat peperangan, tangan
mereka dibelenggu dengan mengikatnya ke leher mereka, atau budak yang berada dalam
belenggu tuan nya. Lafadz-lafadz tersebut terlihat dengan jelas memiliki makna yang tertuju
pada term perbudakan. Milk yamin secara harfiyah artinya yang dikuasai oleh tangan kanan.
Budak di istilahkan milkul yamin, artinya kepemilikan yang kuat terhadap budak-budak,
karena mereka berada dibawah kekuasaan tuannya secara penuh, atau orang yang berada
dalam kekuasaan seseorang.

Penyebab yang melatarbelakangi terjadinya perbudakan adalah :

1) Perang
2) Kekafuran
3) Perampokan dan pembajakan

Menurut Abdullah Bin Abdurrahman Ali Bassam, Islam menjamin kemerdekaan


manusia. Mereka tidak bisa menjadi budak kecuali dengan satu sebab saja, yaitu oramg kafir
yang menjadi tawanan dalam pertempuran. Dan panglima perang memiliki kewajibab
memberikan perlakuan yang tepat terhadap para tawanan, bisa dijadikan budak, meminta
tebusan atau melepaskan mereka tanpa tebusan. Itu semua dipilih dengan tetep melihat
kemaslahatan umum. Inilah satu-satunya sebab perbudakan didalam islam berdasarkan dalil
naqli yang shahih. Karena sesungguhnya orang yang berdiri menghalangi aqidah dan jalan
dakwah, pada hakikatnya ingin mengikat dan membatasi kemerdekaan serta ingin
memerangi, maka balasan yang tepat adalah ia harus ditahan dan dijadikan budak.

Tawanan perang tidak otomatis menjadi budak, tetapi terdapat beberapa pilihan
memperlakukan nya, yaitu:

1) Menjadi budak
2) Bebas dengan tebusan bahkan bisa bebas tanpa syarat
3) Eksekusi hukuman mati, khususnya laki-laki dewasa saja.

Menurut M. Khudhari, perbudakan dalam kontruksi historis hukum islam bahwa sebelum
islam datang sistem perbudakan telah berlangsung dan melembaga di tengah masyarakat Arab
ketika itu. Ketika islam datang, sistem perbudakan sebagai salah satu bentuk kepemilikan yang
sah itu dibiarkan sementara waktu.

Setelah sekian waktu membiarkan budak sebagai barang kepemilikan yang sah, islam
mulai melancarkan semangat pembebasan dan penghapusan atas sistem perbudakan.
Penghapusan atas sistem perbudakan bagi masyarakat Arab dan masyarakat dunia Ketika itu
menyentak kesadaran kemanusiaan. Pertama, Pembebasan budak merupakan kewajiban bagi
manusia yang ingin bersyukur kepada Allah. Pembebasan budak ini pertama kali diwajibkan
pada Surah Al-Balad, (90):11-18.

Kedua, pada Surah al-Nisa (4) ayat 92, pembebasan budak merupakan sanksi atas
kejahatan pembunuhan tanpa sengaja. Adapun pada Surah Al-Mujadalah, (58), pembebasan
budak merupakan jalan yang harus ditempuh seorang suami atas pelanggaran zhihar terhadap
istrinya. Zhihar (punggung) adalah penghinaan verbal suami terhadap istri dengan mengatakan,
“Wajahmu seperti punggung.”

Ketiga, jalan lain pembebasan budak adalah delapan distribusi belanja zakat yang salah
satunya dialokasikan untuk pembebasan budak. Keempat, semangat pembebasan budak juga
tercantum dalam Surah Al-Nur (24) ayat 33. Pada Surah An-Nur ini, islam menuntut umat islam
untuk memudahkan izin dan membantu budak-budak mukatab yang menginginkan kitabah untuk
menunaikan kewajiban pembebasan nya. Mukatab atau kitabah adalah budak yang
menginginkan kebebasan kebesan dengan menebus sejumlah uang tertentu kepada majikan.

Semangat pembebasan budak yang disuarakan Al-Quran merupakan akhlak islam sebagai
puncak peradaban. Milkul yamin tak serta merta memperbolehkan hubungan intim, Terdapat
ketentuan lain, mulai dari asal-usul kepemilikan budak tersebut hingga disaat budak tersebut
melahirkan anak dari tuan nya. Pertama, kebolehan seorang tuan berhungan intim dengan
seorang budaknya, disyaratkan budak tersebut adalah milik penuh bukan milik Bersama orang
lain (kongsi).

Kedua, keberadaan budak perempuan beragama islam atau kitabiyyah (Yahudi dan
Nasrani) jika tuan yang memilikinya adalah muslim. Ketiga, salah satu rahasia dibalik kebolehan
berhubungan intim dengan budak perempuan pada zaman dahulu itu adalah untuk menjaga
kehormatan pemilik budak.

Keempat, menggaulinya menyebabkan kemahraman; Kelima, tidak ada hubungan haram


dengan tuan nya, baik haram muabbad maupun mahram muaqqad; Keenam, budak perempuan
itu bukan pula istri dari orang lain, tidak sedang menjalani masa iddah, tidak sedang masa istibra
dari kehamilan (membuktikan kosongnya Rahim); Ketujuh, jika memiliki dua budak perempuan
melalui akad milkul yamin, maka si tuan mereka boleh memilih salah satunya. Tidak boleh
kedua-duanya,

Demikianlah sekilas gambaran milkul yamin yang membolehkan hubungan intim tanpa
ikatan pernikahan (akad nikah), tapi ikatan milik (akad milik) yang statusnya lebih kuat. Terkait
dengan milkul yamin ini, kitapun tak bisa melupakan sejarah bahwa praktik perbudakan itu
memang pernah pernah ada di muka bumi, bahkan diakui dalam syariat kita. Islam sendiri tak
mungkin menghapus sistem itu secara sekaligus. Namun, kita yakin bahwa Al-Quran datang
secara bertahap dengan semangat menghapus sistem itu yang tiada tara. Dalam sejarah
kemanusiaan, semangat pembebasan budak ini merupakan angin segar kemanusiaan yang
memberikan perubahan pada sistem kepemilikan, human traffic-king, eksploitasi oleh manusia
atas manusia, dan tawanan perang.
2. Milkul Yamin Masa Kini

Perbudakan pada masa kini berbeda dengan perbudakan pada zaman dulu. Jika dahulu
seorang budak dijajah atau di eksploitasi fisiknya maka bentuk perbentukan pada saat ini adalah
Ketika seseorang ataupun bangsa yang dijajah oleh kolonialis baik itu dari cara berpikir,
ekonomi, kekuasaan maupun kedaulatannya. Pendapat ini juga disampaikan oleh Rasyid Ridha
dan Yusuf Qardawi. Menurut Hamka menguraikan bahwa Q.S. al-Ma’arij (70): 30 adalah
menjelaskan tentang menggauli istri atau hamba sahaya miliknya. Mendasarkan pada ilmu fiqh,
Hamka mengatakan bahwa tawanan perang karena agama, bukan sembarang budak. Budak ini
boleh di gauli tanpa pernikahan.

Milk al-yamin berhak memperoleh keadilan berdasarkan ajaran agama islam. Ia harus di
perlakukan dengan baik dan penuh kasih sayang, sehingga dapat mengangkat status sosialnya.
Milkul yamin tidak dapat dianalogikan dengan hubungan bebas di luar nikah yang tidak
memiliki konsekuensi tanggung jawab secara hukum.

Di antara misi islam, adalah membawa kepada kesucian, tazkiatu nafs. Tugas kenabian
adalah membawa manusia pada kehidupan yang suci. Semua sistemnya, baik peribadatan,
pernikahan, waris, bahkan sistem sosialnya dalam rangka membawa manusia kepada kehidupan
yang suci. Sehingga nabi Ketika berhadapan dengan pemuda yang secara naluri itu memiliki
gejolakyang tinggi diminta untuk menikah bila mampu. Bagi yang belum mampu dianjurkan
untuk berpuasa sebaga pengebiri nafsu-nya. Jadi, kehadiran islam menghembuskan angin segar
pemulihan martabat kemanusiaan bagi para budak. Secara tegas islam menyerukan kepada para
tuan untuk menghargai budak layaknya manusia. Moralitas islam inilah yang mendorong para
pakar hukum islam menciptakan aturan tentang perbudakan.

Banyak ayat yang menunjukan spirit islam dalam memberantas sistem perbudakan, di
antaranya ayat tentang pendistribusian zakat, yang salah satunya diperuntukan untuk
memerdekakan budak. Belum lagi dalam dimensi hukum lain. Kafarat akibat salah membunuh
atau bersenggama siang hari di bulan ramadan, misalnya, di antaranya dendanya adalah
memerdekakan budak. Bahkan hubungan intim sendiri antara seorag tuan dan budak-nya,
kemudian si budak melahirkan anak, anak itu harus di memerdekakan, serta si budak sendiri di
merdekakan setelah kematian tuannya. Islam juga memberikan hak seseorang memperoleh
warisan dari budak yang telah ia merdekakan.