Anda di halaman 1dari 19

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Analytical Hierarchy Process (AHP)


Analitycal Hierarchy Process (AHP) Adalah metode untuk memecahkan
suatu situasi yang komplek tidak terstruktur kedalam beberapa komponen
dalam susunan yang hirarki, dengan memberi nilai subjektif tentang
pentingnya setiap variabel secara relatif, dan menetapkan variabel mana yang
memiliki prioritas paling tinggi guna mempengaruhi hasil pada situasi
tersebut.
Proses pengambilan keputusan pada dasarnya adalah memilih suatu
alternatif yang terbaik. Seperti melakukan penstrukturan persoalan, penentuan
alternatif-alternatif, penenetapan nilai kemungkinan untuk variabel aleatori,
penetap nilai, persyaratan preferensi terhadap waktu, dan spesifikasi atas
resiko. Betapapun melebarnya alternatif yang dapat ditetapkan maupun
terperincinya penjajagan nilai kemungkinan, keterbatasan yang tetap
melingkupi adalah dasar pembandingan berbentuk suatu kriteria yang
tunggal.
Peralatan utama Analitycal Hierarchy Process (AHP) adalah memiliki
sebuah hirarki fungsional dengan input utamanya persepsi manusia. Dengan
hirarki, suatu masalah kompleks dan tidak terstruktur dipecahkan ke dalam
kelomok-kelompoknya dan diatur menjadi suatu bentuk hirarki.

AHP sering digunakan sebagai metode pemecahan masalah dibanding


dengan metode yang lain karena alasan-alasan sebagai berikut :
1. Struktur yang berhirarki, sebagai konsekuesi dari kriteria yang dipilih,
sampai pada subkriteria yang paling dalam.
2. Memperhitungkan validitas sampai dengan batas toleransi
inkonsistensi berbagai kriteria dan alternatif yang dipilih oleh
pengambil keputusan.

1
3. Memperhitungkan daya tahan output analisis sensitivitas pengambilan
keputusan.

B. Prinsip Kerja AHP


Dalam menyelesaikan persoalan dengan Metode AHP, ada beberapa prinsip
dasar yang harus dipahami :
a) Decomposition
Prinsip ini merupakan pemecahan persoalan-persoalan yang utuh menjadi
unsur-unsurnya ke bentuk hirarki proses pengambilan keputusan dimana
setiap unsur atau elemen saling berhubungan.
b) Comparative judgement
Prinsip ini memberikan penilaian tentang kepentingan relatif dua elemen
pada suatu tingkat tertentu dalam kaitannya dengan tingkat yang di
atasnya. Penilaian ini merupakan inti dari penggunaan metode AHP.
Penilaian ini dapat disajikan dalam bentuk matriks yang disebut matriks
pairwis ecomparison yaitu matriks perbandingan berpasangan yang
memuat tingkat preferensi beberapa alternatif untuk kriteri
c) Synthesis of priority
Pada prinsip ini menyajikan matriks pairwise comparison yang kemudian
dicari eigen vektornya untuk mendapatkan localpriority. Karena matriks
pairwise comparison terdapat pada setiap tingkat, maka untuk
mendapatkan global priorty dapat dilakukan sintesa diantara local priority.
d) Logical consistency
Merupakan karakteristik yang paling penting. Hal ini dapat dicapai
dengan mengagresikan seluruh vektor eigen yang diperoleh dari tingkatan
hirarki dan selanjutnya diperoleh suatu vektor composite tertimbang yang
menghasilkan urutan pengambilan keputusan.

AHP didasarkan atas 3 aksioma utama yaitu :


1. Aksioma resiprokal.
Aksioma ini menyatakan jika PC (EA,EB) adalah sebuah
perbandingan berpasangan antara elemen A dan elemen B, dengan

2
memperhitungkan C sebagai element parent, menunjukkan berapa kali
lebih banyak properti yang dimiliki elemen A terhdap B, maka PC
(EB,EA)=1 / PC (EA,EB). Misalnya jika A 5 kali lebih besar daripada
B, maka B=1/5 A.
2. Aksioma Homogenitas
Aksioma ini menyatakan bahwa elemn yang dibandingkan tidak
berbeda terlalu jauh. Jika perbedaan terlalu besar, hasil yang
didapakan mengandung nilai kesalahn yang tinggi. Ketika hirarki
dibangun, kita harus berusaha mengatur elemen-elemen agar elemen
tersebut tidak menghasilkan hasi dengan akurasi rendah dan
inkosistensi tinggi.
3. Aksioma ketergantungan.
Aksioma ini menyatakan bahwa prioritas elemen dalam hirarki tidak
bergantung pada elemen leve di bawahnya. Aksioma ini membuat kita
bisa menerapkan prinsip komposisi hirarki.

C. Kerkurangan dan Kelebihan Metode AHP


Adapun Kelebihan dan Kelemahan dari AHP dalam system analisis nya.
 Kelebihan-kelebihan analisis ini antara lain :
1. Kesatuan (Unity)
AHP membuat permasalahan yang luas dan tidak terstruktur menjadi
suatu model yang fleksibel dan mudah dipahami.
2. Kompleksitas (Complexity)
AHP memecahkan permasalahan yang kompleks melalui pendekatan
sistem dan pengintegrasian secara deduktif.
3. Saling Ketergantungan (Inter Dependence)
AHP dapat digunakan pada elemen-elemen sistem yang saling bebas dan
tidak memerlukan hubungan linier.
4. Struktur Hirarki (Hierarchy Structuring)
AHP mewakili pemikiran alamiah yang cenderung mengelompokkan
elemen sistem ke level-level yang berbeda dari masing-masing level berisi
elemen yang serupa.

3
5. Pengukuran (Measurement)
AHP menyediakan skala pengukuran dan metode untuk mendapatkan
prioritas.
6. Konsistensi (Consistency)
AHP mempertimbangkan konsistensi logis dalam penilaian yang
digunakan untuk menentukan prioritas.
7. Sintesis (Synthesis)
AHP mengarah pada perkiraan keseluruhan mengenai seberapa
diinginkannya masing-masing alternatif.
8. Trade Off
AHP mempertimbangkan prioritas relatif faktor-faktor pada sistem
sehingga orang mampu memilih altenatif terbaik berdasarkan tujuan
mereka.
9. Penilaian dan Konsensus (Judgement and Consensus)
AHP tidak mengharuskan adanya suatu konsensus, tapi menggabungkan
hasil penilaian yang berbeda.
10. Pengulangan Proses (Process Repetition)
AHP mampu membuat orang menyaring definisi dari suatu permasalahan
dan mengembangkan penilaian serta pengertian mereka melalui proses
pengulangan.

 Kelemahan – kelemahan analisis ini antara lain :


1. Ketergantungan model AHP pada input utamanya. Input utama ini
berupa persepsi seorang ahli sehingga dalam hal ini melibatkan
subyektifitas sang ahli selain itu juga model menjadi tidak berarti jika
ahli tersebut memberikan penilaian yang keliru.
2. Metode AHP ini hanya metode matematis tanpa ada pengujian secara
statistik sehingga tidak ada batas kepercayaan dari kebenaran model
yang terbentuk

D. Tahapan AHP
Tahapan demi tahapan dalam proses AHO dimodelkan sebagai berikut :

4
1) Mendefenisikan masalah dan menentukan solusi yang diinginkan.
Dalam tahap ini kita berusaha menentukan masalah yang akan kita
pecahkan secara jelas, detail dan mudah dipahami. Dari masalah yang ada
kita coba tentukan solusi yang mungkin cocok bagi masalah tersebut.
Solusi dari masalah mungkin berjumlah lebih dari satu. Solusi tersebut
nantinya kita kembangkan lebih lanjut dalam tahap berikutnya.

2) Membuat struktur hirarki yang diawali dengan tujuan umum


dilanjutkan dengan subtujuan-subtujuan, kriteria dan kemungkinan
alternatif-alternatif pada tingkatan kriteria yang paling bawah.
Setelah menyusun tujuan utama sebagai level teratas akan disusun level
hirarki yang berada di bawahnya yaitu kriteria-kriteria yang cocok untuk
mempertimbangkan atau menilai alternatif yang kita berikan dan
menentukan alternatif tersebut. Tiap kriteria mempunyai intensitas yang
berbeda-beda. Hirarki dilanjutkan dengan subkriteria (jika mungkin
diperlukan).

3) Membuat matriks perbandingan berpasangan yang menggambarkan


kontribusi relative atau pengaruh setiap elemen terhadap masing-
masing tujuan atau kriteria yang setingkat diatasnya.
Perbandingan dilakukan berdasarkan judgement dari pembuat keputusan
dengan menilai tingkat kepentingan suatu elemen dibandingkan elemen
lainnya. Matriks yang digunakan bersifat sederhana, memiliki kedudukan
kuat untuk kerangka konsistensi, mendapatkan informasi lain yang
mungkin dibutuhkan dengan semua perbandingan yang mungkin dan
mampu menganalisis kepekaan prioritas secara keseluruhan untuk
perubahan pertimbangan. Pendekatan dengan matriks mencerminkan
aspek ganda dalam prioritas yaitu mendominasi dan didominasi.
Perbandingan dilakukan berdasarkan judgment dari pengambil keputusan
dengan menilai tingkat kepentingan suatu elemen dibandingkan elemen
lainnya. Untuk memulai proses perbandingan berpasangan dipilih sebuah
kriteria dari level paling atas hirarki misalnya K dan kemudian dari level

5
di bawahnya diambil elemen yang akan dibandingkan misalnya
E1,E2,E3,E4,E5.

4) Melakukan perbandingan berpasangan sehingga diperoleh nilai


judgement seluruhnya yaitu sebanyak n x [(n-1)/2] buah dengan n
adalah banyaknya elemen yang dibandingkan.
Hasil perbandingan dari masing-masing elemen akan berupa angka dari 1
sampai 9 yang menunjukkan perbandingan tingkat kepentingan suatu
elemen. Apabila suatu elemen dalam matriks dibandingkan dengan dirinya
sendiri maka hasil perbandingan diberi nilai 1. Skala 9 telah terbukti dapat
diterima dan bisa membedakan intensitas antar elemen. Hasil
perbandingan tersebut diisikan pada sel yang bersesuaian dengan elemen
yang dibandingkan. Skala perbandingan perbandingan berpasangan dan
maknanya yang diperkenalkan oleh Saaty bisa dilihat di bawah.
Intensitas Kepentingan
1 = Kedua elemen sama pentingnya, Dua elemen mempunyai pengaruh
yang sama besar
3 = Elemen yang satu sedikit lebih penting daripada elemen yanga lainnya,
Pengalaman dan penilaian sedikit menyokong satu elemen dibandingkan
elemen yang lainnya
5 = Elemen yang satu lebih penting daripada yang lainnya, Pengalaman
dan penilaian sangat kuat menyokong satu elemen dibandingkan elemen
yang lainnya
7 = Satu elemen jelas lebih mutlak penting daripada elemen lainnya, Satu
elemen yang kuat disokong dan dominan terlihat dalam praktek.
9 = Satu elemen mutlak penting daripada elemen lainnya, Bukti yang
mendukung elemen yang satu terhadap elemen lain memeliki tingkat
penegasan tertinggi yang mungkin menguatkan.
2,4,6,8 = Nilai-nilai antara dua nilai pertimbangan-pertimbangan yang
berdekatan, Nilai ini diberikan bila ada dua kompromi di antara 2 pilihan
Kebalikan = Jika untuk aktivitas i mendapat satu angka dibanding dengan
aktivitas j , maka j mempunyai nilai kebalikannya dibanding dengan i.

6
5) Menghitung nilai eigen dan menguji konsistensinya.
Jika tidak konsisten maka pengambilan data diulangi.

6) Mengulangi langkah c, d, dan e untuk seluruh tingkat hirarki.

7) Menghitung vektor eigen dari setiap matriks perbandingan


berpasangan.
Nilai vektor eigen merupakan bobot dari setiap elemen. Langkah ini
dilakukan untuk mensintesis judgement dalam penentuan prioritas elemen-
elemen pada tingkat hirarki terendah sampai pencapaian tujuan.

8) Memeriksa konsistensi hirarki. Jika nilainya lebih dari 10% atau 0,1
maka penilaian data harus diperbaiki.
Yang diukur dalam AHP adalah rasio konsistensi dengan melihat index
konsistensi. Konsistensi yang diharapkan adalah yang mendekati
sempurna agar menghasilkan keputusan yang mendekati valid. Walaupun
sulit untuk mencapai yang sempurna, rasio konsistensi diharapkan kurang
dari atau sama dengan 10 %.

E. Aplikasi AHP
Beberapa contoh aplikasi AHP adalah sebagai berikut :
1. Membuat suatu set alternatif;
2. Perencanaan
3. Menentukan prioritas;
4. Memilih kebijakan terbaik setelah menemukan satu set alternatif;
5. Alokasi sumber daya
6. Menentukan kebutuhan/persyaratan;
7. Memprediksi outcome;
8. Merancang sistem;
9. Mengukur performa;
10. Memastikan stabilitas sistem;

7
11. Optimasi;
12. Penyelesaian konflik

F. Contoh Kasus yang membahas tentang Analytical Hierarchy Process


(AHP)

Dari hasil survei ada empat mahasiswa Politeknik Negeri Tanah Laut yang
saat ini bertempat tinggal (kost) tidak jauh dari kampus. Kami ingin
mengetahui  tempat tinggal(kost) mana yang sangat diminati.
a. Alternatif :
1. Gg. Mansyur 
2. Gg. Anggrek
3. Gg. Kamaratih
4. Ambungan
b. Kriteria :
1. Jarak dari kos ke kampus 
2. Harga pembayaran kos per bulan
3. Fasilitas yang ada dikos
4. Keamanan di sekitar kos
c. Penyelesaian :
Buatlah matriks perbandingan berpasangan untuk setiap alternatif
pada setiap  kriteria dengan menggunakan nilai 1-9 

Keterangan :

Mij =besarnya nilai pemilihan alternatif i daripada  alternatif j pada

kriteria yang diberikan. 

1. Langkah 1: Matriks Perbandingan

Banyak = Jumlah kriteria (n) + 1

8
maka , banyak matriks perbandingan nya 4 + 1 = 5 

i. Kriteria : Kriteria
Penjelasan : Pada tabel ini kita membandingkan antara kriteria dan
kriteria,dimana pada seluruh kriteria tersebut yang menurut kita sangat
penting untuk memilih sebuah kos.

ii. Kriteria Jarak dari kos ke kampus


Penjelasan : Pada tabel ini kita membandingkan antara kriteria jarak dari
kos ke kampus,dimana pada pada perbandingan ini kita dapat mengetahui
jarak kos mana yang paling dekat dengan kampus.

iii. Kriteria Harga pembayaran kos per bulan


Penjelasan : Pada tabel ini kita membandingkan antara kriteria harga
pembayaran kos perbulan, dimana pada pada perbandingan ini kita dapat
mengetahui harga pembayaran kos yang paling murah.

9
iv. Kriteria Fasilitas yang ada dikos
Penjelasan : Pada tabel ini kita membandingkan antara kriteria fasilitas
yang ada dikos, dimana pada pada perbandingan ini kita dapat mengetahui
daerah mana yang fasilitas nya lengkap. 

v. Kriteria Keamanan di sekitar kos


Penjelasan : Pada tabel ini kita membandingkan antara kriteria keamanan
di sekitar kos,dimana pada pada perbandingan ini kita dapat mengetahui
kos mana yang lebih aman.

10
2. Normalisasi matriks dengan cara :
a. Hitung jumlah setiap kolom.
b. Untuk setiap elemen matriks,bagilah dengan jumlah kolom
yang bersesuaian.

Score (si) untuk setiap alternatif adalah rata-rata dari setiap baris dalam matriks
yang telah dinormalisasi.

Langkah 2: Normalisasi dan Skoring

a. Kriteria : Kriteria  

11
 

ii. Jarak dari kos ke kampus 

12
    iii.        Harga pembayaran kos per bulan  

13
14
    iv.        Fasilitas yang ada dikos  

15
v.        Fasilitas yang ada dikos  

16
3.      Lakukan pengecekan untuk memastikan bahwa pengambil keputusan
telah konsisten dalam pembuatan perbandingan.

                  Ukuran konsistensi :  

17
Bila nilai CR lebih kecil dari 10%, ketidak konsistensian pendapat masih
dianggap dapat diterima.

4.      Untuk setiap alternatif, hitung total skor dengan rumus :

Keterangan :

·         wj = bobot untuk kriteria j

·         rij = skor untuk alternatif i pada kriteria j

·         Langkah 4: Nilai Preferensi

    Didapat dari hasil skoring pada normalisasi antara kriteri dengan kriteria.

18
Langkah 5: Kesimpulan

Kost yang sangat diminati terletak di Gg. Mansyur.

19