Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH KIMIA KLINIK

ANALISA SPERMA

DI SUSUN OLEH:
RIZKA RACHMA PUTRI
11180706N
BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Analisis semen adalah pemeriksaan terhadap semen (spermatozoa dan bahan bahan lain yg ada
di dalamnya) darri seorang laki-laki. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui apakah
semennya normal atau tidak sehingga dapat terjadi fertilisasi serta mengetahui jika ada
kelainan yang dialami oleh sebuah sperma. Ada bermacam macam kelainan yang dialami oleh
sebuah spermatozoa .Secara umum sebuah spermatozoa terdiri dari kepala, leher dan ekor.
Apabila terjadi kelainan dari salah satu bagian sperma tersebut maka tidak akan terjadi
pembuahan

Tujuan
Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui apakah sperma yang kita teliti dalam keadaan
normal atu tidak secara keseluruhan .
BAB II
TEORI
SEMEN / MANI
 Lendir yang keluar dari genitalia jantan waktu eyakulasi disebut : SEMEN ( MANI ) yang terdiri
dari :
1. Bagian padat : Spermatozoa
2. Bagian cair : Plasma semen ( air mani )
 Spermatozoa dihasilkan oleh testis, sedangkan plasma semen dihasilkan oleh ampula vas
deferens dan kelenjar-kelenjar prostat, vesicula seminalis, cowper dan littre.

Bagian
sperma :
1. Kepal
a
2. Ekor :
a. Leher
Gambar 1 : Bagian-bagian sperma b. Bagian
Bagian – bagian Sperma manusia
1. Kepala
- Lonjong (atas) &
piriformis (samping)
- Panjang : 4 – 5 µm
- Lebar : 2,5 – 3,5 µm
- Berisi inti
- Dua pertiga bagian depan
inti diselaputi tutup
akrosom è berisi enzim utk menembus ovum
2. Ekor
- Panjang : 55 µm
- Tebal : 1 µm
a. Leher
b. Bag tengah (midpiece)
memiliki axonema &
mitokondria
c. Bag. Utama (principle Piece)
d. Bag. Ujung (end piece)

CARA MEMPEROLEH SPERMA


1. Masturbasi = Onani
2. Koitus interuptus = senggama terputus
3. Koitus kondomatosus = senggana dgn menggunanakan kondom
4. Vibrator
5. Refluks pasca senggama

Vibrator
 Alat yg mempunyai berbagai ukuran, terbuat dari plastik dengan permukaan halus.
 Dapat digerakkan dgn batterai yg menghasilkan getaran lembut.
 Alat ini kalau ditempelkan pada glans penis è menimbulkan rasa seperti masturbasi dan
dengan fibrasi yang cukup lama diharapkan sperma akan keluar.

Refluks pasca senggana


Yaitu dengan memeriksa sperma yang masuk ke vagina. Cara ini tidak dianjurkan karena
dipergunakan cairan fisiologis untuk pembilasan, dan sperma tercampur dengan sekret vagina,
sehingga akan didapatkan hasil yg tidak mencerminkan keadaan sesungguhnya.
Analisis semen adalah pemeriksaan terhadap semen ( spermatozoa dan bahan-bahan
lain yang ada di dalamnya ) dari seorang laki-laki. Apakah semenya normal atau tidak untuk
dapat membuahi sel telur oleh spermatozoa, sehingga terjadi fertilisasi.

PEMERIKSAAN MAKROSKOPIK SPERMA

1 Pemeriksaan Volume Sperma


Volume semen ejakulat diukur dengan menggunakan tabung pengukur dan diukur dalam ml.
Dilakukan setelah sperma mencair, cara kerja :
 Sperma ditampung seluruhnya dalam botol penampung yang bermulut lebar untuk
sekali ejakulasi
 Volume diukur dengan gelas ukur yang mempunyai skala volume 0,1 ml.
ξ Kemudian baca hasil.
 Volume normal sperma belum jelas sampai sekarang, disebabkan lain bangsa lain
volume.
 Bagi orang Indonesia volume yang normal 2 – 3 ml.
 Volume yang lebih dari 8 ml disebut Hyperspermia, Sedangkan yang kurang dari 1 ml
disebut Hypospermia.
 Hypospermia disebabkan oleh :
z Ejakulasi yang berturut-turut
z Vesica seminalis kecil ( buntu cabstuksi )
z Penampung sperma tidak sempurna
Hyperspermia disebabkan oleh :
z Kerja kelenjar prostat dan vesika seminalis terlalu giat.
z Minum obat hormon laki – laki.
Kesan volume ini menggambarkan kerja kelenjar prostat dan vesika seminalis.

2. Pemeriksaan PH Sperma
Untuk mengukur pH cukup dengan menggunakan kertas pH kecuali dalam satu penelitian
dapat digunakan pH meter.
☺Sperma yang normal pH menunjukan sifat yang agak basa yaitu 7,2 – 7,8.
☺ Pengukuran sperma harus segera dilakukan segera setelah sperma mencair karena akan
mempengaruhi pH sperma.
☺ Juga bisa karena sperma terlalu lama disimpan dan tidak segera diperiksa sehingga tidak
dihasilkan amoniak ( terinfeksi oleh kuman gram (-), mungkin juga karena kelenjar prostat
kecil, buntu, dan sebagainya.
☺ pH yang rendah terjadi karena keradangan yang kronis dari kelenjar prostat, Epididimis,
vesika seminalis atau kelenjar vesika seminalis kecil, buntu dan rusak.
3. Pemeriksaan Bau Sperma
Spermatozoa yang baru keluar mempunyai bau yang khas atau spesifik, untuk mengenal bau
sperma, seseorang harus telah mempunyai pengalaman untuk membaui sperma. Baunya
Sperma yang khas tersebut disebabkan oleh oksidasi spermin (suatu poliamin alifatik) yang
dikeluarkan oleh kelenjar prostat.
Dalam keadaan infeksi sperma berbau busuk / amis. Sacara biokimia sperma mempunyai bau
seperti klor / kaporit.

4. Pemeriksaan Warna Sperma


Memeriksa warna sperma sekaligus memeriksa kekeruhan, sperma yang normal biasanya
berwarna putih keruh seperti air kanji kadang-kadang agak keabu-abuan.
- Adanya lekosit yang disebabkan oleh infeksi traktus genitalia dapat menyebabkan warna
sperma menjadi putih kekuningan ( lekospermia ).
- Adanya perdarahan menyebabkan sperma berwarna kemerahan ( hemospermia).

5. Pemeriksaan Likuifaksi Sperma


Liquefaction dicek 20 menit setelah ejakulasi (setelah dikeluarkan).
- Bila setelah 20 menit belum homogen berarti kelenjar prostat ada gangguan (semininnya
jelek).
- Bila sperma yang baru diterima langsung encer mungkin :
Tak mempunyai coagulum oleh karena saluran pada kelenjar vesica seminalis buntu atau
memang tak mempunyai vesika seminalis.

6. Pemeriksaan Viskositas (Kekentalan) Sperma


Kekentalan atau viskositas sperma dapat diukur setelah likuifaksi sperma sempurna.
Pemeriksaan viskositas ini dapat dilakukan dengan cara :
Ï Cara subyektif
Dengan menyentuh permukaan sperma dengan pipet atau batang pengaduk, kemudian ditarik
maka akan terbentuk benang yang panjangnya 3 – 5 cm.
- Makin panjang benang yang terjadi makin tinggi viskositasnya.
Semakin kental sperma tersebut semakin besar vikositasnya. Hal ini mungkin disebabkan
karena:
- Spermatozoa terlalu banyak
- Cairannya sedikit
- Gangguan liquefaction
- Perubahan komposisi plasma sperma
- Pengaruh obat-obatan tertentu.

7.Pemeriksaan Fruktosa Kualitatif Sperma


Fruktosa sperma diproduksi oleh vesica seminalis. Bila tidak didapati fruktosa dalam sperma,
hal ini dapat disebabkan karena
- Azospermia yang disebabkan oleh agenesis vas deferens
- Bila kedua duktus ejakulatorius tersumbat
- Kelainan pada kelenjar vesika seminalis
- Bila sperma mengandung fruktosa maka campuran diatas menjadi merah coklat atau merah
jingga.
- Bila tidak ada fruktosa maka tidak menjadi perubahan warna.
Pemeriksaan fruktosa kualitatif ini harus merupakan pemeriksaan rutin pada sperma
azoospermia

8. Pemeriksaan aglutinasi
terjadinya penggumpalan sperma pada saat ejakulasi. Jika terlalu encer ketika ditampung
berarti ada gengguan pada vesikula seminalis atau duktus ejaculatorius.
Pemeriksaan Mikroskopik Sperma

MOTILITAS SPERMA
Motilitas spermatozoa merupakan salah satu factor yang penting dalammementukan
kesuburan pria, sebab motilitas spermatozoa erat hubungannya dalam proses fertilisasi.
Adanya kegagalan pada proses fertilisasi dapat disebabkan oleh adanya kendala, diantaranya
adalah rendahnya kualitas gerak spermatozoa. Hal tersebut dinyatakan pula oleh WHO, bahwa
motilitas spermatozoa yang rendah dapat menyebabkan berkurangnya terjadinya konsepsi.
Konsentrasi spermatozoa
Dihitung dgn hemasitometer.
Dgn menggunakan larutan George yg mengandung formalin 40% agar spermatozoa tdk
bergerak.
• Jumlah spermatozoa dihitung perml ejakulat & pervolume ejakulat.
• Viabilitas
Tujuan à u/ mengetahui sprmatozoa mati / tdk walawpun spermatozoa tdk bergerak.
• 4 golongan fertilitas :
Polyzoospermia = > 250 juta/ml
Normozoospermia = 20 – 200 jt/ml
Oligozoospermia = < 20 juta /ml
Azoospermia = 0 / ml
 
Morfologi spermatozoa
Tujuan à untuk melihat bentuk spermatozoa yg normal / abnormal
Dihitung jumlah spermatozoanya yang bentuknya normal maupun yg tidak normal

Kecepatan sperma
Untuk mengukur kecepatan sperma digunakan kaca obyek hemasitometer Neuauer perbesaran
400 X.
Istilah – istilah
• Azoospermia : Bilamana tak dijumpai spermatozoa dr
pemeriksaan sedimen sentrifugasi sper-
ma, yg lebih dari satu kali.

• Nekrozoospermia : Bilamana semua spermatozoa


tidak ada yg hidup.
• Kriptozoospermia : Bilamana ditemukan spermatozoa
yang tersembunyi yaitu bila ditemukan
dalam sedimen sentrifugasi sperma.
• Aspermia : Bila tak ada sperma yang keluar, meskipun
pasien merasa telah mengeluarkan
eyakulat.

HOST = Hipoosmotic Swelling Test


• Digunakan untuk melihat kebocoran Membran sel dan dihitung dalam persentase (%)
• Larutan HOST
Normal è ekor sperma panjang & melengkung
Abnormal è ekor sperma lurus & pendek
• Ekor lurus = ada kebocoran membran
Ekor lengkung = tidak ada kebocoran membran

Viabilitas
Keadaan sperma hidup atau mati. Sperma yang tidak bergerak belum tentu mati,
sehingga perlu dibedakan antara spermatozoa yang hidup dan mati. Dengan cara ini
dapat dipastikan apakah spermatozoa yang tidak motil tersebut hidup atau mati.

Autoaglutinasi
Yaitu spermatozoa yang saling melekat satu sama lain. Pelekatan dapat terjadi di bagian
kepala, leher dan ekor spermatozoa.

BAB III
ALAT DAN BAHAN
1. Alat
 Mikroskop
 Objec glass
 Deck glass
 Kertas lakmus
 Counter sperm cell
 Neubauer
 Pipet mikro
 Pipet tetes
 Tabung reaksi
 Batang kaca

2. Bahan
 Semen ejakulat
 Larutan eosin
 Alkohol 96%
 Larutan Giemsa
 Larutan George
 Larutan HOST
 Emersi oil
 Aquadestilata

BAB IV
CARA KERJA

1. Pemerikasaan makroskopik

a. Likuifaksi : semen dianalisis setelah mengalami likuifaksi, yaitu dibiarkan semen


sekitar 20 menit atau maksimal 1 jam setelah ejakulasi.
b. Warna semen : diamati dengan mata telanjang.
c. pH : setetes sperma disebarkan secara merata di atas kertas pH. Setelah 30 detik
warna daerah yang dibasahi akan merata dan kemudian dibandingkan dengan kertas
kalibrasi untuk dibaca pHnya.
d. Volume semen : diukur dengan gelas ukur atau dengan cara menyedot sluruh siapan
ke dalam suatu semprit atau pipet ukur.
e. Viskositas atau konsistensi : ditaksir dengan cara memasukkan tangkai kaca ke
dalam siapan dan kemudian mengamati benang yang terbentuk pada saat batang
tersebut dikeluarkan . panjang benang tidak bolh lebih dari 2 cm.
f. Aglutinasi spontan : melihat secara langsung keadaan semen setelah diejakulasi,
apakah terjadi penggumpalan atau tidak.
g. Bau semen : dengan mengamati secara langsung.

2. Pemeriksaan mikroskopik

a. Motilitas sperma
 Buat preparat basah dari semen
 Periksa di bawah mikroskop dengan pembesaran 400x
 Hitung dengan presentase dari 100 sperma dengan ketentuan
a. Progresif lurus : bergerak lurus ke depan lincah dan cepat.
b. Progresif lambat : bergerak ke depan tetapi lambat.
c. Gerak di tempat : gerakan tidak menunjukkan perpindahan tempat, biasanya
bergetar di tempat, berputar atau melompat.
d. Tidak bergerak : tidak ada gerakan sama sekali atau diam di tempat.
 Biasanya 4-6 lapangan pandangan yang harus diperiksa untuk mendapat seratus
sperma secara berurutan kemudian diklasifikasi sehingga menghasilkan
persentase setiap kategori motilitas.

b. Konsentrasi sperma
 Siapan yang telah diencerkan harus diaduk dengan baik dan kemudian 1 tetes
diletakkan di atas homositometer neubauer lalu ditutup dengan kaca tutup (deck
glass).
 Larutan george/JOS dengan pengenceran 1000 x (50 µL sperma + 950 µL larutan
george)
 Untuk menentukan jumlah sperma dalam semen dalam juta/mL, bagikan jumlah
sperma yang ditemukan dengan faktor konversi.
Misalnya 10 kotak : n x 10000 x faktor pengenceran (20) x2,5
Gambar 3 : Alat hemasitometer neubaeuer

Gambar 4 : Kisi-kisi pada hemasitometer Neubaeuer

c. Morfologi spermatozoa
 Teteskan semen pada objec glass dan dibuat apusan setipis mungkin dan
dibiarkan kering di udara
 Fiksasi dengan alkohol 96 % selama 15 menit
 Teteskan giemsa dan biarkan selama 20 menit
 Cuci dengan aquades mengalir dan biarkan kering
 Periksa di bawah mikroskop dengan emersi oil
 Menentukan prosentase morfologi spermatozoa : dengan membedakan bentuk
spermatozoa yang normal dan abnormal dan dihitung prosentasenya.

d. Hipoosmotic Swelling Test (HOST)


 100 mikroliter semen dicampur dalam 1 mL larutan HOST dan didiamkan selama
1 jam
 Lalu ambil setetes dan teteskan pada objek glass lalu diamati di bawah
mikroskop dengan pembesaran 400x
 Hitung 100 spermatozoa, spermatozoa yang ekornya melengkung berarti tidak
ada kebocoran membran sedangkan spermatozoa yang ekornya lurus berarti ada
kebocoran

e. Viabilitas
 Teteskan semen pada objek glass lalu tambahkan 1 tetes larutan eosin Y 0,5 %
kemudian diaduk rata
 Amati dengan pembesaran 400x
 Hitung 100 sperma :
Mati : terwarnai
Hidup : tidak terwarnai

f. Kec.rata-rata sperma
- Hemositometer Neubaeur gunakan kotak yg kecil (16 kotak)
- Stop watch

g. Jumlah sperma total


N(kons.sperma) x Volume sperma

INTERPRETASI HASIL ANALISIS SEMEN

• Untuk mengetahui hasil dari analisis semen diperlukan 3 parameter pokok :


1. Jumlah spermatozoa / ml
2. Persentase motilitas spermatozoa yang geraknya baik
3. Persentase morfologi spermatozoa normal
• Motilitas sperma dipengaruhi oleh keadaan plasma semen & spermatozoa.
• Parameter yg relevan untuk fertilitas : jumlah, motilitas & morfologi.
• Nilai parameter < normal perlu perhatian
• Hal ini untuk mengetahui yang rasional dari defisiensi sperma & untuk mencapai suatu
kehamilan bagi pasangan infertil.
Nomenklatur Jumlah sperma % Motilitas sperma % Morfologi
(Juta/ml) (%) sperma
(%)
Normozoospermia > 20 > 50 > 50

Oligozoospermia < 20 > 50 > 50

Astenozoospermia > 20 < 50 > 50

Teratozoospermia >20 > 50 < 50

Oligoastenozoospermia < 20 < 50 > 50

O.A.T. < 20 < 50 < 50

Oligoteratozoospermia < 20 > 50 < 50

Polizoospermia > 250 > 50 > 50

BAB V

PEMBAHASAN

Seperti diketahui bahwa analisis sperma dilakukan untuk mengetahui dan menentukan kualitas
sperma seseorang. Pada analisis sperma dilakukan pemeriksaan makroskopik dan mikroskopik.
Pemeriksaan makroskopik meliputi :

1. Waktu likuifaksi
Waktu likuifaksi normal adalah antara 15-20 menit dan pada pemeriksaan sperma
pendonor didapatkan waktu likuifaksinya adalah 15 menit.
2. Warna semen
Warna semen yang normal adalah berwarna putih mutiara. Jika terdapat warna
kemerahan terlihat bahwa adanya perdarahan (dijelaskan pada bab teori). Pada sperma
pendonor ditemukan warna semen putih mutiara, hal ini mengindikasikan bahwa semen
pendonor normal.

3. pH
pH normal berada dalam kisaran 7,2-7,8, dan dari hasil pengukuran pH dengan
menggunakan pH meter didapatkan pH pendonor adalah 7. Hal ini menunjukkan bahwa
pH pendonor normal.

4. Volume
Volume normal pada sperma adalah 2-6 ml. Jika volume lebih dari 8 ml disebut
hiperspermia sedangkan yang kurang dari 1 ml disebut hiospermia. Pada hasil
pemeriksaan, volume sperma pendonor adalah 1,9 ml, dan hal ini mengindikasikan
bahwa volume sperma pendonor dalam keadaan abnormal

5. Viskositas
Viskositas yang diperiksa secara subjektif menggunakan pipet atau batang pengaduk
normalnya akan terbentuk benang yang panjangnya 3-5 cm. Pada sperma pendonor
hasil viskositasnya berada dalam keadaan normal.

6. Aglutinasi Spontan
Pada sperma normal tidak ditemukan adanya aglutinasi spontan, begitu juga yang
ditemukan pada sperma pendonor (aglutinasi spontan negatif).

7. Bau Semen
Bau semen pada sperma normal adalah berbau khas seperti bunga akasia. Bau yang
tercium pada semen pendonor adalah berbau khas seperti bunga akasia.
Kemudian dilakukan juga pemeriksaan mikroskopik pada sperma yang terdiri dari :

1. Motilitas Sperma
Yang dinilai pada pemeriksaan motilitas sperma adalah sperma dengan motilitas
progressif lurus, progressif lambat, gerak ditempat, dan tidak bergerak. Pada sperma
pendonor diketahui bahwa 59% progressif lurus, 11% progressif lambat, 12% gerak
ditempat, dan 0% tidak bergerak.

2. Konsentrasi Sperma
Konsentrasi serma dalam keadaan normal adalah ≥ 20 juta/ml. Pada sperma pendonor
konsentrasi sperma nya adalah 20,5 juta/ml. Berarti sperma pendonor dalam keadaan
yg normal.

3. Jumlah Sperma Total


Jumlah sperma total normal nya adalah ≥ 40 juta/ml. Pada pemeriksaan, jumah sperma
total dari pendonor adalah 38,950 juta/ml. Hal ini dibawah normal jumlah sperma yang
normal

4. Autoaglutinasi Sperma
Pada pemeriksaan autoaglutinasi normalnya tidak ditemukan (negatif) dan pada sperma
pendonor, autoaglutinasi juga tidak digunakan (negatif).

5. Morfologi Sperma Normal


Uji morfologi sperma normal adalah ≥ 30% yang mempunyai bentuk normal, dan pada
pemeriksaan sperma pendonor morfologi sperma normalnya adalah ≥ 64%.

6. Uji HOST
Uji HOST pada sperma normal akan didapatkan hasil ≥ 60%. Pada sperma pendonor
hasil dari uji HOST nya adalah 67%.

7. Kecepatan Sperma
Kecepatan sperma normal adalah ≥ 1,5 menit. Pada pemeriksaan kecepatan sperma dari
pendonor adalah 2,25 menit.

8. Viabilitas
Viabilitas normal pada sperma adalah ≥ 70%. Pada pemeriksaan sperma pendonor,
viabilitasnya adalah 61%. Sehingga masih dapat dikatakan normal.