Anda di halaman 1dari 3

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEHAMILAN

Faktor-faktor yang mempengaruhi ibu hamil dalam melakukan pemeriksaan


antenatal care yaitu pengetahuan, pendidikan, umur, ekonomi, sumber informasi, letak
geografis

Pengetahuan adalah hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan
terhadap objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera
penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia
diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan umumnya datang dari pengalaman, juga
bisa didapat dari informasi yang disampaikan oleh guru, orangtua, buku, dan surat kabar.
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya
tindakan seseorang (Notoadmojo, 2007).

Perilaku dalam bentuk pengetahuan, yaitu pengetahuan situasi atau rangsangan dari
luar. Dalam hal pelayanan antenatal, perilaku dalam bentuk pengetahuan tersebut berbentuk
pengetahuan tentang manfaat pemeriksaan kehamilan, frekuensi periksa, gizi ibu hamil,
standar pelayanan 5T yang meliputi : pemberian tablet darah (Fe), imunisasi TT,
penimbangan berat badan, pemeriksaan tekanan darah, dan pemeriksaan tinggi fundus uteri
(Istiarti, 2000) Ketidak mengertian ibu dan keluarga terhadap pentingnya pemeriksaan
kehamilan berdampak pada ibu hamil tidak memeriksakan kehamilannya pada petugas
kesehatan. Jika pengetahuan ibu baik tentang persalinan, maka akan lebih siap dalam
menghadapi persalinan.

Peran seorang ibu hamil pada program pemeriksaan antenatal care sangatlah penting.
Karenanya suatu pemahaman tentang program ini amat diperlukan untuk kalangan tersebut.
Pemahaman ibu atau pengetahuan ibu terhadap antenatal care sangat dipengaruhi oleh
tingkat pendidikan ibu. Slamet (1999), menyebutkan semakin tinggi tingkat pendidikan atau
pengetahuan seseorang maka semakin membutuhkan pusat-pusat pelayanan kesehatan
sebagai tempat berobat bagi dirinya dan keluarganya. Dengan berpendidikan tinggi, maka
wawasan pengetahuan semakin bertambah dan semakin menyadari bahwa begitu penting
kesehatan bagi kehidupan sehingga termotivasi untuk melakukan kunjungan ke pusat-pusat
pelayanan kesehatan yang lebih baik.
Usia reproduksi optimal bagi seorang ibu adalah antara 20-35 tahun, dibawah dan
diatas usia tersebut akan meningkatkan resiko kehamilan maupun persalinan. Pertambahan
umur diikuti oleh perubahan perkembangan organorgan dalam rongga pelvic. Pada wanita
usia muda, dimana organ-organ reproduksi belum sempurna secara keseluruhan dan
kejiwaan yang belum siap menjadi seorang ibu, maka kehamilan dapat berakhir dengan
suatu keguguran, bayi berat lahir rendah (BBLR), dan dapat disertai dengan persalinan
macet. Usia hamil pertama yang ideal bagi seorang wanita adalah 20 tahun, sebab pada usia
tersebut rahim wanita sudah siap menerima kehamilan (Manuaba, 2005). Masalah yang
masih banyak dijumpai pada kehamilan dan persalinan adalah status biologis wanita yang
meliputi perkawinan usia muda kurang dari 20 tahun dan banyaknya wanita hamil pada usia
35 tahun (Manuaba, 2001). Kehamilan yang terjadi pada wanita dibawah 20 tahun
merupakan kehamilan yang banyak menghadapi risiko-risiko kesehatan sehubungan dengan
kehamilan dini dan banyak yang memiliki pengetahuan yang terbatas atau kurang percaya
diri untuk mengakses system pelayanan kesehatan yang mengakibatkan kunjungan
pelayanan antenatal yang terbatas yang berperan penting terhadap terjadinya komplikasi,
sehingga pada kelompok usia ini diperlukan motivasi untuk memeriksakan kehamilan secara
teratur (Waspodo, 2005).

Status sosial ekonomi yang rendah juga mempengaruhi perawatan antenatal berupa
kunjungan ke klinik. Kurangnya pendapatan keluarga menyebabkan berkurangnya alokasi
dana bagi ibu hamil untuk memperoleh layanan kesehatan (Wiludjeng, 2005 dalam suprapto,
2002). Oleh karena itu kelompok yang miskin mempunyai resiko yang lebih besar untuk
mengalami perdarahan antepartum dibandingkan dengan kelompok yang mampu (Royston
& Amstrong, 1994 dalam Hutapea, 2007) Melalui media cetak maupun elektronik berbagai
informasi dapat diterima oleh masyarakat sehingga seorang yang lebih sering terpapar media
massa (TV, Radio, Majalah, Pamflet, dan lain–lain) akan mempengaruhi informasi media,
berarti paparan media massa mempengaruhi tingkat pengetahuan yang dimiliki seseorang.

Letak geografis sangat menentukan terhadap pelayanan kesehatan, ditempat yang


terpencil ibu hamil sulit memeriksakan kehamilannya, hal ini karena transpontasi yang sulit
menjangkau sampai tempat terpencil (Depkes RI, 2001). Wanita hamil tidak hidup sendiri
tetapi dalam lingkungan keluarga dan budaya yang kompleks atau bermacam macam. Pada
kenyataanya peranan suami dan keluarga sangat besar bagi ibu hamil dalam mendukung
perilaku atau tindakan ibu hamil dalam memanfaatkan pelayanan kesehatan. Teori Snehendu
B. Kar (Notoatmodjo, 2003) menyimpulkan bahwa perilaku kesehatan seseorang ditentukan
antara lain oleh ada atau tidaknya dukungan masyarakat sekitarnya (social support). Orang
yang tinggal dilingkungan yang menjunjung tinggi aspek kesehatan akan lebih antusias
dalam menjaga kesehatannya. Sebaliknya mereka yang tinggal dilingkungan dengan pola
hidup tidak sehat/tidak memperhatikan kesehatan akan cenderung tidak perduli dengan
pencegahan penyakit atau pemeriksan kesehatan secara teratur. Derajat kesehatan ibu dan
anak perlu ditingkatkan, maka dalam upaya perbaikannya perlu pendekatan-pendekatan
yang dilakukan secara holistik dan integratif yang tidak hanya terbatas pada bidang
kesehatan secara medis saja, tetapi juga ekonomi, pendidikan dan sosial budaya(Maas,2007).
Selain itu berbagai masalah yang perlu diperhatikan dalam upaya penanganan kehamilan
dan persalinan adalah jarak layanan kesehatan, dimana pelayanan kesehatan masih sulit
dijangkau masyarakat yang berpenghasilan rendah dan lokalisasi pelayanan kesehatan masih
belum terjangkau karena jarak yang jauh, sehingga menyebabkan ibu hamil enggan untuk
memeriksakan kehamilannya (Manuaba, 1998)