Anda di halaman 1dari 14

I.

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Zat-zat makanan ialah zat yang berfungsi sebagai sumber energi metabolik
yang berfungsi untuk memperbaiki jaringan dan memlihara fungsi-fungsi tubuh.
Makanan akan mengalami proses pencernaan baik secara mekanik maupun
kimiawi di dalam tubuh yang dilakukan oleh sistem pencernaan pencernaan
merupakan proses pemecahan senyawa kompleks menjadi senyawa yang lebih
kecil. Selama proses pencernaan zat-zat makanan yang diperlukan oleh tubuh
akan diserap oleh tubuh. Sebelum mengalami penyerapan oleh tubuh, makanan
akan mengalami berbagai macam proses yang melalui saluran dan kelenjar
pencernaan. (Harahap, 2012:23)
Pencernaan merupakan proses kimia. Proses kimia membutuhkan adanya
enzim untuk perubahan kimia bahan dasarnya. Enzim berperan dalam
meningkatkan kecepatan reaksi tanpa mempengaruhi hasil reaksi dan tidak
ikut bereaksi. Dalam proses pencernaan, enzim dihasilkan oleh berbagai organ,
seperti usus halus, kelenjar ludah dan lambung. Enzim bersifat spesifik dalam
proses pemecahan bahan kompleks (karbohidrat,protein, vitamin dan mineral).
Proses pencernaan makanan, secara utama terjadi di dalam usus.
Dimana sebagian besar makanan diserap di usus halus (intestinum) kemudian
sisanya masuk ke dalam usus besar. Disini terjadi penyerapan air dalam jumlah
besar dan isi usus yang setengah cair perlahan-lahan menjadi padat. Selama
jangka waktu ini, banyak terjadi aktivitas bakteri. Dengan fermentasi dan
pembusukan, bakteri memproduksi berbagai gas, seperti karbondioksida, metana,
hidrogen, nitrogen, dan hidrogen sulfida, sebagian asam asetat, laktat, dan butirat.
(Meder, 2008:122)
Berdasarkan uraian di atas, maka kami melakukan uji terhadap keberadaan
enzim di usus ikan mas (Cyprinus carpio) dalam proses pencernaan.
Pengujian ini menggunakan ekstrak usus halus ikan mas (Cyprinus carpio)
sebagai media pembuktian adanya berbagai enzim pencernaan berupa amilase,
maltase, dan tripsin.

1
I.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana membuktikan kandungan enzim pencernaan (amilase dan
proteinase) yang terdapat pada usus ikan?
2. Apa peran empedu dalam pencernaan lemak?

I.3 Tujuan Praktikum


1. Untuk membuktikan kandungan enzim pencernaan (amilase dan
proteinase) yang terdapat pada usus ikan?
2. Untuk mengetahui peran empedu dalam pencernaan lemak

I.4 Manfaat
1. Memberikan pemahaman kepada praktikan mengenai kandungan
enzim(amilase dan proteinase) yang terdapat pada usus ikan.
2. Memberikan pemahaman kepada praktikan mengenai peran empedu dalam
pencernaan lemak.

2
II. TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Deskripsi dan Klasifikasi Ikan Mas (Cyprinus carpio)


Ikan mas atau common carp termasuk Ordo Cypriniformes, Familia
Cyprinidae. Ikan mas (C. carpio L.) mempunyai empat buah sungut dan bagian
belakang jari-jari terakhir sirip dubur pada ikan mas mengeras dan bergerigi. Ikan
mas berasal dari Jepang, China, dan diintroduksi ke seluruh dunia sebagai ikan
konsumsi. Ikan mas merupakan ikan budidaya tertua yang dapat tumbuh
mencapai ukuran panjang 120 cm dengan berat 37,3 kg. Sifat ikan mas adalah
omnivora atau pemakan segala, mencari hewan dasar dengan cara mengauk dasar
kolam yang menyebabkan air menjadi keruh (Tim Peneliti BRPPU. 2008: 11).
Klasifikasi Ikan Mas (Cyprinus carpio) adalah sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Actinopterygii
Ordo : Ostariophysi
Famili : Cyprinidae
Genus : Cyprinus
Spesies : Cyprinus carpio (Kardi. 2013: 24)

Gambar 2.1 Morfologi Ikan Mas


(Sumber: Pudjirahaju. 2017: 13)

3
II.2 Sistem Pencernaan Ikan Mas (Cyprinus carpio)
Sistem pencernaan adalah sistem yang menerima makanan dan
mnecernanya untuk dijadikan energi dan nutrien. Menurut Azmi (2015: 2) Saluran
pencernaan pada ikan mas (Cyprinus carpio) umumnya sama dengan manusia
yaitu terdiri dari mulut, kerongkongan, esofagus, lambung, dan usus. Sedangkan
kelenjar pencernaannya terdiri dari pankreas dan hati. Proses pencernaan pada
ikan mas (Cyprinus carpio) melibatkan beberapa komponen, yaitu: bahan yang
dicerna (pakan), struktur alat/saluran pencernaan (usus) sebagai tempat
pencernaan dan penyerapan nutrien, dan cairan digestif (enzim protease, lipase
dan amilase) yang disekresikan oleh kelenjar pencernaan (hati dan pankreas) serta
dinding usus. (Putri. 2016: 11)

Gambar 2.2 Organ Pencernaan Ikan Mas (Cyprinus Carpio)


(Sumber: Kardi. 2013: 8)
Sistem pencernaan atau sistem gastroinstestinal adalah sistem organ dalam
hewan multiseleluler yang menerima makanan, mencernanya menjadi energi dan
nutrien, serta mengeluarkan sisa proses tersebut. Pencernaan secara fisik dan
mekanik ikan dimulai di bagian rongga mulut yaitu dengan berperannya gigi pada
proses pemotongan dan penggerusan makanan. Pencernaan secara mekanik ini
juga berlangsung di segmen lambung dan usus yaitu melalui gerakan-gerakan
(kontraksi) otot pada segmen tersebut. Pencernaan secara mekanik di segmen
lambung dan usus terjadi lebih efektif oleh karena adanya peran cairan digestif
(enzimatik) (Wulangi, 2009: 42).
Menurut Wulangi (2009: 43), pada ikan pencernaan secara kimiawi
dimulai di bagian lambung, hal ini dikarenakan cairan digestif yang berperan
dalam proses pencernaan secara kimiawi mulai dihasilkan di segmen tersebut

4
yaitu disekresikan oleh kelenjar lambung. Pencernaan ini selanjutnya
disempurnakan di segmen usus. Cairan digestif yang berperan pada proses
pencernaan di segmen usus berasal dari hati, pankreas, dan dinding usus itu
sendiri. Kombinasi antara aksi fisik dan kimiawi (enzimatik) inilah yang
menyebabkan dua perubahan makanan dari yang asalnya bersifat komplek
menjadi senyawa sederhana atau yang asalnya berpartikel makro menjadi partikel
mikro. Bentuk partikel mikro inilah makanan menjadi zat terlarut yang
memungkinkan dapat diserap oleh dinding usus yang selanjutnya diedarkan ke
seluruh tubuh.
Dalam proses pencernaan makanan, makanan yang dicerna dipecah
menjadi molekul-molekul yang lebih sederhana sehingga mudah diserap melalui
dinding usus dan masuk ke dalam aliran darah. Pencernaan merupakan proses
yang berlangsung terus menerus. Kemampuan ikan untuk mencerna baku pakan
dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu, sifat kimia air, suhu air, jenis pakan,
ukuran, umur ikan, kandungan gizi pakan, frekuensi pemberian pakan, sifat fisika
dan kimia pakan serta jumlah dan macam enzim pencernaan yang terdapat dalam
saluran pencernaan pakan. Kemampuan ikan dalam mencerna makanan sangat
bergantung pada kelengkapan organ pencernaan dan ketersediaan enzim
pencernaan. (Fitriliyani. 2011: 17)
Menurut fox (2008: 97), secara umum sistem pencernaan memiliki fungsi
sebagai berikut: motility yang berhubungan dengan pergerakan makanan di
sepanjang saluran pencernaan, secretion yang berhubungan dengan sekresi
hormone eksokrin dan endokrin, digestion yang berhubungan dengan proses
pemecahan molekul makanan menjadi sub unit yang lebih kecil sehingga dapat
diserap oleh usus, absorption yang berhubungan dengan proses masuknya produk
digestion ke dalam darah ataupun limfa, serta sebagai storage dan elimination
yang berhubungan dengan penyimpanan dan penguraian kembali molekul tertentu
hasil pencernaan makanan.

II.3 Enzim Dalam Pencernaan Ikan Mas (Cyprinus carpio)


Pada usus ikan terjadi proses penyerapan sari-sari makanan. Makanan
yang diolah secara mekanik melalui mulut dan diproses secara kimia dengan

5
bantuan enzim maka sebagian nutrisi dari makanan yang ikan konsumsi diserap
oleh usus dan akan diedarkan ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah. Enzim-
enzim yang terdapat pada usus diantaranya tripsin amilase, dan lipase. (Yuwono.
2011: 20)
Berikut ini adalah beberapa enzim yang berperan dalam pencernaan ikan
mas diantaranya adalah:
1. Tripsin
Tripsin adalah suatu enzim pemecah protein atau proteose, yang
dihasilkan oleh sel-sel pankreas dalam bentuk molekul tripsinogen yang tidak
aktif. Tripsinogen akan diaktifkan menjadi tripsin oleh enterokinase yaitu
enzim yang dihasilkan oleh usus. Tripsin dapat bekerja maksimal pada pH 8-9.
Pembuktian adanya enzim tripsin dapat dilakukan dengan uji biuret, apabila
bahan uji mengandung protein yang memiliki dua atau lebih ikan peptida akan
berwarna keunguan bila diuji dengan reagen biuret. (Putri. 2016: 17)
2. Amilase
Amilase (α-amilase) terdapat pada saliva dan usus halus. Amilase
berfungsi sebagai katalis dalam proses hidrolisis amilum, dekstrin dan glikogen
menjadi maltosa. Maltosa adalah disakarida yang terbentuk dari dua molekul
glukosa. Ikatan yang terjadi adalah antara karbon nomor 1 dan atom karbon
nomor 4, oleh karenanya maltosa masih memiliki gugus –OH glikosidik dan
demikian masih mempunyai sifat mereduksi. Maltosa merupakan hasil
hidrolisis amilum dengan asam maupun enzim. Dalam tubuh amilum
mengalami hidrolisis menjadi maltosa oleh enzim amilase. Pengujian enzim
amilase dapat dilakukan dengan uji Benedict. Glukosa akan mereduksi
Cu2+ menjadi Cu+ yang kemudian mengendap sebagai Cu2O. Endapan yang
terbentuk dapat berwarna hijau, kuning atau merah bata tergantung konsentrasi
bahan uji yang diperiksa. (Fatmawati. 2016: 191)
3. Lipase
Lipase dalam cairan pankreas berfungsi sebagai katalis dalam proses
hidrolisis lemak menjadi asam lemak, gliserol, monoasilgliserol dan
diasilgliserol. Aktivitas enzim lipase dapat bertambah dengan adanya ion Ca2+

6
dan asam empedu, dan bekerja secara optimal pada pH 7-8,8. (Sianipar. 2010:
86)

II.4 Kelenjar Pencernaan Ikan Mas ( Cyprinus carpio )


Kelenjar pencernaan berguna untuk menghasilkan enzim pencernaan yang
nantinya akan bertugas membantu proses penghancuran makanan. Kelenjar
pencernaan terdiri dari hati dan pankreas. Disamping itu, saluran pencernaannya
(lambung dan usus) juga berfungsi sebagai kelenjar pencernaan.(Harahap. 2012:
42)
Hati meupakan organ penting yang mensekresikan bahan untuk proses
pencernaan. Organ ini umumnya merupakan suatu kelenjar yang kompak,
berwarna merah kecokelatan. Posisi hati terletak pada rongga tubuh bagian
bawah, di belakang jantung dan disekitar usus depan. Di sekitar hati terdapat
organ berbentuk kantong kecil, bulat, oval atau memanjang dan berwarna hijau
kebiruan, organ ini dinamakan kantung empedu yang fungsinya untuk
menampung cairan empedu yang disekresikan oleh organ hati. Secara umum hati
berfungsi sebagi tempat metabolisme karbohidrat, lemak dan protein serta tempat
memproduksi cairan empedu. (Halwiatiah. 2009: 124)
Pankreas merupakan organ yang mensekresikan bahan (enzim) yang
berperan dalam proses pencernaan. Pankreas ada yang berbentuk kompak dan ada
yang diffus (menyebar) di antara sel hati. Letak penkreas berdekatan dengan usus
depan sebab saluran pankreatik bermuara ke usus depan. Saluran pankreatik yaitu
saluran-saluran kecil yang bergabung satu sama lain dan pada akhirnya akan
terbentuk saluran yang keluar dari pankreas menuju usus depan. (Fatmawati.
2016: 200)

7
8
III. METODE PENELITIAN

III.1 Waktu dan Tempat


Penelitian Analisis Enzim Pencernaan dilakukan pada hari Jum’at, 19
November 2019, pukul 07.30-09.30 WIB. Penelitian dilaksanakan di
Laboratorium Sains Biologi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

III.2 Alat dan Bahan


Alat yang digunakan pada praktikum “Analisis Enzim pencernaan” antara
lain, tabung reaksi, botol warna gelap beserta tutupnya, mortar dan alu, gelas
piala, pembakar spirtus, penjepit kayu, pipet tetes, rak tabung reaksi, gelas ukur
10 ml, corong kaca, alat bedah. Tabung reaksi digunakan sebagai wadah
penampung isi kantung empedu. Botol warna gelap beserta tutupnya digunakan
untuk menyimpan ekstrak usus ikan. Mortar dan alu digunakan untuk
menghaluskan usus ikan. Gelas piala digunakan sebagai wadah penampung.
Pembakar spirtus digunakan untuk memanaskan sesuatu. Penjepit kayu digunakan
untuk menjapit tabung reaksi. Pipet tetes digunakan untuk mengambil reagen. Rak
tabung reaksi digunakan untuk meletakkan tabung reaksi. Gelas ukur 10 ml
sebagai wadah meletakkan cairan sebanyak 10 ml. corong kaca untuk membantu
memasukkan ekstrak usus ke botol warna gelap. Alat bedah digunakan untuk
membedah. Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah Ikan Mas
(Cyprinus carpio) 300-350 gram, Aquades, Toluena, Putih telur, Minyak goreng,
Gliserin 50%, Reagen biuret, Reagen benedict, korek api, kertas saring dan kertas
karbon.

III.3 Cara Kerja


a. Membuat ekstrak usus
1. Ikan dibedah bagian perutnya
2. Kemudian usus dipisahkan dari organ lainnya secara berhati-hati
3. Usus halus diambil dengan cara memotong dari bagian akhir lambung
hingga awal usus besar.

9
4. Kantung empedu diambil dengan cara memotong dari bagian akhir
lambung hingga awal usus besar
5. Usus halus dibersihkan dengan aquades, kemudian dimasukan ke dalam
mortar
6. 20 ml gliserin 50% ditambahkan ke dalam mortar, dan dihaluskan ususnya
7. 4-5 ml tolune ditambahkan, dihaluskan kembali
8. Setelah halus, usus dibagi ke dalam 2 botol. Botol ditutup rapat dan
dibungkus dengan kertas karbon. Diberi labelnama kelompok dan jenis
ikan pada bagian luar botol. Ekstrak usus disimpan selama 7 hari dalam
ruang gelap.
Perlakuan
a. Pembuktian peran cairan empedu terhadap pencernaan lemak
1. Dua tabung reaksi disediakan. Kedua tabung A dan B diberi label. isi
kantung empedu dituangkan ke dalam tabung A dengan menggunting
setiap permukaanya.
2. Empedu tersebut diencerkan dengan aquades sehingga volumenya menjadi
2 ml
3. 2 ml akuades diamasukan ke dalam tabung B, sebagai kontrol
4. 2 ml minyak goreng ditambahkan ke dalam kedua tabung tersebut,
keduanya dikocok dan dibiarkan 5-10 menit, larutan diamati, besarnya
gumpalan lemak dalam masing masing tabung dibandingkan
b. Pembuktian adanya amilase
1. Dua tabung reaksi disiapkan diberi label A dan label B
2. Reagen benedict dituang ke dalam tabung masing-masing sebanyak 2 ml.
3. Dua tabung disiapkan dan diberi label C dan D
4. Larutan kanji mateng encer dimasukan masing-masing sebanyak 2 ml ke
dalam tabung C dan D
5. Tabung C ditambahkan 1ml ekstrak usus sedangkan tabung ditambah 1 ml
akuades.
6. Kedua tabung digoyangkan 5-10 menit.
7. Tambahkan 5 tetes larutan dalam tabung C ke A, begitu juga pada tabung
ditambahkan 5 tetes ke tabung B

10
8. Tabung A dan B dipanaskan selama 5 menit dan diamati perubahan
warnanya
c. Pembuktian adanya amylase
1. Dua tabung reaksi disiapkan diberi label A dan B
2. 1ml putih telur yang sudah diencerkan dimasukan ke dalam tabung
3. kedua tabung dipanaskan hingga mendidih kemudian didinginkan
4. Setelah dingin, 1ml ekstrak usus dimasukan dalam tabung A dan 1 ml
akuades
5. 5 tetes reagen biuret masing-masing ditambahkan ke dalam tabung A
6. Perubahan warna yang terjadi diamati.

11
12
DAFTAR PUSTAKA

Fatmawati, A. N., & A. K. Wardani. (2014). Ekstraksi Dan Karakterisasi Enzim


Protease Dari Daun Kelor (Moringa oliefera Lamk.). Jurnal Teknologi
Pertanian. 15(3), 191-200.
Fitriliyani, dan Indira. (2011). Aktifitas Enzim Saluran Pencernaan Ikan Nila
(Oreohromis Niloticus) dengan Pakan Mengandung Tepung Daun
Lamtoro (Leucaena leucophala) Terhidrolisis dan Tanpa Hidrolisis
dengan Ekstrak Enzim Cairan Rumen Domba. Jurnal Biocientiae. 8(2),
16-31.
Fox, S.I. (2008). Human Physiology Tenth Edition. New York, McGraw-Hill.
Halwiatiah. (2009). Fisiologi. Makassar: Alauddin press
Harahap, R. (2012). Enzim Pencernaan Ikan Mas. Diakses dari
http://journal.unpad.ac.id/jpk/article/download/20531/9387.pdf, 16
November 2019, pk. 21:11.
Kardi, R.H. (2013). Tinjauan Pustaka Ikan Mas (Cyprinus carpio). Diakses dari
http//unila.ac.id.biestream% pdf. 16 November 2019, pk. 13.00
Meder, Syilvia. (2008). Biologi. New York: The Mc Braw Hill Companies
Pudjirahaju. (2017). Blood Description, Parasite Infestation And Survival Rate of
Carp (Cyprinus carpio) Which is Exposed by Spore Protein Myxobolus
koi on Rearing Pond as Immunostimulan Material. Jurnal Biosains
Pascasarjana. 19(1), 10-16.
Putri, I.W., Mia, S. & D. Jusadi. (2016). Enzim pencernaan dan kinerja
pertumbuhan ikan mas, Cyprinus carpio Linnaeus, (1758) yang diberi
pakan dengan penambahan tepung kunyit Curcuma longa Linn. Jurnal
Iktiologi Indonesia. 17(1), 11-20.
Sianipar, P. (2010). Biologi. Yogyakarta: Pustaka Book Publisher
Tim Peneliti BRPPU. (2008). Ikan Mas (Cyprinus carpio). Jakarta: Badan Riset
Kelautan dan Perikanan
Wulangi, K.S. (2009). Prinsip-prinsip Fisiologi Hewan. Jakarta: DepDikBud.
Yuwono, E., P. Sukardi dan U. Susilo. (2009). Kondisi Fisiologis pada
Pertumbuhan Kompensatori yang Diinduksi Dengan Pembatasan Pakan

13
Sebagai Upaya Optimasi Produksi Ikan Gurami. Tahun II. Purwokerto:
Unsoed

14