Anda di halaman 1dari 8

RESUME BUKU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

Diajukan sebagai salah satu syarat tugas Pendidikan Agama Islam II

Dosen : Dr. (C). IRAWAN, S.Pd.I., M.Pd.I.

DISUSUN OLEH :
Ponny Mareta ( 1906010183 )
Judul : Islam Dalam Ekonomi
Hal : 174 - 179

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


JURUSAN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS ISLAM SYEKH-YUSUF
1. Zakat dari para muzakki

TABLE ZAKAT ( MUI PUSAT )


A. Dalam surat at Taubah ayat 60, ada 8 kriteria penerima zakat. Delapan
golongan inilah yang berhak menerima zakat dan tidak bisa diberikan kepada
golongan selain ini. Dalam surat at Taubah ayat 60 yang menerangkan
delapan asnaf tersebut, Allah berfirman:

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-


orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya
(untuk memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang untuk jalan Allah,
dan orang- orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan
Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.(QS. At Taubah:
60)

Yang berhak Menerima Zakat Dalam ayat tersebut terdapat 8 golongan atau
orang yang berhak menerima zakat di antaranya adalah:

1) Fakir
Fakir adalah orang yang tidak mempunyai harta dan pekerjaan untuk
mencukupi beban hidup sehari-hari. Untuk makanan sehari-hari pun ia
tidak cukup, kesusahan dalam mencari lapangan pekerjaan dan lain
sebagainya.

2) Orang Miskin
Fakir dan miskin sebenarnya dalam keadaan yang sama, sama- sama tidak
punya, sama-sama tidak mampu, tidak berkecukupan, melarat dan
sengsara. Tetapi orang fakir lebih melarat dari pada orang miskin. Orang
miskin kadang-kadang juga masih mempunyai pekerjaan yang layak,
seperti terdapat dalam kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir.

Pada saat Nabi Khidir menjawab pertanyaan Nabi Musa mengapa sebuah
perahu dilubangi, dia mengatakan bahwa perahu itu merupakan kepunyaan
orang-orang miskin yang usaha di laut. Ayat ini memberi petujuk bahwa
orang yang pekerjaannya sebagai nelayan yang mempunyai perahu itu
adalah orang miskin.

3) Amil (Pengurus Zakat),


Yang termasuk dalam pengurus yaitu orang yang ditugaskan untuk
memungut, mengumpulkan dan membagikan zakat. Karena tugas amil
zakat ini, mereka termasuk ke dalam orang yang berhak menerima zakat.
4) Muallafatu Qulubuhum
Muallafatu Qulubuhum yaitu orang-orang yang ditarik hatinya supaya
jatuh hati pada Islam, dan diharapkan mau masuk Islam. Menurut Prof.
Dr. Buya Hamka, orang-orang yang ditarik hatinya disini terbagi menjadi
dua jenis, yaitu kalangan orang Islam sendiri dan dari kalangan orang non
Islam.

Beliau mencontohkan dari kalangan orang Islam sendiri yang patut


mendapat bantuan zakat besar ialah muslimin yang tinggal di tapal batas
diantara negeri kuasa Islam dengan negeri kuasa musuh.

Oleh karena mereka itu bisa terombang ambing, apakah akan masuk
dalam perlindungan pemerintahan kafir ataukah akan tetap dalam
perlindungan Islam. Sedangkan contoh dari kalangan non Islam adalah
seperti yang dilakukan oleh Khalifah Abu Bakar yang memberikan zakat
dalam jumlah yang besar kepada seorang pemuda Nasrani dan pemuda
Persia yang bernama ‘Aid bin Hakim dan Zabar bin Badar.

Keduanya adalah orang yang baru masukl Islam. Dan dengan pemberian
zakat itu untuk memperdalam pengaruh mereka dalam kalangan kaum
mereka agar tertarik kepada Islam.

5) Riqob (Untuk Melepaskan Perbudakan)


Di masa lalu saat masih menggunakan sistem perbudakan, agama Islam
menyediakan harta zakat untuk menebus dan memerdekakan budak.
Dengan adanya “dana khusus” ini menunjukkan betapa besar perhatian
Islam untuk membebaskan dunia dari sistem perbudakan. Dan pada saat
ini kita sudah tidak menemukan lagi system perbudakan Seperti yang
terdapat pada masa-masa permulaan Islam.

6) Ghorim (Orang yang Berhutang)


Orang yang berhutang dan sudah terdesak, sedang dia tidak sanggup
membayarnya, dapat melaporkan nasibnya pada panitia zakat, baik
bantuan tersebut berupa pembayaran secara keseluruhan atau hanya
sebagian.

7) Sabilillah (Orang yang Berjuang dijalan Allah)


‘Ulama-‘ulama zaman dahulu memberi arti sabilillah adalah orang-orang
yang melakukan perjuangan perang, tetapi sesuai dengan perkembangan
zaman.Termasuk sabilillah adalah segala usaha untuk menegakkan dan
mengembangkan agama. Bahkan Imam Ahmad memasukkan pergi haji
sebagai sabilillah, sehingga berhak menerima zakat.
‘Ulama-‘ulama yang mengorbankan waktunya untuk memperdalam
pengetahuan agama Islam dan memipin orang banyak, menurut Sayid
Hasan Shadiq Khan Bahadir, termasuk juga dalam kategori sabilillah,
meskipun ia orang kaya.

8) Ibnu Sabil (Orang yang sedang dalam Perjalanan)


Orang-orang yang sedang melakukan perjalanan untuk menambah
pengetahuan, pengalaman, persahabatan, berhak menerima zakat. Jika
seorang sedang melakukan perjalanan dengan tujuan maksiat, maka haram
baginya menerima zakat. Meskipun orang itu orang yang kaya di
kampungnya, ketika sedang melakukan perjalanan berhak pula menerima
zakat sebagaimana hadits Rasulullah SAW:

Artinya: “Dari Abu Said ia berkata “Rasulullah SAW telah bersabda


‘zakat itu tidak halal/pantas bagi orang kaya terkecuali untuk jalan Allah
atau orang yang sedang dalam perjalanan atau untuk tetangga fakir yang
disedekahkan kepadanya, kemudian memberikan lagi kepadamu atau ia
mengundangmu.

B. Perbedaan Pendapat Ulama Terhadap Penerima Zakat Mal dan Zakat Fitarh
Para ‘ulama telah bersepakat dalam pembagian zakat fitrah yang
dibagikan kepada delapan asnaf. Berbeda dalam pembagian zakat mal (baca:
Ketentuan Zakat Mal) yang tidak ada perselisihan diantara ‘ulama.

Dalam pembagian zakat fitrah, terdapat perbedaan dikalangan ‘ulama


tentang siapa saja yang berhak menerima zakat fitrah (baca: ketentuan zakat
fitrah). Ada tiga pendapat yang berbeda mengenai persoalan ini yaitu:

Pertama: Pendapat yang mewajibkan zakat fitrah dibagikan kepada


asnaf delapan secara merata. Pendapat ini merupakan pendapat golongan
Syafi’i. Mereka menganggap zakat fitrah sama halnya dengan zakat mal,
sehingga dalam pembagiannya juga harus sama halnya dalam pembagian
zakat mal, yaitu kepada delapan asnaf yang telah disebutkan dalam surat at
Taubah itu.

Kedua: Pendapat yang mewajibkan pemberian zakat fitrah


dikhususkan kepada orang fakir saja, bukan kepada asnaf lainnya. Pendapat
ini merupakan pendapat Imam Malik, salah satu pendapat dari Imam Ahmad,
didukung oleh Ibnu Quyyim dan seorang gurunya, yaitu Qosim dan Abu
Thalib. Pendapat mereka ini didasarkan pada hadits. Artinya: “Selamatkanlah
mereka (kaum fakir miskin) dari keliling (meminta-minta) pada hari ini”.
(H.R. Baihaqi dan Daruquthni)

Menurut Ibnu Qayyim, pengkhususan zakat fitrah bagi orang-orang


miskin saja merupakan penghargaan dari Nabi kepada orang-orang miskin itu.
Beliau menambahkan bahwa nabi tidak pernah membagikan zakat fitrah
sedikit-sedikit kepada golongan yang delapan, Nabi juga tidak pernah
menyuruhnya.Tetapi pada saat Nabi itu zakat fitrah yang terkumpul dibagikan
kepada dua golongan saja yaitu fakir dan miskin. Oleh karena itu, menurut
Ibnu Qoyyim, zakat fitrah tidak boleh diserahkan kecuali kepada fakir dan
miskin saja.

‘Ulama-‘ulama ini juga menjelaskan pendapatnya dengan sebuah


hadits riwayat Ibnu Abbas yang berbunyi: yang artinya:“Rasulullah SAW
telah mewajibkan zakat fitrah untuk membersihkan orang yang berpuasa dari
omongan yang tidak ada manfaatnya dan omong kotor, serta memberi
makanan pada orang-orang miskin, dan barang siapa membayarnya sebelum
shalat, maka itu adalah zakat yang diterima, dan barang siapa yang membayar
sesudahnya, maka itu adalah shodaqoh dari shodaqoh ” (HR. Abu daud dan
Ibnu Majah)

Dalam hadits tersebut fungsi pengeluaran zakat fitrah (bandingkan


dengan Fungsi zakat Al-Qur’an), salah satunya adalah untuk memberi
makanan kepada orang-orang miskin yang dalam kesehariannya mengalami
kesulitan untuk makan, bukan kepada asnaf lain.

Ketiga: Pendapat yang memperkenankan pembagian zakat fitrah


kepada asnaf yang delapan tetapi lebih mengkhususkan pada golongan fakir
miskin. Pendapat ini merupakan pendapat dari jumhur ‘ulama. Menurut
mereka zakat fitrah dibagikan kepada delapan asnaf karena zakat fitrah
termasuk zakat, jadi dapat dibagikan kepada delapan asnaf yang disebutkan
dalam surat At Taubah ayat, akan tetapi akan lebih utama jika dalam
pemberian itu lebih didahulukan kepada golongan orang miskin.

Ibnu Amir Ash San’ani salah satu pendukung pendapat ini, memberi
tanggapan terhadap alasan yang dikemukakan para ‘ulama yang berpenadapat
zakat fitrah hanya boleh dibagikan kepada fakir miskin saja.
Dalam tanggapannya, beliau mengetakan bahwa perkataan Nabi
“fitrah itu makanan untuk orang miskin”. Tetapi sekedar penekanan bahwa
yang lebih utama dalam pembagian zakat fitrah adalah kepada orang miskin,
karena dalam hal zakat mal Nabi pun bersabda ”Di ambillah dari orang kaya,
diberikan
kepada orang-orang fakir” Meskipun konteks hadits tersebut
memerintahkan untuk diberikan kepada golongan fakir, tetapi dalam
kenyataannya, zakat mal dibagikan kepada delapan asnaf yang terdapat dalam
surat At Taubah ayat 60.

2. Infaq dan Sedekah


Infaq berasal dari kata “nafaqah” (sarana pemenuh kebutuhan ),
pengertiannya adalah sumbangan harta untuk memberi pertolongan kepada
orang-orang yangbsedang harta untuk memberi pertolongan kepada orang-
orang yang sedang mendapat musibah seperti kebanjiran, kebakaran, dan lain-
lain. Besarnya infaq tidak ada batasan tertentu karena sifatnya sunnah.
Sedangkan sedekah pada dasarnya sama dengan infaq tidak ada batasa
seberapa besarnya, namun sedekah diberikan untuk “ du’afa “ ( orang lemah )
disamping para mustahik zakat.

3. Radh Harta Waris


Yang dimaksud rod harta waris disini dimana orang yang wafat tidak
mempunyai ahli waris baik dzawil furudh maupundzawil arham. Dzawil
furudh adalah yang punya hubungan dekat dengan pewaris dan mendapa
bagian tertentu. Dzawil arham adalah kerabat jauh dengan pewaris dan
menggantingkan dzawil furudh bila mereka tidak ada.

4. Skematis Manajemen BM Konseptual


1) Visi pengelolaan Bait-alMal adalah merubah mmustahik ( yang berhak
menerima ) ZIS menjadi muzakki ( orang yang wajib mengeluarkan
zakat ).
2) Dalam manajemen Bait-alMal ( BM ) yang menjabarkan visi tersebut
harus menyusun program penghimpunan harta di BM, dan
menyalurkannya kepada yang berhak dua kriteria kebutuhan yaitu,
kebutuhan konsumtif (mendesak) dan kebutuhan produktif yakni
pemberdayan “du’afa” kaum lemah untuk menghidupkan kegiatan
usaha.
3) Untuk efektifitas kerja manajemen BM, maka diperlukan
pengangkatan staf-staf: yakni staf Registrasi & Administrasi sebagai
tenaga sekertariat yang diantara tugasnya membantu manajer menulis
perencanaan, pendataan muzzaki, mustahik dan lain-lain.
4) System manajemen
Penerimaan dan penyaluran zakat-infaq-sedekah ( ZIS ) demikian
dapat disandarkan pada : Q.S. : Al-Baqarah (2) : 30 & Hud (11) : 61,
An-Nahl (16) : 72, At-Taubat (9) : 6