Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH PROFESI KEPENDIDIKAN

“Profesi Supervisior Klinis untuk Perbaikan Pembealajaran”

KELAS B

DI SUSUN OLEH KELOMPOK 10:


1. AGUSTIN C. JAMLEAN (201835036)
2. ANJAS HANUBUN (201835006)
3. GLEDIS KEWILAA (201835080)
4. JEYSIKA P. TUPAMAHU (201835048)
5. NAZWA S. UMAGAP 201835096)

FAKLUTAS ILMU PENDIDIKAN DAN KEGURUAN


PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
UNIVERSITAS PATTIMURA
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami
dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul Profesi kependidikan ini tepat pada
waktunya. Adapun tujuan dari penulisan dari makalah ini adalah untuk memenuhi tugas
[dosen/guru] pada [bidang studi/mata kuliah] [nama bidang studi/mata kuliah]. Selain itu,
makalah ini juga bertujuan untuk menambah wawasan tentang [topik makalah] bagi para
pembaca dan juga bagi penulis.
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR………………………………………………………
DAFTAR ISI…………………………………………………………………
BAB I PENDAHULUAN………………………………………………….

A. Latar Belakang………………………………………………
B. Rumusan Masalah…………………………………………...
C. Tujuan Penulisan…………………………………………….

BAB II PEMBAHASAN……………………………………….

A. Super visi Klinis…………………………………………….


B. Definis Super visi…………………………………………..
C. Ciri-ciri super visi klinis…………………………………....
D. Karakteristik super visi klinis………………………………
E. Urgensi Super visi klinis……………………………………
F. Tujuan Supervisi klinis ……………………………………
G. Prinsip-prinsip Supervisi klinis…………………………….
H. Model-model Supervise klinis……………………………..
I. Teknik Komuniats dalam Supervisi klinis …………………
J. Komunikasi klinis………………………………………….

BAB III PENUTUP…………………………………………….


A. Kesimpulan…………………………………………………
B. Saran………………………………………………………..

DAFTAR ISI…………………………………………………...

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada dasarnya, supervisi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari seluruh proses
administrasi pendidikan yang ditujukan terutama untuk mengembangkan efektivitas kinerja
personalia sekolah yang berhubungan dengan tugas-tugas utama pendidikan. Supervisi
merupakan salah satu faktor penting sebagai upaya meningkatkan kualitas pendidikan melalui
kegiatan yang dilakukan oleh supervisor pendidikan dalam hal ini pengawas pendidikan pada
satuan pendidikan formal.

Keberhasilan pendidikan tidak terlepas dari peranan supervisor di bidang pendidikan yang
berupaya menemukan masalah-masalah pendidikan dan selalu memperbaiki kelemahan-
kelemahan yang terjadi. Dengan demikian, supervisi pendidikan bermaksud meningkatkan
kemampuan profesional dan teknis bagi guru, kepala sekolah, dan personel sekolah lainnya
agar proses pendidikan di sekolah lebih berkualitas.
Kegiatan utama pendidikan di sekolah dalam rangka mewujudkan tujuannya adalah kegiatan
pembelajaran, sehingga seluruh aktivitas organisasi sekolah bermuara pada pencapaian
efisiensi dan efektivitas pembelajaran. Oleh karena itu, salah satu tugas kepala sekolah adalah
sebagai supervisor, yaitu mensupervisi pekerjaan yang dilakukan oleh tenaga kependidikan.

Dalam melaksanakan kegiatan supervisi, kepala sekolah harus mampu melakukan


berbagai pengawasan dan pengendalian untuk meningkatkan kinerja tenaga kependidikan.
Pengawasan dan pengendalian ini merupakan kontrol agar kegiatan pendidikan di sekolah
terarah pada tujuan yang telah ditetapkan. Pengawasan dan pengendalian juga merupakan
tindakan preventif untuk mencegah agar para tenaga kependidikan tidak melakukan
penyimpangan dan lebih berhati-hati dalam melaksanakan pekerjaannya.
Pengawasan dan pengendalian yang dilakukan kepala sekolah terhadap tenaga
kependidikannya khususnya guru, disebut supervisi klinis, yang bertujuan untuk
meningkatkan kemampuan profesional guru dan meningkatkan kualitas pembelajaran melalui
pembelajaran yang efektif. Oleh karena itu, dalam makalah ini penulis akan menguraikan
tentang supervisi klinis yang dilakukan oleh kepala sekolah dalam meningkatkan kemampuan
profesional guru.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka yang menjadi pokok permasalahan dalam
makalah ini adalah:
1. Apa pengertian dan ciri-ciri supervisi klinis ?
2. Bagaimana tahap/langkah-langkah pelaksanaan supervisi klinis ?

C. Tujuan penulisan

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka yang menjadi tujuan dari permasalahan dalam
makalah ini adalah:
1. Untuk mengetahui pengertian supervise klinis
2. Untuk mengetahui model,tahapan, karakteristik
3. Untuk mengetahui dalam komunikasi
BAB II

PEMBAHASAN

A. Super visi klinis

Seorang supervisor pembelajaran yang professional mampu melakukan pendekatan


klinis dalam pelaksanaan tugasnya. Kajian dan diskusi mengenai supervisi klinis di bidang
pendidikan makin intensif akhir – akhir ini. Hal ini membersitkan kuatnya pengakuan atas
status supervisor klinis sebagai profesi atau setidaknya sub keahlian dari supervisor
pembelajaran. Khusus Indonesia, keharusan pengawas memenuhi angka kredit untuk naik
jabatan fungsional tertentu membuktikan pengakuan Negara atas profesi ini, meski sangat
mungkin substantinya masih layak diperdebatkan. Supervisi klinis untuk pembelajaran
memang sangat kompleks. Karenanya, masih perlu dicari mengenai teknik supervise yang
paling cocok dalam rangka meningkatkan kerja guru. Upaya untuk menemukan model atau
teknik supervisi pembelajaran terbaik akan terus dilakukan, meski sangat mungkin tidak
akan benar – benar berhasil menemukannya.

Tingkat kemandirian guru sangat tinggi seringkali menyebabkan mereka tidak merasa
perlu lagi kehadiran supervisor. Sementara pengawas, yang karena tugas pokok dan
fungsinya, merasa memiliki otonomi untuk mensupervisi guru seperti apapun. Pengawas
memandang aktivitas mensupervisi guru adalah haknya dan keputusan bertindak ada pada
sisinya sementara guru tertentu sangat mungkin merasa tidak memerlukan lagi, karena dia
sudah memposisikan diri sebagai tenaga professional sungguhan. Lalu, muncullah apa yang
disebut sebagai konflik otonomi sebagai kewenangan dengan otonomi sebagai persepsi atas
kemampuan. Meski sabgat mungkin sesekali di antara mereka muncul dependensi
kondisional, ketika ada masalah khusus yang memerlukan pemecahan. Supervisi klinis di
bidang kependidikan di sini tidak hanya diilhami oleh prinsip-prinsip klinikal di bidang
kedokteran, melainkan juga beranjak dari ajaran psikolog. Di dalam praktik klinikal yang
dilakukan oleh psikolog, tindakan diagnose, terapi, dan penyembuhan secara psikologis
bukan lagi fenomena baru.

Mengikuti logika itu, pelaksanaan supervisi klinis untuk meningkatkan kemampuan


professional guru dilakukan melalui tahapan-tahapan: (a) praobservasi yang berisi
pembicaraan dan kesempatan, antara supervisor dengan guru mengenai apa permasalahan
yang dihadapi oleh guru atau apa yang akan diamati dan diperbaiki dari pengajaran yang
dilakukan; (b) observasi, yaitu supervisor mengamati guru dalam mengajar sesuai dengan
fokus yang telah disepakati; (c) analisis permasalahan yang dilakukan secara bersama oleh
supervisor dengan guru terhadap hasil pengamatan; dan (d) perumusan langkah-langkah
perbaikan, dan pembuatan rencana untuk perbaikan.

Perwujudan supervisi klinis memang tidak melulu terfokus pada pengembangan


professonal guru, melainkan berkaitan juga dengan kesejahtraan, proteksi atas profesi, dan
peningkatan hasil belajar siswa.

Di bidang psikologi supervisi klinis sudah menempuh perjalanan relative panjang. Pada
tahun 1929-an, max etingon mendirikan supervisi formal di institut psikoanalisis Berlin.
Tahun 1930-an, Rift mendirikan mendirikan sekolah Budapest yang banyak melakukan
kejian mengenai supervisi sebagai terapi.

B. Definisi Supervisi Klinis

Apa suvervisi klinis itu? suvervisi klinis adalah bantuan professional kesejawatan oleh
supervisor kepada guru yang mengalami masalah dalam pembelajaran agar yang
bersangkutan dapat mengatasi masalahnya dengan menempuh langkah yang sistematis,
dimulai dari tahap perencanaan, pengamatan prilaku guru mengajar, analis perilaku, dan
tindak lanjut. Supervisi klinis adalah proses bantuan atau terapi professional yang berfokus
pada upaya perbaikan pembelajaran melalui proses siklikal yang sistematis dimulai dari
perencanaan, pengamatan dan analisis yang intesif terhadap penampilan guru dengan tujuan
untuk memperbaiki proses pembelajaran.

Dari situs www.kkh.com.sg diperoleh rumusan supervisi klinis sebagai“A formal process
of professional support and learning that enables individual practitioners to develop
knowledge and competence, assume responsibility for their own practice in a wide range of
situations”. suvervisi klinis merupakan sebuah proses formal berbentuk dukungan
professional dan belajar yang memungkinkan individu praktis mengembangkan pengetahuan
dan kompetensi,cserta memegang tanggung jawab bagi tindakan-tindakan praktis pada situasi
yang lebih luas. Bordersr et al. (1991) merumuskan, “clinical supervision is the construction
of individualized learning plans for supervisees working with clients.” Supervisi klinis adalah
konstruksi rencana pembelajaran individual bagi yang supervisi agar bisa bekerja efektif
dengan kliennya.
C. Ciri-ciri Supervisi Klinis

Perilaku supervisi memandang masalah klien sebagai masalah belajar. Karenanya, hal itu
memerlukan dua keahlian. Pertama, identifikasi masalah.Kedua, menyeleksi teknik belajar
yang tepat (Leddick & Bernard, 1980). Guru yang disupervisi dapat berpartisipasi sebgai ko-
terapi untuk melakukan penguatan. Supervisi klinis termasuk bagian dari supervisi
pembelajaran. Perbedaannya dengan supervisi yang lain adalah prosedur pelaksanaanya
ditekankan kepada mencari sebab-sebab atau kelemahan yang dilakukan oleh guru selama
proses pembelajaran dan kemudian langsung diusahakan perbaikanvsupervisi klinis yang
baik bercirikan seperti berikut ini:
1. Bimbingan supervisor pengajaran kepada guru bersifat hubungan
pembantuan, bukan hubungan perintah atau instruksi.
2. Kesepakatan antara guru dan supervisor tentang apa yang dikaji dan jenis
keterampilan yang paling penting merupakan hasil diskusi bersama.
3. Instrument supervisi klinis dikembangkan dan disepakati bersama antar guru
dengan supervisor.
4. Guru melakukan persiapan dengan mengidentifikasi aspek kelemahan-
kelemahannya yang dipandang perlu diperbaiki.
5. Pelaksanaan supervisi klinis selayaknya teknik observasi kelas
6. Umpan balik atau balikan diberikan dengan segera dan bersifat obyektif.
7. Guru hendaknya dapat menganalisis penampilannya.
8. Supervisor lebih banyak bertanya dan mendengarkan daripada memerintah
atau mengarahkan guru.
9. Supervisor dan guru berada atau menciptakan kondisi dalam keadaan atau
suasana akrab dan terbuka.
10. Supervisor dapat digunakan untuk membentuk atau peningkatan dan
perbaikan keterampilan pembelajaran.

D. Karakteristik Supervisi Klinis

1. Perbaikan proses pembelajaran mengharuskan gruru mempelajarari kemampuan


intelektual dan keterampilan teknis. Supervisor mendorong guru berprilaku
berdasarkan kemampuan intelektual dan keterampilan teknis yang dimilikinya.
2. Fungsi utama supervisor adalah menginformasikan beberapa kemampuan dan
keterampilan seperti :
1. kemampuan dan keterampilan menganalisis proses pembelajaran berdasarkan
hasil pengamatan,
2. kemampuan dan keterampilan mengembangkan kurikulum, terutama bahan
pembelajaran,
3. Kemampuan dan keterampilan dalam proses pembelajaran,
4. Kemampuan dan keterampilan guru melakukan evaluasi dan tindak lanjut

3. Berfokus pada :
a. Perbaikan mutu proses dan hasil pembelajaran,
b. Perbaikan kinerja guru pada hal-hal spesifik yang masih
memerlukan kesempurnaan, dan
c. Upaya perbaikan di dasari atas kesepakatan bersama dan
pengalaman masa lampau.

4. Hubungan pembantuan antara supervisor dengan yang disupervisor mengedepankan


dimensi kolegialitas.
5. Tindakan supervisor menemukan kelemahan atau kekurangan guru semata-mata
untuk diperuntukan bagi upaya perbaikan, buakan utuk keperluan penilaian atas
prestasi individual guru.

E. Urgensi Supervisi klinis

1. Mengindarkan guru dari jebakan penurunan motivasi dan kinerja dalam


melakukan proses pembelajaran.
2. Menghindarkan guru dan upaya menutupi kelemahannya sendiri melalui cara-
cara dialok terbuka dengan supervisornya.
3. Menghindara ketiadaan respon dari supervisor atau praktik profesionalyang
telah memenuhi standar kompetensi dank ode etik atau yang masih dibawa
standar.
4. Mendorong guru untuk selalu daptif terhadap kemajuan iptek dalam proses
pembelajaran.
5. Menjaga konsistensi guru agar tidak kehilangan identitas diri sebagai
penyanggang profesi yang terhormat dan bermanfaat bagi kemajuan generasi
6. Menjaga konsistensi prilaku guru, agar tidak masuk dalam jabatan kejenuhan
professional (bornout), bukan meningkatkannya.
7. Mendorong guru untuk secara cermat dalam bekerja dan berinteraksi dengan
sejawat dan siswa agar terhindar dari pelanggaran kode etik profesi guru.
8. Menghindarkan guru dari praktik-praktik melakukan atau mengulangi
kekeliruan secara massif dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran.
9. Menghindarkan guru dari erosi pengetahuan yang sudah didapat dari pendidikan
prajabatan selama studi di perguruan tinggi.
10. Menghindarkan siswa dari praktik-praktik yang merugikan, karena tidak
memperoleh layanan yang memuaskan, baik secara akademik ataupun non
akademik.
11. Menjauhkan guru dari menurunnya apresiasi dan kepercayaan siswa, orangtua
siswa, masyarakat atau profesi yang mereka sandang.

F. Tujuan Supervisi Klinis


1. Menjaga konsinstensi motivasi dan kinerja guru dalam melaksanakan proses
pembelajaran
2. Mendororng keterbukaan guru kepada supervisior mengenai kelemahannya sendiri
dalam melaksanakan pembelajaran
3. Menciptakan kondisi agar guru terus menjaga dan meningkatkan mutu praktik
professional sesuai standar kompetensi dan kode etik yang telah ditetapkan
4. Menciptakan kesadaran guru tentang tanggung jawab terhadap pelaksanaan
pembelajaran yang berkualitas, baik proses maupun hasilnya
5. Membantu guru untuk senaantiasa memperbaiki dan meningkatkan penguasaan ilmu
pengetahuan, teknologi, wawasan umum dan keterampilan khusus yang diperlukan
dalam pembelajaran
6. Membantu guru untuk dpat menemukan cara pemecahan masalah yang ditemukan
dalam proses pembelajaran, baik di dalam maupun di luar kelas
7. Membantu guru untuk dapat menemukan cara pemecahan masalah yang ditemukan
dalam proses pembelajaran, sehingga bena-benar meberi nilai tambah bagi siswa dan
masyarakat
8. Membantu guru untuk mengembangkan sikap positif terhadap profesi dalam
menegmbangkan diri secara berkelanjutan, baik secara individual maupun kelompok,
dengan cara yang dikembnagkan atau atas inisiatif sendiri.

G. Prinsip-prinsip Supervisi Klinis

1. Hubungan supervisor dengan guru disadari sangat kolegialitas yang taat asas.
2. Setiap kelemahan dan kesalahan guru semata-mata digunkan untuk tindakan
perbaikan, tanpa secara eksplisit melabeli guru belum professional
3. Menumbuhkembangkan posisi guru, mulai dari tidak professional sampai
professional sungguhan
4. Hubungan antara supervisor dengan guru dilakukan secara objektif, transparan, dan
akuntabel
5. Diskusi dan pengkajian atas umpan balik yang segera atau yang diketahui kemudian
bersifat demokratis dan didasarkan pada data hasil pengamatan
6. Hubungan antara supervisor dengan guru bersifat interaktif, terbuka, objektif, dan
tidak bersifat menyalahkan
7. Pelaksanaan keputusan atau tindakan perbaikan ditetapkan atas kesepakatan atau
kerelaan bersama.

H. Model-model super visi klinis

Super visi klinis dikonstruksikan sebagai rencana pembelajaran individual yang


memungkinkan subjek yang disupervisi bekerja efektif dengan siswanya. Selama proses
edukasi . sistematika kerja dimana tindakan supervisi berlangsung disebut model supervise.
Dalam kerangka supervise klinis berlangsung untukperbaikan mutu pembelajaran, model itu
disebut sebgai model supervise klinis. Baik standar supervise maupun kurikulum supervisi
dalam rangka bimbingan konseling, mengindentifikasi pengetahuan tentang model-model
bernilai sangat fundamental bagi praktik-praktik etis.

Ritinitas, kepercayan, dan praktik-praktik supervise secara kekinian telah memunculkan


pendekatan terapis dalam pelaksanaan supetvisi (Leddick & Bernard, 1980). Beberapa
praktik supervise klinis, khususnya dari sisi pandang psikologi, telah dikenal aplikasi model
perilaku, psikodinamika, dan terapi berpusat pada klien (behavioral, psychodynamic,
orclient-centered therapy). Norma-norma supervise secara tpikal berkembang laksana
sebuah ritual. Dikemukakan oleh Leddick dan Bernardb(1980), “As supervision became more
purposeful, three types of models emerged These were; (1) developemental models. (2)
integrated models, and (3) orientation-specific models”. Dengan demikian ada tiga model
pelaksanaan supervise klinis, yaitu model pengembangan, modek terintegrasi, dan model
orientasi spesifik.

1. Model Pengembangan

Konsep dasar supervise klinis model pengembangn (developmental models of clinical


superversion) adalah keyakinan bahwaindividu tumbuh secara kontiyu (continuously
growing), ketiika dia memulai tindakan secara bena, menjalankan sceara pengalaman dan
prediposisi bawan berpola (experience and hereditary predispositions), seseorang
mengembangkan kekuatan dan tumbuh pada aeranya. Mereka mengoptimasi dan
mengidetifikasi pertumbuhan yang diperlkan di msas depan. Karena tipak individu
mengindentifikasi araea baru pertumbuhan melalui proses belajar secara terus-menerus.
perilaku supervisor bermetaforsis mengikuti perilaku kliennya dalam kalimat Worthington
(1987) disebutkan bahwa “The behavior of supervisors changed as supervisees gaind
experience, and the supervisory relationship also changed” Hal ini dapat muncul sebagai
basis ilmiah bagi kecenderungan perkembangan dan pola-pola supervise.

Menurut Stoltenberg dan Delworth (1987), model pengembangan itu dapat dijlaskan
dengan menkategorikan tiga level subjek yang disupervisi, yaitu: pemula, menengah, dan
lanjut (beginning, intermediate, and advanced). Pelaksanaan supervise klinis model ini
bergerak dari tindakan yang rijid, mengharuskan dan melakukan peniruan bergerakan ke
kompetensi serta jaminan diri dan aktualisasi diri.

Secara sederhana, tindakan supervision dapat digambarkan sebagai bergerakn dari


kesadaran oleh diri sendiri atau orang lain, motivasi, dan otonomi. Pada tingkat dasar, sebagai
missal, seorang supervisior menemukan guru yang relative yergantung pada supervisiornya,
kemudian dia melakukan diagnosis, untuk kemudian memberi terapi. Pada tingkat
menengah, resistensi, pemghindaran dan konflik, merupakan tipikal yang muncul pada fase
ini, karena konsep diri yang disuprvisi (supervisee self-concept) sangat mudah terganggu,
pada tingkat lanjut, fungsi yangdijalaankan oleh subjek yang disupervisi bersifat relative
independen, mereka berkonsultasi pada saat memerlukam, dan meras bertanggungjawab
ataskeputusan yang benar atau salah.
Denfan demikian, ketiga kategori yang disupervsisi (supervisee) di atas harus dipahami
dalam kerangka tiga level prose tindakan supervise klinis, yaitu kesadaran, motivasi, dan
otomi (awaraness, motivation, autonomy). Berdasarkan dengan ini Stoltenberg dan Delworth
(1987) mengindentifikasikan delapan area untuk menumbuhkan dari subjek yang
disupervisi,identifkasi delapan area untuk menumbuhkan dari subjek yang disupervisi, yaitu:
ineterverensi kompetensi ketrmpilan, teknik asesmen, asesmen interpersonalm konseptualisai
klien, perbedaan individual , sasarn tritmen dan rencana, dan etika professional. Membantu
subjek yang disupervisin mengidentifikasi kekuatan-kekuatan dan area pertumbuhannya
memungkinkan mereka bertanggung jawab bagi pengembangan memungkinkan mereka
bertanggungjawab bagi pengembangan sepanjang hayat, atau tanpa bantuan agli terapis atau
supervise.

2. Model Terpadu

Kebayakan ahli terapis memandang mereka sendiri sebagai eklektik, mengintegrasikan


beberapa teroi ke dalam praktikyang konsisten, banyak model suoervisi didesian untuk
dilakukan dengan beberapa benutk orientasi terapi. Model Bernard, misalnya, memberi
perhatian pada kombinasi tiga peran area , sesekali supervisor bisa tampil langsung
selayaknya guru yang memberi kuliah, pengajaran, atau informssi kepada kliennya sesekali
dia bertindak sebagai konselor ketika harus melakukan tindakan konseling atau
kepenasehatankhusu atas jalin hubungan selaykanya sejawar,ko-terapis, atau memerankan
diri sebgai konsultan, model terpadu inis erring juga disebut sebgai model diskriminasi ,
model ini menekanpada tiga araea focus pengembnagan ketrampilan , yaitu proses,
konseptualisasi, dan personalisasi.

3. Model Orientasi Spesifik

Model ini mengadopsi beberapa model terapi seperti yang pernah dikembangkan oleh
Alderian dengan pendekatan solusi terfokus atau pendekatan perilaku. Meraka meyakini
adanya praktik supervise terbaik dengan terapi yang baik pula. Sitausi yang dikembangkan
laksana semangat berolahraga yang bercaya bahwa pelatih tebaik dimasa depan adalah
individu yang rebaik dalam cabang olahraga tertentu ketika menemukannya di sekolah,
akademik, penguruan tinggi, atau di tingkat professional

I. Teknik Komunikasi dalam supervise klinis

Dalam melaksanakan tugas-tugas profesionalnya, supervisor pembelajaran berkomunikasi


dengan guru yang disupervisi. Ahli komunikasi umumnya sependapat bahwa komunikasi
dapat diartikan sebagai proses penyampaian informasi dari pengirim kepada penerima pesan,
dimana pesan itu disampaikan melalui media atau tanda-tanda dengan menggunakan bahasa
tertentu yang saling dimengerti untuk mencapai suatu tujuan. Komunikasi adalah segala
penyampaian segala perasaan, sikap, kebijakan dan kehendak, baik secara langsung maupun
tidak langsung. Berdasarkan dua definisi diatas, maka dalam proses komunikasi terlibat
pelbagai unsur seperti, penyampaian informasi (sender atau informator), penerima informasi
(receiver), isi informasi (message), media atau tanda-tanda yang digunakan (medium or
symbols), dan bahasa yang saling dimengerti (mutual language system). Unsur lain dari
komunikasi adalah gangguan (noise), dan respon (response). Dalam konteks komunikasi
untuk supervisi klinis, kedudukan supervisor dan yang disupervisi sebagai pengirim dan
penerima pesan itu saling berganti. Karena memang dalam supervisi pembelajaran klinis,
dialog terbuka menjadi sangat penting.

Unsur-unsur tersebut tidak dapat terpisahkan satu sama lain. Didalam proses komunikasi
antara supervisor dengan guru selalu melibatkan penyampai informasi (supervisor), penerima
informasi dan sebaliknya, pesan yang diinformasikan (pesan-pesan perbaikan, ajakan dan
sebagainya) media atau tanda-tanda yang digunakan, bahasa yang saling dimengerti,
kemungkinan gangguan dan pada saatnya respon adalah keharusan. Jika unsur lain ada, akan
tetapi penerima tidak memberikan respon, maka proses komunikasi antara supervisor dengan
menjadi tidak berarti.

Ada tiga tinjauan untuk memahami konsep dasar komunikasi antara supervisor dengan
guru yang disupervisi. Ketiga tinjauan tersebut dirumuskan berikut ini.

 Pertama, bahwa komunikasi itu dipandang sebagai proses penyampaian informasi.


Keberhasilan proses komunikasi antara supervisor dengan guru terletak pada
penguasaan materi atau fakta dan pengaturan cara-cara penyampaiannya. Guru
sebagai penerima pesan dan supervisor sebagai pengirim atau sebaliknya tidak
merupakan komponen yang menentukan keberhasilan komunikasi.

 Kedua, komunikasi itu suatu proses penyampaian gagasan-gagasan dari supervisor


kepada guru. Didalam konsep ini terkandung makna bahwa guru sebagai penerima
pesan dianggap sebagai bagian dari proses komunikasi, namun penekanan terletak
kepada supervisor atau message formulator.

Kelemahan komunikasi yang bersifat “speaker-centered phylosophy of


communication”mini terletak pada beberapa hal. Pertama, penerima pesan
dipandang sebagai objek yang pasif dan bukan sebagai kekuatan aktif dalam
proses komunikai. Kedua, konsep ini tidak mengemukakan terjadinya proses
pemahaman atau meaning yang tidak dapat dihindari dalam proses komunikasi.
Ketiga, terlalu parochial atau kurang mengungkapkan masalah manusia yang
suatu waktu berkomunikasi dengan dirinya sendiri.

 Ketiga, komunikasi dipandang sebagai suatu proses menciptakan arti, ide, gagasan
atau konsep. Pesan supervisor dapat diciptakan melalui orang, televisi, radio,
memo, papan pengumuman, suran dan sebagainya. Konsep ini tidak sepenuhnya
tepat, mengingat bahwa komunikasi itu bukan proses penyampaian arti atau
gagasan dari seseorang kepada orang lain.
Apa yang disampaikan oleh penyampai pesan itu hanyalah simbol-simbol atau
lambang-lambang. Arti dari suatu pesan tidak dapat dipindah-pindahkan atau
disampaikan secara apa adanya. Pengertian atau pemaknaan atas pesan itu terjadi pada
individu yang terlibat dalam proses komunikasi itu. pengertian atau pemahaamn atas
pesan yang disampaikan oleh supervisor ditentukan oleh kemampuan guru sebagai
penerima pesan itu. Dengan demikian, keberartian atas pesan atau sejumlah pesan itu
ditentukan oleh kemampuan guru sebagai penerima pesan itu sendiri. Tugas supervisor
hanyalah menyampaikan ide atau informasi, beban pemahaman terhadap apa yang
disampaikan ada pada guru yang disupervisi.

Pada tingkat praksis, perbuatan mencela, mengkritik, memberi saran atau usul kepada
atasan yang lebih tinggi sangat jarang, sebagai hambatan psikologis itu. Dengan
fenomena itu, mereka segan mengemukakan ketaksenangan terhadap pekerjaan atau
sikap negatifnya terhadap tugas-tugas. Mereka bekerja dan berkomunikasi sangat hati-
hati, sebab takut tergeser, tidak dipercaya, dan tidak membangun rasa saling memili
Hal ini terjadi sebagai akibat beberapa hal. Pertama, tidak ada keterbukaan antara kedua
belah pihak, yaitu antara supervisor dengan guru binaanya. Kedua, kurang dukungan fakta-
fakta. Ketiga, pola manajemen kepengawasan yang kaku, tidak memungkinkan komunikasi
terjadi secara efektif.
BAB III

PENUTUP

1. Kesimpulan

Supervisi klinis merupakan pembinaan profesional yang dilakukan secara sistematis


kepada guru sesuai kebutuhan guru yang bersangkutan dengan tujuan untuk membina
keterampilan mengajarnya. Pembinaan itu dilakukan dengan cara yang memungkinkan guru
menemukan sendiri cara-cara untuk memperbaiki kekurangannya sendiri (dalam suatu
pengakuan yang jujur dan tulus)
2. Dalam pelaksanaan supervisi klinis terdapat 3 tahap. Pada tahap pertemuan awal
terdapat kegiatan-kegiatan; pembahasan pemantapan hubungan antara guru dengan
supervisor, membuat perencanaan bersama. Pada tahapan terakhir dari supervisi klinis
terdapat kegiatan-kegiatan; analisis data hasil observasi, pertemuan untuk mendiskusikan
hasil observasi. Prosedur observasi klinis disebut “siklus” karena ketiga tahapan itu
merupakan suatu proses yang berkelanjutan, pada akhir tahap ketiga (pertemuan balikan)
sudah mulai dibicarakan bahan masukan (input) untuk tahap pertama (pertemuan awal) pada
siklus berikutnya.
3. Tips dan trik yang dilakukan supervisor dalam melaksanakan supervisi klinis yaitu :
membangun kesadaran, meningkatkan pemahaman, kepedulian, dan komitmen.
B. Saran
Setelah membaca makalah ini, penulis menyarankan agar tidak hanya menjadikan makalah
ini sebagai satu-satunya sumber rujukan, tetapi juga mencari referensi lain yang menyangkut
pembahasan tentang supervisi klinis untuk lebih memahami tentang supervisi klinis tersebut.
DAFTAR PUSTAKA

Judul Buku : Profesi Kependidikan


Penulis : Prof. Dr. Sudarwan Damin
Penerbit : Alfabeta Bandung