Anda di halaman 1dari 15

ASUHAN KEPERAWATAN

JIWA PADA N.y A DENGAN MASALAH GANGGUAN PROSES FIKIR


(WAHAM) DIRUANG MELATI RSJ PROF. MUHAMMAD ILDREM
PROVINSI SUMATERA UTARA 2020

OLEH :

1. MARDIATI S
2. APRILIA SIHOMBING
3. SALMA SYAHFITRI
4. DARMAN MEDROFA
5. CHISKA SIMANULLANG
6. RUTH OKTARINA

1
PROGRAM STUDI NERS

FAKULTAS FARMASI DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA

KATA PENGANTAR

Kami panjatkan puji dan syukur kehadiran tuhan yang maha esa atas berkat dan rahmat
karunianya sehingga kami dapat menyusun makalah “ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN
WAHAM”. Dengan baik selesainya penyusunannya berkat bantuan moral maupun material dari
berbagai pihak pada kesempatan ini kelompok mengucapkan terima kasih kepada :

1. Perlindungan purba,SH,MM,selaku ketua yayasan sari mutiara Medan


2. Dr. Ivan Elisabeth Purba,M,kes,selaku Rektor universitas sari mutiara Indonesia
3. Taruli Sinaga.SP,M.KM,selaku Dekan Fakultas farmasi dan ilmu kesehatan
4. Ns, Rinco Siregar,S,kep. M, kep, selaku ketua program studi ners fakultas farmasi dan
ilmu kesehatan universitas sari mutiara Indonesia
5. Ns, Jeck Amidos Pardede,S,kep. M, kep, selaku dosen pengajar yang telah memberikan
bimbingan,arahan, dan saran kepada kelompok dalam menyelesaikan makalah ini.

Tim penulis menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan dari isi
maupun susunanya, untuk tim penulis membuka diri terhadap kritik dan saran yang bersifat
membangun demi kesempurnaan makalah ini bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan
khususnya dibidang keperawatan, akhir kata tim penulus mengucapkan terimakasih.

Medan , 15 Januari 2020

2
Kelompok 5

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Kesehatan jiwa merupakan suatu keadaan yang memungkinkan untuk terjadinya perkembangan fisik,
intelektual, dan emosional individu secara optimal, sejauh perkembangan tersebut sesuai dengan
perkembangan optimal individu-individu lain.

Sementara itu, gangguan jiwa adalah suatu keadaan dengan adanya gejala klinis yang
bermaksa, berupa sindrom pola perilaku dan pola psikologik, yang berkaitan dengan adanya
distress (tidak nyaman, tidak tentram, rasa nyeri), distabilitas (tidak mampu mengerjakan
pekerjaan sehari-hari), atau meningkatkan resiko kematian, kesakitan, dan distabilitas.

Gangguan jiwa terdiri dari beberapa macam termasuk diantaranya adalah waham atau
delusi. Waham atau delusi adalah keyakinan tentang suatu pikiran yang kokoh, kuat, tidak sesuai
dengan kenyataan, tidak cocok dengan intelegensia dan latar belakang budaya, selalu
dikemukakan berulang-ulang dan berlebihan biarpun telah dibuktikan kemustahilannya atau
kesalahannya atau tidak benar secara umum.

1.3 Tujuan Penulisan Makalah


1. Tujuan umum
Tujuan umum dari pembahasan materi ini penulis berharap agar kita semua,
khususnya para pembaca dapat memahami tentang askep
pada pasien waham.
2.Tujuan khusus
1. Menjelaskan definisi waham
2. Menjelaskan penyebab waham
3
3. Menjelaskan tanda dan gejala waham
4. Menjelaskan jenis-jenis waham
5. Menjelaskan pohon masalah terjadinya waham
6. Menjelaskan asuhan keperawatan waham

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Konsep Dasar Waham

2.1.1. Pengertian Waham

Waham adalah keyakinan yang salah dan kuat dipertahankan walaupun tidak diyakini oleh orang
lain dan bertentangan dengan realitas sosial ( Menurut Gail W. Stuart ).
Waham (delusi) adalah keyakinan individu yang tidak dapat divalidasi atau dibuktikan dengan
realitas. Haber (1982) keyakinan individu tersebut tidak sesuai dengan tingkat intelektual dan
latar belakang budayanya. Rawlin (1993) dan tidak dapat digoyahkan atau diubah dengan alasan
yang logis (Cook and Fontain 1987) serta keyakinan tersebut diucapkan berulang-ulang.
Waham adalah gangguan proses pikir yang ditandai dengan keyakinan tentang diri dan
lingkungan yang menyimpang, dipertahankan secara kuat, tidak serasi dengan latar belakang
pendidikan dan sosial budaya.
Waham adalah keyakinan klien yang tidak sesuai dengan kenyataan yang tetap dipertahankan
dan tidak dapat dirubah secara logis oleh orang lain. Keyakinan ini berasal dari pemikiran klien
yang sudah kehilangan kontrol.

2.1.2. Jenis-Jenis Waham

Jenis-jenis waham, antara lain:


1. Waham kebesaran
Penderita merasa dirinya orang besar, berpangkat tinggi, orang yang pandai sekali, orang
kaya

2. Waham berdosa
Timbul perasaan bersalah yang luar biasa dan merasakan suatu dosa yang besar.
Penderita percaya sudah selayaknya ia dihukum berat.

3. Waham dikejar
Individu merasa dirinya senantiasa dikejar-kejar oleh orang lain atau kelompok orang yang
bermaksud berbuat jahat padanya.

4
4. Waham curiga
Individu merasa selalu disindir oleh orang-orang sekitarnya. Individu curiga terhadap
sekitarnya. Biasanya yang mempunyai waham ini mencari-cari hubungan antara dirinya
dengan orang lain di sekitarnya, yang bermaksud menyindirnya atau menuduh hal-hal yang
tidak senonoh terhadap dirinya. Dalam bentuk yang lebih ringan, kita kenal “Ideas of
reference”, yaitu ide atau perasaan bahwa peristiwa tertentu dan perbuatan-perbuatan tertentu
dari orang lain (senyuman, gerak-gerik tangan, nyanyian dan sebagainya) mempunyai
hubungan dengan dirinya.

5. Waham cemburu
Selalu cemburu kepada orang lain.

6. Waham somatik atau hipokondria


Keyakinan tentang berbagai penyakit yang berada dalam tubuhnya, seperti ususnya yang
membusuk, otak yang mencair.

7. Waham keagamaan
Waham yang keyakinan dan pembicaraan selalu tentang agama .

8. Waham nihilistik
Keyakinan bahwa dunia ini sudah hancur atau dirinya sendiri sudah meninggal.

9. Waham pengaruh
Yaitu, pikiran, emosi dan perbuatannya diawasi atau dipengaruhi oleh orang lain atau
kekuatan.

2.1.3. Etiologi

Salah satu penyebab dari perubahan proses pikir : waham yaitu Gangguan konsep diri : harga diri
rendah. Harga diri adalah penilaian individu tentang pencapaian diri dengan menganalisa
seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri. Gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai
perasaan negatif terhadap diri sendiri, hilang kepercayaan diri, dan merasa gagal mencapai
keinginan.

1. Faktor predisposisi
a. Faktor perkembangan
Hambatan perkembangan akan mengganggu hubungan interpersonal seseorang. Hal ini
dapat meningkatkan stres dan ansietas yang berakhir dengan gangguan persepsi, klien
menekan perasaannya sehingga pematangan fungsi intelektual dan emosi tidak efektif.

b. Faktor Sosial Budaya


Seseorang yang merasa diasingkan dan kesepian dapat menyebabkan timbulnya waham.

c. Faktor psikologis

5
Hubungan yang tidak harmonis, peran ganda/bertentangan, dapat menimbulkan ansietas
dan berakhir dengan pengingkaran terhadap kenyataan

d. Faktor Biologis
Waham diyakini terjadi karena adanya atrofi otak, pembesaran ventrikel di otak atau
perubahan pada sel kortikal dan limbik .

e. Faktor genetic

2. Faktor presipitasi
a. Faktor Sosial Budaya
Waham dapat dipicu karena adanya perpisahan dengan orang yang berarti atau
diasingkan dari kelompok.

b. Faktor Biokimia
Dopamin, norepineprin, dan zat halusinogen lainnya diduga dapat menjadi penyebab
waham pada seseorang .

c. Faktor Psikologis
Kecemasan yang memanjang dan terbatasnya kemampuan untuk mengatasi masalah
sehingga klien mengembangkan koping untuk menghindari kenyataan yang
menyenangkan.

2.1.4. Proses terjadinya waham (delusi)


Faktor yang mempengaruhi terjadinya waham, adalah:
1. Fase Lack of Human need
Waham diawali dengan terbatasnya kebutuhn-kebutuhan klien baik secara fisik maupun
psikis. Secar fisik klien dengan waham dapat terjadi pada orang-orang dengan status sosial
dan ekonomi sangat terbatas.
Biasanya klien sangat miskin dan menderita. Keinginan ia untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya mendorongnya untuk melakukan kompensasi yang salah. Ada juga klien yang
secara sosial dan ekonomi terpenuhi tetapi kesenjangan antara Reality dengan selft ideal
sangat tinggi. Misalnya ia seorang sarjana tetapi menginginkan dipandang sebagai seorang
dianggap sangat cerdas, sangat berpengalaman dn diperhitungkan dalam kelompoknya.
Waham terjadi karena sangat pentingnya pengakuan bahwa ia eksis di dunia ini. Dapat
dipengaruhi juga oleh rendahnya penghargaan saat tumbuh kembang ( life span history ).

2. Fase lack of self esteem

6
Tidak ada tanda pengakuan dari lingkungan dan tingginya kesenjangan antara self ideal
dengan self reality (kenyataan dengan harapan) serta dorongan kebutuhan yang tidak
terpenuhi sedangkan standar lingkungan sudah melampaui kemampuannya. Misalnya, saat
lingkungan sudah banyak yang kaya, menggunakan teknologi komunikasi yang canggih,
berpendidikan tinggi serta memiliki kekuasaan yang luas, seseorang tetap memasang self
ideal  yang melebihi lingkungan tersebut. Padahal self reality-nya sangat jauh. Dari aspek
pendidikan klien, materi, pengalaman, pengaruh, support system semuanya sangat rendah.

3. Fase control internal external


Klien mencoba berfikir rasional bahwa apa yang ia yakini atau apa-apa yang ia katakan
adalah kebohongan, menutupi kekurangan dan tidak sesuai dengan kenyataan. Tetapi
menghadapi kenyataan bagi klien adalah sesuatu yang sangat berat, karena kebutuhannya
untuk diakui, kebutuhan untuk dianggap penting dan diterima lingkungan menjadi prioritas
dalam hidupnya, karena kebutuhan tersebut belum terpenuhi sejak kecil secara optimal.
Lingkungan sekitar klien mencoba memberikan koreksi bahwa sesuatu yang dikatakan klien
itu tidak benar, tetapi hal ini tidak dilakukan secara adekuat karena besarnya toleransi dan
keinginan menjaga perasaan. Lingkungan hanya menjadi pendengar pasif tetapi tidak mau
konfrontatif berkepanjangan dengan alasan pengakuan klien tidak merugikan orang lain.

4. Fase environment support


Adanya beberapa orang yang mempercayai klien dalam lingkungannya menyebabkan klien
merasa didukung, lama kelamaan klien menganggap sesuatu yang dikatakan tersebut sebagai
suatu kebenaran karena seringnya diulang-ulang. Dari sinilah mulai terjadinya kerusakan
kontrol diri dan tidak berfungsinya norma ( Super Ego ) yang ditandai dengan tidak ada lagi
perasaan dosa saat berbohong.

5. Fase comforting
Klien merasa nyaman dengan keyakinan dan kebohongannya serta menganggap bahwa
semua orang sama yaitu akan mempercayai dan mendukungnya. Keyakinan sering disertai
halusinasi pada saat klien menyendiri dari lingkungannya. Selanjutnya klien lebih sering
menyendiri dan menghindar interaksi sosial ( Isolasi sosial ).

7
6. Fase improving
Apabila tidak adanya konfrontasi dan upaya-upaya koreksi, setiap waktu keyakinan yang
salah pada klien akan meningkat. Tema waham yang muncul sering berkaitan dengan
traumatik masa lalu atau kebutuhan-kebutuhan yang tidak terpenuhi ( rantai yang hilang ).
Waham bersifat menetap dan sulit untuk dikoreksi. Isi waham dapat menimbulkan ancaman
diri dan orang lain. Penting sekali untuk mengguncang keyakinan klien dengan cara
konfrontatif serta memperkaya keyakinan relegiusnya bahwa apa-apa yang dilakukan
menimbulkan dosa besar serta ada konsekuensi sosial.

Waham adalah anggapan tentang orang yang hypersensitif, dan mekanisme ego spesifik,
reaksi formasi dan penyangkalan. Klien dengan waham menggunakan mekanisme
pertahanan reaksi formasi, penyangkalan dan proyeksi. Pada reaksi formasi, digunakan
sebagai pertahanan melawan agresi, kebutuhan, ketergantungan dan perasaan cinta.
Kebutuhan akan ketergantungan ditransformasikan mejadi kemandirian yang kokoh.
Penyangkalan, digunakan untuk menghindari kesadaran akan kenyataan yang menyakitkan.
Proyeksi digunakan untuk melindungi diri dari mengenal impuls yang tidak dapat di terima
dari dirinya sendiri. Hypersensitifitas dan perasaan inferioritas telah dihipotesiskan telah
menyebabkan reaksi formasi dan proyeksi waham dan suporioritas.
Waham juga dapat muncul dari hasil pengembangan pikiran rahasia yang menggunakan
fantasi sebagai cara untuk meningkatkan harga diri mereka yang terluka. (kalpan dan Sadock
1997).

2.1.5. Tanda dan Gejala

1. Tanda dan Gejala menurut Budi Anna Keliat, 1999:


a. Perasaan malu terhadap diri sendiri akibat penyakit dan tindakan terhadap penyakit .
b. Rasa bersalah terhadap diri sendiri (mengkritik/menyalahkan diri sendiri) .
c. Gangguan hubungan sosial (menarik diri) .
d. Percaya diri kurang (sukar mengambil keputusan).

8
e. Mencederai diri (akibat dari harga diri yang rendah disertai harapan yang suram,
mungkin klien akan mengakiri kehidupannya).

2. Tanda dan gejala menurut Azis R dkk, 2003: Klien mengungkapkan sesuatu yang
diyakininya (tentang agama, kebesaran, kecurigaan, keadaan dirinya berulang kali secara
berlebihan tetapi tidak sesuai kenyataan).
Klien merasa orang lain menjauh
Klien merasa tidak ada yang mau mengerti
Banyak kata ( logorrhoe )
Inkoheren
marah-marah tanpa sebab
Curiga
Bermusuhan
Merusak (diri, orang lain, lingkungan)
Takut, sangat waspada
Tidak tepat menilai lingkungan/ realitas
Ekspresi wajah tegang
Mudah tersinggung

2.1.6. Rentang Respon

respon adaptif respon maladaptif

pikiran logis distorsi pikiran waham

persepsi akurat ilusi


halusinasi
emosi konsisten dgn pengalaman reaksi emosi berlebihan/kurang sulit berespon
emosi
perilaku sesuaI perilaku aneh/ tidak biasa perilaku kacau
berhubungan sosial menarik diri isolasi sosial

Perilaku yang mewakili upaya untuk melindungi klien dari pengalaman yang menakutkan
berhubungan dengan respon neurobiologis yang maladaptif meliputi :

9
Regresi : berhubungan dengan masalah proses informasi dan upaya untuk mengatasi
ansietas
Proyeksi : sebagai upaya untuk menjelaskan kerancuan persepsi co : menyalahkan orang
lain.
Menarik diri
Pada keluarga : mengingkari

2.1.7. Perilaku waham

1. Waham agama : percaya bahwa seseorang menjadi kesayangan supranatural atau alat
supranatural
2. Waham somatik : percaya adanya gangguan pada bagian tubuh
3. Waham kebesaran : percaya memiliki kehebatan atau kekuatan luar biasa
4. Waham curiga : kecurigaan yang berlebihan atau irasional dan tidak percaya dengan
orang lain
5. Waham nihilistik : keyakinan seseorang bahwa dirinya sudah meninggal dunia, diucapkan
berulang-ulang tetapi tidak sesuai dengan kenyataan
6. Waham Kejar : Klien yakin bahwa ada orang yang sedang mengganggunya, menipunya,
memata-matai atau menjelekkan dirinya.
7. Waham Depresif (menyalahkan diri sendiri) :

8. Kepercayaan yang tdak berdasar. Menyalahkan diri sendiri akibat perbuatan-perbuatannya


yang melanggar kesusilaan atau kejahatan lain. Waham depresif sering dirasakan sebagai :
waham bersalah (perasaan bersalah, kehilangan harga diri), waham sakit (gangguan perasaan
tubuh yang berasal dari viseral yang dipengaruhi oleh keadaan emosi), waham miskin
(kehidupan perasaan nilai sosial).

9. Siar pikir : percaya bahwa pikirannya disiarkan ke dunia luar


10. Sisip pikir : percaya ada pikiran orang lain yang masuk dalam pikirannya
11. Kontrol pikir : merasa perilakunya dikendalikan oleh pikiran orang lain

2.1.8. Dampak/Akibat masalah utama

10
Klien dengan waham dapat berakibat terjadinya resiko tinggi perilaku kekerasan. Resiko tinggi
perilaku kekerasan merupakan suatu tindakan yang kemungkinan dapat melukai/
membahayakan diri, orang lain dan lingkungan.
Tanda dan Gejala :
 Memperlihatkan permusuhan
 Mendekati orang lain dengan ancaman
 Memberikan kata-kata ancaman dengan rencana melukai
 Menyentuh orang lain dengan cara yang menakutkan
 Mempunyai rencana untuk melukai

2.1.9. POHON MASALAH


Harga diri rendah knonis

Perubahan Proses Pikir: Waham

Defisit perawatan diri

2.2.0. MASALAH KEPERAWATAN DAN DATA YANG PERLU DIKAJI


Masalah Keperawatan : Perubahan Isi Pikir : Waham
1) Data subjektif :
Klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya ( tentang agama, kebesaran, kecurigaan,
keadaan dirinya) berulang kali secara berlebihan tetapi tidak sesuai kenyataan.
2). Data objektif :
Klien tampak tidak mempunyai orang lain, curiga, bermusuhan, merusak (diri, orang lain,
lingkungan), takut, kadang panik, sangat waspada, tidak tepat menilai lingkungan /
realitas, ekspresi wajah klien tegang, mudah tersinggung.

2.2.2 DIAGNOSA KEPERAWATAN


 Perubahan Proses Pikir: Waham

2.2.3 RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN

11
Diagnosa Keperawatan: Perubahan Proses Pikir: Waham
1. Tujuan umum :
Klien tidak terjadi perubahan proses pikir: waham
2. Tujuan khusus :
1) Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat
Tindakan :
a. Bina hubungan. saling percaya: salam terapeutik, perkenalkan diri, jelaskan tujuan
interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang, buat kontrak yang jelas topik, waktu,
tempat).
b. Jangan membantah dan mendukung waham klien: katakan perawat menerima
keyakinan klien “saya menerima keyakinan anda” disertai ekspresi menerima,
katakan perawat tidak mendukung disertai ekspresi ragu dan empati, tidak
membicarakan isi waham klien.
c. Yakinkan klien berada dalam keadaan aman dan terlindungi: katakan perawat akan
menemani klien dan klien berada di tempat yang aman, gunakan keterbukaan dan
kejujuran jangan tinggalkan klien sendirian.
d. Observasi apakah wahamnya mengganggu aktivitas harian dan perawatan diri.

2) Klien dapat mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki


Tindakan :
a. Beri pujian pada penampilan dan kemampuan klien yang realistis.
b. Diskusikan bersama klien kemampuan yang dimiliki pada waktu lalu dan saat ini
yang realistis.
c. Tanyakan apa yang biasa dilakukan kemudian anjurkan untuk melakukannya saat ini
(kaitkan dengan aktivitas sehari hari dan perawatan diri).
Jika klien selalu bicara tentang wahamnya, dengarkan sampai kebutuhan waham tidak
ada. Perlihatkan kepada klien bahwa klien sangat penting.

3. Klien dapat mengidentifikasikan kebutuhan yang tidak terpenuhi


Tindakan :
a. Observasi kebutuhan klien sehari-hari.
b. Diskusikan kebutuhan klien yang tidak terpenuhi baik selama di rumah maupun di
rumah sakit (rasa sakit, cemas, marah)
c. Hubungkan kebutuhan yang tidak terpenuhi dan timbulnya waham.
d. Tingkatkan aktivitas yang dapat memenuhi kebutuhan klien dan memerlukan waktu
dan tenaga (buat jadwal jika mungkin).
e. Atur situasi agar klien tidak mempunyai waktu untuk menggunakan wahamnya.

4. Klien dapat berhubungan dengan realitas


Tindakan :

12
a. Berbicara dengan klien dalam konteks realitas (diri, orang lain, tempat dan waktu).
b. Sertakan klien dalam terapi aktivitas kelompok : orientasi realitas.
c. Berikan pujian pada tiap kegiatan positif yang dilakukan klien

5. Klien dapat menggunakan obat dengan benar


Tindakan :
a. Diskusikan dengan kiten tentang nama obat, dosis, frekuensi, efek dan efek samping
minum obat
b. Bantu klien menggunakan obat dengan priinsip 5 benar (nama pasien, obat, dosis,
cara dan waktu).
c. Anjurkan klien membicarakan efek dan efek samping obat yang dirasakan
d. Beri reinforcement bila klien minum obat yang benar.

6. Klien dapat dukungan dari keluarga


Tindakan :
a. Diskusikan dengan keluarga melalui pertemuan keluarga tentang: gejala waham, cara
merawat klien, lingkungan keluarga dan follow up obat.
b. Beri reinforcement atas keterlibatan keluarga.

13
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Waham atau delusi adalah keyakinan tentang suatu pikiran yang kokoh, kuat, tidak sesuai
dengan kenyataan, tidak cocok dengan intelegensia dan latar belakang budaya, selalu
dikemukakan berulang-ulang dan berlebihan biarpun telah dibuktikan kemustahilannya
atau kesalahannya atau tidak benar secara umum.
Waham adalah anggapan tentang orang yang hypersensitif, dan mekanisme ego spesifik,
reaksi formasi dan penyangkalan. Klien dengan waham menggunakan mekanisme
pertahanan reaksi formasi, penyangkalan dan proyeksi. Pada reaksi formasi, digunakan
sebagai pertahanan melawan agresi, kebutuhan, ketergantungan dan perasaan cinta.
Kebutuhan akan ketergantungan ditransformasikan mejadi kemandirian yang kokoh.

14
DAFTAR PUSTAKA

Keliat, Budi Anna. 2006. Kumpulan Proses Keperawatan Masalah Jiwa. Jakarta : FIK,
Universitas Indonesia
Aziz R, dkk. 2003. Pedoman Asuhan Keperawatan Jiwa. Semarang: RSJD Dr. Amino
Gondoutomo.
Tim Direktorat Keswa. 2000. Standar Asuhan Keperawatan Jiwa Edisi 1. Bandung, RSJP
Bandung.
Kusumawati dan Hartono . 2010 . Buku Ajar Keperawatan Jiwa . Jakarta : Salemba Medika
Stuart dan Sundeen . 2005 . Buku Keperawatan Jiwa . Jakarta : EGC .

15