Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Hipertensi telah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang utama di negara-


negara maju serta di beberapa negara-negara berkembang. Indonesia sebagai salah satu
negara berkembang juga menghadapi masalah ini. Semakin meningkatnya arus
globalisasi di segala bidang, telah membawa banyak perubahan pada perilaku dan gaya
hidup masyarakat diIndonesia, termasuk dalam pola konsumsi makanan keluarga. Perubahan
tersebut tanpa disadari telah memberi pengaruh terhadap terjadinya transisi epidemiologi
dengan semakin meningkatnya kasus-kasus hipertensi di Indonesia. Hipertensi dilihat dari
segi klinis, merupakan penyakit yang umum, asimptomatis, mudah dideteksi dan mudah
ditangani jika dikenali secara dini. Namun, hipertensi dapat menyebabkan komplikasi-
komplikasi yang mematikan jika tidak ditangani.

Didalam tubuh kita, darah ibarat angkutan umum yang kesana kemari lewat jaringan
pembuluh darah. Darah ini mengangkut zat makanan (nutrisi) dan oksigen untuk dikirim
keseluruh bagian tubuh. Adapun fungsi penggerak darah hingga dapat mengalir terus
menerus adalah jantung.
Ketika jantung memompa darah, timbul tekanan aliran terhadap dinding pembuluh
darah. Dalam keadaan normal tekanan pada saat jantung berkontraksi( sistolik) berada
dibawah 120 MmHg, sedangkan ketika jantung bereaksi (diastolik) dibawah 20 MmHg.
Namun, ada juga yang memberi ancer-ancer, tekanan darah yang ideal itu (golb standar)
115/75 MmHg.
Orang dikatakan menderita penyakit darah tinggi kalo tekanan darahnya 140/90
MmHg atau lebih tinggi yang diukur di kedua lengan penderita sebanyak tiga kali dalam
jangka waktu beberapa minggu.satu dari tiga orang yakit darah tinggi tidak menunjukakan
tanda gejala apapun. Celakanya, bila hipertensi ini tidak dikendalikan bisa merusak jantung
dan pembulu darah sehingga megarah pada timbulnya beberapa kondisi lain seperti stroke,
serangan jantung, gagal ginjal, atau gangguan pada mata.

1
A. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian hipertensi?
2. Apa penyebeb hipertensi?
3. Apa pengobatan hipertensi?
4. Apa fisiologi hipertensi?

B. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian hipertensi
2. Untuk mengetahui penyebab hipertensi
3. Untuk mengetahui pengobatan hipertensi
4. Untuk mengetahui fisiologi hipertensi

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI HIPERTENSI

Tekanan darah tinggi (hipertensi) adalah suatu peningkatan tekanan darah


didalamarteri. Secara umum hipertensi merupakan suatu keadaan tanpa gejala, dimana
tekananyang abnormal tinggi didalam arteri menyebabkan meningkatnya resiko terhadap
stroke,gagal jantung, serangan jantung dan kerusakan ginjal. Pada pemeriksaan tekanan
darahakan didapat dua angka. Angka yang lebih tingggi diperoleh pada saat jantung
berkontraksi (sistolik), angka yang lebih rendah diperoleh pada saat jantung
berelaksasi(diastolik). Tekanan darah ditulis sebagai tekanan sistolik garis miring tekanan
diastolik,misalnya 120/80 mmHg, dibaca seratus dua puluh per delapan puluh (Ruhyanudin,
Faqih, 2007)

Dikatakan tekanan darah tingggi jika pada saat duduk tekanan sistolik mencapai
140mmHg atau lebih, atau tekanan diastolik mencapai 90 mmHg atau lebih, atau
keduanya.Hipertensi yang sangat parah yang bila tidak diobati akan menimbulkan kematian
dalamwaktu 3-6 bulan disebut hipertensi maligna. Pada tekanan darah tinggi, biasanya
terjadikenaikan tekanan sistolik dan diastolik. Tetapi diagnosis tidak dapat ditegakkan hanya
berdasarkan satu pengukuran. Jika pada pengukuran pertama menberikan hasil yangtinggi,
maka tekanan darah diukur kembali dan kemudian diukur sebanyak dua kali padawaktu dua
hari berikutnya untuk meyakinkan adanya hipertensi. Hasil pengukuran bukanhanya
menentukan adanya tekanan darah tinggi, tetapi juga digunakan untukmenggolongkan
beratnya hipertensi (Ruhyanudin, Faqih, 2007). Sejalan dengan bertambahnya usia, hampir
setiap orang mengalami kenaikan tekanan darah. Tekanansistolik terus meningkat sampai
usia 80 tahun dan tekanan diastolik terus meningkatsampai usia 55-60 tahun, kemudian
berkurang secara perlahan atau bahkan menurundrastis. Tekanan darah dalam kehidupan
seseorang bervariasi secara alami. Bayi dananak-anak secara normal memiliki tekanan darah
yang jauh lebih rendah daripadadewasa. Tekanan darah juga dipengaruhi oleh aktivitas fisik,
dimana akan lebih tinggi pada saat melakukan aktivitas dan lebih rendah ketika beristirahat.

3
Tekanan darah dalamsatu hari juga berbeda, paling tinggi diwaktu pagi hari dan paling
rendah pada saat tidurmalam (Ruhyanudin, Faqih, 2007).

Setiap individu pernah mengalami nyeri dalam tingkatan tertentu. Nyerimerupakan


suatu kondisi yang lebih dari sekedar sensasi tunggal yang disebabkan olehstimulus tertentu.
Individu yang merasakan nyeri merasa tertekan dan mencari upayauntuk menghilangkan
nyeri. Nyeri bersifat subjektif dan sangat bersifat individual.Stimulus nyeri dapat berupa
stimulus yang bersifat fisik atau mental, sedangkankerusakan dapat terjadi pada jaringan
aktual atau pada fungsi ego seorang individu.Asosiasi internasional untuk penelitian nyeri
( International Association for the Study of Pain, IASP) mendefinisikan nyeri sebagai suatu
sensori subjektif dan pengalamanemosional yang tidak menyenangkan berkaitan dengan
kerusakan jaringan yang aktualatau potensial atau yang dirasakan dalam kejadian-kejadian
dimana terjadi kerusakan(Perry & Potter, 2006). Sedangkan kenyamanan adalah konsep
sentrai tentang kiat keperawatan. Berbagaiteori keperawatan menyatakan kenyamanan
sebagai kebutuhan dasar klien yangmerupakan tujuan pemberian asuhan keperawatan.
Konsep kenyamanan memilikisubjektivitas yang sama dengan nyeri. Setiap individu
memiliki karakteristik fisiologis,sosial, spiritual, psikologis, dan kebudayaan yang
mempengaruhi cara merekamenginterpretasikan dan merasakan nyeri (Perry & Potter, 2006).

Dikalangan komunitas peneliti medis, stres merupakan subjek


kontroversial,meskipun dokter rumah sakit sering melihat bahwa stres sangat mempengaruhi
kondisi pasien mereka. Stres mempercepat produksi senyawa berbahaya, meningkatkan
kecepatandenyut jantung dan kebutuhan akan suplai darah, dan tidak lama kemudian
meningkatkantekanan darah. Stres dan emosi negatif mempengaruhi tubuh dengan berbagai
cara yangsangat nyata dan psikologis. Terutama pada orang dengan irama jantung yang
tidakteratur, tekanan mental dapat memicu kekacauan detak jantung yang
berbahaya.Kekacauan ini cukup untuk menyebabkan serangan jantung. Tekanan mental
jugamenyebabkan bagian dalam pembuluh darah mengalami pengerutan,
sehinggameningkatkan resiko kematian tiba-tiba akibat gangguan jantung. Stres mendadak
akanmemicu disfungsi endotelial yaitu suatu istilah kedokteran untuk menggambarkan
tidak berfungsinya pembuluh arteri, serta kegagalan arteri untuk mengembang (Kowalski,Ro
bert, 2010)

4
B. PENYEBAB HIPERTENSI
Penyebab hipertensi adalah sebagai berikut:
1. Asupan garam yang tinggi
2. Stress psikologis
3. Faktor genetic (keturunan)
4. Kurang olahraga
5. Kebiasaan hidup yang tidak baik seperti merokok dan alkohol
6. Penyempitan pembuluh darah oleh lemak/kolesterol tinggi
7. Peningkatan usia
8. Kegemukan

Penyebab hipertensi terbagi menjadi 2, yaitu:

1. Hipertensi primer/esensial adalah hipertensi yang tidak atau belum


diketahui penyebabnya, disebut juga hipotensi idiopaik. Terdapat
95% kasus. Banyak factor yang mempengaruhi seperti genetic,
lingkingan, hiperativis susunan simpatis, system renin-angiotensis,
efek dalam eksresi Na, peningkatan Na dan Ca intraselular, dan
faktor-faktor yang meningkatkan risiko seperti obesitas, alcohol,
merokok serta polisitemia.
2. Hipertensi sekunder. Terdapat sekitar 5% kasus. Penyebab
spesifiknya diketahui seperti penggunaan estrogen, penyakit ginjal,
hipertensi vascular renal, hiperaldosteronisme primer, dan sindrom
cushing, feokromositomo, koarktasioaorta, hipertensi yang
berhubungan dengan kehamilan, dll.
Berdasarkan penyebabnya, hipertensi dibagi menjadi dua golongan :
1. Hipertensi Esensial Hipertensi yang penyebabnya tidak diketahui
(idiopatik), walaupun dikaitkan dengan kombinasi faktor gaya hidup
seperti kurang bergerak (inaktivitas) dan pola makan. Terjadi pada
sekitar 90% penderita hipertensi (Kemenkes.RI, 2014).

5
2. Hipertensi Sekunder Prevalensi hipertensi sekunder sekitar 5-8% dari
seluruh penderita hipertensi. Penyebab hipertensi sekunder yaitu
ginjal (hipertensi renal), penyakit endokrin dan obat.
Penggunaan obat-obatan seperti golongan kortikosteroid (cortison)
dan beberapa obat hormon, termasuk beberapa obat antiradang (anti-
inflammasi) secara terus menerus (sering) dapat meningkatkan tekanan
darah seseorang. Merokok jugamerupakan salah satu faktor penyebab
terjadinya peningkatan tekanan darah tinggidikarenakan tembakau yang
berisi nikotin. Minuman yang mengandung alkohol juga termasuk salah
satu faktor yang dapat menimbulkan terjadinya tekanan darah
tinggi(Wikipedia, 2010).
Beberapa penyebab terjadinya hipertensi  sekunder:        
Ø  Penyakit Ginjal
·         Tumor-tumor ginjal
·           Penyakit ginjal polikista (biasanya diturunkan)
·         Trauma pada ginjal (luka yang mengenai ginjal)
·         Terapi penyinaran yang mengenai ginjal
Ø  Kelainan Hormonal
·         Hiperaldosteronisme
·         Feokromositoma (tumor medulla adrenal)
·           Hipertiroidisme
Ø  Obat-obatan
·         Pil KB
·          Kortikosteroid
·          Simpatomimetik amin (efedrin, fenilpropanolamin, fenilerin,
amfetamin)
·         Siklosporin
·           Eritropoietin
·         Kokain

6
·           Penyalahgunaan alkohol
Ø  Penyebab Lainnya
·         Kelainan neurologik (mis: tumor otak)
·          Preeklampsia pada kehamilan
C. PENGOBATAN HIPERTENSI

Tujuan utama pengobata penderita hipertensi adalah tercapainya


penurunan maksimum risiko total morbiditas dan mortalitas kardiovaskuler. Hal
ini memerlukan pengobatan semua faktor risiko reversible yang ditemukan seperti
merokok, peningkatan kolesterol, diabetes mellitus dan pengobatan.

1. Non farmakologis

Menjalani pola hidup sehat telah banyak terbukti dapat menurunkan tekanan
darah, dan secara umum sangat menguntungkan dalam menurunkan risiko
permasalahan kardiovaskular. Pada pasien yang menderita hipertensi derajat 1, tanpa
faktor risiko kardiovaskular lain, maka strategi pola hidup sehat merupakan
tatalaksana tahap awal, yang harus dijalani setidaknya selama 4 – 6 bulan. Bila
setelah jangka waktu tersebut, tidak didapatkan penurunan tekanan darah yang
diharapkan atau didapatkan faktor risiko kardiovaskular yang lain, maka sangat
dianjurkan untuk memulai terapi farmakologi (Perhimpunan Dokter Spesialis
Kardiovaskular Indonesia, 2015). Beberapa pola hidup sehat yang dianjurkan oleh
banyak guidelines adalah :

 Penurunan berat badan. Mengganti makanan tidak sehat dengan


memperbanyak asupan sayuran dan buah-buahan dapat memberikan manfaat
yang lebih selain penurunan tekanan darah, seperti menghindari diabetes dan
dislipidemia. ! Mengurangi asupan garam. Dianjurkan untuk asupan garam
tidak melebihi 2 gr/ hari ! Olah raga. Olah raga yang dilakukan secara teratur
sebanyak 30 – 60 menit/ hari, minimal 3 hari/ minggu, dapat menolong
penurunan tekanan darah.

7
 Mengurangi konsumsi alkohol. konsumsi alcohol lebih dari 2 gelas per hari
pada pria atau 1 gelas per hari pada wanita, dapat meningkatkan tekanan
darah.
 Berhenti merokok.
2. Terapi farmakologi

Secara umum, terapi farmakologi pada hipertensi dimulai bila pada pasien
hipertensi derajat 1 yang tidak mengalami penurunan tekanan darah setelah > 6 bulan
menjalani pola hidup sehat dan pada pasien dengan hipertensi derajat ≥ 2. Beberapa
prinsip dasar terapi farmakologi yang perlu diperhatikan untuk menjaga kepatuhan
dan meminimalisasi efek samping, yaitu :

 Bila memungkinkan, berikan obat dosis tunggal


 Berikan obat generic (non-paten) bila sesuai dan dapat mengurangi biaya
 Berikan obat pada pasien usia lanjut ( diatas usia 80 tahun ) seperti pada
usia 55 – 80 tahun, dengan memperhatikan faktor komorbid.
 Jangan mengkombinasikan angiotensin converting enzyme inhibitor
(ACE-i) dengan angiotensin II receptor blockers (ARBs)
 Berikan edukasi yang menyeluruh kepada pasien mengenai terapi
farmakologi ! Lakukan pemantauan efek samping obat secara teratur.

      Umum
Setelah diagnose hipertensi ditegakkan dan diklasifikasikan menurut golongan atau
derajatnya, maka dapat dilakukan dua strategi penatalaknaan dasar yaitu :
a.      Non farmakologik, yaitu tindakan untuk mengurangi faktor risiko yang telah diketahui
akan menyebabkan atau menimbulkan komplikasi, misalnya menghilangkan obesitas,
menghentikan kebiasaan merokok, alkohol, dan mengurangi asupan garam serta rileks.
b.      Farmakologik, yaitu memberikan obat anti hipertensi ygang telah terbukti kegunaannya
dan keamanannya bagi penderita. Obat-obatan yang digunakan pada hipertensi adalah :
1)   Diuretik, contohnya furosemide, triamferena, spironolactone
2)   Beta blockers, contohnya metaprolol, atenolol, timolol

8
3)   ACE-inhibitor, contohnya lisinopril, captopril, quinapril
4)   Alpha-blockers, contohnya prazosin, terazosin
5)   Antagonis kalsium, contohnya diltiazem, amlodipine, nifedipine
6)   Vasodilator-direct, contohnya minixidil, mitralazine
7)   Angiotensin reseptor antagonis, contohnya losartan.
8)   False-neurotransmiter, contohnya clodine, metildopa, guanabens   Khusus
Upaya terapi khusus ditujukan untuk penderita hipertensi sekunder yang jumlahnya
kurang lebih 10 % dari total penderita hipertensi. Tanda-tanda dan penyebab hipertensi perlu
dikenali sehingga penderita dapat di rujuk lebih dini dan terapi yang tepat dapat dilakukan
dengan cepat. Perlu pemerikasaan dengan sarana yang canggih.
Berbagai golongan obat anti hipertensi:
1)      Diuretik
Diuretik merupakan ‘initial drug choices’, obat ini biasanya menjadi pilihan untuk
terapi awal HIPERTENSI yang tidak disertai dengan komplikasi / kondisi khusus. Diuretik
menurunkan tekanan darah dengan cara mengeluarkan cairan dan garam. Minum
diuretikmenyebabkan frekuensi miksi (kencing) jadi meningkat. Contoh diuretik adalah HCT
(‘Hydro Chloro Tiazid’).
Diuretik sering dikombinasikan dengan obat anti hipertensi dari golongan lain. Saat
ini sudah tersedia HCT dengan obat anti hipertensi golongan lain dalam satu sediaan tablet.
2)      Golongan ‘ACE-Inhibitor’
Yaitu ‘Angiotensin-Converting Enzyme’ (ACE) Inhibitor. Obat ini mencegah
‘konstriksi’ (pengkerutan) pembuluh darah akibat formasi hormon ‘angiotensin II’ dengan
cara memblokade enzim ACE, mencegah pembentukan angiotensin I menjadi angiotensin II.
Contoh obat golongan ini : Kaptopril.
3)      Golongan ‘Angiotensin-II Receptor Blockers’
Obat ini akan secara langsung memblokade aksi hormon angiotensin II. Obat ini
dapat digunakan bila penggunaan ACE inhibitor menimbulkan keluhan / efek
samping.Contoh obat golongan ini : Valsartan, Telmisartan, Olmesartan.
4)      Golongan ‘Beta Blocker’ (Penyekat Beta)
Obat golongan ini memblokade aksi ‘adrenalin’ pada sistem saraf otonom, sehingga
menurunkan frekuensi jantung (heart’s rate) dan curah jantung (heart’s output). Golongan

9
‘beta blocker’ juga akan mengurangi beban jantung.Contoh obat golongan ini : Propanolol,
Atenolol.
5)      Golongan ‘Calcium Channel Blocker’
Obat ini melebarkan pembuluh darah sehingga tekanan kapiler menurun. Obat ini
mencegah masuknya ‘Calsium’ ke jaringan melalui ‘Calcium Channel’ sehingga akan
me’relaksasi’ (mengendurkan) dinding pembuluh darah arteri dan menurunkan kontraksi
jantung.Contoh obat golongan ini : Verapamil, Diltiazem, Nifedipine.
6)      Golongan ‘Direct Renin Inhibitor’ (DRI)
Obat golongan ini merupakan obat anti hipertensi terbaru, memiliki efek
menghambat hormon renin dari ginjal. Contoh obat golongan ini: Aliskiren.
Reserpin (Lannett yang Serpalan) adalah alkaloid indol, antipsikotik dan
antihipertensi obat yang telah digunakan untuk mengontrol tekanan darah tinggi dan untuk
menghilangkan gejala psikotik,meskipun karena pengembangan obat yang lebih baik untuk
tujuan ini dan karena banyak efek samping, itu jarang digunakan saat ini. Tindakan
antihipertensi reserpin adalah hasil dari kemampuannya untuk menguras katekolamin (antara
neurotransmitter monoamine lainnya) dari perangkat ujung saraf simpatis. Zat-zat ini
biasanya terlibat dalam mengendalikan denyut jantung, kekuatan kontraksi jantung dan
resistensi pembuluh darah perifer.
1. Nama generik : Reserpin
Nama dagang  : Serpasil
Nama Pabrik : Biochemie
2. Penghambat
Penghambat pelepasan adrenergik prasinaptik; dibagi menjadi antiadrenergik
“sentral” dan “perifer”. Antiadrenergik sentral mencegah aliran keluar simpatis (adrenergic)
dari otak dengan mengaktifkan reseptor α2 penghambat. Antiadrenergik perifer mencegah
pelepasan norepinefrin dari terminal saraf perifer (misal yang berakhir di jantung). Obat-obat
ini mengosongkan simpanan norepinefrin dalam terminal-terminal saraf.

10
3. Farmakodinamik
Curah jantung dan resitensi perifer berkurang pada terapi jangka panjang dengan
reserpin. Penurunan tekanan darah berlangsung dengan lambat karena reserpin
mengosongkan berbagai amin dalam otak maupun dalam saraf adrenergik perifer, mungkin
efek antihipertensinya merupakan hasil kerja sentrol maupun perifernya. Hipotensi postural
dapat terjadi tetapi biasanya tidak menimbulkan gejala. Frekwensi jantung dan sekresi renin
berkurang. Terjadi retensi garam dan air, yang sering menimbulkan psiodotolerance.
4. Farmakokinetik
Reserpine dimetabolisme seluruhnya, tidak ada bentuk utuh yang di ekskresi dalam
urine.
a) Indikasi
Hipertensi esensial ringan, juga digunakan sebagai terapi tambahan dengan obat
hipertensi lain pada kasus hipertensi yang lebih berat.
b) Kontraindikasi
Riwayat depresi mental, ulkus peptikum aktif, kolitis ulseratif, hamil, menyusui.
c) Efek samping
 Saluran cerna : muntah, diare, mual, anoreksia, mulut kering, hipersekresi.
 Kardiovaskular : aritmia, sinkop, gejala menyerupai angina, bradikardi,
 Saluran napas : dispne, epistaksis, kongesti nasal.
 Neurologik : sindroma parkinson dan gejala ekstrapiramidal bersifat jarang, pusing,
sakit kepala, ansietas, depresi, gelisah, mengantuk.
 Muskuloskeletal : nyeri otot.
 Metabolik : peningkatan berat badan.
 Panca indera : tuli, glaukoma, uveitis, injeksi konjungtiva.
 Reaksi hipersensitivitas : purpura, ruam kulit, pruritus.
 Lain-lain: pseudolaktasi, impotensi, disuri, ginekomastia, penurunan libido.
d) Dosis
Dosis awal : 0,5 mg/hari melalui mulut(per oral), dalam dosis dibagi selama 2
minggu. Kemudian kurangi menjadi dosis rumatan 0,1-0,25 mg/hari melalui mulut(per oral).
Dosis maksimum : 0,5 mg/hari.

11
D. FISIOLOGI HIPERTENSI

Darah mengambil oksigen dari dalam paru-paru. Darah yang mengandung


oksigen memasuki jantung dan kemudian dipompakan ke seluruh bagian tubuh
melalui pembuluh darah yang disebut arteri. Pembuluh darah 11 yang lebih besar
bercabang-cabang menjadi pembuluh-pembuluh darah lebih kecil hingga berukuran
mikroskopik dan akhirnya membentuk jaringan yang terdiri dari pembuluh-pembuluh
darah sangat kecil atau disebut dengan pembuluh kapiler. Jaringan ini mengalirkan
darah ke sel tubuh dan menghantarkan oksigen untuk menghasilkan energi yang
dibutuhkan demi kelangsungan hidup. Kemudian darah yang sudah tidak beroksigen
kembali ke jantung melalui pembuluh darah vena, dan di pompa kembali ke paru-
paru untuk mengambil oksigen lagi. Saat jantung berdetak, otot jantung berkontraksi
untuk memompakan darah ke seluruh tubuh. Tekanan tertinggi berkontraksi dikenal
dengan tekanan sistolik. Kemudian otot jantung rileks sebelum kontraksi berikutnya,
dan tekanan ini paling rendah, yang dikenal sebagai tekanan diastolik. Tekanan
sistolik dan diastolik ini diukur ketika seseorang memeriksakan tekanan darah

12
BAB III

PENUTUP

III.1 KESIMPULAN

Penyakit tidak menular menjadi masalah kesehatan masyarakat dunia yang


menimbulkan kesakitan, kecacatan, dan kematian yang tinggi, serta menimbulkan
beban pembiayaan kesehatan sehingga perlu dilakukan penyelenggaraan
penanggulangan, Pada tingkat global, 63% penyebab kematian di dunia adalah
penyakit tidak menular yang membunuh 36 juta jiwa per tahun, 80% kematian ini
terjadi di negara berpenghasilan menengah dan rendah.

Tekanan Darah Tinggi (hipertensi) adalah suatu peningkatan tekanan darah


didalam arteri. Secara umum, hipertensi merupakan suatu keadaan tanpa gejala,
dimana tekanan yang abnormal tinggi di dalam arteri menyebabkan meningkatnya
resiko terhadap stroke, aneurisma, gagal jantung, serangan jantung dan kerusakan
ginjal.

Hipertensi atau Darah Tinggi adalah keadaan dimana seseorang mengalami


peningkatan tekanan darah diatas normal atau kronis (dalam waktu yang lama).
Hipertensi merupakan kelainan yang sulit diketahui oleh tubuh kita sendiri. Satu-
satunya cara untuk mengetahui hipertensi adalah dengan mengukur tekanan darah
kita secara teratur.

III.2 SARAN

Agar terhindar dari penyakit hipertensi yang mematikan ini sebaiknya kita
menerapkan pola hidup sehat seperti mengkonsumsi makanan yang sehat dan bergizi,
mengatur pola makan, mengatur pola aktivitas dan mengatur pola istrahat. Jika sudah

13
terkena penyakit hipertensi sebaiknya kita menghindari berbagai macam makanan
dan minuman seperti Makanan yang berkadar lemak jenuh tinggi (otak, ginjal, paru,
minyak kelapa,gajih), Makanan yang diolah dengan menggunakan garam natrium
(biscuit, crackers, keripikdan makanan keringyangasin), Makanan dan minuman
dalam kaleng (sarden, sosis, korned, sayuran serta buah-buahan dalam kaleng, soft
drink), Makanan yang diawetkan (dendeng, asinan sayur/buah, abon, ikan asin,
pindang, udang kering, telur asin, selai kacang), Susu full cream, mentega, margarine,
keju mayonnaise, serta sumber protein hewani yang tinggi kolesterol seperti daging
merah (sapi/kambing), kuning telur, kulit ayam), Bumbu-bumbu seperti kecap,
maggi, terasi, saus tomat, saus sambal, tauco serta bumbu penyedap lain yang pada
umumnya mengandunggaram natrium dan Alkohol serta makanan yang mengandung
alkohol seperti durian, tape.

14
DAFTAR PUSTAKA

Anief, Moh, 1996, Penggolongan Obat berdasarkan khasiat dan penggunaan, UGM Press;

Ardiansyah, Muhammad. 2012. Medikal Bedah Untuk Mahasiswa. Jogjakarta : DIVA Press.

Bruner dan Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Edisi 8 vol.2.

Jakarta: EGC.

Goodman dan Gilman. 2008. Dasar Farmakologi Terapi Vol 1. Edisi 10. Jakarta :

Buku Kedokteran EGC.

Ruhyanudin, Faqih. (2007).Buku Ajar Dengan Judul Asuhan Keperawatan


Gangguan Kardiovaskuler .Malang: UMM Press ISBN

Tambayong, Jan. (2000). Patofisiologi Untuk Keperawatan. Jakarta: EGC

15