Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PENDAHULUAN

HIPERBILIRUBINEMIA

DISUSUN OLEH:

INGGRY FASIYOLA (18.0.P.199)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MITRAHUSADA KARANGANYAR


2018 / 2019
A. Definisi

Hyperbilirubin adalah meningkatnya kadar bilirubin dalam darah yang kadar nilainya lebih dari
normal. (Suriadi dan Yuliani, 2010: 133)
Hyperbilirubin adalah suatu kondisi bayi baru lahir dimana kadar bilirubin serum total lebih dari
10 mg% pada minggu pertama yang ditandai dengan ikterus, yang dikenal dengan ikterus
neonatorum patologis. (Hidayat, 2008: 94)
Hyperbilirubinemia tak terkonjungsi adalah kadar bilirubin serum indirek ≥ 1 mg/ dl untuk bayi
cukup bulan atau ≥ 4-5 mg/ dl untuk bayi premature. Hyperbilirubinemia terkonjungsi adalah
kadar bilirubin serum direk ≥ 3 mg/ dl atau fraksi > 10% sampai 15% bilirubin serum total. Hal
ini disebabkan keegagalan bilirubin terkonjugasi diekskresikan dari hepar (hepatosit) ke
duodenum karena deefisiensi sekresi atau aliran empedu sehingga menyebabkan cedera sel
hepar. (Haws, 2007: 202)

B. Etiologi
1. Peningkatan bilirubin dapat terjadi karena polycetlietnia, isoimmun hemolytic diseas,
kelainan struktur dan enzim sel darah merah, keracunan obat (hemolisis kimia: salisilat,
kortikosteroid, klorampenikol), hemolisis ekstravaskuler, cephalematoma, ecchymosis.
2. Gangguan fungsi hati; glukoronil transferase, obstruksi empedu/ atresia biliari, infeksi,
masalah metabolic, galaktosemia hypothyroidisme, jaundice ASI.
(Suriadi dan Yuliani, 2010: 134)

C. Manifestasi Klinik
1. Tampak ikterus; sklera, kuku, atau kulit dan membrane mukosa. Jaundice yang tamapak
dalam 24 jam pertama disebabkan oleh penyakit hemolitik pada bayi baru lahir, sepsis, atau ibu
diabetic atau infeksi. Jaundice yang tampak pada hari kedua atau hari ketiga, dan memuncak
pada hari ke lima sampai tujuh yang biasanya merupakan jaundice fisiologis.
2. Ikterus adalah akibat pengendapan bilirubin indirek pada kulit yang cenderung tampak
kuning atau orange, ikterus pada tipe obstruksi (bilirrubin direk) kulit tampak beerwarna kuning
kehijauan atau keruh. Perbedaan ini hanya dapat dilihat pada ikterus berat.
3. Muntah, anorexia, fatigue, warna urine gelap, warna tinja pucat.
(Suriadi dan Yuliani, 2010: 134)

D. Patofisiologi
Hiperbilirubinemia neonatal atau ikterus fisiologis, suatu kadar bilirubin serum total yang lebih
dari 5 mg/ dl, disebabkan oleh predisposisi neonatal untuk memproduksi bilirubin dan
keterbatasan kemampuan untuk mengekskresikannya. Dari definisinya, tidak ada
ketidaknormalan lain atau proses patologis yang mengakibatkan ikterus. Warna kuning pada kulit
dan membrane mukosa adalah karena deposisi pigmen bilirubin tak ter-konjungsi. Sumber utama
bilirubin adalah dari pemecahan hemoglobin yang sudah tua atau sel darah merah yang
mengalami hemolisis. Pada neonates, sel darah merah mengalami pergantian yang lebih tinggi
dan waktu hidup yang lebih pendek, yang meningkatkan kecepatan produksi bilirubin lebih
tinggi. Ketidakmatangan hepar neonatal merupakan factor yang membatasi ekskresi bilirubin.
Bilirubin tak terkonjugasi atau indirek bersifat larut lemak dan mengikat albumin plasma.
Bilirubin kemudian diterima oleh hati, tempat konjugasinya. Bilirubin terkonjugasi atau direk
diekskresikan dalam bentuk empedu ke dalam usus. Di dalam usus, bakteri meerubah bilirubin
terkonjugasi atau direk menjadi urobilinogen. Mayoritas urobilinogen yang sangat mampu larut
diekskresikan kembali oleh hepar dan dieliminasi ke dalam feses, ginjal mengekskresikaan 5%
urobilinogen. Peningkatan kerusakan sel darah merah dan ketidakmatangan hepar tidak hanya
menambah peningkatan kadar bilirubin, tetapi bakteri usus lain dapat mendekonjugasibilirubin,
yang memungkinkan reabsorpsi ke dalam sirkulasi dan selanjutnya meningkatkan kadar
bilirubin.
(Betz, 2009: 207)
E. Pathways
F. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan bilirubin serum: pada bayi cukup bulan bilirubin mencapai puncak kira-kira 6
mg/ dl, antara 2 dan 4 hari kehidupan. Kadar bilirubin yang lebih dari 14 mg/ dl adalah tidak
fisiologis.
2. Ultrasound: untuk mengevaluasi anatomi cabang kantong empedu.
3. Radioisotope scan: dapat digunakan untuk meembantu membedakan hepatitis dari atresia
biliary (Suriadi dan Yuliani, 2010: 136).

G. Komplikasi
1. Hipotermi, hipoglikemi, menurunnya ikatan albumin.
2. Kernikterus: Suatu sindrom neurologic yang timbul sebagai akibat penimbunan bilirubin
tak terkonjugasi dalam sel-sel otak (Rukiyah dan Yulianti, 2012: 273).

H. Focus Pengkajian
1. Pemeriksaan fisik: Inspeksi warna pada sclera, konjungtiva, membrane mukosa mulut,
kulit, urin, tinja.
2. Pemeriksaan bilirubin menunjukan adanya peningkatan.
3. Tanyakan beerapa lama jaundice muncul dan sejak kapan.
4. Apakah bayi meengalami demam.
5. Bagaimana kebutuhan pola minum.
6. Riwayat keluarga. (Suriadi dan Yuliani, 2010: 139)
I. Diagnose Keperawatan
1. Resiko injury (internal) berhubungan dengan peningkatan serum bilirubin sekunder dari
pemecahan sel darah merah dan gaangguan ekskresi bilirubin.
2. Resiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan hilangnya air tanpa disadari
sekunder dari fototerapi.
3. Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan pengaruh fototerapi.
4. Kecemasan orang tua berhubungan dengan kondisi bayi.
5. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya pengalaman orang tua.
(Suriadi dan Yuliani, 2010: 138)

J. Rencana Keperawatan
1. Resiko injury (internal berhubungan dengan peningkatan serum bilirubin sekunder dari
pemecahan sel darah merah dan gaangguan ekskresi bilirubin.
Tujuan: Setelah diberikan tindakan perawatan selama 3x24 jam diharapkan tidak terjadi injury
akibat peningkatan serum bilirubin sekunder dari pemecahan sel darah merah dan gaangguan
ekskresi bilirubin.
Criteria Hasil: Tidak adanya tanda-tanda injury internal.

Intervensi:
a. Perhatikan dan dokumentasikan warna kulit dari kepala, sclera dan tubuh secara progresif
terhadap ikterik setiap pergantian shift
Rasional: Mengetahui adanya hiperbilirubinemi secara dini sehingga dapat dilakukan tindakan
penanganan segera.
b. Monitor kadar bilirubin dan kolaborasi bila ada peningkatan kadar.
Rasional: Mengetahui peningkatan kadar bilirubin yang tinggi
c. Monitor kadar Hb, Hct adanya penurunan.
Rasional: Adanya penurunan Hb, Hct menunjukan adanya hemolitik
d. Berikan phototerapi
Rasional: phototerapi berfungsi mendekomposisikan bilirubin dengan photoisomernya.

2. Resiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan hilangnya air tanpa disadari
sekunder dari fototerapi.
Tujuan: Setelah diberikan tindakan perawatan selama 3x24 jam diharapkan tidak terjadi deficit
volume cairan
Kriteria Hasil:
a. Jumlah intake dan output seimbang.
b. Turgor kulit baik, tanda vital dalam batas normal.
c. Penurunan BB tidak lebih dari 10 % BBL.
Intervensi:
a. Kaji reflek hisap bayi.
Rasional: Mengetahui kemampuan hisap bayi
b. Beri minum per oral/menyusui bila reflek hisap adekuat
Rasional: Menjamin keadekuatan intake
c. Catat jumlah intake dan output , frekuensi dan konsistensi feces.
Rasional: Mengetahui kecukupan intake
d. Pantau turgor kulit, tanda- tanda vital setiap 4 jam
Rasional: Turgor menurun, suhu meningkat, respirasi meningkat adalah tanda-tanda dehidrasi.
e. Timbang BB setiap hari.
Rasional: mengetahui kecukupan cairan dan nutrisi.
3. Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan pengaruh fototerapi.
Tujuan: Setelah diberikan tindakan perawatan selama 3x24 jam diharapkan tidak terjadi
gangguan integritas kulit.
Criteria Hasil:
a. Tidak terjadi decubitus
b. Kulit bersih dan lembab
Intervensi:
a. Kaji warna kulit tiap 8 jam.
Rasional: Mengetahui adanya perubahan warna kulit.
b. Ubah posisi setiap 2 jam
Rasional: Mencegah penekanan kulit pada daerah tertentu dalam waktu lama.
c. Masage daerah yang menonjol
Rasional: Melancarkan peredaran darah sehingga mencegah luka tekan di daerah tersebut.
d. Jaga kebersihan kulit bayi dan berikan baby oil atau lotion pelembab.
Rasional: Mencegah lecet.
e. Kolaborasi untuk pemeriksaan kadar bilirubin, bila kadar bilirubin turun menjadi 7,5 mg%
fototerafi dihentikan
Rasional: untuk mencegah pemajanan sinar yang terlalu lama.
4. Kecemasan orang tua berhubungan dengan kondisi bayi.

Tujuan: Setelah diberikan penjelasan selama 2x15 menit diharapkan orang tua menyatakan
mengerti tentang perawatan bayi hiperbilirubin dan kooperatif dalam perawatan.
Criteria Hasil: Orang tua tidak cemas.
Intervensi:
a. Kaji pengetahuan keluarga tentang penyakit pasien
Rasional: Mengetahui tingkat pemahaman keluarga tentang penyakit.
b. Beri pendidikan kesehatan penyebab dari kuning, proses terapi dan perawatannya.
Rasional: Meningkatkan pemahaman tentang keadaan penyakit.
c. Beri pendidikan kesehatan mengenai cara perawatan bayi dirumah.
Rasional: meningkatkan tanggung jawab dan peran orang tua dalam erawat bayi.

5. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya pengalaman orang tua.


Tujuan: Setelah diberikan penjelasan selama 2x30 menit diharapkan orang tua menyatakan
mengerti tentang perawatan bayi hiperbilirubin dan kooperatif dalam perawatan.
Criteria Hasil: Orang tua menyatakan mengerti tentang perawatan bayi hiperbilirubin dan
kooperatif dalam perawatan.
Intervensi:
a. Ajak orang tua untuk diskusi dengan meenjelaskan teentang fisiologis, alas an perawatan,
dan pengobatan.
Rasional: Menambah pengetahuan mengenai penyakit yang dialami bayi.
b. Libatkan dan ajarkan orang tua dalam merawat bayi
Rasional: Orang tua dapat meerawat bayi dengan benar.
c. Jelaskan komplikasi dengan mengenal tanda dan gejala; kekakuan otot, kejang dan tidak
mau makan/ minum, meningkatnya temperature, dan tangisan yang melengking.
Rasional: orang tua dapat megetahui gejala dan tanda yang teerjadi pada bayi dan dapat
bertindak cepat.
(Suriadi dan Yuliani, 2010: 139)

K. Focus Evaluasi
1. Bayi terbebas dari injury yang ditandai dengan serum bilirubin menurun, tidak ada
jaundice, reflek moro normal, tidak terdapat sepsis, reflek hisap dan menelan baik.
2. Bayi tidak mengalami tanda-tanda dehidrasi yang ditandai dengan membrane mukosa
normal, ubun-ubun tidak ceekung, temperature dalam keadaan normal.
3. Bayi tidak menunjukan adanya iritasi pada kulit yang ditandai dengan tidak ada ruam.
4. Orang tua tidak tampak cemas yang ditaandai dengan mengekspresikan perasaan dan
perhatian pada bayi dan aktif dalam partisipasi perawatan bayi.
5. Orang tua memahami kondisi bayi dan alasan pengobatan, dan aktif dalam partisipasi
perawatan bayi.
(Suriadi dan Yuliani, 2010: 138)
L. Discharge Planing
1. Ajarkan orang tua cara merawat bayi agar tidak terjadi infeksi dan jelaskan tentang daya
tahan tubuh bayi.
2. Jelaskan pada orang tua pentingnya pemberian ASI apabila sudah tidak ikterik. Namun bila
peenyebabnya bukan dari jaundice ASI tetap diteruskan pembeerian ASI.
3. Jelaskan pada orang tua tentang komplikasi, yang mungkin terjadi, segera lapor dokteer
atau perawat.
4. Jelaskan untuk pemberian imunisasi.
5. Jelaskan teentang pengobatan yang diberikan.
(Suriadi dan Yuliani, 2010: 140)

DAFTAR PUSTAKA

Cecily, Lynn Betz. 2009. Buku Saku Keperawatan Pediatri, Ed 5. Jakarta: EGC
Dewi, Vivian Nanny Lia. 2010. Asuhan Neonatus Bayi dan Anak Balita. Jakarta: Salemba
Medika

Haws, Paulette S. 2007. Asuhan Neonatus Rujukan Cepat. Jakarta: EGC

Hidayat, A aziz Alimul. 2009. Pengantar Ilmu Kesehatan Anak untuk Pendidikam Kebidanan.
Jakarta: Salemba Medika

Rukiyah, Ai Yeyeh dan Lia Yulianti. 2012. Asuhan Neonatus Bayi dan Anak. Jakarta: TIM
Suriadi dan Rita Yuliani. 2010. Asuhan Keperawatan Pada Anak. Jakarta: Sagung Seto
ASUHAN KEPERAWATAN BAYI HIPERBILIRUBINEMIA

DISUSUN OLEH

INGGRY FASIYOLA (18.0.P.199)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MITRAHUSADA KARANGANYAR


2018 / 2019
I PENGKAJIAN
A. Identitas Data
Identitas Bayi :
Nama Klien : An “R”
Nama Ayah : Tn.E (42 th)
Umur : 4 hari
Nama Ibu : Ny.P (37 th)
Jenis Kelamin : Laki-laki
Pekerjaan Ayah :wirasuwasta
Agama/Suku : kristen
BB : 2,8 kg

Identitas Orang Tua :


Nama Ayah : Tn.E (42 th)
Nama Ibu : Ny.S (37 th)
Pekerjaan Ayah : wiraswasta
Pekerjaan Ibu : iburumah tangga
Agama : Kristen
Pendidikan : Sarjana/SMA
Alamat : magelang

B. Keluhan Utama
Badan bayi berwarna kuning
C. Keluhan saat dikaji
Bayi dalam keadaan lemah, klien muntah, mendapat foto therapy dan tampak kuning diseluruh
permukaan tubuh.
D. Riwayat Perjalanan Penyakit
Bayi lahir dengan Sectio cecaria di Rumah Bersalin Ibunda, saat lahir bayi langsung menangis,
lahir jam 12.40 dengan BBL 2600 gr, PB : 49 cm, LK : 34 cm, ibu bayi dengan APB è placenta
previa, datang ke RS lewat IGD pada tanggal 12-5-05 dan dibawa keruang nicu pada tanggal 12-
05-05 jam 17.40 wita dengan keluhan nafas cepat, syanosis, nampak kuning diseluruh
permukaan tubuh.
E. Riwayat Penyakit Sebelumnya
Karena umur bayi baru 4 hari, maka tidak ada riwayat penyakit bayi yang pernah di alami
sebelumnya.
F. Riwayat Kehamilan
Usia kehamilan : 47-48 minggu
Anak ke : 6 (enam)
Penyakit ibu :-
Gerakan janin : dirasakan
Hamil ke : 6 (enam)
Rencana KB : setelah bayi lahir ibu disarankan steril è ibu setuju
ANC : posyandu 4x teratur, bidan 2x teratur.
TT : 2x lengkap

G. Riwayat Kehamilan yang lalu


Anak Ke 1 : meninggal sejak lahir
Anak Ke 2 : laki-laki, lahir spontan dibantu oleh dukun, usia 13 thn.
Anak Ke 3 : laki-laki, lahir spontan dibantu oleh dukun, usia 10 thn.
Anak Ke 4 : meninggal sejak lahir.
Anak Ke 5 : laki-laki, lahir dengan secsio cesaria, usia 3 thn.
Anak Ke 6 : yang ini.

H. Riwayat Persalinan
Bayi lahir : 12 Mei 2005 jam 12.40 Wita, dengan Secsio Cesaria,
BBL. PB,LK : 2600 gr, 49 cm, 34 cm.

I. Riwayat \Penyakit Keluarga


Keluarga mengatakan bahwa didalam keluarganya tidak ada anggota keluarga yang sedang sakit,
dan juga tidak ada anggota keluarga yang menderita sakit menular seperti TBC, atau penyakit
menurun seperti DM, Asma.
J. Riwayat Bio, psiko, sosial, spiritual.
· Pola respirasi
Klien terlihat nafas cepat, RR 68x/mt, terpadang O2 .
· Nutrisi
Klien masih dipuasakan, kebutuhan klein akan nutrisi 310 cc/ 24 jam. Karena BB klien saat
dikaji 2300 kg masuk pada hari ke 4 kelahiran dan dikalikan dengan jumlah cairan yang
dibutuhkan dan ditambah 30 cc dikarenakan klien mendapat foto therapy. NGT terpasang dan
retensi banyak klien juga di spulling.
· Eliminasi
Saat dikaji klien BAB 3x dan BAK 5x, warna feces jitam kehijau-hijauan.
· Aktifitas
Segala kebutuhan klien dipenuhi oleh ibunya dan perawat ruangan, aktivitas klien berada dalam
boks bayi dibawah sinar foto therapy selama 6 jam dan diistirahatkan selama 2 jam dan
dilanjutkan kembali hingga kadar bilirubinnya turun.
· Istirahat tidur
Klien dapat tidur dengan nyenyak,klien sering bangun dan menangis karena popoknya basah
akibat BAK dan BAB serta karena haus.

· Suhu tubuh
Suhu tubuh bayi pada saat pengkajian 36,7 oC
· Personal hygiene
Bayi dimandikan dengan diseka 1 kali sehari dan kebersihan bayi dibantu oleh perawat dan ibu,
popok diganti setiap kali popok basah oleh urin dan feses.

K. Pemeriksaan Fisik.
a. Reflek menggenggam : lemah
b. Refleks menghisap : lemah
c. Kekuatan menangis : lemah
d. BB : 2300 kg, LK : 34 cm, LL : 14 cm, PB : 49 cm.
e. Kepala : Rambut hitam, bagian depan dicukur, infus terpasang 12
tts/mtè KA EN IB, tidak ada lesi dikulit kepala.Lingkar kepala
34 cm
f. Wajah : warna wajah terlihat kuning, tidak ada lesi pada wajah, kulit
bersih.
g. Leher : tidak ada kelainan (pembesaran kelenjar tiroid/distensi vena
jugolaris)
h. Mata : mata tertutup verban saat terapy sinar, mata klien semetris tidak
ada lesi pada kedua mata.
i. Hidung : tidak ada lesi pada hidung, lubang hidung bersih, terpasang O2
dan NGT.
j. Mulut : mukosa bibir lembab, lidah klien berwarna merah keputih
putihan, ada bekas muntah di sudut bibir klien.
k. Telinga : bentuk simetris, tidak ada serumen
l. Dada : warna dada terlihat kuning, tidak ada lesi, terdengar DJJ 138/ mnt
m. Abdomen : tidak kembung, tidak ada nyeri tekan
n. Ektermitas : atas bawah tidak ada lesi, kuku klien pendek, gerak aktif

L. Pemeriksaan Penunjang
Tanggal 13-05-2005
Haemoglobin : 16,6
Lekosit : 19.000
Eritrosit : 4,61
Trombosit : 279.000
Hematokrit : 48,2
M. Terapi
IVFD : KA-EN 1B 12 tts/mnt
Cefotaxim : 2x 125 mg IV
Spuling dengan NACL

II Analisa Data
DATA ETIOLOGI PROBLEM
Ds : nampak warna kuning di peningkatan serum bilirubin Resiko injury (internal)
seluruh pemukaan tubuh sekunder dari pemecahan sel
Do : S : 36,50C N : 160 darah merah dan gangguan
x/mnt RR = 48x/mnt ekskresi bilirubin.
Kelebihan bilirubin indirek
dalam tubuh klien yang dapat
masuk kedalam jaringan otak

Ds : klien nampak kehausan hilangnya air tanpa disadari Resiko kurangnya volume
Do : klien tampak lemas, sekunder dari fototerapi. cairan
pucat, turgor kulit kering
DS: Warna kulit klien pengaruh fototerapi. Resiko gangguan integritas
nampak kuning kulit
DO : Adanya pemberian foto
therapy

Ds : orang tua nampak cemas kondisi bayi. Kecemasan orang tua


Do : kulit bayi berwarna
kuning
Ds : orang tua mengatakan kurangnya pengalaman orang Kurangnya pengetahuan
kurang pengalaman tua.
Do : klien nampak sakit

III DIAGNOSA KEPERAWATAN


1. Resiko injury (internal) berhubungan dengan peningkatan serum bilirubin sekunder dari
pemecahan sel darah merah dan gaangguan ekskresi bilirubin.
2. Resiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan hilangnya air tanpa disadari
sekunder dari fototerapi.
3. Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan pengaruh fototerapi.
4. Kecemasan orang tua berhubungan dengan kondisi bayi.
5. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya pengalaman orang tua.

IV PERENCANAAN
NO TUJUAN DAN KRITERIA HASIL INTERVENSI RASIONAL
1. Tujuan: Setelah diberikan tindakan a. Perhatikan dan a. Mengetahui adanya
perawatan selama 3x24 jam diharapkan dokumentasikan hiperbilirubinemi
tidak terjadi injury akibat peningkatan warna kulit dari secara dini sehingga
serum bilirubin sekunder dari kepala, sclera dan dapat dilakukan
pemecahan sel darah merah dan tubuh secara progresif tindakan penanganan
gaangguan ekskresi bilirubin. terhadap ikterik setiap segera.
Criteria Hasil: Tidak adanya tanda- pergantian shift.
tanda injury internal. b. Monitor kadar b. Mengetahui
bilirubin dan peningkatan kadar
kolaborasi bila ada bilirubin yang tinggi.
peningkatan kadar.
c. Monitor kadar c. Adanya penurunan
Hb, Hct adanya Hb, Hct menunjukan
penurunan. adanya hemolitik.
d. Berikan
phototerapi d. phototerapi
berfungsi
mendekomposisikan
bilirubin dengan
photoisomernya.

2. Tujuan: Setelah diberikan tindakan a. Kaji reflek a. Mengetahui


perawatan selama 3x24 jam diharapkan hisap bayi. kemampuan hisap
tidak terjadi deficit volume cairan bayi
Kriteria Hasil: b. Beri minum per
a. Jumlah intake dan output oral/menyusui bila b. Menjamin
seimbang. reflek hisap adekuat. keadekuatan intake
b. Turgor kulit baik, tanda vital
dalam batas normal. c. Catat jumlah
c. Penurunan BB tidak lebih dari 10 intake dan output , c. Mengetahui
% BBL. frekuensi dan kecukupan intake
konsistensi feces.

d. Pantau turgor d. Turgor menurun,


kulit, tanda- tanda suhu meningkat,
vital setiap 4 jam. respirasi meningkat
adalah tanda-tanda
e. Timbang BB dehidrasi.
setiap hari.
e. mengetahui
kecukupan cairan dan
nutrisi.

3. Tujuan: Setelah diberikan tindakan a. Kaji warna a. Mengetahui adanya


perawatan selama 3x24 jam diharapkan kulit tiap 8 jam. perubahan warna
tidak terjadi gangguan integritas kulit. kulit.
Criteria Hasil: b. Ubah posisi
a. Tidak terjadi decubitus setiap 2 jam. b. Mencegah
b. Kulit bersih dan lembab penekanan kulit pada
daerah tertentu dalam
c. Masage daerah waktu lama.
yang menonjol.
c. Melancarkan
peredaran darah
sehingga mencegah
d. Jaga kebersihan luka tekan di daerah
kulit bayi dan berikan tersebut.
baby oil atau lotion
pelembab.
d. Mencegah lecet.
e. Kolaborasi
untuk pemeriksaan
kadar bilirubin, bila
kadar bilirubin turun
menjadi 7,5 mg% e. untuk mencegah
fototerafi dihentikan. pemajanan sinar yang
terlalu lama.
4. Tujuan: Setelah diberikan penjelasan a. Kaji pengetahuan a. Meningkatkan
selama 3x 24 jam diharapkan orang tua keluarga tentang pemahaman tentang
menyatakan mengerti tentang penyakit pasien keadaan penyakit.
perawatan bayi hiperbilirubin dan Rasional: Mengetahui
kooperatif dalam perawatan. tingkat pemahaman
Criteria Hasil: Orang tua tidak cemas. keluarga tentang
penyakit.
b. meningkatkan
b. Beri pendidikan tanggung jawab dan
kesehatan penyebab peran orang tua dalam
dari kuning, proses merawat bayi.
terapi dan
perawatannya.

c. Beri pendidikan
kesehatan mengenai
cara perawatan bayi
dirumah.

5. Tujuan: Setelah diberikan penjelasan a. Ajak orang tua a. Menambah


selama 3x24 jam diharapkan orang tua untuk diskusi dengan pengetahuan
menyatakan mengerti tentang menjelaskan teentang mengenai penyakit
perawatan bayi hiperbilirubin dan fisiologis, alas an yang dialami bayi.
kooperatif dalam perawatan. perawatan, dan
Criteria Hasil: Orang tua menyatakan pengobatan.
mengerti tentang perawatan bayi
hiperbilirubin dan kooperatif dalam b. Libatkan dan b. Orang tua dapat
perawatan. ajarkan orang tua merawat bayi dengan
dalam merawat bayi benar.

c. Jelaskan c. orang tua dapat


komplikasi dengan megetahui gejala dan
mengenal tanda dan tanda yang teerjadi
gejala; kekakuan otot, pada bayi dan dapat
kejang dan tidak mau bertindak cepat.
makan/ minum,
meningkatnya
temperature, dan
tangisan yang
melengking.
V IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
WAKTU DX.KEPERAWATA IMPLEMENTASI RESPON TTD
N
1,2,3,4,5 Memonitor warna S : kulit
kulit bayi. berwarna
kuning
O : klien
tampak pucat
1 Melakukan tindakan S : keluarga
kolaborasi dengan klien
dokter untuk foto mengatakan
therapy bersedia
O : keluarga
klien tampak
tahu
2 Mengobservasi S : Kulit bayi
keadaan umum bayi. masih tampak
kuning
O : Keadaan
umum masih
lemah
3 Menimbang BB S : klien tampak
bersedia
O : Suhu 36,4
C, RR : 68
x/mnt, DJJ :
136x/ mnt.
BB 2300 gr
4, 5 Mengobservasi S : Kulit bayi
kondisi kulit dan mata masih tampak
klien kuning
O : Kulit baik
mata tertutup
dengan baik
pula

WAKTU DX.KEPERAWATAN IMPLEMENTAS RESPON TTD


I
1,2,3,4,5 Melakukan S : keluarga
tindakan klien tampak
kolaborasi dengan bersedia
dokter untuk foto O : Mata
theraphy. tertutup rapat
dengan kain
kasa dan dilapisi
dengan karbon
begitu pula
dengan
popoknya
tertutup dengan
baik.
2 Memberikan S : klien
injeksi bersedia di
berikan injeksi
O : Klien
mendapat
injeksi
cefotaxim
3 Menimbang BB S:-
O : Suhu 36,4
C, RR : 68
x/mnt, DJJ :
136x/ mnt.
BB 2600 gr
4 Mengobservasi S : Kulit bayi
keadaan umum masih tampak
bayi. kuning
O : Bayi masih
puasa NGT
terpasang infuse
KA EN IB 12
tts/mnt retensi
banyak.
5 Mengobservasi S : Kulit bayi
kondisi kulit dan masih tampak
mata klien kuning
O : Mata
tertutup rapat
dengan kain
kasa dan dilapisi
dengan karbon
begitu pula
dengan
popoknya
tertutup dengan
baik.
WAKTU DX. IMPLEMENTASI RESPON TTD
KEPERAWATAN
1 Memberi minum bayi S : klien tampak haus
O : Bayi minum asi 10
cc
2 Mengobservasi S : Kulit baik masih
keadaan umum bayi tampak kuning, mata
tertutup dengan baik
saat foto therapy
O : klien tampak lesu,
tangis kuat
3 Memberikan injeksi S :klien tampak
bersedia
O : injeksi cefotaxim
125 mg IV

4 Melakukan tindakan S : keluarga klien


kolaborasi dengan tampak bersedia
dokter untuk foto O : Foto therapy
therapy terpasang jam 11.00
dan berakhir jam
17.00, bayi tampak
menangis.

5 Memberi minum bayi S : klien tampak haus


O : Bayi minum asi 10
cc

VI EVALUASI
WAKTU DIAGNOSA EVALUASI TTD
Resiko injury (internal) S : klien tampak pucat
berhubungan dengan O : serum bilirubin
peningkatan serum bilirubin menurun, tidak ada
sekunder dari pemecahan sel jaundice, reflek moro
darah merah dan gaangguan normal, tidak terdapat
ekskresi bilirubin. sepsis, reflek hisap
dan menelan baik.
A : masalah belum
teratasi
P : Ajari orang tua
cara merawat bayi
agar tidak terjadi
infeksi dan jelaskan
tentang daya tahan
tubuh bayi.
I : mengajarkan orang
tua cara merawat bayi
agar tidak terjadi
infeksi dan jelaskan
tentang daya tahan
tubuh bayi.
E : di harapkan
masalah teratasi
R : intervensi
dilanjutkan

. Resiko kurangnya volume S : Kulit baik masih


cairan berhubungan dengan tampak kuning, mata
hilangnya air tanpa disadari tertutup dengan baik
sekunder dari fototerapi. saat foto therapy
O : klien tampak lesu,
tangis kuat.
A : masalah belum
teratasi
P : kolaborasi dengan
dokter untuk foto
theraphy.
I : mengkolaborasikan
dengan dokter untuk
foto theraphy.
E : diharapkan nangis
berkurang
R : intervensi
dilanjutkan
Resiko gangguan integritas kulit S : klien tampak
berhubungan dengan pengaruh bersedia
fototerapi. O : Suhu 36,4 C,
RR : 68 x/mnt, DJJ :
136x/ mnt.
BB 2300 gr
A : masalah belum
teratasi
P : observasi kondisi
kulit dan mata klien
I : Mengobservasi
kondisi kulit dan mata
klien
E : diharapkan
kondisi membaik
R : intervensi
dilanjutkan
Kecemasan orang tua S : Kulit bayi masih
berhubungan dengan kondisi tampak kuning
bayi. O : Kulit baik mata
tertutup dengan baik
pula
A : masalah belum
teratasi
P : observasi kondisi
kulit dan mata klien
I : mengobservasi
kondisi kulit dan mata
klien
E : diharapkan
keadaan baik
R : intervensi
dilanjutkan
Kurangnya pengetahuan S : Kulit bayi masih
berhubungan dengan kurangnya tampak kuning
pengalaman orang tua. O : Mata tertutup
rapat dengan kain
kasa dan dilapisi
dengan karbon begitu
pula dengan
popoknya tertutup
dengan baik.

A : masalah belum
teratasi
P :observasi kondisi
kulit dan mata klien
I : mengobservasi
kondisi kulit dan mata
klien
E : diharapkan
masalah berkurang
R : lntervensi
dilanjutkan

EVALUASI
WAKTU DIAGNOSA EVALUASI TTD
1 S : keluarga klien
mengatakan bersedia
O : keluarga klien
tampak tahu
A : masalah teratasi
sebagian
P : lakukan tindakan
kolaborasi dengan
dokter untuk foto
therapy
I : melakukan
tindakan kolaborasi
dengan dokter untuk
foto therapy
E : masalah
berkurang
R : intervensi
dilanjutkan
2 S : Kulit bayi masih
tampak kuning
O : Keadaan umum
masih lemah
A : masalah teratasi
sebagian
P : observasi keadaan
umum bayi.
I : Mengobservasi
keadaan umum bayi.
E :keadaan
diharapkan sembuh
R : intervensi
dilanjutkan
3 S:-
O : Suhu 36,4 C,
RR : 68 x/mnt, DJJ :
136x/ mnt.
BB 2600 gr
A : masalah teratasi
sebagian
P : Timbang BB bayi
I : Menimbang BB
bayi
E : di harapkan BB
bertambah
R : intervensi
dilanjutkan
4 S : Kulit bayi masih
tampak kuning
O : Bayi masih puasa
NGT terpasang infuse
KA EN IB 12 tts/mnt
retensi banyak.
A : masalah teratasi
sebagian
P : observasi keadaan
umum bayi.
I : Mengobservasi
keadaan umum bayi.
E : diharapkan dapat
terpasang NGT
dengan baik
R : intervensi
dilanjutkan
5 S : klien tampak haus
O : Bayi minum asi
10 cc
A : masalah teratasi
sebagian
P : Beri minum bayi
I : Memberikan
minum bayi
E : diharapkan minum
bayi terpenuhi
R : intervensi di
lanjutkan

EVALUASI
WAKTU DIAGNOSA EVALUASI TTD
1 S : keluarga klien mengatakan
bersedia
O : keluarga klien tampak tahu
A : masalah sudah teratasi
P : intervensi dihenttikan
2 S:-
O : klien tampak sehat
A : masalah sudah teratasi
P : intervensi dihentikan
3 S : klien tampak bersedia
O : Suhu 36,4 C, RR : 68 x/mnt,
DJJ : 136x/ mnt.
BB 2300 gr
A : masalah sudah teratasi
P : intervensi dihentikan

4 S:-
O : Bayi masih puasa NGT
terpasang infuse KA EN IB 12
tts/mnt retensi banyak.
A : masalah sudah teratasi
P : intervensi dihentikan
5 S:-
O : klien tampak sehat
A : masalah sudah teratasi
P : intervensi di hentikan

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Hiperbilirubin adalah suatu keadaan dimana konsentrasi bilirubin dalam darah berlebihan
sehingga menimbulkan joundice pada neonatusHiperbilirubin adalah kondisi dimana terjadi
akumulasi bilirubin dalam darah yang mencapai kadar tertentu dan dapat menimbulkan efek
patologis pada neonatus ditandai joudince pada sclera mata, kulit, membrane mukosa dan cairan
tubuh Untuk mendapat pengertian yang cukup mengenai masalah ikterus pada neonatus, perlu
diketahui sedikit tentang metabolisme bilirubin pada neonatus.

B. Saran
Berdasarkan perumusan dan hambatan yang dijumpai selama melakukan asuhan keperawatan
kami mengemukakan beberapa saran untuk dapat dijadikan bahan pertimbangan yang mungkin
dapat berguna bagi usaha peningkatan mutu pelayanan keperawatan di masa mendatang, saran
yang dapat kami kemukakan adalah sebagai berikut :
1. Perawat dan keluarga dapat bekerja sama dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
2. Mahasiswa untuk lebih memahami konsep-konsep asuhan keperawatan pada pasien
Hiperbilirubin
3.Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi seluruh mahasiswa dan dapat diterapkan dalam
dunia keperawatan

DAFTAR PUSTAKA

· ml.scribd.com/doc/.../Hi-Per-Bilirubin-Emi-A - Translate this page


· http://mydocumentku.blogspot.com/2012/03/asuhan-keperawatan-pada-pasien-
hemaptoe.html