Anda di halaman 1dari 7

ANALISIS KASUS DELIK

Oleh :

Syahdan Dafa Qatrunnada


1906384932

Fakultas Hukum
Universitas Indonesia
Modus Nyapu di Rumah Tetangga, Wanita Berhijab
Maling Uang Buat Urus Cerai

SuaraJatim.id - Polisi meringkus seorang wanita asal Kecamatan Trowulan,


Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur lantaran diduga melakukan pencurian uang sebesar
Rp 6,5 juta.

Uang jutaan rupiah itu dicuri wanita berhijab ini lantaran berdalih untuk membayar
utang dan mengurus perceraian di Pengadilan Agama (PA) Mojokerto.

Dilansir dari Berita Jatim, pelaku mencuri uang sebesar Rp 6,5 juta milik temannya saat
bertamu.

Kapolsek Puri, Iptu Sri Mulyani mengatakan, saat pelaku bertamu melihat istri korban
bersama temannya sedang menghitung uang.

"Korban tidak curiga, uang sebesar Rp 6,5 juta tersebut ditaruh di atas tempat tidurnya
dan ditinggal korban bersama temannya keluar," kata dia, Jumat (13/3/2020).

Menurutnya, modus yang dipakai pelaku dengan pura-pura bersih-bersih di rumah


korban dan saat dirasa aman, uang di atas tempat tidur tersebut diambil.

"Menyapu ini menjadi salah satu modus agar pelaku bisa bebas masuk ke dalam rumah.
Pencurian ini baru diketahui sekitar pukul 19.00 WIB, saat istri korban pulang. Korban
terkejut setelah melihat uang di dalam kamarnya lenyap. Korban langsung mencurigai
pelaku dan mendatangi rumahnya, namun pelaku tidak ada,” kata dia.

Lantaran merasa yakin bahwa uangnya telah dicuri, korban lalu melaporkan ke
Mapolsek Puri untuk proses penyelidikan, hingga akhirnya pelaku berhasil diringkus di
rumahnya di Desa Panggih, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto pada, Senin
(9/3/2020) sekitar pukul 11.30 WIB. Pelaku mengakui aksi pencurian tersebut
dilakukannya seorang diri.
"Pelaku mengakuinya jika yang mengambil uang adalah dirinya dan uang yang dicuri
sebesar Rp 6,5 juta habis buat membayar utang dan mengurus perceraian di PA
Mojokerto," kata dia.

Sumber : https://jatim.suara.com/read/2020/03/13/104244/modus-nyapu-di-rumah-
tetangga-wanita-berhijab-maling-uang-buat-urus-cerai

ANALISIS KASUS

1. Dasar Hukum

Perbuatan wanita itu dapat dikenakan pasal 362 KUHP tentang pencurian, yang
berbunyi “Barang siapa mengambil barang sesuatu, yang seluruhnya atau sebagian
kepunyaan orang lain, dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum, diancam
karena pencurian, dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau denda paling
banyak enam puluh rupiah”.

2. Tempat Berlangsungya Delik / Locus Delicti

Hal ini penting diketahui untuk menentukan hukum negara mana yang dapat digunakan
untuk mengadili masalah tersebut. Dalam kasus ini, dapat digunakan hukum pidana
Indonesia dan teori perbuatan materiil, maka locus delictinya di Kecamatan
Trowulan, Jawa Timur.

3. Waktu Berlangsungnya Delik / Tempus Delicti

Untuk mengetahui tempus delicti ada empat teori yang ada, yaitu teori perbuatan fisik,
teori alat yang digunakan, teori akibat, teori waktu jamak. Dalam kasus ini, digunakan
teori perbuatan fisik karena pelaku melakukan pencurian saat bertamu kerumah
korban pada Jumat, 13/3/2020.
4. Unsur-unsur Delik

Pasal 362 :

 Barang siapa
Wanita berhijab tetangga korban adalah subjek hukum yang melakukan
perbuatan mencuri.
 Mengambil barang sesuatu
Arrest Hode Raad (HR) menyatakan bahwa “perbuatan mengambil telah selesai,
jika benda berada pada pelaku, sekalipun ia kemudian melepaskannya karena
diketahui”.Dalam kasus ini, pelaku mengambil uang korban sebesar Rp 6,5 juta.
 Yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain
Uang yang diambil dan dihabiskan untuk membayar utang dan mengurus
penceraian, seluruhnya bukan milik wanita berhijab itu, melainkan milik
korban.
 Dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum
Kata “dengan maksud” berarti adanya kehendak atau niat dari pelaku. Dalam kasus
ini, pelaku memang menghendaki perbuatannya untuk mengambil uang itu. Lebih
tepatnya, kesengajaan yang dilakukan pelaku adalah sengaja dengan maksud /
tujuan, karena pelaku bertujuan mengambil uang dengan modus bersih-bersih dan
saat dirasa aman, ia mengambil uang itu dan dihabiskannya untuk membayar utang
dan mengurus perceraian.

Ke-empat unsur terpenuhi, maka pelaku dapat dikenakan pasal 362 KUHP.

5. Penggolongan Delik

 Delik Kejahatan – karena pencurian diatur dalam buku II KUHP tentang kejahatan.
 Delik Formil – karena tidak mempersoalkan akibat yang ditimbulkan dari
pencurian.
 Delik Komisi – pelaku melanggar larangan (mencuri) dengan perbuatan yang aktif
(mencuri)
 Delik Dolus – pelaku memang sengaja mencuri uang korban untuk membayar
utang.
 Delik Biasa – tidak perlu ada aduan dari si pihak yang dirugikan, siapa saja bisa
melapor ke pihak yang berwajib. Perbuatan ini bisa menjadi delik aduan relative
jika ada hubungan keluarga antara pelaku dan korban, namun dalam kasus tidak
demikian. Jadi, delik nya adalah delik biasa.
 Delik Selesai – hanya butuh satu atau beberapa perbuatan untuk menyelesaikan
kejahatan ini serta dibutuhkan waktu yang singkat.
 Delik Berdiri Sendiri – hanya terdiri dari satu delik, yaitu pencurian
 Delik Tunggal – pencurian merupakan satu perbuatan yang langsung dapat
membuat pelaku dipidana.
 Delik Komuna – delik ini bisa dilakukan oleh semua orang, tidak terbatas oleh
jabatan atau status tertentu.
 Delik Komun – tidak mengandung unsur politik
 Delik Sederhana – dalam pasal 362, tidak ada unsur pemberat / peringan.

6. Kesalahan

Kesalahan dalam kasus ini adalah dolus, yang berarti sengaja atau menghendaki. Dalam
pasal 362 ini dimuat kata “dengan sengaja” maka dari itu delik ini adalah delik dolus.
Dalam delik dolus, dikenal macam – macam dolus, seperti dolus sebagai maksud /
tujuan, dolus sebagai keinsyafan kepastian, dan dolus sebagai keinsyafan kemungkinan.
Sengaja dalam delik ini termasuk sengaja sebagai maksud / tujuan, karena pelaku
menghendaki perbuatannya dan dia pun tahu akibat dari perbuatannya tersebut.

7. Pertanggungjawaban

Dalam kasus ini, pelaku dapat disalahkan karena perbuatannya mencuri, maka
dikatakan mampu bertanggungjawab artinya :
 Pelaku melakukan pencurian tanpa paksaan, hal ini dibuktikan dari
tujuan ia mencuri, yaitu untuk membayar utang dan mengurus
perceraian.
 Pelaku menginsyafi bahwa perbuatannya melawan hukum dan ia
mengerti akibat perbuatannya, karena pelaku melakukan modus-modus
dahulu sebelum melakukan aksinya.
 Pelaku dalam keadaan sehat jiwa atau tidak cacat dalam pertumbuhan
jiwanya.
8. Ajaran Kausalitas

Dalam kasus ini, tidak diperlukan ajaran kausalitas. Ajaran kausalitas berupaya untuk
mencari sebab dari timbulnya akibat, dengan ditemukannya sebab, maka dapat
ditemukan siapa yang dapat dipersalahkan dan diminta pertanggungjawabannya. Yang
memerlukan ajaran ini adalah delik materiil, delik omisi tidak murni/semu, delik yang
terkualifikasi, sedangkan dalam kasus ini yang dilakukan oleh pelaku adalah delik
formil dan delik sederhana yang berarti tidak mempersalahkan akibat yang ditimbulkan
dari perbuatannya.

9. Percobaan / Poging

Poging artinya percobaan, maksudnya adalah mencoba melakukan kejahatan dipidana,


jika niat itu telah ada dalam permulaan pelaksanaan, dan tidak selesainya pelaksanaan
itu bukan semata – mata karena kehendaknya sendiri tapi karena tertangkap, korban
memberikan perlawanan dan korban tidak meninggal karena bantuan medis. Jika baru
poging, maka pidana nya dapat dikurangi sepertiga. Namun, dalam kasus pencurian ini
tindakannya telah selesai dilakukan. Tidak ada permulaan pelaksanaan, dan niat nya pun
telah diwujudkan dengan perbuatan yang selesai.