Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH

Angka Kematian Ibu

NAMA :

FIQRI ALFIANI RAMADHAN 1811102413070

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KALIMANTAN TIMUR


FAKULTAS ILMU KESEHATAN DAN FARMASI
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
2020
KATA PENGANTAR

Puji Syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat dan
hidayahnya serta nikmat sehat sehingga penyusunan makalah “Kematian Ibu” guna
memenuhi tugas mata kuliah Kespro ini dapat selesai sesuai yang diharapkan.
Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih memiliki banyak kekurangan. Oleh
karena itu, saran dan kritik yang membangun sangat dibutukan untuk makalah ini
agar para penulis bisa memperbaikinya dan semoga makalah ini bermanfaat.
Samarinda, 18 September 2020

Penyusun

2
DAFTAR ISI
Kata Pengantar
Definisi
4
Perhitungan Angka Kematian Ibu
7
Angka Kejadian Kematian Ibu di Dunia dan Indonesia
9
Penyebab Kematian Ibu Menurut Telaah Teoritis
9
Masalah Yang Ditemukan di lapangan Terkait Kematian Ibu dan Solusinya
14
Program Keberhasilan Penurunan Aki Dari Pemerinta
16
Daftar Pustaka
20

3
Definisi AKI

Kematian maternal/AKI  merupakan kematian wanita sewaktu hamil, melahirkan


atau dalam 42 hari sesudah berakhirnya kehamilan, tidak tergantung dari lama dan
lokasi kehamilan, disebabkan oleh apapun yang berhubungan dengan kehamilan
atau penanganannya, tetapi tidak secara kebetulan atau oleh penyebab tambahan
lainnya. (Sarwono,2002:22)
Kematian maternal didefinisikan sebagai setiap kematian ibu yang terjadi pada
waktu kehamilan, melahirkan, atau dua bulan setelah melahirkan atau penghentian
kehamilan.
Kematian maternal juga didefinisikan sebagai proporsi kematian pada wanita usia
reproduktif atau proporsi kematian pada semua wanita di usia reproduktif yang
disebabkan oleh penyebab maternal.
Pengertian Angka Kematian Ibu (Maternal Mortality Rate) adalah Jumlah kematian
ibu akibat dari proses kehamilan, persalinan dan paska persalinan per 100.000
kelahiran hidup pada masa tertentu.Angka pengukuran risiko kematian wanita yang
berkaitan dengan peristiwa kehamilan.
Kematian ibu adalah kematian wanita dalam masa kehamilan, persalinan dan dalam
masa 42 hari (6 minggu) setelah berakhirnya kehamilan tanpa memandang usia
kehamilan maupun tempat melekatnya janin, oleh sebab apa pun yang berkaitan
dengan atau diperberat oleh kehamilan atau pengelolaannya, bukan akibat
kecelakaan.
Kematian ibu dikelompokkan menjadi dua (2), yaitu
 kematian sebagai akibat langsung kasus kebidanan dan
 kematian sebagai akibat tidak langsung kasus kebidanan yang disebabkan
penyakit yang sudah ada sebelumnya, atau penyakit yang timbul selama
kehamilan dan bukan akibat langsung kasus kebidanan, tetapi diperberat
oleh pengaruh fisiologi kehamilan.
Kematian wanita hamil akibat kecelakaan (misalnya kecelakaan mobil) tidak
digolongkan sebagai kematian ibu.

Angka Kematian Ibu (AKI) atau Maternal Mortality Rate (MMR) berguna untuk
menggambarkan tingkat kesadaran perilaku hidup sehat, status gizi dan kesehatan
ibu, kondisi lingkungan, tingkat pelayanan kesehatan terutama untuk ibu hamil,
pelayanan kesehatan waktu melahirkan dan masa nifas.
Beberapa determinan penting yang mempengaruhi AKI secara langsung antara lain
status gizi, anemia pada kehamilan.  Faktor mendasar penyebab kematian ibu
maternal adalah tingkat pendidikan ibu, kesehatan lingkungan fisik maupun
budaya, ekonomi keluarga, pola kerja rumah tangga.

4
Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi mengatakan, terdapat dua penyebab ibu
meninggal saat meninggal yakni infeksi dan perdarahan. Untuk yang penyebabnya
infeksi sudah dapat ditekan karena sebagian besar kelahiran dilakukan di pusat
layanan kesehatan seperti puskesmas, rumah sakit, klinik dan sebagainya.
Sementara untuk perdarahan disebabkan empat hal yakni :
 melahirkan ketika usia muda,
 melahirkan ketika usia tua,
 melahirkan terlalu sering dan,
 jarak antara satu kelahiran dan lainnya terlalu rapat.

Penyebab Kematian Maternal


Kematian Maternal
Faktor reproduksi meliputi
a)      Usia paling aman untuk kehamilan dan persalinan adalah 20-30 tahun.
b)      Paritas
Paritas 2-3 merupakan paritas paling aman ditinjau dari sudut kematian maternal.
c)      Kehamilan tidak di inginkan
b.      Komplikasi obstetric

a. Perdarahan pada abortus


Perdarahan pervaginam yang terjadi pada kehamilan trimester I umumnya
disebabkan oleh abortus, dan hanya sebagian kecil saja karena sebab-sebab
lainnya.
b)      Kehamilan ektopik
Penyakit radang panggul, penyakit hubungan seksual atau infeksi pada paska
abortus sering merupakan factor predisposisi pada kehamilan ektopik.
c)      Perdarahan pada kehamilan trimester III
Penyebab utama perdarahan ini adalah plasenta previe dan solusio plasenta.

5
d)     Perdarahan post partum

Disebabkan oleh atonia uteri atau sisa plasenta sering berlangsung sangat banyak
dan cepat. renjat      an karena perdarahan banyak segera akan disusul dengan
kematian maternal, jika masalah ini tidak dapat di atasi secara cepat dan tepat oleh
tenaga yang terampil dan fasilitas pelayanan kesehatan yang memadai.
e)      Infeksi nifas
Terjadi pada pertolongan persalinan yang tidak mengindahkan syarat-syarat
asepsis-antisepsis, partus lama, ketuban pecah dini dan sebagainya.
f)       Gestosis
Primipara dan gravida pada usia 35 tahun merupakan kelompok resiko tinggi untuk
gestosis.
g)      Distosia
Panggung kecil, persalinan pada usia sangat muda, kelainan presentasi janin, letak
lintang dapat menyebabkan timbulnya distosia.
h)      Pengguguran kandungan
Pengguguran kandungan secara illegal, merupakan penyebab kematian maternal
yang penting. Sisa jaringan, serta tindakan yang tidak steril serta tidak aman secara
medis akan berakibat timbulnya perdarahan dan sepsis.
c.       Factor-faktor pelayanan kesehatan
a)      Kurangnya kemudahan untuk pelayanan kesehatan maternal
b)      Asuhan medic yang kurang baik
c)      Kurangnya tenaga terlatih dan obat-obat penyelamat jiwa.

6
Perhitungan Angka Kematian Ibu

Angka Kejadian Kematian Ibu di Dunia dan Indonesia

Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia masih cukup tinggi. Hal tersebut menilik
capaian penurunan AKI di beberapa negara Asean. AKI di negara-negara Asean
sudah menempati posisi 40-60 per 100 ribu kelahiran hidup. Sedangkan di
Indonesia berdasarkan Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2015 masih
menempati posisi 305 per 100 ribu kelahiran hidup. Hal ini berbeda jauh dengan
Singapura yang berada 2-3 AKI per 100 ribu kelahiran
Sementara itu, data capaian kinerja Kemenkes RI tahun 2015-2017 menunjukkan
telah terjadi penurunan jumlah kasus kematian ibu. Jika di tahun 2015 AKI mencapai
4.999 kasus maka di tahun 2016 sedikit mengalami penurunan menjadi 4.912 kasus
dan di tahun 2017 mengalami penurunan tajam menjadi sebanyak 1.712 kasus AKI.
“Meski mengalami penurunan, nampaknya AKI masih menjadi salah satu fokus
utama pemerintah dalam mewujudkan masyarakat Indonesia sehat," ujar  Dr. Detty
S. Nurdiati, MPH., Ph.D., Sp.OG(K), Pakar Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan,
di ruang Eksekutif Grha Wiyata FKKMK UGM, Senin (7/1) saat jumpa pers di sela-sela
kegiatan Winter Course 2019.

7
Secara nasional, menurut Detty, penyebab AKI paling tinggi adalah pendarahan.
Sementara untuk kasus di Yogyakarta penyebab paling tinggi justru karena
penyakit jantung, preeklampsia kemudian disusul pendarahan.
"Untuk terus menekan angka AKI ini tentu bukan tugas tenaga kesehatan saja tapi
seluruh komponen masyarakat. Pendekatan yang dilakukan pun tak hanya ke ibu
hamil saja, tapi juga harus memperhatikan kesehatan sejak anak, remaja,
kehamilan hingga tua," ucapnya.
Winter Course 2019 on Interprofessional Health Care Women’s Healt and Wellness
berlangsung selama 2 minggu, 7 – 18 Januari 2019 di FKKMK UGM. Kegiatan kali ini
diikuti sebanyak 60 mahasiswa, terdiri dari 41 mahasiswa UGM, 3 mahasiswa non-
UGM dan 16 mahasiswa mitra luar negeri.
“Untuk winter course kali ini kami memilih women health dan wellness. Topik yang
cukup seksi juga karena kesehatan wanita dan wellness ditinjau dari berbagai sisi,
dari berbagai aspek dan dipelajari semuanya," ujar Dr. Gandes Retno Rahayu,
M.Med.Ed., Ph.D, Wakil Dekan Bidang Akademik & Kemahasiswaan, Fakultas
Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM.
Gandes menjelaskan FKKMK UGM selama setahun menyelenggarakan dua kali
acara, yaitu summer course dilakukan pada bulan Oktober 2018 lalu. Kemudian
winter course di bulan Januari 2019.
“Di setiap acara seperti ini tujuannya selalu sama, yaitu agar mahasiswa FK UGM
dari berbagai profesi calon dokter, calon perawat, ahli gizi, farmasi, kedokeran gigi,
dan kebidanan bisa belajar bersama dengan topik-topik yang kami pilih," katanya.
Dr. Gunadi, Ph.D., Sp.BA, selaku Ketua Panitia mengatakan winter course 2019
digelar untuk mempromosikan soal kesehatan wanita, menurunkan angka kematian
ibu dan menurunkan angka epidemik penyakit menular, seperti AIDS dan lain-lain
yang menuntut peran dari laki-laki. Sebab, tak jarang pihak ibu sering dirugikan
karena bisa jadi suami adalah seorang multiple partners yang pada akhirnya
memberi akibat pada istri dan anak, seperti menderita AIDS.
Tingkat kematian ibu melahirkan di Indonesia dinilai masih berada dalam taraf yang
mengkhawatirkan. Dari 1.000 kelahiran hidup, sekitar 30 persen mengalami
kematian. Meiwita Budhiharsana dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas
Indonesia mengatakan, berdasarkan data pada 2018 – 2019, angka kematian ibu di
Indonesia masih tinggi, yakni 305 per 1.000 kelahiran hidup. Angka yang muncul
hampir 30 persen itu masih dianggap tinggi jika dibandingkan Malaysia, yakni
hanya 17 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun yang sama.

8
Penyebab Kematian Ibu Menurut Telaah Teoritis

Penyebab kematian dan kesakitan ibu dan bayi telah dikenal sejak dulu dan tidak
berubah banyak. Penyebab kematian ibu adalah perdarahan post partum,
eklampsia, infeksi, aborsi tidak aman, partus macet, dan sebab-sebab lain seperti
kehamilan ektopik dan mola hidatidosa. Keadaan ini diperkuat dengan kurang gizi,
malaria, dan penyakit-penyakit lain seperti tuberkulosis, penyakit jantung, hepatitis,
asma, atau HIV. Pada kehamilan remaja lebih sering terjadi komplikasi seperti
anemia dan persalinan preterm. Sementara itu, terdapat berbagai hambatan yang
mengurangi akses memperoleh pelayanan kesehatan maternal bagi remaja,
kemiskinan, kebodohan, kesenjangan hak asasi pada remaja perempuan, kawin
pada usia muda, dan kehamilan yang tidak diinginkan.
Kematian pada bayi baru lahir disebabkan oleh tidak adekuatnya dan tidak
tepatnya asuhan pada kehamilan dan persalinan, khususnya pada saat-saat kritis
persalinan. Konsumsi alkohol dan merokok merupakan penyebab kesakitan dan
kematian ibu dan bayi baru lahir yang seharusnya dapat dicegah. Ibu perokok
berhubungan dengan komplokasi seperti perdarahan, ketuban pecah dini, dan
persalinan preterm. Juga dapat berakibat pertumbuhan janin terhambat, berat
badan lahir rendah, serta kematian janin. Konsumsi alkohol selama kehamilan
berhubungan 15 dengan abortus, lahir mati, prematuritas, dan kelainan bawaan
fetal alcohol syndrome. (Saifudin, 2005). Menurut Saifudin (2002) kematian ibu
dibagi menjadi dua kelompok yaitu:
(1). Kematian obstetri langsung (direct obstetric death) yaitu kematian ibu yang
disebabkan oleh komplikasi kehamilan, persalinan dan nifas yang timbul akibat
tindakan atau kelalaian dalam penanganan. Komplikasi yang dimaksud antara lain
perdarahan antepartum dan postpartum, preeklamsia/eklamsia, infeksi, persalinan
macet, dan kematian pada kehamilan muda.
(2). Kematian obstetri tidak langsung (indirect obstetric death) adalah kematian ibu
yang disebabkan oleh suatu penyakit yang sudah diderita sebelum kehamilan atau
persalinan yang berkembang dan bertambah berat yang tidak berkaitan dengan
penyebab obstetri langsung. Kematian obstetri tidak langsung ini misalnya
disebabkan oleh penyakit jantung, hipertensi, hepatitis, malaria, anemia,
tuberkulosis, HIV/AIDS, diabetes dan lain-lain.
Penyebab kematian ibu yang diakibatkan oleh kecelakaan atau kebetulan tidak di
klasifikasikan ke dalam kematian ibu yang ada hubungannya dengan kehamilan,

9
persalinan dan nifas. Kematian yang dihubungkan dengan kehamilan International
Classifation of Deases (ICD-10) memudahkan identifikasi penyebab kematian ibu ke
dalam kategori baru yang disebut pregnancy related death yaitu kematian wanita
selama hamil atau dalam 42 hari setelah berakhirnya kehamilan dan tidak
tergantung dari penyebab kematian lain.

Batasan 42 hari ini dapat berubah karena telah diketahui bahwa dengan adanya
prosedur-prosedur dan teknologi baru maka terjadinya kematian dapat diperlama
dan ditunda sehingga ICD-10 juga memasukkan suatu kategori baru yang 16
disebut kematian maternal terlambat (late maternal death) yaitu kematian wanita
akibat penyebab obstetric langsung atau tidak langsung yang terjadi lebih dari 42
hari tetapi kurang dari satu tahun setelah berakhirnya kehamilan (WHO et al, 2010).

Walaupun berbagai upaya telah dilaksanakan, angka kematian ibu di berbagai


Negara berkembang masih tetap atau penurunannya sangat lambat. Safe
Motherhood Technical Consultation yang diadakan di Colombo, 1997
mengidentifikasi beberapa isu kunci sebagai berikut: Kurang jelasnya prioritas serta
intervensi program Safe Motherhood sehingga kurang terarah dan kurang efektif.
Kurangnya informasi tentang intervensi yang mempunyai dampak bermakna dan
segera dalam menurunkan kematian ibu. Strategi Safe Motherhood kadang-kadang
terlalu luas, mulai dari meningkatkan status perempuan, memperbaiki undang-
undang, memperluas pelayanan kesehatan maternal, dan memperluas pelayanan
emergensi.
Beberapa program yang khusus dalam pelayanan kesehatan maternal ternyata
dikemudian hari tidak atau kurang efektif, seperti penapisan risiko pada asuhan
antenatal dan pelatihan dukun. . Tidak dilakukannya intervensi yang sebenarnya
efektif seperti penanganan komplikasi aborsi karena masih dianggap sebagai isu
yang sensitif. . Tidak tersedianya panduan teknis atau program, kurikulum pelatihan
dan sumber lain secara luas. . Kurangnya komitmen politik dari penentu kebijakan.
17 h. Kurangnya koordinasi dan komitmen diantara pemerintah dan lembaga donor.
(Saifudin, 2005). Menurut perkiraan
WHO setiap tahun terjadi 500.000 kematian ibu yang berhubungan dengan
kehamilan dan persalinan, 99% di antaranya terjadi di Negara- negara berkembang.
Lebih dari separuhnya (300.000) terjadi di Asia, yang hampir 3/4- nya di Asia
Selatan. Risiko kematian maternal di negara maju 1 diantara 15-50, yang berarti

10
peningkatan 200-250 kali. Kematian maternal merupakan fungsi dari berbagai hal,
bukan hanya dari faktor-faktor pelayanan kesehatan saja. Kehamilan dan persalinan
yang terlalu dini, kemiskinan, ketidaktahuan, kebodohan, budaya diam kaum
wanita, dan rendahnya status wanita pada hal-hal tertentu.

Transportasi yang sulit, ketidakmampuan membayar pelayanan yang baik, dan


pantangan tertentu pada wanita hamil juga ikut berperan. ( Hadijono, 2006).

Kematian ibu atau AKI di daerah berkembang sebesar 240 adalah 15 kali lebih
tinggi dari pada di negara maju yaitu 16 per 100.000 kelahiran hidup atau 99%
(284.000) kematian ibu secara global dan mayoritas di antaranya berada di sub-
Sahara Afrika (162.000 kematian ibu) dan Asia Selatan (83.000 kematian ibu). Sub-
Sahara Afrika memiliki angka kematian ibu (AKI) tertinggi yaitu 500 kematian ibu
per 100.000 kelahiran hidup (KH), sedangkan Asia Timur memiliki yang terendah di
antara negara berkembang yaitu 37 kematian ibu per 100.000 KH.
Urutan AKI di negara berkembang adalah Asia Selatan 220/100.000 KH, Oceania
200/100.000 KH, South-East Asia 150/100.000 KH, Amerika Latin dan Karibia 18
80/100.000 KH, Afrika Utara 78/100.000 KH, Asia Barat 71/100.000 KH, Caucasus
dan Asia Tengah 46/100.000 KH. Meskipun sebagian besar negara-negara Afrika
sub-Sahara memiliki AKI tinggi namun ada beberapa nergara yang memiliki AKI
rendah berkisar antara 20-99/100.000 KH seperti: Mauritius (60/100.000 KH), Sao
Tome Principe (70/100.000 KH) dan

Cabo Verde (79/100.000 KH) sedangkan negara-negara di Afrika yang


dikategorikan AKI moderat (100-299/100.000 KH) antara lain: Botswana
160/100.000 KH, Djibouti 200/100.000 KH, Namibia 200/100.000 KH, Gabon
230/100.000 KH, Equatorial Guinea 240/100.000 KH, Eritrea 240/100.000 KH dan
Madagaskar 240/100.000 KH. (WHO et al., 2010). Faktor-faktor yang mempengaruhi
kematian ibu hamil diklasifikasi sebagai berikut:

11
A. Faktor Medis
Faktor medis yang dipengaruhi oleh status reproduksi dan status kesehatan ibu
antara lain: umur, paritas, jarak kehamilan dan penyakit ibu, anemia dan kurang
gizi.

-Umur ibu
Umur ibu saat kehamilan terakhir dihitung dalam tahun berdasarkan tanggal lahir
atau ulang tahun terakhir yang ada hubungannya dengan faktor risiko dalam
kehamilan. Indeks kehamilan risiko tinggi adalah usia ibu pada waktu hamil terlalu
muda yaitu kurang dari 16 tahun atau lebih dari 35 tahun (Fortney dalam Manuaba
2001). Total fertility rate (TFR) adalah jumlah total anak yang mungkin akan dimiliki
oleh seorang wanita sampai akhir periode reproduksinya selama usia suburnya 15-
49 tahun, atau disebut juga dengan rata-rata jumlah kelahiran per wanita. (Merrill
RM, 2014).

-Paritas
Paritas adalah jumlah kehamilan yang memperoleh janin yang dilahirkan. Paritas
yang tinggi memungkinkan terjadinya penyulit kehamilan dan persalinan
diantaranya dapat menyebabkan terganggunya transport O2 dari ibu ke janin
sehingga terjadi asfiksia yang dapat dinilai dari APGAR Score menit pertama setelah
lahir. (Manuba, 2010). Menurut Saifudin (2002) paritas/jumlah kehamilan 2 sampai
3 adalah paritas yang paling aman dilihat dari sudut kematian ibu. Paritas kurang
dari satu dan usia ibu terlalu muda di kategorikan berisiko tinggi karena ibu belum
siap secara mental maupun secara medis sedangkan paritas diatas empat dan usia
ibu terlalu tua secara fisik ibu mengalami kemunduran untuk menjalani kehamilan.

-Jarak kehamilan
Jarak kehamilan yang terlalu dekat atau kurang dari dua tahun berisiko terhadap
kematian maternal dan tergolong dalam kelompok risiko tinggi untuk mengalami
perdarahan post partum. Jarak kehamilan yang disarankan pada umumnya adalah
dua tahun agar memungkinkan tubuh wanita dapat pulih dari kebutuhan ekstra
pada masa kehamilan dan laktasi. (Djaja dkk, (2001).

12
B. Faktor Non Medis
Faktor non medis berkaitan dengan perilaku kesehatan ibu, status ibu dalam
keluarga, status sosial ekonomi dan budaya yang menghambat upaya penurunan
kesakitan dan kematian ibu adalah sebagai berikut: Kurangnya kesadaran ibu untuk
mendapatkan pelayanan ANC/ante natal care, terbatasnya pengetahuan ibu
tentang bahaya kehamilan resiko tinggi, ketidak berdayaan sebagian besar ibu
hamil di daerah terpencil maupun di perkotaan dalam pengambilan keputusan
untuk dirujuk.
-Perilaku Kesehatan Ibu
Perilaku kesehatan ibu (health behavior) adalah respon seseorang terhadap
stimulus atau objek yang berkaitan dengan sehat-sakit, penyakit dan faktor-faktor
yang mempengaruhi sehat-sakit (kesehatan) seperti lingkungan, makanan dan
pelayanan kesehatan. (Skiner dalam Notoatmodjo, 2014).
-Status ibu dalam keluarga
Status ibu dalam keluarga berkaitan dengan status pendidikan, pekerjaan dan
pendapatan begitu juga berkaitan dengan ketidakmampuan ibu mengambil
keputusan dalam keluarga. Pengambilan keputusan dalam keluarga sangat
mempengaruhi keterlambatan dalam merujuk ibu ke fasilitas kesehatan yang lebih
baik. Masih sering ditemukan kasus yang terlambat dirujuk karena masalah
ketersediaan transportasi dan biaya juga masih merupakan kendala dalam upaya
penyelamatan dan rujukan ke Rumah Sakit sehingga pemanfaatan pusat rujukan
primer masih rendah (underutilized). Hal ini dipengaruhi oleh faktor sosiobudaya,
ketidaktahuan, dan ketidakpuasan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang
diberikan. (Manuaba dkk, 2005).

-Status kesehatan ibu


Status kesehatan ibu hamil merupakan suatu proses yang membutuhkan
perawatan khusus agar dapat berlangsung dengan baik. Resiko kehamilan ini
bersifat dinamis karena ibu hamil yang pada mulanya normal, secara tiba-tiba
dapat berisiko tinggi. Jika status kesehatan ibu hamil buruk, misalnya menderita
anemia maka bayi yang dilahirkan berisiko lahir dengan berat badan rendah (BBLR).
Bayi dengan BBLR ini memilki risiko kesakitan seperti infeksi saluran nafas bagian
bawah dan kematian yang lebih tinggi dari pada bayi yang dilahirkan dengan berat
badan normal. Bagi ibu sendiri anemia ini meningkatkan risiko pendarahan pada
saat persalinan dan pasca persalinan, gangguan kesehatan bahkan resiko kematian
(Kusmiyati, 2009).
Menurut Lubis (2003) ibu hamil yang menderita Kekurangan Energi Kronik (KEK)
dan anemia mempunyai risiko kesakitan yang lebih besar terutama pada trimester
ke tiga kehamilan di bandingkan dengan ibu hamil normal. Akibatnya mereka
mempunyai risiko yang lebih besar untuk melahirkan bayi dengan BBLR, kematian

13
saat persalinan, perdarahan, pasca persalinan yang sulit karena lemah dan mudah
mengalami gangguan kesehatan.

Bayi yang dilahirkan dengan BBLR umumnya kurang mampu meredam tekanan
lingkungan yang baru, sehingga dapat berakibat pada terhambatnya pertumbuhan
dan perkembangan, bahkan dapat menganggu kelangsungan hidupnya. Selain itu
juga ibu hamil dengan KEK akan meningkatkan risiko kesakitan dan kematian bayi
karena rentan terhadap infeksi saluran pernafasan bagian bawah, gangguan
belajar, serta masalah perilaku. Seorang ibu hamil juga memerlukan tambahan zat
gizi besi rata-rata 20 mg per hari, sedangkan kebutuhan sebelum hamil atau pada
kondisi normal rata-rata 26 mg per hari (Najoan dkk., 2011).
C. Faktor Sistem Pelayanan Kesehatan
Menurut Dubois dan Miley (2005), sistem pelayanan kesehatan merupakan jaringan
pelayanan interdisipliner, komprehensif dan kompleks, terdiri dari aktivitas
diagnosis, treatmen, rehabilitasi, pemeliharaan kesehatan dan pencegahan untuk
masyarakat pada seluruh kelompok umur dan dalam berbagai keadaan. Pelayanan
kesehatan adalah sebuah upaya yang diselenggarakan sendiri atau secara
bersama- sama dalam suatu organisasi untuk memelihara dan meningkatkan
kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan
baik secara perorangan, keluarga, kelompok ataupun masyarakat.

Masalah Yang Ditemukan di lapangan Terkait Kematian Ibu dan Solusinya

 Belum adanya kesamaan persepsi antara pemerintah pusat, pemerintah


daerah, dan stakeholder yang menangani permasalahan AKI di Indonesia
 Belum adanya komitmen dari pemerintah pusat dan daerah untuk
menjalankan amanah Undang-Undang No.36 Tahun 2009 tentang kesehatan
untuk mengalokasikan anggaran kesehatan sebesar 5% APBN dan 10% APBD
di luar gaji
 Dari anggaran kesehatan yang ada, hampir semua daerah tidak memiliki
alokasi khusus untuk penanganan masalah kematian ibu

14
 Belum ada semangat memberikan pelayanan kesehatan reproduksi sebagai
upaya mencegah terjadinya kematian ibu
 Beberapa kebijakan untuk mengurangi AKI memang sudah dibuat oleh
pemerintah namun implementasi dan monitoring terhadap pelaksanaan
masih sangat kurang maksimal dijalankan
 Kebutuhan akan alat kontrasepsi masih belum dapat dipenuhi serta angka
unmet need masih cukup tinggi
 Kurangnya sosialisasi dan pelibatan masyarakat terhadap upaya penurunan
AKI, khususnya di daerah terpencil
 Belum meratanya fasilitas kesehatan di daerah terpencil, sekalipun ada
fasilitas kesehatan tidak selalu memiliki tenaga kesehatan yang memadai
untuk melakukan pemeriksaan kehamilan dan bantuan persalinan kepada ibu
melahirkan
 Masih rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang
pencegahan AKI di Indonesia, ditambah sebagian besar daerah terpencil
Indonesia masih mengalami masalah kelaparan dan kurang gizi yang juga
menimpa ibu hamil yang membutuhkan banyak asupan makanan sehat

Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI


berkolaborasi dengan Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID)
untuk temukan solusi dalam mengurangi kematian ibu dan bayi baru lahir. Hal itu
dilakukan melalui program Jalin yang akan dilaksanakan di enam provinsi, yakni
Sumatera Utara, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi
Selatan dalam tahun pertama ini.
Jalin merupakan program kesehatan ibu dan bayi baru lahir senilai 55 juta dolar
untuk mengatasi faktor-faktor penyebab rendahnya kualitas kesehatan ibu dan bayi
baru lahir yang diinisiasi USAID. Program ini melibatkan sistem kesehatan secara
menyeluruh mencakup penyedia layanan publik pemerintah dan swasta.

15
Program ini juga dilakukan melalui pendekatan baru dan sistematis yang terwujud
dalam Multi-stakeholder Advisory Body (MAB) Jalin dengan perwakilan dari
pemerintah Indonesia, penyedia layanan kesehatan swasta, dunia usaha,
perusahaan investasi swasta, dan penasihat kesehatan.
Dalam pelaksanaanya, program Jalin dilakukan dengan mengumpulkan,
menganalisis dan menyebarluaskan data-data mengenai faktor-faktor penentu
kematian ibu dan bayi baru lahir. Selain itu dilakukan juga menguji solusi-solusi
lokal yang telah diidentifikasi di enam provinsi tersebut.
Skretaris Jenderal Kemenkes RI Untung Suseno Sutarjo mengatakan pihaknya
menyambut baik kolaborasi dengan USAID untuk mengoptimalkan data ilmiah
dalam menemukan solusi yang tepat untuk turunkan angka kematian ibu dan bayi
baru lahir.
Baginya, sektor kesehatan sudah melaksanakan hampir semua program
pencegahan kematian ibu dan bayi baru lahir, seperti mulai dari senam ibu hamil,
dan bagaimana membuat ibu hamil sehat, tablet zat besi, tapi angka kematian ibu
masih tinggi.
“Dengan adaya JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) dan Jampersal (Jaminan
Persalinan) alasan untuk tidak melakukan persalinan di fasilitas kesehatan itu tidak
ada lagi. Namun masih ada masyarakat yang memang dia punya kepercayaan beda
seperti harus melakukan persalinan di hutan, memang ada kelompok suku di
Indonesia,” kata Untung, saat konferensi pers terkait program Jalin di Jakarta, Rabu
(23/5).
Selain itu, Pelaksana Tugas Direktur USAID Ryan Washburn mengatakan
permasalahan terkait ibu dan bayi tidak hanya soal bagaimana layanan yang
diberikan fasilitas kesehatan, tapi terkait bagaimana persiapan sebelum lahir,
bagaimana berangkat ke fasilitas keseahatan, dan bagaimana infrastruktur jalan.

Program Keberhasilan Penurunan Aki Dari Pemerintah

16
Strategi
Pemerintah harus mengambil tindakan untuk segera meningkatkan pelayanan
kesehatan reproduksi perempuan. Kebijakan untuk memberikan fasilitas pelayanan
kesehatan reproduksi bagi perempuan dan remaja harus segera diberikan. Selain
itu, kebijakan anggaran kesehatan, khususnya kesehatan perempuan pun harus
menjadi komitmen pemerintah untuk menjalankan amanah Undang-Undang
Kesehatan. Semakin lambat kebijakan tersebut diberikan dapat dipastikan angka
KTD dan AKI di Indonesia akan terus meningkat. Rekomendasi untuk pelayanan
kesehatan pasca 2015 di Indonesia antara lain:
 
1. Memiliki persepsi bahwa kesehatan merupakan hak asasi setiap warga
negara
2. Pemerintah berkomitmen mengalokasikan dana kesehatan 5% APBN 2013
serta memastikan daerah-daerah untuk menganggarkan 10% APBD untuk
kesehatan diluar gaji
3. Memastikan bahwa 2/3 dari total anggaran kesehatan untuk kepentingan
pelayanan kesehatan dan bukan untuk insfrastruktur seperti yang selama ini
banyak dilakukan pemerintah daerah
4. Pemerintah membuat kebijakan mengenai anggaran untuk meningkatkan
kesehatan perempuan, misalnya dengan mengharuskan 20% anggaran
kesehatan untuk kegiatan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dan memastikan
anggaran tersebut tepat sasaran
5. Penyediaan fasilitas pelayanan obstetrik neonatal emergensi komprehensif
(PONEK), pelayanan obstetrik neonatal emergensi dasar (PONED), posyandu
dan unit transfusi darah yang belum merata dan belum seluruhnya
terjangkau oleh seluruh penduduk
6. Menjamin kebutuhan tenaga kesehatan di daerah terpencil, untuk
mendukung kinerja mereka sebagai ujung tombak pemberi pelayanan
kesehatan untuk ibu hamil dan melahirkan
7. Memastikan sistem rujukan dari rumah ke puskesmas dan ke rumah sakit
berjalan optimal
8. Memperbaiki infrastruktur jalan dan fasilitas kesehatan sebagai upaya
multisektor
9. Memperbaiki sistem pencatatan terkait upaya penurunan AKI di Indonesia
sehingga data yang ditampilkan menggambarkan kondisi kesehatan
perempuan Indonesia saat ini.
10.Memasukkan fasilitas pelayanan kesehatan reproduksi (melalui pendidikan
kesehatan reproduksi) untuk remaja dan perempuan ke dalam indikator SPM

17
serta mengupayakan tersedianya layanan kesehatan reproduksi remaja di
Puskesmas yang secara aktif juga memberikan pendidikan kesehatan
reproduksi di sekolah-sekolah sesuai jenjang pendidikan
11.Membentuk peer conseling untuk remaja terkait kesehatan reproduksi
12.Menyediakan fasilitas konsultasi KTD hingga pelayanan aman untuk
pemulihan haid
13.Menghapus praktik aborsi tidak aman yang berpotensi menyebabkan AKI di
Indonesia
14.Melakukan pendekatan budaya kepada masyarakat untuk mengubah pola
pikir agar permasalahan kesehatan reproduksi, khususnya kesehatan
reproduksi remaja, merupakan masalah bersama dan tidak lagi
menganggapnya sebagai hal yang tabu untuk dibicarakan
15.Pemerintah tidak hanya menggunakan indikator angka sebagai target tetapi
juga indikator input dan proses seperti penetapan anggaran kesehatan
perempuan, pemerataan jumlah tenaga kesehatan yang terjangkau, serta
pendidikan kesehatan reproduksi untuk perempuan.

 
 

18
 Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan Republik Indonesia sudah melakukan
berbagai hal demi tercapainya MDGs 4 dan 5. Yaitu menurunkan angka kematian
balita dan menurunkan angka kematian ibu (AKI).

Direktur Jenderal Bina Gizi dan KIA Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dr.
Anung Sugihantono, MKes mengatakan apa yang dilakukan keduanya tidak hanya
berfokus di hilir, tapi juga di hulu.

"Diawali dengan kesehatan di sekolah, kemudian terkait dengan reproduksi remaja.


Selanjutnya, ke program tentang pelayanan anatal care, persalinan, dan pelayanan
kepada bayi," kata Anung di Rumah Sakit Ibu dan Anak Budi Kemuliaan, Jakarta,
Senin (21/4/2014)

Selain itu, Kemenkes juga melakukan perluasan akses serta mutu pelayanan,
sebagai berikut.

1. Tenaga kesehatan diperbanyak di daerah terpencil yang memang


jangkauan pelayanannya masih dirasa kurang.

Di pulau Jawa, kata Anung, masih dirasa kurang untuk beberapa hal tertentu.
"Karena memang, yang hamil di pulau Jawa ini sangat banyak. Lebih banyak
dibandingkan daerah-daerah lain," kata Anung menjelaskan.

2. Melengkapi sarana dan prasarana yang ada di fasilitas kesehatan. Baik


fasilitas kesehatan dasar atau rujukan.

3. Obat akan disediakan dalam satu kesatuan dengan sistem layanan


kesehatan.
Jika sebelumnya obat untuk para ibu yang mengalami preeklampsia masih sedikit,
sekarang tidak hanya jumlah obat yang diperbanyak, tenaga kesehatan juga akan
dilatih.

4. Meningkatkan pemahaman masyarakat tentang kehamilan.

Anang sendiri selalu mengatakan bahwa jangan jadikan kehamilan sebagai akibat
dari perkawinan. Tapi, jadikan kehamilan sebagai salah satu tujuan dari
perkawinan.

19
"Artinya, kita harus menyiapkan segala sesuatunya. Kalau dalam bahasa Jawa,
bebet dan bobot itu harus jelas dulu," kata Anung.

Bebet yang dimaksud Anung adalah semua keperluan harus dipersiapkan sebelum
anak lahir. Begitu anak lahir, sebagai orangtua, sudah harus tahu akan membawa
sang anak ke arah mana.

5. Mengembangkan riset-riset operasional atau litbang secara


sederhanan.

Untuk masalah satu ini, Anung memberikan contoh terkait fenomena menarik
tentang kematian ibu di beberapa daerah.

Contoh, yang terjadi di salah satu kabupaten di Jawa Tengah. Saat itu, Anung dan
tim menemukan adanya enam kasus kematian ibu di sana, yang menimpah wanita
berusia 35 tahun.

Setelah dicermati dengan menggunakan pengembangan riset operasional ini,


Anung menemukan bahwa ini terjadi pada wanita yang menjadi istri sambung.

Istri sambung adalah seorang janda yang menikah kembali, dan si suami
menginginkan seorang anak darinya.

"Wanita berusia 35 tahun itu kan berisiko sekali kalau harus hamil. Maka itu, kita
harus lihat dulu secara utuh mengapa ini bisa terjadi," kata Anung menerangkan.

Jadi, pada saat membicarakan mengenai angka kematian ibu (AKI), Kemenkes dan
pemerintah tidak melihat hanya dari satu sisi saja, melainkan melihatnya secara
utuh.

20
Daftar Pustaka

1. Departemen Kesehatan RI, 2003. Dirjen Binkesmas. Upaya Penurunan AKI di


Indonesia. Makalah untuk Kelompok Kerja MDG.
2. Badan Pusat Statistik, Data dikalkulasi dari Susenas untuk Laporan MDG.
3. WHO in Indonesia, 2002. The Millennium Development Goals for Health: A review of
the indicators, Jakarta.
4. Departemen Kesehatan RI, 2001. Rencana Strategis Nasional Making Pregnancy Safer
di Indonesia 2001-2010, Jakarta.
5. Badan Pusat Statistik, 2002. Laporan Hasil Survey Konsumsi Garam Yodium Rumah
Tangga 2002: Kerjasama BPS, Depkes dan Bank Dunia, Jakarta.
6. Dipresentasikan pada Kongres Ikatan Bidan Indonesia XII September 2003.
7. Pedoman Rumah Sakit Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif (Ponek)
8. Gunawan S, Meg EW, Endang A, Surekha C, Carine R. A district-based audit of the
causes and circumstances of maternal deaths in South Kalimantan, Indonesia. Bulletin of
the World Health Organization 2002;80:228-234.

21