Anda di halaman 1dari 16

27

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Percobaan


4.1.1 Head Loss dan Fanning friction factor (f) Pada Pipa Horizontal 2
Tabel 4.1 Head Loss dan Fanning friction factor (f) Pada Pipa Horizontal 2
Bukaan Q (m3/s) ∆H(mmHg) Nre V(ft/s) F (j/kg) ∆P(Pa)
25% 9,2993E-05 208,5 17577,89 6,83523 0,00686 864,29218
50% 0,0001199 218,5 22672,55 8,81630 0,00644 905,74504
75% 0,0001102 242,5 20823,15 8,09716 0,00658 1005,2319
100% 0,0001529 217,5 28892,99 11,2351 0,00606 901,59976

4.1.2 Head Loss dan Fanning friction factor (f) Pada Pipa Horizontal 4
Tabel 4.2 Head Loss dan Fanning friction factor (f) Pada Pipa Horizontal 4
Bukaan Q (m3/s) ∆H(mmHg) Nre V(ft/s) F (j/kg) ∆P(Pa)
25% 0,00031 27 26412,2 4,5915 0,006197 111,92273
50% 0,00049 30 22672,55 7,166753 0,005544 124,35859
75% 0,0007 30,5 58754,9 10,21397 0,005074 126,43123
100% 0,00066 34 55544,6 9,6559 0,005146 140,93973

4.1.3 Head Loss dan Fanning friction factor (f) Pada Elbow 45°
Tabel 4.3 Head Loss dan Fanning friction factor (f) Pada Elbow 45°
Bukaan Q ((m3/s) ∆H(mmHg) Nre V(ft/s) F (j/kg) ∆P(Pa)
25% 0,00031 16 26412,2 4,5915 0,006197 66,32458
50% 0,00049 18 22672,55 7,166753 0,005544 74,61515
75% 0,0007 18 58754,9 10,21397 0,005074 74,61515
100% 0,00066 18 55544,6 9,6559 0,005146 74,61515

4.1.4 Head Loss dan Fanning friction factor (f) Pada Elbow 90°
Tabel 4.4 Head Loss dan Fanning friction factor (f) Pada Elbow 90°
Bukaan Q (m3/s) ∆H(mmHg) Nre V(ft/s) F (j/kg) ∆P(Pa)
25% 0,00031 15 26412,2 4,5915 0,006197 62,179294
50% 0,00049 15,5 22672,55 7,166753 0,005544 64,251937
75% 0,00069 16 58754,9 10,21397 0,005074 66,324580
100% 0,00066 18 55544,6 9,6559 0,005146 74,615153
28

4.1.5 Fanning friction factor (f) Pada Contraction


Tabel 4.5 Fanning friction factor (f) Pada Contraction
Bukaan Q(m /s)
3
∆H(mmHg) Nre V(ft/s) F (j/kg) ∆P(Pa)
25% 9,3E-05 174 497,7118 0,193552 0,016726 1359,22
50% 0,00012 143 641,9652 0,24965 0,015695 1117,06
75% 0,00011 145 589,6001 0,229286 0,016032 1132,68
100% 0,00015 33 818,0946 0,318143 0,014772 257,783

4.1.6 Fanning friction factor (f) Pada Enlargment


Tabel 4.6 Fanning friction factor (f) Pada Enlargment
Bukaan Q(m /s)
3
∆H(mmHg) Nre V(ft/s) F (/kg) ∆P(Pa)
25% 0,00028 22 1493,135 0,580656 0,012709 91,1963
50% 0,00036 38 1925,896 0,748949 0,011925 157,521
75% 0,00033 43 1768,8 0,687857 0,012182 178,247
100% 0,00046 147 2454,284 0,95443 0,011224 609,357

4.1.7 Kecepatan Aliran dan Deviasi pada Orifiece


Bukaan ∆H(mmHg) V(ft/s) VP Deviasi
25% 16 0,733403 1,250266 0,413403
50% 27 1,14475 1,435172 0,202361
75% 29 1,631483 1,462462 0,11557
100% 29,5 1,542342 1,469067 0,04988
Deviasi rata 0,743806
rata

4.2 Pembahasan
4.2.1 Head Loss dan Fanning friction factor (f) Pada Pipa Horizontal 2
Percobaan ini menjelaskan hubungan antara kecepatan alir fluida dengan
Head Loss pada pipa No. 2 dengan ID sebesar 0,02474 ft,luas penampang pipa sebesar
0.00048 ft2 dan panjang pipa 318,24ft. Berdasarkan hasil perhitungan didapatkan
hubungan antara kecepatan volumetrik dengan Head Loss yang apabila digambarkan
meghasilkan kurva yang terus meningkat. Dibawah ini merupakan grafik hasil
percobaan yang telah dilakukan.
29

12

Kecepatan (ft/s)
10

6
0.68 0.72 0.8 0.71
Head Loss (ftHg)

Gambar 4.1 Hubungan Kecepatan dengan Head Loss Pada Pipa Horizontal 2

Gambar 4.1 menunjukkan bahwa kecepatan berbanding lurus dengan harga


Head Loss nya. Nilai kecepatan akan semakin besar jika bukaan valve nya juga semakin
besar sehingga Head Loss pada pipa akan semakin besar juga. Tetapi pada bukaan valve
100% head factor pipa berbanding terbalik dengan kecepatan dengan kata lain head
factor pipa mengalami penurunan. Hal ini terjadi karna ketidaktelitian praktikkan dalam
melakukan percobaan.
100

10
f(x) = 0.5 x + 8.38
R² = 0

1
0.1 1

Gambar 4.2 Hubungan Log V dengan Log H Pada Pipa Horizontal 2


Dari grafik diatas didapatkan persamaan y = 0,0016x + 8,3802 Intercept dari
grafik tersebut adalah 8,3802. Sehingga di dapat nilai faktor friksi rata-rata untuk pipa
nomor 2 adalah 0,0002. Grafik hubungan log v dan log H juga berfungsi untuk
meluruskan grafik pada aliran turbulen. Karena grafik hubungan kecepatan volumetrik
dengan head loss pada aliran turbulen seharusnya adalah melengkung atau tidak lurus.
Jadi untuk meluruskan grafik tersebut digunakan grafik logaritmik.
30

Pada percobaan ini NRe (Reynolds Number) yang didapat pada bukaan
valve25% dan 75% < 2100 sehingga tipe alirannya laminer sedangkan pada bukaan
valve 50% dan 100% NRe yang didapat berkisar diantara 2100-4000. Hal ini
menunjukkan pada bukaan valve 50% dan 100% tipe alirannya adalah aliran transisi.
Berikut adalah grafik hubungan Reynolds Number dan f (fanning friction factor).

0.01

0.01
fanning friction factor

0.01

0.01

0.01

0.01

0.01

0.01
17577.89 22672.55 20823.15 28892.99
Reynold Number

Gambar 4.3 Hubungan Fanning friction factor (f) dengan NRe Pada Pipa Horizontal 2
Berdasarkan Gambar 4.3 hubungan NRe dengan fanning friction factor (f)
menunjukkan bahwa semakin besar nilai Reynolds Number pada aliran, maka nilai
Fanning friction factor (f)-nya pun akan semakin kecil.Hal ini dikarenakan besarnya
bilangan Reynold sebanding dengan kecepatan aliran (V) sedangkan besarnya faktor
gesekan berbanding terbalik dengan kecepatan aliran (V).Maka, semakin besar bilangan
Reynold, maka kecepatan aliran yang ditimbulkan semakin besar yang menimbulkan
bidang kontak antara fluida dan pipa semakin kecil sehingga mengakibatkan faktor
gesekan juga semakin kecil. Pada bukaan valve 50 % fanning friction factor semakin
besar. Hal ini disebabkan karna ketidaktelitian praktikkan dalam melakukan percobaan.
Berdasarkan data percobaan dengan nilai Reynolds Number-nya seperti pada data, maka
aliran yang terjadi adalah aliran turbulen. Data percobaan ini sesuai dengan teori yang
terdapat pada Figure 2.10-3 untuk aliran turbulen pada buku Transport Processes and
Unit Operations (Geankoplis, 1993).

4.2.2 Head Loss dan Fanning friction factor (f) Pada Pipa Horizontal 4
31

Percobaan ini menjelaskan hubungan antara kecepatan alir fluida dengan Head
Loss pada pipa No. 4 dengan ID sebesar 0,05534 ft,luas penampang pipa sebesar
0.00024 ft2 dan panjang pipa 318,24ft. Berdasarkan hasil perhitungan didapatkan
hubungan antara kecepatan volumetrik dengan Head Loss yang apabila digambarkan
menghasilkan kurva yang terus meningkat, makatipe aliran fluida yang terjadi adalah
aliran turbulen,. Dibawah ini merupakan grafik hasil percobaan yang telah dilakukan.
12.08

10.08
Kecepatan (ft/s)

8.08

6.08

4.08

2.08

0.08
0.08 0.09 0.1 0.11
Head Loss (ft/hg))

Gambar 4.4 Hubungan Kecepatan dengan Head Loss Pada Pipa Horizontal 4
Gambar 4.4 menunjukkan bahwa kecepatan berbanding lurus dengan harga Head Loss
nya. Nilai kecepatan akan semakin besar jika bukaan valve nya juga semakin besar
sehingga Head Loss pada pipa akan semakin besar juga.
100
Kecepatan ( log V)

10
f(x) = 182.4 x − 9.42
R² = 0.84

1
0.01 0.1 1
Head Loss (log H)

Gambar 4.5 Hubungan Log V dengan Log H Pada Pipa Horizontal 4


32

Dari grafik diatas didapatkan persamaan y = 182,4x -9,2414. Intercept dari


grafik tersebut adalah 9,2414. Sehingga di dapat nilai faktor friksi rata-rata untuk pipa
nomor 2 adalah 0,8351. Grafik hubungan log v dan log H juga berfungsi untuk
meluruskan grafik pada aliran turbulen. Karena grafik hubungan kecepatan volumetrik
dengan head loss pada aliran turbulen seharusnya adalah melengkung atau tidak lurus.
Jadi untuk meluruskan grafik tersebut digunakan grafik logaritmik
Pada percobaan ini NRe (Reynolds Number) yang didapat pada semua bukaan
pipa 4 ini memiliki nilai > 4000 sehingga tipe aliran fluida yang terjadi adalah aliran
turbulen.Berikut adalah grafik hubungan Reynolds Number dan f (fanning friction
factor (f)).

0.01

0.01
Fanning friction factor (f)

0.01

0.01

0.01

0.01

0.01
25000 30000 35000 40000 45000 50000 55000 60000
Reynold Number

Gambar 4.6 Hubungan NRe dengan Fanning friction factor (f) Pada Pipa Horizontal 4
Berdasarkan Gambar 4.6 hubungan NRe dengan fanning friction factor (f)
menunjukkan juga bahwa semakin besar nilai Reynolds Number pada aliran, maka nilai
Fanning friction factor (f)-nya pun akan semakin kecil.Hal ini dikarenakan besarnya
bilangan Reynold sebanding dengan kecepatan aliran (V) sedangkan besarnya faktor
gesekan berbanding terbalik dengan kecepatan aliran (V).jadi, semakin besar bilangan
Reynold, maka kecepatan aliran yang ditimbulkan semakin besar yang menimbulkan
bidang kontak antara fluida dan pipa semakin kecil sehingga mengakibatkan faktor
gesekan juga semakin kecil. Berdasarkan data percobaan dengan nilai Reynolds
Number-nya seperti pada data, maka aliran yang terjadi adalah aliran turbulen. Data
33

percobaan ini sesuai dengan teori yang terdapat pada Figure 2.10-3 untuk aliran
turbulen pada buku Transport Processes and Unit Operations (Geankoplis, 1993).

4.2.3 Head Loss dan Fanning friction factor (f) Pada Elbow 45°
Percobaan ini menjelaskan hubungan antara kecepatan alir fluida dengan Head
Loss pada pipa No. 4 dengan ID sebesar 0,05534 ft,luas penampang pipa sebesar
0.00024 ft2 dan panjang pipa 318,24ft. Berdasarkan hasil perhitungan didapatkan
hubungan antara kecepatan volumetrik dengan Head Loss yang apabila digambarkan
menghasilkan kurva yang terus meningkat, maka tipe aliran fluida yang terjadi adalah
aliran turbulen,. Dibawah ini merupakan grafik hasil percobaan yang telah dilakukan.
12

10

8
Kcepatan (ft/s)

0
0.05 0.05 0.05 0.05 0.06 0.06 0.06 0.06 0.06 0.06
head loss (ftHg)

Gambar 4.7 Hubungan Kecepatan dengan Head Loss Pada Elbow 45°

Gambar 4.7 menunjukkan bahwa pada bukaan valve 25% kecepatan berbanding lurus
dengan Head Loss nya. Tetapi pada bukaan valve 50-100% kecepatan tidak berbanding
lurus dengan Head Loss, hal ini terjadi karna ketidaktelitian praktikkan dalam
melakukan percobaan sehingga hasil percobaan tidak sesuai dengan teori yang
menyatakan semakin besar kecepatan maka Head Loss juga akan semakin besar.
34

100
Kecepatan (log v)

10
f(x) = 631.53 x − 28.25
R² = 0.74

1
0.01 0.1
Head Loss (log H)

Gambar 4.8 Hubungan Log V dengan Log H Pada Pipa Horizontal 4


Dari grafik diatas didapatkan persamaan y = 631,53x -28,248. Intercept dari
grafik tersebut adalah 28,248. Sehingga di dapat nilai faktor friksi rata-rata untuk pipa
nomor 2 adalah 0,7357. Grafik hubungan log v dan log H juga berfungsi untuk
meluruskan grafik pada aliran turbulen. Karena grafik hubungan kecepatan volumetrik
dengan head loss pada aliran turbulen seharusnya adalah melengkung atau tidak lurus.
Jadi untuk meluruskan grafik tersebut digunakan grafik logaritmik
Pada percobaan ini NRe (Reynolds Number) yang didapat pada semua bukaan
pipa 4 ini memiliki nilai > 4000 sehingga tipe aliran fluida yang terjadi adalah aliran
turbulen.Berikut adalah grafik hubungan Reynolds Number dan F (frictionfactor).

0.01
Fanning friction factor (f)

0.01

0.01

0.01

0.01

0.01

0.01
25000 30000 35000 40000 45000 50000 55000 60000

Reynold Number

Gambar 4.9Hubungan NRe dengan Fanning friction factor (f) Pada Elbow 45°
35

Berdasarkan Gambar 4.9 hubungan NRe dengan fanning friction factor (f)
menunjukkan juga bahwa semakin besar nilai Reynolds Number pada aliran, maka nilai
Fanning friction factor (f)-nya pun akan semakin kecil.Hal ini dikarenakan besarnya
bilangan Reynold sebanding dengan kecepatan aliran (V) sedangkan besarnya faktor
gesekan berbanding terbalik dengan kecepatan aliran (V).jadi, semakin besar bilangan
Reynold, maka kecepatan aliran yang ditimbulkan semakin besar yang menimbulkan
bidang kontak antara fluida dan pipa semakin kecil sehingga mengakibatkan faktor
gesekan juga semakin kecil. Pada bukaan valve 100% fanning friction factor meningkat
halini terjadi karna ketidaktelitian praktikkan dalam menentukan kecepatan aliran karna
kecepatan sangat berpengaruh dengan fanning friction factor. Berdasarkan data
percobaan dengan nilai Reynolds Number-nya seperti pada data, maka aliran yang
terjadi adalah aliran turbulen. Data percobaan ini sesuai dengan teori yang terdapat pada
Figure 2.10-3 untuk aliran turbulen pada buku Transport Processes and Unit
Operations (Geankoplis, 1993).

4.2.4 Head Loss dan Fanning friction factor (f) Pada Elbow 90°
Percobaan ini menjelaskan hubungan antara kecepatan alir fluida dengan Head
Loss pada pipa No. 4 dengan ID sebesar 0,05534 ft,luas penampang pipa sebesar
0.00024 ft2 dan panjang pipa 318,24ft. Berdasarkan hasil perhitungan didapatkan
hubungan antara kecepatan volumetrik dengan Head Loss yang apabila digambarkan
menghasilkan kurva yang terus meningkat, makatipe aliran fluida yang terjadi adalah
aliran turbulen,. Dibawah ini merupakan grafik hasil percobaan yang telah dilakukan.
12

10

8
kecepatan (ft/s)

0
0.04 0.05 0.05 0.06 0.06 0.07
Head Loss (ftHg)
36

Gambar 4.10 Hubungan Kecepatan dengan Head Loss Pada Elbow 90°

Gambar 4.7 menunjukkan bahwa pada bukaan valve 25%-75 % kecepatan berbanding
lurus dengan Head Loss nya.Semakin besar kecepatan semakin besar Head Lossnya.
Tetapi pada bukaan valve 100% kecepatan tidak berbanding lurus dengan Head Loss,
hal ini terjadi karna ketidaktelitian praktikkan dalam melakukan percobaan sehingga
hasil percobaan tidak sesuai dengan teori yang menyatakan semakin besar kecepatan
maka Head Loss juga akan semakin besar.

100
kecepatan (log v)

10
f(x) = 422.08 x − 14.42
R² = 0.5

1
0.01 0.1
head loss (log H)

Gambar 4.12 Hubungan Log V dengan Log H Pada Pipa Horizontal 4


Dari grafik diatas didapatkan persamaan y = 422,08 x -14,422. Intercept dari
grafik tersebut adalah 14,422. Sehingga di dapat nilai faktor friksi rata-rata untuk pipa
nomor 2 adalah 0,4993. Grafik hubungan log v dan log H juga berfungsi untuk
meluruskan grafik pada aliran turbulen. Karena grafik hubungan kecepatan volumetrik
dengan head loss pada aliran turbulen seharusnya adalah melengkung atau tidak lurus.
Jadi untuk meluruskan grafik tersebut digunakan grafik logaritmik
Pada percobaan ini NRe (Reynolds Number) yang didapat pada semua bukaan
pipa 4 ini memiliki nilai > 4000 sehingga tipe aliran fluida yang terjadi adalah aliran
turbulen.Berikut adalah grafik hubungan Reynolds Number dan F (frictionfactor).
37

0.01

fanning friction factor (f)


0.01

0.01

0.01

0.01

0.01

0.01

0.01
25000 30000 35000 40000 45000 50000 55000 60000

Reynold Number

Gambar 4.13 Hubungan NRe dengan Fanning friction factor (f) Pada Elbow 90°
Berdasarkan Gambar 4.13 hubungan NRe dengan fanning friction factor (f)
menunjukkan juga bahwa semakin besar nilai Reynolds Number pada aliran, maka nilai
Fanning friction factor (f)-nya pun akan semakin kecil.Hal ini dikarenakan besarnya
bilangan Reynold sebanding dengan kecepatan aliran (V) sedangkan besarnya faktor
gesekan berbanding terbalik dengan kecepatan aliran (V).jadi, semakin besar bilangan
Reynold, maka kecepatan aliran yang ditimbulkan semakin besar yang menimbulkan
bidang kontak antara fluida dan pipa semakin kecil sehingga mengakibatkan faktor
gesekan juga semakin kecil. Berdasarkan data percobaan dengan nilai Reynolds
Number-nya seperti pada data, maka aliran yang terjadi adalah aliran turbulen. Data
percobaan ini sesuai dengan teori yang terdapat pada Figure 2.10-3 untuk aliran
turbulen pada buku Transport Processes and Unit Operations (Geankoplis, 1993).

4.2.5 Fanning friction factor (f) Pada Enlargement dan Contraction


Pada perpipaan, pipa perbesaran terjadi dimana diameter dari pipa yang
awalnya kecil mengalami perbesaran menjadi diameter yang lebih besar (Enlargement)
dan diameter besar ke kecil (Contraction).
38

0.01
0.01

Fanning friction factor (j/kg)


0.01
0.01
0.01
0.01
0.01
0.01
0.01
0.01
25 50 75 100
bukaan valve (%)

Gambar 4.14 Hubungan Fanning friction factor (f) dengan bukaan valve Pada
Enlargement
Pada Gambar 4.14 menunjukkan hubungan antara Fanning friction factor (f) dengan
bukaan valve pada Enlargement .Enlagement untuk pipa dimana diameter berubah dari
kecil ke besar, sehingga luas penampang juga berubah dari kecil ke besar. Dari
persamaan kontinuitas bahwa kecepatan fluida adalah perbandingan debit air denga luas
penampang pipa. Semakin kecil luas penampang pipa, maka semakin besar kecepatan
fluida yang mengalir. Hal ini dikarenakan luas penampang berbanding terbalik dengan
kecepatan fluida. Pada enlargement luas pipa pertama lebih kecil dibangdingkan luas
pipa kedua, hal ini mengakibatkan kecepatan fluida pada penampang kecil lebih lebih
besar dari pada penampang besar. Bilangan Reynold sebanding dengan kecepatan aliran
(V) sedangkan besarnya faktor gesekan berbanding terbalik dengan kecepatan aliran (V)
jadi, semakin besar bilangan Reynold, maka kecepatan aliran yang ditimbulkan semakin
besar yang menimbulkan bidang kontak antara fluida dan pipa semakin kecil sehingga
mengakibatkan faktor gesekan juga semakin kecil. Pada enlargement, fanning friction
factor (f) semakin naik dengan semakin besarnya bukaan valve. Hal ini hanya sesuai
dengan percobaan pada bukaan valve 75% dimana fanning friction factor (f) meningkat
seiring besarnya bukaan valve. Pada bukaan 25,50 dan 100% fanning friction factor (f)
meningkat seiring besarnya bukaan valve. Hal ini terjadi karna ketidaktelitian
praktikkan dalam membaca data sehingga data yang didapat tidak sesuai dengan teori.
39

0.02

0.02
Fanning friction factor (j/kg) 0.02

0.02

0.02

0.01

0.01

0.01
25 50 75 100
bukaan valve (%)

Gambar 4.15 Hubungan Fanning friction factor (f) dengan NRe Pada
Contraction
Pada gambar 4.15 menunjukkan hubungan antara fanning friction factor (f)
dengan bukaan valve pada contraction .Contraction untuk pipa dimana diameter
berubah dari besar ke kecil, sehingga luas penampang juga berubah dari besar ke kecil.
Dari persamaan kontinuitas bahwa kecepatan fluida adalah perbandingan debit air denga
luas penampang pipa. Semakin kecil luas penampang pipa, maka semakin besar
kecepatan fluida yang mengalir. Hal ini dikarenakan luas penampang berbanding
terbalik dengan kecepatan fluida. Pada contraction luas pipa pertama lebih besar
dibangdingkan luas pipa kedua, hal ini mengakibatkan kecepatan fluida pada
penampang kecil lebih lebih besar dari pada penampang besar. Bilangan Reynold
sebanding dengan kecepatan aliran (V) sedangkan besarnya faktor gesekan berbanding
terbalik dengan kecepatan aliran (V) jadi, semakin besar bilangan Reynold, maka
kecepatan aliran yang ditimbulkan semakin besar yang menimbulkan bidang kontak
antara fluida dan pipa semakin kecil sehingga mengakibatkan faktor gesekan juga
semakin kecil. Hal ini mengakibatkan fanning friction factor (f) semakin menurun
dengan semakin besarnya bukaan valve. Hal ini disebabkan oleh perubahan diameter
besar ke kecil yang tidak mampu mengalirkan fluida dengan cepat, sehingga
membutuhkan waktu yang lama yang mengakibatkan kecepat fluida juga semakin kecil.
40

4.2.6 Kecepatan Aliran dan Deviasi pada Orifiece


Percobaan ini menjelaskan hubungan antara kecepatan aliran dengan head loss
dan menghitung deviasi pada orifiece. Berdasarkan hasil perhitungan didapatkan
hubungan antara kecepatan volumetrik dengan Head Loss yang apabila digambarkan
menghasilkan kurva yang terus meningkat, makatipe aliran fluida yang terjadi adalah
aliran turbulen,. Dibawah ini merupakan grafik hasil percobaan yang telah dilakukan.
1.8

1.6

1.4 f(x) = 0.06 x − 0.26


R² = 0.86
1.2

0.8

0.6

0.4

0.2

0
10 15 20 25 30 35

Gambar 4.14 Hubungan Kecepatan dengan Head Loss Pada Elbow 45°

Gambar 4.14 menunjukkan bahwa pada bukaan valve 25-75% kecepatan berbanding
lurus dengan Head Loss nya. Semakin besar kecepatan aliran maka head loss juga akan
semakin besar.Tetapi pada bukaan valve 100% kecepatan tidak berbanding lurus dengan
Head Loss, hal ini terjadi karna ketidaktelitian praktikkan dalam melakukan percobaan
sehingga hasil percobaan tidak sesuai dengan teori yang menyatakan semakin besar
kecepatan maka Head Loss juga akan semakin besar. Pada Grafik didapatkan nilai k
sebesar 0,0602 dan nilai n sebesar 0,2636. Dari data tersebut didapat nilai deviasi
kecepatan rata rata pada orifiece adalah sebesar 0,74.
41

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil yang didapatkan selama praktikum, maka dapat
disimpulkan bahwa :
1. Aliran pada pipa horizontal , elbow 45° dan elbow 90° adalah turbulen karna
memiliki NRe > 4000 sedangkan aliran yang terjadi pada contraction dan
engarement adalah laminar karna memiliki Nre < 4000
2. Semakin besar kecepatan fluida, maka kerugian gesekan atau fanning friction
factor (f) juga semakin besar. Dalam percobaan ini, contraction memiliki nilai
fanning friction factor terbesar yaitu 0,01672
3. Fanning friction factor berbanding terbalik dengan NRe, semakin kecil nilai
fanning friction factor semakin besar nilai NRe, pada percobaan ini Elbow 90°
memiliki nilai fanning friction factor terkecil yaitu 0,005074 J/kg dan memiliki
NRe terbesar yaitu 58754,9.
4. Nilai deviasi orifiece yang didapatkan pada percobaan ini adalah 0,743.
5.2 Saran
1. Praktikkan harus teliti dalam mengamati kecepatan dan Head Loss pada setiap
percobaan agar data yang didapat sesui dengan teori
2. Praktikkan harus teliti menyambungkan selang antar pipa
42