Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH TUGAS INDIVIDU

“NASOFARINGITIS”

NAMA : MUHAMMAD CAKRA WIRAJAYA

NIM : 20190320103

JURUSAN : PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah memberikan rahmat dan
hidayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul
“NASOFARINGITIS” ini tepat pada waktunya.

Adapun tujuan dari penulisan dari makalah ini adalah untuk memenuhi tugas dari
dosen pada blok 3 “Ilmu dasar Keperawatan 2”. Selain itu, makalah ini juga bertujuan untuk
menambah wawasan tentang nasofaringitis bagi para pembaca dan juga bagi penulis.

Saya mengucapkan terima kasih kepada Pak Syahruramdhani, S.Kep.Ns, MSN,


M.Sc., selaku dosen penanggung jawab di blok 3 “Ilmu Dasar Keperawatan 2” yang telah
memberikan tugas ini sehingga dapat menambah pengetahuan dan wawasan sesuai dengan
bidang studi yang saya tekuni.

Saya juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membagi
sebagian pengetahuannya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini.

Saya menyadari, makalah yang saya tulis ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh
karena itu, kritik dan saran yang membangun akan saya nantikan demi kesempurnaan
makalah ini.

Bantul, 1 Januari 2020

Penulis

i
ii
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN …………………………………………………..…… 3

1.1. Latar Belakang ……………………………………………………………………… 3

1.2. Rumusan Masalah ……………………………………………………………………4

1.3. Tujuan ………………………………………………………………………………. 4

BAB II PEMBAHASAN ………………………………………………………… 5

2.1. Pengertian Nasofaringitis …………………………………………………………… 5

2.2. Mekanisme Penyakit Yang Terjadi Pada Tubuh …………………………………… 6

2.3. Penyebab Penyakit …………………………………………………………..……… 7

2.4. Obat Menurut Al-Qur’an dan Hadits ………………………………………….……. 8

BAB III PENUTUP …………………………………………………………….. 11

3.1. Kesimpulan ………………………………………………………………………… 11

3.2. Saran …………………………………………………………………………………11

DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………… 12

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Nasofaringitis atau pilek adalah penyakit infeksi yang paling sering pada manusia.
Rata-rata orang dewasa terkena pilek dua sampai empat kali setahun, sedangkan rata-rata
anak bisa terkena enam sampai delapan kali. Pilek terjadi lebih sering pada musim dingin.
Infeksi ini telah ada pada manusia sejak zaman kuno.

Ada lebih dari 200 strain virus yang terlibat dalam penyebab Nasofaringitis,
rhinovirus adalah yang paling umum. Mereka menyebar melalui udara selama kontak dekat
dengan orang yang terinfeksi dan secara tidak langsung melalui kontak dengan benda-benda
di lingkungan diikuti dengan transfer ke mulut atau hidung. Faktor risiko termasuk pergi ke
tempat penitipan anak, tidak tidur dengan baik, dan stres psikologis. Gejala sebagian besar
karena respon kekebalan tubuh terhadap infeksi daripada kerusakan jaringan oleh virus
sendiri. Penderita influenza sering menunjukkan gejala yang sama seperti penderita
nasofaringitis atau pilek, meskipun gejala biasanya lebih parah di influenza.

Metode utama pencegahan adalah mencuci tangan; tidak menyentuh mata, hidung
atau mulut dengan tangan yang belum dicuci; dan menjauh dari orang-orang yang sakit.
Beberapa bukti mendukung penggunaan masker wajah.

Setiap penyakit yang menyerang tubuh kita merupakan penggugur dosa-dosa kita
sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yaitu :
“Tidaklah menimpa seorang mukmin rasa sakit terus menerus, kepayahan, penyakit, dan juga
kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan
dengannya dosa dosanya” (HR. Muslim). Namun Terkadang penyakit itu juga merupakan
hukuman dari dosa yang pernah dilakukan. Sebagaimana firman Allah ta’ala, “Dan apa saja
musibah yang menimpamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan
Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. asy-Syuura: 30).

Pokok Pembahasan pada makalah ini berfokus dalam membahas tentang penyakit
Nasofaringitis atau yang biasa orang orang awam kenal dengan sebutan “Pilek”, mulai dari
pembahasan tentang mekanisme penyakit atau patofisiologinya, kemudian juga membahas
tentang penyebab serta obat dari penyakit secara umum menurut Al-Qur’an dan Hadits.

4
1.2 Rumusan Masalah

Dari uraian latar belakang di atas dapat ditarik beberapa rumusan masalah, yaitu :

1. Apa pengertian nasofaringitis ?

2. Mekanisme penyakit yang terjadi pada tubuh

3. Penyebab penyakit nasofaringitis

4. Obat atau penawar penyakit menurut Al-Qur’an dan Hadits

1.3 Tujuan

Sesuai dengan masalah yang dihadapi maka makalah ini bertujuan untuk : (1)
mengetahui pengertian nasofaringitis, (2) mengetahui mekanisme penyakit yang terjadi pada
tubuh, (3) mengetahui apa saja penyebab penyakit nasofaringitis, (4) Mengetahui obat atau
penawar penyakit menurut Al-Qur’an dan Hadits

5
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Nasofaringitis

Pilek, biasa juga dikenal sebagai nasofaringitis, rinofaringitis, koriza akut, atau
selesma, merupakan penyakit menular yang disebabkan virus pada sistem pernapasan yang
terutama menyerang hidung. Tenggorokan, sinus, dan kotak suara juga dapat terpengaruh.
Tanda dan gejala mungkin muncul kurang dari dua hari setelah paparan. Itu termasuk batuk,
sakit tenggorokan, rhinorrhea, bersin, sakit kepala, dan demam. Orang biasanya sembuh
dalam tujuh sampai sepuluh hari. Beberapa gejala dapat berlangsung hingga tiga minggu.
Pada orang-orang dengan masalah kesehatan lainnya, pneumonia kadang-kadang
berkembang.

Pilek biasanya ringan dan hilang dengan sendirinya seiring meredanya gejala pilek
setelah satu minggu. Komplikasi yang parah, jika ada, dialami oleh mereka yang berusia
sangat tua, sangat muda, atau mereka yang mengalami imunosupresi (memiliki sistem imun
yang lemah). Infeksi bakteri sekunder dapat terjadi dan menyebabkan sinusitis, faringitis,
atau infeksi telinga. Sinusitis diperkirakan terjadi pada 8% kasus. Infeksi telinga terjadi pada
30% kasus.

Pilek atau selesma merupakan penyakit yang paling umum pada manusia dan terjadi
di seluruh dunia. Orang dewasa biasanya terkena infeksi dua hingga lima kali per tahun.
Anak-anak dapat terserang pilek enam hingga sepuluh kali per tahun (dan hingga dua belas
kali per tahun pada anak sekolah). Angka infeksi dengan gejala meningkat pada manula
karena sistem imun yang melemah.

Gejala dan penanganannya dijelaskan dalam papirus Ebers dari Mesir, teks medis
tertua yang pernah ada, ditulis sebelum abad ke-16 Sebelum Masehi. Istilah “selesma”
("common cold") mulai digunakan pada abad ke-16, yakni karena kemiripan gejalanya
dengan gejala orang yang terpajan cuaca dingin.

6
2.2 Mekanisme Penyakit Yang Terjadi Pada Tubuh

Pilek biasanya diawali dengan sakit badan ringan, perasaan kedinginan, bersin-bersin,
dan sakit kepala. Gejala lainnya seperti hidung meler dan batuk terjadi setelah dua hari atau
lebih. Secara umum, gejala mencapai puncaknya pada hari kedua hingga hari ketiga setelah
infeksi terjadi. Gejala biasanya mereda setelah tujuh hingga sepuluh hari, namun gejala
tersebut dapat berlangsung hingga tiga minggu. Batuk berlangsung hingga lebih dari sepuluh
hari pada 35% hingga 40% kasus yang melibatkan anak-anak. Batuk berlanjut hingga lebih
dari 25 hari pada 10% kasus yang melibatkan anak-anak.

Gejala pilek yang paling sering timbul termasuk batuk, hidung meler, hidung
tersumbat, dan sakit tenggorokan. Gejala lainnya bisa berupa nyeri otot (mialgia), sakit badan
ringan, sakit kepala, dan hilangnya nafsu makan. Sakit tenggorokan timbul pada 40% dari
penderita pilek. Batuk muncul pada sekira 50% dari mereka. Nyeri otot terjadi pada sekira
setengah dari kasus pilek tersebut. Demam tidak termasuk gejala biasa muncul pada orang
dewasa, namun muncul pada bayi dan anak kecil. Batuk yang disebabkan oleh pilek biasanya
lebih ringan daripada batuk yang disebabkan oleh flu (influenza). Batuk dan demam pada
orang dewasa kemungkinan besar merupakan indikasi flu (influenza). Beberapa jenis virus
penyebab pilek mungkin juga tidak memunculkan gejala. Warna mukus yang dikeluarkan
saat batuk dari saluran pernapasan bagian bawah (dahak) berbeda-beda, mulai dari kuning
hingga hijau. Warna mukus tidak dapat mengindikasikan apakah penyebab infeksi tersebut
adalah bakteri atau virus.

Perbedaan infeksi saluran pernapasan bagian atas (URTI) semata karena gejalanya
terlihat di lokasi yang berbeda. Pilek terutama menyerang hidung, faringitis terutama
menyerang tenggorokan, dan bronkitis terutama menyerang paru-paru. Pilek seringkali
didefinisikan sebagai inflamasi hidung serta berbagai jenis inflamasi tenggorokan. Swa-
diagnosis biasa dilakukan.[4] Isolasi agen virus yang sesungguhnya jarang dilakukan. Secara
umum identifikasi jenis virus tidak mungkin dilakukan hanya berdasarkan gejalanya.

Gejala pilek diyakini sangat berkaitan dengan respons imun terhadap virus.
Mekanisme respons imun tersebut berbeda-beda bergantung jenis virusnya. Contohnya,
rhinovirus biasanya diperoleh melalui persinggungan langsung. Virus ini mengikat reseptor
ICAM-1 manusia melalui metode yang tidak diketahui dan memicu pelepasan mediator
inflamasi. Kemudian mediator inflamasi ini memunculkan gejala. Pada umumnya virus
tersebut tidak menyebabkan kerusakan pada epitelium hidung. Sebaliknya, virus sinsisial

7
pernapasan (RSV) ditularkan secara langsung atau melalui droplet yang terbawa udara.
Kemudian, virus mereplikasi diri di dalam hidung dan tenggorokan sebelum menyebar
berkali-kali ke dalam saluran pernapasan bagian bawah. RSV tidak menyebabkan kerusakan
epitelium. Virus parainfluenza manusia biasanya menyebabkan inflamasi di dalam hidung,
tenggorokan, dan saluran pernapasan. Pada anak kecil, apabila virus menyerang trakea,virus
tersebut menimbulkan krup, batuk kering dan sesak napas. Hal tersebut dikarenakan kecilnya
ukuran saluran pernapasan anak-anak.

2.3 Penyebab Penyakit Nasofaringitis

1. Virus
Pilek merupakan infeksi saluran pernapasan atas yang mudah menular. Rhinovirus
paling banyak menyebabkan pilek tersebut. Virus tersebut ditemukan pada 30% hingga 80%
dari semua kasus yang ada. Rhinovirus adalah virus yang memiliki RNA dan merupakan
bagian dari famili Picornaviridae. Terdapat 99 jenis virus yang telah diidentifikasikan sebagai
famili virus tersebut. Virus lain juga dapat menyebabkan pilek. Coronavirus menyebabkan
10% hingga 15% dari kasus. Flu (influenza) menyebabkan 5% hingga 15% dari kasus. Kasus
lain mungkin disebabkan oleh virus parainfluenza manusia, virus sinsisial pernapasan,
adenovirus, enterovirus, dan metapneumovirus. Seringkali, lebih dari satu jenis virus
menyerang dan menyebabkan infeksi pilek. Secara keseluruhan, lebih dari dua ratus virus
dapat menyebabkan pilek.

2. Penularan

Virus pilek biasanya ditularkan dengan satu cara dari dua cara penularan utama.
Menghirup atau menelan droplet di udara yang mengandung virus. Atau terkena ingus yang
terinfeksi atau objek yang terkontaminasi. Belum ada kepastian mengenai cara apa yang
menjadi metode penularan yang paling sering terjadi. Virus dapat bertahan lebih lama di
lingkungan sekitar. Kemudian virus dapat ditularkan dari tangan ke mata atau hidung di mana
infeksi terjadi. Orang yang duduk berdekatan mungkin paling berisiko terinfeksi virus
tersebut. Penularan sering terjadi di tempat penitipan anak dan di sekolah karena anak-anak
berdekatan dan di antara mereka terdapat anak-anak dengan kekebalan tubuh yang rendah
dan kebersihan yang buruk. Infeksi tersebut kemudian terbawa ke rumah dan menular ke
anggota lain di dalam keluarga. Tidak terdapat bukti bahwa udara yang disirkulasi ulang

8
selama berada di dalam pesawat komersial dapat menularkan virus. Pilek yang disebabkan
oleh rhinovirus sangat mudah menginfeksi selama tiga hari pertama timbulnya gejala,
kemudian menjadi tidak terlalu menular setelahnya.

3. Cuaca

Teori tradisional meyakini bahwa pilek ditularkan melalui pemajanan yang terus-
menerus seperti dalam kondisi hujan atau musim dingin, oleh karena itu pilek disebut dengan
cold (dingin dalam bahasa Inggris). Faktor risiko yang disebabkan oleh penggunaan
pendingin badan (body cooling) masih menjadi kontroversi. Beberapa virus yang
menyebabkan pilek bersifat musiman, lebih sering terjadi saat cuaca dingin atau saat hujan.
Hal ini terutama diyakini terjadi karena orang-orang lebih banyak menghabiskan waktu di
dalam ruangan dan berdekatan satu dengan lainnya; khususnya anak-anak yang pulang dari
sekolah. Namun, ini mungkin juga berkaitan dengan perubahan sistem pernapasan yang
mengakibatkan mudahnya terjadi infeksi. Kelembapan dapat meningkatkan risiko penularan
karena udara kering memudahkan droplet kecil menyebar dengan mudah dan lebih jauh serta
bertahan di udara lebih lama.

4. Lain-lain

Imunitas kelompok, imunitas yang terjadi ketika semua orang dalam suatu kelompok
menjadi kebal terhadap infeksi tertentu yang disebabkan oleh pemajanan sebelumnya
terhadap virus-virus penyebab pilek. Selain itu populasi dengan anggota berusia lebih muda
memiliki risiko lebih tinggi terkena infeksi pernapasan dibandingkan populasi dengan
anggota berusia lebih tua yang berisiko lebih rendah terkena infeksi pernapasan. Fungsi
kekebalan yang rendah juga menjadi faktor risiko penyakit tersebut. Tidur yang tidak cukup
dan gizi buruk juga menimbulkan risiko lebih tinggi terhadap terjadinya infeksi setelah
seseorang terpajan virus rhinovirus karena infeksi tersebut diyakini memengaruhi fungsi
kekebalan.

2.4 Obat atau penawar penyakit menurut Al-Qur’an dan Hadits

Saat ini belum ada obat-obatan maupun jamu yang terbukti mampu memperpendek
masa infeksi. Penanganan meliputi pemberian obat pengurang gejala. Pengurangan gejala
termasuk juga memperbanyak istirahat, memperbanyak minum air agar tetap terhidrasi,

9
berkumur-kumur dengan air garam hangat. Namun, sebagian besar faedah perawatan ini
diyakini sebagai efek plasebo.

Antibiotik tidak mempan untuk melawan infeksi virus, oleh sebab itu antibiotik juga
tidak mempan untuk melawan pilek. Biasanya antibiotik diresepkan meskipun menimbulkan
efek samping yang buruk. Biasanya antibiotik diresepkan karena pasien mengharapkan
dokter memberikannya dan dokter ingin membantu pasiennya. Meresepkan antibiotik juga
dilakukan karena sulitnya menentukan penyebab infeksi mana yang dapat disembuhkan
dengan antibiotik. Tidak ada obat-obatan antivirus untuk mengatasi pilek meskipun beberapa
penelitian awal menunjukkan bahwa obat-obatan tersebut bermanfaat.

Pada orang dewasa, gejala seperti hidung meler dapat diringankan dengan
antihistamin generasi pertama. Namun, antihistamin generasi pertama diyakini menimbulkan
efek samping, misalnya rasa kantuk. Dekongestan lain seperti pseudoephedrine juga efektif
pada orang dewasa. Semprot hidung Ipratropium dapat meredakan gejala hidung meler,
namun akan sedikit berakibat pada hidung mampet. Antihistamin generasi kedua sepertinya
tidak efektif.

Karena kurangnya penelitian, belum diketahui apakah memperbanyak asupan cairan


dapat meredakan gejala atau memperpendek durasi penyakit pernapasan tersebut.
Penggunaan udara yang dilembapkan dengan pemanasan juga belum diketahui dapat
meredakan gejala karena kurangnya data mengenai hal tersebut. Suatu penelitian menemukan
bahwa balsam gosok dada efektif untuk meredakan gejala batuk pada malam hari, hidung
mampet, dan susah tidur.

Namun penyakit secara umum dalam islam dapat diobati dengan beberapa metode di
antaranya dengan Ruqyah Syar’I di mana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam
beberapa ayat di antaranya yaitu : “Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi
penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman” [Al-Israa/17 : 82] dan juga di ayat “Hai
sekalian manusia, sesungguhnya telah datang kepada kalian pelajaran dari Rabb kalian, dan
penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi
orang-orang yang beriman” [Yunus/10 : 57]

Di samping itu Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam juga menganjutkan bagi kita
untuk mengonsumsi Habbatussauda (Jintan Hitam). Dalam Ash-Shohihain diriwayatkan
hadist dari Ummu Salamah dari Abu Hurairah R.A, bahwa Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa

10
Sallam bersabda: “Hendaklah kalian mengkonsumsi Habbatus Sauda, karena didalamnya
terdapat kesembuhan dari setiap penyakit, kecuali saam” Sedangkan saam artinya kematian.
Imam Bukhori juga meriwayatkan hadist dari Aisyah Radiyallahu‘Anha bahwasanya ia
mendengar Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda; ”Sesungguhnya Habbatus
Sauda’ ini merupakan obat bagi setiap penyakit, kecuali saam. Aku bertanya, “Apakah saam
itu?”. Beliau menjawab, “Kematian”. Dalam riwayat Muslim: “Tidak ada suatu penyakit,
kecuali penyembuhannya ada di dalam Habbatus Sauda.”

Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengabarkan bahwa Habbatus Sauda


berkhasiat menyembuhkan setiap penyakit. Kata syifa’ (kesembuhan) dalam seluruh hadist
disebut tanpa dima’rifahkan dengan alif dan lam. Semuanya dalam struktur positif, sehingga
dengan demikian kata tersebut bersifat nakiroh (indefinite, tidak spesifik) yang biasanya
bermakna umum. Selanjutnya, kita bisa mengatakan bahwa dalam Habbatus Sauda’ terdapat
potensi penyembuhan terhadap setiap penyakit.

11
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Nasofaringitis atau pilek terjadi disebabkan oleh beberapa faktor di antar lain yaitu
virus, cuaca, penularan dan lain-lain, sementara pencegahannya dapat dilakukan dengan
mencuci tangan, memakai masker dan menjauhi orang yang sedang terserang penyakit pilek
tersebut. Untuk pengobatan dapat dilakukan dengan metode ruqyah syar’i dan juga dengan
mengonsumsi habbatusauda (jintan hitam).

3.2 Saran

“Sedia payung sebelum hujan”, nampaknya pepatah tersebut sangat cocok untuk
menggambarkan penyakit nasofaringitis ini, sebaiknya kita melakukan pencegahan sebaik
mungkin sebelum terserang penyakit tersebut.

12
DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an

Hadits

Arroll, B (March 2011). "Common cold". Clinical evidence. 2011 Common colds are defined
as upper respiratory tract infections that affect the predominantly nasal part of the respiratory
mucosa

Allan, GM; Arroll, B (18 February 2014). "Prevention and treatment of the common cold:
making sense of the evidence". Canadian Medical Association.

"Common Colds: Protect Yourself and Others". CDC. 6 October 2015. Diakses tanggal 4
February 2016.

Eccles R (November 2005). "Understanding the symptoms of the common cold and
influenza". Lancet Infect Dis.

Harris, AM; Hicks, LA; Qaseem, A; High Value Care Task Force of the American College of
Physicians and for the Centers for Disease Control and, Prevention (19 January 2016).
"Appropriate Antibiotic Use for Acute Respiratory Tract Infection in Adults: Advice for
High-Value Care From the American College of Physicians and the Centers for Disease
Control and Prevention". Annals of Internal Medicine.

Kim, SY; Chang, YJ; Cho, HM; Hwang, YW; Moon, YS (21 September 2015). "Non-
steroidal anti-inflammatory drugs for the common cold". The Cochrane database of
systematic reviews.

Eccles, Ronald; Weber, Olaf (2009).

Simasek M, Blandino DA (2007). "Treatment of the common cold". American Family


Physician.

Palmenberg, A. C.; Spiro, D; Kuzmickas, R; Wang, S; Djikeng, A; Rathe, JA; Fraser-Liggett,


CM; Liggett, SB (2009). "Sequencing and Analyses of All Known Human Rhinovirus
Genomes Reveals Structure and Evolution". Science.

13