Anda di halaman 1dari 14

Dosen Pengampu : Ainul Mardiyah, SP., M.

Si

CRITICAL BOOK REPORT


( Untuk memenuhi Mata Kuliah Ekonomi Pertanian )

Disusun Oleh :

JIHAN SAFIRA NURULITA ( 7171141010 )

PRODI PENDIDIKAN EKONOMI


JURUSAN PENDIDIKAN EKONOMI
FAKULTAS PENDIDIKAN EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
T.A 2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya, sehingga
kami dapat menyelesaikan Critical book report dalam rangka untuk memenuhi salah satu
tugas dalam mata kuliah Ekonomi Kewirausahaan yang diampu oleh Ibu Ainul Mardiyah,
SP., M.Si
Makalah yang kami buat ini merupakan jauh dari kesempurnaan, akan tetapi kami
tetap berusaha semaksimal mungkin dalam pembuatan ini. Oleh karena itu, kami menerima
kritik dan saran untuk memperbaiki isi tugas yang kami buat, sehingga dapat menjadi lebih
baik lagi.
Akhir kata, kami mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak yang telah
membantu kami dalam pembuatan tugas ini. Kami berharap makalah ini dapat bermanfaat
bukan hanya bagi kami pribadi namun juga bagi pembaca untuk menambah wawasannya.

Medan, November 2019

Penulis
Identitas Buku

1. Buku Utama
 Judul : Pengantar Ekonomi Pertanian
 Penulis : Rita Hanafie
 Penerbit : C.V Andi
 Kota Terbit : Yogayakarta
 Tahun : 2018
 ISBN : 978-979-29-1291-3

2. Buku Pembanding
 Judul : Pengantar Ilmu Pertanian
 Penulis : Tati Nurmala
 Penerbit : Graha Ilmu
 Kota Terbit : Jatinangor
 Tahun : September 2012
 ISBN :978-979-756-805-4

PEMBAHASAN BUKU
Buku Utama :

BAB I
PERANAN SUMBER DAYA ALAM DALAM
PENGEMBANGAN PERTANIAN
TANAH

Tanah adalah tubuh alam yang tersusun dalam bentuk profll. Tanah terdiri dari
berbagai campuran mineral pecah lapuk dan organik pengurai, sebagai lapisan tipis penutup
permukaan bumi, serta menjamin tumbuhnya tumbuhan, hewan, dan manusia. Dalam
substansi tanah, terdapat empat komponen utama yang mendukung kemungkinan hidupnya
tumbuhan, yaitu bahan mineral, bahan organik, air, dan udara. Posisi dan keadaan komponen-
komponen tersebut sangat menentukan kesuburan tanah atau penggunaan tanah untuk
macam-macam usaha tani.

Tumbuhan alamiah di suatu tempat biasanya telah sesuai dengan persediaan air dan
zat-zat hara dari tanah tertentu yang terdapat di dalamnya. Tanah yang baik mampu
menghidupi tanaman budi daya secara intensif, akan tetapi apabila tanah dieksploitasi maka
air dan zat-zat hara alam harus ditambah dengan pengairan dan/atau pemupukan. Dengan
cara ini, tanah dapat dikelola dan diubah secara efektif. Tanah sebagai salah satu faktor
produksi merupakan tempat produksi tanaman berlangsung.

IKLIM

Iklim adalah keadaan cuaca rata-rata di suatu tempat. Iklim merupakan salah satu
sumber daya alam yang memegang peranan penting dalam bidang pertanian. Pertumbuhan
dan perkembangan tanaman tergantung kepada lingkungan. tanah, dan iklim. Dalam keadaan
pembukaan daerah pertanian baru.. untuk peranan tertentu, diperlukan data iklim tentang
daerah tersebut. Hal tersebut berguna dalam penentuan kebij akan perencanaan penanaman
komoditi tertentu di daerah tersebut. Iklim berpengaruh nyata pada setiap fase kegiatan
pertanian.

Unsur-unsur iklim terdiri dari radiasi, suhu, kelembaban udara, awan, curah hujan,
penguapan, tekanan udara, dan angin. Unsur-unsur tersebut berbeda dari tempat ke tempat
dan dari waktu ke waktu disebabkan adanya pengendali iklim. Unsur-unsur iklim yang juga
bertindak sebagaipengendali iklim adalah radiasi surya, suhu udara, kelembaban, angin,
altitude (ketinggian suatu tempat di atas permukaan air laut), penyebaran daratan dan lautan,
perbedaan tekanan pada masing-masing daerah, arus laut, dan gangguan-gangguan atmosfer.
Iklim dari suatu tempat ditentukan oleh kombinasi dari berbagai unsur dan dipengaruhi oleh
faktor pengendali. Hal ini memungkinkan dua tempat mempunyai iklim yang berbeda.

AIR

Air merupakan faktor lain yang juga penting dalam usaha peningkatan produksi,
selain tanah dan iklim. Air merupakan syarat mutlak bagi kehidupan dan pertumbuhan
tanaman. Air dapat berasal dari air hujan atau dari in'gasi (pengairan yang diatur oleh
manusia). Bila masalah irigasi ini dapat diatasi dengan baik, misalnya dengan pembuatan
waduk beserta saluran-salurannya maka ada kemungkinan frekuensi penanaman dapat
ditingkatkan, yang semula hanya dapat ditanami sekali setahun, akhirnya dapat ditanami dua
atau bahkan tiga kali dalam setahun.

Pemanfaatan air yang intensif mampu mendukung kenaikan hasil yang sangat
signifikan, bahkan nilai tanah juga dapat mengalami peningkatan sebagai akibat adanya
faktor air. Ini dapat dibuktikan dengan membandingkan hasil pertanian antara lahan yang
diairi dengan lahanyang tidak diairi. Usaha intensifikasi pertanian melalui perbaikan irigasi
terus ditingkatkan oleh pemerintah dengan pembangunan waduk – waduk dan saluran –
saluran air hingga semakin meningkat jumlah lahan yang dapat diairi.

BEBERAPA PERMASALAHAN SUMBER DAYA ALAM DALAM


PENGEMBANGAN PERTANIAN

Secara umum, dapat dikatakan bahwa sumber daya alam sangat berguna dan membantu
manusia apabila dikelola dengan baik. Sebaliknya, ia dapat menjadi sumber malapetaka bagi
manusia manakala manusia tidak mampu mengelolanya dengan baik, misalnya terjadi
lahanlahan kritis, banjir, kekurangan air di musim kemarau, dan lain-lain.
BAB II
PERANAN SUMBER DAYA MANUSIA
DALAM PENGEMBANGAN PERTANIAN
SUMBER DAYA MANUSIA SEBAGAI PRODUSEN

Dalam pandangan makro, hal-hal yang menyangkut sumber daya manusia sebagai
produsen melipun perbandingan antara angkatan kerja dengan lapangan kerja. peningkatan
mutu tenaga kerja. serta migrasi dan transmigrasi. Masing-masing akan di jelaskan sebagai
berikut:

1. Perbandingan antara angkatan kerja dengan lapangan kerja

Manusia bekerja untuk menghasilkan barang dan jasa. Sebagai produsen penghasil
barang dan jasa. manusia dalam kelompok ini merupakan tenaga kerja yang produktif.
Sehubungan dengan hal tersebut, permasalahan klasik yang utama di Indonesia adalah
semakin menurunnya kemampuan negara dalam menyediakan lapangan kerja bagi
penduduknya. Peranan sektor pertanian sendiri dalam menyediakan kesempatan kerja terus
menurun. Akibat dari semua itu adalah terjadinya peningkatan jumlah pengangguran. baik di
kota maupun di desa.

2. Peningkatan mutu tenaga kerja

Produktivitas tenaga kerja pertanian dapat ditingkatkan melalui berbagai cara, antara
lain dengan pendidikan, latihan, dan penyuluhan. Semua ini dilakukan untuk meningkatkan
mutu dan hasil kerjanya. Sebagian besar pengetahuan dan keterampilan petani dalam bekerja
diperoleh dari orang tuanya yang membimbing mereka sejak masih anak-anak. Untuk
menyampaikan teknologi baru pada petani, diperlukan suatu cara khusus. Ini merupakan
tugas penyuluhan bagi petani-petani yang sudah dewasa, yang merupakan pendidikan
nonformal dalam cara-cara bertani yang lebih produktif .

3. Migrasi dan transmigrasi

Migrasi merupakan bentuk gerakan penduduk, spasial atau teritorial antara umt-unit
geografis yang melibatkan perubahan tempat tinggal. Orang yang melakukan migrasi disebut
“migran”. Oleh karena itu, seorang yang disebut migran ada kemungkinan telah melakukan
migrasi lebih dari satu kali. Migrasi dapat dikelompokkan menjadi 3 bagian, yaitu migrasi
masuk, migrasi keluar, dan migrasi netto. Migrasi masuk adalah masuknya penduduk ke
suatu tempat tujuan. Migrasi keluar adalah keluarnya penduduk dari suatu daerah asal.
Migrasi netto adalah selisih antara migrasi masuk dan migrasi keluar.

SUMBER DAYA MANUSIA SEBAGAI KONSUMEN

Undang-Undang Pangan Nomor 7 Tahun 1996 mengamanatkan bahwa pangan


merupakan salah satu kebutuhan pokok yang pemenuhannya mempakan bagian dari Hak
Asasi Manusia. Legislasi ini sejalan dengan salah satu pasal dalam Human Right Declaration
1948 dan World Food Conference on Human Right 1993. Pangan sebagai bagian dari HAM
mempunyai ani bahwa negara bertanggung jawab memenuhi kebutuhan pangan
penduduknya. Selain karena alasan HAM, pemenuhan kebutuhan pangan juga menentukan
status gizi dan kualitas sumber daya manusia, bahkan ketahanan sosial-ekonomi dan politik
suatu bangsa. Oleh karena itu. pembangunan pangan merupakan salah satu bagian penting
dari pembangunan nasional.

Jumlah penduduk Indonesia yang besar (210 juta jiwa) merupakan pasar yang sangat
potensial bagi hasil pertanian. Di samping peningkatan secara kuantitas terhadap produk-
produk pertanian sebagai akibat peningkatan jumlah penduduk dalam arti sebagai produsen
bahan pangan, permintaan terhadap produk-produk pertanian juga meningkat kuantitasnya
karena proses tumbuh kembang manusia. Kemajuan kebudayaan juga menyebabkan
peningkatan kualitas konsumsi penduduk. Kalau tidak ada pasar dalam negeri maka lndonesia
akan sangat tergantung pada pasar luar negeri. Pemasaran ke luar negeri masih sangat
terbatas karena tuntutannya yang ketat akan berbagai syarat yang harus dipenuhi, antara lain
mutu produk yang tinggi. kontinuitas, volume yang cukup besar, produk yang homogen, dan
sebagainya. Dengan adanya pasar dalam negeri, Indonesia tidak tergantung sepenuhnya pada
pasar luar negeri yang sangat kompetitif.
BAB III
MASALAH PANGAN DAN GIZI
KEBIJAKAN DAN PROGRAM PEMBANGUNAN PANGAN

Kebijakan pangan adalah suatu pernyataan tentang kerangka pikir dan arahan yang
digunakan untuk menyusun program pangan guna mencapai situasi pangan dan gizi yang
lebih baik. Kebijakan pangan oleh pemerintah Indonesia telah dimulai sejak Indonesia
merdeka. Sementara itu, keterkaitan antara kebijakan pangan dan gizi menjadi suatu
kebijakan pangan dan gizi di Indonesia yang ditunjukkan dalam dokumen perencanaan
pembangunan nasional yang dimulai sejak Repelita II, yang dalam hal ini kebijakan
pembangunan pangan dan gizi disusun dan disempurnakan setiap 5 tahun sesuai tahapan
Repelita berdasarkan Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN).

KETAHANAN PANGAN

Pangan merupakan istilah yang amat penting bagi pertanian karena secara hakiki
pangan merupakan salah satu kebutuhan paling dasar dalam pemenuhan aspirasi humanistik.
Masalah konsumsi pangan dan pemenuhannya akan tetap merupakan agenda penting dalam
pem. bangunan ekonomi di Indonesia. Status konsumsi pangan penduduk sering dipakai
sebagai salah satu indikator tingkat kesejahteraan masyarakat. Krisis penyediaan pangan akan
menjadi masalah yang sangat sensitif dalarn dinamika kehidupan sosial-politik. Oleh karena
itu, mendiskusikan topik ketahanan pangan menjadi sangat penting.

Ketahanan pangan bagi suatu negara merupakan hal yang sangat penting, terutama
bagi negara yang mempunyai jumlah penduduk sangat banyak seperti Indonesia. Jumlah
penduduk Indonesia diperkirakan mencapai 220 juta jiwa pada tahun 2020 dan diproyeksikan
270 juta jiwa pada tahun 2025. Pengalaman sejarah pembangunan Indonesia menunjukkan
bahwa masalah ketahanan pangan sangat erat kaitannya dengan stabilitas ekonomi
(khususnya inflasi), biaya produksi ekonomi agregat (biaya hidup), dan stabilitas politik
nasional. Oleh karena itu, ketahanan pangan menjadi syarat mutlak bagi penyelenggaraan
pembangunan nasional.
PENGANEKARAGAMAN PANGAN

Masyarakat awam masih memandang pangan secara sempit, yaitu beras, tetapi
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan menyebutkan bahwa pangan
mencakup makanan dan minuman, hasil tanaman ternak, dan ikan, baik dalam bentuk primer
maupun olahan. Ketersediaan, kecukupan, dan ketahanan pangan secara umum tidak hanya
dapat dilihat dari kuantitasnya, tetapi ukuran kalori dan protein mewakili kualitas pangan,
itulah yang terpenting. Secara makro, Indonesia tidak mengalami kekurangan kalori dan
protein karena tingkat ketersediaan masih relatif lebih besar dibandingkan dengan tingkat
kecukupan yang direkomendasikan. Kondisi demikian belum menjamin tingkat kecukupan di
tingkat rumah tangga atau individu. Kemampuan mengakses pangan secara layak dan secara
universal telah dideklarasikan sebagai bagian dari hak asazi manusia (HAM) yang membawa
konsekuensi bahwa negara juga mempunyai tanggung jawab penuh untuk mencukupi
kebutuhan pangan seluruh penduduknya. Selain karena alasan HAM, pemenuhan kebutuhan
pangan juga menentukan status gm dan kualitas sumber daya manusia, bahkan ketahanan
sosial-ekonomi dan politik suatu negara. Oleh karena itu, pembangunan pangan merupakan
salah satu bagian penting dari pembangunan nasional.

KONSEP DAN KEGUNAAN POLA PANGAN HARAPAN

Pola pangan harapan (PPH) atau desirable dietary pattern (DDP) adalah susunan
beragam pangan yang dldasarkan pada sumbangan energn tiap kelompok pangan (baik secara
absolut maupun relatif) dari suatu pola ketersediaan dan konsumsi pangan. FAO-RAPA
(1989) mendefinisikan PPH sebagai komposisi dari kelompok-kelompok pangan utama yang
ketika disiapkan untuk dikonsumsi sebagai makanan untuk memenuhi kebutuhan kalori akan
memberikan semua zat gizi dalam jumlah yang mencukupi.

PPH pertama kali diperkenalkan oleh FAO-RAPA pada tahun 1988, yang kemudian
dikembangkan oleh Departemen Pertanian Republik Indonesia melalui workshop yang
diselenggarakan Departemen Pertanian bekerja sama dengan FAO. Tujuan utama
Penyusunan PPH adalah untuk membuat suatu rasionalisasi pola konsumsi pangan yang
dianjurkan yang terdiri dari kombinasi aneka ragam pangan untuk memenui kebutuhan gizi
dan sesuai cita rasa Untuk pertama kali, PPH untuk kawasan Asia Pasifik dikembangkan
berdasarkan data pola pangan (pola ketersediaan pangan) dari neraca bahan makanan (food
balance sheet).

STRATEGI PENGEMBANGAN PANGAN MENUJU POLA PANGAN HARAPAN

Dari penelitian yang dilakukan oleh Hardinsyah pada tahun 1999, secara umum
tampak bahwa defisit konsumsi sayur dan buah, pangan hewani, dan umbi-umbian
menempati urutan teratas. Dalam jangka panjang, pola konsumsi seperti ini akan
memungkinkan terjadi dan berkembangnya masalah-masalah kurang gizi mikro atau yang
umum dikenal dengan hidden hanger. Tingkat pendapatan, serta pengetahuan gizi dan
kesehatan yang masih rendah disertai dengan kurang beranekaragamnya produksi atau
ketersediaan pangan (mentah dan olahan) merupakan pemicu rendah dan belum beragamnya
pola konsumsi pangan masyarakat.

Kacang-kacangan, buah/biji berminyak, gula dan minyak, serta lemak umumnya juga
masih defisit sehingga konsumsi dan ketersediaan konsumsinya harus ditingkatkan. Berbagai
upaya harus dilakukan untuk meningkatkan ketersediaan konsumsi dan kemampuan
masyarakat dalam mengakses berbagai pangan tersebut melalui peningkatan produksi, impor-
ekspor, peningkatan pendapatan, dan pengetahuan gizi masyarakat.
Buku Pembanding

BAB I
SUMBER DAYA ALAM

1. Tanah Petanian

Pertanian adalah proses produksi khusus yang didasarkan atas proses pertumbuhan
tanaman dan hewa (Satari, 1999). Ilmu tanah ialah ilmu yang mempelajari faktor-faktor tanah
untuk mendapatkan hasil tanaman yang sebesar-besarnya melalui tanaman hijau yang ada di
atasnya. Tanah, air dan udara merupakan semberdaya alam utama yang berpengaruh terhadap
kehidupan.

Kemasan tanag (pH) juga sangat penting dan menentukan pertumbuhan tanaman.
Tanah yang masam dapat mengeluarkan ion-ion yang berbahaya bagi tanaman aluminium,
keadaan ini dapat diperbaiki melalui pengapuran. Sebaliknya tanah-tanah daerah kering atau
daerah pantai dapat menyebabkan tanah bersifat basa, keadaan ini dapat diperbaiki melalui
penambahan belerang. Dalam tanah juga dijumpai jasad-jasad makro seperti insekta dan
cacing yang dapat menghancurkan bahan organik menjadi bagian-bagian yang lebih kecil.
Kotoran insekta dan cacing dimakan jasad renik yang lebih kecil sebagai hasilnya dilepaskan
unsur hara yang dapat diisap akar tanaman.

2. Kesehatan dan Kualitas Tanah

Kualitas tanah berbeda dengan kualitas air dan udara, konsep kualitas air dan udara
sudah banyak diterima baik oleh masyaraka, misalnya air yang layak untuk diminum oleh
manusia dikatakan sebagai air berkualitas sudah ada standarnya. Kesehatan tanah akan
mempengaruhi kesehatan tanaman, hewan dan manusia. Tanah sehat akan mempengaruhi
tanaman yang ada pada gilirannya akan mempengaruhi hewan dan manusia yang
memakannya.

3. Produktivitas dan Kesuburan Tanah

Produktivitas dan kesuburan tanah menunjukkan kemampuan tanah untuk


memproduksi tanaman yang tumbuh di atas tanah tersebut. Produktivitas adalah kemampuan
tanah untuk menghasilkan produksi tanaman tertentu dalam keadaan pengolahan tanah
tertentu. Tanah produktif ialah tanah yang dapat menghasilkan produksi tanaman dengan baik
dan menguntungkan. Produktivitas merupakan perwujudan dari seluruh faktor-faktor yang
berpengaruh terhadap hasil tanaman yang lebih berdasarkan pada pertimbangan ekonomi.
BAB II
PEMENUHAN PANGAN BAGI MASYARAKAT

1. Konsep Umum Kecukupan Pangan (KUKP)


a. Konsep Umum Kecukupan Pangan
Ketahanan pangan terwujud apabila secara umum telah terpenuhi dua aspek sekaligus.
Pertama adalah tersedianya pangan yang cukup dan merata untuk seluruh penduduk. Kedua,
setiap penduduk mempunyai akses fisik dan ekonomi terhadap pangan untuk memnuhi
kecukupan gizi guna menjalani kehidupan yang sehat dan produktif dari ke hari. Ketahanan
pangan pada tingkat rumah tangga merupakan landasan bagi ketahanan pangan masyarakat.

b. Tujuan Pembangunan Ketahanan Pangan


1. Mempertahankan ketersediaan energi perkaipita minimal 2.200 kilokalori/hari dan
penyediaan perkapita minimal 57 gram/hari,
2. Meningkatkan konsumsi pangan perkapita utnuk memenuhi kecukupan energi
minimal 2.000 kilokalori/hari,
3. Meningkatkan kemanan, mutu dan higene pangan yang dikonsumsi masyaralat,

2. Diversifikasi Pangan dan Potensi Tanaman Sumber Karbohidrat

Masalah pangan merupakan masalah utama yang harus dihadapi baik oleh individu,
keluarga, masyarakat maupun pemerintah suatu negara. Masalah kelaparan cenderung
merupakan merupakan masalah yang kronis, faktor utama yang menyebabkan kelaparan
adalah gizi buruk, kurang gizi, busung lapar, atau apapun namanya adalah kekurangan jumlah
makanan yang menjadi asupan seseorang yang merupakan sumber energi atau kalori untuk
beraktivitas sejak bernafas sampai bekerja dan berprestasi.

Pangan pokok dapat didefenisikan sebagai bahan makanan yang menjadi asupan yang
dikonsumsi oleh sekelompok penduduk dalam jumlah besar di suatu daerah dalam kurun
waktu yang panjang. Kedaulatan bangsa antara lain salah satunya didukung oleh kedaulaqtan
pangan menjadi kebutuhan dasar yang utama, yang menjadi sumber kehidupan dan aktivitas
yang menjadi landasan pokok bagi kesejahteraan manusia.

Pengadaan pangan harus diarahkan tidak hanya menyediakan beras, tetapi jua
dipenuhi dari tanaman sumber karbohidrat lainnya asal standar gizi dapat dipenuhi dan layak
untuk dikonsumsi.
BAB III
TANTANGAN DAN PELUANG DALAM
SEKTOR PERTANIAN

1. Peran Pertanian dalam Perekonomian dan Kehidupan Masyarakat

Peranan sektor pertanian dalam perekonomian suatu negara dapat dilihat dari
besarnya persentase Produk Domestik Bruto (PDB) dari sektor pertanian negara tersebut.
Makin besar kontribusi sektor pertanian terhadap PDB-nya berarti negara tersebut masih
tergolong atau termasuk negara agraris, sebaliknya apabila kontribusi sektor pertanian
terhadap PDB persentasenya kecil maka negara tersebut dapat disebut negara industri.

2. Penguasaan Lahan Pertanian di Indonesia


1. Lahan pertanian basah
Lahan pertanian basah lazim disebut dengan sawah. Ciri-ciri umum dari sawah
adalah sebagai berikut:
a. Daris etiap petak sawah dibatasi oleh pematang. Pematang tersebut ada
yang lurus dan ada pula yang berbelok,
b. Permukaannya selalu datar atau topografinta rata meskipn di daerah
bergunung-gunung atau berbukit.
c. Biasa diolah atau diekrjakan pada kondisi jenuh air atau berair.
2. Lahan pertanian kering
Lahan pertanian kering secara umum mempunyai ciri-ciri sebgaai berikut :
a. Produktivitas tanah umumnya rendah,
b. Topografi bervariasi dari datar, berbukti dan bergunung,
c. Tidak dibatasi ooleh pematang antarsatu petak dengan petak lainnya.

3. Tenaga kerja dan Modal dalam Pertanian


Jenis-jenis tenaga kerja pertanian antara lain :
a. Tenaga kerja manusia
b. Tenaga ternak
c. Tenaga mesin
1. Kelebihan Buku:
 Buku Utama (Pengantar Ekonomi Pertanian) dan Buku Pembanding (Pengantar Ilmu
Pertanian) memiliki cover/sampul depan yang bagus, sehingga orang-orang tertarik
dengan desain cover bewarna hijau.
 Meyajikan struktur kalimat yang sederhana dan mudah untuk dipahami.
 Pada Buku Utama (Pengantar Ekonomi Pertanian) pembahasan disetiap bab nya
tersusun dibandingkan buku dari (Pengantar Ilmu Pertanian).
 Terdapat bagan/gambar/ilustrasi sehingga pembaca tidak merasa bosan untuk
membaca.
 Kedua buku ini memiliki banyak sumber-sumber referensi/daftar pustaka.

2. Kelemahan Buku:
 Memiliki jumlah halaman yang banyak sehingga butuh waktu yang lama untuk
membaca buku tersebut.
 Terdapat penulisan kalimat yang salah dan keliru.
 Buku Utama (Pengantar Ekonomi Pertanian) dan Pembanding (Pengantar Ilmu
Pertanian) tidak memiliki indikator atau capaian disetiap babnya.

3. Daftar pustaka

Hanafie, Rita. Pengantar Ekonomi Pertanian. 2018. Yogyakarta. C.V Andi.

Nurmala, Tati. Pengantar Ilmu Pertanian. 2012. Jatinangor. Graha Ilmu.