Anda di halaman 1dari 31

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirabbila’lamiin, segala puji bagi Allah SWT , Tuhan yang

maha Esa yang telah memberikan nikmat dan hidayah-Nya terutama nikmat

sehat, nikmat iman, dan nikmat islam sehingga pembuatan atau penyusunan

makalah ini dapat berjalan dengan sebagaimana mestinya dalam rangka

menyelesaikan salah satu tugas dalam mata kuliah Teknologi Informasi dan

Komunikasi.

Kemudian shalawat serta salam kita selalu haturkan kepada nabi besar

kita, sang penuntun para umatnya dari masa kegelapan hingga masa yang

terang-benderang ini yaitu Nabi Muhammad SAW. Karena ialah yang telah

menyampaikan pedoman hidup yakni Al-Qur’an dan sunnah nya untuk

keselamatan umatnya kelak di dunia maupun di akhirat.

Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata Sempurna.

Oleh sebab itu, saran dan kritik yang membangun sangatlah dibutuhkan dalam

penyempurnaan makalah ini. Terima kasih, semoga makalah ini bisa

memberikan manfaat yang positf bagi kita semua.

Jakarta, April 2019

Tim Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR………………………………………………………….….i

DAFTAR ISI…………………………………………………………………….…ii

PENDAHULUAN……………………………………………………………….…1

BAB I…………………………………………………………………………….…1

LATAR BELAKANG………………………………………………………….….1

RUMUSAN MASALAH……………………………………………………..……3

TUJUAN…………………………………………………………………………....3

BAB II………………………………………………………………………………4

PEMBAHASAN…………………………………………………………..……….4
Pembelajaran PAIKEM………………………………………………….………4

Siklus Belajar (Learning Cycle)……………………………………………….9

Pembelajaran Concept Attainment………………………………………….12

Pembelajaran Discovery Learning……………………………………..……21

BAB III………………………………………………………………………….…27

PENUTUP………………………………………………………………………...27

KESIMPULAN……………………………………………………………………27

DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………….28

ii
iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Dalam proses belajar-mengajar dikenal istilah pendekatan, metode,

dan teknik pembelajaran. Istilah-istilah tersebut sering digunakan

dengan pengertian yang sama. Strategi pembelajaran dapat dipahami

sebagai suatu cara, seperangkat cara, teknik yang dilakukan dan

ditempuh oleh seorang guru atau siswa dalam melakukan upaya

terjadinya suatu perubahan tingkah laku atau sikap.

Teknik pembelajaran merupakan cara guru menyampaikan bahan

ajar yang telah disusun (dalam metode) berdasarkan pendekatan yang

dianut. Dalam menentukan teknik pembelajaran ini, guru perlu

mempertimbangkan situasi kelas, lingkungan, kondisi siswa, sifat-sifat

siswa, dan kondisi-kondisi yang lain. Dengan demikian, teknik

pembelajaran yang dipakai oleh guru dapat bervariasi sekali. Untuk

metode yang sama, dapat digunakan teknik pembelajaran yang

berbeda-beda, bergantung pada berbagai faktor tersebut.

Pembelajaran inovatif adalah suatu proses pembelajaran yang

dirancang sedemikian rupa sehingga berbeda dengan pembelajaran

pada umumnya yang dilakukan oleh guru (konvensional). Proses

pembelajaran yang selama ini dilaksanakan cenderung mengarah pada

1
penguasaan hafalan konsep dan teori yang bersifat abstrak.

Pebelajaran yang semacam ini akan membuat anak kurang tertarik dan

termotivasi dalam mengikuti kegiatan pembelajaran yang berakibat pada

rendahnya hasil pembelajaran serta ketidak bermaknaan pengetahuan

yang diperoleh oleh siswa. Dengan demikian, guru perlu mengetahui

teknik pembelajaran inovatif apa saja yang dapat diterapkan.

2
A. RUMUSAN MASALAH
1. Apa itu Teknik Pembelajaran inovatif?

2. Apa saja jenis teknik-teknik pembelajaran inovatif?

B. TUJUAN
1. Mengetahui dan memahami makna dari teknik pembelajaran

inovatif

2. Memahami serta mengaplikasikan teknik pembelajaran inovatif

dalam KBM (kegiatan belajar mengajar) di kelas

3
BAB II

PEMBAHASAN

1. PAIKEM (Pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan


menyenangkan)
A. Pengertian PAIKEM
PAIKEM merupakan pembelajaran yang dapat menjadikan
siswa mengalami, menghayati, dan menarik pelajaran dari
pengalamannnya itu, dan pada gilirannya hasil belajar akan
merupakan bagian dari diri, perasaan, pemikiran, dan pengalaman.
Hasil belajar kemudian akan lebih melekat, dan tentu saja, dalam
proses seperti peserta didik didorong dan dikondisikan untuk lebih
kreatif (Hartono. Dkk. 2012).

B. Karakteristik PAIKEM
Syah dan Kariadinata (2009: 3-4) PAIKEM memiliki karakteristik
sebagai berikut:
1. Berpusat pada siswa (student-centered ).
2. Belajar yang menyenangkan (joyfull learning).
3. Belajar yang berorientasi pada tercapainya kemampuan
tertentu (competency-based learning).
4. Belajar secara tuntas (mastery learning).
5. Belajar secara berkesinambungan (continuous learning).

Adapun menurut Komar Hidayat (2014: 100-11) mengungkapkan


bahwa karakteristik PAIKEM yaitu pembelajaran yang berfokus siswa,
makna, aktivitas, pengalaman, dan kemandirian siswa, serta konteks

4
kehidupan dan lingkungan ini memilki 4 ciri yaitu mengalami,
komunikasi, interaksi, dan refleksi.

a. Mengalami (pengalaman pembelajaran)


1) Pengamatan
2) Percobaan
3) Penyelidikan
4) Wawancara
5) Siswa banyak melalui berbuat
6) Pengalaman langsung mengaktifkan banyak indera
b. Komunikasi
1) Mengemukakan pendapat
2) Presentasi laporan
3) Memajangkan hasil kerja
4) Ungkap gagasan
c. Interaksi
1) Diskusi
2) Tanya jawab
3) Lembar bagi pertanyaan
4) Kesalahan makna berpeluang terkoreksi
5) Makna yang terbangun semakin mantap
6) Kualitas hasil belajar meningkat
d. Refleksi
1) Mengapa demikian
2) Apakah hal itu berlaku untuk...?
3) Untuk tidak mengulangi kesalahan
4) Peluang lahirnya gagasan baru

5
C. Penjabaran PAIKEM
A. Aktif
Kecenderungan guru melakukan pembelajaran dengan
metode ceramah dan bercerita tidaklah terlalu efektif, karena
pada metode ceramah atau bercerita anak seperti bejana
kosong dan pasif yang hanya sekedar menyimak dan diam
ketika guru menyampaikan pengetahuan. Oleh karena itu
melalui kurikulum 2013, guru dituntut untuk menciptakan
suasana belajar yang aktif di kelas.
B. Inovatif
Dalam pembelajaran inovatif, pemahaman konteks siswa
menjadi bagian yang sangat penting, dan juga hubungan antara
guru dan siswa menjadi hubungan yang saling membangun
dalam proses pembelajaran.
C. Kreatif
Pembelajaran yang kreatif adalah pembelajaran yang
mampu mengembangkan kreativitas siswa ataupun
pembelajaran yang mampu membuat siswa tertarik untuk
melakukan pembelajaran. Karena pada dasarnya, setiap anak
memiliki imajinasi yang tidak terbatas, sehingga guru perlu
membuat suasana pembelajaran yang bisa mengembangkan
potensi imajinasinya secara maksimal.
D. Efektif
Menurut istilah, efektif berarti bahwa model pembelajaran
apa pun yang dipilih harus menjamin bahwa model
pembelajaran apapun yang dipilih harus menjamin bahwa
tujuan pembelajaran tercapai secara maksimal. Oleh karena itu,

6
seorang guru bebas menggunaka metode, model, dan strategi
yang seperti apa agar tujuan pembelajaran tercapai dan
memberikan dampak bagi siswa.
E. Menyenangkan
Dari pengertian makna menyenangkan tersebut dapat kita
artikan bahwa pembelajaran yang menyenangkan adalah
pembelajaran yang memberikan kesan yang menarik bagi
siswa untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Adapun
banyak cara yang dapat kita lakukan untuk membuat
pembelajaran yang menyenangkan seperti reward, permainan,
team quiz, role playing, dan sebagainya.

D. Metode untuk PAIKEM


Adapun metode yang dapat kita gunakan dalam pembelajaran
dengan model PAIKEM adalah sebagai berikut:
1. Everyone is a teacher
2. Menulis pengalaman secara langsung
3. Reading aloud (membaca dengan keras)
4. The power of two & four (menggabung 2 dan 4 kekuatan)
5. Information search (mencari informasi)
6. Point counter point (beradu pandangan sesuai perspektif
tertentu)
7. Reading guide (bacaan terbimbing)
8. Active debate
9. Index card match (menjodohkan/pasangan kartu)
10. Jigsaw learning
11. Role play
12. Debat berantai
13. Listening team (tim pendengar)
14. Team quiz

7
15. Small group discussion
16. Card sort (menyortir kartu)
17. Gallery walk (pameran berjalan)
18. Jeopardy game
19. Ceramah plus
20. Billboard ranking
21. Critical incident
22. Snowballing
23. Poster comment

E. Meaningful learning dalam penerapan PAIKEM


Meaningful learning juga bisa terjadi jika antara guru dan siswa
dapat mencapai tujuan pembelajaran yang direncanakan, dengan kata
lain siswa bisa merasakan langsung apa yang sedang mereka pelajari
melalui semua indra sehingga anak turut aktif dalam proses
pembelajaran. Adapun beberapa hal yang harus kita perhatikan dalam
melaksanakan PAIKEM agar menjadi meaningful learning adalah
sebagai berikut (Sumantri: 2015) :
1. Memahami sifat yang dimiliki siswa.
2. Mengenal siswa secara perorangan.
3. Memanfaatkan perilaku siswa dalam pengorganisasian belajar.
4. Mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan
kemampuan memecahkan masalah.
5. Mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang
menarik.
6. Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar.
7. Memberikan umpan balik yang baik untuk meningkatkan
kegiatan belajar.
8. Membedakan antara aktif fisik dan aktif mental.

8
F. Kelebihan dan kekurangan PAIKEM
Nana Saudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung:
Sinar Baru, 1989), hal. 6.
a) Kelebihan :
1. Paikem merupakan pembelajaran yang mengembangkan
kecakapan hidup.
2. Dalam paikem siswa belajar bekerja sama.
3. Paikem mendorong siswa menghasilkan karya kreatif.
4. Paikem mendorong siswa untuk terus maju mencapai sukses.
5. Paikem menghargai potensi semua siswa.
6. Program untuk meningkatkan paikem disekolah harus
ditingkatkan kuantitas dan kualitasnya.
b) Kekurangan :
1. Perbedaan individual siswa belum diperhatikan termasuk laki-
laki / perempuan, pintar/kurang pintar, social, ekonomi
tinggi/rendah.
2. Pembelajaran belum membelajarkan kecakapan hidup.
3. Pengelompokan siswa masih dari segi pengaturan tempat
duduk, kegiatan yang dilakukan siswa sering kali belum
mencerminkan belajar kooperatif yang benar.
4. Pembelajaran masih sering berupa pengisian lembar kerja
siswa (LKS) yang sebagian besar pertanyaanya bersifat
tertutup.

2. Pembelajaran siklus belajar (Learning Cycle)

A. Pengertian strategi siklus belajar

Model siklus belajar (learning cycle) adalah suatu cara untuk


membantu anak-anak menerapkan matematika, keterampilan ilmu

9
kemasyarakatan, menginterpretasikan grafik, tabel, dan poster serta asimilasi
data untuk memecahkan masalah, dan menentukan maksud atau arti kalimat.
Para peneliti mengungkapkan bahwa siklus belajar (learning cycle) adalah
suatu cara alami untuk belajar dan memenuhi tujuan pendidikan uang
utama : membantu anak-anak belajar bagaimana cara berpikir.

B. Langkah-Langkah pembelajaran siklus belajar


Dalam pelaksanaannya model siklus belajar terdiri atas tigas fase,
yaitu eksplorasi, pengenalan konsep, dan penerapan konsep. Siklus
ini diartikan bahwa tahap-tahap tersebut dapat berulang.
1) Eksplorasi
Kegiatan ini memberi siswa pengalaman fisik dan interaksi
sosial dengan teman dan gurunya. Pengalaman mendorong
terjadinya asimilasi, dan menyebabkan siswa bertanya tentang
konsep tertentu yang tidak sesuai dengan konsepsi awal
mereka. Konflik kognitif ini diakomondasi melalui proses
ekuilibrasi dan kemudian diasimilasikan ke dalam struktur
kognitif.
2) Pegenalan konsep
Pada fase pengenalan konsep guru dengan metode yang
sesuai menjelaskan konsep dan teori-teori yang dapat
membantu siswa untuk menjawab permasalahan yang
munculdan menyusun gagasan mereka.
3) Penerapan konsep
Pada fase ini siswa mencoba menggunakan konsep yang telah
dikuasai umtuk memecahkan masalah dalam situasi yang
berbeda. Dalam hal ini guru menyiapkan masalah-masalah
yang dipecahkan berdasarkan konsep yang telah diperoleh
siswa pada fase sebelumnya.

Learning Cycle berkembang menjadi 5 fase

10
Menurut Piaget (1989) model pembelajaran LC (Learning Cycle (5 E)
pada dasarnya memiliki lima fase yaitu:

1) Engagement (Undangan)
Bertujuan mempersiapkan diri pebelajar agar terkondisi
dalam menempuh fase berikutnya dengan jalan mengeksplorasi
pengetahuan awal dan ide-ide mereka serta untuk mengetahui
kemungkinan terjadinya miskonsepsi pada pembelajaran
sebelumnya. Dalam fase engagement ini minat dan
keingintahuan (curiosity) pebelajar tentang topik yang akan
diajarkan berusaha dibangkitkan.
2) Exploration (Eksplorasi)
Siswa diberi kesempatan untuk bekerja sama dalam
kelompok-kelompok kecil tanpa pengajaran langsung dari guru
untuk menguji prediksi, melakukan dan mencatat pengamatan
serta ide-ide melalui kegiatan-kegiatan seperti praktikum dan
telaah literatur.
3) Explanation (Penjelasan)
Guru mendorong siswa untuk menjelaskan konsep
dengan kalimat mereka sendiri, meminta bukti dan klarifikasi
dari penjelasan mereka, dan mengarahkan kegiatan diskusi.
Pada tahap ini pebelajar menemukan istilah-istilah dari konsep
yang dipelajari.
4) Elaboration (Pengembangan)
Siswa mengembangkan konsep dan ketrampilan dalam
situasi baru melalui kegiatan-kegiatan seperti praktikum lanjutan
dan problem solving.
5) Evaluation (Evaluasi)
Pengajar menilai apakah pembelajaran sudah
berlangsung baik dengan jalan memberikan tes untuk

11
mengukur kemampuan siswa setelah menerima materi
pelajaran.

C. Kelebihan dan kekurangan siklus belajar


Menurut Fajaroh (2008), model pembelajaran learning cycle 5E
memiliki beberapa kelebihan, diantaranya:
1) Merangsang kembali siswa untuk mengingat kembali materi
pelajaran yang telah mereka dapatkan sebelumnya.
2) Memberikan motivasi kepeda siswa untuk lebih aktif dalam
pembelajaran dan menambah rasa keingintahuan.
3) Melatih siswa belajar menemukan konsep melalui kegiatan
eksperimen.
4) Melatih siswa untuk menyampaikan secara lisan konsep yang
telah mereka pelajari.
5) Memberi kesempatan kepada siswa untuk berpikir, mencari,
menemukan dan menjelaskan contoh penerapan konsep yang
telah dipelajari.
Adapun kelemahan model pembelajaran siklus belajar:
1) efektifitas pembelajaran rendah jika guru kurang menguasai
materi dan langkah-langkah pembelajaran.
2) menuntut kesungguhan dan kreativitas guru dalam merancang
dan melaksanakan proses pembelajaran.
3) memerlukan pengelolaan kelas yang lebih terencana dan
terorganisasi.
4) memerlukan waktu dan tenaga yang lebih banyak dalam
menyusun rencana dan melaksanakan pembelajaran.

3. Concept Attainment (CA)


A. Pengertian Strategi Pembelajaran Concept Attainment

12
Concept Attainment berasal dari bahasa Inggris yang terdiri dua kata,
yaitu concept dan attainment. Dalam bahasa Indonesia concept berarti
konsep. Attainment berarti pencapaian, yaitu tindakan atau proses mencapai
sesuatu.
Concept attainment dapat diartikan sebagai suatu tindakan atau
proses untuk mencapai suatu konsep. Teknik pembelajaran concept
attainment mensyaratkan adanya sajian contoh-contoh negatif (salah) dan
contoh positif (benar) penerapan konsep yang diajarkan, kemudian dengan
mengamati contoh-contoh diperoleh definisi konsep-konsep tersebut.
Pada prinsipnya teknik pembelajaran pencapaian konsep adalah suatu
strategi mengajar yang menggunakan data untuk mengajarkan konsep
kepada siswa, dimana guru mengawali pengajaran dengan menyajikan data
atau contoh, kemudian guru meminta siswa untuk mengamati data tersebut.

B. Tujuan Teknik pembelajaran Concept Attainment


Pada umunya penerapan teknik pembelajaran konsep mengandung
dua tujuan utama yaitu :
1) Tujuan Isi
Tujuan isi teknik konsep menurut Eggen dan Kauchak dalam huda
(2014, hlm.84) bahwa, lebih efektif untuk memperkaya suatu konsep dari
pada belajar pemula (initial learning). Dan juga akan efektif dalam membantu
siswa memahami hubungan-hubungan antara konsep-konsep yang terkait
erat dan digunakan dalam bentuk review. Dengan kata lain, penggunaan
teknik ini akan lebih efektif jika siswasudah memiliki pengalaman tentang
konsep yang akan dipelajari itu. Bukan siswa yang benar-benar baru
mempelajari konsep tersebut.Ada dua hal penting yang perlu diperhatikan
dalam menerapkan teknik pencapaian konsep berkaitan dengan tujuan isi
tersebut, yaitu :

13
a) Teknik pencapaian konsep didesain khusus untuk mengajarkan
konsep secara eksklusif. Jadi berfokus semata-mata pada
pembelajaran konsep.
b) Siswa yang diajari suatu konsep dengan menggunakan teknik
pencapaian konsep harus memiliki latar belakang pengetahuan
tentang konsep tersebut.
2) Tujuan pengembangan berpikir kritis siswa
Teknik pencapaian konsep lebih memfokuskan pada pengembangan
berpikir keritis siswa dalam bentuk menguji hipotesis. Dalam pembelajaran
harus ditekankan pada analisis siswa terhadap hipotesis yang ada dan
mengapa hipotesis itu diterima, dimodifikasi, atau ditolak.
Siswa harus dilatih dalam menciptakan jenis-jenis kesimpulan, seperti
membuat contoh penyangkal atau non-contoh, dan sebagainya. Oleh karena
itu, tujuan pembelajaran harus ditekankan pada dua aspek tersebut, yaitu
pengembangan konsep dan relasi-relasi antara konsep yang terkait erat,
serta latihan berpikir keritis terutama salam merumuskan dan menguji
hipotesis.
Aspek penting dalam perencanaan pelajaran adalah guru harus
mengetahui persis apa yang diinginkan dari siswanya.

C. Sintak Pembelajaran Concept Attainment


Teknik pembelajaran Concept Attainment memiliki beberapa tahap
dalam penerapannya, yang digunakan sebagai dasar rancangan penyusunan
kegiatan proses belajar mengajar yang akan dilakukan. Pada penerapanya
banyak guru yang kurang memperhatikan setiap bagian penting dari sintak
teknik pembelajaran, sehingga banyak menemukan kendala pada saat
belajar mengajar berlangsung.

14
Namun pada dasarnya setiap fase memerlukan perhatian khusus
agar tujuan dari pembelajaran dapat tercapai. Teknik pembelajaran concept
attainment dilakukan melalui fase-fase yang dikemas dalam bentuk sintaks.
Adapun sintaksnya dibagi ke dalam tiga fase, yakni (1) Presentasi
Data dan Identifikasi Data; (2) menguji pencapaian dari suatu konsep; dan (3)
analisis berpikir strategi.
Bruce Joyce dalam Huda (2014, hlm.86) menjelasan mengenai tahap-
tahap teknik pembelajaran concept attainment, yakni :
a) Tahap pertama; guru menyajikan data kepada siswa. Setiap data
merupakan contoh dan bukan contoh yang terpisah. Data tersebut
dapat berupa peristiwa, orang, objek, cerita, dan lain-lain. Siswa
diberitahu bahwa dalam daftar data yang disajikan terdapat beberapa
data yang memiliki kesamaan. Mereka diminta untuk memberi nama
konsep tersebut, dan menjelaskan definisi konsep berdasarkan ciri-
cirinya.
b) Tahap kedua; siswa menguji pencapaian konsep mereka. Pertama
dengan cara mengidentifikasi contoh tambahan lain yang mengacu
pada konsep tersebut. Atau kedua dengan memunculkan contoh
mereka sendiri. Setelah itu, guru mengkonfirmasi kebenaran dari
dugaan siswanya terhadap konsep tersebut, dan meminta mereka
untuk merevisi konsep yang masih kurang tepat.
c) Tahap ketiga; mengajak siswa untuk menganalisis atau mendiskusikan
strategi, sampai mereka dapat memperoleh konsep tersebut. Dalam
keadaan sebenarnya, pasti penelusuran konsep yang mereka lakukan
berbeda-beda. Ada yang mulai dari umum, ada yang mulai dari
khusus, dan lain-lain. Akan tetapi, perbedaan strategi di antara siswa
ini menjadi pelajaran bagi yang lainnya untuk memilih strategi mana
yang paling tepat dalam memahami suatu konsep.

D. Langkah-langkah Teknik Pembelajaran Concept Attainment

15
Pemahaman konsep menurut Gagne, seperti yang dikutip oleh
Nasution (2008, hlm. 161), mengatakan bahwa bila seseorang dapat
menghadapi benda atau peristiwa sebagai suatu kelompok, golongan, kelas,
atau kategori, maka ia telah belajar konsep. Teknik pembelajaran pencapaian
konsep ini dimulai dengan penulisan nama suatu konsep, berikut ciri-
ciripembelajaran pencapaian konsep menurut Naylor& Diem (2008, hlm.223-
225) menguraikan langkah-langkah sebagai berikut :
a) Menunjukan serangkaian contoh dari konsep yang akan dipelajari
secara berurutan.
b) Menyediakan kesempatan kepada siswa untuk menguji contoh dan
bukan contoh serta menduga aturan atau konsep.
c) Menegaskan dan menjelaskan nama dan defenisi atau rumusan suatu
konsep
d) Menunjukan contoh-contoh kemudian meminta siswa untuk
mengklasifikasikan dan menayangkan pendapat mereka.
e) menguji pemahaman siswa tentang konsep berdasarkan contoh-
contoh yang mereka buat sendiri.

E. Kelebihan dan Kekurangan Teknik Concept Attainment


Setiap teknik pembelajaran yang biasa diterapkan di sekolah memiliki
kelebihan dan kekurangan masing-masing. Berikut dalah kelebihan dan
kekurangan teknik pencapaian konsep :
1) Kelebihan teknik pembelajaran concept attainment, sebagai berikut:
a) Guru langsung memberikan presentasi informasi-informasi yang
akan memberikan ilustrasi-ilustrasi tentang topik yang akan
dipelajari oleh siswa, sehingga siswa mempunyai parameter dalam
pencapaian tujuan pembelajaran.

16
b) Concept attainment melatih konsep siswa, menghubungkannya
pada kerangka yang ada, dan menghasilkan pemahaman materi
yang lebih mendalam.
c) Concept attainment meningkatkan pemahaman konsep
pengetahuan siswa.

2) Kekurangan teknik pembelajaran concept attainment, sebagai berikut:


a) Siswa yang memiliki kemampuan pemahaman rendah akan
kesulitan untuk mengikuti pelajaran, karena siswa akan diarahkan
untuk menyelesaikan masalah-masalah yang diajukan.
b) Tingkat keberhasilan pembelajaran ditentukan oleh penyajian data
yang disajikan oleh guru.

4. Model Pembelajaran Predict Observe Explain (POE)

POE ini sering juga disebut suatu model pembelajaran dimana guru
menggali pemahaman peserta didik dengan cara meminta mereka
melaksanakan tiga tugas utama yaitu memprediksi, mengamati, dan
memberikan penjelasan.

Model pembelajaran POE merupakan model pembelajaran yang


dimulai dengan penyajian masalah siswa diajak untuk menduga atau
membuat prediksi dari suatu kemungkinan yang terjadi dengan pola yang
sudah ada, kemudian dilanjutkan dengan melakukan observasi atau
pengamatan terhadap masalah tersebut untuk dapat menemukan
kebenaran atau fakta dari dugaan awal dalam bentuk penjelasan
(Indrawati dan Setiawan, 2009: 45).

Menurut Sudiadnyani, Sudana, dan Garminah (2013: 3) model POE ini


dapat melatih siswa untuk aktif terlebih dahulu mencari pengetahuan
sesuai dengan cara berpikirnya dengan menggunakan sumber-sumber

17
yang dapat memudahkan dalam pemecahan masalah. Model
pembelajaran POE bertujuan untuk mengajarkan siswa untuk belajar
mandiri dalam hal memecahkan suatu permasalahan.

POE pertama kali diperkenalkan oleh White dan Gusnstone pada


tahun 1995 dalam bukunya yang berjudul Probing Understanding. Model
pembelajaranPOE merupakan langkah yang efisien untuk menciptakan
diskusi para siswa mengenai konsep ilmu pengetahuan. Strategi ini
melibatkan siswa dalam memprediksi atau menduga suatu fenomena,
melakukan observasi, dan akhirnya menjelaskan hasil observasi serta
prediksi mereka sebelumnya (Restami, Suma, dan Pujani, 2013: 3).
Model POE merupakan suatu model pembelajaran yang berlandaskan
konstruktivisme.

Konstruktivisme merupakan suatu pandangan dalam pembelajaran


yang beranggapan bahwa untuk memahami teori dan memperoleh
pengetahuannya siswa harus aktif membangun pengetahuannya sendiri,
guru tidaklah berperan sebagai pentransfer informasi tetapi sebagai
fasilitator dalam proses pembelajaran yang membantu siswa untuk
membangun pengetahuannya. Siswa memperoleh pengetahuan melalui
eksplorasi dengan inderanya, baik itu dengan melihat, mendengar,
meraba, merasakan, membau, dan lainnya (Muliawati, Ardana, dan
Negara, 2013: 4-5).

Model pembelajaran POE menggali pemahaman konsep IPA siswa


melalui tiga langkah utama, menurut Indrawati dan Setiawan (2009: 45).

ketiga langkah utama dalam model pembelajaran POE diuraikan


sebagai berikut :

1. Predict (Membuat Prediksi) merupakan suatu proses membuat


dugaan terhadap suatu peristiwa atau fenomena. Siswa

18
memprediksikan jawaban dari suatu permasalahan yang
dipaparkan oleh guru, kemudian siswa menuliskan prediksi
tersebut beserta alasannya. Siswa menyusun dugaan awal
berdasarkan pengetahuan awal yang mereka miliki.

2. Observe (Mengamati) merupakan suatu proses siswa melakukan


pengamatan mengenai apa yang terjadi. Siswa melakukan
pengamatan baik secara langsung maupun tidak langsung ,
siswa mencatat apa yang mereka amati, mengaitkan prediksi
mereka sebelumnya dengan hasil pengamatan yang mereka
peroleh.
3. Explain (Menjelaskan) merupakan suatu proses siswa
memberikan penjelasan mengenai kesesuaian antara dugaan
dengan hasil pengamatan yang telah mereka lakukan dari tahap
observasi. Model pembelajaran POE menurut Hakim (dalam
Apriliantika, 2012: 9-10) memiliki tiga langkah secara terinci, yang
dimulai dengan guru menyajikan peristiwa sains kepada siswa
dan diakhiri dengan menghadapkan semua ketidaksesuaian
antara prediksi dan observasi.
Adapun ketiga langkah model pembelajaran POE secara
terinci sebagai berikut :
a. Membuat prediksi atau dugaan (P) :
1) Guru menyajikan suatu permasalahan atau persoalan.
2) Siswa diminta untuk membuat dugaan (prediksi). Dalam
membuat dugaan siswa diminta untuk berfikir tentang alasan
mengapa ia membuat dugaan seperti itu.
b. Melakukan observasi (O) :
1) Siswa diajak oleh guru melakukan pengamatan berkaitan
dengan permasalahan yang disajikan di awal.

19
2) Siswa diminta mengamati apa yang terjadi.
3) Lalu siswa menguji apakah dugaan yang mereka buat benar
atau salah.
c. Menjelaskan (E) :
1) Bila dugaan siswa ternyata terjadi dalam pengamatan, guru
dapat merangkum dan memberi penjelasan untuk menguatkan
hasil pengamatan yang dilakukan.
2) Bila dugaan siswa tidak terjadi dalam pengamatan yang
dilakukan maka guru membantu siswa mencari penjelasan
mengapa dugaannnya tidak benar.
3) Guru dapat membantu siswa untuk mengubah dugaannya
dan membenarkan dugaan yang semula tidak benar. Sama
seperti model-model pembelajaran yang lain, model
pembelajaran POE juga memiliki kelebihan dan kekurangan.
Kelebihan dan kekurangan model POE adalah sebagai
berikut :
a. Kelebihan model pembelajaran POE
1) Merangsang peserta didik untuk lebih kreatif khususnya
dalam mengajukan prediksi.
2) Dengan melakukan eksperimen untuk menguji
prediksinya dapat mengurangi verbalisme.
3) Proses pembelajaran menjadi lebih menarik, sebab
peserta didik tidak hanya mendengarkan tetapi juga
mengamati peristiwa yang terjadi melalui eksperimen.
4) Dengan cara mengamati secaralangsung peserta didik
memiliki kesempatan untuk membandingkan antara teori
(dugaan) dengan kenyataan. Dengan demikian peserta didik
akan lebih meyakinikebenaran materi pembelajaran (Yupani,
Garminah, dan Mahadewi, 2013: 3).

20
b. Kekurangan model pembelajaran POE

1) Memerlukan persiapan yang lebih matang, terutama


berkaitan penyajian persoalan pembelajaran IPA dan
kegiatan eksperimen yang dilakukan untuk membuktikan
prediksi yang diajukan peserta didik.

2) Untuk kegiatan eksperimen, memerlukan peralatan,


bahan-bahan dan tempat yang memadai.

3) Untuk melakukan kegiatan eksperimen, memerlukan


kemampuan dan keterampilan yang khusus bagi guru,
sehingga guru dituntut untuk bekerja secara lebih
profesional.

4) Memerlukan kemauan dan motivasi guru yang bagus


untuk keberhasilan proses pembelajaran peserta didik
(Yupani, Garminah, dan Mahadewi, 2013: 3).

5. Strategi Pembelajaran Discovery Learning


A. Pengertian Discovery Learning

Menurut Djamarah (2008: 22) Discovery Learning adalah belajar


mencari dan menemukan sendiri. Dalam sistem belajar mengajar ini guru
menyajikan bahan pelajaran yang tidak berbentuk final, tetapi anak didik
diberi peluang untuk mencari dan menemukan sendiri dengan
menggunakan teknik pendekatan pemecahan masalah.

Pandangan ini bertolak dari pandangan bahwa siswa sebagai


subjek dan obyek dalam belajar, mempunyai kemampuan dasar untuk
berkembang secara optimal sesuai denagn kemampuan yang dimilikinya.
Proses belajar harus dipandang sebagai stimulus yang dapat memantang

21
siswa untuk melakukan kegiatan belajar. Peran guru lebih banyak
menempatkan diri sebagai pembimbing atau pemimpin belajar dan
fasilitator belajar. dengan demikian, siswa lebih banyak melakukan
kegiatan sendiri atau dalam bentuk kelompok memecahkan masalah
dengan bimbingan guru.

Pemecahan masalah adalah metode yang mengharuskan pelajar


untuk menemukan jawabanya (discovery) tanpa bantuan khusus. Dengan
pemecahan masalah pelajar menemuakan aturan baru yang lebuh tinggi
tarafnya sekalipun ia mungkin tidak dapat merumuskan secara verbal.

B. Ciri-ciri dan Karakteristik


Model discovery learning memiliki ciri tersendiri sehingga dapat
ditemukan perbedaan dengan model pembelajaran lainnya, berikut
tiga ciri utama belajar dengan model pembelajaran discovery learning
atau penemuan yaitu:
1) Mengeksplorasi dan memecahkan masalah untuk menciptakan,
menggabungkan dan menggeneralisasi pengetahuan
2) Berpusat pada peserta didik
3) Kegiatan untuk menggabungkan pengetahuan baru dan
pengetahuan yang sudah ada.

Pembelajaran ini memiliki karakter yang dapat ditemukan ketika


pembelajaran berlangsung, berikut tiga karakter tersebut:

1) Peran guru sebagai pembimbing


2) Peserta didik belajar secara aktif sebagai seorang ilmuwan
3) Bahan ajar disajikan dalam bentuk informasi dan peserta didik
melakukan
4) kegiatan menghimpun, membandingkan, mengkategorikan,
menganalisis, serta membuat kesimpulan.

22
C. Langkah-langkah pembelajaran
Dalam penerpan discovery learning, terdapat tahap-tahap sebagai
berikut.
1) stimulation (stimulasi/pemberian rangsangan).
Pertama-tama pada tahap ini pelajar dihadapkan pada sesuatu
yang menimbulkan kebingungannya, kemudian dilanjutkan
untuk tidak memberi generalisasi, agar timbul keinginan untuk
menyelidiki sendiri.
2) problem statement (pernyataan/ identifikasi masalah).
Setelah dilakukan stimulation langkah selanjutya adalah guru
memberi kesempatan kepada siswa untuk mengidentifikasi
sebanyak mungkin agenda-agenda masalah yang relevan
dengan bahan pelajaran, kemudian salah satunya dipilih dan
dirumuskan dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara atas
pertanyaan masalah).
3) data collection (pengumpulan data).
Ketika eksplorasi berlangsung guru juga memberi kesempatan
kepada para siswa untuk mengumpulkan informasi sebanyak-
banyaknya yang relevan untuk membuktikan benar atau
tidaknya hipotesis. Pada tahap ini berfungsi untuk menjawab
pertanyaan atau membuktikan benar tidak hipotesis, dengan
demikian anak didik diberi kesempatan untuk mengumpulkan
(collection) berbagai informasi yang relevan, membaca
literature, mengamati objek, wawancara dengan nara sumber,
melakukan uji coba sendiri dan sebagainya.
4) data processing (pengolahan data).
Data processing merupakan kegiatan mengolah data dan
informasi yang telah diperoleh para siswa baik melalui
wawancara, observasi, dan sebagainya, lalu ditafsirkan. Data
processing disebut juga dengan pengkodean coding/

23
kategorisasi yang berfungsi sebagai pembentukan konsep dan
generalisasi. Dari generalisasi tersebut siswa akan
mendapatkan penegetahuan baru tentang alternatif jawaban/
penyelesaian yang perlu mendapat pembuktian secara logis.
5) verification (pentahkikan/pembuktian).
Bertujuan agar proses belajar akan berjalan dengan baik dan
kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk
menemukan suatu konsep, teori, aturan atau pemahaman
melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya.
6) generalization (menarik kesimpulan/generalisasi).
Tahap generalitation/ menarik kesimpulan adalah proses
menarik sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum
dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama,
dengan memperhatikan hasil verifikasi. Atau tahap dimana
berdasarkan hasil verifikasi tadi, anak didik belajar menarik
kesimpulan atau generalisasi tertentu. Akhirnya dirumuskannya
dengan kata-kata prinsip-prinsip yang mendasari generalisasi.
1) memimpin analisis sendiri (self analysis) dengan pertanyaan
yang mengarahkan dan mengidentifikasi proses.
2) merangsang terjadinya interaksi antara siswa dengan siswa.
3) Memuji dan membesarkan siswa yang bergiat dalam proses
penemuan.
4) membantu siswa merumuskan prinsip-prinsip dan generalisasi
atas hasil penemuannya.

D. Kelebihan dan Kelemahan


Discovery learning memiliki kelebihan dan kelemahannya. Berikut
adalah kelebihan dari discovery learning.
Kelebihan metode Discovery Learning

24
1) Dianggap membantu siswa mengembangkan atau
memperbanyak persediaan dan penguasaan ketrampilan dan
proses kognitif siswa, andaikata siswa itu dilibatkan terus
dalam penemuan terpimpin. Kekuatan dari proses penemuan
datang dari usaha untuk menemukan; jadi seseorang belajar
bagaimana belajar itu.
2) Pengetahuan diperoleh dari strategi ini sangat pribadi sifatnya
dan mungkin merupakan suatu pengetahuan yang sangat
kukuh; dalam arti pendalaman dari pengertian; retensi, dan
transfer.
3) Strategi penemuan membangkitkan gairah pada siswa,
misalnya siswa merasakan jerih payah penyelidikannya,
menemuk an keberhasilan dan kadang–kadang kegagalan.
4) Metode ini memberi kesempatan pada siswa untuk bergerak
maju sesuai dengan kemampuannya sendiri.
5) Metode ini menyebabkan siswa mengarahkan sendiri cara
belajarnya, sehingga ia lebih merasa terlibat dan bermotivasi
sendiri untuk belajar, paling sedikit dapa suatu proyek
penemuan khusus.
6) Metode ini dapat membantu memperkuat pribadi siswa dengan
bertambahnya kepercayaan pada diri sendiri melalui proses–
proses penemuan. Dapat memungkinkan siswa sanggup
mengatasi kondisi yang mengecewakan.
7) Strategi ini berpusat pada anak, misalnya memberi kesempatan
kepada mereka dan guru berpartisipasi sebagai sesama dalam
mengecek ide. Guru menjadi teman belajar, terutama dalam
situasi penemuan yang jawabannya belum diketahui
sebelumnya.
8) Membantu perkembangan siswa menuju skeptisisme yang
sehat untuk menemukan kebenaran akhir dan mutlak.

25
Sedangkan kelemahan dari discovery learning adalah sebagai berikut.
Kelemahan metode Discovery Learning
1) Dipersyaratkan keharusan adanya persiapan mental untuk cara
belajar ini.
2) Metode ini kurang berhasil untuk mengajar kelas besar.
Misalnya sebagian besar waktu dapat hilang karena membantu
seorang siswa menemukan teori–teori, atau menemukan
bagaimana ejaan dari bentuk kata–kata tertentu.
3) Harapan yang ditumpahkan pada strategi ini mungkin
mengecewakan guru dan siswa yang sudah biasa dengan
perencanan dan pengajaran secara teradisional.
4) Mengajar dengan penemuan mungkin akan dipandang sebagai
terlalu mementingkan memperoleh pengertian dan kurang
memperhatikan diperolehnya sikap dan ketrampilan.
5) Dalam beberapa ilmu (misalnya IPA) fasilitas yang dibutuhkan
untuk mencoba ide–ide mungkin tidak ada.

Strategi ini mungkin tidak akan memberi kesempatan untuk


berfikir kreatif, kalau berfikir kreatif, kalau pengertian–pengertian
yang akan ditemukan telah diseleksi terlebih dahulu oleh guru,
demikian proses–proses dibawah pembinaannya. Tidak semua
pemecahan masalah menjamin penemuan yang penuh arti.
Penemuan masalah dapat bersifat membosankan mekanisasi,
formalitas dan pasif seperti bentuk terburuk dan metode
ekspositories verbal. (Suryosubroto, 2009:185).

26
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Dalam menentukan teknik pembelajaran ini, guru perlu


mempertimbangkan situasi kelas, lingkungan, kondisi siswa, sifat-sifat siswa,
dan kondisi-kondisi yang lain. Pembelajaran inovatif adalah suatu proses
pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa sehingga berbeda dengan
pembelajaran pada umumnya yang dilakukan oleh guru (konvensional).
pembelajaran dengan teknik inovatif dapat dilakukan melalui PAIKEM,
solusinya belajar, CA, POE, dan discovery learning.

PAIKEM merupakan pembelajaran yang dapat menjadikan siswa


mengalami, menghayati, dan menarik pelajaran dari pengalamannnya itu,
dan pada gilirannya hasil belajar akan merupakan bagian dari diri, perasaan,
pemikiran, dan pengalaman. Model siklus belajar (learning cycle) adalah
suatu cara untuk membantu anak-anak menerapkan matematika,
keterampilan ilmu kemasyarakatan, menginterpretasikan grafik, tabel, dan
poster serta asimilasi data untuk memecahkan masalah, dan menentukan
maksud atau arti kalimat.

Teknik pembelajaran concept attainment mensyaratkan adanya sajian


contoh-contoh negatif (salah) dan contoh positif (benar) penerapan konsep
yang diajarkan, kemudian dengan mengamati contoh-contoh diperoleh
definisi konsep-konsep tersebut. POE ini sering juga disebut suatu model
pembelajaran dimana guru menggali pemahaman peserta didik dengan cara
meminta mereka melaksanakan tiga tugas utama yaitu memprediksi,
mengamati, dan memberikan penjelasan. Menurut Djamarah (2008: 22)
Discovery Learning adalah belajar mencari dan menemukan sendiri.

A.

27
DAFTAR PUSTAKA

Affandi, Muhammad, Evi Carmila dan Oktarina. 2013. Model dan Metode

Pembelajaran di Sekolah. Semarang: Unisulla Press.

Hidayat, Komar. 2014. Model Pembelajaran Aktif, Interaktif, Kreatif, Efektif,

dan Menyenangkan (PAIKEM). Bandung: Kementrian Pendidikan dan

Kebudayaan.

Saudjana, Nana. 1989. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar.

Bandung: Sinar Baru.

Sumantri, Mohamad Syarif. 2015. Strategi Pembelajaran, Jakarta: Rajawali

Pers.

https://www.paklativi.com/2014/03/berbagai-macam-strategi-pembelajaran-
paikem-dan-langkah-penerapanya.html?m=1 diakses pada tanggal 22 April
2019 pukul 09:01WIB

http://digilib.unila.ac.id/3705/14/BAB%20II.pdf diakses pada tanggal 22 April


2019 pukul 10:52 WIB

28