Anda di halaman 1dari 4

PANCASILA

A. Pengertian Pancasila

Secara etimologi dalam Bahasa Sansekerta Pancasila berasal dari kata “Panca” yang
berarti “Lima” dan “Sila” yang artinya “Dasar”. Jadi secara kebahasaan dapat disimpulkan
bahwa Pancasila berarti Lima Dasar.

B. Sejarah Perumusan Pancasila

Berawal dari pemberian janji kemerdekaan oleh Perdana Menteri Jepang saat itu,
Kunaiki Koiso untuk Indonesia pada tanggal 7 September 1944.

Kemudian pemerintah Jepang pada tanggal 1 Maret 1945 mendirikan BPUPKI


(Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan) dengan tujuan untuk mempelajari
hal-hal mengenai tata pemerintahan Indonesia Merdeka.

Berlangsung selama tiga hari, ada tiga tokoh penting Indonesia yaitu Muhammad
Yamin, Soepomo, dan Ir.Soekarno yang menyumbangkan gagasan untuk Indonesia.

Ir.Soekarno pada hari terakhirnya yaitu 1 Juni 1945 menyampaikan gagasan mengenai
5 asas yang merupakan satu kesatuan utuh dan disebut dengan Pancasila, usulan Ir.Soekarno
diterima baik oleh semua peserta sidang. Sehingga pada tanggal 1 Juni 1945 diketahui
sebagai hari lahirnya Pancasila.

Setelah upacara proklamasi kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. Ada


beberapa utusan yang datang dari Indonesia Bagian Timur. Beberapa utusan tersebut
diantaranya adalah sebagai berikut:

 Sam Ratulangi, wakil dari Sulawesi


 Tadjoedin Noor dan Ir. Pangeran Noor, wakil dari Kalimantan
 I Ketut Pudja, wakil dari Nusa Tenggara
 Latu Harhary, wakil dari Maluku.

Mereka datang karena keberetan dengan bunyi dalam rancangan Pembukaan UUD
yang sekaligus menjadi sila pertama Pancasila, yang berbunyi “Ketuhanan dengan kewajiban
menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”.

Sehingga, pada sidang PPKI yang pertama tepatnya di tanggal 18 Agustus 1945, Hatta
mengusulkan kalimat tersebut diubah menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”.
Pengubahan kalimat tersebut sebelumnya telah dikonsultasikan bersama 4 tokoh
islam, yakni Kasman Singodimejo, Wahid Hasyim, Ki Bagus Hadikusumo, dan Teuku M.
Hasan.

Ke-empat orang tersebut menyetujui perubahan kalimat tersebut. Sehingga, pada


akhirnya penetapan rancangan pembukaan sekaligus batang tubuh UUD 1945 pada Sidang
PPKI I tanggal 18 Agustus 1945 Pancasila pun ditetapkan sebagai dasar negara Indonesia.
Pancasila sebagai dasar negara NKRI telah diterima oleh semua pihak dan sudah bersifat
final.

C. Implementasi Pancasila dalam Kehidupan Masyarakat

Memahami implementasi pancasila dalam kehidupan masyarakat sangat penting


dilakukan agar setiap warga negara dalam berpikir, dan bertindak berdasarkan etika
yang bersumber dari Pancasila.

1. Implementasi Sila Pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa


Ketuhanan yang Maha Esa, sila ini menghendaki setiap warga negara untuk
menjunjung tinggi agama dan kepercayaan terhadap Than yang Maha Esa. Dalam
rangka menjalankan kehidupan beragama dan kepercayaan kepada Tuhan Yang
Maha Esa, terdapat beberapa pedoman yang dapat dilakukan oleh warga negara,
yaitu:
a. Percaya dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan
kepervayaan masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan
beradab.
b. Hormat menghormati dan bekerja sama antara pemeluk agama dan penganut
kepercayaan yang berbeda-beda sehingga terbina kerukunan hidup.
c. Saling menghormati dan kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama
dan kepercayaannya.
d. Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan kepada orang lain.
2. Implementasi Sila Kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Sila ini mengandung makna warga negara Indonesia mengakui adanya manusia
yang bermartabat, memperlakukan sesama manusia secara adil, dan beradab.
Butir-butir implementasi sila kedua adalah sebagai berikut:
a. Mengakui persamaan derajat, persamaan hak, dan persamaan kewajiban antara
sesama manusia.
b. Saling mencintai sesama manusia.
c. Mengembangkan sikap tenggang rasa.
d. Tidak semena-mena terhadap orang lain.
e. Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
f. Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
g. Berani membela kebenaran dan keadilan.
3. Implementasi Sila Ketiga: Persatuan Indonesia
Sila persatuan Indonesia merujuk pada persatuan yang utuh dan tidak terpecah
belah atau bersatunya bermacam-macam perbedaan suku, agama, dan lain-lain.
Butir-butir implementasi sila ketiga adalah sebagai berikut:
a. Menempatkan persatuan, kesatuan, kepentingan serta keselamatan bangsa dan
negara di atas kepentingan pribadi atau golongan.
b. Rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara.
c. Cinta tanah air dan bangsa.
d. Bangga sebagai bangsa Indonesia bertanah air Indonesia.
e. Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa yang ber-
Bhinneka Tunggal Ika.
4. Implementasi Sila Keempat: Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmat
Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan
Sila keempat mempunyai makna bahwa kekuasaan ada di tangan rakyat, dan
dalam melaksanakan kekuasaannya, rakyat menjalankan sistem perwakilan dan
keputusankeputusan yang diambil dilakukan dengan jalan musyawarah. Butir-
butir implementasi sila keempat adalah sebagai berikut:
a. Mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat.
b. Tidak memaksakan kehendak kepada orang lain.
c. Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan
bersama.
d. Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargan.
e. Dengan itikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan
hasil keputusan musyawarah.
f. Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang
luhur.
g. Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral
kepada Tuhan yang Maha Esa.
5. Implementasi Sila Kelima: Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Sila ini mempunyai makna bahwa seluruh rakyat Indonesia mendapatkan
perlakuan yang adil dalam bidang hukum, politik, ekonomi, kebudayaan, dan
kebutuhan spiritual rohani sehingga tercipta masyarakat yang adil dan makmur.
Butir-butir implementasi sila kelima adalah sebagai berikut:
a. Mengembangkan perbuatan-perbuatan yang luhur yang mencerminkan sikap
dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan.
b. Bersikap adil.
c. Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
d. Menghormati hak-hak orang lain.
e. Suka memberi pertolongan kepada orang lain.
f. Menjauhi sikap pemerasan terhadap orang lain.
g. Tidak bersikap boros
h. Tidak bergaya hidup mewah.
i. Tidak melakukan perbuatan yang merugikan kepentingan umum.
j. Suka bekerja keras.
k. Menghargai karya orang lain.
l. Bersama-sama berusaha mewujudkan kemajuan yang merata dan sama
antarwarga negara dalam mencapai masyarakat yang adil dan makmur.