Anda di halaman 1dari 6

TUGAS RESUME

(INDIVIDU)

Nama : Febriana Nurdin (02271711149)


Mata Kuliah : Akuntansi Forensik dan Audit Investigatif
Semester : VI
Dosen : Iqbal M. Aris Ali, SE., S.Psi., MSA., Ak
Kode : EKA31223
SKS :3
Program Studi : Akuntansi
Fakultas : Ekonomi

A. Resume : Fraud, Akuntansi Forensik, dan Audit

B. LINGKUP PEMBAHASAN

1. Definisi fraud menurut Institute of Internal Auditor tahun 2013; (Priantara,


2013:4)
Perbuatan yang dicirikan dengan pengelabuan atau pelanggaran kepercayaan
untuk mendapatkan uang, aset, jasa atau mencegah pembayaran atau kerugian
atau untuk menjamin keuntungan/manfaat pribadi dan bisnis. Perbuatan ini tidak
tergantung pada ancaman kekerasan oleh pelaku terhadap orang lain.

Akuntansi forensik adalah praktik khusus bidang akuntansi yang menggambarkan


keterlibatan yang dihasilkan dari perselisihan aktual atau yang diantisipasi
atau litigasi. "Forensik" berarti "yang cocok untuk digunakan dalam pengadilan
hukum", dan itu adalah untuk yang standar dan potensi hasil yang umumnya
akuntan forensik harus bekerja.
Jack Bologna dan Paul Shaw yang dikutip dalam Tunggal (2012) mengatakan
audit fraud atau investigatif adalah keterampilan yang melampaui alam
penggelapan dan penipuan manajemen perusahaan, atau penyuapan komersial.
Memang, keterampilan akuntansi forensik melampaui wilayah umum kejahatan
berkerah.

2. Akuntansi forensik merupakan formulasi yang dapat dikembangkan sebagai


strategi preventif, detektif dan persuasif melalui penerapan prosedur audit forensik
dan audit investigatif yang bersifat litigation suport untuk menghasilkan temuan dan
bukti yang dapat membantu proses pengambilan putusan di pengadilan.
Disamping itu dengan fraud examinition yang tidak terlepas dari akuntansi forensik
akan menjadi bahan untuk profesi akuntansi khususnya untuk menelusuri adanya
kemungkinan-kemungkinan kecurangan yang dilakukan. Akuntansi forensik dan
audit investigatif adalah serangkaian hubungan dalam pemeriksaan fraud. Fraud
atau kecurangan adalah objek utama yang diperangi dalam akuntansi forensik
dan dibuktikan dalam audit investigatif.

3. akuntansi forensic serta audit investigative merupakan solusi utama guna


mencegah terjadinya fraud yang merugikan banyaknya pihak dengan jumlah
nominal yang tidak sedikit.

C. ANALISIS OBJEK

1. Dari uraian di atas terdapat pemahaman dari topic tersebut bahwa karakteristik
fraud tidak selalu berkaitan dengan hal yang bersifat materil atau keuangan,
tapi dapat juga berupa manfaat atau jasa, yang pada muaranya memberikan
keuntungan untuk pribadi ataupun bisnis si pelaku.
Salah satu konsep yang penting untuk dipahami mengenai fraud ialah tindakan
yang mendasarinya. Mengapa ? karena, jika hal tersebut disebabkan oleh
ketidaksengajaan, maka hal itu dikategorikan sebagai kesalahan, bukan
kecurangan atau fraud. (SPAP SA 240:1)

Karena hal tersebut juga dapat berdampak konsekuensi hukum, sesuai dengan
yang tercantum dalam KUHP pasal 372 tentang penggelapan, yang menekankan
pada poin kesengajaan.

Maka kita telah mendapat poin utama dalam konsep fraud ini, yaitu kesengajaan.
Tentunya tindakan tersebut sudah disusun sedemikian rupa, terstruktur dan
sistematis, sehingga biasanya melibatkan orang-orang yang memiliki kewenangan
dalam suatu organisasi atau korporasi.

Oleh karena itu, dibutuhkan keahlian khusus untuk menilai apakah suatu tindakan
dapat dikategorikan sebagai kesalahan atau kecurangan. Profesi pendukung
seperti auditor investigatif sangat diperlukan, karena berbagai macam motif
kecurangan atau fraud dapat terungkap ketika para auditor sudah fokus
menelusurinya, terutama investigasi terdapat pihak-pihak yang berpotensi
melakukan kecurangan atau fraud tersebut.

2. Kecurangan (Fraud) merupakan suatu tindakan yang umumnya dilakukan


secara sengaja oleh seseorang dengan tujuan untuk menguntungkan dirinya
sendiri. Ada beberapa teori mengenai kecurangan diantaranya:
a. Teori Fraud Triangle 
Ada 3 hal yang mendorong terjadinya sebuah upaya fraud, yaitu
pressure (dorongan), opportunity (peluang), dan rationalization
(rasionalisasi).
b. Teori Fraud Diamond
Teori  fraud diamond merupakan  penyempurnaan teori fraud triangle.
Teori fraud diamond menambahkan elemen kapabilitas/kemampuan
(capability) sebagai elemen keempat selain elemen tekanan (pressure),
kesempatan (opportunity), dan rasionalisasi (rationalization) yang
sebelumnya telah dijelaskan dalam teori fraudtriangle.

c. Teori Fraud Pentagon


dalam teori ini menambahkan dua elemen fraud lainnya yaitu
kompetensi (competence) dan arogansi (arrogance).

Contoh kasusnya :

Eksekutif di Phar Mor secara sengaja melakukan fraud untuk mendapatkan


keuntungan financial yang masuk ke saku pribadi individu di jajaran top
manajemen perusahaan.

Phar Mor Inc, termasuk perusahaan retail terbesar di Amerika Serikat yang
dinyatakan bangkrut pada bulan Agustus 1992 berdasarkan undang-undangan
U.S. Bangkruptcy Code.

Pada masa puncak kejayaannya, Phar Mor mempunyai 300 outlet besar di hampir
seluruh negara bagian dan memperkerjakan 23,000 orang karyawan. Produk yang
dijual sangat bervariasi, dari obat-obatan, furniture, electronik, pakaian olah raga
hingga videotape. Dalam melakukan fraud, top manajemen Phar Mor membuat 2
laporan ganda. Satu laporan inventory, sedangkan laporan lain adalah laporan
bulanan keuangan (monthly financial report). Satu set laporan inventory berisi
laporan inventory yang benar (true report), sedangkan satu set laporan lainnya
berisi informasi tentang inventory yang di adjustment dan ditujukan untuk
auditor use only.

Demikian juga dengan laporan bulanan keuangan, laporan keuangan yang benar –
berisi tentang kerugian yang diderita oleh perusahaan, ditujukan hanya untuk
jajaran eksekutif. Laporan lainnya adalah laporan yang telah dimanipulasi sehingga
seolah-olah perusahaan mendapat keuntungan yang berlimpah.
Dalam mempersiapkan laporan-laporan tersebut, manajemen Phar Mor sengaja
merekrut staf dari Kantor Akuntan Publik (KAP) Cooper & Lybrand. Staf-staf
tersebut yang kemudian dipromosikan menjadi Vice President bidang financial dan
kontroler, yang dikemudian hari ternyata terbukti turut terlibat aktif dalam fraud
tersebut.

Dalam kasus Phar Mor, salah satu syarat agar internal audit bisa berfungsi, yaitu
fungsi control environment telah diberangus. Control environment sangat
ditentukan oleh attitude dari manajemen. Idealnya, manajemen harus mendukung
penuh aktivitas internal audit dan mendeklarasikan dukungan itu kesemua jajaran
operasional perusahaan. Top manajemen Phar Mor, tidak
menunjukkan attitude yang baik. Manajemen kemudian malah merekrut staf
auditor dari KAP Cooper & Librand untuk turut dimainkan dalam fraud. Langkah ini
bukan tanpa perencanaan matang. Staf mantan auditor kemudian dipromosikan
menduduki jabatan penting, tetapi dengan imbalan harus membuat laporan-
laporan keuangan ganda.

3. Sejauh ini manajemen Phar Mor telah membuktikan tentang teori : The Fraud
Triangle. Yaitu teori yang menerangkan tentang penyebab fraud terjadi. Menurut
teori ini, penyebab fraud terjadi akibat 3 hal : Insentive/Pressure,
Opportunity dan Rationalization/ Attitude.
insentive/Pressure adalah ketika manajemen atau karyawan
mendapat insentive atau justru mendapat tekanan (presure) sehingga mereka
“commited” untuk melakukan fraud. 
Opportunity adalah peluang terjadinya fraud akibat lemahnya atau tidak efektifnya
kontrol sehingga membuka peluang terjadinya fraud.
Sedangkan rationalization/attitude menjelaskan teori yang menyatakan
bahwa fraudterjadi karena kondisi nilai-nilai etika lokal yang membolehkan
terjadinya fraud. Dalam kasus Phar Mor, setidak-tidaknya top manajemen telah
membuktikan satu dari tiga penyusun triangle, yaitu : top manajemen telah
melakukan Insentive/Pressure.
Daftar Pustaka

https://www.kompasiana.com/nlk/58b92ca23493737310b31e88/kasus-kecurangan-audit-
phar-mor-inc?page=all

http://www.academia.edu/6634188/FRAUD_TRIANGLE

 https://mukhsonrofi.wordpress.com/2008/09/04/fraudtriangle-segitiga-fraud/

https://arezky125.wordpress.com/2013/05/13/faktor-pemicu-fraud/