Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH KEPEMIMPINAN

MASALAH DAN SOLUSI KEPEMIMPINAN DALAM PENDIDIKAN


DOSEN PENGAMPU :
Drs. PASAR MAULIM SILITONGA,MS

Disusun Oleh :
NAMA :HARYATI NABABAN
NIM : (4193131041)
KELAS : KIMIA DIK C 2019

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2019
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sebagai suatu organisasi, lembaga pendidikan memerlukan tidak hanya seorang manajer
untuk mengelola sumber daya lembaga pendidikan yang lebih banyak berkonsentrasi pada
permasalahan anggaran dan persoalan administratif lainnya, tetapi juga memerlukan pimpinan
yang mampu menciptakan sebuah visi dan semua komponen individu yang terkait dengan
lembaga pendidikan. Pemimpin maupun manajer diperlukan dalam pengelolaan lembaga
pendidikan. Berbeda dengan organisasi lain, lembaga pendidikan merupakan bentuk organisasi
moral yang berbeda dengan bentuk organisasi lainnya. Sebagai suatu organisasi, kesuksesan
lembaga pendidikan,tidak hanya di tentukan oleh kepemimpinan pendidikan, tetapi juga oleh
tenaga kependidikan lainnya dan proses lembaga pendidikan itu sendiri. Kepemimpinan
pendidikan berkewajiban untuk mengkoordinasikan ketenagaan pendidikan di lembaga
pendidikan untuk menjamin teraplikasinya peraturan pada lembaga pendidikan.

Kepemimpinan pada hakikatnya merupakan kemampuan yang dimiliki seseorang untuk


membina, membimbing, mengarahkan dan mengerakkan orang lain agar dapat bekerjasama
untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, pemimpin
perlu melakukan serangkaian kegiatan diantaranya adalah mengarahkan orang-orang yang
terlibat dalam organisasi yang dipimpinnya. Dengan kata lain tercapai atau tidak tujuan suatu
organisasi sangat tergantung pada pimpinannya.

Masalah kepemimpinan pendidikan saat ini menunjukan kompleksitas,baik dari segi


komponen manajemen pendidikan, maupun lingkungan yang mempengaruhi keberlangungan
suatu pendidikan. Bahkan disatu sisi harus memenuhi SKL, dilain fihak dihadapkan pada
keterbatasan sumber daya. Apakah sumber daya manusia ataupun sumberdaya keuangan,sarana
dan prasarana. Semua masalah yang muncul dalam dunia pendidikan terus berkembang seperti
spiral dynamic. Tapi supaya tidak terjadi chaos dituntut kepemimpinan yang mempunyai basic
life untuk memecahkan persoalan.Oleh karena itu keyakinan pengajaran dan pembelajaran.
dipandang sebagai sains dan sebagai seni. Persoalan yang muncul bisa sepontan, bisa berulang-
ulang, makanya diperlukan interaksi yang kreatif dan dinamis antar guru dan siswa.
B.    Rumusan Masalah
a.     Apa pengertian Kepemimpinan ?
b. Apa pengertian Kepemimpinan dalam Pendidikan ?
c. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi kepemimpinan dalam pendidikan ?

d.    Apa masalah Kepemimpinan dalam Pendidikan?


e.     Apa solusi atas masalah Kepemimpinan dalam Pendidikan ?

c. Tujuan
a. Mengetahui pengertian Kepemimpinan.
b. mengetahui pengertian Kepemimpinan dalam Pendidikan
c. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kepemimpinan dalam pendidikan.

d. Mengetahui masalah Kepemimpinan dalam Pendidikan.


e. Mengetahui solusi atas masalah Kepemimpinan dalam Pendidikan.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Kepemimpinan
Kepemimpinan dapat didefinisikan sebagai suatu proses yang kompleks dimana seorang
pemimpin mempengaruhi bawahannya dalam melaksanakan dan mencapai visi, misi, dan tugas,
atau objektif-objektif yang dengan itu membawa organisasi menjadi lebih maju dan bersatu.
Seorang pemimpin itu melakukan proses ini dengan mengaplikasikan sifat-sifat kepemimpinan
dirinya yaitu kepercayaan, nilai, etika, perwatakan, pengetahuan, dan kemahiran-kemahiran yang
dimilikinya.

Seseorang hanya akan menjadi seorang pemimpin yang efektif apabila secara genetika
memiliki bakat-bakat kepemimpinan, kemudian bakat-bakat tersebut dipupuk dan dikembangkan
melalui kesempatan untuk menduduki jabatan kepemimpinan serta ditopang oleh pengetahuan
teoritikal yang diperoleh melalui pendidikan dan latihan, baik yang bersifat umum maupun yang
menyangkut teori kepemimpinan.

Dahulu orang menyatakan bahwa kepemimpinan yang dimiliki oleh seorang pemimpin
itu merupakan bawaan psikologis yang dibawa sejak lahir, khusus ada pada dirinya dan tidak
dipunyai oleh orang lain sehingga disebut sebagai Born Leader (dilahirkan sebagai pemimpin).
Oleh karena itu, kepemimpinannya tidak perlu diajarkan pada dirinya dan tidak bisa ditiru oleh
orang lain. Born Leader (dilahirkan sebagai pemimpin) dianggap memiliki sifat-sifat unggul dan
unik yang dibawa sejak lahir dan tidak dimiliki atau tidak dapat ditiru oleh orang lain. Namun di
zaman modern seperti sekarang, dengan berbagai kegiatan yang serba teknis dan kompleks,
dimana-mana juga selalu dibutuhkan pemimpin. Pemimpin-pemimpin yang demikian harus
dipersiapkan, dilatih, dididik dan dibentuk secara terencana serta sistematis.

B. Pengertian Kepemimpinan dalam Pendidikan

Kepemimpinan (Leadership)  merupakan salah satu yang sangat vital bagi terlaksananya


fungsi-fungsi manajemen. Pengertian umum pendidikan adalah kemampuan dan kesiapan yang
dimiliki oleh seseorang untuk dapat mempengaruhi, mendorong, mengajak, menuntun,
menggerahkan, dan kalau perlu memaksa orang atau kelompok agar menerima pengaruh tersebut
dan selanjutnya berbuat sesuatu yang dapat membantu tercapainya suatu tujuan tertentu yang
telah ditetapkan.
Menurut Ralp M. Stogdill, kepemimpinan adalah proses mempengaruhi kegiatan-kegiatan
kelompok yang diorganisis menuju kepada penentuan dan pencapaian tujuan. Sondang P.
Siagian, kepemimpinan merupakan motor atau daya penggerak dari pada semua sumber-sumber,
dan alat yang tersedia bagi suatu organisasi. Mardjin syam (1966) mengartikan kepemimpinan
sebagai keseluruhan tindakan guna mempengaruhi serta mengingatkan orang, dalam usaha
bersama untuk mencapai tujuan, atau dengan definisi yang lebih lengkap dapat dikatakan bahwa
kepemimpinan adalah proses pemberian jalan yang mudah dari pada pekerjaan orang lain yang
terorganisir dalam organisasi guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Sedangkan “Pendidikan” mengandung arti dalam lapangan apa dan dimana kepemimpinan itu
berlangsung, dan sekaligus menjelaskan pula sifat atau ciri-ciri yang harus dimiliki oleh
kepemimpinan itu.
Dengan demikian Kepemimpinan pendidikan merupakan kemampuan untuk menggerakan
pelaksanaan pendidikan, sehingga tujuan pendidikan yang telah ditetapkan dapat tercapai secara
efektif dan efisien.

C. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepemimpinan Dalam Pendidikan


1. Faktor Kemampuan Personal

Pengertian kemampuan personal adalah kombinasi antara potensi sejak pemimpin


dilahirkan ke dunia sebagai manusia dan faktor pendidikan yang ia dapatkan. Jika seseorang lahir
dengan kemampuan dasar kepemimpinan, ia akan lebih hebat jika mendapatkan perlakuan
edukatif dari lingkungan, jika tidak, ia hanya akan menjadi pemimpin yang biasa dan standar.
Sebaliknya jika manusia lahir tidak dengan potensi kepemimpinan namun mendapatkan
perlakuan edukatif dari lingkunganya akan menjadi pemimpin dengan kemampuan yang standar
pula. Dengan demikian antara potensi bawaan dan perlakuan edukatif lingkungan adalah dua hal
tidak terpisahkan yang sangat menentukan hebatnya seorang pemimpin.
2. Faktor Jabatan

Pengertian jabatan adalah struktur kekuasaan yang pemimpin duduki. Jabatan tidak dapat
dihindari terlebih dalam kehidupan modern saat ini, semuanya seakan terstrukturifikasi. Dua
orang mempunyai kemampuan kepemimpinan yang sama tetapi satu mempunyai jabatan dan
yang lain tidak maka akan kalah pengaruh. sama-sama mempunyai jabatan tetapi tingkatannya
tidak sama maka akan mempunya pengarauh yang berbeda.

3. Faktor Situasi dan Kondisi

Pengertian situasi adalah kondisi yang melingkupi perilaku kepemimpinan. Disaat situasi
tidak menentu dan kacau akan lebih efektif jika hadir seorang pemimpin yang karismatik. Jika
kebutuhan organisasi adalah sulit untuk maju karena anggota organisasi yang tidak
berkepribadian progresif maka perlu pemimpin transformasional. Jika identitas yang akan
dicitrakan oragnisasi adalah religiutas maka kehadiran pemimpin yang mempunyai kemampuan
kepemimpinan spritual adalah hal yang sangat signifikan. Begitulah situasi berbicara, ia juga
memilah dan memilih kemampuan para pemimpin, apakah ia hadir disaat yang tepat atau tidak.

D. Masalah Kepemimpinan dalam Pendidikan


1. Pendidikan di Indonesia menghasilkan “manusia robot”

Pendidikan ternyata mengorbankan keutuhan, kurang seimbang antara belajar yang


berpikir (kognitif) dan perilaku belajar yang merasa (afektif). Jadi unsur integrasi cenderung
semakin hilang, yang terjadi adalah disintegrasi. Padahal belajar tidak hanya berfikir. Sebab
ketika orang sedang belajar, maka orang yang sedang belajar tersebut melakukan berbagai
macam kegiatan, seperti mengamati, membandingkan, meragukan, menyukai, semangat dan
sebagainya. Hal yang sering disinyalir ialah pendidikan seringkali dipraktekkan sebagai
sederetan instruksi dari guru kepada murid. Apalagi dengan istilah yang sekarang sering
digembar-gemborkan sebagai “pendidikan yang menciptakan manusia siap pakai. Dan “siap
pakai” di sini berarti menghasilkan tenaga-tenaga yang dibutuhkan dalam pengembangan dan
persaingan bidang industri dan teknologi. Memperhatikan secara kritis hal tersebut, akan nampak
bahwa dalam hal ini manusia dipandang sama seperti bahan atau komponen pendukung industri.
Itu berarti, lembaga pendidikan diharapkan mampu menjadi lembaga produksi sebagai penghasil
bahan atau komponen dengan kualitas tertentu yang dituntut pasar. Kenyataan ini nampaknya
justru disambut dengan antusias oleh banyak lembaga pendidikan.

2.sistem pendidikan yang top-down (dari atas ke bawah)


Sistem pendidikan ini sangat tidak membebaskan karena para peserta didik (murid)
dianggap manusia-manusia yang tidak tahu apa-apa. Guru sebagai pemberi mengarahkan kepada
murid-murid untuk menghafal secara mekanis apa isi pelajaran yang diceritakan. Guru sebagai
pengisi dan murid sebagai yang diisi. Otak murid dipandang sebagai safe deposit box, dimana
pengetahuan dari guru ditransfer kedalam otak murid dan bila sewaktu-waktu diperlukan,
pengetahuan tersebut tinggal diambil saja. Murid hanya menampung apa saja yang disampaikan
guru.
Jadi hubungannya adalah guru sebagai subyek dan murid sebagai obyek. Model
pendidikan ini tidak membebaskan karena sangat menindas para murid. Freire mengatakan
bahwa dalam pendidikan gaya bank pengetahuan merupakan sebuah anugerah yang dihibahkan
oleh mereka yang menganggap dirinya berpengetahuan kepada mereka yang dianggap tidak
mempunyai pengetahuan apa-apa.
3. Model Pendidikan
Manusia yang dihasilkan pendidikan ini hanya siap untuk memenuhi kebutuhan zaman
dan bukannya bersikap kritis terhadap zamannya. Manusia sebagai objek (yang adalah wujud
dari dehumanisasi) merupakan fenomena yang justru bertolak belakang dengan visi humanisasi,
menyebabkan manusia tercerabut dari akar-akar budayanya (seperti di dunia Timur/Asia).
Bukankah kita telah sama-sama melihat bagaimana kaum muda zaman ini begitu gandrung
dengan hal-hal yang berbau Barat? Oleh karena itu strategi pendidikan di Indonesia harus
terlebur dalam “strategi kebudayaan Asia”, sebab Asia kini telah berkembang sebagai salah satu
kawasan penentu yang strategis dalam bidang ekonomi, sosial, budaya bahkan politik
internasional. Bukan bermaksud anti-Barat kalau hal ini penulis kemukakan. Melainkan justru
hendak mengajak kita semua untuk melihat kenyataan ini sebagai sebuah tantangan bagi dunia
pendidikan kita. 
E. Solusi Masalah Kepemimpinan dalam Pendidikan
Secara garis besar ada dua solusi untuk mengatasi masalah-masalah kepemimpinan dalam
pendidikan, yaitu:
1. Solusi sistemik, yakni solusi dengan mengubah sistem-sistem sosial yang berkaitan dengan
sistem pendidikan. Seperti diketahui sistem pendidikan sangat berkaitan dengan sistem ekonomi
yang diterapkan. Sistem pendidikan di Indonesia sekarang ini, diterapkan dalam konteks sistem
ekonomi kapitalisme (mazhab neoliberalisme), yang berprinsip antara lain meminimalkan peran
dan tanggung jawab negara dalam urusan publik, termasuk pendanaan pendidikan.
2. Solusi teknis, yakni solusi yang menyangkut hal-hal teknis yang berkait langsung dengan
pendidikan. Solusi ini misalnya untuk menyelesaikan masalah kualitas guru dan prestasi siswa.
Solusi untuk masalah-masalah teknis dikembalikan kepada upaya-upaya praktis untuk
meningkatkan kualitas sistem pendidikan. Rendahnya kualitas guru, misalnya, di samping diberi
solusi peningkatan kesejahteraan, juga diberi solusi dengan membiayai guru melanjutkan ke
jenjang pendidikan yang lebih tinggi, dan memberikan berbagai pelatihan untuk meningkatkan
kualitas guru. Rendahnya prestasi siswa, misalnya, diberi solusi dengan meningkatkan kualitas
dan kuantitas materi pelajaran, meningkatkan alat-alat peraga dan sarana-sarana pendidikan, dan
sebagainya.
Maka dengan adanya solusi-solusi tersebut diharapkan pendidikan di Indonesia dapat
bangkit dari keterpurukannya, sehingga dapat menciptakan generasi-generasi baru yang ber-
SDM tinggi, berkepribadian pancasila dan bermartabat.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari pembahasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa, kepemimpinan dalam pendidikan
adalah kemampuan dan kesiapan yang dimiliki oleh seseorang untuk dapat mempengaruhi,
mendorong, mengajak, menuntun, menggerahkan, dan kalau perlu memaksa orang atau
kelompok agar menerima pengaruh tersebut dan selanjutnya berbuat sesuatu yang dapat
membantu tercapainya suatu tujuan tertentu yang telah ditetapkan. Masalah kepemimpinan
dalam pendidikan dapat diatasi dengan solusi sistemik dan solusi teknis misalnya, dengan
meminimalkan peran dan tanggung jawab negara dalam urusan publik dan meningkatkan
kualitas dan kuantitas materi pelajaran, meningkatkan alat-alat peraga dan sarana-sarana
pendidikan, dan sebagainya.

B. Saran
Saran saya sebagai penulis Seorang pemimpin adalah seseorang yang aktif membuat
rencana-rencana, mengkoordinasi,melakukan percobaan dan memimpin pekerjaan untuk
mencapai tujuan bersama.Karakteristik seorang pemimpin didasarkan pada prinsip-prinsip
belajar seumur hidup, berorientasi pada pelayanan dan membawa energi positif. Maka untuk
menjadi seorang pemimpin haruslah mempunyai pengetahuan dan jiwa pemimpin dan pemimpin
harus mampu mencari solusi dan mengatasi masalah-masalah dalam kepemimpinannya.