Anda di halaman 1dari 9

Hubungan Antara Aqidah Dan Syari’at

HUBUNGAN ANTARA AQIDAH DAN SYARI’AT

Oleh
Ustadz Abu Ismail Muslim Atsari

Termasuk perkara yang secara pasti telah diketahui dalam agama Islam, bahwa din (agama Islam)
meliputi ‘aqidah dan syari’at, ilmu dan amal. Keduanya merupakan kesatuan. Memisahkan di antara
keduanya merupakan kesesatan yang nyata.

MAKNA AQIDAH
Secara bahasa, ‘aqidah berasal dari kata al ‘aqdu. Artinya: mengikat, memutuskan, menguatkan,
mengokohkan, keyakinan, dan kepastian [1]. Adapun secara istilah, ‘aqidah memiliki makna umum dan
khusus. [2]

Makna ‘aqidah secara umum adalah, keyakinan kuat yang tidak ada keraguan bagi orang yang
meyakininya, baik keyakinan itu haq ataupun batil.

Sedangkan ‘aqidah dengan makna khusus adalah, ‘aqidah Islam, yaitu: pokok-pokok agama dan hukum-
hukum yang pasti, yang berupa keimanan kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para
nabi-Nya, hari akhir, serta beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk, serta perkara lainnya yang
diberitakan oleh Allah di dalam al Qur`an dan oleh Rasul-Nya di dalam hadits-hadits yang shahih.
Termasuk ‘aqidah Islam, yaitu kewajiban-kewajiban agama dan hukum-hukumnya yang pasti. Semuanya
itu wajib diyakini dengan tanpa keraguan.

MAKNA SYARI’AT [3]


Secara bahasa, syari’at berasal dari kata asy-syar’u. Yang memiliki arti: membuat jalan, penjelasan,
tempat yang didatangi, dan jalan. Adapun secara istilah, syari’at memiliki makna umum dan khusus.

Makna syari’at secara umum ialah, agama yang telah dibuat oleh Allah, mencakup ‘aqidah (keyakinan)
dan hukum-hukumnya. Sebagaimana tersebut dalam firman Allah Ta’ala:

‫ص ْينَا بِ ِه إِب َْرا ِهي َم َو ُمو َس ٰى َو ِعي َس ٰى ۖ أَ ْن أَقِي ُموا ال ِّدينَ َواَل تَتَفَ َّرقُوا فِي ِه ۚ َكب َُر َعلَى‬ َ ‫ِّين َما َوص َّٰى بِ ِه نُوحًا َوالَّ ِذي أَوْ َح ْينَا إِلَ ْي‬
َّ ‫ك َو َما َو‬ ِ ‫ش ََر َع لَ ُكم ِّمنَ الد‬
َ َ ‫هَّللا‬ َ
٤٢:١٣ ُ‫ال ُمش ِر ِكينَ َما تَ ْدعُوهُ ْم إِل ْي ِه ۚ ُ يَجْ تَبِي إِل ْي ِه َمن يَشَا ُء َويَ ْه ِدي إِل ْي ِه َمن يُنِيب‬ ْ ْ
“Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa
yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa,
yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah-belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang
musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang
dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya)”. [asy-
Syura/42:13].

Imam Abu Ja’far Ibnu Jarir ath-Thabari meriwayatkan dari as-Suddi tentang firman Allah Ta’ala “Dia
telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh”, dia
berkata: “(Maksudnya) yaitu agama semuanya (yakni semua bagian-bagiannya, Pen.)”.

Dari Qatadah tentang firman Allah Ta’ala “Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang
telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh”, dia berkata: “Allah telah mengutus Nuh ketika Dia mengutusnya
dengan syari’at, dengan menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram”.[4]

Juga firmanNya:

٤٥:١٨ َ‫َري َع ٍة ِّمنَ اأْل َ ْم ِر فَاتَّبِ ْعهَا َواَل تَتَّبِ ْع أَ ْه َوا َء الَّ ِذينَ اَل يَ ْعلَ ُمون‬ َ ‫ثُ َّم َج َع ْلنَا‬
ِ ‫ك َعلَ ٰى ش‬

“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syari’at (peraturan) dari urusan (agama itu), maka
ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui”. [al
Jatsiyah/45:18]

Imam asy-Syaukani dalam menjelaskan ayat ini, dia berkata:


Arti syari’at menurut bahasa Arab adalah, pendapat, agama, dan jalan yang terang. Syari’at juga berarti
tempat air yang didatangi oleh para peminumnya. (Dalam bahasa Arab, jalan disebut) syari’, karena ia
merupakan jalan menuju tujuan. Adapun yang dimaksudkan syari’at di sini -yakni menurut istilah agama-
yaitu apa yang Allah syari’atkan (buat peraturan) yang berupa agama, bentuk jama’nya adalah syaro-i’.

(Arti ayat ini) ialah, Kami telah menjadikan kamu –wahai Muhammad- berada di atas suatu jalan yang
jelas dari urusan (agama itu) yang akan mengantarkanmu menuju al haq. “Maka ikutilah syari’at itu”,
yaitu amalkanlah hukum-hukumnya pada umatmu. “Dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang
yang tidak mengetahui”, terhadap tauhidullah dan syari’a-syari’at-Nya untuk hamba-hamba-Nya, mereka
adalah orang-orang kafir Quraisy dan yang menyetujui mereka.[7]
Dari keterangan ini, jelaslah bahwa istilah syari’at pada ayat-ayat ini mencakup semua bagian agama
yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang berupa al haq (kebenaran) dan al huda
(petunjuk), dalam masalah ‘aqidah dan hukum-hukum.

Sedangkan makna syari’at secara khusus, yaitu peraturan yang dibuat oleh Allah yang berupa hukum-
hukum, perintah-perintah, dan larangan-larangan. Hal ini seperti firman Allah Ta’ala:

‫لِ ُك ٍّل َج َع ْلنَا ِمن ُك ْم ِشرْ َعةً َو ِم ْنهَاجًا‬

“Untuk tiap-tiap umat di antara kamu (maksudnya, umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam
dan umat-umat yang sebelumnya), Kami berikan syari’at (aturan) dan jalan yang terang”. [al
Maidah/5:48].

Telah diketahui bahwa maksud syari’at (aturan) dalam ayat ini adalah peraturan-peraturan, bukan ‘aqidah.
Karena ‘aqidah seluruh nabi semua sama, sedangkan peraturannya berbeda-beda sesuai dengan
keadaannya.[8]

Dengan demikian kita mengetahui, bahwa syari’at memiliki makna umum dan khusus. Jika syari’at
disebut sendiri, maka yang dimaksudkan adalah makna umum, yaitu agama Islam secara keseluruhan.
Sebaliknya, jika syari’at disebut bersama ‘aqidah, maka yang dimaksudkan adalah makna khusus, yaitu
hukum-hukum, perintah-perintah, dan larangan-larangan dalam masalah agama yang bukan ‘aqidah
(keyakinan).

HUBUNGAN ‘AQIDAH DENGAN SYARI’AT


Istilah ‘aqidah, jika disebut secara umum (sendirian), berarti menyangkut pokok-pokok dan hukum-
hukum syari’at dan keharusan dalam mengamalkannya. Sebagaimana istilah syari’at jika disebut secara
umum (sendirian), maka itu menyangkut perkara-perkara keimanan dan pokok-pokok serta hukum-
hukum syari’at yang pasti, yaitu ‘aqidah. Sebagaimana di atas telah dijelaskan dari firman Allah Ta’ala:

َ‫َش َر َع لَ ُكم ِّمنَ الدِّي ِن َما َوص َّٰى بِ ِه نُوحًا َوالَّ ِذي أَوْ َح ْينَا إِلَ ْيك‬

“Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa
yang telah Kami wahyukan kepadamu”. [asy-Syura/42:13]

Dengan demikian, maka ‘aqidah dan syari’at merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Sebagaimana telah diketahui bahwa iman itu meliputi keyakinan dan amalan. Keyakinan inilah yang
disebut dengan ‘aqidah, dan amalan ini yang disebut syari’at. Sehingga iman itu mencakup ‘aqidah dan
syari’at, karena memang iman itu, jika disebutkan secara mutlak (sendirian) maka ia mencakup keyakinan
dan amalan, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

َ ِ‫إِنَّ َما ْال ُم ْؤ ِمنُونَ الَّ ِذينَ آ َمنُوا بِاهَّلل ِ َو َرسُولِ ِه ثُ َّم لَ ْم يَرْ تَابُوا َو َجاهَدُوا بِأ َ ْم َوالِ ِه ْم َوأَنفُ ِس ِه ْم فِي َسبِي ِل هَّللا ِ ۚ أُو ٰلَئ‬
٤٩:١٥ َ‫ك هُ ُم الصَّا ِدقُون‬

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada
Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan
jiwa mereka pada jalan Allah. mereka Itulah orang-orang yang benar”. [al Hujurat/49:15].

Juga fimanNya:

٨:٢ َ‫ت َعلَ ْي ِه ْم آيَاتُهُ َزا َد ْتهُ ْم إِي َمانًا َو َعلَ ٰى َربِّ ِه ْم يَتَ َو َّكلُون‬ ْ َ‫إِنَّ َما ْال ُم ْؤ ِمنُونَ الَّ ِذينَ إِ َذا ُذ ِك َر هَّللا ُ َو ِجل‬
ْ َ‫ت قُلُوبُهُ ْم َوإِ َذا تُلِي‬

َّ ‫الَّ ِذينَ يُقِي ُمونَ ال‬


٨:٣ َ‫صاَل ةَ َو ِم َّما َر َز ْقنَاهُ ْم يُنفِقُون‬
٨:٤ ‫َري ٌم‬
ِ ‫قك‬ ٌ ‫أُو ٰلَئِكَ هُ ُم ْال ُم ْؤ ِمنُونَ َحقًّا ۚ لَّهُ ْم د ََر َج‬
ٌ ‫ات ِعن َد َربِّ ِه ْم َو َم ْغفِ َرةٌ َو ِر ْز‬

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah, gemetarlah hati
mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada
Tuhanlah mereka bertawakkal. (Yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan
sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-
benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Rabb-nya dan ampunan serta rizki
(nikmat) yang mulia”. [al-Anfal/8:2-4].

Dan ayat-ayat lain yang menunjukkan, bahwa iman itu terdiri dari keyakinan dan amalan.

Imam Muhammad bin Nashr al Marwazi berkata di dalam kitab ash-Shalat: “Perumpamaan iman pada
amalan, adalah seperti qalbu (hati, jantung) pada badan; keduanya tidak bisa dipisahkan. Tidak ada
seseorang yang memiliki badan yang hidup, namun tidak ada qalbunya. Juga tidak ada orang yang
memiliki qalbu, namun tanpa badan. Keduanya merupakan dua perkara yang berbeda, namun hukumnya
satu, sedangkan maknanya berbeda. Perumpamaan keduanya juga seperti biji yang memiliki luar dan
dalam, sedangkan biji itu satu. Tidak dikatakan dua, karena sifat keduanya yang berbeda. Maka demikian
juga amalan-amalan Islam dari (ajaran) Islam adalah iman sebelah luar, yaitu termasuk amalan-amalan
anggota badan. Sedangkan iman adalah Islam sebelah dalam, yaitu termasuk amalan-amalan hati”.[9]

Oleh karena itu, memisahkan syari’at dengan ‘aqidah, tidaklah dibenarkan menurut agama.
MENERAPKAN SYARI’AT
Menerapkan syari’at Allah di muka bumi merupakan kewajiban setiap muslim, secara individu atau
jama’ah, sebagai penguasa atau rakyat. Karena setiap orang mengemban amanah, dan setiap orang akan
dimintai tanggung jawab atas amanah tersebut. Allah Ta’ala berfirman memerintahkan RasulNya untuk
memutuskan perkara manusia dengan apa yang telah Allah turunkan:

ِ ‫ك ۖ فَإِن تَ َولَّوْ ا فَا ْعلَ ْم أَنَّ َما ي ُِري ُد هَّللا ُ أَن ي‬


‫ُصيبَهُم‬ َ ‫ْض َما أَن َز َل هَّللا ُ إِلَ ْي‬
ِ ‫نزَل هَّللا ُ َواَل تَتَّبِ ْع أَ ْه َوا َءهُ ْم َواحْ َذرْ هُ ْم أَن يَ ْفتِنُوكَ عَن بَع‬
َ َ‫َوأَ ِن احْ ُكم بَ ْينَهُم بِ َما أ‬
٥:٤٩ َ‫اسقُون‬ ِ َ‫اس لَف‬ ِ َّ‫ْض ذنُوبِ ِه ْم ۗ َوإِ َّن َكثِيرًا ِّمنَ الن‬ ُ ِ ‫بِبَع‬

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan
janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya
mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika
mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah
menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan
sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik”. [al Maidah/5:49].

Allah Ta’ala juga telah berfirman memerintahkan manusia untuk mengikuti syari’at-Nya dan
meninggalkan siapa saja yang bertentangan dengannya:

َ‫نز َل إِلَ ْي ُكم ِّمن َّربِّ ُك ْم َوالَ تَتَّبِعُوا ِمن دُونِ ِه أَوْ لِيَآ َء قَلِيالً َما تَ َذ َّكرُون‬ُ
ِ ‫اتَّبِعُوا َمآ أ‬

“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabb-mu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-
pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (dari padanya)”. [al A’raaf/7:3].

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Allah Ta’ala memerintahkan untuk mengikuti apa yang
diturunkan dari–Nya secara khusus, dan Dia memberitahukan bahwa barangsiapa mengikuti selain-Nya,
maka dia telah mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya”.[10]

KEWAJIBAN MENERAPKAN SYARI’AT ATAS SETIAP MUSLIM


Sebagian orang beranggapan bahwa menegakkan syari’at itu kewajiban penguasa, sehingga mereka selalu
menuntut penguasa untuk menerapkan hukum-hukum Allah, sedangkan mereka sendiri nampak jauh dari
tuntunan syari’at. Ini adalah pemahaman yang sempit, karena sesungguhnya menegakkan hukum Allah
merupakan kewajiban setiap muslim, baik dia sebagai penguasa atau rakyat biasa. Setiap orang
bertanggung jawab dengan tugasnya masing-masing.

Allah Azza wa Jalla berfirman:


َ َ‫ُوا فِي أَنفُ ِس ِه ْم َح َرجًا ِّم َّما ق‬
‫ضيْتَ َويُ َسلِّ ُموا تَ ْسلِي ًما‬ ْ ‫ك فِي َما َش َج َر َب ْينَهُ ْم ثُ َّم الَ يَ ِجد‬
َ ‫فَالَ َو َربِّكَ الَ ي ُْؤ ِمنُونَ َحتَّى يُ َح ِّك ُمو‬

“Maka demi Rabb-mu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman, hingga mereka menjadikan kamu hakim
terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu
keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”. [an
Nisaa`/4:65].

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Allah Ta’ala bersumpah dengan diri-Nya yang mulia, yang suci,
bahwa seseorang tidak beriman sampai dia menjadikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai
hakim di dalam segala perkara. Apa yang beliau putuskan adalah haq, yang wajib diterima secara lahir
dan batin. Oleh karena inilah Allah berfirman “kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati
mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”, yaitu jika
mereka telah menjadikanmu sebagai hakim, mereka mentaatimu di dalam batin mereka, kemudian tidak
merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka tunduk kepadanya
lahir-batin, menerimanya dengan sepenuhnya, tanpa menolak dan membantah”.[11]

Allah Azza wa Jalla juga berfirman:

‫ضالَالً ُّمبِينًا‬ ِ ‫ضى هللاُ َو َرسُولَهُ أَ ْمرًا أَن يَ ُكونَ لَهُ ُم ْال ِخيَ َرةَ ِم ْن أَ ْم ِر ِه ْم َو َمن يَع‬
َ ‫ْص هللاَ َو َرسُولَهُ فَقَ ْد‬
َ ‫ض َّل‬ َ َ‫َو َما َكانَ لِ ُم ْؤ ِم ٍن َوالَ ُم ْؤ ِمنَ ٍة إِ َذا ق‬

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila
Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang
urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat,
sesat yang nyata” [al Ahzab/33:36].

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Ayat ini, (bersifat) umum dalam segala perkara. Yaitu, jika
Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan sesuatu, maka tidak ada hak bagi siapapun menyelisihinya. Dan di
sini, tidak ada pilihan (yang lain) bagi siapapun, tidak ada juga pendapat dan perkataan”. [12]

Oleh karena itulah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ٌ‫ت زَ وْ ِجهَا َرا ِعيَة‬ ِ ‫اع َوهُ َو َم ْسئُو ٌل ع َْن َر ِعيَّتِ ِه َو ْال َمرْ أَةُ فِي َب ْي‬ ٍ ‫اع َو َم ْسئُو ٌل ع َْن َر ِعيَّتِ ِه َوال َّر ُج ُل فِي أَ ْهلِ ِه َر‬ ٍ ‫ُكلُّ ُك ْم َر‬
ٍ ‫اع َو َم ْسئُو ٌل ع َْن َر ِعيَّتِ ِه فَاإْل ِ َما ُم َر‬
َ َّ َ
ُ‫صلى ُ َعل ْي ِه َو َسل َم َوأحْ ِسب‬‫هَّللا‬ َّ َّ
َ ‫ْت هَؤُاَل ِء ِم ْن النبِ ِّي‬ ُ َ َ ُ
¹ ‫اع َوه َُو َم ْسئو ٌل ع َْن َر ِعيَّتِ ِه قا َل ف َس ِمع‬ ٍ ‫ال َسيِّ ِد ِه َر‬ ْ ٌ َ ُ
ِ ‫َو ِه َي َم ْسئولة ع َْن َر ِعيَّتِهَا َوالخَا ِد ُم فِي َم‬
‫اع َو ُكلُّ ُك ْم َم ْسئُو ٌل ع َْن َر ِعيَّتِ ِه‬
ٍ ‫ر‬
َ ‫م‬ ْ ُ
‫ك‬ ُّ ‫ل‬ ُ
‫ك‬ َ ‫ف‬ ‫ه‬
ِ ِ ‫ت‬َّ ‫ي‬ ‫ع‬
ِ ‫ر‬
َ ْ
‫َن‬‫ع‬ ‫ل‬
ٌ ‫و‬ُ ‫ئ‬ ْ
‫س‬ ‫م‬‫و‬َ
َ ٍ ‫اع‬ ‫ر‬
َ ‫ه‬
ِ ‫ي‬ ‫ب‬َ ‫أ‬
ِ ِ َ ‫ال‬‫م‬ ‫ي‬ ِ ‫ف‬ ‫ل‬
ُ ‫ج‬
ُ َّ
‫ر‬ ‫ال‬ ‫و‬َ ‫ال‬َ َ ‫ق‬ ‫م‬
َ َّ ‫ل‬ ‫س‬
َ ‫و‬
َ ‫ه‬
ِ ‫صلَّى هَّللا ُ َعلَ ْي‬
َ ‫ي‬ َّ ِ‫النَّب‬
“Setiap kamu adalah pemimpin, dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Maka imam adalah
pemimpin, dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Seorang laki-laki (kepala rumah tangga) adalah
pemimpin terhadap keluaganya, dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Seorang wanita (ibu rumah
tangga) adalah pemimpin di dalam rumah suaminya, dan akan ditanya tentang kepemimpinannya.
Seorang pelayan adalah pemimpin pada harta tuannya, dan akan ditanya tentang kepemimpinannya”. [HR
Bukhari, no. 2558, dari Ibnu ‘Umar]

Dengan demikian, maka setiap orang wajib menegakkan syari’at Islam sesuai dengan kemampuannya,
baik ia sebagai pejabat atau sebagai rakyat.

KEWAJIBAN MENERAPKAN SYARI’AT DALAM SEGALA ASPEK KEHIDUPAN


Termasuk perkara yang pokok dalam agama Islam, bahwa seorang muslim berkewajiban masuk ke dalam
agama Islam secara total, sesuai dengan kemampuannya. Seorang muslim wajib mengikuti Islam dalam
masalah ‘aqidah (keyakinan), ‘ibadah (ketundukan hamba kepada Penciptanya), mu’amalah (hubungan
antar manusia), politik, ekonomi, sosial, budaya, dan lainnya dalam segala aspek kehidupan ini. Sehingga
menerapkan syari’at Islam bukan hanya yang berkaitan dengan ‘ibadah mahdhah (murni) dan urusan
pribadi saja. Juga bukan hanya yang berkaitan dengan pemerintahan saja. Bahkan wajib menegakkan
hukum Allah dalam seluruh aspek kehidupan, sesuai dengan kemampuan. Semua sisi syari’at Islam
adalah penting. Dan yang paling penting adalah aspek ‘aqidah, yaitu tauhid.

Allah Ta’ala mengecam orang-orang Yahudi yang mengimani sebagian ajaran kitab Taurat dan
mengingkari sebagaian lainnya, dalam firman-Nya:

ِ ‫ي فِي ْال َحيَا ِة ال ُّد ْنيَا ۖ َويَوْ َم ْالقِيَا َم ِة ي َُر ُّدونَ إِلَ ٰى أَ َش ِّد ْال َع َذا‬
‫ب ۗ َو َما‬ َ ِ‫ْض ۚ فَ َما َج َزا ُء َمن يَ ْف َع ُل ٰ َذل‬
ٌ ‫ك ِمن ُك ْم إِاَّل ِخ ْز‬ ِ ‫ْض ْال ِكتَا‬
ٍ ‫ب َوتَ ْكفُرُونَ بِبَع‬ ِ ‫أَفَتُ ْؤ ِمنُونَ بِبَع‬
ُ
٢:٨٥ َ‫ُ بِغَافِ ٍل َع َّما تَ ْع َملون‬ ‫هَّللا‬

“Apakah kamu (Bani Israil) beriman kepada sebahagian al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian
yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam
kehidupan dunia, dan pada hari Kiamat, mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak
lengah dari apa yang kamu perbuat” [al Baqarah/2:85].

Walaupun sebab turunnya ayat ini mengenai orang-orang Yahudi, tetapi kandungannya bersifat umum,
yang juga menyangkut orang-orang yang memiliki sifat seperti mereka dari kalangan kaum Muslimin.
Sebagaimana telah diketahui dari kaidah tafsir:

ِ ْ‫اَ ْل ِع ْب َرةُ بِ ُع ُموْ ِم اللَّ ْف ِظ الَ بِ ُخصُو‬


ِ َ‫ص ال َّسب‬
‫ب‬
“Yang dinilai adalah dengan keumuman lafazh, bukan dengan kekhususan sebab”.

Allah juga berfirman memerintahkan orang-orang beriman untuk memasuki agama Islam secara total,
sebagaimana firman-Nya:

ِ ‫يَا أَيُّهَا الَّ ِذينَ آ َمنُوا ا ْد ُخلُوا فِي الس ِّْل ِم كَافَّةً َواَل تَتَّبِعُوا ُخطُ َوا‬
ٌ ِ‫ت ال َّش ْيطَا ِن ۚ إِنَّهُ لَ ُك ْم َع ُدوٌّ ُّمب‬
٢:٢٠٨ ‫ين‬

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut
langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu”. [al Baqarah/2:208].

Semua itu harus dilakukan dengan ikhlas untuk Allah Rabbul-‘Alamin.

٦:١٦٢ َ‫ي َو َم َماتِي هَّلِل ِ َربِّ ْال َعالَ ِمين‬ َ ‫قُلْ إِ َّن‬
َ ‫صاَل تِي َونُ ُس ِكي َو َمحْ يَا‬
ُ ْ‫ك لَهُ ۖ َوبِ ٰ َذلِكَ أُ ِمر‬
٦:١٦٣ َ‫ت َوأَنَا أَ َّو ُل ْال ُم ْسلِ ِمين‬ ِ ‫اَل ش‬
َ ‫َري‬

“Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadah qurbanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah,
Rabb semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku
adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. [al An’am/6:162-163].

ANCAMAN MENYIMPANG DARI HUKUM ALLAH


Banyak ayat-ayat al Qur`an dan hadits-hadits Nabi yang mengancam orang-orang yang menyimpang dari
hukum Allah Ta’ala. Di antaranya adalah firmanNya:

‫ت َوقَ ْد أُ ِمرُوا أَن يَ ْكفُرُوا بِ ِه َوي ُِري ُد‬


ِ ‫ك ي ُِري ُدونَ أَن يَتَ َحا َك ُموا إِلَى الطَّا ُغو‬ ُ ُ
ِ ‫أَلَ ْم ت ََر إِلَى الَّ ِذينَ يَ ْز ُع ُمونَ أَنَّهُ ْم آ َمنُوا بِ َما أ‬
ِ ‫نز َل إِلَ ْيكَ َو َما أ‬
َ ِ‫نز َل ِمن قَ ْبل‬
٤:٦٠ ‫ضاَل اًل بَ ِعيدًا‬ َّ
َ ‫ُضلهُ ْم‬ َ
ِ ‫ال َّش ْيطَانُ أن ي‬

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang
diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada
thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan setan bermaksud menyesatkan
mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu
(tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-
orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu”. [an-Nisaa`/4:60-
61].
Hendaklah kita mengetahui bahwa semua hukum yang bertentangan dengan hukum Allah adalah hukum
jahiliyah. Allah berfirman:

٥:٥٠ َ‫أَفَ ُح ْك َم ْال َجا ِهلِيَّ ِة َي ْب ُغونَ ۚ َو َم ْن أَحْ َسنُ ِمنَ هَّللا ِ ُح ْك ًما لِّقَوْ ٍم يُوقِنُون‬

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada
(hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” [al Maidah/5:50]

Semoga Allah memberikan petunjuk kepada semua kaum Muslimin untuk mengamalkan syari’at Allah
dalam seluruh sisi kehidupan mereka.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun XI/1428H/2007M. Diterbitkan Yayasan Lajnah
Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
_______
Footnote
[1]. Mu’jamul Wasith, Bab ‫ عقد‬.
[2]. At-Talazum Bainal ‘Aqidah wasy-Syari’ah, hlm. 9, karya Syaikh Dr. Nashir bin Abdul Karim al
‘Aql.
[3]. Ibid., hlm. 10-11.
[4]. Lihat dua riwayat ini di dalam Tafsir ath-Thabari, Juz 11, hlm. 134.
[5]. Tafsir ath-Thabari, Juz 11, hlm. 258.
[6]. Tafsir Ibnu Katsir, Juz 4, hlm. 191.
[7]. Tafsir Fathul-Qadir, Juz 5, hlm. 11.
[8]. Lihat Tafsir ath-Thabari, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Fathul-Qadir, pada ayat ini.
[9]. Kitabul-Iman, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, hlm. 283.
[10]. I’lamul Muwaqqi’in (2/46), Penerbit Darul-Hadits, Kairo, Th. 1422 H / 2002 H.
[11]. Tafsir Ibnu Katsir, surat an-Nisaa`/4 ayat 65.
[12]. Ibid., surat al Ahzab/33 ayat 36.

Read more https://almanhaj.or.id/2882-hubungan-antara-aqidah-dan-syariat.html