Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN

MAGANG LAPANGAN

Oleh :
DANU SUWANDANA SAPUTRA, S. KM
19850329 201902 1 003

PERWAKILAN BADAN KEPENDUDUKAN DAN


KELUARGA BERENCANA NASIONAL
PROVINSI JAWA BARAT

BANDUNG 2020
KATA PENGATAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan
kesehatan dan kelancaran sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Kegiatan
Magang CPNS BKKBN Tahun Penerimaan 2019. Laporan ini disusun sebagai
salah satu persyaratan yang harus dipenuhi dalam Kegiatan Magang Lapangan
Badan kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Tahun 2019.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan rasa terima kasih kepada :
1. Bapak Drs. H. Sudayat selaku mentor dan PKB yang telah bersedia
meluangkan waktunya untuk berdiskusi dan membimbing dengan penuh
ketelitian.
2. Ibu Reti Herawati, S. Pd, M. Mpd selaku PKB yang telah bersedia
membimbing dengan penuh kesabaran.
3. Bapak Asep Supriatna, S. Sos, Bapak Cece Kurniawan, Ibu Siti Azizah, Ibu
Wiwin Listiawati selaku TPD yang telah bersedia membimbing dengan
penuh kesabaran.
4. Ibu Siti Elah Julaeha selaku kepala UPT DP2KBP3A Kecamatan Cisarua
yang bersedia memberikan masukan berguna untuk keberlangsungan
laporan yang lebih baik.
5. Fatma Kurnia, S. Psi. selaku rekan perjuangan selama magang lapangan
yang saling memotivasi dan membantu setiap kegiatan dan pelaporan.
6. Seluruh pihak UPT DP2KBP3A Kecamatan Cisarua dan teman- teman
CPNS angkatan 2019 yang telah memberikan motivasi sehingga saya dapat
menyelesaikan laporan magang ini.

Penulis menyadari laporan kegiatan magang ini masih jauh dari


kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik perbaikan
untuk laporan kegiatan magang ini. Akhir kata, penulis mengharapkan semoga
laporan kegiatan magang ini dapat bermanfaat bagi seluruh pihak.

i
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ...............................................................................................i
DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................1
A.Latar Belakang .............................................................................................. 1
B.Maksud dan Tujuan .......................................................................................2
BAB II PELAKSANAAN KEGIATAN ..................................................................3
A.Waktu dan Wilayah Kerja Magang ............................................................... 3
B.Mekanisme Operasional ................................................................................3
a. Staff Meeting............................................................................................. 5
b. Loka Karya Mini ......................................................................................5
c. Rakor Kecamatan .....................................................................................6
d. Pertemuan Forum Pos KB Desa ........................................................................ 7
e. Rakor Desa ......................................................................................................... 7
f. Pertemuan Pos KB Desa ..................................................................................... 7
g. Pencatatan dan pelaporan ................................................................................... 8
C.10 Langkah PKB ........................................................................................... 9
1. Pendekatan Tokoh Formal ........................................................................9
2. Pendataan dan Pemetaan ..........................................................................9
3. Pendekatan Tokoh Informal .....................................................................9
4. Pembentukan Kesepakatan .....................................................................10
5. Pemantapan Kesepakatan .......................................................................10
6. KIE oleh Tokoh Masyarakat ...................................................................10
7. Pembentukan Grup Pelopor ...................................................................10
8. Pelayanan KB ......................................................................................... 11
9. Pembinaan Peserta .................................................................................. 11
10. Evaluasi Pencatatan dan Pelaporan ...................................................... 11
D.Implementasi Kampung KB ....................................................................... 11
E.Poktan .........................................................................................................12
a. Kelompok Bina Keluarga Remaja (BKR) ..............................................12

ii
b. Kelompok Bina Keluarga Balita (BKB) ................................................13
c. Kelompok Bina Keluarga Lansia (BKL) ................................................13
d. Kelompok Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera ...........13
e. Pusat Informasi dan Konseling Remaja .................................................13
BAB III CAPAIAN DAN DAMPAK KEGIATAN................................................14
BAB IV PENGALAMAN PEMBELAJARAN .....................................................17
BAB V PENUTUP .................................................................................................18
A. Kesimpulan ................................................................................................ 18
B. Saran ...........................................................................................................18
LAMPIRAN

iii
BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional yang disingkat
BKKBN adalah suatu lembaga Non Kementerian yang memiliki tugas dan fungsi,
pokok, dan fungsi Perumusan kebijakan nasional, pemaduan dan sinkronisasi
kebijakan di bidang KKB; Penetapan norma, standar, prosedur dan kriteria di
bidang KKB; Pelaksanaan advokasi dan koordinasi di bidang pengendalian
penduduk dan KB; Penyelenggaraan komunikasi, informasi dan edukasi di bidang
KKB; Penetapan perkiraaan pengendalian penduduk secara nasional; Penyusunan
desain Program KKBPK; Pengelolaan tenaga penyuluh KB/petugas lapangan KB
(PKB/PLKB); Pengelolaan dan penyediaan alat dan obat kontrasepsi untuk
kebutuhan Pasangan Usia Subur (PUS) nasional; Pengelolaan dan pengendalian
sistem informasi keluarga Pemberdayaan dan peningkatan peran serta organisasi
kemasyarakatan tingkatnasional dalam pengendalian pelayanan dan pembinaan
kesertaan ber-KB dan Kesehatan Reproduksi (KR); Pengembangan desain
program pembangunan keluarga melalui pembinaan ketahanan dan kesejahteraan
keluarga; Pemberdayaan dan peningkatan peran serta organisasi kemasyarakatan
tingkat nasional dalam pembangunan keluarga melalui ketahanan dan
kesejahteraan keluarga; Standardisasi pelayanan KB dan sertifikasi tenaga
penyuluh KB/petugas lapangan KB (PKB/PLKB); Penyelenggaraan pemantauan
dan evaluasi di bidang pengendalian penduduk dankeluarga berencana; dan
Pembinaan, pembimbingan dan fasilitas di bidang KKB.
Sejalan dengan salah satu fungsi BKKBN sebagai Pemberdayaan dan
peningkatan peran serta organisasi kemasyarakatan tingkatnasional dalam
pengendalian pelayanan dan pembinaan kesertaan ber-KB dan Kesehatan
Reproduksi (KR) yang ditunjukan dengan pembentukan Kampung KB yang di
dalamnya memiliki program membangun keluarga menjadi lebih sejahtera serta
meningkatkan keikutsertaan Pasangan Usia Subur (PUS) untuk ber-KB.
Pada tahun 2018 BKKBN melakukan rekrutmen CPNS sebanyak 831
orang guna memperkuat program KKBPK di masyarakat dengan dilakukannya
orientasi pada CPNS Tahun 2018. Berdasarkan kegiatan yang telah dilaksanakan,
para CPNS masih perlu mendapatkan pembelajaran yang lebih komprehensif yaitu
pembelajaran secara langsung tentang implementasi Program KKBPK di lapangan.

1
Para CPNS harus mendapatkan pengalaman berkarya di lingkungan masyarakat
sehingga dapat mengetahui berjalannya program di lini lapangan seperti
mekanisme operasional lini lapangan, peran dan tugas PKB, Kampung KB,
operasional kelompok kegiatan dan pencatatan serta pelaporan program KKBPK.
Dengan demikian, para CPNS dapat mengetahui tentang pemetaan sasaran
program di wilayah. Selanjutnya, diharapkan menjadi suatu cara pikir dan kerja
berdasarkan data yang ada.
Berdasarkan uraian di atas, maka BKKBN Pusat dan Perwakilan BKKBN
Provinsi menyelenggarakan program Magang Lapangan CPNS Penerimaan Tahun
2019 yang dilaksanakan oleh Biro Kepegawaian dan Perwakilan BKKBN
Provinsi. Diharapkan dengan adanya magang lapangan dapat
mengimplementasikan pengetahuan yang telah diperoleh selama masa Orientasi
CPNS dan Latihan Dasar kepada masyarakat serta berkontribusi dengan
melakukan inovasi terhadap kegiatan yang ada di lapangan.

B. Maksud dan tujuan


1. Meningkatnya kompetensi CPNS dalam mengimplementasikan Program
KKBPK di lini lapangan
2. Meningkatkan pengetahuan CPNS mengenai 10 Langkah PLKB
3. Meningkatkan pengetahuan CPNS mengenai Meknisme Operasional Lini
Lapangan
4. Dapat mengimplementasikan pengetahuan yang telah diperoleh selama masa
Orientasi CPNS dan Latihan Dasar kepada masyarakat serta berkontribusi
dengan melakukan inovasi terhadap kegiatan yang ada di lapangan

2
BAB II PELAKSANAAN KEGIATAN

A. Waktu dan Wilayah Kerja Magang


Waktu magang dilakukan dari 13 Januari sampai dengan 13 Maret 2020 yang
dilakukan di wilayah kerja UPT DP2KBP3A Kabupaten Bandung Barat yang
meliputi Kecamatan Cisarua.

B. Mekanisme Operasional
Paradigma otonomi daerah yang terus berkembang dewasa ini tentunya
membawa perubahan terhadap semua lembaga pemerintah sebagai pelaksana
kebijakan pembangunan. Kondisi ini telah mendorong para pembuat kebijakan
dalam Pembangunan keluarga berencana untuk menata kembali lembaga dan
struktur organisasi agar dapat bertahan dan menyesuaikan diri dalam paradigm
otonomi daerah.
PKB/PLKB sebagai pelaksana dan ujung tombak Pembangunan Keluarga
Berencana harus berupaya menata kembali system Operasional Program KB
walaupun dalam bentuk dan kemasan baru yang sesuai dengan kondisi disetiap
wilayah garapan, mekanisme operasional program keluarga berencana merupakan
system yang saling berhubungan satu sama lain sehingga apabila satu bagian
system tidak dilakukan akan berdampak terhadap pencapaian program yang telah
direncanakan tidak sesuai dengan yang diharapkan.
Mekanisme Operasional adalah bekerjanya atau berfungsinya berbagai
langkah-langkah operasional Program KKBPK secara teratur, terencana dan terus-
menerus yang satu sama lain saling berkaitan, berkesinambungan, bersinergi, dan
berkelanjutan dengan melibatkan seluruh potensi yang ada di kecamatan,
desa/kelurahan, RW/dusun dan RT dalam upaya mencapai sasaran Program
KKBPK.
Dibawah ini dapat dilihat gambar Mekanisme Operasional di lini lapangan
yang harus di pahami oleh seluruh petugas lapangan keluarga

3
Gambar 1
Mekanisme Operasional Program KB

Program KB dan PP akan tetap eksis dan diterima oleh masyarakat, maka para
Petugas Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan harus memiliki
konsekuensi dan berupaya menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi
lingkungan strategis di setiap tingkatan, sehingga perubahan dan penyesuaian
Mekanisme Operasional Program KB dan PP harus tetap dilaksanakan dengan
format yang disesuaikan dengan perubahan yang terjadi di masyarakat.
Dalam upaya mengembangkan dan membangun sistem operasional maka
diperlukan langkah kongkrit, melalui upaya penataan kembali Mekanisme
Operasional Program KB dan PP dalam paradigma otonomi daerah. Aspek - aspek
yang perlu mendapat perhatian utama dalam upaya penataan kembali Mekanisme
Operasional Program Keluarga Berencana antara lain:
1. Mencermati dan mempelajari karakteristik kekuatan, peluang, tantangan dan
hambatan melalui analisis SWOT.
2. Mendayagunakan unsur-unsur sumber daya yang dapat dimaksimalkan untuk
mendukung program.

4
3. Menggalang dukungan fisik dan non fisik untuk mengembangkan mitra kerja
dan jaringan kerja.
4. Melakukan advokasi kepada penentu kebijakan disemua tingkatan untuk
mendapatkan ayoman dalam setiap tindakan
Dengan mempertimbangkan berbagai aspek utama tersebut diharapkan semua
pihak dapt mempelajari dan mengaplikasikan mekanisme operasional dilapangan
sehingga tantangan dan hambatan dapat diatasi dengan hasil kesepakatan semua
pihak, sehingga penerapan mekanisme operasional akan memperkuat pencapaian
tujuan program. Mekanisme operasional yang dilakukan ditingkat Kecamatan dan
Desa tidak dapat dilaksanakan dalam kegiatan yang berbeda, namun satu sama lain
saling keterkaitan dan ketergantungan serta saling melengkapi untuk mencapai
suatu tujuan yang telah ditetapkan. Mekanisme operasional tersebut diantaranya
adalah :
a. Staff Meeting
Staff Meeting merupakan forum pertemuan intern mingguan antara Kepala
UPT PPKB, Kasubag TU, PKB/PLKB dan seluruh TPD yang ada di wilayah
kecamatan binaannya dalam rangka mengevaluasi dan menyusun rencana
kegiatan, baik rencana mingguan maupun bulanan bahkan rencana kegiatan
tahunan. Pokok-pokok hasil yang diharapkan dari pertemuan ini adalah :
1. Terevaluasinya seluruh rangkaian proses dari hasil kegiatan operasional
program KB dan PP yang dilaksanakan oleh setiap PKB/PLKB/TPD
dalam kurun waktu mingguan.
2. Pemecahan masalah program KB yang dihadapi PKB/PLKB/TPD di desa
garapannya.
3. Semakin rapihnya penyelenggaraan pencatatan dan pelaporan termasuk
menyelesaikan SPJ kegiatan yang dilaksanakan oleh PKB/PLKB/TPD.
4. Meningkatnya pengetahuan, keterampilan serta motivasi kerja setiap
PKB/PLKB/TPD.
5. Tersusunnya rencana dan program kerja setiap PKB/PLKB/TPD, baik
rencana mingguan, bulanan dan rencana tahunan.
b. Lokakarya Mini
Lokakarya Mini merupakan forum pertemuan intern bulanan petugas
Puskesmas dengan Petugas lapangan KB dan Kader dalam rangka
mengevaluasi dan menyusun jadwal pelayanan KB-Kes. Di tingkat

5
Puskesmas/Kecamatan sebagai persiapan Rakor Kecamatan. Pokok-pokok
hasil yang diharapkan dari pertemuan ini adalah :
1. Evaluasi program KBPP dan hasil kegiatan pelayanan KB-Kesehatan
yang telah dilaksanakan.
2. Pemecahan masalah yang menyangkut penyelenggaraan pelayanan KB-
Kesehatan.
3. Menyusun jadwal pelayanan KB-Kesehatan setiap bulan untuk
selanjutnya dibawa ke forum rakor atau sebagai bahan penyusunan
rencana kegiatan IMP pada saat pertemuan IMP di tingkat Desa.
4. Meningkatkan Pencatatan dan Pelaporan (R/R) Klinik KB.
5. Meningkatnya keterpaduan antara Petugas Lapangan KB dengan petugas
Puskesmas.
6. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petugas dan kader dalam
penyelenggaraan pelayanan KB-Kes.
7. Distribusi kebutuhan alat dan obat kontrasepsi untuk memenuhi
kebutuhan pembinaan peserta KB di setiap Desa.
c. Rakor Kecamatan
Rakor kecamatan atau Rapat Koordinasi Kecamatan merupakan Rapat
Dinas unruk tingkat Kecamatan yang dihadiri oleh para Kepala Desa, Dinas
Instansi ataupun unsur-unsur lainnya.
Kegiatan Rakor Kecamatan dilaksanakan untuk menyampaikan dan
mengevaluasi kegiatan atau program satu bulan yang lalu yang melibatkan
lintas sektor, sehingga Rakor Kecamatan dapat dijadikan sebagai sarana dan
wahana penggalangan kesepakatan dan forum penegasan untuk tingkat
Kecamatan. Dalam Rakor Kecamatan tidak menutup kemungkinan dihadiri
oleh Ormas, LSOM dan LSM lainnya, sehingga pelaksanaan berbagai
kegiatan sekaligus untuk mendapatkan dukungan dari lintas sektor.
Rakor Kecamatan dipimpin oleh Camat atau yang mewakilinya, kegiatan
ini biasanya dilaksanakan satu kali dalam sebulan. Apabila ada kegiatan atau
program yang harus disampaikan dalam setiap minggu, maka Rapat Minggon
Kecamatan sebagai sarananya. Hasil yang diharapkan dari rakor kecamatan
ini adalah sebagai berikut :
1. Evaluasi hasil kegitan operasional Program KB dan PP di tingkat
Kecamatan.

6
2. Pemecahan masalah dalam pelaksanaan Program KB dan PP.
3. Informasi kegiatan atau program-program baru kepada setiap pengelola
dan pelaksana di tingkat Kecamatan.
4. Membuat kesepakatan program dalam bentuk jadwal operasional
pelaksana kegiatan yang melibatkan sector-sektor terkait di tingkat
Kecamatan.
d. Pertemuan Forum Pos KB Desa
Pertemuan Forum Pos KB Desa merupakan forum pertemuan bulanan
seluruh Ketua Pos KB Desa dengan Ketua Forum Pos KB Desa dalam rangka
mengevaluasi dan meyusun rencana kerja Pos KB Desa. Pokok-pokok hasil
yang diharapkan dari pelksanaan pertemuan ini diantaranya adalah :
1. Evaluasi hasil kegiatan setiap ketua Pos KB Desa sesuai dengan tugas
dan perannya dilapangan.
2. Pemecahan masalah yang muncul, sekaligus mencari solusi yang terbaik
untuk mengatasi dalam pelaksanaan kegiatan setiap Ketua Pos KB Desa.
3. Membuat rencana kerja terpadu oleh setiap Ketua Pos KB Desa.
4. Meningkatkan pengetahuan, ketermapilan, was an dan peran Pos KB
Desa dalam pengelolaan dan pelaksanaan Program KB dan PP di tingkat
Kecamatan dan Desa.
e. Rakor Desa
Rakor Desa merupakan forum pembentukan kesepakatan bulanan yang
diselenggarakan oleh Kepala Desa dengan seluruh pelaksana/pengelola
Program KB dan PP di tingkat Desa. Pokok-pokok hasil yang dihaapkan dari
forum ini adalah :
1. Evaluasi rangkaian proses dan hasil kegiatan program KB dan PP di
tingkat Desa.
2. Pemecahan masalah yang ada dalam pelaksanaan kegiatan Program KB
dan PP di tingkat Desa.
3. Adanya kesepakatan dalam penggarapan Program KB dan PP di tingkat
Desa, RW dan RT dengan sasaran adalah keluarga.
f. Pertemuan Pos KB Desa
Pertemuan Pos KB Desa merupakan forum pertemuan bulanan antara Pos
KB Desa dengan Sub KB Desa, Kder Posyandu, Pengurus Poktan ditambah
dengan Kader PKK dalam rangka mengevaluasi dan menyusun rencana kerja

7
Program KB dan PP di tingkat Desa. Pokok-pokok hasil yang diharapkan dari
pertemuan ini, antara lain:
1. Evaluasi hasil kegiatan setiap Sub Pos KB Desa sesuai dengan tugas dan
perannya dilapangan.
2. Pemecahan masalah yang muncul dalam pelaksanaan kegiatan yang
dilakukan oleh seluruh Sub Pos KB Desa.
3. Membuat rencana kegiatan terpadu oleh seluruh Sub Pos KB Desa.
4. Meningkatkan wawasan, pengetahuan, keterampilan serta peran Sub Pos
KB Desa dalam Pengelolaan dan Pelaksanaan Program KB dan PP di
tingkat Desa/Kelurahan , RW dan RT.
g. Pencatatan dan Pelaporan
Pencatatan dan pelaporan yang lebih dikenal dengan nama R/R
merupakan kegiatan untuk mencatat hal-hal yang berkaitan dengan input,
proses dan hasil kegiatan, untuk kemudian dengan menggunakan formulir
yang telah ditentukan. R/R dibuat untuk mengetahui hasil yang dicapai
berdasarkan rencana yang telah ditentukan dan kemudian digunakan untuk
menyusun rencanadan kebijakan kerja selanjutnya.
Hasil dari R/R akan dapat digunakan sebagai dasar untuk menyusun
kebijakan dan rencana operasional, apabila dicatat dan dilaporkan sesuai
dengan kondisi sebenarnya dilapangan, menggunakan system R/R yang
berlaku serta dilaporkan tepat waktu. R/R disusun pada akhir bulan. Jadi pada
intinya PLKB mempunyai tugas dalam pencatatan dan pelaporan (R/R)
meliputi :
1. Mencatat seluruh kegiatan yang dilaksanakan sendiri (PLKB)
2. Membina dan melakukan rekapitulasi R/R yang dilaksanakan oleh IMP
dan Poktan
3. Memanfaatkan hasil R/R untuk menyusun rencana kerja dan menetapkan
kegiatan operasional bulan depan.
4. Kepala UPT DP2KBP3A beserta PKB dan TPD melakukan rekapitulasi
R/R dan melaporkan ke tingkat Kabupaten.
Dengan demikian kegiatan R/R mulai dari Poktan, IMP dan PLKB
seluruhnya melakukan hal tersebut secara berjenjang untuk merangkum
seluruh hasil kegiatan dan operasional di lapangan, kemudian dikemas dalam
bentuk laporan rutin bulanan.

8
C. 10 Langkah PKB
Dalam opersional Program KB dan PP yang dilakukan oleh PKB/PLKB
berpedoman pada Pedoman Kerja yang telah ada. Untuk menjalankan mekanisme
operasional Program KB dan PP PKB/PLKB selalu dibekali dengan langkah kerja
yang disebut dengan 10 langkah kerja PKB.seorang PKB/PLKB harus memahai
dan melaksanakan sepuluh langkah ini walaupun tidak harus kesemuanya
dijalankan, hal ini sangat tergantung kemampuan PKB/PLKB dalam menggerakan
masyarakat di Desa/Kelurahan yang dibinanya, tetapi sebaiknya 10 langkah PLKB
itu dilakukan sesuai urutannnya sehingga bila tidak dilakukan sulit bagi PLKB/
PKB menjalankan mekanisme operasional di wilayah tugasnya. Dalam
melaksanakan 10 langkah PKB harus memperhatikan Data, Tokoh Lokal,
kebutuhan masyarakat dan memcatat hasil kerja.
1. Pendekatan Tokoh Formal
Langkah awal yang harus dilakukan oleh PLKB/ PKB dalam suatu
daerah baru atau dalam mengembangkan kegiatan baru adalah menghadap
kepala desa/ lurah untuk melaporkan kehadirannya di desa, berbagai wawasan
(share vision) program KB sebagai program pemerintah. Memohon
dukungan, serta izin untuk melakukan pendataan dan pemetaan bersama kader
IMP di wilayah kerjanya yang baru. PLKB kemudian melakukan kunjungan
kepada para tokoh-tokoh formal lain diwilayah kerjanya yang terdiri dari
petugas tingkat desa/ kelurahan, seperti bidan desa, petugas agama, petugas
penerangan dll.
2. Pendataan dan Pemetaan
PLKB/ PKB melakukan pengenalan wilayah, mencakup batas wilayah,
data kependudukan dll, yang revelan dengan KB atau kegiatan baru yang akan
dikembangkan (misalnya: BKB, BKR, BKL, dan BLKI) terutama tokoh
formal terkait dan tokoh informal dimasing-masing RW/ RT untuk mengenal
wilayah kerjanya. Hasil pendataan kemudian dipetakan sebagai dasar kegiatan
operasional ke depan.
3. Pendekatan Tokoh Informal
PLKB/ PKB mengevaluasi hasil pemetaan dan menentukan tokoh yang
akan dikunjungi. Pendekatan dilakukan untuk menjelaskan manfaat program
KB bagi masyarakat, pentingnya para tokoh berperan dalam program yang
bersangkutan. Kemudian PLKB / PKB memohon kesediaannya untuk

9
mengajak panutannya untuk peduli dan berperan serta dalam program
ini.Mereka yang menyatakan kesediaannya dan juga yang masih ragu,
dikelompokkan tersendiri, sedang tokoh yang secara tegas menolak dicatat
secara khusus berikut alasan dan latar belakang ketokohannya.
4. Pembentukan Kesepakatan
Para tokoh yang telah menyatakan kesediaanya dan juga masih ragu
untuk mendukung program, diundang oleh kepala desa/ lurah untuk hadir
dalam musyawarah masyarakat desa (MMD), di buka oleh kades/ lurah, beliau
menyampaikan program pemerintah baru, mengajak para tokoh untuk
berpartisipasi mendukung.
Secara teknis program dijelaskan oleh petugas KB/ Kesehatan
menguraikan program yang akan dilaksanakan serta manfaatnya bagi
masyarakat. Kemudian tokoh masyarakat lain, khususnya tokoh masyarakat
lokal diberi kesempatan untuk mengajak para tokoh untuk membantu.
Kebulatan tekad semua pihak, menjadi target dari pertemuan ini.
5. Pemantapan Kesepakatan
Musyawarah masyarakat desa (MMD) kemudian ditindak lanjuti
dengan kunjungan ke masing-masing tokoh yang hadir, untuk meminta
realisasi kesepakatan berupa jadwal KIE tokoh yang bersangkutan kepada
masyarakat yang menganutnya. Kemudian jadwal diedarkan, ditanda tangani
oleh kades/ lurah. Besarnya acara KIE di masingmasing tokoh menunjukkan
bobot ketokohannya.
6. KIE oleh Tokoh Masyarakat
Pada pertemuan yang dihadiri masyarakat panutannya ini para petugas
serta tokoh yang lain menjelaskantentang program, manfaat dan pentingnya
peran sertamasyarakat. Tokoh pengundang akhirnya menyatakan restunya
terhadap program dan mengajak masyarakat panutannya untuk berpartisipasi.
7. Pembentukan Grup Pelopor
PLKB/ PKB melakukan pendataan bersama tokoh yang bersangkutan,
mencatat keluarga yang bersedia menjadi peserta pada acara pelayanan yang
akan dilaksanakan segera setelah KIE oleh tokoh dilaksanakan. Tahapan ini
juga akan menunjukan seberapa taat atau patuh masyarakat terhadap
seruannya. Sering terjadi pelayanan IUD, misal yang ditawarkan dalam KIE

10
oleh tokoh ternyata kurang diminati. Akhirnya tokoh lebih mengutamakan
keluarganya sendiri untuk dilayani.
8. Pelayanan KB
PLKB/ PKB menyelenggarakan pelayanan KB/ KS bekerja sama
dengan petugas medis, agama, penerangan, guru dll.. Untuk menyukseskan
program ini, tokoh mengarahkan masyarakat lingkungannya, terutama yang
telah tercatat untuk hadir ketempat pelayanan.
9. Pembinaan Peserta
Setelah pelayanan dilaksanakan PLKB/ PKB beserta petugas desa
lainnya mengadakan kunjungan ke desa-desa untuk melihat hasil pelayanan,
memberikan penjelasan paska pelayanan dan mengambil tindakan yang
diperlukan, bila terjadi masalah medis, psikologi atau hal-hal lainnya dalam
kesempatan tersebut, PLKB/ PKB melakukan pengamatan untuk memilih
kader KB/ Kesehatan pada tingkat wilayah RT/ RW Desa.
10. Evaluasi Pencatatan dan Pelaporan
PLKB kemudian mengevaluasi proses pelaksanaan dimasing-masing
wilayah, mencatat hal-hal yang perlu diperhatikan untuk tindak lanjut dan
melaporkannya kepada PPLKB, Ka. Cab. Dinas, Koordinator KB, Ka. UPT
dan Kades.
Pada Kesempatan ini, PLKB disamping membahas hal-hal yang telah
dilaksanakan serta hasilnya, juga sekaligus membahas rencana kegiatan 10
langkah di wilayah desa lain untuk bulan berikutnya.

D. Implementasi kampung KB
Kampung KB adalah satuan wilayah setingkat desa dengan kriteria tertentu
dimana terdapat keterpaduan program KKBPK dan pembangunan sector terkait
dalam upaya meningkatkan kualitas hidup keluarga dan masyarakat. Kriteria
program pembentukan Kampung KB adalah jumlah keluarga pra sejahtera di atas
rat-rata tingkat desa dimana kampung tersebut berada. Jumlah peserta KB di bawah
rata-rata pencapaian peserta KB tingkat desa dimana kampung tersebut berlokasi.
Kriteria wilayah pembentukan Kampung KB adalah kumuh, pesisir/nelayan,
daerah aliran sungai, bantaran kereta api, kawasan miskin (termasuk miskin
perkotaan), terpencil, perbatasan, kawasan industri, kawasan wisata dan padat
penduduk.

11
Maksud pembentukan kmapung KB sebagai rancang bangun penggarapan
program KKBPK secara total di lini lapangan yang diwujudkan dengan
keterpaduan program-program pembangunan lintas sektor terkait dalam kampung
KB dengan melibatkan Dinas/Lembaga terkait dan mitra kerja sesuai dengan
kebutuhan.
Tujuan dan strategi pengelolaan kampung KB adalah meningkatkan kualitas
hidup keluarga dan masyarakat melalui :
1. Mendekatkan pelayanan program KKBPK
2. Penguatan 8 Fungsi keluarga;
3. Partisipasi aktif masyarakat;
4. Pembangunan yang terintegrasi lintas sektor.
Indikator keberhasilan kampung KB dapat diukur dari pelaksanaan 8 Fungsi
Keluarga Yaitu:
1. Meningkatkan pelaksanaan keagamaan (kelluarga semakin rajin menjalankan
ibadahnya);
2. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat baik ilmu
pengetahuan maupun profesionalisme;
3. Terciptanya rata-rata dua anak di setiap keluarga dengan keadaan sehat;
4. Meningkatkan income percapita keluarga;
5. Terlindungnya keluarga/masyarakat dalam kehidupan yang aman;
6. Semakin terjalinnya hubungan harmonis antara anggota keluarga dengan
masyarakat;
7. Semakin berkembangnya budi pekerti, tatakrama dan seni budaya baik
dikeluarga maupun masyarakat;
8. Semin tertatanya lingkungan yang serasi, selaras dan seimbang antara prilaku
dan lingkungan.

E. Poktan
Kelompok Kegiatan (Poktan) Adalah wadah kegiatan Program KKBPK yang
berkaitan dengan Penundaan Usia Perkawinan, Pengaturan Kelahiran, Pembinaan
Ketahanan Keluarga dan Peningkatan Kesejahteraan Keluarga.
a. Kelompok Bina Keluarga Remaja (BKR)
Adalah kelompok kegiatan beranggotakan keluarga yang memiliki anak
dan remaja untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan orangtua dan

12
atau anggota keluarga lainnya dalam pengasuhan dan pembinaan tumbuh
kembang anak dan remaja melalui komunikasi efektif antara orangtua dan
anak remaja.
b. Kelompok Bina Keluarga Balita (BKB)
Adalah kelompok kegiatan untuk meningkatkan pengetahuan,
kesadaran, keterampilan dan sikap ibu serta anggota keluarga lainnya dalam
membina tumbuh kembang anak usia di bawah lima tahun (Balita), melalui
optimalisasi rangsangan emosional, moral dan sosial.
c. Kelompok Bina Keluarga Lansia (BKL)
Adalah kelompok kegiatan untuk membina keluarga lansia dalam
upaya meningkatkan kepedulian dan peran keluarga dalam mewujudkan lanjut
usia yang sehat, mandiri, produktif, dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha
Esa
d. Kelompok Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS)
Adalah program pemberdayaan ekonomi keluarga yang dikembangkan
melalui usaha ekonomi mikro dengan sasaran keluarga, khusus nya keluarga
pra sejahtera dan keluarga sejahtera I. Sasaran UPPKS adalah peserta KB,
pasangan usis subur khususnya Keluarga Pra Sejahtera (KPS) dan Keluarga
Sejahtera I (KS I).
e. Pusat Informasi dan Konseling Remaja
Adalah suatu wadah kegiatan program PKBR yang dikelola dari, oleh
dan untuk remaja guna memberikan pelayanan informasi dan konseling
yentang Perencanaan Kehidupan Berkeluarga Bagi Remaja serta kegiatan-
kegiatan penunjang lainnya. PIK Remaja adalah nama generic, untuk
menampung kebutuhan program PKBR dan menarik minat remaja dating ke
PIK Remaja, nama generic ini dapat dikembangkan dengan nama-nama yang
sesuai dengan kebutuhan program dan selera remaja setempat.

13
BAB III CAPAIAN DAN DAMPAK KEGIATAN

Capaian dan dampak kegiatan magang lapangan di Dinas Pengendalian Penduduk


Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak Kabupaten
Bandung Barat yang ditempatkan di UPT DP2KBP3A Kecamatan Cisarua selama dua
bulan ini yaitu:

BULAN KEGIATAN OUTPUT OUTCOME

Pendekatan tokoh formal kepada Camat


dan Kepala Desa dalam rangka Notulensi advokasi
pelaksanaan kegiatan magang lapangan dan dokumentasi
selama 2 bulan
Penyuluhan/KIE kelompok tentang
MKJP & TriBina kepada WUS & PUS Materi KIE dan
Januari
yang dilakukan di Posyandu atau rumah dokumentasi
Pos KB & Sub Pos KB Desa
Pertemuan forum Pos KB Kecamatan Notulensi dan
Cisarua dokumentasi
Pembinaan Akademi Keluarga Jabar Notulensi dan
Juara dokumentasi
Penyuluhan/KIE kelompok tentang
MKJP & TriBina kepada WUS & PUS Dokumentasi
yang dilakukan di Posyandu atau rumah kegiatan
Pos KB & Sub Pos KB Desa
Data akseptor,
inform concern,
Pelayanan TKBK MKJP (IUD dan 30 Akseptor
Februari Notulensi,
Implant) baru MKJP
Dokumentasi
kegiatan
Bimtek peningkatan kapasitas kader Dokumentasi
posyandu se-Kecamatan Cisarua kegiatan
Notulensi dan
Pertemuan Sub Pos KB Desa Cipada
dokumentasi

14
Notulensi dan
Rakor AKU KBB
dokumentasi
Pertemuan forum Pos KB Kecamatan Notulensi dan
Cisarua dokumentasi
Penyuluhan/KIE kelompok tentang
MKJP & TriBina kepada WUS & PUS Dokumentasi
yang dilakukan di Posyandu atau rumah kegiatan
Maret
Pos KB & Sub Pos KB Desa
Pertemuan Sub Pos KB Desa Notulensi dan
Tugumukti dokumentasi

Tabel di atas menunjukkan beberapa kegiatan yang telah dilakukan saat kegiatan
magang lapangan. Diantaranya adalah kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap
bulannya, seperti fasilitasi pos dan sub PPKBD, KIE kelompok/individu, sedangkan
kegiatan lainnya merupakan kegiatan tentative yang tidak dilakukan setiap bulan.
Fasilitasi pos dan sub PPKBD diadakan biasanya akhir bulan setelah seluruh
kegiatan lapangan dilaksanakan. Dalam fasilitasi ini dilakukan evaluasi kegiatan yang
telah dilakukan, mengungkap permasalahan yang dihadapi, mendiskusikan pemecahan
masalahnya, serta perencanaan kegiatan satu bulan mendatang. Salah satu poin yang
dievaluasi adalah kerapihan dan ketelitian para pos dan sub PPKBD dalam membuat
laporan bulanan. Dampak yang dirasakan dengan adanya kegiatan ini adalah adanya
rasa kebersamaan dalam pemecahan masalah sehingga masalah yang ada dapat dengan
mudah dipecahkan serta sebagai wadah dalam meningkatkan pengetahuan dan
kemampuan pos dan sub PPKBD terhadap materi yang disampaikan dalam fasilitasi
tersebut (bila ada).
KIE kelompok dan KIE indivdiu perlu dilakukan secara terus menerus dalam upaya
meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap hal-hal yang
disampaikan, terutama tentang kepesertaan ber KB. Pada zaman 4.0 ini yang segala
informasi dapat diakses dengan mudah, tidak halnya masyarakat di pedesaan yang
minim informasi. Masyarakat masih banyak yang belum mengetahui secara benar
tentang KB, masih banyak yang termakan oleh mitos-mitos yang tersebar bebas, serta
ketidakmampuan masyarakat dalam menjangkau pelayanan kesehatan, baik secara jarak
maupun biaya. Maka dari itu dampak yang ingin dirasakan dalam melaksanakan KIE

15
ini adalah peningkatan pengetahuan masyarakat, peningkatan kesadaran, dan timbulnya
kemauan untuk mengikuti KB.
Pendekatan tokoh formal perlu dilakukan pada pemerintahan setempat selaku
pengambil keputusan. Kegiatan tersebut akan berdampak pada adanya dukungan resmi
dalam pelaksanaan program KKBPK. Pada umumnya masyarakat akan mengikuti
segala kegiatan apabila telah ada arahan dan dukungan dari pemerintah setempat.
Pelayanan KB ini dilaksanakan berdasarkan kesepakatan dengan puskesmas
setempat. Hal tersebut dilakukan untuk memfasilitasi masyarakat yang kesulitan dalam
mengakses pelayanan KB, baik secara jarak maupun biaya. Masyarakat jadi lebih dekat
dan tidak sungkan dalam mendapat pelayanan. Selain itu memfasilitasi dalam mencapai
target magang lapangan, yaitu mendapat akseptor KB MKJP dan Non MKJP.

16
BAB IV PENGALAMAN PEMBELAJARAN

Pengalaman pembelajaran kegiatan magang lapangan di Dinas Pengendalian


Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak
Kabupaten Bandung Barat yang ditempatkan di UPT DP2KBP3A Kecamatan Cisarua
Alhamdulillah selama dua bulan ini saya mendapat pengetahuan yang banyak terkait
program KKBPK di lini lapangan seperti apa, bagaimana program KKBPK berjalan di
lapangan dan mengetahui Kendala-kendala di lapangan dalam menjalankan program
KKBPK. Dengan kegiatan magang lapangan ini saya mengetahui mekanisme
operasional program KKBPK, mengetahui operasionalisasi Kampung KB, mengetahui
poktan tribina (BKB, BKR, BKL) dan yang lebih penting saya memperoleh ilmu
mengenai bagaimana cara berinterakasi dengan masyarakat yang baik dan menjalin
silaturahmi, karena dengan menjalin silaturahmi yang baik maka masyarakat akan lebih
peduli dengan kita sebagai petugas Penyuluh Keluarga Berencana dan akan
mempermudah kita dalam menyampaikan arahan dan membina masyarakat dalam
menjalankan program KKBPK.
Dalam menjalankan program KKBPK di lini lapangan tidak semudah yang
dibayangkan banyak kendala-kendala dalam menjalankannya yaitu:
1 Regenerasi Pos KB dan Sub Pos KB yang sulit karena masyarakat generasi milenial
yang berorientasi pada kegiatan produktif yang berorientasi hasil ekonomi yang
lebih baik.
2 Keterbatasan jumlah PKB dalam membina desa yang mana belum ada aturan jelas
terkait Rasio Desa dengan jumlah PKB. sehingga menimbulkan iri antara sesama
PKB dan mengakibatkan kinerja PKB kurang baik.
3 Kurangnya kesadaran masyarakat untuk mengikuti kegiatan penyuluhan
dikarenakan di masyarakat sekarang lebih mementingkan kegiatan yang bersifat
produktif.
4 Tidak Semua Pemerintah Daerah Desa dalam mendukung program KKBPK
5 Kurangnya monitoring dari UPT ataupun dari Kabupaten
6 Sarana Prasarana PKB dan Media KIE yang kurang
7 Dalam kegiatan pertemuan Pos KB dan Sub Pos KB ada kalanya tidak hanya PKB
yang menyampaikan materi, tetapi ada juga dari pihak lain (puskesmas, Kesling,
Gizi) ikut menyampaikan materi, sehingga penyampaian materi-materi KKBPK
tidak maksimal.

17
BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan
Kegiatan magang lapangan di Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga
Berencana Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak Kabupaten
Bandung Barat yang ditempatkan di UPT DP2KBP3A Kecamatan Cisarua selama
dua bulan mendapat pengetahuan yang banyak terkait program KKBPK di lini
lapangan seperti apa, bagaimana program KKBPK berjalan di lapangan dan
mengetahui Kendala-kendala di lapangan dalam menjalankan program KKBPK.
Dengan kegiatan magang lapangan ini kita mengetahui mekanisme operasional
program KKBPK, mengetahui operasionalisasi Kampung KB, mengetahui poktan
tribina (BKB, BKR, BKL) dan yang lebih penting memperoleh ilmu mengenai
bagaimana cara berinterakasi dengan masyarakat yang baik dan menjalin
silaturahmi, karena dengan menjalin silaturahmi yang baik maka masyarakat akan
lebih peduli dengan kita sebagai petugas Penyuluh Keluarga Berencana dan akan
mempermudah kita dalam menyampaikan arahan dan membina masyarakat dalam
menjalankan program KKBPK.
Adapun untuk Output dari kegiatan magang lapangan adalah sebagai berikut :
1. Mendapatkan 10 Akseptor Baru Alat Kontrasepsi Jangka Panjang (7 IUD & 3
Implan) dan mendapatkan 2 Akseptor BAru Alat Kontrasepsi Non Jangka
Panjang (Suntik).
2. Menjalankan tugas Penyuluh KB sesuai dengan Mekanisme Operasional Lini
Lapangan dan 10 Langkah PLKB.

B. Saran
Dalam menjalankan program KKBPK di lini lapangan tidak semudah yang
dibayangkan banyak kendala-kendala untuk menjalankannya, maka saran dalam
menjalankan program KKBPK untuk lebih baik diantaranya:
1. Regenerasi Pos KB dan Sub Pos KB pada generasi milenial 4.0;
2. Penambahan jumlah PKB dalam membina desa yang mana belum ada aturan
jelas terkait Rasio Desa dengan jumlah PKB. sehingga menimbulkan iri antara
sesama PKB dan mengakibatkan kinerja PKB kurang baik.;
3. Untuk menambah kesadaran masyarakat dalam mengikuti kegiatan
penyuluhan sebaiknya disediakan doorprize atau lain sebagainya guna untuk

18
memotivasi masyarakat mengikuti penyuluhan, dikarenakan di masyarakat
sekarang lebih mementingkan kegiatan yang bersifat produktif;
4. Adanya instruksi dari Pemerintah Daerah kepada Pemerintah Desa dalam
mendukung program KKBPK dan diadakannya perlombaan Desa Terbaik
yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah sehingga memotivasi Desa dan
masyarakat dalam menjalankan program KKBPK;
5. Meningkatkan monitoring dari UPT ataupun dari Kabupaten;
6. Meningkatkan Sarana Prasarana PKB dan Media KIE;
7. Mengefektifkan kegiatan pertemuan Pos KB dan Sub Pos KB hanya diisi oleh
materi program KKBPK saja. dikarenakan ada kalanya tidak hanya PKB yang
menyampaikan materi, tetapi ada juga dari pihak lain (puskesmas, Kesling,
Gizi) ikut menyampaikan materi, sehingga penyampaian materi-materi
KKBPK tidak maksimal.

19