Anda di halaman 1dari 7

TUGAS 8

LAYANAN KONSELING di DLTP dan SLTA


“Ruang Lingkup Kerja BK di Sekolah”

DOSEN :
Drs. YUSRI, M.pd., Kons.

OLEH :
Nila Frischa Panzola
18006299

JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2020
LAYANAN KONSELING di DLTP dan SLTA
A. Jumlah Siswa Asuh
Sedangkan, beban kerja guru BK yang diberi tugas tambahan sebagai
kepala sekolah membimbing 40 peserta didik dan guru BK yang diberi tugas
tambahan sebagai wakil kepala sekolah membimbing 80 peserta didik, 150
peserta didik untuk satu orang guru BK dan paling banyak 250 peserta didik
pertahun pada satu atau lebih satuan pendidikan yang dilaksanakan dalam
bentuk layanan tatap muka terjadwal di kelas. Pada tahun 2013 kuantitas guru
BK sangat tidak sebanding dengan kuantitas peserta didik disekolah seluruh
indosesia, Jumlah guru bimbingan dan konseling di Indonesia saat itu hanya
sekitar 33.000 orang. Padahal, untuk melayani sekitar 18,8 juta siswa SMP /
MTs dan SMA / SMK / MA dibutuhkan lebih dari 125,572 guru bimbingan
dan konseling."Berarti kekurangan guru bimbingan dan konseling sekitar
92,572 orang",ujar Ketua Umum Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan
Konseling Indonesia (ABKIN) serta Guru Besar Bimbingan dan Konseling di
Universitas Negeri Semarang.

B. Jam Tatap Muka Klasikal


Bimbingan kelas(klasikal) adalah program yang dirancang menuntut konselor
untuk melakukan kontak langsung dengan para peserta didik di kelas. Secara
terjadwal, konselor memberikan pelayanan bimbingan kepada para peserta
didik. Kegiatan bimbingan kelas ini bisa berupa diskusi kelas atau brain
storming (curah pendapat). Bimbingan klasikal memiliki nilai
efisiensi dalam kaitan antara jumlah peserta didik atau konseli
yang dilayani dengan guru BK atau konselor serta layanannya
yang bersifat pencegahan, pemeliharaan, dan
pengembangan.
Layanan bimbingan klasikal merupakan layanan dalam bimbingan dan
konseling. Layanan bimbingan klasikal berbeda dengan mengajar. Layanan ini
juga memiliki beberapa ketentuan dalam pelaksannanya. Adapun
perbedaannya antara mengajar dan membimbing :
a. Layanan bimbingan klasikal bukanlah suatu kegiatan mengajar atau
menyampaikan materi pelajaran sebagaimana mata pelajaran yang
dirancang dalam kurikulum pendidikan disekolah, melainkan
menyampaikan informasi yang dapat berpengaruh terhadap
tercapainya perkembangan yang optimal seluruh aspek perkembangan
dan tercapainya kemandirian peserta didik atau konseli.
b. Materi bimbingan klasikal berkaitan erat dengan domain bimbingan
dan konseling yaitu bimbingan belajar, pribadi, sosial dan karir, serta
aspek-aspek perkembangan peserta didik.
c. Guru mata pelajaran dalam melaksanakan tuganya adalah
menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik, dan tugas guru
bimbingan dan konseling atau konselor adalah menyelenggarakan
layanan bimbingan konseling yang memendirikan peserta didik atau
konseli.
a. Didalam kelas
1) Volume kegiatan tatap muka klasikal adalah 1 (satu) jam per
kelas per minggu dan dilaksanakan secara terjadwal 3.
2) Kegiatan tidak tatap muka dengan peserta didik untuk
menyelenggarakan layanan konsultasi, kegiatan konferensi
kasus, himpunan data, kunjungan rumah, pemanfaatan
kepustakaan, dan alih tangan kasus.
b. Di luar jam pembelajaran sekolah :
1) Kegiatan tatap muka dengan peserta didik untuk
menyelenggarakan layanan orientasi, konseling perorangan,,
bimbingan kelompok, konseling kelompok, dan mediasi, serta
kegiatan lainnya yang dapat dilaksanakan di luar kelas.
2) Satu kali kegiatan layanan/pendukung konseling di luar
kelas/di luar jam pembelajaran ekuivalen dengan 2 (dua) jam
pembelajaran tatap muka dalam kelas.
3) Kegiatan pelayanan konseling di luar jam pembelajaran
sekolah maksimum 50% dari seluruh kegiatan pelayanan
konseling, diketahui dan dilaporkan kepada pimpinan
sekolah/madras
4) Kegiatan pelayanan konseling dicatat dalam laporan
pelaksanaan program (LAPELPROG).
5) Volume dan waktu untuk pelaksanaan kegiatan pelayanan
konseling di dalam kelas dan di luar kelas setiap minggu diatur
oleh konselor dengan persetujuan pimpinan sekolah/madrasah.
C. Rambu-Rambu(Beleh Dan Tidak Boleh Dikerjakan)
Rambu-rambu penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan
konseling dalam jalur pendidikan formal yaitu: merupakan
salah satu hasil kerja sama antara Diktorat Jenderal PMPTK
dengan ABKIN di dalam upaya penataan dan pengembangan
profesi serta pelayanan bimbingan dan konseling.
Rambu-rambu ini dikembangkan dengan tujuan untuk:
1. Memberikan kerangka fikir dan kerja utuh tentang
penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling
dalam jalir formal.
2. Menyediakan acuan dasar bagi penyusunan rambu-
rambu khusus penyelenggaraan pelayanan bimbingan
dan konseling di SD/MI,SMP,SMA termasuk rambu-
rambu BK bagi anak yang berkebutuhan khusus dan
bakat.

sebagai organisasi profesi  berupaya melakukan penataan


dan
pengembangan profesi serta pelayanan bimbingan dan
konseling dalam jalur pendidikan formal secara sistematis
dan berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan, standar dan
ekspektasi kinerja yang diharapkan  oleh  masyarakat
danpemerintah. Rambu-rambu Penyelenggaraan Pelayanan
Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal ini
merupakan salah satu hasil kerja sama antara Direktorat
Jenderal  PMPTK dengan ABKIN di dalam upaya penataan dan
pengembangan profesi serta pelayanan bimbingan dan
konseling. Rambu-rambu ini dikembangkan  dengan tujuan
untuk:

1. memberikan kerangka pikir dan kerangka  kerja utuh


tentang penyelenggaraan pelayanan  bimbingan dan
konseling dalam jalur pendidikan formal,
2. menyediakan acuan dasar bagi penyusunan  rambu-
rambu
khusus penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan
konseling di Sekolah Dasar/ Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI),
Sekolah Menengah Pertama/ Madrasah Tsanawiyah
(SMP/MTs.), Sekolah Menengah Atas/ Madrasah Aliyah
(SMA/MA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK),
termasuk rambu-rambu bimbingan dan konseling bagi
anak
berkebutuhan khusus dan berbakat

D. Mekanisme Kerja BK
Pengelolaan pelayanan bimbingan di dukung oleh adanya organisasi,
personal pelaksana, sarana dan prasarana, dan pengawasan pelaksanaan
pelayanan bimbingan. Pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah dan
madrasah dari tingkat satuan pendidikan sekolah dasar hingga perguruan
tinggi dewasa ini semakin dibutuhkan. Seiring dengan pesatnya ilmu
pengrtahuan dan teknologi, berbagai persoalan pun muncul dengan segala
kompleksnya. Dunia pendidikan tampaknya belum sepenuhnya mampu
menjawab berbagai persoalan akibat perkembangan IPTEK, indikasinya
adalah muculnya berbagai penyimpangan perilaku dikalangan peserta didik
yang sepantasnya tidak dilakukan oleh seorang atau orang-orang yang disebut
terdidik. Selain itu potensi bakat minat siswa sebagai individu belum
tersalurkan secara optimal melalui proses pendidikan dan pembelajaran di
dalam kelas.
1. Guru mata pelajaran wali kelas guru bk / konselor kepala sekolah
diketahui diketahui diketahui diperiksa diketahui diperiksa mekanisme
kerja daftar nilai siswa daftar nilai kartu akademis angket siswa catatan
konseling catatan observasi siswa buku pribadi + map pribadi angket
orang tua laporan observasi siswa catatan kejadian (anekdot) laporan
kegiatan pelayanan catatan anekdot data psikotes catatan wawancara
laporan bulanan keg. Bk catatan home visit catatan konferensi kasus notula
rapat
2. Struktur organisasi bimbingan dan konseling keterangan : garis perintah
garis koordinasi garis konsultasi komite sekolah kep. Sekolah wk. Sekolah
tenaga ahli / instansi lain tata usaha guru mata pelajaran guru bk / kons
elor wali kelas s i s w a
3. Mekanisme penanganan siswa di sekolah kepala sekolah wakil kep. Sek
komite sekolah tenaga ahli/ instansi lain wali kelas koordinator dan guru
bk / konselor piket guru petugas lain s i s w a keterangan : garis
pewrintah : garis konsultasi : garis koordinasi

PERTANYAAN

1. Apakah kendala yang dihadapi guru bk dalam mekanisme kerja bk di sekolah?


2. Apa saja manfaat dari mekanisme kerja bk bagi lingkungan sekolah?
3. Bagaimana cara meningkatkan mekanisme kerja bk di sekolah?
4. Apa dampak bagi sekolah jika rambu-rambu pelaksanaan bk di langgar?
5. Jika jumlah siswa asuh melebihi target yang sudah ditetapkan maka apa
dampaknya bagi siswa tersebut?
KEPUSTAKAAN

Akhmad Sudrajat. 2008. Penanganan siswa bermasalah di


sekolah. (online). http:// akhmadsudrajat.wordpress.com.
Diakses: 29 oktober 2014.

Dewa Ketut Sukardi. 2008. Pengantar Pelaksanaan Program


Bimbingan Dan Konseling Di Sekolah. Jakarta: Rineka
Cipta.

Prayitno dan Erman Amti. 2009. Dasar-Dasar Bimbingan dan


Konseling. Jakarta: Rineka Cipta.