Anda di halaman 1dari 26

MAKALAH

HUBUNGAN ANTARA TUJUAN PEMBELAJARAN DENGAN DESAIN


PEMBELAJARAN

Disusun untuk memenuhi salah satu tugas dosen mata kuliah desain pembelajaran
Dosen : Dr. Crist. Ismaniani, M.Pd

Disusun Oleh:
Adrie Satrio, S.Pd
Azizah, S.Pd
Ence Surahman, S.Pd
Galih Widiatmojo, S.Pd

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PENDIDIKAN


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2015

0
1
KATA PENGANTAR

Segala puji beserta syukur kita panjatkan kekhadirat Tuhan Yang Maha

Kuasa, yang dengan nikmatNya, makalah yang berjudul “Hubungan Antara

Tujuan Pembelajaran dengan Desain Pembelajaran” ini tersaji untuk

dipresentasikan dan bisa dibaca oleh para pembaca yang budiman.

Dalam makalah ini, kami tim penyusun mencoba menggali dan

memaparkan penjelasan tentang konsep dasar tujuan pembelajaran, meliputi

definisi, manfaat dan taksonomi tujuan pembelajaran, kemudian konsep dasar

desain pembelajaran meliputi defisini, model-model yang populer dan pembasan

tentang hubungan tujuan pembelajaran dengan desain pembelaran meliputi

pemaparan tentang urgensi, manfaat dan contoh pemilihan desain pembelajaran

yang sesuai (padu) dengan tujuan pembelajaran.

Demikian pengantar dari penyusun, semoga makalah singkat ini

bermanfaat khususnya bagi kami yang sedang kuliah desain pembelajaran

umumnya bagi semua pembaca makalah ini.

Yogyakarta, 7 Maret 2015

Penyusun

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................................................2
DAFTAR ISI......................................................................................................................3
BAB I.................................................................................................................................5
PENDAHULUAN.............................................................................................................5
A. Latar Balakang.......................................................................................................5
B. Rumusan Masalah..................................................................................................7
C. Tujuan....................................................................................................................7
BAB II...............................................................................................................................8
HUBUNGAN ANTARA TUJUAN PEMBELAJARAN DENGAN DESAIN
PEMBELAJARAN............................................................................................................8
A. Konsep Dasar Tujuan Pembelajaran.......................................................................8
1. Definisi Tujuan Intruksional..............................................................................8
2. Manfaat dari Tujuan Intruksional.....................................................................10
3. Taksonomi Tujuan Pembelajaran.....................................................................11
B. Konsep Dasar Desain Pembelajaran.....................................................................17
1. Definisi desain pembelajaran............................................................................17
2. Model desain yang populer..............................................................................19
C. Hubungan Antara Tujuan Pembelajaran dengan Desain Pembelajaran................20
1. Urgensi memahami tujuan dan desain pembelajaran........................................20
2. Manfaat memahami tujuan dan desain pembelajaran secara simultan..............21
3. Memilih desain yang sesuai (padu) dengan tujuan pembelajaran.....................22
BAB III............................................................................................................................23
PENUTUP.......................................................................................................................23
3.1 Simpulan...............................................................................................................23
3.2 Saran................................................................................................................24

3
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................25

4
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Balakang

Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi

peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada

Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,

mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta

bertanggungjawab (UU Sisdiknas No 20 tahun 2003 pasal 3).

Guna mencapai tujuan pendidikan nasional tersebut maka semua

elemen yang terlibat didalamnya khususnya pasa pendidikan formal sudah

semestinya memahami hakikat dan prinsip-prinsip dasar berkaitan dengan

8 standar yang telah ditetapkan undang-undang. Salah satu standar

penting dari 8 standar pendidikan tersebut adalah standar proses.

Didalam standar proses pembelajaran, elemen yang penting untuk

memahaminya secara mendalam salahsatunya adalah guru yang

melaksanakan tugas pendidikan dan pembelajaran. guru sebagai pendidik

dan pengajar idealnya memahami betul bagaimana menurunkan tujuan

pendidikan nasional tujuan institusional pendidikan, tujuan mata pelajaran

dalam bentuk kegiatan pembelajaran yang dilaksanakannya.

Terlebih ketika dipahami bahwa pembelajaran sebagai suatu sistem

yang terdiri dari beberapa komponen penting di dalamnya, maka guru

5
benar-benar harus memahami bagaimana memadukan semua komponen

tersebut. Dua komponen diantaranya adalah komponen tujuan dan desain

pembelajaran yang kemudian dituruntukan menjadi pemilihan metode,

media, bahan ajar yang akan digunakan untuk mencapai tujuan

pembelajaran. sebagaimana yang terlihat dalam gambar dibawah ini.

Gambar 1.1 Komponen-komponen pembelajaran

Setiap guru menginginkan proses pembelajaran yang dilakukan

terlaksana dengan efektif dan efesien. Hal ini dapat diwujud apa bila

sebelum pembelajaran terlaksana sang guru terlebih dahulu membuat

perencanaan atau rancangan yang disebut dengan desain pembelajaran.

Desain pembelajaran merupakan ranjangan pembelajaran yang

disusun oleh pendidik dangan tujuan agar proses pembelajaran yang akan

dilaksanakan dapat berjalan secara efektif dan efesien.

6
Untuk memwujudkan tujuan ini, tentu saja di dalam desain

pembelajaran harus ada tujuan pembelajar, karena tanpa tujuan pembelajar

yang jelas, maka proses pembelajaran yang berlangsung tidak terarah.

Sehingga materi yang disampaikan akan berkemungkinan kurang

dipahami oleh peserta didik.

B. Rumusan Masalah

Dilihat dari latar belakang diatas, rumusan masalah makalah ini

adalah sebagai berikut,

1. Bagaimana konsep dasar tujuan pembelajaran?

2. Bagaimana konsep dasar desain pembelajaran?

3. Bagimana hubungan antara tujuan pembelajaran dengan desain

pembelajaran?

C. Tujuan

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini, yaitu.

1. Untuk mengetahui bagaimana konsep dasar tujuan

pembelajaran.

2. Untuk mengetahui bagaimana konsep dasar desain

pembelajaran.

3. Untuk mengetahui dan mampu menerapkan tentang hubungan

tujuan pembelajaran dengan desain pembelajaran.

7
BAB II

HUBUNGAN ANTARA TUJUAN PEMBELAJARAN DENGAN DESAIN

PEMBELAJARAN

A. Konsep Dasar Tujuan Pembelajaran

1. Definisi Tujuan Intruksional

Tujuan pembelajaran merupakan salah satu komponen yang perlu

dicantumkan dalam sebuah desain pembelajaran. Sebab, kegiatan-kegiatan

yang dilaksanakan dalam proses pembelajaran semuanya menganrah

kepada ketercapaiannya tujuan pembelajaran.

Sebelum disahkan kurikulum berbasi kompetensi, yaitu sejak

diberlakukannya kurikulum 1975, kurikulum 1984 dan kurikulum 1994,

tujuan pembelajaran dikenal dengan istilah tujuan instruksionak khusus.

Jika dikaji lebih jauh kedua istilah ini sama yaitu keduanya sama-sama

merupakan pernyataan untuk menggambarkan apa yang akan pesrta didik

mampu lakukan setelah menyelesaikan satu unit pembelajaran.

Yaumi (2013) mengemukakan bahwa tujuan pembelajaran khusus

dipahami sebagai deskripsi dari suatu kinerja yang diinginkan untuk

mampu ditunjukkan oleh peserta didik sebelum guru, dosen, atau

instruktur menganggap mereka berkomputen. Tujuan pembelajaran khusus

menjelaskan hasil yang diinginkan, daripada proses itu sendiri. Yaumi

(2013) mengutip dari Theacher and Education Defelopment of Unifersity

8
of New Mexico yang mengemukakan tentang definisi tujuan pembelajaran

khusus, yaitu tujuan pembelajaran khusus adalah pernyataan hasil yang

secara khusus menangkap bagaimana pengetahuan, keterampilan, sikap

yang harus peserta didik dapat tunjukkan dalam mengikuti pembelajaran.

Yaumi (2013) juga mengutip dari Gordon yang menyatakan bahwa,

instructional objective describe the skills, knowledge, abilities or attitudes

students should prosess or demonstraste after they complete the training.

Dari beberapa definisi tersebut Yaumi menyimpulkan bahwa tujuan

pembelajaran khusus merupakan pernyataan khusus yang mencangkup

pengetahuan, kenterampilan dan sikap berdasarkan standar tertentu yang

hendak dicapai.

Adapun isi dari tujuan pembelajaran adalah Atwi (2012)

kompetensi yang diharapkan dicapai peserta didik setela menyelesaikan

proses pembelajaran. kompetensi itu berbentuk kinerja atau unjuk kerja

yang baik dalam bidang kehidupan atau pekerjaan. Kinerja yang baik itu

dicapai berkat kemampuan menerapkan pengetahuan, keterampilan, dan

sikap perilaku. Bila digambarkan dalam bentuk bagan hubungan antara

kompetensi, kemampuan, dan pengetahuan itu tampak sebagai berikut:

9
Kompetensi ditunjukan Kompetensi dicapai sebagai hasil
dengan kinerja yang penggunaan kapabilitas atau kemampuan
minimal baik dalam pemecahan masalah aktual.

Kapabilitas atau Kapabilitas atau kemampuan disebut


kemampuan sebagai hasil kompetensi dasar yang diperoleh sebagai
penerapan pengetahuan, hasil perpaduan bakat, pengalaman, dan
keterampilan, dan sikap pendidikan. Ia menjadi dasar untuk
perilaku mencapai kompetensi.

Perubahan pengetahuan, Diperoleh sebagai hasil belajar dari


keterampilan dan sikap pengalaman dan pendidikan serta menjadi
perilaku. dasar untuk mencapai kapabilitas &
kompetensi, disebut juga kompetensi dasar.

Gambar : hubungan antara komputensi, kemampuan atau kapabilitas


dengan perubahan pengetahuan, keterampilan, dan sikap

2. Manfaat dari Tujuan Intruksional

Hamzah, Nina dan Satria mengemukakan bahwa keuntungan yang

dapat diperoleh melalui penuangan tujuan pembelajaran tersebut adalah

sebagai berikut:

a. Waktu mengajar dapat dialokasikan dan dimanfaatkan secara tepat

b. Pokok bahasan dapat dibuat seimbang sehingga tidak ada materi

pelajaran yang dibahas terlalu mendalam atau terlalu sedikit.

c. Guru dapat menetapkan berapa banyak materi pelajaran yang

dapat/sebaiknya disajikan dalam setiap jam pelajaran.

10
d. Guru dapat menetapkan urutan dan rangkaian materi pembelajaran

secara tepat, artinya perletakan masing-masing materi pelajaran

akan memudahkan siswa dalam mempelajari isi pelajaran.

e. Guru dapat dengan mudah menetapkan dan mempersiapkan

strategi belajar mengajar yang paling cocok dan menarik.

f. Guru dapat dengan mudah mempersiapkan berbagai keperluan

peralatan maupun bahan dalam keperluan belajar.

g. Guru dapat dengan mudah mengukur keberhasilan siswa dalam

belajar.

h. Guru dapat menjamin bahwa hasil belajarnya akan lebih baik

daripada dengan hasil belajar tanpa tujuan yang jelas.

3. Taksonomi Tujuan Pembelajaran

Tujuan dari pembelajaran adalah mengembangkan kemampuan,

keterampilan dan sikap yang ada pada peserta didik. Atwi (2012) menulis

dalam bukunya yang dikutip dari Bloom (1956) yang menyatakan bahwa

tujuan pendidikan/pembelajaran diklasifikasikan menjadi tiga kawasan,

yaitu:

a. Kawasan kognitif

Kawasan kognitif merupakan kawasan yang berkaitan dengan

ingatan atau pengenalan terhadap pengetahuan dan pengembangan

kemampuan intelektual dan keterampilan berpikir. Wilayah

kognitif ini terdiri atas 6 tingkatan yang secara hierarkis berurut

dari yang paling rendah (pengetahuan) sampai ke yang paling

11
tinggi (evaluasi). Secara singkat enam tingkatan tersebut adalah

sebagai berikut:

 Pengetahuan

Yang dimaksud mengingat yaitu perilaku-perilaku yang

berfokus pada mengingat atau menghafal, seperti

mengingat peristiwa, menghafal rumus, menghafal isi

peraturan perundangan, dan lain-lain.

Contoh:

Siswa dapat menyebutkan kembali bangun-bangun

geometris yang berdimensi tiga.

 Pemahaman

Pemahaman yaitu perilaku yang berkaitan dengan

menerjemahkan, menafsirkan, menyimpulkan konsep yang

diungkapkan kembali dengan gaya bahasanya sendiri.

Contoh:

Siswa dapat menjelaskan dengan kata-katanya sendiri

tentang perbedaan bangun-bangun geometri yang

berdimensi dua dan berdimensi tiga.

 Penerapan

Penerapan merupakan kemampuan dalam penggunaan

konsep atau ide, prinsip, teori, prosedur, atau metode yang

telah dipahami oleh peserta didik dalam menyelesaikan

masalah atau melakukan suatu pekerjaan.

12
Contoh:

Siswa dapat menentukan salah satu sudut dari suatu segitiga

jika diketahui sudut-sudut lainnya.

 Analisis

Analisis merupakan kemampuan peserta didik dalam

mendeskribsikan bagian-bagian yang lebih terinci dan

menjelaskan keterkaitan atau hubungan antar bagian-

bagiain tersebut.

Contoh:

Siswa dapat mengolah data mentah melalui statistika

sehingga dapat diperoleh nilai range, inteval kelas, panjang

kelas, rata-rata, dan standar deviasinya.

 Sintesis

Sintesis yaitu kemampuat atau keterampilan siswa dalam

menyatukan bagian-bagian secara terintergrasi menjadi

suatu bentuk tertentu yang semula belum ada.

Contoh:

Siswa dapat menyusun rencana belajar masing-masing

sesuai dengan kebijakan yang berlaku disekolah.

 Evaluasi

Evaluasi merupakan kemampuan dalam membuat perkiraan

atau keputusan yang tepat berdasarkan kriteria atau

pengetahuan miliknya.

13
Contoh:

Siswa dapat menilai unsur kepadatan isi, cangkupan materi,

kualitas analisis, dan gaya bahasa yang dipakai oleh

seorang penulis makalah tertentu.

b. Kawasan Afektif

Wilayah afektif merupakan suatu domain yang berkaitan

dengan sikap, nilai-nilai interest, apresiasi (penghargaan) dan

penyesuaian perasaan sosial. Tingkatan afektif terdiri atas lima

tahapan berikut ini :

 Kemauan menerima

Kemauan menerima merupakan keinginan untuk

memperhatikan suatu gejala atau rancangan tertentu. Seperti

keinginan membaca buku, mendengar musik, atau bergaul dengan

orang yang mempunyai ras berbeda.

 Kemauan menanggapi

Kemauan menanggapi merupakan kegiatan yang menunjuk

pada partisipasi aktif dalam kegiatan tertentu. Contohnya seperti

menyelesaikan tugas terstruktur, menaati peraturan, mengikuti

diskusi kelas, menyelesaikan tugas dilaboratorium atau menolong

orang lain.

 Berkeyakinan

Berkeyakinan dalam hal ini berkaitan dengan kemauan

menerima sistem nilai tertentu pada diri individu seperti

14
menunjukkan kepercayaan terhadap sesuatu, apresiasi

(penghargaan) terhadap sesuatu, sikap ilmiah, atau kesungguhan

(komitmen) untuk melakukan suatu kehidupan sosial.

 Penerapan karya

Penerapan karya berkenaan dengan penerimaan terhadap

berbagai sistem nilai yang berbeda-beda berdasarkan pada suatu

sistem nilai yang lebih tinggi. Sebagai contoh menyadari

pentingnya keselarasan antara hak dan tanggung jawab,

bertanggung jawab terhadap hal yang telah dilakukan, memahami

menerima kelebihan dan kekurangan diri sendiri atau menyadari

peranan perencanaan dalam memecahkan suatu permasalahan.

 Ketekunan dan Ketelitian

Sikap ketekunan dan ketelitian merupakan tingkatan afeksi

yang tertinggi. Pada taraf ini, individu yang sudah memiliki sistem

nilai, selalu menyelaraskan perilakunya sesuai sistem nilai yang

dipegangnya. Seperti bersikap objektif terhadap segala hal.

c. Wilayah Psikomotor

Wilayah psikomotor mencangkup tujuan yang berkaitan

dengan ketrampilan (skill) dan bersifat manual (motorik)

sebagaiman kedua wilayah yang lain, wilayah ini juga memiliki

berbagai tingkatan. Urutan tingkatan yang paling sederhana sampai

ke yang paling kompleks (tertinggi) adalah sebagai berikut:

15
 Persepsi

Persepsi berkenaan dengan penggunaan indra dalam

melakukan kegiatan. Sebagai contoh, mengenal kerusakan mesin

dari suara deru mesin yang sumbang atau menghubungkan suara

musik dengan tarian tertentu.

 Kesiapan melakukan kegiatan

Kesiapan berkenaan dengan melakukan suatu kegiatan.

Termasuk didalamnya kesiapan mental, kesiapan fisik, atau

kesiapan emosi untuk melakuan suatu tindakan.

 Mekanisme

Mekanisme dalam wilayah psikomotorik berkenaan dengan

penampilan respon yang sudah dipelajari dan sudah menjadi

kebiasaan sehingga gerakan yang ditampilkan menunjukkan suatu

kemahiran. Seperti menulis halus, menari atau mengatur/menata

laboratorium.

 Respon terbimbing

Respon terbimbing seperti meniru (imitasi) atau mengikuti,

mengulangi perbuatan yang diperintahkan atau ditunjukkan oleh

orang lain, melakukan kegiatan coba-coba (trial and error).

 Kemahiran

Kemahiran adalah penampilan gerak motorik dengan

ketrampilan penuh. Kemahiran yang dipertunjukkan biasanya

16
cepat, dengan hasil yang baik, tetapi menggunakan sedikit tenaga.

Seperti keterampilan menyetir kendaraan bermotor.

 Adaptasi

Adaptasi biasanya berkenaan dengan keterampilan yang

sudah berkembang pada diri individu sehingga yang bersangkutan

mampu memodifikasi (membuat perubahan) pada pola gerakan

sesuai dengan situasi dan kondisi tertentu. Hal ini terlihat seperti

pada orang yang bermain tenis, pola-pola gerakan disesuaikan

dengan kebutuhan pemain lawan.

 Organisasi

Organisasi menunjukan pada penciptaan pola gerakan baru

untuk disesuaikan dengan situasi atau masalah tertentu. Biasanya

hal ini dapat dilakukan oleh orang yang sudah mempunyai

keterampilan tinggi, seperti menciptakan model pakaian, komposisi

musik atau menciptakan tarian.

B. Konsep Dasar Desain Pembelajaran

1. Definisi desain pembelajaran

Ada beberapa kata terkait dengan kata 'Instruction'. Yang paling

umum yaitu intructional science, intructional technology, and intructional

design. Menurut Mukopadhyay (2001) intructional science menyediakan

konstruk teoritis untuk proses pembelajaran'. Instructional Technology

adalah aspek terapan dari Instructional science berdasarkan Instructional

design '.

17
Makna Instructional design ditandai dengan kata 'desain' sendiri.

Desain telah diklaim sebagai ilmu dengan sendirinya. (Van Patten, 1989).

Dalam bahasa awam, 'Instructional design berarti rencana tindakan dengan

tujuan'. Desain instruksional sebagai kesatuan yang terpisah, yang

terpisah dari instruksional sains dan teknologi. Instructional design adalah

disiplin belajar dan telah berkembang selama empat puluh tahun terakhir

sebagai sebuah ilmu. Ini adalah profesi baru yang diturunkan dari bidang

komunikasi, psikologi, media dan lain-lain untuk membentuk teori sendiri.

Berbagai penulis telah menetapkan definisi desain instructional. Beberapa

definisi instructional design sebagaimana berikut ini.

Menurut McAdrle (Madhu, 2003) Instructional design berarti

menggunakan proses yang sistematis untuk memahami masalah kinerja

manusia, mencari tahu apa yang harus dilakukan tentang hal itu dan

kemudian melakukan sesuatu tentang hal itu.

Sementara menurut Richey (Madhu, 2003) instructional design

adalah ilmu menciptakan spesifikasi rinci untuk pengembangan, evaluasi

dan pemeliharaan situasi yang memfasilitasi belajar.

Briggs (Madhu, 2003) berpendapat bahwa instructional design

adalah seluruh proses analisis kebutuhan dan tujuan serta pengembangan

sistem pengiriman untuk memenuhi kebutuhan belajar.

18
Dengan kata sederhana, desain instruksional adalah perangkat

pedagogik atau pengajaran yang membuat instruksi serta materi

pembelajaran lebih menarik, efektif dan efisien.

2. Model desain yang populer

Madhu (2003:33) meramu beberapa model desain pembelajaran yang

populer yang bisa menjadi rujukan dalam menyusun rancangan

pembelajaran. Sebagaimana yang tertera dalam tabel berikut ini:

Model desain intruksional Keterangan


Gagne-Briggs Model Untuk merancang pembelajaran
 Mengkategorikan hasil belajar
 Mengatur aktivitas pembelajaran untuk setiap
jenis hasil belajar
 Ada sembilan kegiatan pembelajaran
 kegiatan adalah sesuatu yang disesuaikan
dengan jenis hasil akhir yang akan dicapai
 Model disesuaikan dengan Instruksi Berbasis
Web
David Merrill Model David Merrill (Komponen Display
Theory) didasarkan pada asumsi-asumsi berikut
 Kelas yang berbeda dari hasil pembelajaran
memerlukan prosedur yang berbeda untuk
mengajar dan penilaian
 Mengajar konsep individu
 Mengklasifikasikan tujuan pada dua dimensi
 pembelajaran format memberikan arah
pengajaran siswa.
Dick and Carey Model ini
 Menggunakan pendekatan sistem untuk
merancang pembelajaran
 mengidentifikasi tujuan instruksional pada
awal dan berakhir dengan evaluasi sumatif
 berlaku untuk K-12 untuk bisnis pada
pemerintah
Hannafin and Peck Model ini memilili 3 fase
 Membutuhkan pengkajian yang dilakukan
pada tahap pertama
 Kedua adalah tahap desain

19
 pembelajaran dikembangkan dan
diimplementasikan pada tahap terakhir
Semua tahapan melibatkan proses evaluasi dan
revisi
Gerlach and Ely Model ini
 Termasuk strategi untuk memilih dan
termasuk media dalam pembelajaran
 Cocok untuk pendidikan tinggi

C. Hubungan Antara Tujuan Pembelajaran dengan Desain

Pembelajaran

1. Urgensi memahami tujuan dan desain pembelajaran

Memahami tujuan dan desain pembelajaran merupakan hal

mendasar yang harus dikuasai oleh para pendidik. Karena penentuan

tujuan dan desain pembelajaran merupakan bagian dari langkah-

langkah dalam menyusun rancangan sistem pembelajaran yang akan

dilakukan oleh pendidik.

Ketidaktahuan pendidik dalam mengombinasikan antara tujuan

dengan desain pembelajaran akan berdampak pada kurang terarahnya

proses dan kegiatan pembelajaran, kurang jelasnya tujuan yang hendak

dicapai, kurang maksimalnya pemilihan bahan ajar dan media yang

digunakan. Serta hilangnya ruh inti dari kegiatan pembelajaran yang

dilaksanakan.

Kecakapan pendidik dalam mengombinasikan tentang tujuan

dengan desain pembelajaran meliputi dua dimensi baik dimensi yang

lahir, maupun batin, artinya baik pada dimensi randangan konseptual

20
maupun implementasi aktual yang praktis dan konkrit dalam kegiatan

pembelajaran.

Dengan begitu desain pembelajaran yang dikembangkan oleh

pendidik agar dikemas seefektif mungkin untuk mencapai tujuan

pembelajaran. Pendidik akan meminimalisir bahkan idealnya

menghilangkan rancangan-rancangan yang tidak mendukung

pencapain tujuan pembelajaran maupun akan menghambat percepatan

pencapaian tujuan yang diharapkan.

2. Manfaat memahami tujuan dan desain pembelajaran secara

simultan

Beberapa manfaat yang akan didapatkan oleh pendidik yang

memahami dengan betul antara tujuan dan desain pembelajaran

diantaranya:

1. Konsistensi arah dan upaya pencapaian tujuan pembelajaran, baik

tujuan umum maupun kompetensi inti.

2. Terjadinya proses pembelajaran yang efektif, karena rancangan

yang dibuat sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.

3. Memudahkan pendidik, pengawas bahkan peserta didik dalam

rangka melaksanakan kegiatan pembelajaran untuk mencapai

tujuan yang diharapkan

21
4. Terjadinya proses belajar yang bermakna, karena semua upaya dan

faktor pendukung yang digunakan selama proses pembelajaran

berlangsung dengan sangat efektif.

3. Memilih desain yang sesuai (padu) dengan tujuan pembelajaran

Adapun hal-hal yang harus diperhatikan oleh pendidik dalam

mengemas desain pembelajaran yang seiraham dengan tujuan

pembelajaran diantaranya:

1. Pendidik harus menentukan tujuan pembelajaran yang hendak

dicapainya dengan kriteria dan indikator yang jelas terukur.

2. Pendidik menyiapkan beberapa model desain pembelajaran yang

relavan dengan tujuan yang sudah ditentukan

3. Pendidik memilih salah satu model desain yang akan digunakan

dalam merancang pembelajaran yang sesuai dengan tujuan yan

sudah ditetapkannya.

4. Pendidik mencancang dan mendeskripsikan dengan jelas desain

pembelajaran yang akan dilakukannya

5. Pendidik memilih dan menentukan komponen-komponen

pendukung desain pembelajannya, baik pemilihan media, bahan

ajar, sarana, alat, lingkungan dan lain sebagainya secara efektif

untuk mempercepat pencapaian tujuan pembelajaran.

22
BAB III

PENUTUP

3.1 Simpulan

Penentuan tujuan pembelajaran adalah langkah pertama yang harus

dilakukan oleh seorang pendidik maupun perancang kegiatan pembelajaran.

Tujuan pembelajaran merupakan salahsatu inti dari komponen-komponen

pembelajaran. Tujuan pembelajaran akan tercapai dengan baik apabila didukung

dengan kecermatan analisi pendidik dalam memilih dan menentukan model,

media, bahan ajar, alat dan lingkungan pembelajaran.

Desain pembelajaran berperan sangat besar dalam mensukseskan tujuan

pembelajaran, baik tujuan umum maupun tujuan khusus yang ingin dicapai oleh

pendidik. Maka dari itu kemampuan memilih, merancang dan mengembangkan

desain yang efektif merupakan hal penting bagi pendidik.

Beberapa langkah dalam memilih dan menentukan desain yang padu

dengan tujuan pembelajaran diantaranya (1) penentuan tujuan pembelajaran, (2)

pemunculan beberapa alternatif desain pembelajaran, (3) menentukan model

desain yang akan digunakan, (4) merancang dan mengembangkan model desain

yang sudah dipilih, (5) memilih dan menentukan komponen pendukung model

desain yang dipilih.

23
3.2 Saran

Pemahaman pendidik tentang hubungan antara tujuan

pembelajaran dengan desain pembelajaran merupakan kebutuhan prinsip

dalam pengembangan sistem pembelajaran yang berkualitas untuk

menghasilkan tujuan yang sesuai dengan harapan. Untuk itu, setiap calon

pendidik selayaknya memahami secara mendalam tentang hubungan

antara desain dengan tujuan pembelajaran.

24
DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Z. (2013). Evaluasi Pembelajaran, Prinsip Teknik Prosedur. Bandung: PT

Rosda Karya.

KEMP, Jerrold E. 1994. Proses Perancangan Pengajaran. Terjemahan Asril

Marjohan. Bandung. Penerbit ITB.

Redi. (2003). Educational Multimedia, a Handbook for Teacher and Develloper.

New Delhi. Cemca.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003. Sistem Pendidikan

Nasional. Jakarta.

Yaumi, Muhammad. 2013. Prinsip-Prinsip Desain Pembelajaran Disesuaikan

dengan Kurikulum 13. Jakarta: Kencana

25