Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam upaya pencapaian derajat kesehatan yang optimal, pemerintah dalam hal
ini Departemen Kesehatan yang tujuannya tercantum dalam UU Kes No.23 tahun
1992,tentang kesehatan yaitu : Kesehatan adalah keadaan sehat dari badan sejahtera
dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara
sosial ekonomi, agar terwujud kesehatan masyarakat yang optimal sehingga
tercapainya bangsa yang sehat dan sumber daya yang berkualitas ( Slamet, Juli
Soemirat. 2004 ).
Masalah kesehatan anak dipengaruhi oleh dua persoalan utama yaitu tingginya
angka kesakitan dan angka kematian. Angka kesakitan dan angka kematian
merupakan salah satu indicator derajat kesehatan yang disebabkan oleh kurangnya
penanganan keluarga dalam menanggulangi penyakit infeksi khususnya penyakit
ISPA . ISPA adalah penyakit yang sangat umum dijumpai pada anak-anak dengan
gejala batuk, pilek, panas (demam) atau gejala tersebut muncul secara bersamaan,
(Meadow, Sir Roy).
Dalam menurunkan angka kejadianan ISPA diperlukan peran aktif petugas
Kesehatan dalam menyampaikan informasi terutama tentang faktor-faktor yang
berhubungan dengan ISPA, dimana salah satu faktor yang perlu diketahui adalah cara
pencegahan dan perawatan ISPA. Peran aktif petugas disini terutama perawat dapat
menyampaikannya melalui promosi kesehatan seperti perbaikan dan peningkatan gizi,
perbaikan dan sanitasi lingkungan, pemeliharaan kesehatan perorangan dan tindakan
preventif seperti isolasi penderita penyakit ISPA dan pemberian imunisasi. Sebagai
perawat kita harus mengetahui sejauh mana pengetahuan keluarga tentang ISPA dan
motivasi keluarga dalam pencegahan dan perawatan ISPA dirumah, karena perilaku
seseotang dipengarahi oleh pengetahuan, sikap, kehendak, motivasi
2

1.2 Tujuan Penulisan


1.2.1 Tujuan Umum
Mendiskrispsikan asuhan kebidanan neonatus dan anak prasekolah
dengan menggunakan pola fikir melalui pendekatan manajemen kebidanan
menurut varney dan mendokumentasikannya dalam bentuk catatan SOAP.
1.2.1 Tujuan Khusus
a. Mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan konsep dasar teori asuhan
kebidanan
b. Menjelaskan konsep dasar manajemen asuhan kebidanan pada ibu hamil
trimester III
c. Melaksanakan asuhan kebidanan pada ibu hamil fisiologgis trimester III
1) Melakukan pengkajian pada klien
2) Menginterpretasi data dasar
3) Mengidentifikasi diagnosis masalah potensial
4) Mengidentifikasi kebutuhan segera
5) Merencanakan asuhan kepada klien
6) Melakukan asuhan tindakan pada klien
7) Mengevaluasi hasil dari suatu tindakan pada klien
d. Mendokumentasikan asuhan kebidanan kehamilan fisiologis trimester III
dalam bentuk catatan SOAP

2
3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kosep Dasar Teori Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA)


2.1.1 Pengertian ISPA
ISPA adalah penyakit infeksi yang sangat umum dijumpai pada
anak-anak dengan gejala batuk, pilek, panas atau ketiga gejala tersebut
muncul secara bersamaan (Meadow, Sir Roy.2006)
ISPA (lnfeksi Saluran Pernafasan Atas) yang diadaptasi dari bahasa
Inggris Acute Respiratory ifection (ARl) mempunyai pengertian sebagai
berikut:
l. Infeksi adalah masuknya kuman atau mikoorganisme kedalam tubuh
manusia dan berkembang biak sehingga menimbulkan gejala
penyakit.
2. Saluran pernafasan adalah organ mulai dari hidung hingga alfeoli
beserta organ adneksa seperti simrs-sinus, rongga tengah dan pleura
ISPA secara anatomis mencakup saluran pemafasan bagian atas.
3. Infeksi akut adalah infeksi yang berlangsung sampai 14 hari. Batas
14 hari diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk
beberapa penyakit yang digolongkan ISPA. Proses ini dapat
berlangsung dari 14 hari (Suryana, 2005).
ISPA adalah penyakit infeksi primer nasofaring dan hidung yang
sering mengenai bayi dan anak (ngastiyah,2007)
ISPA merupakan penyakit yang masa tunasnya adalah 1-2 hari
dengan faktor predisposisi kelelahan gizi yang buruk,serta akibat
kedinginan,yang umumnya terjadi akibat pergantian musim.
(ngastiyah,2007)

3
4

Infeksi saluran pernafasan akut merupakan kelompok penyakit yang


komplek dan heterogen, yang disebabkan oleh berbagai etiologi.Kebanyakan
infeksi saluran pernafasan akut disebabkan oleh virus dan mikroplasma
(Gilbert,particia 2005)

2.1.2 Etiologi
Etiologi ISPA terdiri dari 300 lebih jenis bakteri, virus,dan jamur.
Bakteri penyebab ISPA misalnya: Streptokokus Hemolitikus, Stafilokokus,
Pneumokokus, Hemofilus Influenza, Bordetella Pertusis, dan
Korinebakterium Diffteria (Achmadi dkk., 2004).
Bakteri tersebut, di udara bebas akan masuk dan menempel pada
saluran pernafasan bagian atas yaitu tenggorokan dan hidung. Biasanya
bakteri ini menyerang anak-anak yang kekebalan tubuhnya lemah misalnya
saat perubahan musim panas ke musim hujan (ngastiyah,2007).
Untuk golongan virus penyebab ISPA antara lain golongan
miksovirus (termasuk di dalamnya virus para-influensa, virus influensa, dan
virus campak), dan adenovirus. Virus para-influensa merupakan penyebab
terbesar dari sindroma batuk rejan, bronkiolitis dan penyakit demam saluran
nafas bagian atas.Untuk virus influensa bukan penyebab terbesar terjadinya
terjadinya sindroma saluran pernafasan kecuali hanya epidemi-epidemi
saja.Pada bayi dan anak-anak, virus-virus influenza merupakan penyebab
terjadinya lebih banyak penyakit saluran nafas bagian atas daripada saluran
nafas bagian bawah. (ngastiyah 2007).
Perjalanan klinis penyakit ISPA dimulai dengan berinteraksinya
virus dengan tubuh.Masuknya virus sebagai antigen ke saluran pernafasan
menyebabkan silia yang terdapat pada permukaan saluran nafas bergerak ke
atas mendorong virus ke arah faring atau dengan suatu tangkapan refleks
spasmus oleh laring.Jika refleks tersebut gagal maka virus merusak lapisan
epitel dan lapisan mukosa saluran pernafasan (Kending dan Chernick, 2005).

4
5

Iritasi virus pada kedua lapisan tersebut menyebabkan timbulnya


batuk kering.Kerusakan stuktur lapisan dinding saluran pernafasan
menyebabkan kenaikan aktifitas kelenjar mukus yang banyak terdapat pada
dinding saluran nafas, sehingga terjadi pengeluaran cairan mukosa yang
melebihi noramal.Rangsangan cairan yang berlebihan tersebut menimbulkan
gejala batuk .Sehingga pada tahap awal gejala ISPA yang paling menonjol
adalah batuk.
Adanya infeksi virus merupakan predisposisi terjadinya infeksi
sekunder bakteri.Akibat infeksi virus tersebut terjadi kerusakan mekanisme
mukosiliaris yang merupakan mekanisme perlindungan pada saluran
pernafasan terhadap infeksi bakteri sehingga memudahkan bakteri-bakteri
patogen yang terdapat pada saluran pernafasan atas seperti streptococcus
pneumonia, haemophylus influenza dan staphylococcus menyerang mukosa
yang rusak tersebut (Kending dan Chernick,2005 ).
Infeksi sekunder bakteri ini menyebabkan sekresi mukus bertambah
banyak dan dapat menyumbat saluran nafas sehingga timbul sesak nafas dan
juga menyebabkan batuk yang produktif.Invasi bakteri ini dipermudah dengan
adanya fakor-faktor seperti kedinginan dan malnutrisi.Suatu laporan
penelitian menyebutkan bahwa dengan adanya suatu serangan infeksi virus
pada saluran nafas dapat menimbulkan gangguan gizi akut pada bayi dan
anak.
Virus yang menyerang saluran nafas atas dapat menyebar ke
tempat-tempat yang lain dalam tubuh, sehingga dapat menyebabkan kejang,
demam, dan juga bisa menyebar ke saluran nafas bawah. Dampak infeksi
sekunder bakteripun bisa menyerang saluran nafas bawah, sehingga bakteri-
bakteri yang biasanya hanya ditemukan dalam saluran pernafasan atas,
sesudah terjadinya infeksi virus, dapat menginfeksi paru-paru sehingga
menyebabkan pneumonia bakteri . Penanganan penyakit saluran pernafasan
pada anak harus diperhatikan aspek imunologis saluran nafas terutama dalam

5
6

hal bahwa sistem imun di saluran nafas yang sebagian besar terdiri dari
mukosa, tidak sama dengan sistem imun sistemik pada umumnya. Sistem
imun saluran nafas yang terdiri dari folikel dan jaringan limfoid yang tersebar,
merupakan ciri khas system imun mukosa. Ciri khas berikutnya adalah bahwa
IgA memegang peranan pada saluran nafas atas sedangkan IgG pada saluran
nafas bawah.Diketahui pula bahwa sekretori IgA (sIgA) sangat berperan
dalam mempertahankan integritas mukosa saluran nafas (Roy meadew,2005)
Dari uraian di atas, perjalanan klinis penyakit ISPA ini dapat dibagi
menjadi empat tahap, yaitu:
a. Tahap prepatogenesis, penyebab telah ada tetapi penderita belum menunjukkan
reaksi apa-apa
b. Tahap inkubasi, virus merusak lapisan epitel dan lapisan mukosa. Tubuh
menjadi lemah apalagi bila keadaan gizi dan daya tahan sebelumnya
memang sudah rendah.
c. Tahap dini penyakit, dimulai dari munculnya gejala penyakit.Timbul gejala
demam dan batuk.
d. Tahap lanjut penyakit, dibagi menjadi empat, yaitu dapat sembuh sempurna,
sembuh dengan ateletaksis, menjadi kronis dan dapat meninggal akibat
pneumonia.
2.1.4 Tanda-Tanda Infeksi Saluran Pernafasan Atas (Roy Meadew,2005)
Tanda-tanda yang menunjukan bahaya dari ISPA dilihat berdasarkan
tanda-tanda klinis dan tanda-tanda laboratoris. Tanda-tanda klinis :
1. Pada sistem respiratorik adalah: tachypnea, napas tak teratur (apnea), retraksi
dinding thorak, napas cuping hidung, cyanosis, suara napas lemah atau hilang,
grunting expiratoir dan wheezing.
2. Pada sistem cardial adalah: tachycardia, bradycardiam, hypertensi, hypotensi
dan cardiac arrest.
3. Pada sistem cerebral adalah : gelisah, mudah terangsang, sakit kepala, bingung,
papil bendung, kejang dan coma.

6
7

4. Pada hal umum adalah : letih dan berkeringat banyak.


5. Hypoxemia,
6. Hypercapnia dan Acydosis (Metabolik dan atau Respiratorik).
7 Tanda-tanda bahaya pada anak golongan umur 2 bulan sampai 5 tahun adalah:
tidak bisa minum, kejang, kesadaran menurun, stridor dan gizi buruk,
sedangkan tanda bahaya pada anak golongan umur kurang dari 2 bulan adalah:
kurang bisa minum (kemampuan minumnya menurun ampai kurang dari
setengah volume yang biasa diminumnya), kejang, kesadaran menurun, stridor,
Wheezing, demam dan dingin.
2.1.5 Gejala Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ngastiyah,2005)
Seseorang dinyatakan menderita ISPA ringan jika ditemukan satu atau lebih
gejala-gejala sebagai berikut :
a. Batuk
b. Serak, yaitu anak bersuara parau pada waktu mengeluarkan suara (misalnya
pada waktu berbicara atau menangis)
c. Pilek, yaitu mengeluarkan lendir atau ingus dari hidung
d. Panas atau demam, suhu badan lebih dari 37 oC
Seseorang dinyatakan menderita ISPA sedang jika dijumpai gejala dari ISPA
ringan disertai satu atau lebih gejala-gejala sebagai berikut :
a. Pernafasan cepat (fast breating) sesuai umur yaitu : untuk kelompok umur
kurang dari 2 bulan frekuensi nafas 60 kali per menit atau lebih dan kelompok
umur 2 bulan - <5 tahun : frekuensi nafas 50 kali atau lebih untuk umur 2 – <12
bulan dan 40 kali per menit atau lebih pada umur 12 bulan – < 5 tahun.
b. Suhu lebih dari 39 o C (diukur dengan termometer)
c Tenggorokan berwarna merah
d. Timbul bercak-bercak merah pada kulit menyerupai bercak campak
e Telinga sakit atau mengeluarkan nanah dari lubang telinga
f Pernafasan berbunyi seperti mengorok (mendengkur)
Seseorang dinyatakan menderita ISPA berat jika dijumpai gejal-gejala ISPA

7
8

ringan atau ISPA sedang disertai satu atau lebih gejala-gejala sebagai berikut :
a. Bibir atau kulit membiru
b. Anak tidak sadar atau kesadaran menurun
c. Pernafasan berbunyi seperti mengorok dan anak tampak gelisah
d. Sela iga tertarik kedalam pada waktu bernafas
e. Nadi cepat lebih dari 160 kali per menit atau tidak teraba
f. Tenggorokan berwarna merah
2.1.6. Penyebab ISPA (Ngastiyah,2005)
1. Virus dan bakteri : virus influeuza sterptococcus, shapilococcus,
haemopilus influerzae.
2. Alergen spesifik : alergi yang disebabkan oleh debu asap dan udara dingin
atau panas
3. Perubahan cuaca dan lingkungan : kondisi cuaca yang tidak baik seperti
peralihan suhu panas ke hujan dan lingkungan yang tidak bersih atau
tercemar.
4. Aktifitas : kondisi dimana anak memiliki kegiatan yang banyak tanpa
memperhatikan kondisi tubuh atau daya tahan tubuh yang dapat menyebabkan
anak-anak menderita ISPA.
5. Asupan gizi Yang kurang.
2.1.7 Komplikasi ISPA(Roy meadow,buku pediatrika,2005)
1. Asma
Asma adalah mengi berulang atau batuk persisten yang disebabkan oleh
suatu kondisi alergi non infeksi dengan gejala : sesak nafas, nafas berbunyi
wheezing, dada terasa tertekan, batuk biasanya pada malam hari atau dini hari.

2. Kejang demam
Kejang demam adalah bangkilan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu
tubuh (suhu rentan lebih dari 38oC) dengan gejala berupa serangan kejang
klonik.Tanda lainnya seperti mata terbalik keatas dengan disertai kejang

8
9

kekakuan atau kelemahan, gerakan sentakan berulang tanpa didahului


kekakuan atau hanya sentakan kekauan fokal.
3. Obstruksi tuba eutachius
adalah gangguan system pendengaran yang terjadi karena adanya infeksi
yang disebabkan oleh bakteri atau virus dengan gejala awal nyeri pada telinga
yang mendadak pada bagian gendang telinga mengalami kongesti
4. Syok
Syok merupakan kondisi dimana seseorang mengalami penurunan f'ungsi
dari system tubuh yang disebabkan oleh babagai faktor antara lain : faktor
obstruksi contohnya hambatan pada system pernafasan yang mengakibatkan
seseorang kekurangan oksigen sehingga seseorang tersebut kekurang suplay
oksigen ke otak dan mengakibatkan syok.

9
10

Konsep Dasar Manajemen Asuhan Kebidanan Pada Neonatus/Bayi/Balita/Anak

Dengan Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA)

I. PENGKAJIAN
A. Data Subyektif
1. Identitas
a. Identitas Klien
Nama :
Umur /Tanggal lahir : ISPA adalah penyakit infeksi
yang sangat umum dijumpai pada anak-anak
(Matondang,2000)
Jenis Kelamin :
Tanggal MRS :
Diagnosa Medis :

b. Identitas Orang tua


Nama Ayah :
Nama Ibu :
Usia ayah/ibu :
Pendidikan ayah/ibu : Semakin tinggi tingkat
pendidikan orang tua,semakin baik tingkat pemahaman
mereka terhadap suatu penyakit (Ngastiyah,2005)
Pekerjaan ayah/ibu :
Agama :
Suku/bangsa :
Alamat :

10
11

2. Riwayat Kesehatan klien


a. Riwayat Kesehatan sekarang
 Keluhan Utama
beberapa keluhan yang di jumpai pada anak ISPA
antara lain batuk, serak, pilek,demam (Nelson,2000)
 Riwayat perjalanan penyakit dan upaya untuk
mengatasi
(Pada riwayat perjalanan penyakit,disusun cerita yang
kronologis,terinci dan jelas pada dokumentasi SOAP
menegenai keadaan kesehatan pasien sejak sebelum
terdapat keluhan sampai ia dibawa berobat)
b. Riwayat kesehatan yang lalu
 Riwayat kehamilan dan kelahiran
 Riwayat Imunisasi
 Riwayat Alergi : alergi yang disebabkan oleh debu
asap dan udara dingin atau panas dapat memicu
timbul nya ISPA (Matondang,dkk 2000)
 Riwayat penyakit yang pernah di derita
 Riwayat operasi/pembedahan
 Riwayat tumbuh kembang
 Riwayat Pertumbuhan
Status pertumbuhan anak ditelaah dari kurva berat
badan terhadap umur dan panjang badan terhadap
umur, data ini dapat di peroleh dari KMS.

11
12

 Riwayat Perkembangan
 Kemandirian dan bergaul
 Motorik halus
 Motorik kasar
 Kognitif dan bahasa
3. Riwayat Kesehatan Keluarga
a. Riwayat penyakit menular
Pada kasus ISPA Penularan Virus dapat terjadi jika ada
anggota keluarga yang terinfeksi (Nelson,dkk:2000)
b. Riwayat penyakit menurun
c. Riwayat penyakit menular
Pada kasus ispa virus dapat mudah menular kan melalui
kontak udara. (Nelson,dkk:2000)

4. Pola Fungsional Kesehatan

Kebutuhan Sesudah sakit


Sebelum sakit
Dasar

Adanya asupan gizi yang


Pola
kurang merupakan salah satu
Nutrisi
pemicu terjadinya ISPA
(Nelson,dkk:2000)

Pola
Eliminasi

Pola Anak yang istirahatnya tidak Pada anak yang menderita


Istirahat cukup berpotensi untuk ISPA cenderung
terkena ISPA mengalami kesulitan saat
(Ngastiyah,2005) istirahat atau pun tidur

12
13

(Nelson,dkk 2000)

Pola Kurangnya kebersihan diri


Personal dan lingkungan merupakan
Hygiene salah satu pemicu terjadinya
ISPA(Nelson,2000)

kondisi dimana anak memiliki


Anak yang terkena ISPA
kegiatan yang banyak tanpa
terjadi penurnan tingkat
memperhatikan kondisi tubuh
kesadarn yang dapat
atau daya tahan tubuh yang
Pola mempengaruhi aktifitas
dapat menyebabkan anak-
Aktivitas keseharian anak (Roy
anak menderita ISPA.
Meadew,2005)
(Nelson,2000)

5. Riwayat psikososiokultural spiritual


a. Komposisi, fungsi dan hubungan keluarga (Genogram)
Dari data ini dapat diketahui antara lain apa keluarga
pasien termasuk keluarga kecil ( nuclear family) atau
keluargabesar ( extended family), yang masing-masing
mempunyai implikasi dalam praktik pengasuhan anak.
Selain itu, terdapatnya perkawinan dengan keluarga dekat
(konsanguinasi) antara ayah dan ibu juga dapat
berpengaruh terhadap penyakit bawaan/keturunan .
( Matondang,dkk:2000)

13
14

b. Keaadaan lingkungan rumah dan sekitar


Tempat tinggal yang banyak debu serta polusi udara
merupakan salah satu pemicu terserangnya penyakit ispa
(Nelson,dkk:2000)
c. Kultur dan kepercayaan yang mempengaruhi kesehatan

B. Data obyektif
1. Pemeriksaan Umum
Kesadaran: Menurun (Ngastiyah,2000)
Tanda vital :
o Tekanan Darah :Normal:
Usia Tekanan Darah
BBL 40 (rerata)
1 Bulan 85/54
1 Tahun 95/65
6 Tahun 105/65
10-13Tahun 110/65

o Nadi : Terjadi takikardi > 120 kali per menit


karna suhu tubuh yang tinggi karna demam
( Matondang,dkk:2000)
o Pernafasan : Adanya pernafasan yang cepat ( > 40
kali permenit) merupakan tanda anak terkena ispa
o Suhu : pada anak ISPA suhu lebih dari 37 o C

Antropometri :
Tinggi badan :
Berat badan :adanya penurunan berat badan pada anak yang
menderita ispa (Matondng,2000)

14
15

LILA : Matondang,dkk;(2000) menyatakan pada anak


berumur 1-5 tahun, LILA saja sudah dapat menunjukan status gizi,
dengan interpretasi sbb:
< 12,5 cm : gizi buruk ( merah )
12,5-13,5 : gizi kurang ( kuning)
>13,5 : Gizi baik ( hijau )
Lingkar kepala :
Lingkar dada :Normal biasanya 2 cm lebih kecil dari lingkaran
kepala
Lingkar perut :Normal setengah Dari Panjang bayi/Tinggi anak

2. Pemeriksaan Fisik .
 Inspeksi
Kulit : Pada anak yang terkena gejala ISPA berat
ditemukan Kulit membiru (matondang,dkk:2000)
Kepala :
Wajah :
Mata :
Telinga : pada anak penserita ispa yang berkelanjutan
terdapat cairan pada rongga telinga
(Matondang,dkk)
Hidung : Pernafasan cuping hidung merupakan salah
satu manifestasi klinik dari pneumonia ( Betz
& Sowden,2000)
Mulut : Pada anak yang terkena gejala ISPA berat
ditemukan bibir membiru (Matondang,dkk)
Leher : Tenggorokan berwarna merah menunjukan
anak terkena gejala ISPA (Mtondang,dkk)

15
16

Dada : ada retraksi dinding dada jika terjadi ganguan


pernafasan ( Matondang,dkk:2000)
Abdomen :
Genetalia eksterna :
Anus :
Ekstremitas :

 Palpasi
Kepala : Tidak teraba massa
Wajah : Tidak ada fraktur atau oedem
Mata : Tidak ada oedem
Telinga : tidak tegang
Hidung : tidak ada polip
Mulut : tidak ada sotmatitis
Leher : tidak ada oedem
Dada : Tidak ada tumor atau massa
Abdomen : tidak ada pembesaran hati
Genetali Eksterna : tidak ada pengeluaran secret
Anus : tidak ada hemoroid
Ekstremitas : tidak ada oedem

 Auskultasi : pada anak yang menderita ispa terdengar


suara nafas yang mengorok ( mendengkur ) (Matondang
dkk)
 Perkusi : adanya suara deg deg pada sekitar dada
menandakan bahwa terdapat lendir atau pun cairan.
(Nelson,dkk)
3. Pemeriksaan Neurologis/Refleks

16
17

4. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium : adanya pemeriksaan sputum untuk
mengetahui virus yang terdapat pada saluran pernafasan (Nelson
dkk)
Pemeriksaan USG :
Pemeriksaan diagnostik lainnya :

II. INTERPRETASI DATA DASAR


NA-SMK, Usia ….. dengan ISPA
Masalah : Gejala Awal dari ISPA jarang di ketahui Oleh Orang Tua
Sendiri .
Kebutuhan : Memberikan Konseling pada Orang tua

III. IDENTIFIKASI DIAGNOSIS/MASALAH POTENSIAL


Komplikasi ISPA adalah asma, demam kejang, tuli, syok (Matondang
dkk)

IV. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN TINDAKAN SEGERA


Adanya pemberian Oksigen kepada anak yang menderita ISPA dan
Rehidrasi (Matondang,dkk)

V. INTERVENSI
1. Observasi tanda – tanda vital
R : Pemantauan tanda vital yang teratur dapat menentukan
perkembangan perawatan selanjutnya.

17
18

2. Anjurkan pada klien/keluarga umtuk melakukan kompres Air hangat


R : Dengan menberikan kompres maka akan terjadi proses konduks
atau perpindahan panas dengan bahan perantara

3. Anjurkan klien untuk menggunakan pakaian yang tipis dan yang dapat
menyerap keringat seperti terbuat dari katun

R : Proses hilangnya panas akan terhalangi untuk pakaian yang


tebal dan tidak akan menyerap keringat.

4. Anjurkan klien untuk minum banyak ± 2000 – 2500 ml/hr.

R : Kebutuhan cairan meningkat karena penguapan tubuh meningkat.

5. Anjurkan klien istirahat ditempat tidur selama fase febris penyakit


R : Tirah baring untuk mengurangi metabolisme dan panas
6. Anjurkan klien untuk menghindari allergen / iritan terhadap debu,bahan
kimia, asap,rokok

R : Mengurangi bertambah beratnya penyakit

7. Batasi pengunjung sesuai indikasi


R : Menurunkan potensial terpajan pada penyakit infeksius

VI. IMPLEMENTASI
Pelaksanaan dilakukan dengan efisiensi dan aman sesuai dengan rencana
asuhan yang telah disusun. Pelaksaaan ini bisa dilakukan seluruhnya oleh
bidan atau sebagian dikerjakan oleh klien atau anggota tim kesehatan
lainnya.

18
19

VII. EVALUASI
Evaluasi merupakan penilaian tentang kebersihan dan kefektifan asuhan
kebidanan yang telah dilakukan. Evaluasi didokumentasikan dalam bentuk
SOAP.

19