Anda di halaman 1dari 50

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kurikulum merupakan suatu acuan dalam proses pembelajaran ditingkat
pendidikan yang sangat berperan penting bagi seorang pendidik untuk
mencerdaskan dan untuk meningkatkan pengetahuan yang dimiliki setiap individu
dari siswa tersebut. Kurikulum terbagi menjadi dua yaitu kurikulum KTSP
(Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) dan kurikulum k13 (Kurikulum 2013).
Kedua kurikulum tersebut memiliki perbedaan dimana kurikulum KTSP
merupakan kurikulum pendidikan yang disusun dan dilaksanakan diberbagai
satuan pendidikan dengan mengkhususkan mata pelajaran atau mata pelajaran
dirancang dengan berdiri sendiri sehingga berkurangnya materi pelajaran
sedangkan kurikulum K13 dirancang dengan mata pelajaran yang satu ke mata
pelajaran lainnya yang memiliki aspek pengetahuan, aspek keterampilan, aspek
sikap dan aspek perilaku sehingga peserta didik dituntut untuk aktif dalam proses
belajar didalam kelas. Satuan pendidikan saat ini menggunakan kurikulum K13
dimana materi yang yang perlu diajarkan pada kelas awal yaitu kosakata dalam
mata pelajaran bahasa Indonesia, sebagai terbentuknya karakter yang dimiliki oleh
siswa agar penggunaan bahasa menjadi baik dan benar sesuai ejaan yang
disempurnakan (EYD).
Pembelajaran Bahasa Indonesia adalah suatu mata pelajaran yang wajib untuk
diajarkan di jenjang pendidikan dari kelas rendah hingga sampai tingkat
pendidikan yang tinggi agar bisa menggunakan tata bahasa yang benar. Bahasa
Indonesia ini memiliki empat keterampilan yang diantaranya yaitu keterampilan
mendengarkan, keterampilan berbicara, keterampilan menulis dan keterampilan
membaca yang harus dikuasai setiap siswa. Maka dari keempat komponen
tersebut yang sangat berperan penting dan harus dikuasi oleh siswa adalah
keterampilan membaca karena membaca salah satu kunci untuk meraih
keberhasilan kedepannya. Siswa yang mengetahui keterampilan membaca akan
lebih mudah menggali segala informasi dari media cetak maupun televisi, tanpa
bisa membaca maka siswa akan susah mendapatkan informasi yang ada.

ur
2

Membaca permulaan ialah proses kegiatan belajar mengajar yang dilakukan


seorang pendidik ke siswanya untuk meningkatkan keterampilan membaca
khususnya siswa yang baru memasuki bangku Sekolah Dasar. Hal yang dilakukan
oleh guru ketika siswa baru memasuki bangku Sekolah Dasar yaitu mengajarkan
pengenalan huruf, setelah sudah mengenal huruf maka siswa bisa diajarkan untuk
membaca permulaan dengan bacaan teks yang sederhana. Kegiatan membaca
permulaan ini wajib diajarkan kepada siswa di Sekolah Dasar agar mereka dapat
menyelesaikan tugas-tugasnya dengan mandiri dan untuk menguasai mata
pelajaran yang telah diberikan oleh guru. Ketika siswa disuruh maju kedepan
kelas oleh guru untuk membaca, maka ia tidak ada rasa malu-malu membaca nya
dan dengan suara nyaring membaca dengan lancar. Apabila siswa tidak tahu
membaca maka ia akan susah untuk mempelajari mata pelajaran selanjutnya dan
akan mengalami keterlambatan dalam proses belajar mengajar.
Rendahnya minat baca siswa dikarenakan faktor kurangnya perhatian dari
orang tua ketika ada dirumah. Sehingga data awal yang didapat melalui observasi
dikelas bahwa kemampuan membaca permulaan siswa kelas II SDN 58 Salolo
mata pelajaran Bahasa Indonesia masih rendah khusunya keterampilan membaca
menunjukkan 40% dari 25 siswa hanya 10 siswa yang memiliki ketuntasan dalam
membaca dan memperoleh nilai lebih dari 65 sedangkan 60% dari 25 siswa ini
hanya 15 siswa yang tidak tuntas dalam keterampilan membaca dan memperoleh
nilai kurang dari 65. Sementara Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) siswa adalah
65.
Berdasarkan data dari observasi yang dilakukan oleh peneliti,dapat di
indikasikan bahwa siswa menghadapi kesulitan dalam belajar khusus nya belajar
membaca. Terkait hal tersebut, maka perlu adanya sebuah cara atau metode yang
harus dilakukan oleh seorang guru dalam mengatasi kesulitan siswa. Salah satu
metode yang dapat digunakan oleh guru dikelas awal adalah dengan
menggunakan metode Struktural Analitik Sintesis (SAS)
Metode Struktural Analitik Sintetik (SAS) suatu metode yang prosesnya
tidak sulit untuk diajarkan kepada siswa kelas rendah yang baru memasuki
bangku Sekolah Dasar sehingga siswa tersebut dapat membaca nya secara
perlahan-lahan sampai lancar dan tidak ada perasaan jenuh ketika proses belajar

ur
3

mengajar telah berlangsung. Selain itu proses membaca dengan metode SAS ini
bisa diajarkan dirumah oleh orang tua ketika waktu belajar agar anak tersebut
lancar dalam membaca. Dalam metode SAS ini anak disuruh untuk memisahkan,
menceraikan, membagi, menguraikan, membongkar, menyatukan,
menggabungkan, merangkai dan menyusun kalimat yang dapat membuat anak
tertarik untuk belajar membaca.
Berdasarkan hal tersebut maka peneliti akan melakukan penelitian tindakan
kelas dengan judul ‘’Meningkatkan Keterampilan Membaca Permulaan dengan
Metode Struktural Analitik Sintesis ( SAS ) Mata Pelajaran Bahasa Indonesia
Kelas II SDN 58 Salolo’’

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang masalah, maka rumusan masalah penelitian ini
adalah Apakah metode Struktural Analitik Sintesis ( SAS ) dapat meningkatkan
keterampilan membaca dalam pembelajaran Bahasa Indonesia pada siswa kelas II
SDN 58 Salolo ?

1.3 Tujuan Penelitian


Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui metode Struktural Analitik Sintesis ( SAS ) dapat meningkatkan
keterampilan membaca dalam pembelajaran Bahasa Indonesia pada siswa kelas II
SDN 58 Salolo

1.4 Batasan Penelitian


Batasan penelitian ini berdasarkan identifikasi masalah yang telah
diuraikan di atas, penelitian ini dibatasi pada rendahnya keterampilan membaca
permulaan siswa kelas II dan penerapan yang akan digunakan metode Struktural
Analitik Sintesis ( SAS ) untuk meningkatkan keterampilan membaca permulaan
siswa SDN 58 Salolo Gowa, Desa Muladimeng, Kecamatan Ponrang, Kabupaten
Luwu

ur
4

1.5 Manfaat Penelitian


1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini memberi masukan sekaligus menambah pengetahuan serta
wawasan untuk mengetahui upaya meningkatkan kemampuan membaca
permulaan melalui metode suku kata.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi guru
1. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan menghadapi dan mengatasi
siswa yang mengalami kesulitan belajar membaca permulaan di kelas II,
sehingga tercipta suatu proses pembelajaran yang kondusif untuk untuk
membantu perkembangan siswa yang optimal.
2. Masukan bagi guru untuk memilih dan menggunakan metode pembelajaran
yang efektif untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan.
b. Bagi siswa
1. Meminimalkan kesulitan belajar membaca, sehingga dapat meningkatkan
kemampuan siswa dalam membaca permulaan.
2. Meningkatkan hasil belajar siswa dalam keterampilan membaca permulaan.
3. Meningkatkan motivasi belajar siswa.
c. Bagi peneliti selanjutnya
Dapat memberikan sumber informasi dan referensi sebagai masukan atau
kajian dalam penelitian selanjutnya.

ur
5

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Kajian Teori
1. Hakikat Membaca Permulaan
a. Pengertian Membaca Permulaan
Kegiatan dalam membaca permulaan masih lebih ditekankan pada
pengenalan dan pengucapan lambang-lambang bunyi yang berupa huruf, kata, dan
kalimat dalam bentuk sederhana. Pengucapan tersebut akan lebih bermakna jika
dapat membangkitkan makna seperti dalam pembicaraan lisan. Latar belakang
pengalaman siswa juga sudah berpengaruh dalam pengembangan kosakata dan
konsep dalam membaca permulaan menurut Enny Zubaidah (2013:9)
Steinberg (Ahmad Susanto, 2011:83) membaca permulaan adalah
membaca yang diajarkan secara terprogram kepada anak prasekolah. Program ini
merupakan perhatian pada perkataan-perkataan utuh, bermakna dalam konteks
pribadi anak-anak dan bahanbahan yang diberikan melalui permainan dan
kegiatan yang menarik sebagai perantaran pembelajaran.
Dalman (2014:85) Setiap orang yang akan belajar membaca terlebih
dahulu memasuki tahap membaca permulaan. Tahap ini merupakan tahap awal
dalam belajar membaca. Membaca permulaan merupakan suatu keterampilan
yang harus dipelajari serta dikuasi oleh pembaca. Pada tahap membaca
permulaan, anak diperkenalkan dengan bentuk huruf abjad A sampai Z, kemudian
huruf-huruf tersebut dilafalkan dan dihafalkan sesuai dengan bunyinya.

Berdasarkan menurut para ahli yang terpapar di atas, maka peneliti


berpendapat bahwa keterampilan membaca permulaan ialah proses awal yang
diajarkan seorang pendidik khususnya dikelas I dan kelas II agar kedepannya
siswa mampu membaca dengan tepat dan benar. Kegiatan membaca ini juga bisa
diintegrasikan ketika siswa sedang bermain, sehingga siswa tidak merasa bosan
untuk berlatih dalam membaca. Siswa yang sudah dikatakan bisa dalam
keterampilan membaca apabila sudah tepat dalam penyebutan tulisan, kelancaran
dalam membaca, kejelasan suara ketika proses membaca berlangsung, serta
pemahaman kata-kata yang dibacanya.

ur
6

b. Jenis Membaca
Membaca merupakan kegiatan penting dalam setiap proses pembelajaran
disekolah, terdapat dua jenis membaca yaitu membaca permulaan dan membaca
pemahaman. Menurut (Depdiknas; 2002:44) Pada umumnya siswa yang duduk di
kelas I, II, III dan IV proses membaca yang dilakukan adalah:
1. Membaca bersuara (membaca nyaring)
Yaitu membaca yang dilakukan dengan bersuara, biasanya dilakukan oleh
kelas tinggi / besar. Pelaksanaan membaca keras bagi siswa Sekolah Dasar
dilakukan seperti berikut:
a) Membaca klasikal yaitu membaca yang dilakukan secara
bersama-sama dalam satu kelas
b) Membaca berkelompok yaitu membaca yang dilakukan oleh
sekelompok siswa dalam satu kelas
c) Membaca perorangan yaitu membaca yang dilakukan secara
individu, membaca perorangan diperlukan keberanian siswa
dan mudah dikontrol oleh guru. Biasa dilaksanakan untuk
mengadakan penelitian.
2. Membaca dalam hati
Membaca dalam hati yaitu membaca dengan tidak mengeluarkan kata-kata
atau suara.
3. Membaca teknik
Membaca teknik hampir sama dengan membaca keras. Membaca teknik
ialah cara membaca yang mencakup sikap, dan intonasi bahasa. Latihan-
latihan yang diperlukan diantaranya:
a) Latihan membaca di tempat duduk
b) Latihan membaca di depan kelas
c) Latihan membaca di mimbar

d) Latihan membacakan

ur
7

Menurut tarigan (dalam Dahlia Paitung 2016:357-358) membaca terdiri


dari dua jenis yaitu membaca nyaring dan membaca dalam hati. Kedua jenis
membaca tersebut dapat dijelaskan secara rinci lagi yaitu:

1. Membaca nyaring (bersuara)


Membaca nyaring adalah suatu aktivitas atau kegiatan yang merupakan
alat bagi guru, murid, ataupun pembaca bersama-sama dengan orang lain atau
pendengar untuk menangkap atau memahami informasi, pikiran, dan perasaan
seorang pengarang.
Kegiatan membaca suara yang paling sederhana pernah kita lakukan
adalah ketika kita mulai belajar membaca dikelas 1 dan II tingkat Sekolah Dasar.
Kita belajar melafalkan kalimat-kalimat sederhana dari suatu wacana yang
sederhana, sekarang pun masih ditemukan guru di tingkat pendidikan dasar yang
menerapkan hal tersebut. Membaca bersuara pada dasarnya sama dengan
membaca nyaring yang sering diterapkan oleh siswa di tingkat dasar.
2. Membaca senyap (dalam hati)
Membaca senyap atau dalam hati adalah membaca tidak bersuara, tanpa
gerakan bibir, tanpa gerakan kepala, tanpa berbisik, memahami bahan bacaan
yang dibaca secara diam atau dalam hati, kecepatan mata dalam membaca tiga
kata per detik, menikmati bahan bacaan yang dibaca dalam hati, dan dapat
menyusaikan kecepatan membaca dengan tingkat kesukaran yang terdapat dalam
bahan bacaan itu.
Tarigan berpandapat yang dikutip dari buku keterampilan membaca
karangan Dalman, dalam membaca senyap pembaca hanya mempergunakan
ingatan visual yang melibatkan pengaktifan mata dan ingatan. Latihan-latihan
pada membaca senyap haruslah dimulai sejak dini sehingga anak-anak sudah
dapat membaca sendiri dan pada tahap ini anak hendaknya dilengkapi bahan
bacaan tambahan yang penekanannya diarahkan pada keterampilan menguasai isi
bacaan serta memahami ide-ide dengan usahanya sendiri.
Berdasarkan dari jenis-jenis membaca menurut para ahli, maka penelitian
ini akan menggunakan jenis membaca nyaring karena pada kegiatan membaca
permulaan ini sangat dibutuhkan suara yang nyaring ketika siswa sedang belajar

ur
8

membaca. Membaca nyaring juga sangat bagus untuk diterapkan pada siswa yang
baru belajar membaca permulaan, guna untuk menambahkan kepercayaan diri
siswa tersebut bahwa dia bisa membaca walaupun masih ada kata-kata yang
belum bisa diselesaikan.
c. Tujuan membaca permulaan
Menurut Iskandar Wassid dan Dadang Sunendar (2008:289) tujuan
pembelajaran membaca dibagi menjadi tingkat pemula, menengah, dan mahir.
Menurutnya, tujuan pembelajaran bagi tingkat pemula adalah sebagai berikut : (a)
Mengenali lambang-lambang (simbol-simbol bahasa), dengan membaca anak
akan langsung melihat lambang-lambang bahasa dan anak semakin memhami
perbedaan dari lambang-lambang bahasa; (b) Mengenali kata dan kalimat, dengan
mengenal lambang-lambang anak juga akan mengenal kata kemudian mengenal
kalimat-kalimat; (c) Menemukan ide pokok dan kata kunci; (d) Menceritakan
kembali cerita-cerita pendek.
Adapun menurut Farida Rahim (2008:11-12) tujuan membaca mencakup:
(a) Kesenangan; (b) Menyempurnakan membaca nyaring; (c) Menggunakan
strategi tertentu; (d) Mengetahui pengetahuan tentang suatu topik; (e) Mengaitkan
informasi baru dengan informasi yang sudah diketahui; (f) Memperoleh informasi
untuk laporan lisan dan tertulis; (g) Menginformasikan atau menolak prediksi; (h)
Menampilkan suatu eksperimen; (h) Mempelajari suatu teks
Kemendikbud (2013:15-102) tujuan membaca permulaan yang tercantum
di dalam indikator kurikulum 2013 adalah sebagai berikut : (1) siswa dapat
menyebutkan urutan huruf melalui nyanyian ‘’a-b-c’’, (2) siswa dapat
mengurutkan huruf a-b-c-d-e-f dengan urutan yang benar, (3) siswa dapat
mengenal huruf vokal a-iu-e-o, (4) siswa dapat menirukan teks deskriptif
sederhana, (5) siswa dapat membaca teks deskriptif sederhana, (6) siswa dapat
menyusun huruf dengan baik dan benar, (7) siswa dapat melengkapi huruf dalam
sebuah kata, (8) siswa dapat membaca nyaring kosakata, (9) siswa dapat mengenal
kosakata.
Berdasarkan tujuan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa keterampilan
membaca permulaan tingkat satuan pendidikan kelas rendah khususnya kelas II
SD harus mulai lancar membaca, agar siswa mampu membaca kata-kata dan

ur
9

kalimat secara benar dan tepat. Terlebih di dunia pendidikan yang saat ini
digunakan adalah kurikulum K13, dimana siswa harus mampu membaca guna
tidak ada keterlambatan dalam proses pembelajaran. Kegiatan membaca bukan
hanya bertujuan untuk menggali informasi saja, tapi dapat mengetahui isi dari
tulisan.
d. Faktor-faktor yang mempengaruhi keterampilan membaca
Farida Rahim (2008:16-29) berpendapat bahwa faktor yang
mempengaruhi keterampilan membaca terbagi menjadi empat diantarnya:
1. Faktor Fisiologis
Faktor fisiologis mencakup kesehatan fisik, pertimbangan neurologis, dan
jenis kelamin, yang termasuk kesehatan fisik contohnya adalah kelelahan karena
kelelahan juga merupakan yang tidak menguntungkan bagi anak dalam proses
belajar. Beberapa ahli mengemukakan bahwa keterbatasan neurologis misalnya
berbagai cacat otak dan kekurang matangan secara fisik merupakan faktor yang
dapat menyebabkan anak gagal dalam meningkatkan kemampuan membaca
pemahaman mereka.
2. Faktor Intelektual
Secara umum, intelegensi anak tidak sepenuhnya memengaruhi
keberhasilan atau tidaknya anak dalam membaca permulaan.
3. Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan itu meliputi :
a) Latar belakang dan pengalaman siswa dirumah. Lingkungan dapat
membentuk pribadi, sikap, nilai, dan kemampuan bahasa anak. Kondisi
dirumah memengaruhi pribadi dan penyesuaian diri anak dalam masyarakat
b) Sosial ekonomi keluarga siswa. Faktor sosial ekonomi, orang tua, dan
lingkungan tetangga merupakan faktor yang membentuk lingkungan rumah
siswa. Anak-anak yang mendapat contoh bahasa yang baik dari orang
dewasa serta orang tua yang berbicara dan mendorong anak-anak mereka
berbicara akan mendukung perkembangan bahasa dan intelegensi anak.
4. Faktor Psikologis
Faktor ini mencakup motivasi, minat, kematangan sosial, emosi, dan
penyesuaian diri. Motivasi adalah faktor kunci dalam belajar membaca.

ur
10

Kuncinya adalah guru harus mendemonstrasikan kepada siswa praktik


pengajaran yang relevan dengan minat dan pengalaman anak sehingga anak
memahami belajar itu sebagai kebutuhan.
2. Metode Struktural Analitik Sintesis ( SAS )
a. Defenisi Metode Struktural Analitik Sintesis ( SAS )
Menurut Rina Oktiviani, dkk (2014:18) metode SAS dikenal juga sebagai
metode membaca keseluruhan baru bagian. Kata baru sebagian yang dimaksud
disini adalah anak dilatih menguraikan kata-kata dari sebuah kalimat, lalu kata,
suku kata, hingga huruf dalam suku kata. Lanjut suku kata menjadi kata dan kata
menjadi kalimat awal. Awalnya anak diminta membaca satu kalimat sederhana.
Semakin lama, bentuk kalimat semakin panjang. Metode ini berdasarkan landasan
linguistik sebetulnya menolong anak menguasai bacaan dengan lancar.
Sedangkan menurut Solchan (2009:6.22) metode struktural analitik sintetis
merupakan metode yang mengawali pembelajarannya dengan menampilkan dan
memperkenalkan sebuah kalimat utuh. Kalimat utuh yang dijadikan tonggak dasar
diuraikan ke dalam satuan-satuan bahasa yang lebih kecil yang disebut kata.
Proses analisis atau penguraian ini terus berlanjut hingga sampai pada wujud
satuan bahasa terkecil yang tidak bisa diuraikan lagi, yakni huruf-huruf.
Begitu pula pernyataan dari Sri Wahyuni (2010:10) menyatakan bahwa
metode membaca permulaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
struktural analitik sintesis (SAS). Dalam metode struktural analitik sintesis (SAS)
anak diperkenalkan dengan teknik membaca permulaan dengan kalimat atau
wacana utuh, kemudian ke unsur-unsur yang lebih kecil.

Berdasarkan menurut para ahli yang terpapar diatas, maka peneliti


berpendapat bahwa metode SAS adalah teknik yang membelah kata ke dalam
pengucapannya, dalam pelaksanaan metode SAS bukan hanya guru saja yang aktif
namun siswa sangat berperan dalam proses pembelajaran. Metode SAS ini sangat
berperan penting dalam proses pengajaran khusunya pembelajaran membaca
permulaan, di mana kalimat yang utuh diuraikan menjadi kata dari kata kemudian
diuraikan menjadi bagian suku kata dan suku kata diuraikan menjadi rangkaian
huruf-huruf yang kemudian bagian-bagian yang telah diuraikan tersebut
dikembalikan kebentuk semula sehingga menjadi kalimat yang sempurna.

ur
11

b. Langkah-langkah penggunaan metode Struktural Analitik Sintesis ( SAS )


Depdiknas (2007:19) menyatakan beberapa langkah-langkah pembelajaran
membaca permulaan dengan metode SAS adalah sebagai berikut:
a) Berikan siswa sebuah kata
Seperti: ini boneka
b) Anak mengeja kata itu menjadi sukukata
Seperti: ini – boneka
i ni - bo ne ka
c) Setelah anak mengurai sukukata itu menjadi huruf-huruf
Seperti: i ni – bo ne ka
in i-b o n e k a
d) Ulangi, sampai anak menyadari hubungan antara bunyi dan sukukata/huruf
e) Dengan mengeja, anak merangkai kembali huruf tersebut menjadi
sukukata/kata
f) Anak membaca utuh kata tersebut sehingga menjadi kalimat seperti
semula.
Contohnya: ini - boneka
i ni - bo ne ka
i n i–b o n e k a
i ni - bo ne ka
ini - boneka
Sedangkan menurut Slamet (2007:66) langkah-langkah pembelajaran
metode SAS dibagi menjadi dua tahap yakni tahap tanpa buku dan tahap
menggunakan buku. Adapun tahap tanpa buku pembelajarannya dilaksanakan
dengan cara:
a) Merekam bahasa anak
Dalam hal ini Bahasa yang digunakan oleh siswa di dalam percakapan
mereka, direkam untuk digunakan sebagai bahan bacaan karena Bahasa yang
digunakan sebagai bahan bacaan adalah Bahasa siswa sendiri
b) Menampilkan gambar sambil bercerita
Dalam hal ini guru memperlihatkan gambar kepada siswa sambil bercerita
sesuai gambar tersebut. Kalimat-kalimat yang digunakan guru dalam bercerita

ur
12

itu digunakan sebagai sebagai pola dasar bahan bacaan. Contoh: Guru
memperlihatkan gambar seorang anak yang sedang menulis sambil bercerita,
misalnya ini adi, adi duduk di kursi, ia sedang menulis surat, dan seterusnya.
Kalimat-kalimat tersebut ditulis dipapan tulis dan digunakan sebagai bahan
bacaan.
c) Membaca gambar
Guru memperlihatkan buku cerita bergambar yang ditunjukkan kepada siswa.
Contoh: Guru memperlihatkan gambar seorang ibu yang sedang memegang
sapu sambil mengucapkan kalimat ‘’ ini ibu ’’ . Siswa melanjutkan membaca
gambar tersebut dengan bimbingan guru.
d) Membaca gambar dengan kartu kalimat
Setelah siswa dapat membaca gambar dengan lancar, guru menempatkan kartu
kalimat dibawah gambar. Agar memudahkan pelaksanaannya dapat digunakan
media berupa apapun seperti papan flanel, kartu kalimat, kartu kata, kartu
huruf, dan kartu gambar. Penggunaan papan flanel dan kartu-kartu lainnya
untuk menguraikan dan menggabungkan kalimat akan lebih mudah.
e) Membaca kalimat secara Struktural (S)
Setelah siswa mulai dapat membaca tulisan dibawah gambar , sedikit demi
sedikit gambar dikurangi, akhirnya mereka dapat membaca tanpa bantuan
gambar. Kegiatan ini yang digunakan dengan kartu-kartu kalimat serta papan
flanel. Dengan dihilangkan gambar maka yang dibaca siswa adalah kalimat,
misalnya:

Ini ibu
Ini ibu Tuti
Ini ibu Budi
Ini ibu Nana
f) Proses Analitik (A)

ur
13

Sesudah siswa dapat membaca kalimat, mulailah menganalisis kalimat itu


menjadi kata, suku kata menjadi huruf.
misalnya:

ini ibu
i ni - i bu
i n i i b u
g) Proses Sintetis (S)
Setelah siswa mengenal huruf-huruf dalam kalimat yang diuraikan,
huruf-huruf itu dirangkaikan lagi menjadi suku kata menjadi kata, dan kata
menjadi kalimat seperti semula.
misalnya:

i n i i b u
i ni i bu
ini ibu
Secara utuh proses SAS tersebut sebagai berikut:
ini ibu
i ni i bu
i n i i b u
i ni i bu
Ini ibu
c. Kelebihan dan Kekurangan Metode SAS

ur
14

Yeti Mulyati (Zahrul Wardiati 2017:53) mengemukakan kelebihan dan


kekurangan metode SAS. Kelebihan dari metode SAS, yaitu
a) Metode ini sejalan dengan prinsip linguistik (ilmu bahasa) yang memandang
satu bahasa terkecil yang bermakna untuk berkomunikasi adalah kalimat.
Kalimat dibentuk oleh satuan-satuan bahasa di bawahnya, yaitu kata, suku
kata dan akhirnya fonem (huruf-huruf)
b) Menyajikan bahan pelajaran yang sesuai dengan perkembangan dan
pengalaman bahasa siswa yang selaras dengan situasi lingkungannya.
c) Metode ini sesuai dengan primsip inkuiri. Dengan begini, murid akan merasa
lebih percaya diri atas kemampuannya sendiri. Sikap seperti ini akan
membantu murid dalam mencapai keberhasilan belajar.
kelemahan metode SAS yaitu:
a) Kurangnya pengetahuan guru tentang metode SAS mempengaruhi
keberhasilan studi anak dalam bidang studi Bahasa Indonesia khususnya dan
pelajaran lain pada umumnya.
b) Memerlukan biaya yang banyak dan memerlukan kecakapan guru yang
memadai.
c) Anak yang kurang kreatif dapat membaca dengan hafal tetapi mengenal huruf
(membaca hafalan)
Supriyadi (dalam Kurnia Asti Madasari dan Mimi Mulyani 2016:179)
mengemukakan bahwa metode SAS memiliki kelebihan dan kekurangan.
Kelebihan metode SAS yaitu:
a) Membuat anak mudah mengikuti prosedur dan akan cepat dalam membaca
pada kesempatan berikutnya, berdasarkan landasan linguistik metode ini akan
menolong anak dalam proses membaca permulaan.
Kelemahan metode SAS yaitu:
a) Mempunyai kesan bahwa pengajar harus kreatif dan terampil serta sabar.
Berdasarkan uraian di atas, disetiap metode memiliki kelebihan maupun
kekurangan yang terdapat didalamnya. Begitupun dengan metode Struktural
Analitik Sintetis (SAS) memiliki banyak kelebihan bagi anak yang mengalami
kesulitan dalam keterampilan membaca permulaan khususnya pada kelas rendah,
sehingga metode ini mampu meningkatkan keterampilan membaca permulaan dan

ur
15

membuat anak menjadi lebih mandiri ketika sedang membaca tanpa bantuan
siapapun.
2.2 Penelitian yang Relevan
1. Penelitian yang dilakukan oleh Ratno Saputro (08108244112) Fakultas Ilmu
Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta. dengan judul “Upaya
Meningkatkan Kemampuan Membaca Permulaan Melalui Metode Struktural
Analitik Sintetik (SAS) Siswa Kelas I di SD Negeri 1 Gebangsari Kebumen”.
Berdasarkan hasil penelitiannya dapat disimpulkan bahwa pembelajaran
menggunakan metode Struktural Analitik Sintetik (SAS) dapat meningkatkan
kualitas proses dan kemampuan membaca permulaan siswa. Hal ini dapat
dilihat dari rata-rata hasil belajar peserta didik pada kondisi awal sebesar 61,9
kemudian nilai rata-rata pada siklus I meningkat 10,2 dan pada siklus II
meningkat 21,9.
Yang membedakan dengan penelitian terdahulu adalah dari segi metode
penelitian yang digunakan dalam penelitian terdahulu adalah PTK sedangkan
yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah metode eksperimen.
Sekolah yang digunakan untuk penelitian terdahulu adalah SD Negeri 1
Gebangsari Kecamatan Klirong Kabupaten Kebumen sedangkan yang
digunakan oleh peneliti sekarang adalah MI Miftakhul Akhlaqiyah.
2. Penelitian yang dilakukan oleh Wilujeng Setyani (X7210166) Fakultas KIP
Universitas Negeri Surakarta dengan judul “Penggunaan Metode SAS
(Struktural Analitik Sintetik) dalam Peningkatan Keterampilan Membaca
Permulaan Siswa Kelas I SD Negeri 2 Ayamputih Tahun Ajaran 2011/2012”.
Berdasarkan hasil penelitiannya dapat disimpulkan bahwa Hasil penelitian
menunjukkan bahwa melalui penggunaan metode SAS dapat meningkatkan
keterampilan membaca permulaan siswa SD Negeri 2 Ayam putih tahun
ajaran 2011/2012. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata hasil belajar peserta
didik yaitu rata-rata peserta didik pada siklus I sebesar 45%, siklus II sebesar
73% dan siklus III sebesar 84%.36 Yang membedakan dengan penelitian
terdahulu adalah dari teknik analisis data yang digunakan adalah kualitatif
sedangkan teknik analisis data yang digunakan oleh peneliti sekarang adalah
kuantitatif. Segi metode penelitian yang digunakan dalam penelitian

ur
16

terdahulu adalah PTK sedangkan yang digunakan oleh peneliti dalam


penelitian ini adalah metode eksperimen. Sekolah yang digunakan untuk
penelitian terdahulu adalah SD Negeri 2 Ayam putih sedangkan yang
digunakan oleh peneliti sekarang adalah MI Miftakhul Akhlaqiyah.
Berdasarkan menurut penelitian relevan yang terdapat di atas, maka
peneliti menyimpulkan bahwa penelitian yang dilakukan oleh Ratno Saputro dari
Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta dengan penelitian oleh Wilujeng
Setyani dari Fakultas KIP Universitas Negeri Surakarta memiliki persamaan yaitu
untuk meningkatkan keterampilan membaca permulaan siswa kelas rendah
dengan menggunakan metode Struktural Analitik Sintetis (SAS) dengan
menggunakan penelitian tindakan kelas. Adapun perbedaan dari kedua penelitian
tersebut yaitu terdapat pada siklus. Siklus yang terdapat dipenelitian Ratno
Saputro dengan hasil 2 siklus sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Wilujeng
Setyani terdapat 3 siklus. Terbukti bahwa metode Struktural Analitik Sintesis
(SAS) dapat meningkatkan kemampuan membaca permulaan siswa yang tadinya
tidak tau membaca menjadi pintar dalam membaca.

2.3 Kerangka Pikir


Satuan pendidikan di Sekolah Dasar mengembangkan keterampilan dan
kemampuan peserta didik seperti kemampuan dalam membaca, kemampuan
dalam keterampilan menulis dan kemampuan dalam berhitung. Ketiga komponen
tersebut, keterampilan membaca merupakan keterampilan penting yang harus
dikuasai setiap siswa. Keterampilan membaca tidak hanya untuk mendapatkan
informasi saja, melainkan berfungsi sebagai alat untuk memperluas pengetahuan
seseorang.
Meningkatkan kemampuan membaca permulaan, guru harus memilih
metode pengajaran. Metode pengejaran merupakan salah satu faktor yang sangat
penting untuk dapat mendukung keberhasilan dalam proses pembelajaran karna
tanpa menggunakan metode guru akan susah menerangkan pembelajaran kepada
siswa. Salah satu metode saat pembelajaran membaca permulaan yang dapat
digunakan oleh guru adalah metode Struktural Analitik Sintesis (SAS). Metode
SAS mempunyai langkah-langkah dengan urutan:

ur
17

1. Struktural menampilkan keseluruhan (kalimat utuh)


2. Analitik melakukan proses penguraian kalimat menajdi unsur bahasa
terkecil
3. Sintesis melakukan penggabungan kembali sehingga menjadi kalimat
yang utuh

ur
18

Pembelajaran Bahasa Indonesia pada siswa


kelas II SD

KkKurangnya minat KkKurangnya minat Kurangnya minat


menulis membaca berbicara

Membaca Permulaan

Metode Struktural Analitik Sintesis ( SAS )

Penelitian Tindakan Kelas ( PTK )

Perlakuan Refleksi
Perencanaan PPengamatan
Tindakan

Analisis Data

MKeterampilan membaca permulaan siswa meningkat


Gambar 1. Bagan kerangka pikir

ur
19

2.3 Hipotesis Tindakan


Berdasarkan kajian pustaka dan kerangka pikir diatas maka peneliti
mengajukan hipotesis tindakan dari penelitian ini adalah Penggunaan metode
Struktural Analitik Sintesis (SAS) dapat meningkatkan keterampilan membaca
permulaan pada siswa kelas I SD Negeri 58 Salolo Gowa, Desa Muladimeng,
Kecamatan Ponrang, Kabupaten Luwu

ur
20

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang akan digunakan yaitu Penelitian Tindakan Kelas
(PTK) dimana kegiatan peneliti ini bermaksud untuk menganalisis keterampilan
membaca permulaan dan memberikan upaya agar kemampuan membaca
permulaan pada siswa kelas I SD dapat meningkat sesuai kriteria keberhasilan
yang ditetapkan. Menurut Mulyasa (2009:10) berpendapat Penelitiam Tindakan
Kelas (PTK) dapat diartikan sebagai penelitian tindakan yang dilakukan dengan
tujuan untuk memperbaiki kualitas proses dan hasil belajar sekelompok peserta
didik.Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan jenis PTK kolaborasi, artinya
peneliti tidak melakukan penelitian sendiri, tetapi bekerjasama dengan guru kelas.

3.2 Lokasi dan Waktu


Penelitian ini akan dilaksanakan di kelas I SD Negeri 58 Salolo, terletak di
Provinsi Sulawesi Selatan, Desa Muladimeng, Kecamatan Ponrang, Kabupaten
Luwu. Waktu penelitian akan dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran
2019/2020.

3.3 Subjek Penelitian


Subjek penelitian ini adalah siswa kelas I SD Negeri 58 Salolo yang terdiri
dari 25 siswa dimana 15 siswa laki-laki dan 10 siswa perempuan, sekitaran
berusia antara 8 sampai dengan 9 tahun.

3.4 Desain Penelitian


Desain atau model yang digunakan dalam penelitian ini merupakan desain
model Kemmis dan Mc Taggart dalam Suharmin Arikunto (2010:17) yang
berbentuk spiral dari siklus satu ke siklus berikutnya, yang terdiri dari: menyusun
perancanaan tindakan (planning), melaksanakan tindakan (acting), melaksanakan
pengamatan (observing) serta melaukan refleksi (reflecting).

ur
21

Pelaksanaan Tindakan

Pengamatan/
Perancanaan Tindakan Siklus 1
Observasi

Refleksi

Perancanaan Tindakan

Refleksi Pelaksanaan Tindakan


Siklus II

Pengamatan/ Observasi

Gambar 3.1. Model Penelitian Tindakan Kelas Menurut Kemmis & Mc Taggart
(diadaptasi dari Suharsimi Arikunto, 2010:17)
Keempat langkah tersebut dilakukan secara berurutan dan diidentifikasi
menjadi sebuah siklus, adapun tahap pelaksanaanya yaitu sebagai berikut:
a. Tahap perencanaan dilakukan dengan mengadakan pertemuan antara peneliti,
kepala sekolah, guru kelas untuk mendiskusikan materi pembelajaran, soal tes
kemampuan membaca permulaan, membuat RPP.
b. Tahap pelaksanaan atau tindakan yang dilakukan 2 kali pertemuan pada tiap
siklus, setiap siklus pertemuan adalah 35 menit dan melakukan tes setiap akhir
siklus pada pertemuan ke 2 untuk mengukur kemampuan siswa pada membaca
permulaan.

ur
22

c. Tahap pengamatan dilakukan untuk mengamati kemampuan membaca siswa


berkesulitan membaca permulaan. Pengamatan dilakukan dengan
menggunakan instrumen observasi.
d. Tahap refleksi merupakan kegiatan diskusi antara guru dan peneliti untuk
menganalisis hasil pelaksanaan pembelajaran membaca permulaan dengan
menggunakan metode Struktural Analitik Sintesis (SAS).

3.5 Teknik Pengumpulan Data


Teknik pengumpulan data ialah alat yang digunakan peneliti saat
penelitian dalam pengumpulan data. Teknik pengumpulan data dalam penelitian
ini dilakukan dengan cara observasi (pengamatan), kuesioner (tes), dan
dokumentasi. Dalam penelitian ini data dikumpul dengan cara :
1. Observasi

Observasi merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan oleh


peneliti dengan cara mengamati siswa dan guru dalam setiap proses belajar
mengajar yang sedang berlangsung, lalu mencatat setiap hal-hal atau kejadian
yang dianggap penting pada saaat penelitian berlangsung di dalam kelas. Adapun
yang diamati dalam penelitian ini yaitu aktivitas siswa dalam proses membaca
permulaan dengan menggunakan metode SAS, serta kinerja guru dalam
mengerjakan dan menerapkan metode SAS dalam pembelajaran membaca
permulaan. Observasi dilakukan dengan menggunakan chek list yang telah dibuat
oleh peneliti pada lembar observasi. Kemudian memberikan tanda centang (√)
pada rentang skor yang telah ditentukan untuk lembar observasi guru maupun
siswa. Observasi ini akan dilaksanakan di kelas I SD Negeri 58 Salolo.

2. Tes
Tes merupakan salah satu alat atau pedoman yang digunakan oleh peneliti
untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa sebelum tindakan dan sesudah
tindakan serta hasil pembelajaran khususnya dalam membaca permulaan pada
siswa kelas II. Jenis tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes tertulis.
Tes tertulis digunakan untuk mengukur peningkatan kemampuan membaca
permulaan siswa melalui metode SAS dalam mata pelajaran bahasa indonesia. Tes

ur
23

ini akan dilaksanakan pada akhir pembelajaran, tes ini dilakukan setelah siswa
sudah mempelajari materi membaca dengan lafal, intonasi kejelasan, dan
kelancaran sehingga siswa bisa membaca nyaring di depan kelas tanpa ada rasa
malu-malu.

3. Dokumentasi
Dokumentasi yaitu teknik pengumpulan data yang menyajikan sebuah
informasi. Dengan melakukan pengamatan terhadap dokumen dan catatan sekolah
berupa sejarah tentang perkembangan SD Negeri 58 salolo, buku absensi siswa,
data nilai yang diperoleh siswa setiap proses pembelajaran dan kriteria ketuntasan
minimal (KKM) yang diterapkan oleh guru. Data ini merupakan data resmi untuk
mengetahui data awal dalam proses pelaksanaan penelitian. Dokumen selanjutnya
yang perlu diketahui peneliti untuk mengetahui proses siswa dalam pembelajaran
pada waktu tindakan berupa rancangan pembelajaran (RPP), foto saat proses
belajar mengajar, dan nilai hasil belajar siswa dalam membaca permulaan
khususnya kelas I mata pelajaran bahasa Indonesia di SD Negeri 58 Salolo.

3.6 Instrumen Penelitian


Instrumen penelitian merupakan alat bantu peneliti dalam memudahkan
mengumpulkan data. Terdapat 3 instrumen yang digunakan dalam penelitian ini
diantaranya:
1. Lembar Obervasi

Observasi dilakukan secara pasrtipasi dengan tujuan untuk memperoleh


data. Peneliti melakukan pengamatan saat proses pembelajaran membaca
permulaan yang dilakukan siswa dengan menggunakan metode Struktural Analitik
Sintesis (SAS), pengamatan ini mencakup sikap dan partisipasi siswa dalam
pembelajaran membaca.

2. Tes kemampuan membaca permulaan


Istrumen tes ini mengenai tentang pembelajaran membaca permulaan kelas
II dengan menggunakan metode Struktural Analitik Sintesis (SAS) mata pelajaran
bahasa Indonesia. Instrumen pengumpulan data untuk mengukur kemampuan

ur
24

siswa dalam aspek kognitif atau tingkat penguasaan materi pembelajaran. Teknik
pengumpulan data yang digunakan adalah dengan tes evaluasi hasil belajar siswa
pada pertemuan akhir pembelajaran di setiap siklus.

3.7 Teknik Analisis Data


Peneliti akan melakukan analisis data-data yang berupa hasil tes dan hasil
pengamatan langsung pada saat pelaksanaan tindakan, diperoleh dari hasil siklus I
dan siklus II. Data yang diambil adalah data kuantitatif dari hasil tes dan nilai
tugas, serta data kualitatif yang menggambarkan keaktifan siswa dalam proses
belajar mengajar. Kriteria ketuntasan minimal (KKM) mata pelajaran bahasa
Indonesia di SD Negeri 58 Salolo yaitu 65. Ketuntasan dalam proses
pembelajaran membaca permulaan tiap siklus, akan dianalisis menggunakan
rumus :
Persentase = Jumlah siswa yang tuntas membaca × 100%

Jumlah seluruh siswa

3.8 Indikator Keberhasilan


Indikator keberhasilan merupakan rumusan kinerja yang akan dijadikan
acuan atau tolok ukur kemampuan yang dimiliki siswa dalam menentukan
keberhasilan atau keefektifan penelitian. Tolok ukur dalam penelitian ini
dikatakan berhasil apabila kemampuan membaca permulaan siswa sudah
meningkat atau memenuhi kriteria kemampuan minimal (KKM) yang ditetapkan
yaitu 65.

ur
25

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta:


Rineka Cipta.

Dahniar, 2013. Peningkatan Keterampilan Membaca Lanjutan dengan Metode


Struktural Analitik Sintetik Siswa Kelas II SDN 2 Ogowele. Jurnal
Kreatif Tadulako Online Volume 4 Nomer 8

Dalman, 2014. Keterampilan Membaca. Jakarta: Rineka Cipta.

Depdiknas, 2007. Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.
Jakarta: Dirjen Dikti Depdiknas.

. 2002. Metode Khusus Pengajaran Bahasa Indonesia di Sekolah


Dasar. Jakarta: Depdiknas Dirjen Dikdasmen.

Kementrian Pendidikan dan Kebudataan RI. 2013. Buku Tematik Terpadu


Kurikulum 2013 untuk SD Kelas 1 (buku guru). Jakarta: Kementrian
Pendidikan dan Kebudayaan.

Mulyasa. 2009. Praktik Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Rosda

Madasari Asti Kurnia dan Mulyani Mimi, 2016. Keefektifan Metode Eja dan
Metode SAS Berdasarkan Minat Belajar dalam Pembelajaran
Keterampilan Membaa dan Menulis Permulaan pada Siswa Kelas 1
Sekolah Dasar. Skripsi tidak diterbitkan. Semarang: Universitas Negeri
Jakarta.

Oktaviani, R, dkk. 2014. Anak Islam Gemar Membaca. Jakarta: Eska kids, hal. 18.

Purwanto, N. 2012. Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung:


PT Remaja Rosdakarya

ur
26

Paitung, D. 2016. Membaca Sebagai Sumber Pengembangan Intelektual.


Makassar: Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar.

Prihandini Farah, 2017. Peningkatan Kemampuan Membaca Permulaan Melalui


Metode Sruktural Analitik Sintetik Bagi Siswa Tunagrahita Ringan
Kelas Khusus di SDIT LHI Banguntapan Bantul Yogyakarta.
Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakara.

Rahim, F. 2008. Pengajaran Membaca di Sekolah Dasar. Jakarta: Bumi Aksar,


16-29.

Susanto, A. 2011. Perkembangan Anak Usia Dini Pengantar dalam Berbagai


Aspeknya. Jakarta: Kencana Perdana Media Group.

Saputra, R. 2012. Skripsi tentang Upaya Meningkatkan Kemampuan Membaca


Permulaan Melalui Metode Struktural Analitik Sintetik (SAS) Siswa
Kelas 1 di SDN 1 Gebangsari Kebumen. Yogyakarta: Fakultas Ilmu
Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta.

Setyani, W. 2012. Skripsi tentang Penggunaan Metode Struktural Analitik


Sintesik (SAS) dalam Peningkatan Keterampilan Membaca Permulaan
Siswa Kelas 1 SDN 2 Ayamputih. Surakarta: Fakultas KIP Universitas
Negeri Surakarta.

Slamet, 2007. Dasar-Dasar Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia


Disekolah Dasar. Surakarta, Jawa Tengah: Lembaga Pengembangan
Pendidikan (LPP) UNS dan UPT UNS Press.

Solchan. T. W, 2009. Pendidikan Bahasa Indonesia di SD. Jakarta: Universitas


Terbuka.

Wardiati Zahrul, 2017. Penerapan Metode SASMG (Struktural Analitik Sintesis


dan Metode Globa) Untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar
Peserta Didik pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas II di SDN
3 Kopang Tahun Ajaran 2015/2016. JIME Volume 3. Nomer 2.

ur
27

Wassid Iskandar dan Sunendar Dadang, 2008. Stategi Pembelajaran Bahasa.


Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Wahyuni, S. 2010. Cepat Bisa Membaca. Jakarta: Gramedia.

Zubaidah, E. 2013. Kesulitan Membaca Permulaan Pada Anak Diagnosa dan


Cara Mengatasinya Diakses dari http://staff.uny.ac.id. Pada tanggal 25
November 2019, jam 15.30 WIB.

LAMPIRAN

ur
28

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN


(RPP)

Satuan Pendidikan : SDN 58 SALOLO


Kelas / Semester : II /1
Tema : Tugasku sehari-hari (Tema 3)
Sub Tema : Tugasku sehari-hari dirumah (Sub Tema 1 )
Pembelajaran ke : 2
Alokasi waktu : 1 x pertemuan (5 x 35 menit)

A. KOMPETENSI INTI
1. Menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya.
2. Memiliki perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan
percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman dan guru.
3. Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati (mendengar,
melihat, membaca) dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang
dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang
dijumpainya di rumah, sekolah.
4. Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas dan logis dan
sistematis, dalam karya yang estetis dalam gerakan yang mencerminkan
anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman
dan berakhlak mulia.

B. KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR


Muatan : PJOK

Kompetensi Indikator
3.3 Memahami variasi gerak dasar 3.3.1 Mengetahui variasi gerak dasar
manipulatif sesuai dengan konsep manipulatif sesuai dengan konsep

ur
29

tubuh, ruang, usaha, dan tubuh, ruang, usaha, dan


keterhubungan dalam berbagai bentuk keterhubungan dalam berbagai
permainan sederhana dan atau bentuk permainan sederhana dan
tradisional. atau tradisional.
3.3.2 Menujukkan gerakan melempar,
memukul, dan melempar bola.
4.3 Mempraktikkan variasi gerak dasar 4.3.1 Melakukan gerakan melempar,
manipulatif sesuai dengan konsep memukul,dan melempar bola.
tubuh, ruang, usaha, dan
keterhubungan dalam berbagai bentuk
permainan sederhana dan atau
tradisional.

Muatan : Bahasa Indonesia

Kompetensi Indikator
3.3 Memahami kosakata dan konsep 3.3.1 Menjelaskan kosakata dan konsep
tentang lingkungan geografis, yang berkaitan dengan geografis,
kehidupan ekonomi, sosial, dan kehidupan ekonomi sosial, dan
budaya di lingkungan sekitar dalam budaya di lingkungan sekitar.
bahasa Indonesia atau bahasa daerah
melalui teks tulis, lisan, visual
dan/atau eksplorasi lingkungan.
4.3 Melaporkan penggunaan kosakata 4.3.1 Mempresentasikan penggunaan
bahasa Indonesia yang tepat atau kosakata bahasa indonesia atau
bahasa daerah hasil pengamatan bahasa daerah dari hasil
tentang lingkungan geografis, pengamatan tentang lingkungan
kehidupan ekonomi, sosial dan geografis.
budaya di lingkungan sekitar dalam
bentuk teks tulis, lisan, dan visual.

Muatan : PPKN

Kompetensi Indikator

1.1 Menerima hubungan gambar bintang, 1.1.1 Meyakini hubungan gambar


rantai, pohon beringin, kepala bintang, rantai, pohon beringin,
banteng, dan padi kapas dan sila-sila kepala banteng, dan padi kapas

ur
30

Pancasila sebagai anugerah Tuhan dan sila-sila Pancasila sebagai


Yang Maha Esa. anugerah Tuhan Yang Maha Esa.
2.1 Bersikap bekerja sama, disiplin, dan 2.1.1 Menerapkan sikap bekerja sama,
peduli sesuai sila-sila Pancasila dalam disiplin, dan peduli sesuai sila-
lambang negara ‘Garuda Pancasila” sila Pancasila dalam lambang
dalam kehidupan sehari-hari negara ‘Garuda Pancasila” dalam
kehidupan sehari-hari

3.1 Mengidentifikasi hubungan antara 3.1.1 Menjelaskan hubungan antara


simbol dan sila-sila Pancasila dalam simbol dan sila-sila Pancasila
lambang negara Garuda Pancasila. dalam lambang negara Garuda
Pancasila.
4.1 Menjelaskan hubungan gambar pada 4.1.1 Menyebutkan hubungan gambar
lambang negara dengan sila-sila pada lambang negara dengan
Pancasila. sila-sila Pancasila.

C. TUJUAN
1. Dengan mencermati gambar permainan kasti dan isi teks serta penjelasan
guru, siswa dapat memahami gerakan melempar, memukul, dan
melempar bola dengan cermat.
2. Dengan mencermati gambar permainan kasti dan isi teks serta penjelas an
guru, siswa dapat melakukan gerakan melempar, memukul, dan melempar
bola.
3. Dengan mencermati isi teks serta penjelasan guru, siswa dapat me-mahami
isi teks.
4. Dengan mencermati isi teks serta penjelasan guru, siswa dapat
menemukan kosakata.
5. Dengan mencermati isi teks serta penjelasan guru, siswa dapat
menemukan makna kosakata.
6. Dengan mencermati isi teks serta penjelasan guru, siswa dapat memahami
perbedaan jenis kelamin di rumah.
7. Dengan mencermati isi teks serta penjelasan guru, siswa dapat
mengelompok kan jenis kelamin di rumah.

ur
31

8. Melalui kegiatan diskusi siswa dapat menyampaikan perilaku yang sesuai


dengan nilai Pancasila di rumah.
D. MATERI
1. Pertanyaan-pertanyaan yang mengarahkan pemahaman tentang kegiatan
olahraga.
2. Memahami isi teks.
3. Membaca teks menggunakan kartu kata bergambar.
4. Contoh gerakan, melempar, memukul, dan melempar bola.
5. Perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai pancasila.

E. PENDEKATAN & METODE


Pendekatan : Saintifik
Metode : SAS, Penugasan, pengamatan, Tanya Jawab, Diskusi dan
Ceramah
F. KEGIATAN PEMBELAJARAN

Alokasi
Kegiatan Deskripsi Kegiatan
Waktu
Pembukaan 1. Kelas dimulai dengan dibuka dengan salam, 15 menit
menanyakan kabar dan mengecek kehadiran siswa
2. Kelas dilanjutkan dengan do’a dipimpin oleh salah
seorang siswa. Siswa yang diminta membaca do’a
adalah siswa siswa yang hari ini datang paling
awal. (Menghargai kedisiplikan siswa/PPK).
3. Siswa diingatkan untuk selalu mengutamakan
sikap disiplin setiap saat dan menfaatnya bagi
tercapainya sita-cita.
4. Menyanyikan lagu Garuda Pancasila atau lagu
nasional lainnya. Guru memberikan penguatan
tentang pentingnya menanamkan semangat
Nasionalisme.
5. Pembiasaan membaca/ menulis/ mendengarkan/
berbicara selama 15-20 menit materi non pelajaran
seperti tokoh dunia, kesehatan, kebersihan,
makanan/minuman sehat , cerita inspirasi dan
motivasi . Sebelum membacakan buku guru
menjelaskan tujuan kegiatan literasi dan
mengajak siswa mendiskusikan pertanyaan-
pertanyaan berikut:

ur
32

 Apa yang tergambar pada sampul buku.


 Apa judul buku
 Kira-kira ini menceritakan tentang apa
 Pernahkan kamu membaca judul buku seperti ini
Inti Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran 140 menit
 Pada awal pembelajaran, guru mengondisikan
siswa secara klasikal dengan mendeskripsikan
ilustrasi gambar dan menerangkan maksud isi teks
bacaan yang merangkum kompetensi-kompetensi
yang akan dipelajari.

Ayo Mengamati
 Guru membimbing siswa untuk mengamati
gambar Siti melakukan olahraga (mengamati).

 Guru memperlihatkan kartu kalimat sesuai gambar


siti sedang melakukan pemanasan (Mengamati)
 Guru menempatkan kartu kalimat dibawah gambar
(Mengamati)
 Siswa diminta untuk membaca kartu kalimat
(Mencoba)
 Setelah siswa dapat membaca, gambar
dipindahkan sehingga siswa dapat membaca tanpa
bantuan gambar (Proses Struktural)
 Siswa diminta membaca tanpa bantuan gambar
(Mencoba)
 Guru meminta siswa menganalisis kalimat
perintah tersebut menjadi kata, suku kata, dan
suku kata menjadi huruf (Proses Analitik)

ur
33

 Siwa menganalisis kalimat menjadi kata,kata


menjadi suku kata,suku kata menjadi huruf.
 Setelah siswa mengenal huruf-huruf dalam
kalimat, Guru meminta siswa untuk merangkai
huruf itu menjadi suku kata, suku kata menjadi
kata, kata menjadi kalimat seperti semula (Proses
Sintesis)
 Siswa merangkai huruf menjadi suku kata, suku
kata menjadi kata, kata menjadi kalimat seperti
semula.
 Guru memberikan pertanyaan-pertanyaan untuk
mengecek pemahaman siswa.
- Apa yang dilakukan Siti bersama teman?
- Gerakan apa yang dilakukan Siti?
 Pertanyaan-pertanyaan tersebut mengarahkan
pemahaman tentang kegiatan olahraga Siti di
rumah bersama teman-teman.

Ayo Berlatih
 Guru membimbing siswa untuk mengajukan
pertanyaan tentang hasil pengamatannya.
 Kegiatan ini melatih siswa untuk menumbuhkan
rasa ingin tahu mereka.
 Siswa diminta menulis pertanyaan, kemudian
siswa menempel pertanyaannya atau disampaikan
kepada yang lain.
 Guru mencatat pertanyaan-pertanyaan siswa dan
membahasnya secara klasikal.

Ayo Mengamati
 Guru membimbing siswa untuk mengamati teks
bacaan tentang Siti melakukan kegiatan olahraga
di rumah dengan cermat (mengamati).
 Siswa mengamati gambar berbagai gerakan
melempar (mengamati).
 Siswa mengamati gambar gerakan memukul
(mengamati).
 Guru memberikan pertanyaan-pertanyaan untuk
mengecek pemahaman siswa. Gerakan apa yang
dilakukan Siti?

Alternatif Pembelajaran
1. Alternatif 1. Guru memberikan contoh gerakan
melempar dan memukul bola, kemudian diikuti
siswa satu persatu.
2. Alternatif 2. Siswa berpasangan. Siswa 1
melakukan gerakan melempar. Siswa 2 melakukan
gerakan memukul. Di akhir pembelajaran, guru
menguji gerakan masing-masing siswa.Setelah
semua siswa dapat melakukan gerakan melempar

ur
34

dan memukul dengan benar, siswa melakukan


permainan kasti.

Ayo Mengamati
 Siswa mengamati gambar dengan cermat.
 Guru menjelaskan arah. Sebelah kanan, kiri, dan
depan dari suatu tempat.

Ayo Berlatih
 Jawaban soal berdasarkan gambar denah.
 Di samping kanan rumah Ayu adalah
rumah Siti.
 Di samping kiri musala adalah rumah
Bayu dan posyandu.
 Di samping kiri rumah Siti adalah
rumah Ayu
 Di samping kanan rumah Adi adalah
rumah Budi.
 Di depan rumah Bayu adalah rumah
Adi.
 Di depan posyandu adalah rumah
Budi
 Di samping kanan toko adalah pos
Kamling
 Di depan rumah Rama adalah pos
Kamling.
 Di depan toko adalah rumah Ayu.
 Di samping kiri rumah Adi adalah
rumah Siti, dan rumah Ayu.
 Siswa mengerjakan latihan berdasarkan
gambar denah.

 Siswa melengkapi tabel berdasarkan tabel

ur
35

Ayo Mengamati
 Siswa mengamati gambar dengan cermat.
 Guru memberikan penguatan kepada siswa
tentang perbedaan jenis kelamin. Misal memberi
contoh-contoh tambahan yang diperoleh dari
anggota keluarga siswa.
 Siswa dapat dimotivasi untuk menyampaikan
pertanyaan-pertanyaan berkaitan dengan jenis
kelamin
 Guru meminta siswa menuliskan nama anggota
keluarga Siti beserta jenis kelaminnya.

Penutup 1. Siswa mapu mengemukan hasil belajar hari ini 15 menit


2. Guru memberikan penguatan dan kesimpulan
3. Siswa diberikan kesempatan berbicara /bertanya
dan menambahkan informasi dari siswa lainnya..
4. Menyanyikan salah satu lagu daerah untuk
menumbuhkan nasionalisme, persatuan, dan
toleransi.
5. Salam dan do’a penutup di pimpin oleh salah satu
siswa.

G. PENILAIAN
Penilaian terhadap proses dan hasil pembelajaran dilakukan oleh guru untuk
mengukur tingkat pencapaian kompetensi peserta didik. Hasil penilaian
digunakan sebagai bahan penyusunan laporan kemajuan hasil belajar dan
memperbaiki proses pembelajaran. Penilaian terhadap materi ini dapat

ur
36

dilakukan sesuai kebutuhan guru yaitu dari pengamatan sikap, tes


pengetahuan dan presentasi unjuk kerja atau hasil karya/projek dengan rubric
penilaian sebagai berikut.
1. Penilaian Pengetahuan
Instrumen penilaian: Tes Tertulis (isian)
(Bahasa Indonesia KD 3.3 dan 4.3)
Mengelompokkan anggota keluarga berdasarkan jenis kelamin.
2. Penilaian Keterampilan
a. Membuat pertanyaan dari gambar yang diamati.
Penilaian: Observasi (Pengamatan)
Lembar Pengamatan Kegiatan Bertanya.

b. Melakukan gerakan melempar dan memukul.


Penilaian: Unjuk Kerja
Rubrik Penilaian

ur
37

c. Membaca hasil pengamatan.


Penilaian: Unjuk Kerja
Rubrik Membaca

ur
38

H. REMEDIAL DAN PENGAYAAN


a. Remedial
1. Jika siswa belum bisa melakukan gerakan melempar dan memukul
bola, maka guru melakukan bimbingan.
2. Jika siswa belum bisa mengelompokkan anggota keluarga berdasarkan
jenis kelaminnya, maka guru dapat memberikan bimbingan
dengan memberikan contoh tambahan.
3. Jika siswa belum bisa membaca dengan benar, maka guru dapat
memberikan bimbingan dalam membaca.

b. Pengayaan
1. Jika siswa sudah bisa melakukan gerakan melempar dan memukul
bola, maka guru dapat memberikan penugasan dalam melakukan
gerakan kombinasi melempar atau memukul bola dengan gerakan
lain.
2. Jika siswa sudah bisa mengelompokkan anggota keluarga berdasarkan
jenis kelaminnya, maka guru dapat memberikan penugasan, yaitu
siswa diminta mencari contoh lain.
3. Jika siswa sudah bisa membaca dengan benar, maka guru dapat
memberikan tugas membaca buku yang berkaitan dengan materi.

I. SUMBER DAN MEDIA


 Diri anak, Lingkungan keluarga, dan Lingkungan sekolah.
 Buku Pedoman Guru Tema 1 Kelas 2 dan Buku Siswa Tema 1
Kelas 2 (Buku Tematik Terpadu Kurikulum 2013, Jakarta: Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan, 2013).
 Buku Sekolahnya Manusia, Munif Chatib.
 Buku Siswa Tema 3 “Tugasku Sehari-hari”.
 Bola Kasti

Refleksi Guru

ur
39

 Apa saja hal-hal yang perlu menjadi perhatian Bapak/Ibu selama


pembelajaran?
........................................................................................................................
..........................
........................................................................................................................
..........................

 Siapa saja yang perlu mendapatkan perhatian khusus?


........................................................................................................................
..........................
........................................................................................................................
..........................

 Apa saja hal-hal yang menjadi catatan keberhasilan pembelajaran


yang telah Bapak/Ibu lakukan?
........................................................................................................................
..........................
........................................................................................................................
..........................
 Apa saja hal-hal yang harus diperbaiki dan ditingkatkan agar
pembelajaran yang Bapak/Ibu lakukan menjadi lebih efektif?
........................................................................................................................
..........................
........................................................................................................................
.........................
........................................................................................................................
..........................

Catatan Guru / Refleksi


..............................
1. Masalah

2. Ide Baru

ur
40

3. Momen Spesial

Mengetahui, Padang Sappa,


Kepala ............................ Guru Kelas II ( dua )

Rustiana, S.Pd Asnidar Kaso, S.Pd


NIP. 19710616 199803 2 008 NIP

Lampiran 1
Kriteria membaca permulaan

Nilai Penguasaan Nilai Huruf Predikat

ur
41

86-100% A Sangat Baik


76-85% B Baik
60-75% C Cukup
55-59% D Kurang
≤54% TL Kurang Sekali
Sumber: Ngalim Purwanto (2012:103)

Lampiran 2
Kisi-kisi pengamatan partisipasi siswa membaca permulaan
dalam metode SAS

ur
42

Variabel Indikator Sub Indikator No. Item


Kemampuan Kognitif Menyebutkan kartu gambar 1
Membaca kartu menjadi kalimat 2
membaca
Membaca kartu menjadi kata 3
permulaan Membaca kartu menjadi suku kata 4
Membaca kartu menjadi huruf 5
Afekktif Duduk ditempatnya dengan rapih 6
Mendengarkan penjelasan guru 7
Mengikuti Instruksi 8

Menanggapi/bertanya 9
Keterampilan (skill) Mencocokan kartu gambar dengan kartu 10
kalimat
Menyusun kartu menjadi kalimat 11
Menyusun kartu menjadi kata 12
Menyusun kartu menjadi suku kata 13
Menyusun kartu menjadi huruf 14
Jumlah 14
Sumber : Farah Prihandini (2017:40)

Lampiran 3
Lembar Observasi keterlaksanaan pembelajaran siswa membaca
permulaan dengan metode SAS
Berilah tanda centang (√) pada pilihan yang sesuai dan tepat !
Frekuensi
No Aspek yang Dinilai Ya Tidak
1 Menyebutkan kartu gambar
2 Membaca kartu menjadi kalimat

ur
43

3 Membaca kartu menjadi kata


4 Membaca kartu menjadi suku kata
5 Membaca kartu menjadi huruf
6 Duduk ditempatnya dengan rapih
7 Mendengarkan penjelasan guru
8 Mengikuti Instruksi
9 Menanggapi/bertanya
10 Mencocokan kartu gambar dengan kartu kalimat
11 Menyusun kartu menjadi kalimat
12 Menyusun kartu menjadi kata
13 Menyusun kartu menjadi suku kata
14 Menyusun kartu menjadi huruf

Padang Sappa,……………..2020
Observer

Adinda Istiqomah

Lampiran 4
Kisi-kisi Pedoman Observasi Aktivitas Siswa Selama Proses Pembelajaran
Membaca Permulaan dengan Metode SAS

Aspek Indikator No Item


Keaktifan siswa dalam Siswa sangat aktif bertanya dalam proses pembelajaran 1
Siswa aktif bertanya dalam proses pembelajaran 2
bertanya pada saat
Siswa kurang aktif bertanya dalam proses pembelajaran 3
pembelajaran Siswa tidak aktif bertanya dalam proses pembelajaran 4
Motivasi siswa dalam Siwa menjadi sangat tertarik dalam pembelajaran 5
Siswa menjadi tertarik dalam pembelajaran 6
mengikuti kegiatan
Siswa menjadi kurang tertarik dalam pembelajaran 7
pembelajaran Siswa menjadi tidak tertarik dalam pembelajaran 8
Perhatian siswa dalam Siswa sangat memperhatikan saat guru mengajar 9
Siswa memperhatikan saat guru mengajar 10
pembelajaran membaca
Siswa kurang memperhatikan saat guru mengajar 11
permulaan dengan Siswa tidak memperhatikan saat guru mengajar 12

ur
44

menggunakan metode
SAS
Kegiatan pembelajaran Siswa merasa kegiatan pembelajaran sangat 13
menyenangkan menyenangkan
Siswa merasa kegiatan pembelajaran menyenangkan 14
Siswa merasa kegiatan pembelajaran kurang 15
menyenangkan
Siswa tidak senang dalam proses pembelajaran 16
Respon siswa dalam Siswa sangat merespon materi yang diajarkan 17
Siswa merespon materi yang diajarkan 18
kegiatan pembelajaran
Siwa kurang merespon materi yang diajarkan 19
Siswa tidak merespon materi yang diajarkan 20
Percaya diri siswa Siswa sangat percaya diri saat menyelesaikan tugasnya 21
Siswa percaya diri saat menyelesaikan tugasnya 22
Siswa kurang percaya diri saat menyelesaikan tugasnya 23
Siswa tidak percaya diri saat menyelesaikan tugasnya 24
Jumlah 24
Sumber: Ratno Saputra (2012:110)

Lampiran 5
Instrumen Observasi Aktivitas Siswa dalam proses pembelajaran
Berilah tanda centang (√) pada pilihan yang sesuai dan tepat !
Frekuensi
No Aspek yang di nilai Ya Tidak
1 Siswa sangat aktif bertanya dalam proses pembelajaran
2 Siswa aktif bertanya dalam proses pembelajaran
3 Siswa kurang aktif bertanya dalam proses pembelajaran
4 Siswa tidak aktif bertanya dalam proses pembelajaran
5 Siwa menjadi sangat tertarik dalam pembelajaran
6 Siswa menjadi tertarik dalam pembelajaran
7 Siswa menjadi kurang tertarik dalam pembelajaran
8 Siswa menjadi tidak tertarik dalam pembelajaran
9 Siswa sangat memperhatikan saat guru mengajar
10 Siswa memperhatikan saat guru mengajar
11 Siswa kurang memperhatikan saat guru mengajar
12 Siswa tidak memperhatikan saat guru mengajar
13 Siswa merasa kegiatan pembelajaran sangat menyenangkan
14 Siswa merasa kegiatan pembelajaran menyenangkan
15 Siswa merasa kegiatan pembelajaran kurang menyenangkan
16 Siswa tidak senang dalam proses pembelajaran
17 Siswa sangat merespon materi yang diajarkan
18 Siswa merespon materi yang diajarkan
19 Siswa kurang merespon materi yang diajarkan
20 Siswa tidak merespon materi yang diajarkan
21 Siswa sangat percaya diri saat menyelesaikan tugasnya
22 Siswa percaya diri saat menyelesaikan tugasnya

ur
45

23 Siswa kurang percaya diri saat menyelesaikan tugasnya


24 Siswa tidak percaya diri saat menyelesaikan tugasnya

Padang Sappa ,……………..2020


Observer

Adinda Istiqomah
Lampiran 6
Kisi-kisi Tes Tertulis pada Proses Pembelajaran Membaca Permulaan
KD Indikator No Soal Bentuk Soal
Mengelompokkan Penyajian gambar tugas sehari- 1 Isian
anggota keluarga hari berdasarkan jenis kelamin
berdasarkan jenis kemudian siswa bisa membaca
kelamin teks sederhana dari kalimat
menjadi kata-kata
Penyajian gambar tugas sehari- 2,3 Isian
hari berdasarkan jenis kelamin
kemudian siswa bisa membaca
teks sederhana dari kata-kata
menjadi suku kata
Penyajian gambar tugas sehari- 4 Isian
hari berdasarkan jenis kelamin
kemudian siswa bisa memebaca
kalimat sederhana dari suku kata
menjadi huruf
Penyajian gambar tugas sehari- 5 Isian
hari berdasarkan jenis kelamin
kemudian siswa bisa menggubah
kalimat dari huruf ke kalimat yang
sempurna

ur
46

Lampiran 7

Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia


Kelas/Semester : II (dua) / I
Hari/Tanggal :
Nama :

Berilah tanda centang (√) pada jawaban yang benar!

Keluarga Siti
1.
Adik Sama

2.
Si-ti Hal-aman S-apu

Si-ti Sa-pu Ha-la-man

3.

Di-bu Sam-pah Mem-bu-ang

Bu-di Mem-bu-ang Sam-pah

ur
47

4.

I-b-u N-i-n-a B-a-n-t-u

N-i-n-a M-e-m-b-a-n-t-u I-b-u

5.

Rumah Bersama Membersihkan

Membersihkan Rumah Bersama

Lampiran 8
Rubrik penilaian

Aspek yang dinilai

N Nama Siswa Skor Nilai


Mengenali Menguraikan Menguraika Menguraikan
o
kalimat kalimat n suku kata- kata-kata
secara utuh menjadi kata- kata menjadi menjadi
kata suku kata huruf
1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3

ur
48

Sumber: Dahniar (2013:145)


Keterangan :
a. 1 = Kurang
b. 2 = Baik
c. 3 = Sangat Baik
d. Skor Minimal = 4
e. Skor Maksimal = 12
f. Standar Ketuntasan = 65
g. Standar Klasikal = 70%
h. Rumus yang digunakan
TI (Tuntas Individu) = Skor Perolehan × 100%
Skor Maksimal
TK (Tuntas Klasikal) = Jumlah Murid yang Tuntas × 100%
Jumlah Seluruh Murid

Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia


Kelas/Semester : II (dua) / I
Hari/Tanggal :
Nama :

Isilah titik-titik di bawah ini dengan jawaban yang tepat!


1.
Bacalah kalimat pada gambar disamping
kemudian tuliskan kembali kata yang digaris
Membaca Gambar
bawahi pada kolom, menguraikan dari kalimat
ur menjadi kata-kata!
49

2.
Bacalah kalimat pada gambar disamping
M
kemudian tuliskan kembali kata yang digaris
bawahi pada kolom, menguraikan kata-kata
menjadi suku kata!

Siti Membersihkan Halaman

3.
Bacalah kalimat pada gambar disamping
kemudian tuliskan kembali kata yang digaris
bawahi pada kolom, menguraikan kata-kata
menjadi suku kata!

Budi membuang sampah


ur
50

4.
Bacalah kalimat pada gambar disamping kemudian
tuliskan kembali kata yang digaris bawahi pada
kolom, menguraikan dari suku kata menjadi huruf!

NiNina Membantu Ibu

5.
Bacalah kalimat pada gambar disamping kemudian
tuliskan kembali uraian kalimat dari huruf menjadi
kalimat yang sempurna!

Seluruh anggota keluarga


membersihkan rumah

ur