Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Virus ZIKA telah menarik perhatian dunia pasca terjadinya wabah di
pulau Yap. Awal munculnya virus ZIKA pada tahun 1947 yang ditemukan
pada seekor monyet rhesus di hutan ZIKA. Virus telah menjadi penyebab
penyakit kedaruratan kesehatan masyarakat. Penyebaran virus pun meluas ke
berbagai negara dengan vector terbanyaknya adalah Aedes Aegypti. Virus ini
mengakibatkan penderitanya mengalami demam, ruam, nyeri sendi, serta
konjuntivitis, menyerang dan menjangkit wanita hamil. Beberapa studi
menyatakan bahwa terdapat hubungan antara peningkatan resiko janin lahir
dan mikrosefali dan infeksi virus ZIKA pada ibu hamil.
Beberapa negara pun merasakan dampak dari penyebaran birus ini, mulai
dari Brazil, EL Savedor, Brunei Darussalam, Singapura dan Thailand. EL
Savedor merupakan negara dengan jumlah kelahiran bayi cacat terbesar.
Sehubung dengan tingginya angka penyebaran virus ini maka pada 1 pebruari
2016, WHO menetapkan ZIKA sebagai kedaruratan kesehatan masyarakat
yang meresahkan dunia (Public Health Emergency of International Concern )
atau PHEIC. Yang berarti ZIKA menjadi masalah kesehatan masyarakat
global yang memerlukan kerjasama Internasional. Pemerintahan Brazil telah
berupaya mengatasi permasalahan virus ZIKA diantaranya dengan melakukan
sosialisasi dan penyuluhan yang bertujuan untuk mengatakan kesadaran
kesehatan masyarakat terhadap pemukiman sekitar. Selain itu pemerintahan
Brazil juga menyarankan masyarakatnya untuk melakukan penundaan
kehamilan hingga wabah virus ini terkendali.

1
1.2 Rumusan Masalah
 apa yang dimaksud virus ZIKA ?
 apa saja dampak virus ZIKA terhadap kehamilan ?
 bagaimana penatalaksanaan terhadap pasien yang terinfeksi ?

1.3 Tujuan
 untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan virus ZIKA
 untuk mengetahui dampak dari virus ZIKA terhadap kehamilan
 untuk mengetahui penatalaksanaan terhadap pasien yang terinfeksi

2
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Virus Zika

1. Journal ke-1
a Judul : Review Virus Zika
Oleh : Nur Fitriatuzzakiyyah, Agung Sri Fitri Kusuma, M.Si.,
Apt
Pengertian : Virus zika (ZIKV) merupakan arthropod-borne virus
(arbovirus) yang berasal dari genus flavivirus. Single-
stranded RNA arbovirus ini pertama kali diisolasi dari
monyet rhesus pada tahun 1957 dan kemudian dari nyamuk
pada tahun 1958 di Afrika. Secara umum infeksi virus zika
pada orang dewasa hanya menampakkan gejala ringan pada
20% pasien yang terinfeksi. Gambaran klinisnya sangat
mirip dengan chikungunya dan demam berdarah. Namun
pada laporan terbaru menyebutkan terjadi peningkatan
kasus GBS (Guillain barre syndrome) merupakan suatu
sindrom klinis yang terdiri dari beberapa etiologi autoimun,
yang melibatkan neuropati perifer idiopatik dan
menyebabkan acute flaccid paralysis dan microcephaly
primer yang sangat tinggi.
2. Journal Ke-2
a Judul : Feedback Kebijakan Pelarangan Hamil Oleh
Pemerintahan Brazil Dalam Penanggulangan Virus
Zika.
Oleh : Christina Napitupulu
Gambaran Umum : WHO menetapkan bahwa virus zika sebagai
darurat kesehatan publik yang membutuhkan
perhatian lebih karena kekhawatiran akan virus
zika menyebar jauh dan cepat dan menimbulkan

3
konsekuensi yang lebih parah. Di Brazil,
penyebaran virus zika pada tingkat tertinggi dari
semua negara. Beberapa negara menganjurkan
kaum wanita untuk menunda kehamilan sampai
informasi rinci mengenai virus zika terungkap.
Seperti diketahui, jumlah bayi terdampak
mikrosefali mengalami peningkatan sangat tajam
dan WHO telah menyatakan sebagai keadaan
darurat global atas virus yang disebarkan oleh
nyamuk Aedes Aegypti.
3. Journal ke-3
a Judul : Masalah Virus Zika Pada Kehamilan
Oleh : Timoteus Richard, Andi Kristanto, Randy
Adiwinata, Aurelia Stephanie, Finna,
Belinda Phang, Sheila Adiwinata.
Sejarah dan Epidemiologi : Zika pertama kali ditemukan pada seekor
monyet rhesus dalam penelitian demam
kuning di hutan Zika, Uganda, pada 18
April 1947. Awal tahun 1948, ZIKV
berhasil diisolasi dari nyamuk Aedes
Aegypty ke mencit dan monyet. Penelitian
serologis menemukan adanya kemungkinan
bahwa manusia juga dapat terinfeksi ZIKV.
Pada tahun 1979 studi serologis atas 130
pasien Nigeria yang menunjukkan gejala
melaporkan bahwa 52% memiliki antibodi
terhadap ZIKV. Wabah ZIKV pertama kali
terjadi di tahun 2007 sebanyak 185 kasus di
pulau Yap (Micronesia). Pada Februari
2014 terdapat 30.000 laporan kasus diduga
infeksi ZIKV di French Polyneisa,

4
kemudian meluas hingga ke New
Caledonia, Cook Islands, dan Easter Island.

2.2 Transmisi Virus Zika

1. Journal Ke-1
Pada journal pertama dijelaskan ada 2 jalur transmisi virus zika, yaitu :
a Melalui jalur vector-borne ( melalui vektor), virus ini dapat disebarkan
oleh anthropoda dari 1 vetebra ke vetebra lainnya melalui gigitan.
Mekanisme penularan biologis umumnya terjadi saat vektor yang
terinfeksi dengan darah host, yang mengandung virus kemudian
menyuntikkan air liurnya yang mengandung virus pada host lain sehingga
terjadi penularan virus.
b Melalui Transmisi Non Vector-bone (tidak melalui vektor)
1) Kontaminasi Laboratorium, seorang anggota staf laboratorium
mengalami demam setelah vaksinasi demam kuning (17D vaksin), tapi
ZIKV ditemukan pada darah yang diambil di hari pertama sakit. Kasus
ini diyakini merupakan kecelakaan dalam laboratorium.
2) Transmisi Sexual, berdasarkan data yang dikumpulkan Musso et al,
terdapat 4 laporan yang menyatakan kejadian, infeksi yang
kemungkinan ditransmisikan melalui sexual. Pada tahun 2008 seorang
ilmuan Amerika yang melakukan studi lapangan terhadap nyamuk di
Senegal mengalami demam dengan gejala umum mirip infeksi ZIKV
setelah kembali ke Amerika Serikat. Dia juga memiliki prostatitis dan
hematospermermia. Istrinya, yang tidak melakukan perjalanan ke luar
Amerika Serikat sejak 2007, melakukan hubunganseksual dengan
suaminya sehari setelah ia kembali ke rumah. Istrinya kemudian
mengalami demam dengan gejala infeksi ZIKV, sehingga diduga
terdapat mekanisme transmisi sexual dalam kasus ini. Kedua pasien
dikonfirmasi sebagai mengalami infeksi ZIKV dengan tes serologi.

5
2. Journal Ke-2
Dalam journal ke-2 ini tidak dicantumkan bagaiman cara penularan atau
transmisi virus zika ke individu lain, tetapi dalam journal tersebut
menyebutkan bahwa pemerintah Brazil memberlakukan larangan untuk
hamil, tujuannya adalah menurunkan angka kematian bayi ataupun angka
bayi lahir dengan cacat microcephaly. Namun sebaliknya, pernyataan
tersebut mendapatkan pertentangan keras dari kelompo pro-kehidupan,
American Life League dan Stop Planned Parenthoad International
(STOPP).
3. Journal Ke-3
Transmisi ZIKV terutama melalui gigitan nyamuk Aedes Aegepty pada
manusia. Ini merupakan vektor utama penularan ZIKV. ZIKV bereplikasi
didalam sel dendritik dekat lokasi inokulasi sebelum menyebar melalui
saluran limfe dan darah. Jalur potensial transmisi ZIKV lain adalah
melalui kontak seksual. CDC menganjurkan agar para pria beresiko tinggi
terinfeksi ZIKV menghindari berhubungan seksual dengan pasangan
mereka terutama jika sedang hamil. Perinatal juga dapat terjadi secara
transplasental ke fetus dalam setiap trimester ataupun didapat saat proses
persalinan. Mekanisme penularan ZIKV melalui air susu ibu belum
terbukti, sehingga PAHO tetap merekomendasikan bahwa di lingkungan
terinfeksi ZIKV, ibu dapat melakukan proses menyusui seperti biasanya.

6
BAB III

PEMBAHASAN

3.1 pengertian virus ZIKA

Virus zika merupakan Arthropod Borne Virus (arbovirus) yang berasal


dari family Flaviviridae, genus flavivirus dengan vector nyamuk Aedes
Aegypti. Virus zika ditemukan pertama kali berada di tubuh monyet pada
tahun 1947, di hutan Zika Uganda. Lalu ditemukan pada manusia tahun 1952.
Penyebaran virus zika terjadi lintas negara, hingga pada 1 februari 2016,
WHO telah menetapkan bahwa penularan penyakit yang disebabkan oleh virus
zika di dunia adalah kedaruratan kesehatan masyarakat yang meresahkan
dunia atau disebut PHEIC. Beberapa negara seperti Brazil, Colombia, Cape
Verde, EL Savador, Honduras, Martinique, Panama dan Suriname diberi
status kejadian luar biasa (KLB). Indonesia yang merupakan negara di wilayah
tropis dan endemis demam berdarah dengue (DBD) berisiko tinggi terkena
pentebaran virus zika. Hingga saat ini telah dilaporkan kasus di berbagai di
berbagai negara, ermasuk negara-negara Asia Tenggara. Lembaga Eijkman
telah mencatat, dari tahun 1981 hingga 2016 terdapat lima kasus virus zika
ditemukan di Indonesia.

3.2 Dampak virus zika terhadap kehamilan.

Infeksi virus zika merupakan self limiting disease karena akan sembuh
sendiri dalam waktu dua hingga tujuh hari. Manifestasi klinis yang timbul
adalah mirip dengan penyakit DBD, yaitu demam, sakit kepala, ruam radang
pada bagian mata, nyeri pada otot, serta nyeri pada persendian. Namun
terdapat laporan terbaru dari pemerintahan Brazil adalah dimana menunjukan
hubungan yang mungkin antara infeksi virus zika dalam kehamilan dan
malformasi pada janin karena telah ditemukan meningkatnya kasus
mikrosefali pada sekitar 20 bayi yang baru lahir di wilayah Timur Laut Brazil.

7
Virus Zika dapat menyerang siapapun, terutama pada ibu hamil yang bisa
berdampak pada perkembangan janin dalam kandungan ibu hamil telah
terserang virus Zika yang kemudian berlanjut pada timbulnya penyakit
mikrosefali pada bayi yang dilahirkan. Dapat dipastikan tidak dapat berjalan
dengan baik dan kemungkinan terburuk akan mengalami cacat mental
permanen baik secara fisik maupun mental.

Mikrosefali dapat didefinisikan sebagai suatu temuan klinis, hasil


pengukuran lingkar kepala bagian oksipital hingga frontal menjadi lebih dari
dua standar deviasi (SD) di bawah rata-rata untuk jenis kelamin dan di
usianya. Pada pasien mikrosefali dapat terjadi tanpa atau kombinasi dengan
kelainan lain, namun sekitar 90% dari kasus yang terkait dengan kecacatan
intelektual karena diketahui bahwa otak secara proporsional berukuran lebih
kecil. Penyebab mikrosefali antara lain faktor genetik atau lingkungan selama
kehamilan yang memengaruhi perkembangan otak janin, infeksi virus
prenatal, ibu mengonsumsi alkohol, serta terkadang memiliki keterkaitan
dengan hipertensi.1,5 Di Brazil antara tahun 2015 dan pertengahan 2016
terjadi peningkatan prevalensi kelahiran neonatus dengan mikrosefali serta
bentuk malformasi sistem saraf pusat lainnya. Hal ini dikaitkan dengan
infeksi virus zika yang menjadi wabah di Brazil dan Polinesia Perancis,
beberapa laporan pun menunjukkan hubungan antara keduanya.9,12
Patogenesis virus zika pada manusia bermula pada kulit lokasi inokulasi yang
menjadi tempat replikasi virus pertama, bersama dengan fibroblast primer
manusia. Epikeratinosit dermal dan sel dendritik yang belum matang
menunjukkan permisif terhadap infeksi dan replikasi virus zika. Lalu dari
kulit, virus ini menyebar ke kelanjar getah bening yang kemudian berlanjut
menjadi viremia. Virus zika ini terdeteksi di dalam darah 10 hari setelah
infeksi atau 3-5 hari setelah timbulnya gejala. Pada ibu hamil, virus zika
mampu menembus plasenta. Virus ini menginfeksi dan bereplikasi pada sel
primer manusia yang menurut penelitian telah terisolasi pada pertengahan dan
akhir plasenta juga pada villi sitotrofoblas pada trimester pertama. Virus zika
mampu menginfeksi hingga ke neural progenitor cell pada janin, sehingga

8
mampu menjadi penyebab timbulnya kelainan kongenital.8 Mikrosefali
merupakan kondisi seumur hidup, dimana kepala bayi lebih kecil dari yang
diharapkan pada bayi dengan jenis kelamin dan usia yang sama.14 Tidak ada
obat ataupun pengobatan standar yang diketahui untuk menyembuhkan
mikrosefali.

Bayi dengan mikrosefali dapat didiagnosis selama kehamilan atau setelah


bayi lahir. Selama kehamilan, mikrosefali dapat didiagnosis dengan
ultrasonografi (USG). Pemeriksaan ini bisa dilakukan pada akhir trimester
kedua atau awal trimester ketiga. Penelitian yang dilakukan oleh Hollander et
al. menggunakan USG sebagai media diagnosis mikrosefali pada saat prenatal
dilakukan dengan mengukur lingkar kepala dan lingkar perut fetus. Dikatakan
kecil apabila lingkar perut fetus kurang dari 5 persentil kurva referensi,
sedangkan untuk lingkar kepala dikatakan kecil ketika kurang dari -3 SD.14
Setelah lahir, untuk mendiagnosis mikrosefali adalah dengan pengukuran
lingkar kepala bayi oleh penyedia layanan kesehatan selama pemeriksaan
fisik. Kemudian dibandingkan hasil pengukuran dengan standar penduduk
menurut jenis kelamin dan usia.

Beberapa studi menemukan pembuktian yang berbeda-beda. Sebuah studi


menunjukkan cedera otak janin yang parah terkait dengan transmisi secara
vertikal infeksi yang disebabkan oleh virus zika. Temuan terbaru juga telah
membuktikan keberadaan virus zika dalam cairan ketuban dari dua janin yang
menderita mikrosefali, sehingga hasil temuan tersebut konsisten memperkuat
bahwa terjadi transmisi virus intrauterin.19,16 Efek teratogenik flavivirus
disampaikan oleh peneliti bahwa target utamanya adalah otak dan mata dan
temuan membuktikan bahwa tidak ada perubahan patologis terdeteksi pada
setiap organ janin lainnya, kecuali otak. Sebuah studi menemukan hubungan
kuat antara infeksi virus zika dan anomali otak janin yang dibuktikan oleh
temuan pada mikroskop elektron. Pada otak janin tampak partikel padat pada
retikulum endoplasma yang rusak. Tampak pula struktur berkelompok
terbungkus oleh interior yang terang, menyerupai sisa-sisa kompleks replikasi

9
yang merupakan ciri khas dari flavivirus. Temuan tersebut menunjukkan
terjadinya replikasi virus di otak janin.

3.3 mengetahui penatalaksanaan terhadap pasien yang terinfeksi

Tidak ada terapi spesifik untuk penyakit virus zika; pengobatan ditujukan
sebagai terapi suportif dan simptomatis. Beberapa langkah dalam tatalaksana
kasus adalah sebagai berikut:

 Melakukan pengobatan terhadap gejala klinis kasus dengan obat-obatan


yang sesuai
 Rumah sakit yang merawat kasus penyakit virus zika harus memastikan
kembali bahwa rumah sakit telah bebas vektor dengan cara melakukan
PSN 3M Plus secara intensif.
 Pada pasien hamil yang positif terinfeksi virus zika harus digali informasi
usia kehamilan, taksiran persalinan, pasangan seksualnya, dan dilakukan
monitoring perkembangan janin melalui pemeriksaan USG untuk
mendeteksi adanya kelainan. Persalinan harus dilakukan di rumah sakit
rujukan regional/provinsi/nasional, sehingga dapat dilakukan pemeriksaan
lebih lanjut pada bayi yang dilahirkan, seperti kemungkinan bayi terinfeksi
dan lahir pada masa viremia atau memiliki kelainan bawaan dan atau
gangguan neurologis.

10
BAB IV

PENUTUP

3.1 kesmpulan

Virus Zika merupakan virus berbahaya yang saat ini menjadi polemik bagi
masyarakat Brazil. Virus ini awalnya muncul di Uganda, Afrika dan ditemukan
pada seekor monyet di hutan negara tersebut lalu mulai muncul di daerah Asia
kemudian masuk ke kawasan Amerika. Virus zika sendiri awalnya bukan
merupakan penyakit berbahaya, penyakit ini akan berangsur-angsur menghilang
dalam kurun waktu seminggu jika menjangkiti orang dewasa. Akan tetapi hal
tersebut akan menjadi berbahaya jika seekor nyamuk yang terjangkit virus zika
menggigit ibu hamil yang mana akan menyebabkan sang cabang bayi berpotensi
terkena mikrosefali. Mikrosefali sendiri merupakan kelainan yang diakibatkan
oleh virus zika yang menyebabkan bayi terlahir cacat (ukuran kepala lebih kecil
dari ukuran kepala bayi pada umumnya). Bayi yang terkena mikrosefali sendiri
berpotensi lahir dengan tingkat kecerdasan dibawah rata-rata dan bahkan pada
sejumlah kasus dapat mengakibatkan kematian.Hal ini menjadi beban bagi para
ibu-ibu hamil yang terkena virus ini, bahkan tidak sedikit dari mereka memilih
untuk mengaborsi calon bayi mereka. Dalam hal ini terjadi polemik akan gagasan
mengenai pelegalan aborsi pada bayi para ibu hamil yang terjangkit virus tersebut
antara kelompok-kelompok pro kehidupan,para pemuka agama dan kaum feminis

11