Anda di halaman 1dari 49

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Menjaga kelancaran pengeluaran air seni adalah tindakan yang benar

dan dianjurkan dalam dunia kesehatan. Sebagian besar air seni merupakan

zat yang tidak berguna karena berisikan hasil sisa metabolime dalam tubuh

kita yang akan dikeluarkan oleh tubuh melalui proses sekresi secara otomatis.

Apabila proses sekresi ini terhambat maka akan menimbulkan banyak

masalah bagi tubuh kita. Sebagai contoh akibat pengeluarann air seni yang

tidak lancar akan membuat genangan air seni atau urin didalam kandung

kemih dan atau ginjal yang seiring berjalannya waktu akan menimbulkan

pengkristalan didalam ginjal hingga semkain lama dapat merusak fungsi

ginjal (Tjay, 2007).

Kelancaran buang air seni akan mempengaruhi tekanan darah,

semakin banyak kadar air dalam plasma darah maka akan tekanan darah

akan semakin tinggi begitu pula sebaiknya. Salah satu cara untuk menurunkan

tekanan darah adalah dengan menurunkan jumlah air dalam plasma darah

tersebut, berkurangnya air maka tekanan darah akan menurun. Guna

meningkatkan pengeluraan air pada darah maka dibutuhkan obat - obat

diuretik (Rahimsyah dan Hartatik, 2004).

Diuretik adalah zat - zat yang dapat memperbanyak pengeluaran

kemih atau air seni (diuresis) melalui kerja langsung terhadap ginjal. Obat-
obat lainnya yang menstimulasi diuresis dengan mempengaruhi ginjal secara

tak langsung termasuk dalam definisi ini, misalnya zat-zat yang memperkuat

kontraksi jantung (digoksin, teofilin) atau merintangi hormon antidiuretik

ADH (air, alkhol) (Tjay,2007).

Obat adalah semua bahan tunggal atau campuran yang digunakan

oleh semua makhluk untuk bagian dalam atau bagian luar, guna mencegah,

meringankan, maupun menyembuhkan penyakit. Untuk menjaga atau

mengobati kesehatan tubuh kebanyakan orang menggunkan obat - obatan

yang dioleh di labolatorium secara modern. Tak bisa dipungkiri cara ini

praktis dan banyak sekali penyakit yang disembuhkan secara medis.

Seringkali pula obat -obatan meoderen itu terbukti kemanjurannya. Akan

tetapi tidak terjangkau haragnya oleh kebanyakan orang kurang mampu

karena teramat mahal harganya. (Rahimsyah dan Artatik, 2004).

Tanaman obat telah menjadi kebutuhan yang banyak diminati

masyarakat. Selain aman biaya yang dikeluarkan pun relatif murah

dibandingkan dengan pengobatan medis berbahan baku sintetis. Penelitian-

penelitian yang berkaitan dengan kandungan serta efek farmakologi tanman

obat pun marak dilakukan. Dukungan terhadap penelitian tersebut tidak hanya

di negara berkembang yang kaya akan khazanah tanaman obatnya tetapi juga

dilakukan di negara maju untuk mengatahui potensi yang belum banyak

digarap oleh negara berkembang. ( Mahendra, 2006).

Di Indonesia dengan iklim tropis, banyak tanaman obat yang dapat

tumbuh dengan subur salah satunya adalah tanaman Rosella (Hibiscus


sabdariffa L.). Tanaman Rosella ( Hibiscus Sabdariffa L.) merupakan

tanaman obat yang sangat dikenal saat ini karena kelopak bunga Rosella

dapat digunakan sebagai minuman kesehatan yang dapat menyembuhkan

berbagai macam penyakit seperti hipertensi, diabetes, dan juga sebagai

diuretik (Patel, 2013). Salah satu tanaman atau tumbuhan yang dapat

digunakan sebagai pengobatan tradisional adalah spesies tumbuhan atau

tanaman dari famili malvaceae ( Juniarka et al., 2011). Zat aktif yang paling

berperan dalam kelopak bunga rosella meliputi gossypetin, antasionin, dan

glukosida hibisci (Moeksin dan Ronald, 2009). Seperti yang telah dilakuan

oleh Adrian Arnasaputra dari Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret

pada tahun 2011 dengan judul penelitian “Uji Dosis Ekstrak Etanol Kelopak

Bunga Rosela (Hibiscus sabdariffa L.) Sebagai Diuretik Pada Tikus Jantan

Putih (Rattus norvegicus)” yang membuahkan hasil penelitian bahwa dosis

paling efektif ektrak etanol bunga Rosela sebagai diuretika terhadap tikus

jantan putih adalah pada dosis 260 mg/ 200 g BB/2,5 ml ektrak etanol bunga

Rosella (Adrian Arnasaputra, 2011).

Maka dari latar belakang diatas, peneliti tertarik untuk melakukan

penelitian dengan judul : Uji Efektivitas Diutetika Suspensi Ekstrak

Bunga Rosela (Hibiscus sabdariffa L.) Terhadap Mencit Putih Jantan. \


1.2 Pembatasan Masalah

Adapun pembatasan masalah pada penelitian ini yaitu:

1) Uji efektivitas suspensi ekstrak bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L.)

sebagai diuretika terhadap mencit putih jantan dengan dosis 30 mg/20 g

BB, 35 mg/20 g BB, dan 40 mg/20 g BB.

2) Ekstraksi bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L.) dengan metode eksraksi

maserasi menggunakan etanol 70%.

3) Suspensi ekstrak bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L.).dilakuan uji

organoleptis, uji homegenitas, uji pH, uji sedimetasi, mengkur masa jenis

dan uji viskositas.

4) Suspensi ekstrak bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L.).dilakuan uji

stabilitas suspensi ekstrak bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L.) dengan

menggunakan cycling test pada suhu 40C dan 400C.

1.3 Identifikasi Masalah

Masalah yang timbul pada penelitian ini dapat diidentifikasikan adalah

sebagai berikut:

1) Adanya suspensi ekstrak bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L.) efektif

sebagai diuretika terhadap mencit putih jantan pada dosis 30 mg/20 g BB,

35 mg/20 g BB, dan 40 mg/20 g BB.

2) Menentukan dosis suspensi ekstrak bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa

L.) yang paling efektif sebagai diuretika terhadap mencit putih jantan.
3) Menguji kestabilan suspensi ekstrak bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa

L.) dalam suhu dan waktu penyimpanan tertentu.

1.4 Perumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi diatas, maka penulis mencoba merumuskan

masalah yang akan dihadapi pada penelitian, yaitu sebagai berikut:

1) Apakah suspensi ekstrak bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L.) efektif

sebagai diuretika terhadap mencit putih jantan dengan dosis 30 mg/20 g

BB, 35 mg/20 g BB, dan 40 mg/20 g BB?

2) Pada dosis berapakah suspensi ekstrak bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa

L.) yang paling efektif sebagai diuretika terhadap mencit putih jantan?

3) Apakah suspensi ekstrak bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L.) stabil

dalam suhu dan waktu penyimpanan tertentu?

1.5 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah :

1) Untuk mengetahui efektifitas suspensi ekstrak bunga Rosella (Hibiscus

sabdariffa L.) sebagai diuretika terhadap mencit putih jantan pada dosis 30

mg/20 g BB, 35 mg/20 g BB, dan 40 mg/20 g BB.

2) Untuk mengetahui pada dosis berapakah suspensi ekstrak bunga Rosella

(Hibiscus sabdariffa L.) yang paling efektif sebagai diuretika terhadap

mencit putih jantan.

1) Untuk mengetahui Apakah suspensi ekstrak bunga Rosella (Hibiscus

sabdariffa L.) stabil dalam suhu dan waktu penyimpanan tertentu.


1.6 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi :

1) Penulis

Ada beberapa manfaat untuk penulis dari penelitian ini yaiu :

Pertama untuk menambah wawasan dan meningkattkan pengetahuan yaiu

dalam mengolah dan meracik bahan obat dari alam. Kedua sebagai salah

satu syarat menumpuh gelar Sarjana Farmasi (S1) di Sekolah Tinggi

Farmasi (STF) YPIB Cirebon.

2) Sekolah Tinggi Farmasi

Untuk menambah referensi keilmuan, di lingkungan Sekoah Tinggi

Farmasi (STF) YPIB Cirebon dan diharapkan dapat dijadikan acuan bagi

para mahasiswa yang akan melakukan penelitian lebih lnjut

3) Pembaca

Untuk memberikan informasi mengenai efektifitas diuretika

suspensi ekstrak bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa.L) yang digunakan

sebagai obat herbal ttradisional.

1.7 Tempat dan Waktu Penelitian

Tempat penelitian dilaksanakan di labolatorium farmastika dan

labotarium farmakognosi Sekolah Tinggi Farmasi (STF) YPIB Cirebon, Jalan

Perjuangan No.7 Cirebon, sedangkan waktu penelitian di lihat pada table 1.1

sebagai berikut
Tabel 1.1 Rancangan Penelitian

Waktu
No Rancangan
Januari Februari Maret April Mei Juni
. Kerja
2020 2020 2020 2020 2020 2020

1 Penyusunan √

Profosal

2 Seminar √

Profosal

3 Penelitian √

4 Pengolahan √

Data

5 Penyusunan √

Skripsi

6 Sidang √

Skripsi

1.8 Hipotesis

HO : Suspensi ekstrak bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L. ) tidak

efektif sebagai diuretik terhadap mencit jantan putih.

Hi : Suspensi ekstrak bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L.) efektif

sebagai diuretik terhadap mencit jantan putih.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tanaman Bunga Rosela

Gambar 2.1 Bunga Rosela (Hibiscus sabdariffa L.) (Yan and Wong, 2009)

2.1.1 Klasifikasi

Divisi : Spermatophyta

Subdisi : Angispremae

Kelas : Dicotyledone

Bangsa : Malvales

Suku : Malvaceae

Marga : Hibiscus

Jenis : Hibiscus sabdariffa L.

(Bakti Husada, 2001)


2.1.2 Nama Umum / Dagang

Mrambos Hijau (Bakti Husada, 2001)

2.1.3 Nama Daerah

Sunda : Gamet walanda

Jawa Tengah : Mrambos

Ternate : Kasturi Roriha

(Bakti Husada, 2001)

2.1.4 Nama Asing

India : Mestslmeshta

Inggris : Roselle Gambia : wonjo

Meksiko : Flor de Jamaica

Cina : Lou Shen Hua

Kamboja : Slook chu

Malasyia : asam paya atau asam susur

Senegal, Mali, Niger, Kongo dan Perancis : Bissap


Mesir, Arab Saudi, Sudan : Karkade

(BADANPOM RI, 2011)

Assam : Tengamoro

Telugu : Gongura

Myanmar : Chin baung

2.1.5 Deskripsi

1) Tanaman

Tumbuhan berhabitus semak setahun, tinggi 0, 5- 3m. Batang

berwarna merah, bentuk bulat dan berbulu. Daun berseling 3 – 5

helai dengan panjang 7, 5 – 12, 5 cm berwarna hijau, ibu tulang daun

berwarna kemecrahan, bentuk helaian daun anisofili (polimofik),

helain daun yang terletak pada pangal batang tidak berbagi, bentuk

daun bulat telur, tangkai daun pendek. Daun – daunan di bagian

cabang dan ujung batang berbagi menjadi 3 toreh, lebar toreh daun 2,

5 cm, tepi daun beringgit, daun penumpu berbentuk benang, anjang

tangkai daun 0,3 – 12 cm, hijau hingga merah. Pagkal daun

meruncing, sedikit berambut. Bunga tunggal, kuncup bunga tumbuh

dari bagian ketiak daun, tangkai bunga berukuran 5 – 20 mm,

kelopak bunga berkletan, tidak gugur, tetap mendukung buah,


berbentuk lonceng, mahkota bunga berlepasan, berjumlah 5 petal,

mahkota bunga berbentuk bulat telur terbalik, warna kuning, kuning

kemerahan, benang sari terletak pada satu kolom pendukung benang

sari sampai 20 mm, keala sari berwarna merah, panjang tangkai sari

1 mm, tangkai putik berada di dalam kolom pendukung benag sari

jumlah kepala putil 5 buah, warna merah. Buah kapsul berbentuk

bulat telur, ukuran buah 13 – 22 mm x 2 – 4 mm warna coklat

kemerahan (BADANPOM RI, 2011).

2) Simplisia

Kelopak bunga kering berwarna merah kecoklatan

(BADANPOM RI, 2011).

2.1.6 Habitat

Habitat aslinya berasal dari Nigeria, tetapi tumbuh berkemban di

seluruh dunia, terutama di daerah tropis. Tanaman ini banyak

dibudidaykn di Eropa (BADANPOM RI, 2011).

2.1.7 Kandungan Senyawa Kimia

Kelopak bunga rosela mengandung alkaloid, riboflavin, asam

arahidinat, sitosterol, asam sitrat, L – asam askorbat, karotenoid, niasin,


kalsium, zat besi, flavonoid, gosipetin, hibisein, sabdaretin, elfinidin – 3

– samsudiosid, sianidin – 3 – glukosa, sianidin – 3 – rutinosid,

galaktosa, mukoplisakarida, asam protokatekuat, polisakarida,

kuersetin, asam stearat dan lilin (wax). Antasionin yang menyebabkan

warna merah pada tanaman ini mengandung delfinidin 3 –

siloglukosida, delfinidin 3 – glukosida, sianidin – 3 – silogikosida

sednngkan flavoninya mengandung gosipetin dan musilago

(rhamnogalokturonan, arabonogalaktan, arababin) (BADANPOM RI,

2011).

2.1.8 Manfaat dan Kegunaan

Masyakarat secara tradisional di berbagai negara telah

memanfaatkan anaman Rosela untuk mengobati dan atau mencegah

berbagi macam penyakit dan masalah kesehatan lainnya. Pemanfaatan

tanaman Rosela ini berkaitan dengan fungsinya sebagai antiseptik,

aprodisiaka, astringensia, demulcent (menetraisir asam lambung),

diuretika, purgarif (pembersih sarluran cerna, biasanya digunakan sat

hendak operasi), anthemintic,refrigerant (efek mendinginkan),

resolvent, sedtif, tonikum, serta mengobati kanker, batuk, dyspepsia,

dysuria, demam, hangover (kembung perut), hipertensi, neurosis,

sariawan dan mencegah penyakit hati (Mardiah dkk, 2009). Kelopak

bunga Rosela dapat digunakan untuk mencegah perkembangan


atherosclerosis dan komplikasi kardiovaskuler akibat diabetas (Farombi

et al, 2007).

2.1.9 Cara Pemakaian

Kelopak bunga rosela yang sudah ikeringkan dirbus hingga

warna bunga memudar. Setelah itu, air rebusan disaring dan siap

dikonsumsi (Widyanto, 2008). Referensi lain menyebutkan , seduh atau

rebus 5 – 1 gram kelopak kering bunga Rosela dengan 300 ml air

hingga mendidih, kemudian disaring, lalu diminum airnya hangat selagi

hangat seperti meminum teh, lakukan dua klai sehari (Wijayakusuma,

2008).

2.1.10 Rosela Sebagai Diuretika

Kelopak bunga Rosela yang telah digunakan dalam pengbtan

tradisional diyakini bermanfaat sebagai diuretik, antisetika,

antimikroba, anithemintika, antipiretika, sariawan dan hipertensi (Perry,

1980; Olaleye, 2007; Okasa Iet al., 2008; Mardiah et ali., 2009).

Kelopak bunga Rosela memiliki kandungan senyawa kimia seperti

antasianin, flavoid, dan polifenol yang dapat memberikaknmenfaat

terutama untuk pengobatan alternatif (oppe, 2007). Flavonid adalah

senyawa yang telah terbukti secara eksperimental dapat berfungsi


sebagai diuretik alami (Xiaoet al., 2005). Flavooid menyebabkan

peningkatan eksresi elektroit seperti Na= dan Cl- pada tubulus sehingga

menimbulkan efek diuresis (Chodera et al., 19991; Juniora et al., 2010)

2.2 Simplia

2.2.1 Pengertian Simplisa

Simplisa adalah bahan alamiah yang digunakan sebagai obat

yang belum mengalami pengolahan apapun juga, kecuali dinyatakan

lain berupa bahan yang telahh dikeringkan (Farmakope Indoneisa edisi

III, 1979).

2.2.2 Penggolongan Simplisia

1) Simplisia Nabati

Simplisia nabati adalah simplisia yang berupa tumbuhan utuh

attau eksudat tumbuhan. Eksudat tumbuhan adalah isi sel yang

secara spontan keluar dari tumbuhan atau dengan cara tertentu

dikeluarkan dari selnya atau zat nabati lain yang dengan cara tertentu

dipisahkan dari tumbuhannya (Depkes RI, 1995).


2) Simplisia Hewani

Simplisia hewani adalah simplisia berupa hewan utuh atau

zat – zat berguna yang dihasilkan oleh hewan. Contohhnya miinyak

ikan dan madu (Gunawan, 2010).

3) Simplisia Pelikan atau Mineral

Simplia pelikan atau mineral adalah simplia berupa bahan

peikan yang belum diolah atau telah diolah dengan cara sederhana.

Contohnnya serbung seng dan serbuk tembaga (Gunawan, 2010).

2.2.3 Tahap Pembuatan Simplisia

Menurut (Gunawan, 2010) dasar pembutan simplisia meliputi

beberapa tahapan, yaitu:

1) Pengumpulan Bahan Baku

Kadar senyawa aktif dalam suatu simplia berbeda –

bedaergantung pada beberapa faktor, atara lain: baggian tuumbuha

yang diigunakan, umur tuumbuhan atau bagian tummbuhan pada

saat panen, waktu panen dan lingkung tempat tumbuh. Waktu panen

sanngat erat hubungannnya dengan pembbentuukan senyawa aktif di

dalam bagiann tumbuhan tersebut mengandung senyawa aktif dalam

jumlah yang besar. Senyawa aktif akan terbentuk secara maksimal di

dalam bagian tumbuhan atau tumbuhan pada umur tertentu.


Berdasarkan garis besar pedoman panen tumbuhan, pengambilan

bahan baku tanamann akan dilakukan sebagai berikut:

a) Biji, pengambilan bijia dapat dilakukan pada saat muulai

mengeringnya buah atau sebellum semuanya pecah.

b) Buah, panen buah bisa dilakukan saat menjelang masak attau

dengan cara melihat perubahan warna atau bentuk dari buah yang

bersanngkutan.

c) Bunga, panen bunga dapat dilakukan saat menjelang

penyerbukan, saat bunga masih kuncup.

d) Daun dan atau herba, panen daun dan atau herba dilakukan pada

saat proses fotosintesis berlagsung maksimal. Misalnya, yaitu

ditandainya dengan saat tanaman mulai berbunga atau buah mulai

masak. Untuk mengambil pucuk daun, dianjurkan dipungut paa

saat warna pucuk daun berubah menjadi daun tua.

e) Kulit batang, tumbuhan yang pada saat panen diambil kulit

batang, pengambilan dilakukan pada saat tumbuhan telah cukup

umur. Agar pada saat pengambilan tidak mengganggu

pertumbuuhan, sebaiknya dilakukan pada musim yang

menguntungkan yaitu menjelang musim kemarau.

f) Rimpang, pengambilan rimpang dilakukan pada saat musim

kering ditandai dengan mengeringnya bagian atas tumbuhan.

Diman rimpang saat itu dalam keadaan besar maksimal.


g) Akar, panen akar dilakukan pada saat proses pertumbuhan

berhenti atau tanaman sudah cukup umur. Panen yang dilakuakn

terhadap akar umumnya akan mematikan tanaman yang

bersangkutan.

2) Sortasi Basah

Sortasi basah adalah pemmilihan hasil panen ketika tanaman

masih segar. Sortasi dilakukan terdadap:

a) Tanah atau kerikil

b) Rumput – rumputan

c) Bahan tanaman lain atau bagian lain dari tanamann yang tidak

digunakan, dan bagian tanaman yang rusak (dimakan ulat attau

sebab lainnya).

3) Pencucian

Pencucian simplisia dilakukan untuk membersiihkann ktoran

yang melekat pada tanaman, terutama bahan – bahan yang berasal

dari dalam tanah dan juga bahan – bahan yag tercemar peptisida.

Cara sortasi dan pencucian saat mempengaruhi jenis dan jumlah

mikroba awal simplisia. Misalnya jika air yang digunakan untuuk

pencucian kotor, maka jumlah mikroba pada permukaan bahan

simplisia dapat bertambah dan air yang terdapat pada permukaan

bahan tersebut dapat mempercepat pertumuhan mikroba. Bakteri


yang umum erdapat dalam air adalah Pseudomonas, Bacillus,

Streptococcus, Enterbacter, dana Escherichia

4) Perajangan

Pada dasarnya tujuan perajangan atau pengubahan bentuk

simplisia adalah untuk memperluas permukaan bahan baku. Smakin

luas permukaan maka bahan baku akan semakin cepat kering.

Perajangan dapat dilakukan dengan pisau, dengan mesin perajang

hsus sehingga diperoleh irisan tipis atau potongan dengan ukuran

yang diikehendaki.

5) Pengeringan

Proses pengeringan simplisia, bertujuan sebagai berikut:

a) Menurunkan kadar air hingga bahan tersebut tidak mudahh

ditumbuhi kapang atau bakteri.

b) Mengilangkan aktivitas enzim yang bisa menguraikan lebih lanjut

kandungan zat aktif.

c) Memudahkan dalam hal pengolahan proses selanjutnya (ringkas,

mudah disimpan, tahan lama, dan sebagainya).

6) Sortasi Kering

Sortasi kering adalah pemilihan bahansetalah mengalami

proses pengeringan. Pemilihan dilakukan terhadap bahan – bahan

yang terlalu gosong atau bahan yang rusak.


7) Pengepakan dan Penyimpanan

Setelah tahap pengeringan dan sortasi kering selesai maka

simplisia perlu ditempatkan dalam suatu wadah tersendiri agar tidak

saing bercampur antara simplisia yang satu dengan yang lainnya.

2.2.4 Serbuk Simplisia Nabati

Serbuk simplisia nabati adalah bentuk serbuk dari simplisi

nabati, dengan ukuran derajat kehalusan tertentu. Sesuai dengan derajat

kehalusannnya, dapat berupa serbuk sangat kasar, kasar, agak kasar,

halus, dan sangat halus. Serbbuk simplisia nabati tidak boleh

mengandung fragmen jaringa dan benda asing yang bukan merupakan

komponen asli dari simplisia yang bersangkutan antra lain telur

nematoda, bagian dari serangga dan hama serta sisa tanah (Depkes RI,

1995). Serbuka dalah campuran homogen dua bahan atau lebih obat

yang diserbukkan. Pada pembuatan serbuk kasar, terutama simplia

nabati adalah digerus lebih ahulu samai derajat halus tertentu setelah itu

dikeringkan pada suhu tidak lebi dari 600 C (Anief, 2007).

Untuk simplisia nabati tidak boleh lebih menggunakan bagian

pertama yang terayak, tetapi harus terayak habis dan dicampur hmogen,

karena zat berkhasiat tidak terbagi merata pada semua bagian simplisia.

Sebagai contoh daun kering yang digerus halus dan diayak maka muka

daun yang terayak dulu, setelah itu baru urat daun dapat terayak (Anief,

2007).
2.3 Ektraksi

2.3.1 Pengertian Ektraksi

Pengertian ekstrak menurut FI edisi IV (1995) adalah seian

pekat yang diperoleh dengan menngekstraksi zat aktif dari simplisia

nabati atau simplisia hewani meggunakan pelarut yang sesuai,

kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapan dan massa atau

serbuk tersisa diperlukan sedemikian hingga memenuhi baku yang telah

ditetapkan.

Sediaan Galenika (1986) menyebutkan bahwa ekstraksi

merupakan peristiwa pemindahan zat aktif yang seula berada di dalam

sel tumbuhan ditarik oleh cairan penyari sehingga terjadi larutan zat

aktif dalam cairan penyari tersebut. Penyari atau pelarut akan

bertambah baik bila permukaan serbuk simplisia yang bersentuhan

dengan cairan penyari makin luas.

Sistem pelarut yanng digunakan dalam ektraksi harus dipilih

berdasasrkan kemampuannya dalam melarutkan jumlah yang maksimal

dari zat aktif dan seminimal mungkin bagi zat yang tidak diinginkan

(Ansel, 1989).
2.3.2 Macam – Macam Cairan Penyari

1) Air

Termasuk yang mudah dan murah dengan pemakaian yang

luas, pada suhu kamar adalah pelarut yang baik untuk bermacam –

macam zat misalnya: garam – garam alkaloida, glikosida, asam

tumbuhan, za warna dan garam – garamm mineral. Umumnya

kenaikan suhu dapat meningkatkan kelarutan pengann pengecualian

misalnya pada condurangin, calsium hidrat, dll. Kerugian dari

pelarut air adala banyak jenis zat – zat tertarik dimana zat – zat

tersebut merupakan makaan yang baik untuk jamur atau bakteri dan

dapat menyebabkan mengembangnya simplisia sedemikian rupa,

sehingga akan menyulitkan penarikan ada perkolasi (Soepraptop,

1995).

2) Acetonum

Tidak dipergunakan untuk sediaan galenik obat dalam,

pelarut yang baik untuk bermacam – macam lemak, minyak attsiri

dan damar. Baunya kurang enak dan sukar hilang darri sediaan.

Digunakan semisal pada pembutatan Capsicum oleoresin

(Soepraptop, 1995).
3) Kloroform

Tidak digunakan untuk sediaan obat dalam, karena efek

farmakologinya, bahan pelarut yang baik untk basa alkaloida, damar,

minyak lemak dan juga minyak atsiri (Soepraptop, 1995).

4) Etanol

Etanol hanya dapat melarutkan zat – zat tertentu, tidak

sebanyak jenis zat seperti dalam air. Jadi lebih baik dipakai cairan

penyari untuk sediaan – sediaan galenik yang mengandung zat

berkhasiat tertentu. Umumnya pelarut yang baik untuk alkaloida,

glikosida, damar – damar, minyak atsiri, tetapi bukan untuk sejnis

gom, gula dan albumin. Campuran air – etanol (Hydroo alcoholic)

menstrum lebih baik daripada air sendiri (Soepraptop, 1995).

5) Eter

Kebanyakan zat dari simplisia tidak arut dalam cairan i.

Beberapa dari padanya mempunyai kelarutan yag baik, misalnya

alkaloida, lemak – lemak, damar, minyak – minyak atsiri. Karena

eter sangat mudah menguap, cairan ini kurang tepat sebagai

menstrum dari seidaan galenik cair, untuk pemakain dalam satu

sediaan yang akan disimpan cukup lama, ada baiknya eter dicampur

dengan etanol. (Soepraptop, 1995).


Adapun beberapa faktor yang menjadi pertimbangan memilih

cairan penyari atau menstrum menurut (Soepraptop, 1995) antara lain:

a. Selektivitas

b. Bekerja dengan cairan tersebut

c. Ekonomis atau harga terjangkau

d. Ramah lingkungan

e. Keamanan

2.3.3 Metode Ekstraksi

Metode ektraksi sangat beragam antara lain destiasi, infudasi,

maserasi, perkolasi, sokletasi dan lainnya. Metode ekstrasi atau

penyarian dipilih bersarkan beberap faktor seperti dari sifat simplisia

dan penyesuain dengan cairan penyari yang digunakan agar didapat

hasil ekstrak yang optimal atau sempurna. Metode ekstraksi

digolongkan menjadi dua yaitu ektraksi dengan cara panas dan ektraksi

dengan cara dingin.

1) Ekstraksi Cara Dingin, meliputi:

a. Maserasi

Maserasi berasal dari kata “maserare” artinya merendam,

merupakan proses aling tepat dimana tanaman obat yang sudah

halus memungkinkan untuk direndam dalam mestrum sampai


meresap dan melunakkan zat – zat yang mudah larut akan mudah

larut (Ansel, 1989).

Maserasi merupakan metode penyarian yang menjadi

alternatif bagi tanaman yang sifat kandungan kimianya tidaka

tahan terhadap panas dan mudah menguap. Maserasi merupakan

metode pemyarian yang praktis dan sederhana. Bahan simplisia

yang telah dihauskan sesuai denga syarat farmakope, disatukan

denga bahan pengekstraksi. Selanjtnya rendaman tersebut

disimpat terlindung dari cahaya langsung dan dikocok kembali.

Waktu lamanya proses maserasi berbeda – beda, masing –

masing farmakope mencantumkan 4 – 10 hari. Setelah selesai

waktu masserasi, artinya keseimbangan antara bahan yang

diekstrak pada bagian dalam sel dengan yang masuk ke dalam

cairan tellah tercapai maka proses difusi akan segera berkahr

(Voigt, 1994).

Persayartan metode maserasi bahwa rendaman hharus

dikocok berulang – ulang (kira – kira tiga kali sehari) melalui

upaya ini dapat dicapai keseimbangan konsentrasi bahan ektraktif

yang lebih cepat di dalam cairan. Keadaaan diam selama maserasi

menyebabkan perpindahan bahan aktif. Secara teoritis pada suatu

maserasi tidak memungkinkan terjadinya ekstraksi absolut.

Semakin besar perbandingan simplisia terhdap cairan


pengekstraksi akan semakin babnyak hasil yang diperoleh

( Voigt, 1994).

b. Perkolasi

Perkolasi adalah penyarian dengan pelarut yang selalu

baru sampai sempurna yang umumnya dilakukan pada temperatur

ruangan. Proses terdiri dari tahapan pengembangan bahan, tahap

maserasi antara, tahap perkolasi sebenarnya (penetasan atau

penampungan ekstrak, terus menerus sampai diperoleh ekstrak

(perkolat) yang jumlahnya 1 – 5 kali bahan (Syamsuni, 2007).

2) Cara Panas, meliputi:

a. Reflux

Reflux adalah ektraksi dengan pelarut pada tempertaur

titik didihnya, selama waktu dan jumlah pelarut terbatas yang

relatif konstan dengan adanya pendinginan baik. Umumnya

umnya dilakukan pengulangan proses pada resitu pertama sampai

3 - 5 kali sehingga dapat termasuk proses ektraksi sempurna

(Depkes RI , 2000).

b. Soxhletasi

Metode soxhletasi disebut juga penyarian

berkesinambungan, merupakan gabungan dari metode maserasi

dan perkolasi. Cairan peyari diisikan pada labu, serbuk simplisia

diisikan pada tabung dari kertas saring ata berlubang dari gelas,

baja tahan karat atau bahan lain yang cocok. Cairan penyari
dipanaskan hingga mendidih. Uap penyari akan naik ke atas

malalui pipa uap, kemudian diembunan kembali oleh pendingin

tegak. Cairan turun ke labu melalui tabung yang berisi serbuk,

samil melarutkan zat aktif serbuk simplisia. Cairan akan menguap

kembali berulang seperti proses di atas (Depkes RI, 19856).

c. Digesti

Digesti adalah maserasi kinetik dengan cara mengaduk

secara kontinyu pada temperatur yang lebih tinggi dari

temperratur ruangan (kamar), yaitu secara umum dilakukan pada

temperatur 40 – 500C (Depkes RI, 2000)

d. Infusa

Ifusa adalah ekstraksi dengan pelarut air pada temperatur

penangas air (bejana infusa tercelup dalam penangas air

mendidih, temperatur terukur 96 – 980C) selama waktu tertentu

(15 – 20 menit) (Depkes RI, 2000).

e. Dekoktasi

Dekoktasi adalah infusa pada aktu yang lebih lama

(kurang lebih 30 menit) dan temperatur sampai titik didih air

(1000C ) (Depkes RI, 2000)


2.4. Suspensi

2.4.1 Pengertian Suspensi

Suspensi adalah sedian yang mengandung bahan obat padat

dalam bentuk halus dan tidak larut, terdispersi dalam cairan pembawa.

Zat yang terdispersi harus halus dan tidak boleh cepat mengendap.jika

dikocok perlahan – lahan endapan harus segara terdispersi kembali.

Suspensi dapat mengandung zat tambahan untuk menjamin stabilitas

suspensi, tetapi kekentalan suspensi tidak boleh terlalu tinggi agar

sedian mudak dikock dan dituang (Anief, 2006).

Suspenssi oral adalah sediaan cair yang mengandung partikel

pada dalam bentuk halus yang terdispersi dalam fase cair pengarma

yang sesuai dan ditujukkan untuk penggunaan oral. Beberapa suspensi

yang diberi etiket sebagai susu atau magma termasuk dalam kategori

ini. Beberpa suspensi dapat langsung digunakan, sedangkann yang lain

berupa camuran padat dalam bentuk halus dikonstitusikan terlebih

dahulu dengan pembawa yang sesuai, segera sebelum digunakan

(Syamsuni, 2012).

Suspensi yang baik harus tetap homogen, paling tidak selama

waktu yang dibutuhkan untuk penuangan dan pemberian dosi setelah

wadahnya dikocok. Secara tradisioal, jenis – jenis suspensi farmasi

tertentu diberikan tanda – tanda secara terpisah, seperti mucilago,

magma, gel, dan kadang aerosol; jugs termasuk di dalamnya serbuk


kering yang ditamba pembawa saat hendak diberikan pada pasien

(Lachman et al., 1989).

2.4.2 Stabilitas Suspensi

Salah satu masalah yang dihadapi dalam proses embuatan

suspensi adalah ccara memperlambat penimbunan partikel serta

menjaga homogenitas partikel, cara tersebut merupakan salah satu

tindakan untuk menjaga stabilitas suspensi. Beberapa faktor yang

mempengaruhi stabilitas suspensi antara lain:

1) Ukuran Partikel

Ukuran partiikel erat hubungannnya denngan luas

penampang partikel tersebut serta daya tekan ke atas dari cairan

suspensi itu. Hubungan antara ukuran partikel merupakan erb

andingann terbalik degan luas pennampangya. Sedangkann antara

luas penampang dengan daya tekan merupakan hubungan linier.

Artinya semakin besar ukuran partikel semakin kecil luas

penampangnya (dalam volume yang sama). Sedangkan semakin

besar luas penampang partikel daya tekan ke atas cairan akan

semakin memperlambat gerakan tersebut daat dilakukan dengan

memperkecil ukuran partike (Syamsuni, 2007).

2) Kekentalan (Viskositas)
Kekentalan suatu cairan mempengaruhi pula kecepatan aliran

dari cairan tersebut, makin kental susu cairaniran tersebut akan

mempengaruhi kecepatan alirnya makin turun (kecil). Kecepatan

aliran dari cairan tersebut akan mempengaruhi pula gerakan

turunnya partikel yang terdapat di dalamnya. Dengan demikian

dengan menambah vikositas cairan, gerakan turun dari partikel yang

kekentalan suspensi tidak boleh terlalu tinggi agar sediaan mudah

dikocok dan dituang. Hal ini dibuktikan dengan hukum “STOKES”

(Syamsuni, 2007) .

3) Jumlah Partikel (kontrasentrasi)

Apabila didalam suatu ruangan berisi partikel dallam jumlah

besar maka partikel tersebut akan susah melakukan gerakan yang

bebas karena sering terjadi benturan antara partikel tersebut.

Benturan itu akan menyebabkan terbentuknya endapan dari zat

tersebut, oleh karena itu makin besar konsentrasi partikel, makin

besar terjadinya endapan partikell dalam waktu yang singkat

(Syamsuni, 2007).

4) Sifat dan Muatan Partikel

Dalam suatu suspensi kemungkinan besar terdiri dari

beberapa macam campuran bahan yang sifatnya tidak selalu sama.

Engan demikian ada kemungkinan terjadi interaksi antar bahan

tersebut yang menghasilkan bahan yang sukar larut dalam cairan


tersebut. Karena siifat bahan tersebut sudah mempengaruhi sifat

alam. Maka kita dapat mempengaruhinya (Syamsuni, 2007).

2.4.3 Bahan Pensuspensi dari Alam

Bahan alam dari jenis gom sering disebut “gom atau

hidroalkohol”. Gom dapat larut dan mengembang atau mengikat air

sehingga campuran terseut membentuk mucilago atau lendir

(Syamsuni, 2007). Gom meliputi:

1) Akasia (pulvis gummi Arabic)

Bahan ini diperoleh dari eksudat tanaman accasia sp., dapat

larut dalam air, tidak larut dalam alohol, dan bersifat asam.

Viskositas optimum dari musilago adalah anntara PH 5 – 9. Gom ini

mudah dirusak oleh bakteri sehingga dalam pembuatan suspesi harus

ditambahkan pengawet (Syamsuni, 2007).

2) Condrus

Diperoleh dari tanaman Chondrus crispus atau Gigartina

mamilosa, dapat larut dalam air, tidak larut dalam alkohol, dan

bersifat basa (Syamsuni, 2007).

3) Tragakan

Merupakan eksudat dari tanaman Astragaluus gummifera.

Tragakan sangat lambat mengalami hidrasi sehingga untuk

mempercepat hidrasinya biasanya dilakukan pemanasan (Syamsuni,

2007).
4) Algin

Diperoleh dari beberapa spesies ganggang laut.

Doperdaggangkan terdaat dalam bentuk garamnya, yaitu natrium

akginate. Algin merupakan senyawa organik yang mudah mengalami

fermentasi bakteri sehingga pembuatan suspensi dengan algin

memerlukan bahan pengawet (Syamsuni, 2007).

2.4.5 Bahan Pensuspensi Sintesis

1) Derivat Selulosa

Termasuk kedalam golongan ini adalah metil selulosa

(methosol tylose), karboksimetilselulossa (CMC), hidroksi emtil

sellosa. Golongan ini tidak diabsorbsi oleh usus halus dan tidak

beracun sehingga banyak dipakai dalam produksi makanan. Dalam

farmasi selain untuk bahan pensuspensi juga digunakan sebagai

bahan penghancur dan desintegrrator pembuatan tablet (Syamsuni,

2007).

2) Golongan Organik Polimer

Yang paing terkenal dalam keloompok ini adalah carpol 934

(nama dagang pabrik). Berupa serbuk putih, beraksi asam, sedikit

larut dalam air, tidak beracun dan tidak mengiritasi kulit, serta

sedikit pemakainnya sehingga bahan tersebut banyak digunakan

sebagai pensuspensi (Syamsuni, 2007).


2.4.6 Metode Pembuatan Suspensi

1) Metode Dispersi

Serbuk yang halus terdispersi dalam ccairan pembawa.

Umumnya sebagai cairan pembawa adalah air, dalam formulasi

suspensi yang penting adalah partikel – partikel harus terdispersi betul

dalam fase cair. Dapat pula dengan menggunakan Gliserin, larutan

gom, atau propilenglikol untukdigunakan dalam penggerusan zat yang

tak larut agar dapat mendispersi partikel padat (Moh. Anief, 1993).

2) Metode Presitasi

Dengan pelarut organik dilakukan dengan zat yyang tidak

larut dalam air dilarutkan dulu dalam pelarut organik yang dapat

dicampur dengan air, lalu ditambahkan air suling dengan kondisi

tertentu. Pelarut organik adalah etanol, methabno, propilenglikol, dan

gliserin (Moh. Anief, 1993).

2.5 Evaluasi dan Uji Stabilitas Suspensi

2.5.1 Organoleptis

Evaluasia sediaan suspensi diilakukan dengan menilai

perubahan rasa, warna, dan bau setelah suspensi jadi terbuat (Sana et

al., 2012).
2.5.2 Bobot Jenis

Bobot jenis diukur dengan menggunakan pinometer. Pada suhu

ruangan, piknometer yang kering dan bersih ditimbang (A gram).

Kemudian diisi dengan air dan ditimbang kembali (A1 gram). Air

dikeluarkan dari piknometer dan piknometer dibersihkan. Seiaan lalu

diisikan dalam piknometer dan ditimbang (A2 gram Bobot jenis

dihitung dengan persamaan sebagai berikut:

A 2− A
Bobot jenis = A 1−A x BJ air oada suhu ruagan. (Depkes RI, 1995).
¿
¿

2.5.3 Uji Viskositas

Uji viskositas dilakuakn dengan menggunakan viskometer

stormer. Cara penentuan viskositas adalah sebagai berikut: masukkan

sediaan suspensi sebanyak 50 ml kedalam cup. Alas wadah dinaikkna

sedemikian rupa sehingga silinder (bob) tetap berada di tengah –tengah

cup dan terbenam dalam sediaan. Skala diatur sehingga menunjukkan

angka nol. Berikan beban turun dan mengakiatkan bob berputar.

Catatlah waktu yang diperlukan bob untuk berputar 100 kali putaran.

Dengan menambah dan mengurangi akan didapat pengukuran pada


beberapa kecepatan geser. Hitung kecepatan geser dalam RPM dalam

setiap beban yang diberikan dengan persamaaan sebagai berikut:

100
RPM = x 60
t

Keterangan :

RPM: rotasi per menit

t: waktu yang diperlukan bob untuk berputar 100 kali (s)

Hitung viskositas sediaan pada tiap kecepatan dengan persamaan

sebagai berikut:

M
Ŋ= x Kv
RPM

Keterangan:

Ŋ : viskositas (cp)

M : beban (g)

Kv : konstanta alat (cp/g s)

Kurva dibuat berdasarkan hubungan antara kecepatan geser

terhadap beban yang diberikan pada setiap sediaan (Martin, et al.,

19993).

2.5.4 Pengukuran PH
PH suspensi ditentukaan engan menggunakan PH meter igital.

Kalibrasi alata, lalu elektroda dan PH meter digital dicelupkan ke dalam

suspensi, biarkan selama 30 detik, catat nilai PH yang muncul pada

layar alat (Ameru & Oduyale, 2015).

2.5.5 Volume Sedimentasi

Suspensi dimasukkan ke dalam gelas ukur bervolume 10 ml.

Kemudian dibiarkan tersimpan tanpa gangguan, catat volume awal (V0),

simpan maksimal empat minggu. Volume tersebut merupakan volume

akhir (Vu).

Pararmeter pengendaan dari suatu suspensi dapat ditentukan

dengan mengatur volume sedimentasi (F) yaituperbandingan antara

vlume akhir endapan (Vu) dengan volume awal yang belum terjadi

endapan (V0) dengan rumus sebagai berikut (Anief, 19994):

Vu
F=
V0

2.5.6 Redispersi

Evaluasi suspensi ini dilakukan setalah pengukuran volume

sedimentasi konstan. Dilakukan secara manual dan hati – hati, tabung

reaksi diputar 1800 dan dibalikkan ke posisi semula.. formulasi yang

dievaluasi ditentukan berdasarkan jumlah putaran yang diperlukan


untuk mendispersi kembali endapan partikel zat agar kembali

tersuspensi. Kemampuan redispersi baik bila suspensi telah terdisersi

ssempurna dan diberi nilai 100%. Setiap pengulangan uji redispersi

pada sampel yang sama, maka akan mengurangi nilai redisersi sebesar

5% (Gebrsamuel & Gebre Mariam, 2013).

2.5.7 Freez – thawcycling

Sebanyak 50 ml air dari masing – massing frmula dibekukan

pada suhu 40 C dan dicairkan pada suhu 400 C secara bergantian

selama 24 jam sebanyak enam siklus lalu dilanjutkan denganevaluasi

pertumbuhan kristal dengan pengamatan mikroskopis langsung

menggunakan mikroskp cahaya yang dilengkapi dengan kamera

(Madjid, et al ., 2011).

2.5.8 Distribusi Ukuran Partikel

Masing – masing formula dievaluasi distribussi ukuran partikel

yang dilakuan secara mikroskopi, dengan mikroskop cahaya

menggunakan ensa okuler 100x (10x10)yang dilengakapi kamera.

Ukuran partikel dilakuakn dengan megukur 1000 partikel dari masing-

masing formula dan dilakukan pengelompkan ukuran artikel (Panda,

et al., 2011).
2.6 Ginjal

2.6.1 Anatomi Makroskopis dan Mikroskopis

Ginjal merupakan sepasang organ terletak setinggi vertebra

torakalis XII- vertebra lumbalis III pada rongga retropentoneal. Bagian

lateral ginjal berbentuk cembung sedangkan bagian medialnya

berbentuk cekung. Pada bagian medial ginjal terdapat hilus yang

merupakan tempat keluar masuknya pembuluh syaraf, dan ureter

(Mutsher, 1991).

Ginjal terdiri dari dua baian utama yaitu korteks dan medla.

Medula ginjal tersusun atas beberapa jaringann berbentuk kerucut

disebut piramid. Apeks dari tiap piramid membentuk dukus pipalaris

Belini. Setiap duktus pipalaris Belini masuk ke dalam kantong disebut

kaliks minor. Beberapa kaliks minor bersatu membentuk kaliks mayor

dan selanjutnya membentuk pelvis gnjal (Price and Wilson, 2006).

Ginjal tersusun atas satu juta nefron yang bertanggung jawab

dalam mekanisme pembentukan urin. Tiap nefron terdiri dari korpus

dan tubulus. Korpus ginjal terdiri atas satu kapsul bOUman dan

kumpulan kapiler grumerous.. Tubulus terdiri atas tubulus proksiml

denngan bagian pars konvulata dan pars rekta, bagian penghatar, ubulus

diistal dengan bagian pars konvulata dan pars rekta, serta tubulus

penampung. Bagian yang lurus dari tubulus proksimal, distal, serta

penghanarr dinamakan ansa henle ( Mutschler, 1991).


2.6.2 Fugsi Ginjal

Fungsi ginjal adalah membuang bahan – bahan sisa metabolisme

serta mengontrol volume dan komposisi cairan tubuh. ( Sherwood,

2001;Guyton and Hall, 2008). Menurut Mutschler 1991), ginjal juga

menjalankan beberapa fungsi antara lain:

1) Eksresi zat – zat sisa metabolisme melalui urine, misalnya uea atau

kreatinin.

2) Pengaturan kebutuhan air dan elektrolit serta keseimbanga asam

basa.

3) Pengaturan ( hormonal ) volume cairan ektra sel dan tekanan darah

arteri

4) Sintesis eritropoetin dan dengan demikian mempengaruhi

pembentuukan eritrosit.

5) Hidriksilasi 25 – hidroksi – kolekalsiferol menjadi 1, 25 – dihidroksi

kolekalsiferol yang berperan pada metabolisme kalsium dan fosfat.

2.6.3 Proses Pembentukan Urin

Proses pembentukan urin terdiri dari filtrasi glomerulus,

reasorsi tubulus dan sekresi tubulus. Filtrasi glomerulus dimulai ketika

sejumahesar cairan dari kapiler glomelurus menuju ke kapsula


Bowman (Sherwood, 2001, Guyon and Hall, 2008b). Di glomerulus,

dinding gromelurus bekerja sebagai saringan halus yang secara pasif

dapar dilintasi air, garam – garam, dan glukosa (Tjay dan Rahardja,

2002).

Cairan yang di filtrasi meninggalkan kapsula Bowman dn

melewati tubulus. Di sini terjadi penarikan kembali secara aktif air dan

komponen seperti glukosa dan garam – garam (reabsorsi tubulus)

sehingga terbentuk filtrat (Sherwood, 2001;Tjay dan Rahardja, 2002).

Selain itu pada tubulus terjadi penambahan zat – zat tertentu seperti H+

dan K+ ke dalam filttrat melalui proses skresi tubuulus (Sherwood,

2001). Akhirnya, filtrat dari tubulus ditampung di suatu saluran

pengumpul (ductus coligentes) seerta disalurkan dan ditampung ke

kandug kemih sebagai urin (Tjay dan Rahardja, 2002).

Pembentukan urin pada orang dewasa normal rata – rataa

sebanyak 1 ml per menit atau 1, 5 liter per hari (Sherwood, 2001). Rata

– rata di daerah ropis volume urine sehari antara 800 – 1300 ml untuk

orang dewasa . Beberapa faktor dapat mempengaruhi volume urine

seperti umur, berat badan, jenis kelamin, makan dan minuman, suhu

badan, iklim dan aktiftas orang yang bersangkutan (Wirawan et al,.

1995).
Gambar 2.2 Proses Pembentukan Urin
2.7 Diuretika

2.7.1 Pengertian Diuretika

Diuretik adalah zat-zat yang dapat memperbanyak pengeluaran

kemih atau air seni (diuresis) melalui kerja langsung terhadap ginjal.

Obat-obat lainnya yang menstimulasi diuresis dengan mempengaruhi

ginjal secara tak langsung termasuk dalam definisi ini, misalnya zat-zat

yang memperkuat kontraksi jantung (digoksin, teofilin) atau merintangi

hormon antidiuretik ADH (air, alkhol) (Tjay,2007).

2.7.2 Mekanisme Kerja Diuretika

Kebanyakan diuretika bekerja dengan mengurangi reabsopsi

natrium,sehingga pengeluarannya lewat kemih ddan demikian juga dari

air diperbanyak. Obat – obat ini bekerja khusus terhadap tubul , teapi

juga di tempat lain, yakni di:

1) Tubuli Proksimal, ultrafiltrat mengandung sejjumlah beaar garam

yang di ini direabsorsi secara aktif untuk kurang lebih 70 %, antara

ion NA+ dan air, begitu pulla glukosa dan ureum. Karena reabsorsi

berlangsung secara proporsional, maka tersusun filtrat tidak berubah

dan tetap isotonis terhadap plasma. Diuretik osmosis (manitol,

sorbitol) berekerja di sini dengan cara merintangi reabsorsi air dan

juga natrium.
2) Lengkungan Henle, di bagian menai dari henle’s loop Iini kurang

lebih 25 % dari semua ion Cl- yang telah difiltrasi di reabsorsi secara

aktif, disusull denga reabsorsi pasif antara Na+ dan K+ tetapi tanpa air

sehhigga filtrat menjadi hipotonis. Diuretika lengkungan seperti

furosemida, bumetanida, dan etakrinnat bekerja erutama di sini

dengan merintangi transfor Cl- dan demikian reabsorsi Na+.

Pengeluaran K+ dan air juga diperbanyak.

3) Tubuli Distal, di bagian pertama segman ini, Na+ diabsorsi secaa

aktif pula tanpa air hingga filtrat menjadi lebih cair dan lebih

hipotonis. Senyawa thiazida dan klortalidon bekerja di tempat ini

dengan cara memperbanyak eksresi Na+ dan Cl- sebesar 5 – 10%. Di

bagian ke dua segmen ini, ion NA+ ditukarkan dengan ion K+ atau

NH3 proses ini dikendalikan oleh hormon anak ginjal aldosteron .

Antaginis aldosteron (spirnolacton) dan zat – zat penghemat kalium

(amilorida, triamteren) bertitik kerja disini dengan mengakibatkan

eksresi NA+ (Kurang dari 5 %) dan retensi K+.

4) Saluran Pengumpul, hormon antidiuretika/ADH (vasopresin) dari

hipofisis bertitik kerja di sini dengan jalan

mempengaruhipermeabilitas bagi air dan sel – sel saluran ini. (Tjay,

2007).
2.7.3 Penggolongan Diuretika

Pada umumnya diuretika dibagi menjadi beberapa kelompok,

yakni:

1) Diuretika lengkungan: furosemida, bumetamida dan etactinat.

Obat – obat ini berkhasiat kuat dan pesat tetapi agak singkat

(4-6 jam). Banyak digunakan pada keadaan akut, misalnya pada

udeama otak dan paru – paru. Memperlihatkan kurva dosis efek

curam, artinya bila dosis dinaikkan efeknya (diuresis) senantiasa

bertambah.

2) Derivat – thiazida : hidrochlorthiazida, klortalidon, mefrusida,

indamapida dan klopamida.

Efeknya lebih lemah dan lambat, tetapi bertahan lebbih lama

(6 – 48 jam) dan terutama digunakan pada terapi pemeliharaan

hipertensi dan kelemahan jantung (decompensatio cordis). Obat –

obat ini memiliki kurva dosis efek datar, artinya bila dosis optima

dinaikan lagi efeknya (diuresis, penurunan tekanan darah) tidak

bertambah.

3) Diuretika hemat kalium: antaginis aldosteron (spironolcton,

kanrenoat), amilorida dan triamteren.

Efek obat – obat ini hanya lemah efek dan khusus digunakan

terkombinasi dengan diuretika lainnya guna menghemat eksresi

kalium. Aldosteron menstrimulasi reabsorsi Na+ dan eksresi K+

proses ini dihambat secara kompetitif (saingan) oleh obat – obat ini.
Amilorida dan triamteren dalam keadaan normal hanya

lemah efek eksresinya mengenai Na+ dan K+. Tetapi ada penggunaan

diuretik lengkungan dan thiazida terjadi eksresi kalium dengan kuat,

maka pemberian bersama dari penghemat kalium ini menghambat

eksresi K+ dengan kuat pula. Mungkin eksresi juga eksresi dari

magnesium dihambat.

4) Diuretika osmosis: manitol dan sorbitol.

Obat – obat ini hanya hanya direabsorsi sedikit oleh tubuli,

hingga reabsorsi air juga terbatas. Efeknya adalah diuresis osmosis

dengan eksresair kuat dan relatif sedikit eksresi Na+. Terutama

manitol yang hanya jarang digunakan sebagai infus intravena untuk

mengeluarkan cairan dan menurunkan teanan intraokuler (pada

glaucoma), juga untuk meunurunkan volume CCS (cairan

celbrospinal) dan tekanan intracranial (dalam tengkorak).

5) Perintangan karbonhidrase: asetozolamida

Zat ini merintangi enzim karbonhidrase di tubuli proksiml,

sehingga di samping karbonat, juga Na+ dan K+ dieksresikan lebh

banyak bersamaan dengan air. Khasiat diuretiknya hanya lemah,

setelah bberapa hari terjadi tachyfylaxie, maka perlu digunakan

secara selang – seling (inttermittens). ( Tjay, 2007).


2.7.4 Penggunaan

Diuretika digunakan pada semua keadaan dimana dikehendaki

peningkatan pengeluaran air, khususnya pada hipertensi dan gagal

jantung.

1) Hipertensi

Guna mengurangi volume darah selluruhnya hingga tekanan

darah (tensi) menurun. Khususnya derivat thiazida digunakan untuk

indikasi ini. Diuretik lengkungan pada jangka panjang tenyata lebih

ringan efek antihipertensifnya, maka hanya digunakan bila ada

kontra inikasi untuk thiazida, seperti pada infusiensi ginjal.

Mekanisme kerjanya diperkirakan berdasarkan penurunan daya

tahan pembuluh perifer.. Dosis yang diperlukan untuk efek

antihipertensi adalah jauh lebih rndah dripada dosis diuretis.

Thiazida memperkuat efek obat – obatan hipertensi betablocker dan

ACE – Inhibitors, sehinga sering dikombinaksian dengannya.

Penghentian pemberian thiazida pada lansia tidak boleh seccara

mendadak, karena resiko tiimbulnya gejala kelemahan jantung dan

peningkatan tensi.

2) Gagal Jantung (decomopensatio cordis)

Yang bercirikan peredaran darah tak sempurna lagdan

terdapat cairan berlebihan di jaringan. Akibarnya air tertimbun dan

terjadi udema, misalnya pada paru – paru (udema paru). Begitu pual

pada sindrom nefrotis, yang bercirikan udema tersebar akibat


proteinuria karena permeabilitas membran glomeruli meningkat.

Atau pada busung perut (ascites) dengan air menumpuk di rongga

perut aiat cirrosis hati (hati mengeras). Untuk indikasi ini terutama

digunakan diuretika lengkungan, dalam keadaan parah akut secara

intravena (asthma ccardiaei, udema paru). Thiazida dapat

memperbaiki efeknya pada pasien dengan infusiensi ginjal. Selain

itu, thiazida juga digunakan pada situisi di mana diuresis pesat dapat

mengkibatkan kesulitan, seperti pada hipertrofi prostat. (Tjay, 2007).

2.7.5 Efek Samping Diuretika

Efek – efek samping uutama yang dapat diakibatkan diuretika

dalah:

1) Hipokalemia yakni kekuranga kalium dalam darah. Semua diuretika

dengan titik kerja di muka tubuli distal memperbesar eksresi ion K +

dan H+ kerena ditukarkan dengan ion Na+. Akkibatnya adalah kadar

kalium dalam plasma dapat turun di bawah 3, 5 mmol/liter. Keadaan

ini terutama dapat terjadi pada penanganan gagal jantung dengan

dosis tinggi furosemida, mungkin bersama thiazida. Gejala

kekurangan kalum ini bergejala kelemahan otot, kejang kejang,

obtipasi, anoreksansia, kadang – kadang juga aritmia jantung, tetapi

gejala ini tidak selalu menjadi nyata.


Thiazida yang digunakan padda hipertensi paa dosis rendah (HCT

dan klortalidon 12, 5 mg sehari), hannya sedikit menurunkan kadar

kalium. Oleh karena itu, tak perlu disuplesi kalium (slow K –

600mg), yang dahulu agak sering dilakukan kombinasinya dengan

zat penghemat kalium sudah mencukupi.

Pasien jantung dengan gangguan ritme atau yang di bati yang diobati

dengan digitalis harus dimonitor dengan seksama, karena

kekurangan kalium dapat memperberat keluhanan meningkatkan

toksisitas digoksin. Pada mereka juga dikhawatiran peningatan

resiko kematian mendadak (sudden heart death).

2) Hiperurikemia, akibat retensi asam urat dapat terjadi pada emua

diuretika, kecuali amilorida. Menurut perkiraan hak ini disebabkan

oleh adanya persaingan antara diuretika dan asam urat mengenai

transportnya di tubuli. Terutama klortalido memberikan resiko lebih

tinggi untuk retensi asam urat dan serangan encok pada pasien yang

peka.

3) Hiperglikemia, dapat terjadi pada pasien diabetes terutama pada

dosis tinggi, akibat dikuranginya metablisme glukosa berhubung

sekresi insulin ditekan. Terutama thiazida terkenal menyebablan efek

ini. Efek antidiabetika oral diperlemah olehnya.

4) Hiperlipidemia ringan dapat terjadi dengan peningkatan kadar

kolesterol total (juga LDL dan VLDL) dan trigiserida.. Kadar

kolesterol HDL yang dianggap sebagai faktor pelindung untuk pjp


(penyakit jantung dan pembuluh) justru dirturunkan, terutama oleh

klortalidon. Pengecualian adalah indapamida yang praktis tidak

meningkatkan kadar lipida tersebut. Arti linis dalam efek samping

ini pada penggunaan jangka panjang belum jelas.

5) Hiponatriemia. Akibat diuresis yang terallu pesat dan kuat oleh

diuretika lengkungan kadar Na dalam plasma dapat menrun drastis

dengan akibat hiponatriemia. Gejalanya berupa grelisah, kejang otot,

haus, letargi (selalu meganntuk), juga kolaps. Terutama lansia peka

untuk dehidrasi, maka sebaiknya diberikann dosis permulaan rendah

yang berangsur – angsur dinaikan, atau pula oabat diberikan secara

berkala, misalnya 3 – 4 kali seminggu. Terutama pada furosemida

dan etakrinat dapat terjadi alkoholisis (kelebihan alkali dalam darah).

6) Lain – lain: gangguan lambung usus ( maual, muntah, diare), rasa

letih, nyeri kepala, pusing dan jarang reaksi alergis kkulit.

Ototoksitas dapat terjadipada penggunaan furosemid/ bumetamida

dalam dosis tinggi.Interksi. (Tjay, 2007).

2.7.6 Interaksi

Kombinasi dengan obat – obat lain bersama diuretika dapat

menimbulkan interaksi yang tidak dikehendaki seperti:


1) Penghambat ACE , dapat menimbulkan hipotensi yang hebat maka

sebaiknya baru diberikan setelah penggunaan diuretika dihentikan

selama tiga hari.

2) Obat – obat rema (NSAID’s), dapat agak memperlemahh efek

diuresis dan antihipertensif akibat sifat batrium dan airnya.

3) Kortikosteroida dapat memperkuat kehilanan kalium.

4) Aminoglkosida : ototoksitas diperkuat berubungdiuretika sendiri

dapat menyebabkan ketulian (reversible).

5) Antidiabetika oral dikurangi efeknya bila terjadi hiperglikmia.

6) Litiumklorida,dinaikkan kadar darahnya akibat terhambatnya

eksresi. (Tjay, 2007).