Anda di halaman 1dari 24

PERANAN GURU DALAM ADMINISTRASI SEKOLAH

MENENGAH

DI SUSUN OLEH:
SANTI DEWI 1701414003
CHRISTY 1701414382
HUSNUL PATIMAH 1701414420
I WAYAN SUDARMA 1701414145

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS COKROAMINOTO PALOPO
2019
PERANAN GURU DALAM ADMINISTRASI SEKOLAH MENENGAH
1. Administrasi Kurikulum
Kurikulum dalam satu sistem pendidikan merupakan komponen yang teramat
penting. Dikatakan demikian karena kurikulum merupakan panutan dalam
penyelenggaraan proses belajar mengajar di sekolah. Kualitas keluaran pendidikan
antara lain ditentukan oleh kurikulum dan efektivitas pelaksanaannya. Kurikulum
itu harus sesuai dengan filsafat dan cita-cita bangsa, perkembangan siswa,
perkembangan ilmu dan teknologi, serta kemajuan dan tuntutan masyarakat
terhadap kualitas lulusan lembaga pendidikan itu.
Kurikulum dapat diartikan secara sempit atau luas. Dalam pengertian
sempit, kurikulum diartikan sebagai sejumlah mata pelajaran yang diberikan di
sekolah, sedangkan dalam pengertian luas kurikulum adalah semua pengalaman
belajar yang diberikan sekolah kepada siswa, selama mereka mengikuti
pendidikan di sekolah itu. Dengan pengertian luas ini berarti,  segala usaha
sekolah untuk memberikan pengalaman belajar kepada siswa dalam usaha
menghasilkan lulusan baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif, tercakup
dalam pengertian kurikulum. Undang-Undang Nomor 2 tahun 1989, mengartikan
kurikulum sebagai seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan
pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan
belajar-mengajar.
Fungsi-fungsi dalam kegiatan pengelolaan kurikulum pada dasarnya tidak
berbeda dengan fungsi-fungsi kegiatan pengelolaan pada umumnya. Fungsi itu
terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian dan pengawasan,
serta penilaian.
Perencanaan kurikulum sekolah menengah oleh Departemen pendidikan
dan Kebudayaan tingkat pusat biasanya meliputi kegiatan sebagai berikut:
1. Penyusunan kurikulum dan kelengkapan pedoman yang terdiri atas:
a. Ketentuan-ketentuan pokok.
b. Garis-garis besar program pengajaran.
c.  Pedoman pelaksanaan kurikulum.
2. Pedoman-pedoman teknis pelaksanaan kurikulum lainnya, antara lain pedoman
penyusunan dan kalender pendidikan, pedoman penyusunan program pengajaran,
pedoman penyusunan satuan acara pengajaran, pembagian tugas guru, dan
penyusunan jadwal pelajaran.
Di dalam pelaksanaan kurikulum tugas guru adalah mengkaji kurikulum
tersebut melalui kegiatan perseorangan atau kelompok. Dengan demikian guru
dan kepala sekolah memahami kurikulum tersebut sebelum dilaksanakan.
Di bawah ini akan dibicarakan komponen-komponen kurikulum sekolah
menengah.
a. Tujuan Institusional Sekolah Menengah
Tujuan institusional pendidikan satu sekolah dijabarkan dari tujuan
pendidikan nasional.
b. Struktur Program Kurikulum Sekolah Menengah
Struktur program kurikulum sekolah menengah merupakan kerangka
umum program-program pengajaran yang diberikan pada setiap jenis dan
tingkat sekolah menengah. Struktur program kurikulum di sekolah
menengah umum tahun 1984, misalnya memuat:
1)  Program inti
Di dalam menjalankan program inti di SMU, misalnya disebutkan bahwa
susunan program inti terdiri atas 15 jenis mata pelajaran yang masing-
masing mempunyai bobot yang berbeda, sesuai dengan fungsinya dalam
mencapai tujuan pendidikan nasional
2). Program Khusus
Program khusus terdiri dari program A dan program B. Program A terdiri
dari A1 (Fisika), A2 (Biologi), A3 (Ilmu Sosial), dan A4 (Pengetahuan
Budaya). Program A ini dimulai pada semester ketiga. Program B
dikembangkan untuk mempersiapkan siswa terjun ke masyarakat. Oleh
karena itu bidang-bidangnya disesuaikan dengan bidang yang langsung
berkaitan dengan kehidupan masyarakat. Program B ini juga dimulai pada
semester ketiga.
c. Garis-Garis Besar Program Pengajaran (GBPP)
GBPP adalah salah satu komponen dari perangkat kurikulum yang
merupakan pedoman bagi guru dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari
dalam bidang pengajaran di sekolah. GBPP itu memberikan petunjuk bagi
setiap guru tentang bagaimana menyusun program-program pengajaran
dan penilaian serta bagaimana melaksanakan proses belajar-mengajar.
2. Pengembangan Kurikulum
Guru perlu mengetahui aspek-aspek yang berhubungan dengan pengembangan
kurikulum ini.
a.    Prosedur Pembahasan Materi Kurikulum
Seperti telah disinggung di muka, di dalam UU No. 2 tahun 1989
disebutkan bahwa pelaksanaan kegiatan pendidikan dalam satuan pendidikan
didasarkan dalam kurikulum yang berlaku secara nasional dan kurikulum yang
disesuaikan dengan keadaan serta kebutuhan lingkungan dan ciri khas satuan
pendidikan yang bersangkutan. Oleh itu sekolah harus mengusahakan agar materi
kurikulum itu disesuaikan dengan kebutuhan tersebut melalui berbagai kegiatan
pembahasan. Kegiatan pembahasan dapat dilakukan melalui diskusi kelompok
guru bidang studi, semua guru,dan guru dengan kepala sekolah. Di samping itu,
juga dapat dimanfaatkan orang sumber dari luar sekolah. Pembahasan dapat
menggunakan teknik diskusi kelompok, seminar, lokakarya, rapat-rapat periodik,
seperti rapat mingguan, bulanan atau semesteran.
b. Penambahan Mata Pelajaran Sesuai dengan Lingkungan Sekolah
Sekolah dapat menambah kurikulum yang telah ditetapkan secara nasional.
Dasar penambahan ini diatur dalam Pasal 38 UU No. 2 Tahun 1989. Kurikulum
dapat ditambah oleh sekolah dengan mata pelajaran yang sesuai dengan kondisi
lingkungan serta ciri khas satuan pendidikan yang bersangkutan. Semua tambahan
tersebut tidak mengurangi kurikulum yang berlaku secara nasional dan tidak boleh
menyimpang dari jiwa dan tujuan pendidikan nasional.
Prosedur penambahan mata pelajaran yang memenuhi prosedur akademik
dilakukan sebagai berikut :
1). Harus ada pengkajian secara berhati-hati tentang aspek filsafat, aspek
sosiologis atau kebutuhan masyarakat, serta kecocokannya dengan tingkat
perkembangan anak.
2)    Harus memenuhi prinsip-prinsip:
(i) relevansi, maksudnya adalah kesesuaian dengan lingkungan baik
lingkungan sosial, geografis maupun lingkungan keluarga,
(ii) prinsip efektivitas, yaitu sejauh mana penambahan mata pelajaran itu
menyumbang pencapaian tujuan sekolah,
(iii) prinsip efisiensi,yaitu sampai seberapa jauh sumber-sumber yang ada
di lingkungan itu mendukung pelaksanaan pelajaran itu, serta
(iv) prinsip kontinuitas, yaitu apakah mata pelajaran itu merupakan
prasyarat untuk mata pelajaran lain atau dapat dikembangkan lebih lanjut
di tingkat yang lebih tinggi.
c. Penjabaran dan Penambahan Bahan Kajian Mata Pelajaran
Seperti disebutkan baik dalam UU No. 2 Tahun 1989 maupun PP No. 29
Tahun 1990 (Pasal 15) bahwa mata pelajaran atau kajian dalam mata pelajaran
dapat ditambah oleh sekolah untuk memperkaya pelajaran tersebut dengan catatan
tidak bertentangan dan mengurangi kurikulum yang telah ditetapkan secara
nasional.
Pemerkayaan bahan kajian ini dapat dilakukan pada berbagai tingkat.
1) .Dilakukan oleh Guru Bidang Studi
Guru merupakan orang yang paling mengetahui apakah materi pelajaran
itu cukup untuk kepentingan siswa maupun kepentingan masyarakat. Pengetahuan
guru ini diperoleh dengan mengikuti perkembangan bidang studi yang diajarkan
melalui kegiatan interaksi kolegial seperti seminar, rapat kerja, hasil membaca
buku, laporan hasil penelitian orang lain maupun hasil penelitiannya sendiri, dan
sebagainya. Guru diharapkan mampu memahami penelitian orang lain dan juga
diharapkan mampu melaksanakan penelitian sederhana tentang bahan ajar dan
proses belajar mengajar yang dilakukannya.
2). Dilakukan oleh Kelompok Guru bidang Studi Sejenis
Kelompok guru yang mengajar mata pelajaran yang sama baik dari
sekolah itu sendiri maupun dari luar sekolah sering melakukan pertemuan untuk
saling belajar tentang mata pelajaran yang diajarkan. Kesempatan ini dapat
dipergunakan untuk memperluas atau memperdalam mata pelajaran yang
diajarkan di kelas mereka.
3). Dilakukan oleh Guru Bersama Kepala Sekolah
Kepala sekolah dapat memberikan dorongan dan kemudahan kepada guru
untuk mengembangkan mata pelajaran yang diajarkannya dengan misalnya,
melengkapi perpustakaan, mendorong guru untuk melakukan penelitian,
memberikan kesempatan guru untuk mengambil inisiatif dalam mengembangkan
mata pelajaran tersebut atau memberikan kesempatan kepada guru untuk
mengikuti program peningkatan mutu, baik melalui penyegaran, penataran atau
pendidikan lanjut.
4). Dilakukan oleh Pengawas
Pengawas merupakan orang yang diharapkan mengetahui tentang berapa
jauh keluasan dan kedalaman mata pelajaran yang diajarkan disekolah dan
melakukan penilaian apakah hal tersebut sudah memadai atau perlu diperluas dan
diperdalam lagi. Dari hasil penilaian itu pengawas dapat memberikan saran dan
petunjuk kepada guru dalam usaha mengembangkan mata pelajaran yang
diajarkannya.
5). Dilakukan oleh Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK)
Fungsi LPTK bukan hanya sejedar menghasilkan tenaga guru, tetapi juga
menghasilkan temuan-temuan penelitian dalam usaha memperbaiki kinerja system
pendidikan dalam segala aspeknya. Oleh karena itu, LPTK lebih banyak
mempunyai kesempatan untuk mendapatkan informasi tentang perkembangan
mata pelajaran sebagai akibat perkembangan ilmu, disamping temuan-temuan
dalam bidang perkembangan anak dan perkembangan kebutuhan masyarakat aka
nisi pendidikan. Oleh karena itu, pada tempatnyalah LPTK memberikan jasa atau
diminta jasa nya dalam peningkatan, perluasan atau pendalaman bidang studi yang
diajarkan di sekolah-sekolah.
3. Pelaksanaan Kurikulum
a.   Penyusun dan Pengembangan Satuan Pengajaran
      Satuan pengajaran  (SP) adalah bentuk persiapan mengajar secara mendetail
per pokok bahasan yang disusun secara sistematik berdasarkan Garis-Garis Besar
Pengajaran yang telah ada untuk suatu mata mata  pelajaran tertentu. Menurut
buku Petunjuk  Pelaksanaan Kurikulum Pendidikan Menengah Kejuruan yang
dikeluarkan oleh Direktor Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah,satuan
pengajaran didefinisikan sebagai unit terkecil program pengajaran yang
merupakan satu kesatuan yang bulat dan siap untuk diberikan di depan kelas
dalam waktu tertentu.
Pengembangan SP ini dimulai  dari pengembangan pengajaran dalam satuan
semester.
1) . Pengertian Penyusunan Program Pengajaran Semester
Program pengajaran semester adalah rencana belajar- mengajar yang akan
dilaksanakan selama satu semester dalam tahun ajaran tertentu. Program
ajaran ini merupakan pengembangan lebih lanjut GBPP masing-masing
bidang studi.
2). Tujuan Penyusunan Program Pengajaran Semester
Tujuan Penyusunan Program Pengajaran Semester  ini adalah:
a). Menjabarkan bahan pengajaran yang akan disajikan guru dalam proses
belajar-mengajar.
b). Mengarahkan tugas yang harus ditempuh boleh guru agar pengajaran
dapat  terlaksana  secara bertahap dengan tepat.
3). Fungsi Program Pengajaran Semester
  Fungsi Program Pengajaran Semester adalah:
a). Sebagai Pedoman Penyelenggaraan Pengajaran selama satu semester
b). Sebagai bahan dalam pembinaan guru yang dilakukan oleh kepala
sekolah dan atau pengawas sekolah.
4). Langkah-langkah Penyusunan Program Pengajaran  Semester
Langkah-langkah yang dilakukan dalam melaksanakan penyusunan
program pengajaran semester itu adalah sebagai berikut:
a). Mengelompokkan bahan pengajaran yang tercantum dalam Garis-
Garis  Besar Program Pengajaran  menjadi beberapa satuan bahasan.
Setiap satuan bahasan sebaiknya terdiri dari bahan pengajaran yang
relevan
b). Menghitung banyaknya satuan bahasan yang  terdapat  selam satu
semester.
c). Menghitung banyaknya minggu efektif sekolah selama satu semester
dalam melihat kalender pendidikan sekolah yang bersangkutan.
d). Mengalokasikan waktu yang dibutuhkan untuk setiap satuan bahasan
sesuai dengan hari efektif sekolah.
e). Mengatur pelaksanaan belajar-mengajar sesuai dengan banyak
minggu efektif sekolah yang tersedia berdasarkan kalender pendidikan.
b. Prosedur Penyusunan satuan Pengajaran
Langkah-langkah yang ditempuh untuk membuat SP berdasarkan pokok-
pokok bahasan yang telah disebutkan dalam GBPP adalah:
1). Mengisi identitas mata pelajaran
2). Menjabarkan tujuan pokok bahasan (tujuan istruksional umum)   menjadi
tujuan instruksional Khusus (TIK) yang lebih rinci.
3). Menjabarkan materi pengajaran dari pokok bahasan  atau subpokok bahasan
sesuai dengan TIK.
4). Mengalokasikan waktu pengajaran.
5). Menetapkan langkah-langkah penyampaian secara lebih rinci.
6). Menetapkan prosedur memperoleh balikan formatif melalui monitoring  atau
balikan sumatif melalui tes bagian itu.
7). Mengantisifasikan perbaikan pengajaran.
c. Pengembangan satuan Pengajaran
Karena perkembangan ilmu dan peningkatan kemampuan guru serta
perubahan kebutuhan siswa,maka SP yang sudah dibuat dan sudah digunakan
untuk mengajar perlu dikembangkan lebih lanjut. Perkembangan ini  meliputi 
penambahan,pengurangan,pengubahan, dan penggantian. Oleh karena itu,guru dan
kepala sekolah disarankan untuk selalu melakukan titik ulang SP yang telah
dibuat itu. Titik ulang ini bias dilakukan oleh guru di sekolah,kelompok guru
antarsekolah maupun kelompok guru yang lebih luas lagi. Jika diperlukan juga
dapat  menggunakan jasa konstultasi dari pakar-pakar bidang studi atau pakar
pendidikan. Kegiatan ini sebaiknya dilakukan secara berkala pada setiap akhir
semester.
d. Penggunaan Satuan Pengajaran Bukan Buatan Guru Sendiri
Dalam hal satuan pelajaran tidak dibuat sendiri oleh guru (dibeli atau
dikopi dari SP yang dibuat teman atau orang lain) guru perlu melakukan hal-hal
sebagai berikut:
1). Melihat kembali GBPP dan mencocokkan kesesuaian komponen- komponen
dalam satuan pelajaran dengan komponen- komponen dalam GBPP.
2). Jika hal tersebut telah  dilakukan dan tidak ada penyimpangan yang berarti
maka langkah selanjutnya adalah mencocokkan (konstintensi) antara 
(a) tujuan umum dengan tujuan instruksional khusus,
(b)  dengan tujuan instruksional khusus dengan bahan, metode , dan teknik
evaluasi, serta sumber belajar.
3). Melakukan  pertimbangan (judgment) apakah satuan pelajaran itu dapat 
dilaksanakan di kelas sejauh berhubungan dengan kemampuan awal siswa,
fasilitas yang tersedia, dan faktor pendukung lainnya.
4).   Jika butir 3) belum memadai, maka guru harus melakukan penyesuaian
terhadap SP tersebut  sehingga realistik dan dapat melakukan penyesuaian
terhadap SP tersebut sehingga realistic dan dapat dilaksanakan. Proses
penyesuaian  ini dapat berupa penambahan, pengurangan atau penggantian
dari komponen yang tidak sesuai. Hendaknya kegiatan semacam ini minimal
dilaporkan kepada kepala sekolah atau akan lebih baik lagi jika dikerjakan
atas supervisi kepala sekolah .Sudah barang tentu bantuan teman
sejawat,pengawas atau pakar dari luar sekolah dapat dimanfaatkan untuk
perbaikan SP ini.
e. Pelaksanaan Proses Belajar-Mengajar
Aspek administrasi dari pelaksanaan proses belajar-mengajar adalah
pengalokasian dan pengaturan sumber-sumber yang ada di sekolah untuk
memungkinkan proses belajar-mengajar itu  dapat dilakukan guru dengan
seefektif mungkin. Sering kali sumbar tersebut sangat terbatas sehingga sangat
mungkin dipergunakan pula oleh kelas lain dalam waktu yang bersamaan. Jika hal
ini terjadi guru harus dapat  merealokasikan waktu atau tempat sehingga tidak
mengganggu program sekolah secara keseluruhan. Dalam hal ini kerja sama dan
konstultasi dengan kepala sekolah merupakan syarat yang harus dilakukan.
f. Pengaturan Ruang Belajar
Untuk menciptakan suasana belajar yang aktif perlu diperhatikan
pengaturan ruang belajar dan prabot sekolah. Pengaturan tersebut hendaknya
memungkinkan siswa duduk berkelompok  dan memungkinkan guru secara
leluasa membimbing dan membantu siswa dalam belajar.
        Dalam pengaturan ruangan belajar hendaknya diperhatikan pengaturan hal-
hal sebagai berikut:
(1) bentuk dan luas ruangan kelas,
(2) bentuk serta ukuran bangku atau kursi dan meja siswa,
(3) jumlah siswa pada tingkat kelas yang bersangkutan,
(4) jumlah siswa dalam tiap-tiap kelas,
(5) jumlah kelompok dalam kelas,
(6) jumlah siswa dalam tiap kelompok, dan 
(7) kegiatan belajar-mengajar yang dilakukan.
g. Kegiatan Kokurikuler dan Ekstrakurikuler
        Ada tiga macam kegiatan kurikuler,yaitu kegiatan intrakulikuler, kokulikuler,
dan ekstrakurikuler.
        Kegiatan intrakulikuler adalah kegiatan yang dilakukan sekolah dengan
penjatahan waktu sesuai dengan struktur program,seperti yang telah dibicarakan
pada bagian terdahulu. Pada bagian ini akan dibicarakan kegiatan kokurikuler
dengan kegiatan ekstrakuriker.  
h. Evaluasi Hasil Belajar dan Program Pengajaran
Evaluasi merupakan tahapan penting dalam suatu kegiatan. Di bawah ini
diuraikan secara singkat dua jenis evaluasi,yaitu evaluasi hasil belajar dan
evaluasi program pengajaran.
4. Administrasi Kesiswaan
Administrasi kesiswaan merupakan proses pengurusan segala hal yang
berkaitan dengan siswa disuatu sekolah mulai dari perencanaan siswa baru,
membimbing siswa baru dalam masa orientasi, pembinaan selama siswa berada di
sekolah, mendata hasil prestasi siswa di kelas, sampai siswa menamatkan
pendidikannya melalui penciptaan suasana yang kondusif terhadap
berlangsungnya Proses Belajar Mengajar.
Menurut Sutisna (1991 :46), (dalam Mohammad Syaifuddin, 2007 : 2.38)
tugas guru dalam administrasi siswa adalah :
1. Menyeleksi siswa baru,
2. Menyelengarakan pembelajaran,
3. Mengontrol kehadiran siswa,
4. Melakukan uji kompetensi akademik / kejuruan,
5. Melaksanakan bimbingan karier serta penelusuran lulusan.
Guru harus menyadari bahwa kepuasan peserta didik dan orang tuanya serta
masyarakat, merupakan indikator keberhasilan sekolah.
5 . Administrasi Sarana/Prasarana Sekolah
Prasarana dan sarana pendidikan adalah semua benda yang bergerak
maupun tidak bergerak, yang diperlukan untuk menunjang penyelenggaraan
belajar-mengajar baik secara langsung maupu tidak langsung. Administrasi
prasarana dan sarana pendidikan merupakan keseluruhan perencanaan
pengadaaan, pendayagunaan dan pengawasan prasarana peralatan yang digunakan
untuk menunjang pendidikan agar tujuan pendidikan yang telah ditetapkan dapat
dicapai.
Salah satu contoh sarana dan prasarana pendidikan yang langsung
digunakan dalam pembelajaran adalah media pembelajaran. Media pembelajaran
adalah segala macam sarana yang dapat dipergunakan untuk menyampaikan pesan
pembelajaran guna menopang pencapaian hasil belajar (Sudarma dan Parmiti,
2007 : 5)
Kebijakan pemerintah tentang pengelolaan sarana dan prasarana sekolah
tertuang di dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas pasal 45 ayat (1) yaitu
”setiap satuan pendidikan formal dan nonformal menyediakan sarana dan
prasarana yang memenuhi keperluan pendidikan sesuai dengan pertumbuhan dan
perkembangan potensi fisik, kecerdasan intelektual, sosial, emosional dan
kejiwaan peserta didik.” (Mohammad Syaifuddin, 2007 : 2.36).
Adapun peran guru dalam administrasi sarana prasarana sekolah:
1. Terlibat dalam perencanan pengadaan alat bantu pengajaran
2. Terlibat dalam pemanfaatan dan pemeliharaan alat bantu pengajaran yang
digunakan guru.
3. Pengawasan dalam penggunaan alat praktek oleh siswa
6. Administrasi Kepegawaian (administrasi personal)
Personel pendidikan dalam arti luas meliputi guru, pegawai, dan siswa.
Dalam pembahasan ini yang dimaksud dengan personel pendidikan adalah
golongan petugas yang membidangi kegiatan edukatif dan yang membidangi
kegiatan nonedukatif (ketatausahaan). Pembahasan administrasi personel ini
dibatasi dan difokuskan kepada pembahaasan guru sekolah menengah sebagai
pegawai negeri.
Dalam administrasi kepegawaian ini lebih difokus kepada guru sebagai
pegawai negri. Pegawai negeri adalah mereka yang setelah memenuhi syarat-
syarat yang ditentukan dalam perundang-undangan yang berlaku, diangkat oleh
pejabat yang berwenang dan diserahi tugas dalam suatu jabatan negeri atau
disertai tugas Negara lainnya yang ditetapkan berdasarkan suatu perundang-
undangan yang berlaku. Seorang calon guru bisa menjadi seorang pegawai negeri
jika telah melalui rekrutmen guru. Menurut Ibrahim Bafadal, (2006 : 21)
rekrutmen merupakan satu aktivitas manajemen yang mengupayakan
didapatkannya seorang atau lebih calon pegawai yang betul-betul potensial untuk
menduduki posisi tertentu atau melaksanakan tugas tertentu di sebuah lembaga
Adapun peran guru dalam administrasi kepegawaian yaitu :
1. Membuat buku induk pegawai
2. Mempersiapkan usul kenaikan pangkat pegawai negeri, prajabatan, Karpeg, cuti
pegawai, dan lain – lain.
3. Membuat inventarisasi semua file kepegawaian, baik kepala sekolah, guru,
maupun tenaga tata administrasi.
4. Membuat laporan rutin kepegawaian harian, mingguan, bulanan, dan tahunan.
5. Membuat laporan data sekolah dan pegawai.
6. Mencatat tenaga pendidik yang akan mengikuti penataran.
7. Mempersipkan surat keputusan Kepala Sekolah tentang proses KBM, surat
tugas, surat kuasa, dan lain – lain.
7. Administrasi Keungan Sekolah Menengah

a). Pengertian pengelolaan keuangan sekolah


             Pengertian keuangan sekolah cenderung dibatasi pada ruang lingkup yang
lebih sempit, yaitu pencatatan uang masuk dan uang keluar. Dalam arti luas
pengelolaan keuangan sekolah mencangkup kegiatan perencanaan penggunaan ,
pencatatan, pelaporan , dan pertanggung jawaban keuangan sekolah yang sudah
dialokasikan untuk pembiayaan kegiatan sekolah selama periode tertentu,
misalnya untuk 1 tahun ajaran.
b).  Perencanaan Keuangan Sekolah
             Rencana anggaran pendapatan dan belanja sekolah (RAPBS) pada
dasarnya memuat tentang berbagai program dan kegiatan yang akan dilaksanakan
sekolah selama 1 kegiatan yang akan dilaksanakan sekolah, keuangan untuk
membiayai program tersebut selam 1 tahun anggaran. Penyusunan RAPBS dapat
menempuh beberapa langkah. Sutisna 1989 menyatakan langkah dimaksud
sebagai berikut:
1. Penetapan Tujuan. Perumusan Tujuan adalah suatu keharusan dalam
penyusunan anggaran yang efektif
2.      Penjabaran tujuan kedalam program pendidikan
3.       Penentuan sumber daya manusia dan materil yang berimplementasikan
program-program pendidikan yang ditetapkan. PAda tahap ini mesti ada
gambaran yang jelas mengenai:
·         Jumlah staff dan kemampuan-kemampuan
·         Gedung dan fasilitas fisik
·         Perlengkapan dan pembengkelan
·         Pelayanan bantuan, operasi dan pemeliharaan
·         Pelayanan administrative
4.      Pembuatan perkiraan anggaran belanja dengan teliti.
c).   Pengunaan keuangan sekolah
Depdagri dan depdikbud 1996 menyatakan bahwa dalam administrasi
keuangan harus ada pemisahan tugas dan fungsi otorisator, ordonator dan
pembendaharawan. Otorisator adalah pejabat yang diberi wewenang untuk
mengambil tindakan yang mengakibatkan terjadinya penerimaan atau pengeluaran
keuangan. Ordonator adalah pejabat yang berwenang yang melakukan pengujian
dan memerintahkan pembayaran atas segala tindakan yang dilakukan berdasarkan
otorisasi yang telah ditetapkan. Bendaharawan adalah pejabat yang berwenang
yang melakukan penerimaan dan pengeluaran uang atau surat-surat berharga
lainnya, yang dapat dinilai dengan uang dan diwajibkan membuat perhitungan dan
pertanggung jawaban.
Penggunaan uang mestinya sesuai dengan alokasi anggaran yang sudah
ditetapkan sebelumnya. Oleh karena itu pengaturan penggunaan dan pembukuan
keuangan tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang dan smuanya harus melalui
proses dan prosedur yang berlaku. Berkenaan dengan hal ini, sutopo dan sumanto
1982 menyatakan sebagai berikut:
1. Sebaiknya orang yang memegang kas tidak sekaligus memgang pembukuannya
2.  Setelah uang diterima harus dibukukan dan ditulis sesuai dengan mata anggaran
masing-masing.
3.  Penggunaan uang harus ada bukti atau dokumen berupa kwitansi.
4.  Semua pengeluaran harus dibukukan
5.  Setiap document yang dijadikan bukti pengeluaran harus diberi nomor, tanggal,
harus dibubuhi, diparaf oleh pejabat yang bertanggung jawab (kepala sekolah).
6.   Tiap halaman buku harus diberi huruf dan paraf oleh pemegang buku kas
7.   Kesalahan-kesalahan tidak boleh dihapus, tetapi harus digaris dan dicoret baik-
baik dan dibubuhkan paraf.
8. Buku kas dibuka dan ditutup tiap bulan meskipun tidak ada
pemakainya/pemasukan atau pengeluaran.
9.    Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan harus diadakan pengawasan
yang kontiniu.
10. Kepala sekolah meskinya menunjuk petugas yang menangani keuangan
sekolah benar-benar memiliki pengetahuan dan kemampuan dalam bidang
keuangan.
              Beberapa buku yang diperlukan dalam penyelenggaraan keuangan
sekolah adalah:
 Buku kas
 Legel gaji
 Buku kas harian
 Buku catatan SPMU
 Buku / daftar SPJ
 Buku pemeriksaan
 Buku setoran Pajak
 Buku BP3
 Buku tabunan
d). Pertanggung jawaban keuangan sekolah
Pertanggung jawaban dapat disampaikan pada pimpinan, sumber pemberi
dana maupun kepada personil sekolah untuk dapat diketahui bersama. Hal ini
perlu dilakukan mengingat “ keuangan “ merupakan hal yang sangat sensitive.
Ketidakjelasan laporan pertanggung jawaban keuangan sekolah akan menambah
anggapan negative terhadap kepala sekolah dalam hal penyelenggaraan keuangan
sekolah yang tidak tertib.
e).  Peranan guru dalam administrasi keuangan sekolah
Penanggung jawab biaya pendidikan adalah kepala sekolah namun
demikian, guru diharapkan ikut berperan dalam administrasi biaya ini meskipun
menambah beban mereka, juga memberikan kesempatan untuk ikut serta
mengarahkan pembiyaan itu untuk perbaikan proses belajar mengajar.
Administrasi keuangan meliputi kegiatan perencanaan, penggunaan,
pencatatan data, pelaporan dan pertanggung jawaban dana yang dialokasikan
untuk penyelenggaraan sekolah. Tujuan administrasi ini adalah untuk
mewujudkan suatu tertib administrasi keuangan, sehingga pengurusannya dapat
dipertanggung jawaban sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Keuangan sekolah menengah dapat diperoleh dari dana anggaran
penerimaan dan belanja Negara (APBN), bantuan (kalau ada) dari anggaran
pendapatan dan belanja daerah (APBD), serta bantuan masyarakat. Dana APBN
terdiri dari dana rutin dan dana pengunaan. Dana APBD dapat berasal dari
pemerintah tingkat I dan Tingkat II. Dana dari masyarakat diperoleh dari dana
yang dikumpulkan oleh badan pembantuan penyelanggaraan pendidikan (BP3),
serta bantuan masyarakat lainnya. UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 pasal 49 ayat
(1) menyatakan bahwa ” dana pendidikan selain gaji pendidik dan biaya
pendidikan kedinasan dialokasikan minimal 20% dari Anggaran Pendapatan dan
belanja Negara (APBN) pada sektor pendidikan dan minimal 20% dari Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), (Mohammad Syaifuddin, 2007 : 2.37).
8. Administrasi Hubungan Sekolah dan Masyararkat
a). Pengertian hubungan sekolah dan masyarakat (husemas)
Husemas adalah suatu proses komunikasi antara sekolah dan masyarakat
untuk meningkatkan pengertian masyarakat tentang kebutuhan serta kegiatan
pendidikan serta mendorong minat dan kerjasama masyarakat dalam peningkatan
dan pengembangan sekolah.
              Definisi diatas mengandung beberapa element penting, sebagai berikut:
1.  Adanya kepentingan yang sama antara sekolah dan masyarakat
2. Untuk memenuhi harapan masyarakat itu, masyarakat perlu berperan serta
dalam pengembangan sekolah
3.  Untuk meningkatkan peran serta itu diperlukan kerjasama yang baik, melalui
komunikasi dua arah yang efisien.
b).  Tujuan Hubungan sekolah dan masyarakat
Bent dan Krononberg (Ametembun, 1973;153) mengemukakan 3 tujuan
utama dari hubungan sekolah dan masyarakat. Ketiga tujuan tersebut adalah :
1.      To prevent misunderstanding
2.      To secure financial support
3.      To secure cooperation I policy making
Yang dimaksud dengan tujuan tersebut diatas adalah :
1. Untuk mencegah kesalah pahaman masyarakat terhadap sekolah sehingga
tercipta opini yang baik dari masyarakat tentang pendidikan umumnya.
2. Untuk memperoleh sumbangan financial dan sumbangan material dari
masyaraka
3.  Untuk menjalin kerjasama dalam pembuatan –pembuatan kebijaksanaan.
Elsbree (hendiyat sutopo, 1982;236) mengemukakan tujuan hubungan
sekolah dengan masyarakat sebagai berikut :
1.      Meningkatkan kualitas belajar dan pertumbuhan anak secara maksimal
2.      untuk meningkatkan tujuan masyarakat dan meningkatkan kualitas kehidupan
masyarakat
3.      untuk mengembangkan antusiasme / semangat dalam membantu kegiatan
hubungan sekolah dengan masyarakat disekolah.
c).  Prinsip-prinsip hubungan sekolah
1.    Prinsip otoritas, yaitu bahwa husemas harus dilakukan oleh orang yang
mempunyai otoritas, karena pengetahuan dan tanggung jawabnya dalam
penyelenggaraan sekolah.
2.    Prisnsip kesederhanaan, yaitu bahwa program-program hubungan sekolah-
masyarakat harus sederhana dan jelas.
3.    Prinsip sensitivitas, yaitu bahwa dalam menangani masalah hubungan dengan
masyarakat sekolah harus sensitive terhadap kebutuhan serta harapan
masyarakat.
4.  Prinsip kejujuran, yaitu bahwa apa yang disampaikan kepada masyarakat apa
adanya dan disampaikan secara jujur
5.   Prinsip ketepatan, bahwa apa yang disampaikan sekolah kepada masyarakat
harus tepat baik dilihat dari segi isi, waktu, media yang digunakan serta tujuan
yang akan dicapai
d).   Proses pengelolaan husemas
1.      Perencnan program
Prencanan program hubungan sekolah masyarakat harus memperhatikan
dana yang terjadi, ciri masyarakat , daerah jangkauan, sarana atau media dan
teknik yang akan digunakan dalam mengadakan hubungan dengan masyarakat.
Kalau perencanaan tidak memperhatikan hal-hal di atas dikawatirkan kegiatan
tersebut tidak akan mancapai sarana yang diinginkan.
2.      Pengorganisasian
Pada dasarnya semua komponen sekolah adalah pelaksanaan hubungan
sekolah masyarakat. Oleh karena itu tugas-tugas mereka perlu dipahami dan
ditata, sehingga penyelenggaraan Husemas dapat berjalan efektif dan efisien
3.      Pelaksanaan
Dana pelaksanaan hubungan sekolah masyarakat perlu diperhatikan
koordinasi antara berbagai bagian dan kegiatan dan di dalam penggunaannya
perlu ada sinkronisasi.
e).    Peranan guru dalam husemas
1.      Membantu sekolah dalam melaksanakan teknik-teknik husemas.
2.      Membuat dirinya lebih baik lagi dalam bermasyarakat.
3.      Dalam melaksanakan semua itu guru harus melaksanakan kode etiknya
(kode etik guru)

9. Administrasi Layanan Khusus


a). Pengertian administrasi layanan khusus
Administrasi layanan khusus adalah memberi layanan secara khusus atau
suatu usaha yang tidak secara langsung berkenaan dengan proses belajar mengajar
di kelas. Tetapi secara khusus diberikan oleh sekolah kepada para siswamnya agar
mereka lebih optimal dalam melaksanakan proses belajar.
Manajemen layanan khusus di suatu sekolah merupakan bagian penting
dalam Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang efektif dan efisien. Sekolah
merupakan salah satu sarana yang dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas
dari penduduk bangsa Indonesia. Sekolah tidak hanya memiliki tanggung jawab
dan tugas untuk mlaksanakan proses pembelajaran dalam mengembangkan ilmu
penegetahuan dan teknologi saja, melainkan harus menjaga dan meningkatkan
kesehatan baik jasmani maupun rohani peserta didik. Hal ini sesuai dengan UU
No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Bab II Pasal 4 yang
memuat tentang adanya tujuan pendidikan nasional. Untuk memenuhi tugas dan
tanggung jawab tersebut maka sekolah memerlukan suatu manajemen layanan
khusus yang dapat mengatur segala kebutuhan peserta didiknya sehingga tujuan
pendidikan tersebut dapat tercapai.
b). Jenis-Jenis Layanan Khusus dan Pengelolahannya
Pelayanan khusus yang diberikan sekolah kepada peserta didik, antar
sekolah satu dengan sekolah lainnya pada umumnya sama, tetapi proses
pengelolan dan pemanfaatannya yang berbeda. Beberapa bentuk layanan khusus
yang ada di sekolah antara lain yaitu:
1. Perpustakaan
Perpustakaan merupakan salah satu unit yang memberikan layanan kepada
peserta didik, dengan maksud membantu dan menunjang proses pembelajaran di
sekolah, melayani informasi-informasi yang dibutuhkan serta memberi layanan
rekreatif melalui koleksi bahan pustaka.
Ada beberapa jenis perpustakaan sekolah, yang pada dasarnya disesuaikan
dengan jenjang atau tingkat sekolah yang bersangkutan. Jenis perpustakaan
sekolah tersebut adalah perpustakaan taman kanak-kanak, perpustakaan sekolah
dasar, perpustakaan sekolah lanjutan tingkat pertama dan perpustakaan sekolah
lanjutan tingkat atas. Semua jenis perpustakaan sekolah yang disebutkan diatas
dikelola berdasarkan tujuan khusus masing-masing jenis dan jenjang sekolah.
Fungsi perpustakaan sekolah adalah:
a.    fungsi pendidikan
b.    fungsi informasi
c.    fungsi rekreasi
d.    fungsi penelitian
e.    fungsi penyaluran hobi
f.     fungsi penanaman rasa tanggung jawab
Peranan guru dalam administrasi perpustakaan sekolah
Ada beberapa peranan guru yang terlibat dalam administrasi perpustakaan
sekolah. Peran tersebut antara lain:
a. Memperkenalkan buku-buku kepada siswa dan guru-guru
b.Memilih buku-buku dan bahan pustaka lainnya yang kan dibeli
c.Mempromosikan perpustakaan baik untuk pemakaian, maupun pembinaanya
d.Mengetahui jenis dan menguasai criteria-krikteria umum
e.Mengusahakan agar siswa aktif membantu perkembangan perpustakaan
2. Labolatorium
Labolatorium secara sederhana dapat diuraikan sebagai suatu tempat dimana
dosen, mahasiswa, guru, siswa, dan orang lain melaksanakan kegiatan kerja
ilmiah seperti pratikum, observasi, penelitian, demokrasi dan pembuatan model-
model dalam rangka kegiatan belajar mengajar.
Jenis-jenis laboratorium yaitu sebagai berikut:
Labolatorium dapat dibedakan atas berapa jenis’ jenis-jenis laboratorium
tersebut biasanya disesuaikan dengan bidang studi atau kelompok bidang studi
tertentu. Jenis laboratotium tersebut antra lain:
a.Menurut bidang studi misalnya: labolatorium kimia, fisika, pmp dan sebagainya
b.kelompok bidang studi misalnya : laboratorim IPS, IPA
c.Untuk bidang ilmu teknik labor dapat diartikan sebagai workshop/ bengkel
kerja.
3. UKS (Unit Kesehatan Sekolah)
Dapatlah dikatakan bahwa layanan kesehatan peserta didik adalah suatu
layanan kesehatan masyarakat yang dijalankan di sekolah dan menjadikan peserta
didik sebagai sasaran utama, dan personalia sekolah yang lainnya sebagai sasaran
tambahan (Imron, 1995:154).
Tujuan khusus usaha kesehatan sekolah adalah agar siswa:
a.    Memiliki pengetahuan, sikap dan keterampilan untuk melaksanakan prinsip
hidup sehat serta berpartisipasi aktif didalam usaha peningkatan kesehatan
disekolah, dirumah tangga maupun dilingkungan masyarakat.
b.    Sehat dalam arti fisik mental maupun social
c.    Memiliki daya khayat dan daya tangkal terhadap pengaruh buruk,
penyalahgunaan narkotika, obat dan bahan berbahaya, alcohol, rook, dan
sebagainya.
4. Sarana Ibadah
Di setiap sekolah, layanan rumah peribadatan sangat diperlukan. Layanan
rumah peribadatan merupakan sebuah layanan yang diberikan sekolah dengan
maksud agar layanan tersebut bisa digunakan untuk beribadah maupun
melaksanakan kegiatan keagamaan lainnya, serta bisa membentuk kerohanian
bagi peserta didik khususnya pada pihak sekolah lain pada umumnya. Agar bisa
menjadi manusia yang baik dan beriman.
Adanya sebuah layanan rumah peribadatan di sekolah sangat menunjang
proses pembelajaran mengingat bahwa pembelajaran bisa dilakukan dimana saja
temasuk salah satunya adalah di rumah peribadatan. Adapun layanan rumah
peribadatan yang biasanya ada di sekolah adlah masjid dan gereja.
5. Koperasi
Layanan koperasi mendidik para peserta didik untuk dapat berwirausaha.
Hal ini sangat membantu peserta didik di kehidupan yang akan datang. Koperasi
sekolah adalah koperasi yang dikembangkan di sekolah, baik sekolah dasar,
sekolah menengah, maupun sekolah dan dalam pengelolaannya melibatkan guru
dan personalia sekolah. Sedangkan koperasi peserta didik atau biasa disebut
disebut koperasi siswa (Kopsis) adalah koperasi yang ada di sekolah tetapi
pengelolaanya adalah oleh pesera didik, kedudukan guru di dalam Kopsis adalah
sebagai pembimbing saja.
6. Transportasi
Sarana transportasi bagi peserta didik merupakan sarana penunjang untuk
kelancaran proses belajar mengajar. Peserta didik akan merasa aman dan dapat
masuk atau pulang dengan waktu yang tepat. Transportasi yang diperlukan
terutama bagi peserta didik ditingkat prasekolah dan sekolah dasar. Penyelenggara
transportasi sebaiknya dilaksanakan oleh sekolah yang bersangkutan atau pihak
swasta.
c). Peran Guru dalam Administrasi Layanan Khusus
1. Keterlibatan guru dalam administrasi perpustakaan misalnya memperkenalkan
buku-buku kepada siswa
2. Mengetahui jenis dan menguasai kriteria umum yang menentukan baik
buruknya suatu koleksi buku-buku perpustakaan
3. Mempromosikan perpustakaan baik pemakaian maupun untuk pembinaannya.
KESIMPULAN

Kurikulum dapat diartikan secara sempit atau luas. Dalam pengertian sempit,
kurikulum diartikan sebagai sejumlah mata pelajaran yang diberikan di sekolah,
sedangkan dalam pengertian luas kurikulum adalah semua pengalaman belajar
yang diberikan sekolah kepada siswa, selama mereka mengikuti pendidikan di
sekolah itu. Aspek-aspek yang berhubungan dengan pengembangan kurikulum
antara lain: prosedur pembahasan materi kurikulum, penambahan mata pelajaran
sesuai dengan lingkungan sekolah, penjabaran dan penambahan bahan kajian
mata pelajaran. Pelaksanaan kurikulum dapat dilakukan dengan cara sebagai
berikut: penyusun dan pengembangan satuan pengajaran,  prosedur penyusunan
satuan pengajaran, pengembangan satuan pengajaran, penggunaan satuan
pengajaran bukan buatan guru sendiri, pelaksanaan proses belajar-mengajar,
pengaturan ruang belajar, kegiatan kokurikuler dan kkstrakurikuler , evaluasi hasil
belajar dan program pengajaran. Administrasi kesiswaan merupakan proses
pengurusan segala hal yang berkaitan dengan siswa disuatu sekolah mulai dari
perencanaan siswa baru, membimbing siswa baru dalam masa orientasi,
pembinaan selama siswa berada di sekolah, mendata hasil prestasi siswa di kelas,
sampai siswa menamatkan pendidikannya melalui penciptaan suasana yang
kondusif terhadap berlangsungnya proses belajar mengajar. Administrasi
prasarana dan sarana pendidikan adalah semua benda yang bergerak maupun tidak
bergerak, yang diperlukan untuk menunjang penyelenggaraan belajar-mengajar
baik secara langsung maupu tidak langsung.
Administrasi Personel pendidikan dalam arti luas meliputi guru, pegawai,
dan siswa. Dalam pembahasan ini yang dimaksud dengan personel pendidikan
adalah golongan petugas yang membidangi kegiatan edukatif dan yang
membidangi kegiatan nonedukatif (ketatausahaan). Pembahasan administrasi
personel ini dibatasi dan difokuskan kepada pembahaasan guru sekolah menengah
sebagai pegawai negeri. Administrasi keungan sekolah menengah meliputi
pengelolaan keuangan sekolah mencangkup kegiatan perencanaan penggunaan ,
pencatatan, pelaporan , dan pertanggung jawaban keuangan sekolah yang sudah
dialokasikan untuk pembiayaan kegiatan sekolah selama periode tertentu,
misalnya untuk 1 tahun ajaran. Administrasi hubungan sekolah dan masyararkat
merupakan suatu proses komunikasi antara sekolah dan masyarakat untuk
meningkatkan pengertian masyarakat tentang kebutuhan serta kegiatan pendidikan
serta mendorong minat dan kerjasama masyarakat dalam peningkatan dan
pengembangan sekolah. Administrasi layanan khusus adalah memberi layanan
secara khusus atau suatu usaha yang tidak secara langsung berkenaan dengan
proses belajar mengajar di kelas. Tetapi secara khusus diberikan oleh sekolah
kepada para siswamnya agar mereka lebih optimal dalam melaksanakan proses
belajar.
DAFTAR PUSTAKA
Kosasi, Raflis; Soetjipto. 2011. Profesi Keguruan. Jakarta : Rineka Cipta
Syaifuddin, Mohammad, dkk. 2007. Manajemen Berbasis Sekolah. Departemen
Pendidikan Nasional. Jakarta.
Bafadal, Ibrahim. 2006. Manajemen Perlengkapan Sekolah dan Aplikasinya.
Jakarta: BumiAksara.
Sudarma, I Komang & Desak Putu Parmiti. 2007. Modul Media
Pengajaran S1PGSD. Singaraja: Jurusan Pendidikan Dasar Fakultas
Ilmu PendidikanUniversitas Pendidikan Ganesha.