Anda di halaman 1dari 2

Nama : Alisa Zahron

NIM : P21345119007
No Absen : 07

Kasus Pembantaian Banyuwangi 1998

Pembantaian Banyuwangi 1998 adalah peristiwa pembantaian terhadap orang yang


diduga melakukan praktik ilmu hitam (santet atau tenung) yang terjadi di Banyuwangi, Jawa
Timur pada kurun waktu Februari hingga September 1998. Namun hingga saat ini motif pasti
dari peristiwa ini masih belum jelas.

Kejadian Awal
Pembunuhan pertama terjadi pada Februari 1998 dan memuncak hingga Agustus dan
September 1998. Pada kejadian pertama di bulan Februari tersebut, banyak yang
menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa, dalam artian kejadian tersebut tidak akan
menimbulkan sebuah peristiwa yang merentet panjang. Pembunuh dalam peristiwa ini adalah
warga-warga sipil dan oknum asing yang disebut ninja. Dalam kejadian ini, setelah dilakukan
pendataan korban. Ternyata banyak di antara para korban bukan merupakan dukun santet. Di
antarapara korban terdapat guru mengaji, dukun suwuk (penyembuh) dan tokoh-tokoh
masyarakat seperti ketua RT atau RW.

Radiogram Bupati Pur


Pada 6 Februari 1998, Bupati Banyuwangi saat itu Kolonel Polisi (Purn) HT. Purnomo
Sidik mengeluarkan radiogram yang ditujukan untuk seluruh jajaran aparat pemerintahan dari
camat hingga kepala desa untuk mendata orang-orang yang ditengarai memiliki ilmu
supranatural dan untuk selanjutnya melakukan pengamanan dan perlindungan terhadap orang-
orang tersebut. Radiogram selanjutnya dikeluarkan pada bulan September yang berisi penegasan
terhadap radiogram sebelumnya. Namun yang terjadi, setelah radiogram dikeluarkan dan
dilakukan pendataan, pembantaian malah semakin meluas. Dalam sehari ada 2-9 orang yang
terbunuh. Sehingga masyarakat berasumsi bahwa radiogram bupati tersebut adalah penyebab
dari pembantaian dan radiogram yang berisi perintah pengamanan tersebut adalah dalih
pemerintah untuk membasmi tokoh-tokoh yang berlawanan ideologi dengan pemerintah. Selain
itu muncul spekulasi bahwa pembantaian tersebut didalangi oleh oknum TNI, tetapi hal itu tidak
terbukti hingga saat ini.
Kemudian, terlepas dari spekulasi yang muncul akibat radiogram yang dikeluarkan
bupati. Para ulama di Kabupaten Banyuwangi menganggap bahwa meskipun radiogram yang
dikeluarkan dimaksudkan untuk maksud sebenarnya (benar-benar bertujuan untuk mengamankan
orang-orang dengan ilmu supranatural), penerapannya kurang tersembunyi sehingga informasi
mengenai orang-orang tersebut bocor ke pihak massa pembantai sehingga orang tadi kehilangan
nyawanya sesaat setelah melapor ke aparat desa
Ninja
Pada masa pembantaian muncul sosok yang disebut ninja. Ninja tersebut memakai
pakaian serba hitam dan kedapatan memakai handy-talky dalam beroperasi. Ada dua versi
mengenai ninja ini. Ada yang menyebutkan bahwa ninja tersebut adalah orang yang hanya
berkostum hitam dan membawa senjata, sedangkan yang lain menceritakan bahwa sosok ninja
yang mereka lihat adalah seperti ninja di Jepang dan mampu bergerak ringan melompat dari sisi
ke sisi yang tidak akan bisa dilakukan oleh manusia biasa. Mereka sangat terlatih dan sistematis.
Saat itu, yang terjadi adalah listrik tiba-tiba mati dan sesaat kemudian terdapat seseorang yang
sudah meninggal karena dibunuh. Keadaan mayat pada saat itu ada yang sudah terpotong-
potong, patah tulang ataupun kepala yang pecah. Peristiwa ini menimbulkan korban tewas
kemungkinan antara 115 sampai 147 orang.

Investigasi

Beberapa penyelidikan pernah dilakukan untuk mengungkap kronologi, dalang, dan motif
dibalik peristiwa ini. Seperti beberapa mahasiswa datang untuk melakukan penelitian dan
Menteri Pertahanan dan Panglima Angkatan Bersenjata saat itu, Jenderal Wiranto datang ke
Banyuwangi untuk memantau penyelidikan. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas
HAM) waktu itu juga telah membentuk tim untuk menyelidiki dan telah mengumumkan
pernyataan bahwa terdapat indikasi pelanggaran HAM berat pada kasus ini. Namun karena
kurangnya keseriusan, akhirnya penyelidikan dihentikan. Selain itu, dalam kasus ini telah
ditangkap puluhan orang dan ditetapkan sebagai tersangka dan menerima sanksi kurungan
dengan kurun waktu yang bervariasi. Meskipun begitu, dalang utama atau orang yang
mencetuskan pertama kali tidak pernah tertangkap ataupun terungkap.

Kejahatan kemanusiaan itu adalah kejahatan yang dilakukan oleh warga-warga sipil
dalam keadaan tidak perang. Dalam kasus Banyuwangi ini memenuhi sebagai pelanggaran HAM
berat karena terdapat dua unsur yaitu unsur sistematis dan unsur meluas.

Daftar Pustaka
https://id.wikipedia.org/wiki/Pembantaian_Banyuwangi_1998