Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PENDAHULUAN

POST SC ATAS INDIKASI PEB (PRE-EKLAMPSI BERAT)


DIRUANG NIFAS RSUD H. MOCH ANSARI SALEH

Disusun Oleh :
NAMA : ENI LESTARI
NIM : 1114170595

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN DARUL AZHAR


PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
BATULICIN

2020/2021
A. PENGERTIAN
Pre–eklampsi adalah suatu sindrom klinik dalam kehamilan
viable/usia kehamilan >20 minggu dan atau berat janin 500 gram yang
ditandai dengan hypertensi, protein urine dan oedema. Preeklampsi berat
(PEB) adalah suatu komplikasi kehamilan yang ditandai dengan timbulnya
hipertensi dengan tekanan darah 160/110 mmHg atau lebih yang disertai
proteinuria dan edema pada kehamilan 20 minggu atau lebih (akhir
triwulan kedua sampai triwulan ketiga) atau bisa lebih awal terjadi (Icemi
& wahyu, 2013).
PEB (Pre-Eklamsia Berat) adalah sekumpulan gejala yang timbul
pada wanita hamil, bersalin dan nifas yang terdiri dari hipertensi, edema
dan protein uria tetapi tidak menjukkan tanda-tanda kelainan vaskuler atau
hipertensi sebelumnya, sedangkan gejalanya biasanya muncul setelah
kehamilan berumur 28 minggu atau lebih (Nanda, 2015).
Menurut Triwahyuni (2015) mengatakan bahwa Sectio Caesarea
(SC) dengan indikasi Pre-Eklamsia Berat (PBE) adalah masa setelah
proses pengeluaran janin yang dapat hidup diluar kandungan dari dalam
uterus kedunia luar dengan menggunakan insisi pada perut dan karena
adanya hipertensi, edema, dna proteinuria.

B. PATOFISIOLOGI
Menurut Triwahyuni (2015) pada pre–eklampsi terjadi spasme
pembuluh darah yang disertai retensi garam dan air pada biopsi ginjal
ditemukan spasme lubal artierole glomerulus. Pada beberapa kasus, lumen
arteriole sedemikian sempitnya sehingga hanya dapat dilalui oleh suatu sel
darah merah. Jadi jika semua arteriole dalam tubuh mengalami spasme,
maka tekanan darah akan naik sebagai usaha untuk mengatasi kenaikan
tekanan perifer agar oksigenasi jaringan dapat dicukupi Sedangkan
kenaikan berat badan dan oedema yang disebabkan oleh penimbunan air
yang berlebihan dalam ruangan intertisial belum diketahui sebabnya
mungkin karena retensi garam dan air. Protein uri dapat disebabkan oleh
spasme arteriola sehingga terjadi perubahan glomerulus Perubahan organ –
organ pada pre – eklampsi :
1. Plasenta dan rahim Pada pre – eklampsi terdapat spasmus arteriola
spiralis desidua dengan akibat menurunnya aliran darah ke
plasentarubahan plasenta akibat tuanya kehamilan dapat dipercepat
pada pre – eklampsi yang jelas terjadi atropi sinsitum.Arteria spiralis
mengalami kontrkasi dan penyempitan akibat necrotizing arteriopathy.
Pada pre – eklampsi dan eklampsi sering terjadi partus prematurus
2. Ginjal Pada ginjal terjadi sedikit pembengkakan pada
glomelurus.Filtrasi glomelurus berkurang oleh karena aliran ginjal
menurun. Hal ini menyebabkan filtrasi natrium melalui glomelurus
menurun, sebagai akibatnya terjadi retensi garam dan air
3. Otak Pada pre – eklampsi aliran darah dan pemakaian oksigen tetap
dalam batas – batas normal.Pada pre – eklampsi resistensi pembuluh
darah meninggi, ini terjadi pula pada pembuluh darah otak. Oedema
yang terjadi pada otak dapat mengakibatkan gangguan usus.
4. Paru – paru Kematian ibu pre – eklampsi dan eklampsi biasanya
disebabkan oleh oedema paru yang menimbulkan dekompensisi
kordis. Biasanya pula terjadi aspirasi pneumonia atau abses paru
5. Mata Dijumpai adanya oedema retina dan spasme pembuluh darah
dapat terjadi ablusio retina yang disebabkan oedema intra okuler dan
merupakan salah satu indikasi untuk melakukan terminasi kehamilan.
6. Keseimbangan cairan dan elektrolit Pada pre – eklmpsi tidak dijumpai
perubahan yang nyata pada metabolisme air, elektrolot, kristaloid dan
protein serum.

C. ETIOLOGI
Menurut Syaiffudin, (2006) mengatakan penyebab preeklamsi
sampai sekarang belum diketahui secara pasti, tapi pada penderita yang
meninggal karena preeklamsi terdapat perubahan yang khas pada berbagai
alat. Tapi kelainan yang menyertai penyakit ini adalah spasmus arteriole,
retensi Na dan air dan koagulasi intravaskuler. Walaupun vasopasmus
mungkin bukan merupakan sebab primer penyakit ini, akan tetapi
vasospasmus ini yang menimbulkan berbagai gejala yang menyertai
preeklamsi.. Sebab pre eklamsi belum diketahui
1. Vasospasmus menyebabkan :
a) Hypertensi
b) Pada otak (sakit kepala, kejang)
c) Pada placenta (solution placentae, kematian janin)
d) Pada ginjal (oliguri, insuffisiensi)
e) Pada hati (icterus)
f) Pada retina (amourose)
2. Ada beberapa teori yang dapat menjelaskan tentang penyebab
preeklamsia yaitu : Bertambahnya frekuensi pada primigravida,
kehamilan ganda, hidramnnion, dan molahidatidosa :
a) Bertambahnya frekuensi seiring makin tuanya kehamilan
b) Dapat terjadinya perbaikan keadaan penderita dengan kematian
jajin dalam uterus.
c) Timbulnya hipertensi, edema, protein uria, kejang dan koma.
3. Faktor Perdisposisi Preeklamsi
a) Molahidatidosa
b) Diabetes mellitus
c) Kehamilan ganda
d) Hidrocepalus
e) Obesitas
f) Umur yang lebih dari 35 tahun

D. MANIFESTASI KLINIS
Menurut Mochtar (2005) ada beberapa maifestasi klinis yaitu :
1. Sakit kepala terutama daerah frontalis
2. Rasa nyeri di daerah epigastrium
3. Gangguan mata.penglihatan menjadi kabur
4. Terdapat mual sampai muntah
5. Gangguan pernafasan sampai cyanosis
6. Terjadi gangguan kesadaran

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Menurut Syafrullah, Zulkarnaen, & Lisiswati (2016) mengatakan
adapun pemeriksaan penunjang PEB diantaranya:
1. Pemeriksaan spesimen urine mid-stream untuk menyingkirkan
kemungkinan infeksi urin.
2. Pemeriksaan darah, khususnya untuk mengetahui kadar ureum darah
(untuk menilai kerusakan pada ginjal) dan kadar hemoglobin.
3. Pemeriksaan retina, untuk mendeteksi perubahan pada pembuluh
darah retina.
4. Pemeriksaan kadar human laktogen plasenta (HPL) dan esteriol di
dalam plasma serta urin untuk menilai faal unit fetoplasenta
5. Elektrokardiogram dan foto dada menunjukkan pembesaran ventrikel
dan kardiomegali.

F. PENATALAKSANAAN MEDIS/TERAPI
Menurut Susanto dkk (2017) mengatakan bahwa adapun
penatalaksanaan medis/terapi pada pasien post sc PEB dianatranya:
1. Penanganan aktif, penderita harus segera dirawat, sebaiknya dirawat di
ruang khusus di daerah kamar bersalin.Tidak harus ruangan gelap.
2. Pengobatan medisinal : diberikan obat anti kejang MgSO4 dalam infus
dextrose 5% sebanyak 500 cc tiap 6 jam. Cara pemberian MgSO4 :
dosis awal 2 gram intravena diberikan dalam 10 menit, dilanjutkan
dengan dosis pemeliharaan sebanyak 2 gram per jam drip infus (80
ml/jam atau 15-20 tetes/menit).
G. FOKUS PENGKAJIAN KEPERAWATAN
Menurut Susanto dkk (2017) mengatakan adapun data fokus
pengkajian keperawatan pada pasien post sc PEB diantaranya sebagai
berikut:
1. Data Demografi
Umur biasa sering terjadi pada primi gravida <20 tahun atau > 35 tahun,
jenis kelamin
2. Riwayat Kesehatan
a. Keluhan Utama : Biasanya klien dengan pre eklaamsia mengeluh
demam, sakit kepala
b. Riwayat Kesehatan Sekarang : Terjadi peningkatan tensi, oedema,
pusing, nyeri epigastrium, mual muntah, penglihatan kabur.
c. Riwayat Kehamilan : Riwayat kehamilan ganda, mola hilatidos,
hidramnion serta riwayat kehamilan dengan pre eklampsia atau
eklamsia sebelumnya
d. Pola Nutrisi : Jenis makanan yang dikonsumsi baik makanan
pokok maupun selingan

H. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik
2. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan

I. PERENCANAAN
1. Intervensi Diagnosa 1
a. Kaji tingkat intensitas nyeri pasien
b. Jelaskan penyebab nyeri
c. Ajarkan ibu mengintisipasi nyeri dengan nafas dalam apabila nyeri
timbul
d. Ajarkan ibu dengan mengusap / massage pada bagian yang nyeri
Rasional
a. Mengkaji tingkat intensitas nyeri pada pasien
b. Menjelaskan penyebab nyeri
c. Mengajarkan ibu mengitisipasi nyeri dengan nafas dalam apabila
nyeri timbul
d. Mengajarkan ibu dengan mengusap / massage pada bagian yang
nyeri
1. Intervensi diagnosa 2
a. Gunakan pendekatan yang menenangkan
b. Temani pasien untuk memberikann keamanaan dan mengurangi
takut
c. Dengarkan dengan perhatian
d. Intruksikan pasien menggunakan tekhnik relaksasi
Rasional
a. Menggunakan pendekatan yang menenangkan
b. Menemani pasien untuk memberikan keamanan dan mengurangi
takut
c. Mendengarkan dengan perhatian
d. Mengintruksikan pasien menggunakan tekhnik relaksasi

J. EVALUASI
1. Informend concent telah dilakukan ibu setuju attas tindakan yang akan
dilakukan.
2. Observasi telah dilakukan, ibu mengerti dengan keadaanya
3. Ibu mengerti dan bersedia memenuhi kebutuhan nutrisinya dan
mengkonsumsi makanan bergizi
4. Ibu bersedia untuk beristirahat yang cukup
5. Ibu bersedia untuk menjaga kebersihan diri
6. Ibu mengerti cara menyusui yang benar
7. Kolaborasi dan pemberian terapi telah dilakukan
8. Pendokumentasian telah dilakukan
DAFTAR PUSTAKA

Ichemi,Sukarni. Buku Ajar Keperawatan Maternitas (2013). Numed. Jakarta.

Mochtar, R (2005). Sinopsis Obstetri, Obstetri Operatif, Obstetri Sosial. EGC.


Jakarta.

NANDA (2015). Nursing Diagnosis : Definitions and classification. Jakarta.


EGC.

Syafrullah, S.C, Zulkarnaen. Lisiswati, R. (2016). Preeklamsia Berat dengan


parsial Help Sindrom. Lampung. Fakultas Kedokteran.

Susanto, T. R. I, dkk (2017). Asuhan keperawatan preeklamsi pada maternitas


Lembar Konsul
Nama Mahasiswa :
Judul :
No Hari/tanggal Materi TTD
LEMBAR PENGESAHAN

Mengetahui

Pembimbing Akademik Pembimbing Klinik

(.................................) (................................)

Batulicin, Januari 2020


Mahasiswa

(......................................)