Anda di halaman 1dari 4

SINTESIS BIOLOGAM, METODE DAN APLIKASI BIOPOLIMER

Eufrat Erardi1,
1
Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia

*epho.erardi@gmail.com

Keywords: Metallic glass, High Pulsed Laser Desposition, Extracellular polysaccharide, Tissue
Engineering, Vascularized skeletal muscle

A. Pendahuluan
Sekarang ini semakin banyak biomaterial yang digunakan untuk kebutuhan kehidupan, salah
satunya adalah biomaterial yang digunakan dalam bidang medis/kesehatan. Pada topik pertama yaitu
mengenai “Synthesis of Ti-based metallic glass thin film in high vacuum pressure on 316 L stainless
steel” membahas mengenai sifat dan struktur kaca metalik, aplikasi kaca metalik, biofilm, dan
mengembangkan lapisan bebas nickel pada suatu sistem Ti-Cu-Si-Zr-Hf dengan menggunakan metode
PLD dan BMG-deficient sebagai target dan variabel tekanan tinggi vakum untuk implant tulang. Pada
topik kedua yaitu mengenai biopolimer yang mempunyai judul “Biopolymer of Dictyosphaerium
chlorelloides – chemical characterization and biological effects” dimana jurnal ini membahas metode
analisis menginduksi immunostimulasi sitokin pro-inflamasi. Pada topik ketiga yaitu mengenai
“Engineering functional and histological regeneration of vascularized skeletal muscle” membahas
cara kerja, aplikasi dan perkembangan scaffold, hubungan antara ECM dan scaffold.

B. Isi
Biofilm adalah kumpulan sel mikroorganisme, khususnya bakteri, yang melekat disuatu permukaan
dan diselimuti oleh pelekat karbohidrat yang dikeluarkan oleh bakteri. Proses pada biofilm adalah
deposisi atau desublimasi adalah proses pengkristalan yang disebabkan oleh mengeras atau
membekunya suatu benda yang mengandung zat-zat tertentu yang dapat memberikan warna saat
mengeras sehingga terlihat seperti kristal. Sintesis yang pertama menggunakan metode High Pulsed
Laser Desposition.

Gambar 1 High Pulsed Laser Desposition. [9]


Pertama-tama pengaturan tekanan vakum dipertahankan pada tekanan tinggi (<133.32 x 10-7) dan
rendah (> 133.32 x 10-3). Kemudian sumber laser diatur dengan panjang gelombang 532 nm. Memiliki
lebar pulse 140 ns dan frekuensi 1.9 kHz. Diarahkan sudut laser ke target sebesar 45° dan jarak target
ke substrat 4 cm. Diatur kecepatan rotasi hingga mencapai target 500-3000 rpm, mempunyai iradiasi
sebesar 0.9 x 107 W/cm2. Waktu yang diperlukan untuk desposisi selama 15 menit. Kemudian hasil
deposisi diolah dengan film yang mempunyai ketebalan 300 nm pada substrat. Selanjutnya substrat
sampel dipanaskan pada suhu 1100°C selama 1 jam dan dipoles. Hasil film yang dihasilkan kemudian
dikupas dari permukaan substrat untuk melakukan uji karakterisasi.
Metode kedua adalah X-ray Diffraction dimana metode analitik ini untuk identifikasi fase material
kristalin. Metode ketiga adalah Field Emission Scanning Electron Microscopy yaitu memberikan
informasi topografis dan elemental pada pembesaran 10x sampai 300.000x. Metode keempat
Deferential Scanning Calorimetry Technique adalah teknik untuk menganalisis sifat-sifat termal dari
material dan hasilnya ditentukan dengan membandingkan perbedaan suhu antara referensi dan sampel.
Hasilnya meliputi struktur film (jumlah zr-hf ini mempengaruhi secara langsung pada hamburan
acak dan atom), morfologi dan mikrostruktur film (film yang disimpan terdiri dari kristal dan struktur
amorf), analisis termal film (untuk memperoleh amorfitas maksimum dalam film), dan observasi TEM
(terjadi amorfisasi atau mengubah sifat fisikokimia).

Gambar 2 DSC scans of deposited Ti-based MG films on 316 L SS [9]


Biopolimer diperoleh dari polimerisasi bahan baku bio dengan rekayasa proses industri. Biopolimer
dari Dictyosphaerium chlorelloides memproduksi biopolimer ekstraseluler dan termasuk dalam famili
Chlorellaceae. Metode analisisnya menggunakan Flow Cytometric Assay dan Cell Cultures and Skin
Model. Flow Cytometric Analysis adalah teknik untuk menghitung dan menganalisa suatu partikel
mikroskopis, seperti sel dan kromosom, dengan menyimpannya dalam bentuk suspensi kemudian
dialirkan dalam suatu aliran cairan dan melewatkannya melalui suatu alat pendeteksi elektronik.

Gambar 3 Flow Cytometric Assay [5]


Prinsip dasarnya menggunakan sumber sinar (sinar laser) dipancarkan ke aliran cairan. Detektor
diletakan di suatu titik yang dilewati aliran cairan. Salah satunya berada sejajar dengan pancaran sinar
(forward scatter atau fsc) dan beberapa berada berseberangan dengan aliran cairan (side scatter atau
ssc). Kombinasi antar sinar ditangkap oleh detektor yang akan mengalisis fluktuasi intensitas cahaya
di setiap detektor. Detektor membaca informasi mengenai struktur fisika dan kimia tiap partikel. FSC
menggambarkan volume atau ukuran sel sedangkan SSC menggambarkan morfologi dan komponen
sel (bentuk nucleus, jumlah dan tipe sitoplasma granulosa, dan kekasaran membran).
Metode pertama yang digunakan Neutrophil Function Analysis adalah pengujian yang dilakukan
dengan cara uji fagositosis partikel bakteri dan uji aktivitas phagocyte oxidative burst menggunakan
flow cytometry. Metode kedua Phagocytosis and Oxidative Burst Test yaitu pengukuran fungsi
fagositas dan oxidative burst secara simultan dilakukan dengan menggunakan darah yang diinkubasi
dengan kuman Stafilococcus aureus atau E. coli yang telah diberi label fluorescein FITC selama waktu
tertentu untuk menganalisis proporsi sel berisi bakteri. Metode ketiga viability assay dengan cara
menguji aktivitas mekanik, motilitas,kontraksi, aktivitas mitosis.
Hasil yang diperoleh dari Phagocytosis Activity Analysis bahwa penambahan biopolimer Dch pada
makrofag RAW 264.7 selama 24 jam tidak menunjukkan pengurangan aktivitas fagositosis yang
signifikan. Aktivitas fagositosis makrofag dengan penambahan biopolimer Dch selama 48 jam lebih
tinggi dibanding Con A. Hasil yang diperoleh Respiratory Burst Analysis bahwa makrofag RAW 264.7
tidak dipengaruhi oleh penambahan biopolimer Dch.
Aplikasi dari biopolimer salah satunya adalah scaffold. Scaffold adalah sel yang sering ditanamkan
dalam sebuah struktur buatan yang mampu menyangga bentuk jaringan tiga-dimensi yang memiliki
tingkat porositas tinggi, memiliki ukuran pori untuk memungkinkan difusi nutrisi dan sel, dan mudah
diurai. Fungsi umum Scaffold adalah menyediakan lingkungan untuk pembentukkan ulang dan
memberi sifat struktural dan mekanis.
Karakteristik yang tidak kalah penting adalah degradasi. Biomaterial hanya digunakan untuk
pengganti sementara, oleh karena itu membutuhkan karakteristik dapat terbiodegradasi supaya tidak
perlu operasi pengangkatan biomaterial itu jika otot sudah kembali sembuh. Biomaterial harus
bertahan cukup lama untuk memungkinkan pembentukan jaringan (otot) baru.

Tabel 1 Biomaterial untuk scaffold [7]

Volumetric Muscle Loss adalah kehilangan otot volumetrik (VML) adalah kehilangan otot rangka
traumatic atau bedah dengan gangguan fungsional yang dihasilkan. Terjadi pada usia 65-80 tahun,
lebih sering pada 75 tahun. Muscle Tissue Engineering adalah otot rekayasa jaringan adalah bagian
dari bidang umum rekayasa jaringan yang mempelajari penggunaan gabungan sel dan perancang untuk
merancang implan jaringan terapeutik. Ion-ion terapeutik seperti Li+, Sr2+, Mg2+, Cu2+, Fe3+, Ga3+, dan
Zr4+ memberikan hasil positif untuk osteogenesis (pembentukan tulang). Beberapa ion juga
memberikan hasil yang positif untuk mengobati cementogenesis, angiogenesis, dan sebagai
antibakterial.
Small intestinal submucosa (SIS) adalah bahan SIS diperoleh dari usus dengan cara yang
menghilangkan semua sel, tetapi meninggalkan sifat alami berserat dan berpori dari matriks yang utuh.
Pemrosesan hati-hati meninggalkan ECM kompleks yang tersedia untuk pertumbuhan sel baru.
Urinary bladder matrix (UBM) adalah produk ACell sering digunakan dalam penyembuhan luka
lambat yang kompleks atau prosedur bedah di mana perawatan terapi regeneratif kompetitif yang
terkemuka belum efektif. Jadi, biomaterial sangat berguna dalam bidang medis dan dapat digunakan
untuk menyembuhkan penyakit atau membantu pemulihan jaringan. Fungsi-fungsi itu tergantung
dengan sifat dan karakteristiknya. Namun, baik biomaterial polimer untuk drug release masih dalam
pengembangan dan diperlukan penelitian lebih lanjut untuk dapat diterapkan di tubuh manusia.

C. Kesimpulan
1. Struktur film sangat dipengaruhi oleh kandungan zirkonium di mana jari-jari atomik tinggi Zr
dan Hf membentuk penghalang untuk pembentukan struktur kristal.
2. Pada tekanan rendah, film yang diendapkan mengandung lebih banyak puing yang dapat
menurunkan resistivitas aus. Pada tekanan yang lebih tinggi tingkat deposisi dan ablasi
meningkat.
3. Fase amorf dan ukuran kecil zat yang terdeposit adalah hasil pembekuan cepat dari partikel
yang terabrasi.
4. Dch terbentuk dari karbohidrat dan protein dengan berat molekul tinggi.
5. Biopolimer menunjukkan sedikit sitotoksisitas pada sel melanoma dan non-kanker.
6. Tidak menyebabkan perubahan struktural dan morfologis pada jaringan (topikal).
7. Menginduksi immunostimulasi sitokin pro-inflamasi dan menunjukkan aktifitas antikanker.
8. Jaringan otot rangka memiliki karakteristik metabolik yang tinggi, struktur yang terdefinisi
dan potensi regeneratif yang tinggi. Dengan demikian, hal ini merupakan platform yang
menarik sebagai rekayasa jaringan untuk mengatasi cacat volumetrik.
9. Mengingat karakteristik unik dari jaringan otot skeletal, konstruksi SMTE (skeletal muscle
tissue engineering) yang relevan secara klinis akan memerlukan teknik yang ditujukan untuk
pengembangan struktur fungsional skala besar dalam tiga dimensi.
10. Scaffold berfungsi secara fungsional dengan struktur vaskular yang mendukung kebutuhan
metabolik mereka.
Daftar Pustaka
[1] Baiguera, Silvia, Luca Urbani dan Costantino Del Gaudio. “Tissue Engineered Scaffolds for an Effective
Healing and Regeneration: Reviewing Orthopic Studies”. Biomed Research International. 2014.
[2] Chan, B. P. dan K.W. Leong. “Scaffolding in tissue engineering: general approaches and tissue-specific
considerations”. European Spine Journal. Dec; 17(Suppl 4): 467-479. 2008.
[3] Dhandaythapani, Brahatheeswaran et al. “Polymeric Scaffolds in Tissue Engineering Application: A Review”.
International Journal of Polymer Science. 2011.
[4] Frantz, Christian, Kathleen M. Stewart dan Valerie M. Weaver. “The extracellular matrix at a glance”. Journal
of Cell Science. Dec 15; 123(24): 4195-4200. 2010.
[5] Halaj, Michal, et al. International Journal of Biological Macromolecules.”Biopolymer of Dictyosphaerium
chlorelloides – chemical characterization and biological effects”. 113 p. 1248-1257. 2018.
[6] Howard, Daniel et al. “Tissue engineering: strategies, stem cells and scaffolds”. Journal of Anatomy. Jul;
213(1): 66-72. 2008.
[7] Jordana, Gilbert Honick, et al. “Engineering functional and histological regeneration of vascularized skeletal
muscle”. Volume 142. 2018.
[8] O’Brien, Fergal J. “Biomaterials and scaffolds for tissue engineering”. Materialstoday. Volume 14, Issue 3.
March; 88-95. 2011.
[9] Sarafbidabad, M. “Synthesis of Ti-based metallic glass thin film in high vacuum pressure on
316 L stainless steel”, Thin Solid Films [Electronic], vol 574, pp. 189–195. 2014.
[10] Schenck, T-L., Hopfner, U., Chávez, M-N., Machens, H-G., Somlai-Schweiger, I., Giunta, R-E., Bohne,
A-V., Nickelsen, J., Allende, M-L., Egaña, J., Photosynthetic Biomaterials: A Pathway Towards
Autotrophic Tissue Engineering, Acta Biomaterialia. 2018.
[11] Stratton, Scott et al. “Bioactive polymeric scaffolds for tissue engineering”. Bioactive Materials. Volume 1,
Issue 2, Dec; 93-108. 2016.