Anda di halaman 1dari 5

Nama : Endah Korina Awaliyah

NIM : 1715301008
Prodi : DIV kebidanan

DESENTRALISASI/OTONOMI DAERAH DALAM KESEHATAN

BAB I PENDAHULUAN

Latar belakang

Otonomi daerah merupakan momentum yang sangat penting bagi pemerintah daerah
untuk menajamkan skala prioritas pembangunan, termasuk pembangunan sektor kesehatan.
Pembangunan sektor kesehatan dipandang cukup strategis dalam mewujudkan kualitas
sumberdaya manusia. Oleh karena itu, pembangunan kesehatan hendaknya dipandang secara
holistik, artinya pembangunan kesehatan tidak dapat dipisahkan dari pembangunan ekonomi,
sosial dan politik. Sementara itu, dari berbagai kalangan, pembangunan kesehatan masih
dipahami sebagai permasalahan teknis yang hanya melibatkan para dokter, perawat, dan tenaga
paramedis lainnya. Pembangunan kesehatan seakan-akan telah dianggap mampu melakukan
perubahan secara otomatis untuk merespon dinamika sosial dan politik yang berkembang pada
saat ini. Ini dimaksudkan untuk memahami dampak otonomi daerah dan desentralisasi kesehatan
terhadap kualitas pelayanan kesehatan dan aksesibilitas masyarakat dalam memanfaatkan
fasilitas pelayanan kesehatan. Desentralisasi dapat didefinisikan sebagai pemindahan
kewenangan dalarn perencanaan dan pelaksanaan pemerintahan, manajemen dan pengambilan
keputusan dari tingkat nasional ke tingkat daerah atau secara lebih umum adalah pemindahan
dari tingkat pemerintahan yang tinggi ketingkat yang lebih rendah. Desentralisasi kesehatan
mempunyai berbagai rencana bentuk yang tidak hanya bergantung pada struktur politik
pernerintahan dan administrasi tetapi juga pada pola organisasi pelayanan kesehatan yang
terdapat di masing-masing negara. Bidang kesehatan merupakan satu dari berbagai fungsi
pemerintahan sehingga sangat dipengaruhi struktur pemerintahan. Akibatnya maka kebijakan
yang dikeluarkan pemerintah akan berkaitan dengan sektor kesehatan.

Tujuan

Pembuatan paper ini adalah bertujuan untuk mengetahui dan menjelaskan mengenai
desentralisasi / otonomi daerah dalam kesehatan.
Nama : Endah Korina Awaliyah
NIM : 1715301008
Prodi : DIV kebidanan

BAB II PEMBAHASAN

Pembangunan kesehatan sebagai salah satu upaya dalam pembangunan nasional yang
telah diserahkan kepada pemerintah pusat ke pemerintah daerah agar tercapai kesadaran dan
kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap masyarakat agar dapat mewujudkan kesehatan
masyarakat yang optimal. Penyelenggaraan pembangunan kesehatan meliputi upaya kesehatan
dan sumber dayanya harus dilakukan secara terpadu dan berkesinambungan guna mencapai hasil
yang optimal dan juga ada kerja sama yang berkesinambungan antara pemerintah dan
masyarakat. Pelayanan dasar bidang kesehatan merupakan hak konstitusional bagi semua warga
negara yang diakui oleh UUD dan diatur lebih lanjut dalam Undang-Undang Nomor 23 tahun
1992 tentang Kesehatan. Sehubungan dengan hal itu maka menjadi kewajiban pemerintah dalam
fungsinya sebagai provider atau penyedia jasa pelayanan kesehatan dan fungsi regulasi untuk
menyelenggarakannya bagi semua warga negara. Dengan demikian daerah otonom pun
seringkali menghadapi berbagai keterbatasan sumber daya dan sumber dana yang tidak dapat
diatasinya sendiri. Sehubungan dengan hal itu Pasal 16 ayat (1) Undang-Undang Nomor 32
tahun 2004 menentukan bahwa hubungan dalam bidang pelayanan umum antara pemerintah dan
pemerintahan daerah meliputi: a. kewenangan, tanggung jawab dan penentuan standar pelayanan
minimal; b. pengalokasian pendanaan pelayanan umum yang menjadi kewenangan daerah; c.
fasilitasi pelaksanaan kerjasama antar pemerintahan daerah dalam penyelenggaraan pelayanan
umum. Ketentuan ini memberikan jaminan terhadap kepastian akan pelayanan kesehatan yang
minimal serta ketersediaan sumber daya kesehatan dalam melakukan pelayanan. Permasalahan
yang paling mendasar dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan adalah keterbatasan dan
ketidakmerataan sumber daya kesehatan. Sumber daya kesehatan yang dimaksud adalah semua
perangkat keras dan perangkat lunak yang diperlukan sebagai pendukung penyelenggaraan upaya
kesehatan, yang meliputi tenaga kesehatan, sarana kesehatan, perbekalan kesehatan, pembiayaan
kesehatan, pengelolaan kesehatan, penelitian dan pengembangan kesehatan. Kewenangan
pemerintah kabupaten/kota di bidang kesehatan, meliputi: penetapan standar nilai gizi dan
pedoman sertifikasi teknologi kesehatan dan gizi, penetapan pedoman pembiayaan pelayanan
kesehatan, penetapan standar akreditasi sarana dan prasarana kesehatan, penetapan pedoman
standar pendidikan dan pendayagunaan tenaga kesehatan, penetapan pedoman penggunaan,
konservasi, pengembangan dan pengawasan tanaman obat, penetapan pedoman penapisan,
Nama : Endah Korina Awaliyah
NIM : 1715301008
Prodi : DIV kebidanan

pengembangan, dan penerapan teknologi kesehatan, dan standar etika penelitian kesehatan,
pemberian izin dan pengawasan peredaran obat serta pengawasan industri farmasi, penetapan
persyaratan penggunaan bahan tambahan (zat aditif) tertentu untuk makanan dan penetapan
pedoman pengawasan peredaran makanan, penetapan kebijakan sistem jaminan pemeliharaan
kesehatan masyarakat, survailans epidemilogi serta pengaturan pemberantasan dan
penanggulangan wabah, penyakit menular dan kejadian luar biasa, dan penyediaan obat esensial
tertentu dan obat untuk pelayanan kesehatan dasar sangat esensial (buffer stock nasional). Dalam
urusan kesehatan, pemerintah pusat telah melimpahkan wewenangnya kepada pemerintah daerah
sesuai dengan Undang-Undang Nomer 32 tahun 2004 pasal 14 ayat (1) huruf e tentang Otonomi
Daerah yang menyatakan bahwa dalam penanganan bidang kesehatan merupakan urusan wajib
yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah untuk kabupaten/kota merupakan urusan yang
berskala kabupaten/kota, yang dapat bertanggung jawab dengan bertujuan untuk dapat
mensejahterakan masyarakat. Dalam menjalani penyelenggaraan urusan kesehatan peran serta
masyarakat sangat penting dan diperlukan agar dapat melakukan fungsi dan tanggung jawab
sosialnya kepada pemerintah daerah semua itu perlu diarahkan, dibina dan dikembangkan. Peran
pemerintah daerah lebih kepada pembinaan, pengaturan dan pengawasan dari kegiatan
masyarakat agar tercapainya pemerataan pelayanan kesehatan dan tercapainya kondisi yang
serasi dan seimbang antara pemerintah dan masyarakat. Kewajiban negara/pemerintah dalam
rangka realisasi hak atas derajat kesehatan yang optimal sangat jelas dipengaruhi oleh isu
desentralisasi/otonomi daerah: Untuk keberhasilan pembangunan kesehatan, penyelenggaraan
berbagai upaya kesehatan harus berangkat dari masalah dan potensi spesifik masing-masing
daerah. Dalam UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Ada empat konsep
fundamental dalam UU No. 32 Tahun 2004. Konsep-konsep itu antara lain: otonomi daerah,
desentralisasi, dekonsentrasi dan tugas pembantuan.

a. Otonomi daerah adalah hak, wewenang dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan
mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan
peraturan perundang undangan (Pasal 1 angka 5).

b. Desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah kepada daerah


otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam Sistem Negara Kesatuan
Republik Indonesia (Pasal 1 angka 7).
Nama : Endah Korina Awaliyah
NIM : 1715301008
Prodi : DIV kebidanan

c. Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang pemerintah oleh Pemerintah kepada Gubernur


sebagai Wakil pemerintah dan/atau kepada instansi vertikal di wilayah tertentu (Pasal 1 angka 8).

d. Tugas Pembantuan adalah penugasan dari Pemerintah kepada daerah dan/atau desa serta dari
pemerintah provinsi kepada kabupaten/kota dan/atau desa serta dari pemerintah kabupaten/kota
kepada desa untuk melaksanakan tugas tertentu (Pasal 1 angka 9).

Masalah kesehatan dalam perspektif hubungan antara pemerintah pusat dan daerah tidak
dapat dipisahkan dari pola desentralisasi, dekonsentrasi dan tugas pembantuan. Mengikuti
konsep otonomi daerah, urusan pemerintahan menjadi kewenangan pemerintah daerah dapat
diselenggarakan berdasarkan otonomi seluas-luasnya untuk mengatur dan mengurus sendiri
urusan pemerintahan berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan (Pasal 10 ayat 2). Konsep
otonomi seluas-luasnya ini contradictio in terminis dengan konsep bahwa otonomi itu sendiri
harus berada dalam kerangka prinsip negara kesatuan. Hak daerah dalam menyelenggarakan
otonomi meliputi: mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahannya; memilih pimpinan
daerah; mengelola aparatur daerah; mengelola kekayaan daerah; memungut pajak daerah dan
restribusi daerah; mendapatkan bagi hasil dari pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya
lainnya yang berada di daerah; mendapatkan sumber-sumber pendapatan lainnya yang sah;
mendapatkan hak lainnya yang diatur dalam peraturan perundang-undangan (Pasal 21).
Kewajiban daerah dalam menyelenggarakan otonomi yaitu: melindungi masyarakat, menjaga
persatuan, kesatuan dan kerukunan nasional, serta keutuhan Negara Kesatuan Republik
Indonesia; meningkatkan kualitas kehidupan masyrarakat; mengembangkan kehidupan
demokrasi; mewujudkan keadilan dan pemerataan; meningkatkan pelayanan dasar pendidikan;
menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan; menyediakan fasilitas sosial dan fasilitas umum yang
layak; mengembangkan sistem jaminan sosial; menyusun perencanaan dan tata ruang daerah;
mengembangkan sumber daya produktif di daerah; melestarikan lingkungan hidup; mengeloala
administrasi kependudukan; melestarikan nilai sosial budaya; membentuk dan menerapkan
peraturan perundang-undangan sesuai dengan kewenangannya; dan kewajiban lain yang di atur
dalam peraturan perundang-undangan (Pasal 22). Tugas pengurusan dalam rangka realisasi hak
atas derajat kesehatan yang optimal sudah tercakup dalam kewajiban daerah dalam rangka
penyelenggaraan otonomi; menyediakan fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak serta
mengembangkan sistem jaminan sosial.
Nama : Endah Korina Awaliyah
NIM : 1715301008
Prodi : DIV kebidanan

BAB III PENUTUP

Kesimpulan

Sektor kesehatan yang efisien dan akan menghasilkan sumber daya yang berkualitas,
dengan kesehatan yang baik akan meningkatkan kesempatan bagi individu untuk menghasilkan
pendapatan, kemampuannya untuk merawat keluarga dan meningkatkan pertisipasinya dalam
aktivitas komunitas. Tingginya tingkat efisiensi sektor kesehatan masing-masing daerah di
Provinsi, bukan berarti pemerintah harus puas, pemerintah tetap meningkatkan kinerjanya
melalui peningkatan program kesehatan yang berhubungan secara langsung dengan kondisi
kesehatan masyarakat. Pemerintah juga bisa lebih memberdayakan fungsi dari fasilitas kesehatan
yang sudah ada agar semakin meningkatkan perannya dan meningkatkan pelayanan agar bisa
dijangkau seluruh lapisan masyarakat. Peningkatan status kesehatan tidak hanya dapat dilakukan
oleh pemerintah tetapi juga dibutuhkan peran serta warganya dengan cara meningkatkan
kesadaran warga atas pentingnya kesehatan.