Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN

BRONCHOPNEUMONIA

Oleh :

DESSY NUR PATIMAH


214119092

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


STIKES JENDERAL ACHMAD YANI CIMAHI
2020
A. DEFINISI

Bronchopneumonia adalah suatu infeksi saluran pernafasan akut bagian bawah


dari parenkim paru yang melibatkan bronkus / bronkiolus yang berupa distribusi
berbentuk bercak-bercak yang disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti
bakteri, virus, jamur dan benda asing. (Price Sylvia A, 2005)
Bronchopneumonia adalah peradangan yang mengenai parenkhim paru distal dari
bronchiolus terminalis yang mencakup bronchiolus respiratorius dan alveoli serta
menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan gangguan pertukaran gas setempat.
(Tjokronegoro, 2001)
Bronchopneumonia adalah suatu infeksi akut pada paru – paru yang secara
anatomi mengenai bagian lobulus paru mulai dari parenkim paru sampai perbatasan
bronkus yang dapat disebabkan oleh bermacam – macam etiologi seperti bakteri,
virus, jamur dan benda asing ditandai oleh trias (sesak nafas, pernafasan cuping
hidung, sianosis sekitar hidung/mulut). (Smeltzer, Suzanne C, 2001)
Berdasarkan beberapa pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa
bronkopneumonia adalah radang paru-paru yang mengenai satu atau beberapa lobus
paru-paru yang ditandai dengan adanya bercak-bercak infiltrat yang disebabkan oleh
bakteri,virus, jamur dan benda asing.

B. ETIOLOGI

1. Bakteri
Organisme gram posifif seperti : Steptococcus pneumonia, S. aerous, dan
streptococcus pyogenesis. Bakteri gram negatif seperti Haemophilus influenza,
klebsiella pneumonia dan P. Aeruginosa.
2. Virus
Disebabkan oleh virus influensa yang menyebar melalui transmisi droplet.
Cytomegalovirus dalam hal ini dikenal sebagai penyebab utama pneumonia virus.
3. Jamur
Infeksi yang disebabkan jamur seperti histoplasmosis menyebar melalui
penghirupan udara yang mengandung spora dan biasanya ditemukan pada kotoran
burung, tanah serta kompos.
4. Protozoa
Menimbulkan terjadinya Pneumocystis carinii pneumonia (CPC). Biasanya
menjangkiti pasien yang mengalami immunosupresi. (Reeves, 2001)
5. Aspirasi benda asing
6. Faktor lain yang mempengaruhi timbulnya bronchopnemonia adalah daya tahan
tubuh yang menurun misalnya akibat malnutrisi energi protein (MEP), penyakit
menahun, pengobatan antibiotik yang tidak sempurna. (Smeltzer, Suzanne C, 2001)

C. TANDA DAN GEJALA

1. Kesulitan dan sakit pada saat pernafasan


a. Nyeri pleuritik
b. Nafas dangkal dan mendengkur
c. Takipnea
2. Bunyi nafas di atas area yang menglami konsolidasi
a. Mengecil, kemudian menjadi hilang
b. Krekels, ronki, egofoni
3. Gerakan dada tidak simetris
4. Menggigil dan demam 38,8  C sampai 41,1C, delirium
5. Diafoesis
6. Anoreksia
7. Malaise
8. Batuk kental, produktif
a. Sputum kuning kehijauan kemudian berubah menjadi kemerahan atau berkarat
9. Gelisah
10. Sianosis
a. Area sirkumoral
b. Dasar kuku kebiruan
11. Masalah-masalah psikososial : disorientasi, ansietas.

D. PATOFISIOLOGI

Bronkopneumonia merupakan infeksi sekunder yang biasanya disebabkan oleh


virus penyebab bronchopneumonia yang masuk ke saluran pernafasan sehingga
terjadi peradangan broncus dan alveolus. Inflamasi bronkus ditandai adanya
penumpukan sekret, sehingga terjadi demam, batuk produktif, ronchi positif dan mual.
Bila penyebaran kuman sudah mencapai alveolus maka komplikasi yang terjadi adalah
kolaps alveoli, fibrosis, emfisema dan atelektasis.
Kolaps alveoli akan mengakibatkan penyempitan jalan napas, sesak napas, dan
napas ronchi. Fibrosis bisa menyebabkan penurunan fungsi paru dan penurunan
produksi surfaktan sebagai pelumas yang berpungsi untuk melembabkan rongga
fleura. Emfisema (tertimbunnya cairan atau pus dalam rongga paru) adalah tindak
lanjut dari pembedahan. Atelektasis mengakibatkan peningkatan frekuensi napas,
hipoksemia, acidosis respiratori, pada klien terjadi sianosis, dispnea dan kelelahan
yang akan mengakibatkan terjadinya gagal napas. (Smeltzer, Suzanne C, 2001)
Pathway Bronchopneumonia (Smeltzer, Suzanne C, 2001)

Pederita sakit berat yang Jamur, virus, bakteri, protozoa


dirawat di RS
Penderita dengan supresi
sistem kekebalan tubuh
Kontaminasi peralatan RS
Saluran napas bagian bawah

Peningkatan produksi Bronchiolus


Stimulasi chemoreseptor
secret
hipotalamus

Alveolus
Akumulasi secret
Set point bertambah
Reaksi peradangan pada
Obstruksi jalan napas bronchus dan alveolus

Fibrosus dan
pelebaran Respon menggigil
Gangguan ventilasi Rangsangan batuk

Atelektasis Reaksi
peningkatan
Bersihan jalan panas tubuh
nafas tidak efektif Nyeri pleuritik
Gangguan
difusi

Gangguan rasa Hipertermi


Peningkatan nyaman nyeri Gangguan
frekuensi pertukaran
napas gas
Evaporasi
meningkat
O2 kejaringan
Perangsangan RAS Resiko penyebaran
menurun Cairan tubuh
infeksi
berkurang

Susah tidur Distensi abdomen Kelemahan


Defisit volume
cairan
Muntah, anoreksia Intoleransi
Perubahan pola tidur
aktifitas
Ancaman kehidupan
Metabolisme Kompensasi
meningkat cadangan lemak
digunakan tubuh
Ansietas (orang tua)
Nutrisi kurang
dari kebutuhan
Gangguan tumbang Penurunan status gizi
E. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Menurut Ngastiah (2002), yaitu sebagai berikut :


1. Foto thorax
Pada foto thorax Bronchopneumonia terdapat bercak-bercak infiltrat pada satu atau
beberapa lobus. Jika pada pneumonia lobaris terlihat adanya konsolidasi pada satu
atau beberapa lobus.
2. Laboratorium
a. Terjadi leukositosis pada pneumonia bacterial
b. Nilai analisa gas darah : untuk mengetahui status kardiopulmoner yang
berhubungan dengan oksigenasi
c. Hitung darah lengkap dan hitung jenis: digunakan untuk menetapkan adanya
anemia, infeksi dan proses inflamasi
d. Pewarnaan gram : untuk seleksi awal anti mikroba
e. Kultur darah spesimen darah untuk menetapkan agen penyebab seperti virus
3. Tes kulit untuk tuberkulin : untuk mengesampingkan kemungkinan terjadi
tuberkulosis jika anak tidak berespon terhadap pengobatan
4. Tes fungsi paru : digunakan untuk mengevaluasi fungsi paru, menetapkan luas dan
beratnya penyakit dan membantu memperbaiki keadaan.
5. Spirometri statik digunakan untuk mengkaji jumlah udara yang diinspirasi

F. PENATALAKSANAAN

Menurut Ngastiyah (2002), Pengobatan diberikan berdasarkan etiologi dan uji


resistensi, tetapi karena hal itu perlu waktu, dan pasien perlu therapy secepatnya maka
biasanya diberikan :
1. Penisillin 50.000 U/ kgbb/hari, ditambah dengan chloramfenicol 50-70 mg/kgbb/hari
atau diberkan antibiotic yang mempunyai spectrum luas seperti Ampicillin,
pengobatan ini diteruskan sampai bebas demam 4-5 hari
2. Pemberian oksigen, fisioterafi dada dan cairan intravena biasanya diperlukan
campuran glucose dan NaCl 0,9% dalam perbandingan 3 : 1 ditambah larutan KCl
10 mEq / 500 ml/ botol infus.
3. Karena sebagian besar pasien jatuh kedalam asidosis metabolic akibat kurang
makan dan hipoksia, maka dapat diberikan koreksi sesuai dengan hasil analisis gas
darah arteri.
G. KOMPLIKASI

Menurut Ngastiyah (2002), bronchopneumonia pada anak bila tidak ditangani


dengan baik akan mengakibatkan komplikasi sebagai berikut :
1. Atelektasis adalah pengembangan paru-paru yang tidak sempurna
atau kolaps paru merupakan akibat kurangnya mobilisasi atau refleks batuk hilang.
2. Empisema adalah suatu keadaan dimana terkumpulnya nanah
dalam rongga pleura terdapat di satu tempat atau seluruh rongga pleura.
3. Otitis Media Acute
4. Infeksi sitemik
5. Meningitis yaitu infeksi yang menyerang selaput otak.

H. ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian
a. Identitas
1) Data umum meliputi : ruang rawat, kamar, tanggal masuk, tanggal pengkajian,
diagnosa medis, perawat yang mengkaji, nomor medical record.
2) Identitas klien dan keluarga klien meliputi : nama, umur, tanggal lahir, jenis
kelamin, agama, suku bangsa dan alamat.
3) Ayah meliputi : nama, umur, agama, pendidikan, pekerjaan, dan alamat
4) Ibu meliputi : nama, umur, agama, pendidikan, pekerjaan, dan alamat saudara
kandung meliputi: umur, jenis kelamin dan pendidikan
b. Riwayat Kesehatan
1) Keluhan Utama
Keluhan utama penyebab klien sampai dibawa ke rumah sakit.
2) Riwayat Kesehatan Sekarang
a) Provocative, yaitu penyebab/hal-hal yang mendahului sebelum terjadi
keluhan utama. Pada pasien bronchopneumonia biasanya didahului oleh
infeksi traktus respiratorius atas.
b) Qualitas/quantitas, yaitu seberapa berat keluhan dirasakan, bagaimana
rasanya seberapa sering terjadinya. Pada pasien bronchopnemonia
keluhan yang dirasakan yaitu sesak nafas, dan demam tinggi sampai
kejang.
c) Region/radiasi, yaitu lokasi keluhan utama tersebut dirasakan/ditemukan,
daerah/area penyebaran sampai kemana. Pada pasien bronchopnemonia
biasanya sesak dirasakan pada seluruh daerah dada.
d) Severity scale, yaitu skala keperawatan/tingkat kegawatan sampai
seberapa jauh. Pada pasien bronchopnemonia biasanya sesak dirasakan
sangat berat diikuti oleh demam tinggi dan kejang sampai terjadi
penurunan kesadaran.
e) Timing, yaitu kapan keluhan tersebut mulai ditemukan/dirasakan pada
pasien bronchopnemonia keluhan dirasakan berat pada saat malam hari
dan aktifitas yang berlebihan. (Carpenito, 2008)
3) Riwayat Kesehatan Masa Lalu
Meliputi penyakit yang pernah dialami (apa kapan dirawat/tidak dimana,
reaksi anak), pernah dirawat (dimana, kapan, berapa lama, bagaimana reaksi
anak), pengobatan yang pernah diberikan (jenis, berapa lama, dosis),
tindakan medis (operasi, vena pungtie dan lain-lain) alergi atau tidak. Adanya
riwayat infeksi saluran pernapasan sebelumnya : batuk, pilek, demam,
anorexia, sukar menelan, mual dan muntah. Riwayat penyakit yang
berhubungan dengan imunitas seperti malnutrisi, anggota keluarga lain yang
mengalami sakit saluran pernapasan.
4) Riwayat Kesehatan Keluarga
Meliputi keluarga inti, ayah, ibu, nenek, kakek, parnan, bibi dan lain- lain,
penyakit yang pernah diderita/masih diderita penyakit menular, penyakit
keturunan dan lain-lain.
5) Riwayat Kehamilan
a) Pre Natal
Meliputi penyakit ibu selama hamil, perdarahan, makanan pantangan,
pemeriksaan kehamilan.
- Trisemester I (0-12 minggu) tiap 4 minggu (7 kali pemeriksaan)
- Trisemester II (13-24 minggu) : tiap 2 minggu (7 kali pemeriksaan)
- Trisemester III (25-36 minggu) : tiap minggu sampai bayi lahir imunisasi
TT 2 kali selama kehamilan
b) Intra Natal
Meliputi : bayi waktu lahir ditolong siapa, jenis persalinan, Apgar score,
berat badan lahir, adakah proses kelahiran yang lama, perdarahan, posisi
janin waktu lahir.
c) Post Natal
Meliputi kesehatan ibu yang buruk pada masa post natal, kesehatan bayi,
kelainan congenital, infeksi, hipo/hipertermin nutrisi (colostrums) segera
setelah lahir, menunggu asi keluar diganti pasi, pantangan makanan ibu.
6) Riwayat Tumbuh Kembang
Meliputi kejadian penting pada perkembangan masa kanak-kanak seperti
tengkurap, berjalan, imunisasi dan lain-lain.
7) Riwayat Psikologis
a) Pola interaksi, meliputi dengan orang tua, teman dan orang lain
b) Pola kognitif, meliputi kemampuan berfikir, berbahasa dan intelegensi
c) Pola emosi, meliputi bila marah, sedih, takut, gembira dan lain-lain
d) Konsep diri meliputi penilaian atau pandangan terhadap dirinya; harga diri,
bodi image, ideal diri / cita-cita hal yang terbaik, dan aktualisasi diri.
e) Pola pertahanan diri, meliputi bagaiman keluarga menghadapi masalah
yang dihadapi. (Anastasia anne, 2006)
8) Riwayat Sosial
Yang harus dikaji adalah pola kultural atau norma yang berlaku, rekreasi,
lingkungan tempat tinggal klien dan keadaan ekonomi.
9) Kebiasaan Sehari-hari
Meliputi pola nutrisi, eliminasi, istirahat, aktifitas seperti bermain dan personal
hygiene.
2. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan Umum
1) Pengukuran pertumbuhan meliputi : tinggi badan, berat badan, lingkar kepala
atas dan lingkar dada
2) Pengukuran tanda vital meliputi : tensi darah, nadi, respirasi dan suhu
3) Keadaan sistem tubuh
b. Sistem Optalmikus
1) Inspeksi : bentuk, warna konjunctiva, pupil, dan sklera
2) Palpasi : adanya oedema, massa dan peradangan.
Pada pasien bronchopneumoni biasanya ditemukan perubahan warna sklera
mata bila terjadi hipertermi.
c. Sistem Respiratorik
1) Inspeksi : observasi penampilan umum, konfigurasi thorak, kaji terhadap area
intercosta dan penggunaan otot tambahan, evaluasi kulit, bibir dan membran
mukosa, kaji kuku mengenai warnanya. Palpasi mengetahui adanya masa,
pembesaran kelenjar limfe, bengkak, nyeri, pulpasi, krepitasi dan fokal
fremitus
2) Perkusi : untuk mengetahui batas dan keadaan paru-paru
3) Auskultasi : untuk mengevaluasi bunyi nafas yang meliputi frekuensi, kualitas,
tipe dan adanya bunyi tambahan.
Pada penderita bronchopneumonia biasanya ditemukan dispneu, pernafasan
cepat dan dangkal, pernafasan cuping hidung, dan penggunaan otot-otot
tambahan, suara nafas abnormal (ronchi) dan batuk dengan produksi sputum.
d. Sistem Kardiovaskuler
1) Inspeksi : warna kulit, anggota tubuh dan membran mukosa, pelpebra anemis
atau tidak, periksa prekordium dan adanya oedema palpasi: seluruh dada
terhadap impuls apikal, getaran dan nyeri tekan, palpasi nadi dan oedema
perifer
2) Perkusi : untuk mengetahui batas jantung
3) Auskultasi : untuk mendengarkan bunyi akibat vibrasi karena kegiatan
jantung.
Pada bronchopneumonia biasanya ditemukan hipotensi, tanda-tanda sianosis
pada mulut dan hidung, nadi cepat dan lemah.
e. Sistem Gastrointestinal
1) Inspeksi : mengetahui keadaan warna, lesi / kemerahan pada abdomen dan
gerakan abdomen.
2) Auskultasi : untuk mengetahui frekuensi, nada dan intensitas bising usus yang
dihasilkan.
3) Perkusi : mengetahui adanya gelembung udara dalam saluran cerna dan
pekak hati.
4) Palpasi : untuk merasakan adanya spasme otot, nyeri tekan, masa krepitasi
subkutan dan organ abdomen.
Pada bronchopneumonia biasanya ditemukan diare, mual, muntah, penurunan
berat badan dan distensi abdomen.
f. Sistem Neurologis
1) Inspeksi:untuk mengetahui penampilan umum dan perilaku pasien
2) Perkusi : mengetahui refleks pasien.
Pada bronchopneumonia biasanya ditemukan dalam keadaan gelisah, bila suhu
terus-menerus meningkat dapat menimbulkan kejang dan penurunan kesadaran.
g. Sistem Muskuloskeletal
1) Inspeksi : mengetahui keadaan penampilan umum dan keadaan exstremitas.
2) Palpasi : mengetahui masa dan keadaan otot
3) Perkusi : untuk mengetahui adanya reflek dan kekuatan otot
4) Pada bronchopneumonia biasanya ditemukan dalam keadaan kelelahan,
tonus otot, email, penurunan kekuatan otot, dan intoleransi aktifitas.
h. Sistem Urogenetalia
1) Inspeksi : mengetahui warna, tekstur, luka memar pada kulit dan perhatikan
keadaan panggul dengan adanya mass /pembesaran.

3. Diagnosa Keperawatan Yang Sering Muncul


Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada anak dengan
bronchopneumoni menurut Wong (2003), adalah sebagai berikut :
a. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan proses inflamasi
b. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan akumulasi secret
c. Gangguan rasa nyaman : Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi
d. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan ketidak seimbangan antara suplay dan
kebutuhan oksigen
e. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan adanya organisme infasif
f. Cemas berhubungan dengan dyspneu
g. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan hospitalisasi
Selain itu menurut Suriadi (2001), diagnosa keperawatan lain yang bisa muncul
pada kasus bronchopneumoni antara lain :
a. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan meningkatnya akumulasi secret
b. Resiko tinggi perubuhan suhu tubuh : hipertermi berhubungan dengan proses
inflamasi
c. Resiko tinggi kekurangan cairan tubuh berhubungan dengan hipertermi
INTERVENSI KEPERAWATAN
Diagnosis
Tujuan Intervensi Rasional
Keperawatan

Pola napas tidak Setelah dilakukan tindakan 1. Posisikan pasien untuk 1. Memungkinkan ekspansi paru
efektif keperawatan selama .......x 24 ventilasi yang maksimum maksimum
berhubungan jam, menunjukan fungsi contoh : posisi semifowler 2. Untuk menghindari penekanan
dengan proses pernapasan normal, dengan 2. Hindari pakaian yang ketat diafragma
inflamasi kriteria : 3. Beri oksigen lembab sesuai 3. Meningkatkan reoksigenasi
ketentuan 4. Memudahkan proses penyembuhan
 Frekuensi napas 20-40
4. Tingkatkan istirahat dan tidur dan meningkatkan tahanan alamiah
x/menit (menurut Katreen
dengan penjadwalan yang
Morgan Speer (2008)
tepat
 Tidak ada penggunaan otot-
otot aksesori pernapasan
 Pernapasan teratur
 Anak istirahat dan tidur
dengan baik

Bersihan jalan Setelah dilakukan tindakan 1. Kaji frekuensi atau kedalaman 1. Tachipneu, pernapasan dangkal
napas tidak efektif keperawatan selama ......x 24 pernapasan dan gerakan dan gerakan dada sering terjadi
berhubungan jam, jalan napas bersih, dengan dada karena ketidaknyamanan
dengan akumulasi kriteria hasil : 2. Hisap secret sesuai 2. Merangsang batuk atau
secret pada kebutuhan pembersihan jalan napas secara
Bronkhiolus  Jalan napas 3. Lakukan fisioterapi dada mekanik pada pasien yang tidak
bersih 4. Auskultasi area paru catat mampu melakukan karena batuk tak
 Suara napas adanya ronchi efektif
vesikuler 5. Beri peningkatan kelembaban 3. Memudahkan pengeluaran secret
 Frekuensi napas oksigen suplemen sesuai 4. Penurunan aliran udara terjadi pada
20-40 x/menit (menurut ketentuan. area konsolidasi ronchi terjadi akibat
Katreen Morgan Speer (2008) 6. Kolaborasi untuk pemberian respon terhadap secret auskultasi

 Tidak ada therapy mukolitik (pengencer area paru catat adanya ronchi

dyspneu dahak) bila memungkinkan 5. Untuk mencegah pengerasan

 Tidak ada ronchi berikan ekspektoran atau sekresi nasal dan pengeringan
nebulizer sesuai ketentuan membrane mukosa.
6. Memudahkan pengenceran dan
pengeluaran secret

Cemas setelah dilakukan tindakan 1. Beri aktifitas pengalihan 1. Untuk mengalihkan perhatian
berhubungan perawatan selama .....x 24 jam, yang tepat sesuai kondisi anak anak
dengan dyspneu cemas hilang /berkurang, : misal membacakan cerita/ 2. Berikan obyek kedekatan missal
dengan kriteria hasil : dongeng : boneka
2. Beri tindakan kenyamanan 3. Untuk mengalihkan perhatian

yang diinginkan anak anak
tanda ketidaknyamanan fisik
3. Beri obyek kedekatan
seperti gelisah
 misal : mobil-mobilan
melakukan aktifitas seperti
biasa
 Tanda-tanda vital dalam batas
normal : TD : 86/54 mmhg, N
: 130 x/menit, R : 20-40
o o
x/menit S : 36,5 -37 C
Resiko tinggi Setelah dilakukan tindakan 1. Pantau tanda-tanda vital tiap 4 1. Untuk memantau status kesehatan
penyebaran infeksi perawatan selama .........x 24 jam sekali 2. Mencegah infeksi nasokomial
berhubungan jam, infeksi sekunder tidak 2. Dorong tehnik mencuci tangan 3. Obat ini digunakan untuk
dengan adanya terjadi, dengan kriteria hasil : yang baik membunuh mikroorganisme
organisme infeksi 3. Kolaborasi : berikan antibiotik inefektif
 Terjadi
sesuai indikasi 4. Memudahkan proses
penurunan tanda-tanda infeksi
4. Dorong keseimbangan penyembuhan
 Tanda-tanda vita normal : TD :
istirahat adekuat dengan 5. Menurunkan pemajanan terhadap
86/54 mmhg, N : 130 x/menit,
aktifitas sedang pathogen infeksi lain
R : 20-40 x/menit, S : 36,5o-
5. Batasi pengunjung sesuai
37o C
indikasi

Intoleransi aktifitas Setelah dilakukan tindakan 1. Kaji tingkat toleransi fisik anak 1. Menunjukan respon fisiologis klien
berhubungan perawatan selama .........x24 2. Bantu anak dalam aktifitas terhadap aktifitas
dengan jam, terjadi peningkatan hidup sehari-hari 2. Penghematan energi membantu
ketidakseimbangan toleransi aktifitas, dengan 3. Beri periode istirahat dan tidur menurunkan energi sehingga
antara suplay dan kriteria hasil : yang sesuai dengan usia dan membantu dalam keseimbangan
kebutuhan oksigen kondisi suplay oksigen
 Tidak ada dyspneu
4. Seimbangkan istirahat dan 3. Tehnik penghematan energi untuk
 Tanda-tanda vital dalam
tidur bila psien berambulasi menurunkan penggunaan energi
batas normal : TD : 86/54
4. Konsumsi oksigen selama aktifitas
mmhg, N : 130 x/menit, R :
dapat meningkatkan jumlah
20-40 x/menit, S : 36,5o-
oksigen yang ada
37o C

Diagnosis
Tujuan Intervensi Rasional
Keperawatan

Gangguan rasa Setelah dilakukan tindakan 1. Berikan tindakan 1. Dapat menghilangkan


nyaman : Nyeri perawatan selama .........x24 kenyamanan ketidaknyamanan
berhubungan dengan jam, nyeri hilang, dengan 2. Anjurkan aktifitas 2. Untuk mengalihkan perhatian klien
proses inflamasi kriteria hasil : pengalihan sesuai usia 3. Obat ini dapat digunakan untuk
3. Berikan analgesic sesuai meningkatkan klien

indikasi

Perubahan proses Setelah dilakukan tindakan 1. Kenali kekhawatiran dan 1. Dapat menurunkan stress
keluarga perawatan selama .........x24 kebutuhan orang tua untuk 2. Memudahkan dalam pemilihan
berhubungan dengan jam, terjadi pengurangan informasi dan dukungan intervensi
hospitalisasi anak ansietas keluarga, dengan 2. Gali perasaan dan 3. Untuk menurunkan ansietas
kriteria hasil : masalah seputar hospitalisasi yang dialami keluarga
dan penyakit anak 4. Meningkatkan kemampuan

3. Berikan informasi koping
berkurang
seputar kesehatan anak 5. Meningkatkan pemahaman

4. Berikan dukungan keluarga
mengatakan cemas
sesuai kebutuhan
berkurang
5. Anjurkan perawatan
yang berpusat pada keluarga
dan anjurkan anggota
keluarga agar terlibat dalam
perawatan.
Gangguan Setelah dilakukan tindakan 1. Kaji frekuensi, kedalaman dan 1. Manifestasi distress pernapasan
pertukaran gas perawatan selama .........x24 kemudahan bernapas
berhubungan dengan jam, gangguan pertukaran gas 2. Observasi warna kulit,
2. Sianosis kuku menunjukan
meningkatnya dapat diatasi, dengan kriteria membrane mukosa, dan kuku,
vasokontriksi atau respon tubuh
akumulasi secret hasil : catat adanya sianosis kuku
terhadap demam
3. Kaji status mental
 3. Gelisah dapat menunjukan
4. Awasi frekuensi dan irama
 hipoksemia/penurunan oksigen
jantung
serebral
5. Pertahankan istirahat tidur
4. Tachikardi ada biasanya akibat
6. Observasi penyimpanan
demam
kondisi, catat sianosis, 5. Menurunkan kebutuhan oksigen
perubahan tingkat kesadaran 6. Syok dan oedema paru adalah
dan gelisah penyebab umum kematian

Resiko tinggi Setelah dilakukan tindakan 1. Kaji perubahan t anda vital 1. Peningkatan suhu tubuh
perubahan suhu perawatan selama .........x24 contoh : peningkatan suhu meningkatkan laju metabolic
tubuh : Hipertermi jam, resiko hipertermi tidak tubuh setiap 4 jam sekali 2. Memberikan informasi
berhubungan terjadi, dengan kriteria hasil : 2. Monitor intake out put tentang keadekuatan cairan
dengan proses 3. Berikan cairan intra vena 3. Pemenuhan kebutuhan

inflamasi atau peroral cairan menurunkan resiko dehidrasi

4. Anjurkan dan berikan 4. Menyebabkan vasodilatasi
kompres hangat pembuluh darah sehingga
memudahkan penurunan suhu
tubuh melalui evaporsi
5. Kolaborasi untuk
5. Berguna untuk menurunkan
pemberian obat antipiretik
demam
sesuai indikasi

Resiko tinggi Setelah dilakukan tindakan 1. Kaji perubahan tanda- 1. Peningkatan suhu / memanjangnya
kekurangan cairan perawatan selama .........x24 tanda vital missal peningkatan demam meningkatkan laju
tubuh berhubungan jam, resiko kekurangan cairan suhu tubuh, tachicardi dan metabolik
dengan hipertermi tidak terjadi, dengan kriteria hipotensi 2. Indikator langsung keadekuatan
hasil : 2. Kaji turgor kulit, volume cairan, meskipun membrane
kelembaban membrane mukosa mulut kering karena napas

mukosa mulut dan oksigen tambahan

3. Pantau masukan dan 3. Memberikan informasi tentang

haluaran keadekuatan cairan dan kebutuhan
 Tanda-tanda vital dalam 4. Tingkatkan asupan cairan penggantian
batas normal : TD : 86/54 sedikitnya 120 ml/kg BB/hari 4. pemenuhan kebutuhan cairan
mmhg, N : 130 x/menit, menurunkan resiko dehidrasi
R : 20-40 x/menit, S :
36,5-37 C
DAFTAR PUSTAKA

Betz & Sowden. Buku Saku Keperawatan Pediatri. Edisi 3. Jakarta: EGC;2002
Doenges, Marilynn.(2000). Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, Jakata :
EGC.
Ngastiyah. Perawatan Anak Sakit. Jakarta: EGC; 1997
Nettina, Sandra M.(2001).Pedoman Praktik Keperawatan. Jakarta : EGC
Reevers, Charlene J, et all (2000). Keperawatan Medikal Bedah, Jakarta :
Salemba Medica.
Suriadi, Yuliani. Asuhan Keperawatan Pada Anak. Jakarta: CV Sagung
Seto;2001
Smeltzer, Suzanne C.(2000). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Volume I,
Jakarta : EGC
Staf Pengajar FKUI. Ilmu Kesehatan Anak, Buku Kuliah 3. Jakarta:
Infomedika;2000
Wong and Whaley. ( 1995 ). Clinical Manual of Pediatric Nursing. Philadelphia:
WB Saunders Company