Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH

INDUSTRI GARAM

ASSHIYAMI ZIKRA (1907113285)

Dosen Pengampu :

Roza Afifah, S.Pd.,M.Hum.

KELAS B

PRODI TEKNIK KIMIA

JURUSAN TEKNIK KIMIA

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS RIAU

2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Allah Swt yang telah memberikan rahmat serta
hidayah-Nya. Penulis dapat menyelesaikan tugas makalah dari Ibu Roza Afifah,
S.Pd., M.Hum., pada mata kuliah Bahasa Indonesia. Makalah ini telah penulis
susun secara maksimal dengan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga
dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu penulis menyampaikan
terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan
makalah ini.

Makalah ini memiliki banyak kekurangan. Oleh karena itu,kritik dan saran
dari semua pihak diperlukan demi kesempurnaan makalah ini. Apabila terdapat
kesalahan dalam penulisan makalah ini penulis mohon maaf. Semoga makalah ini
dapat menambah pengetahuan bagi para pembaca.

Pekanbaru, September 2019

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Garam adalah suatu bahan kimia yang penting dan murah. Pemakaiannya
terutama untuk bahan pangan dan industri. Dalam industri, garam merupakan
bahan baku untuk pembuatan bahan kimia turunannya yang dapat dipakai sebagai
bahan dasar atau bahan penolong pada industri lain. Garam merupakan salah satu
kebutuhan sebagai pelengkap dari kebutuhan pangan dan merupakan sumber
elektrolit bagi tubuh manusia.
Indonesia memiliki potensi sebagai penghasil garam dengan kualitas garam
beryodium karena Indonesia merupakan salah satu negara maritim terbesar di
dunia dengan luas laut 70 persen dari total luas wilayah Indonesia dan memiliki
garis pantai terpanjang kedua di dunia. Luas lautan yang mencapai 5,8 juta
kilometer persegi dan panjang garis pantai 95.181 km (Huda, 2013: 3). Namun,
usaha meningkatkan produksi garam belum diminati, termasuk dalam usaha
meningkatkan kualitasnya. Di lain pihak untuk kebutuhan garam dengan kualitas
baik (kandungan kalsium dan magnesium kurang) banyak diimpor dari luar
negeri, terutama dalam hal ini garam beryodium serta garam industri. Kebutuhan
garam nasional dari tahun ke tahun semakinmeningkat seiring dengan
pertambahan penduduk dan perkembangan industri di Indonesia.
Data KKP menunjukkan kebutuhan garam nasional saat ini sebanyak 4,019
juta ton yang terdiri atas 2,054 juta ton garam industri dan 1,965 juta ton garam
konsumsi. Produksi garam nasionalnya sendiri 2,553 ton garam rakyat dan 350
ribu ton garam dari PT Garam. Kualitas garamnya sebesar 30 persen kualitas
pertama untuk garam rakyat, dan kualitas garam dari PT Garam sebesar 100
persen. Harga garam sendiri relatif rendah yakni Rp 350 per kilogram (Apriando,
2015).
Permasalahan yang ada pada produksi garam rakyat saat ini adalah kurangnya
kualitas dan kuantitas terhadap kebutuhan garam nasional seiring dengan
bertambahnya penduduk dan pesatnya perkembangan industri terhadap kebutuhan
garam, ada beberapa permasalahan pokok yang perlu diselesaikan secara bersama
oleh instansi yang terkait dengan produksi garam nasional, adapun permasalahan
tersebut diantaranya adalah tentang teknologi dan teknis produksi. Petani garam
dalam proses pembuatan garam menggunakan cara yang sangat sederhana yaitu
menguapkan air laut didalam petak penggaraman dengan tenaga sinar matahari
tanpa sentuhan teknologi apapun, sehingga walaupun bahan baku melimpah
namun salinitas dan polutan yang terlarut sangat beragam. Padahal kategori garam
yang baik sekali berkisar jika mengandung kadar NaCl >95%, baik kadar NaCl 90
– 95%, dan sedang kadar NaCl antara 80 – 90% tetapi yang diutamakan adalah
yang kandungan garamnya di atas 95%. Sistem penggaraman rakyat sampai saat
ini menggunakan kristalisasi total sehingga produktifitas dan kualitasnya masih
kurang atau pada umumnya kadar NaClnya kurang dari 90% dan banyak
mengandung pengotor.
Kualitas produk tidak seragam dengan kandungan zat pencemar yang tinggi.
Sehingga untuk peningkatan kualitas atau pemurnian kristal garam melalui
pencucian menyebabkan naiknya biaya, oleh Karena itu garam rakyat cenderung
dijual dengan kualitas seadanya. Sebagai perbandingan garam konsumsi produksi
PT. Garam mengandung NaCl 95 % – 97 %, sedangkan garam rakyat
mengandung NaCl lebih kecil dari 95%. (BPPP TEGAL: 2015). Hal ini menjadi
penyebab kurangnya produksi garam di Indonesia karena tidak adanya filtrasi
sebelumnya.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun yang menjadi masalah dalam penyusunan makalah ini akan
penulis rumuskan dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut :

1. Apa itu garam dan karakteristiknya ?


2. Apa saja macam-macam garam ?
3. Bagaimana proses pembuatangaram ?

1.3 Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui pengertian dan karakteristk garam


2. Untuk mengetahui macam-macam garam
3. Untuk mengetahui proses pembuatan garam

BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Garam

 Pengertian garam
Menurut Adi,dkk (2006) garam adalah salah satu komoditas strategis, selain
sebagai kebutuhan konsumsi juga merupakan bahan baku industri kimia seperti
soda api, soda abu sodium sulfat dan lain-lain. Tanpa garam, manusia tidak
mungkin hidup, karena garam bertindak sebagai pengatur aliran makanan dalam
tubuh, kontraksi hati dan jaringan-jaringan dalam tubuh. Dalam tubuh orang
dewasa, mengandung sekitar 250 gram garam.
Garam atau lebih dikenal dengan nama garam meja, termasuk dalam kelas
mineral halida atau dikenal dengan nama halite, dengan komposisi kimia sebagai
Natrium Klorida (NaCl) terdiri atas 39,3% Natrium (Na) dan 60,7% Klorin (Cl).
Garam ini, umumnya berada bersama gypsum dan boraks, sehingga akan
terendapkan setelah gypsum terendapkan pada proses penguapan air laut. Nama
halite berasal dari Greek “hals meaning salt” (Kerry Magruder, Guidelines for
Rock Collection).
5
 Karakteristik garam
Adapun karakteristik dari NaCl adalah
 Berat molekul : 58.45
 Specivic gravity : 2.165
 Titik leleh : 800oC
 Titik didih : 1113 oC
 Kelarutan : 35.7 gr/199 gr (0oC)
39.8 gr/100 gr (100oC)
 Garam dapur : mengandung 0.0016 % yodium
 Garam meja : bebas yodium, Mg, Ca

2.2 Macam-macam Garam


Menurut Rustiyanto,dkk (2013) berdasarkan jenis dan penggunaannya, garam
dapat dibedakan menjadi:

1. Garam konsumsi adalah garam dengan kadar NaCL 94,7% atas dasar berat
kering dengan kandungan impurities Sulfat, Magnesium dan Calsium
maksimum 2% dan sisanya adalah kotoran (lumpur,pasir). Kadar air maksimal
7%.
2. Garam konsumsi terbagi menjadi 3 jenis: (1) food atau high grade, yaitu garam
konsumsimutu tinggi dengan kandungan NaCl 97% kadar air dibawah 0,05%,
warna putih bersih, butiran kristeal yang sudah dihaluskan. Garam jenis ini
digunakan untuk garam meja, industri penyedap makanan, industri makanan
mutu tinggi (makanan camilan, chiki, taro, supermie dsb),industri sosis dan
keju, serta industri minyak goreng: (2) medium grade, yaitu garam konsumsi
kelas menengah dengan kadar NaCl 94,7-97% dan kadarair 3-7% untuk garam
dapur dan industri menengah seperti kecap, tahu, pakan ternak; (3) low grade,
yaitu garam konsumsi mutu rendah dengan kadar NaCl 90-94,7%, kadar air 5-
10%, warna putih kusam, digunakan untuk pengasinan ikan dan pertanian.
3. Garam industri perminyakan adalah garam yang memiliki kadar NaCl antara
95-97%, impurities Sulfat maksimum 0,5%, impurities Calsium maksimal
0,2% dan impurities maksimum 0,3% dengan kadarair 3-5%. Garam memiliki
2 kegunaan, yaitu sebagai penguat struktur sumur pengeboran dan bahan
pembantu pembuat uap.
Garam industri lainnya adalah garam yang digunakan dalam industri kulit,
tekstil, pabrik es dan sebagainya. Garam jenis ini memiliki kadar NaCl > 95%,
impurities Sulfat maksimum 0,5%, impurities Calsium maksimum 0,2% dan
impurities Magnesium maksimum 0,3% dengan kadar air 1-5%. Garam industri
Chlor Alkali Plant (CAP) dan industri farmasi adalah garam dengan kadar NaCL
diatas 98,5% dengan impurities Sulfat, Magnesium, Kalium dan kotoran yang
sangat kecil. CAP memiliki kadar NCL diatas 98,5%, impurities maksimum 0,2%,
impurities Calsium maksimum 0,1% dan impurities Magnesium maksimum
0,06%. Garam jenis ini digunakan untuk proses kimia dasar pembuatan soda dan
klor. Pharmaceutical Salt memiliki kadar NaCL diatas 99,5% dengan kadar
impurities mendekati 0. Garam jenis ini digunakan untuk pembuatan cairan infus
serta cairan mesin cuci ginjal serta analisis kimia.

2.3 Proses Pembuatan Garam

 Pematan garam tradisional

Air laut terlebih dahulu dikumpulkan di dalam kolam, tambak, danau atau
penampung (reservoir) khusus lainnya. Ini agar air yang sudah dikumpulkan tidak
terganggu oleh pasang air laut. Reservoir dapat berupa buatan manusia maupun
ciptaan alam, seperti kolam, tambak, waduk atau danau. Tapi tanah yang pori-
porinya halus akan lebih baik karena memiliki dasar yang dapat mencegah air laut
serta kandungan mineralnya agar tidak banyak meresap ke dalam tanah.
Hamparan air laut dijemur oleh panas matahari sampai warna air berubah
merah. Dalam skala luas, lebih murah menggunakan penguapan matahari untuk
membuat garam. Tentu dibutuhkan cuaca yang panas, karena di musim hujan
prosesnya akan sulit. Untuk skala kecil, bisa saja menggunakan tungku dan panci.

Berikutnya, mengeringkan air garam. Beberapa pembuat garam


mengetahui sudah waktunya untuk menguras air garam ketika air berubah menjadi
merah. Warna merah berasal dari alga yang berubah warna akibat konsentrasi
garam yang semakin tinggi.

Selanjutnya pengurasan air garam ke kolam kristalisasi atau tempat


pengasinan. Di sinilah natrium klorida - garam - akhirnya mengkristal di dasar
kolam. Setelah garam mengkristal di bagian bawah reservoir, garam lalu
dipanen/dikumpulkan dengan alat garuk. Garam kristal ini masih harus diproses
agar bersih dan bisa dipakai, dikemas kemudian dipasarkan.

 Pembuatan Garam di Industri


Di antara tahapan proses yang dipergunakan, kristalisasi merupakan salah satu
proses dalam produksi garam. Di samping untuk menghasilkan kristal garam,
kristalisasi juga dimaksudkan untuk menghasilkan produk kristal dengan
kemurnian, ukuran dan jumlah tertentu.

Menurut definisi, kristalisasi adalah proses pembentukan fase padat (kristal)


komponen tunggal dari fase cair (larutan atau lelehan) yang multi komponen, dan
dilakukan dengan cara pendinginan, penguapan dan atau kombinasi pendinginan
dan penguapan. Proses pembentukan kristal dilakukan dalam tiga tahap, yaitu :

1. Pencapaian kondisi super/lewat jenuh (supersaturation),


2. Pembentukan inti kristal (nucleation), dan
3. Pertumbuhan inti kristal menjadi kristal (crystal growth).

Kondisi super jenuh dapat dicapai dengan pendinginan. Penguapan,


penambahan presipitan atau sebagai akibat dari reaksi kimia antara dua fase yang
homogen. Sedangkan pembentukan inti kristal terjadi setelah kondisi super/lewat
jenuh (supersaturated) tercapai.

Disebuah pabrik kimia, bahan baku garam tetap harus melalui proses
pemurnian (Brine purification process) berulangkali untuk mencapai kualitas
kemurnian air garam yang tidak merusak membran dalam sel elektrolisa. Proses
pemurnian yang dilakukan ada 2 cara yaitu secara fisika dan secara kimia.

Pemisahan secara fisika dilakukan dengan cara memasukkan garam ke


sebuah tangki terbuka yang terus menerus dimasukkan air bahkan sampai
melimpah. Dengan cara sederhana seperti ini, kristal garam memang sengaja
dilarutkan lalu secara fisika di dalam tangki akan terbentuk 3 lapisan. Di dasar
tangki biasanya akan terbentuk endapan garam (kadang bentuknya adalah
bongkahan yang keras dan padat) karena temperatur di dasar lebih rendah. Di
bagian tengah adalah larutan garam encer yang relatif sudah lebih murni.

Di bagian atas, di permukaan air akan melayanglah zat-zat pengotor yang


berwarna coklat (bayangkan busa coklat di atas permukaan kopi ekspresso, seperti
itulah bentuknya). Melalui air yang dimasukkan terus menerus, akan
mengakibatkan zat-zat pengotor dan busanya meluap keluar tanki untuk dibuang
dan diproses kembali. Sedangkan larutan encer garam di bagian tengah akan
dipompa ke tangki berikutnya untuk dimurnikan secara kimia.

Pemisahan secara kimia dilakukan dengan beberapa kali proses. Proses


pertama adalah dengan mencampurkan Soda Ash (Na 2CO3) ke larutan garam,
tujuannya untuk mengikat Ca+2 (kalsium) dalam bentuk endapan CaCO3. Lalu
mencampurkan Caustic Soda (NaOH) ke larutan garam untuk mengikat Mg +2
(Magnesium) yang akan keluar dalam bentuk endapan Mg(OH)2. Sedangkan Sr+2
(Strontium) dan logam berat lainnya secara otomatis akan ikut mengendap
bersama CaCO3 dan Mg(OH)2. Untuk mempercepat reaksi, di dalam reaktor juga
dipasangi mixer untuk pengaduk.

Berikutnya adalah membersihkan larutan garam dengan memasukkannya


ke dalam filter berisi karbon aktif dan menambahkan HCl untuk menyaring
partikel CaCO3 dan Mg(OH)2 yang mungkin masih terikut. Proses pemurnian
yang terakhir adalah dengan menggunakan resin khusus untuk menangkap ion-ion
Ca+2, Mg+2 dan Sr+2.

Mengacu pada proses di pabrik kimia, yang memungkinkan layak


diaplikasikan di industri garam rakyat adalah proses pemurnian garam secara
fisika karena ringan biaya dan bebas dari bahan kimia. Caranya adalah dengan
menyaring air laut terlebih dulu sebelum dimasukkan ke tambak. Sebelum benar-
benar ke tambak, lebih baik air laut yang sudah disaring tersebut didiamkan dulu
ke sebuah kolam pemisahan sehingga zat-zat pengotornya akan mengambang di
permukaan kolam sehingga memudahkan untuk dibuang. Setelah beberapa lama
barulah bagian tengah air laut tersebut dipompakan ke tambak garam untuk
mengalami proses penguapan.

Jadi prinsipnya adalah kalau bahan baku air lautnya sudah bersih, garam
yang dihasilkannya juga akan lebih murni. Begitu juga saat pemanenan, proses
pengambilan kristal garam haruslah yang bagian atas saja, menghindari terikutnya
tanah tambak ke dalam garam yang diproduksi