Anda di halaman 1dari 3

NAMA : Ahmad Mufnil Ida

NIM : 63010180062

PRODI/KELAS : S1 PS/4C

JURNAL : Kontruksi Akad Dalam Pengembangan Produk Perbankan Syari’ah


di Indonesia, Al-‘Adalah Jurnal, Vol.XII, No. 3, Juni 2015

Resume :

Akad-akad dalam Konsep Fikih

Pada dasarnya ada berbagai akad yang berprinsip pada berbagai macam model
transaksi dalam fikih muamalah, yang dapat digunakan perbankan syariah dalam
operasionalnya, yakni:

1. Prinsip jual beli


a. Murobahah, yaitu usaha yang dilakukan dengan melakukan transaksi jual beli
dengan memperoleh margin keuntungan (mark-up).
b. Salam. Para ulama mazhab memberi definisi salam secara terminologis
dengan nuansa yang berbeda walaupun esensinya sama yakni jual beli sesuatu
yang ditetapkan sifatnya ( namun belum diserahkan) dengan harga kontan.
c. Istisna, kontrak antara pembeli dan pembuat barang, dimana pembuat barang
membuat sesuai dengan spesifikasi yang telah disepakati sesuai keinginan
pembeli.
2. Transaksi yang berprinsip pada akad kerjasama
a. Mudharabah, yaitu suatu akad kerjasama antara dua orang atau lebih dalam
suatu usaha dimana salah seorang diantara mereka merupaan pemodal dan
yang lainnya hanya bertugas sebagai pemutar dari modal yang diberikan
namun jenis usahanya ditentukan oleh pemodal.
b. Musyarakah, yaitu akad kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk suatu
usaha yang masing-masing menanamkan modal dengan prinsip usaha
patungan.
c. Muzaroah dan Musaqah.
Muzaroah adalah kerjasama dalam mengelola pertanian antara pemilik
lahan dan penggarap, dimana pemilik lahan memberikan lahan untuk digarap
dan imbalan bagi penggarap adalah bagian tertentu dari hasil panen.
Musaqah adalah suatu akad penyerahan pohon kepada orang yang
merawatnya dan menjanjikan kepada orang tersebut akan diberi imbalan dari
hasil yang diperoleh dalam jumlah tertentu.
3. Akad-akad muamalah yang berprinsip sewa (ijarah)
a. Ijarah, yaitu akad pemindahan hak guna atas suatu barang atau jasa dalam
waktu tertentu melalui pembayaran sewa/upah tanpa diikuti pemindahan
kepemilikan atas barang tersebut.
4. Akad yang berprinsip pada penyediaan jasa (‘ujr)
a. Wakalah, yakni akad pelimpahan kekuasaan oleh suatu pihak kepada pihak
lain dalam hal-hal yang boleh diwakilkan.
b. Kafalah, merupakan akad yang berhubungan dengan penjamin dan jaminan.
c. Hawalah, merupakan akad pengalihan hutang dari suatu pihak yang berhutang
kepada pihak lainyang menanggungnya (wajib membayarnya).
d. Ji’alah, adalah jenis akad untuk suatu manfaat materi yang diduga kuat dapat
dperoleh.
e. Qardh, adalah pemberian harta kepadaorang lain yang dapat ditagih atau
diminta kembali tanpa mengharapkan imbalan.
f. Rahn, ialah menjadikan suatu benda yang mempunyai nilai harta dalam
pandangan syara’ untuk kepercayaan suatu utang, sehingga memungkinkan
mengambil seluruh atau sebagian utang dari benda itu.
g. Al-Ujr, merupakan imbalan yang diberikan atau diminta atas suatu pekerjaan
yang dilakukan.
5. Akad yang berprinsip titipan (wadiah)
Wadiah merupakan titipan murni dari stau pihak ke pihak lain, baik individu maupun
badan hukum yang harus dijaga dan dikembalikan kapan saja penitip menghendaki.

Langkah-langkah Pengembangan Produk Perbankan Syariah

langkah-langkah yang digunakan untuk memaksimalkan produk yang dibutuhkan


masyarakat, antara lain:

1) Rekonsepsi akad-akad pada bank syariah


Sebagai banyak ditawarkan oleh para pemerhati keuangan syariah melalui
pengembangan akad dengan memadukan barbagai akad yang ada, bahkan melakukan
Dua kad dalam satu transaksi yang sering disebut bibryd kontrak.
Terlepas dari berbagai tawaran pengembangan akad sehingga melahirkan
pengembangan produk perbankan syariah, yang lebih penting untuk dilakukan adalah
pemahaman tentang hakikat akad-akad dalam fikih dan langkah penting dalam
melihat relasi antara masyarakat dan lembaga perbankan sebagai lembaga
inermediasi.
2) Optimalisasi peran Dewan Pengawas Syariah (DPS)
Selain sebagai pengawas, Dewan Pengawas Syariah juga berperan sebagai advisor
(pemberi nasihat), merketer (memberikan motivasi), supporter (pemberi dukungan),
player (pemain/pelaku).
3) Potensi sosial ekonomi masyarakat
Kehadiran bank syariah pada dasarnya bermaksud untuk menjawab kebutuhan
masyarakat akan adanya pelayanan perbankan yang bebas dari unsur ribawi yang
dilarang islam