Anda di halaman 1dari 6

PENGERTIAN BELAJAR DAN BELAJAR EFEKTIF

RESUME
Untuk memenuhi tugas matakuliah
Psikologi
yang dibina oleh Ibu Triana Setijaningsih,S.Pd.,M.Kes.

Oleh
Hasna febry afifah
P17230193065

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG


JURUSAN KEPERAWATAN BLITAR
D3 KEPERAWATAN BLITAR
Maret 2020
A. PENGERTIAN BELAJAR DAN BELAJAR EFEKTIF
Pengertian belajar adalah suatu proses atau upaya yang dilakukan setiap individu
untuk mendapatkan perubahan tingkah laku, baik dalam bentuk pengetahuan, keterampilan,
sikap dan nilai positif sebagai suatu pengalaman dari berbagai materi yang telah dipelajari.
Definisi belajar dapat juga diartikan sebagai segala aktivitas psikis yang dilakukan oleh setiap
individu sehingga tingkah lakunya berbeda antara sebelum dan sesudah belajar. Perubahan
tingkah laku atau tanggapan karena adanya pengalaman baru, memiliki kepandaian/ ilmu
setelah belajar, dan aktivitas berlatih.

Belajar efektif adalah cara belajar yang di lakukan dengn sunguh-sung dan rutin untuk
meraih sesuatu yang membanggakan yang di kaikan dengan hasil pembelajaran di sekolah
dan mencari materi di luar sekolah seprti internet ,, koran  dabn buku perpustakaan. sehingga
murit dapat menjawab soal-soal dengan benar

B. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BELAJAR

Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar diantaranya :

a. Faktor intern yaitu faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar.

Antara lain : Faktor jasmaniah, faktor psikologis dan faktor kelelahan.

b. Faktor extern yaitu faktor yang ada di luar diri individu.

Antara lain : faktor keluarga, faktor sekolah, dan faktor masyarakat.

Faktor intern diantaranya :

a. Faktor jasmaniah

1. Faktor kesehatan : Sehat berarti dalam keadaan segenap badan beserta


bagian-bagiannya bebas dari penyakit.

2. Cacat tubuh : sesuatu yang menyebabkan kurang baik/kurang sempurna


mengenai tubuh/badan. Cacat itu dapat berupa buta, setengah buta, tuli,
patah kaki/tangan, lumpuh dan lain-lain.

b. Faktor psikologis

1. Intelegensi : kecakapan yang terdiri dari tiga jenis yaitu kecakapan untuk
menghadapi dan menyesuaikan ke dalam situasi yang baru dengan cepat
dan efektif, mengetahui/menggunakan konsep-konsep yang abstrak secara
efektif, mengetahui relasi dan mempelajarinya dengan cepat.

2. Perhatian : keaktifan yang dipertinggi, jiwa itupun semata-mata tertuju


kepada suatu objek (benda/hal) atau sekumpulan objek.

3. Minat : kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang


beberapa kegiatan. Minat besar pengaruhnya terhadap belajar, karena bila
bahan pelajaran yang dieplajri tidak sesuai dengan minat siswa, siswa
tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya demikian sebaliknya.
4. Bakat : kemampuan untuk belajar. Adalah penting untuk mengetahui bakat
siswa dan menempatkan siswa belajar di sekolah yang sesuai dengan
bakatnya.

5. Motif : dalam proses belajar haruslah diperhatikan apa yang dapat


mendorong siswa agar dapat belajar dengan baik/padanya memepunyai
motif untuk berpikir dan memusatkan perhatian, merencanakan dan
melaksanakan kegiatan yang berhubungan/menunjang belajar.

6. Kematangan : suatu tingkat/fase dalam pertumbuhan seseorang, dimana


alat-alat tubuhnya sudah siap untuk melaksanakan kecakapan baru.

7. Kesiapan : kesediaan untuk memberikan response atau bersaksi. Kesediaan


itu timbul dari dalam diri seseorang dan juga berhubungan dengan
kematangan, karena kematangan berarti kesiapan untuk melaksanakan
kecakapan.

c. Faktor kelelahan

1. Faktor keluarga

2. Faktor sekolah

3. Faktor masyarakat.

C. HUKUM BELAJAR

Hukum teori belajar :

a. Hukum kesiapan (law of readiness)

Sebelum melakukan sesuatu, pastilah setiap individu mempersiapkan


segala hal yang diperlukan dan membantu untuk melakukan sesuatu
tersebut. Da ketika dia melakukan sesuatu tersebut pastilah akan terasa
mudah karena kita telah mempersiapkan dirinya, pastilah ia akan gelisah
ataupun bingung dalam melakukan sesuatu tersebut.

b. Hukum latihan (law of exercise)

1. Law of use : semakin sering sesuatu hal dilakukan, maka akan semakin
mahir lah kita dalam hal tersebut.

2. Law of disuse : semkin lama suatu hal tidak lagi dilakukan, maka kita
akan lupa akan hal tersebut.

c. Hukum akibat (law of effect)

Apabila kita mempelajari sesu2atu dan semakin lama kita menjadi mahir
dalam hal tersebut.
Hukum menurut islam :

Dalam kehidupan manusia ilmu adalah salah satu hal yang sangat penting dan hal
tersebut bukan lagi merupakan suatu rahasia. Sedemikian pentingnya ilmu bagi manusia
khususnya umat muslim, seseorang akan tidak senang jika ia disebut tidak memiliki ilmu atau
bodoh. Ilmu dapat membuat seseorang menjadi mulia dan dihormati. Sebagaimana yang
dikatakan Ali bin Abi Thalib bahwa seseorang yang memiliki cukup ilmu akan merasa
dimuliakan dan sementara mereka yang tidak memeiliki ilmu dan tidak mengetahui apapun
akan merasa tercela dan hal tersebut akan membuat seseorang merasa bodoh. Dengan kata
lain, ilmu akan membuat seseorang mulia ditengah pergaulan dalam islam pada khususnya.
Meskipun demikian tidak berarti bahwa ilmu yang lain tidaklah penting atau dianggap dalam
islam. Ilmu-ilmu yang ada dalam kehidupan manusia juga dapat dikatakan bermanfaat
apabila ilmu tersebut menuntun manusia untuk lebih taat dan beriman kepada Allah SWT
(baca fungsi iman kepada Allah SWT). Ilmu akan membuat seseorang mengetahui berbagai
macam perkara dan menjauhkannya dari kebodohan

D. MASALAH YANG TIMBUL DALAM BELAJAR DAN PENYELESAIANNYA

1. Penyakit paling klise : MALAS


Males Belajar! Nah, ini dia nih penyakit paling klasik yang udah menjangkiti umat
manusia dari generasi ke generasi. Kadang (atau seringnya) penyakit yang satu ini
kambuh mendadak tanpa kita duga-duga. Hal yang sama juga terjadi waktu kita males
belajar. Kenapa kok rasanya berat banget buat buka buku pelajaran? Kenapa kok rasanya
beban banget buat ngerjain tugas atau PR? Ya, karena lo menganggap belajar adalah sesuatu
hal yang nggak menarik, belajar adalah sesuatu kegiatan yang membosankan, yang nggak
jelas tujuannya buat apa, dsb. Pola pikir atau mindset dalem otak lo, itulah penyebab utama
dari penyakit males.
Nah, terus kalo kita udah tau sebabnya, abis itu gimana dong? Ya kita perbaiki langsung ke
sumber masalahnya dong. Caranya dengan mengubah paradigma lo bahwa belajar itu
sebetulnya bisa jadi suatu kegiatan yang enjoyable, yang bisa dinikmati, seru, mengasyikan,
bikin penasaran, dan bahkan bisa bikin ketagihan! Ketika lo bisa mengubah cara pandang lo,
belajar gak akan lagi jadi hal yang membebani lo, gak akan lagi jadi hal membosankan,
bahkan lo gak perlu repot-repot mikirin gimana caranya supaya lo termotivasi belajar, karena
belajar udah jadi hal yang menyenangkan.

2. Belajar (hanya) untuk mengejar nilai Akademis


Emang apa salahnya sih belajar untuk nilai akademis? Bukannya emang tujuan kita
belajar itu cuma buat dapet nilai bagus, membanggakan orangtua, kuliah di tempat bergengsi,
terus bisa gampang cari kerjaan yang bergaji besar, dan hidup bahagia selamanya?? ketika lo
belajar hanya untuk ngejar nilai akademis, lo akan selalu terpaku pada satu indikator yang
seolah-olah paling bisa merefleksikan kesuksesan lo dalam proses belajar (nilai akademis),
padahal sebenernya bukan (cuman) itu indikator yang harus lo pikirin.
Kalo lo cuma terpaku pada satu indikator doang (cuman nilai dan prestasi akademis) lo akan
menutup banyak banget kesempatan dan peluang lain untuk belajar sesuatu yang jauh lebih
berharga daripada sekedar nilai doang. Lo nggak akan belajar gimana serunya belajar tanpa
perlu disuruh, tanpa mikir bakal keluar di ujian atau nggak, dan lo akan belajar hal yang
manfaatnya akan jauh lebih melekat dalam diri lo sampai bertahun-tahun. Belajar memahami
dunia lebih jauh, mengembangkan bakat, hobby, ngulik banyak hal yang gak dipelajari di
sekolahnya, dan sebagainya. Itulah yang biasa gua bedakan
antara studying dan learning, atau subjeknya belakangan ini sering gua sebut sebagai
‘pelajar‘ dan ‘pembelajar‘

3. MENGHAKIMI DIRI”gue kan bukan anak pintar”

Sikap menghakimi diri sendiri ini gua anggep sebagai salah satu masalah utama yang
paling gawat dalam belajar. Ibaratnya belum juga bertarung, tapi udah kalah duluan. Dengan
lo menghakimi diri lo sendiri, lo seolah-olah menjadikan hal tersebut excuse atau alesan
untuk terima nasib gitu aja, dan gak berusaha bangkit untuk memperbaiki diri menjadi lebih
baik. Padahal sebetulnya, tanpa lo sadari, mindset seperti itu justru yang membatasi lo dalam
belajar, berkembang, dan mengevaluasi diri untuk jadi individu yang lebih baik. Ditambah
lagi, seringkali guru bahkan orangtua lo juga memberi afirmasi terhadap justifikasi ini,
misalnya dengan mengatakan kalo anak IPA itu dominan otak kiri jadi lebih jago hitung-
hitungan, sementara anak IPS itu lebih dominan otak kanan, jadi lebih jago hafalan. Jadilah lo
percaya kalo lo dominan otak kiri sehingga gak akan mungkin bisa main musik, atau lo yang
otak kanan gak mungkin jago matematika. Padahal sebetulnya, dikotomi otak kanan dan otak
kiri itu informasi yang ngaco banget Kalo gua perhatiin, ada banyak banget murid zenius
yang terjebak dengan pola pikir ini selama bertahun-tahun dan baru sadar setelah kenal
sama zenius. Apakah mungkin jangan-jangan lo juga termasuk salah satu yang terjebak
dengan pola pikir fixed-mindset seperti ini? Kalo iya, ini bahaya banget dan harus lo atasi
sesegera mungkin. Serius, sikap menghakimi diri sendiri ini adalah salah satu masalah utama
dalam belajar yang secara gak sadar sangat mempengaruhi persepsi lo terhadap diri lo sendiri.

E. HUBUNGAN PROSES BELAJAR DAN HASIL BELAJAR

Proses belajar dan hasil belajar keduanya saling berhubungan satu sama lain.

1. Proses belajar adalah tahapan perubahan perilaku kognitif afektif dan


psikomotorik yang terjadi dalam diri seseorang. Perubahan tersebut bersifat
positif dalam berorientasi kearah yang maju dari pada keadaan sebelumnya.
2. Hasil belajar adalah tingkat penguasaan yang dicapai oleh belajar dalam
mengikuti program belajar mengajar sesuai dengan tujuan pendidikan yang
telah ditetapkan. Senada dengan definisi tersebut, Munadir medefinisikan :
Belajar sebagai perubahan dalam disposisi atau kapabilitas manusia selama
periode waktu tertentu yang disebabkan oleh proses perubahan, dan perubahan
itu dapat diamati dalam bentuk perubahan tingkah laku yang dapat bertahan
selama beberapa periode waktu.

F. PRINSIP BELAJAR EFEKTIF


1.  Pengendalian Kelas
Pembelajaran efektif pertama-tama membutuhkan kemampuan pengajar untuk
mengendalikan kelas, yaitu mengkondisikan siswa agar dengan antusias bersedia
mendengarkan, memperhatikan dan mengikuti instruksi pengajar. Pengendalian
kelas merupakan kunci pertama keberhasilan pembelajaran. Kegagalan ataupun
pengendalian kelas yang kurang maksimal akan berakibat kegagalan atau minimal
keberhasilan pembelajaran kurang optimal. Intinya, pengendalian kelas
merupakan upaya membuat siswa secara mental siap untuk dibelajarkan. 
2.  Membangkitkan minat eksplorasi.
Setelah siswa secara mental siap belajar, tugas guru adalah meyakinkan siswa-
siswinya betapa materi pembelajaran yang tengah mereka pelajari penting dan
mudah dipelajari, sehingga menggugah minat mereka untuk mempelajarinya.
Ibarat makan, setelah anak mandi, berganti pakaian dan duduk di meja makan,
sajian yang akan mereka santap memang membangkitkan selera. Anak tahu
makanan itu enak, bermanfaat dan tak sabar untuk segera melahapnya.
3.  Penguasaan konsep dan prosedur mempelajarinya
Seenak apapun makanan, pasti ada cara paling tepat untuk menikmatinya.
Kesalahan cara menikmati tak jarang membuat anak kehilangan selera, misalnya
makan satu ayam tetapi dari sambalnya lebih dulu. Itu sebabnya, hal pertama yang
harus dilakukan adalah memperkenalkan hakekat makanan yang akan mereka
santap, serta dari bagian mana atau dengan cara seperti apa menikmatinya. 
4.  Latihan
Pemahaman dalam sekali proses akan sangat mudah menguap oleh berbagai
aktivitas lain siswa. Memberikan latihan demi latihan baik berupa latihan di kelas,
PR atau pemberian tugas-tugas tertentu merupakan wahana untuk memperkuat
penguasaan materi yang telah dipelajari. Pemberian tugas dan latihan mutlak
diberikan agar siswa berlatih secara terstruktur, sekalipun secara mandiri mereka
mungkin saja mempelajarinya.
Hal yang harus diperhatikan dalam pemberian latihan meliputi ketercakupan
materi pelajaran. Itu sebabnya kisi-kisi materi pelajaran harus disusun sejelas
mungkin, sehingga dalam pemberian latihan dan penugasa benar-benar meluas
dan mendalam.  
5.  Kendali Keberhasilan
Tugas guru tidak cukup hanya menyampaikan materi pelajaran, tetapi lebih
dari itu guru harus memastikan seluruh siswa menguasainya. Penjajagan terhadap
penguasaan materi pelajaran oleh siswa harus dilakukan baik selama proses
pembelajaran, latihan maupun penugasan.
Selama kegiatan pembelajaran guru perlu mulai menjajagi penguasaan materi
pelajaran semisal melalui kuis, snap shot, atau pertanyaan acak lainnya. Hal yang
harus diperhatikan saat memberikan kuis atau pertanyaan penjajagan adalah
jawaban siswa yang selama ini dikenal paling lemah daya tangkapnya. Meminta
siswa yang dikenal paling lemah dan sedang daya tangkapnya menjadi indikator
awal keberhasilan pembelajaran, sebab secara otomatis dapat diperkirakan
penguasaan materi oleh siswa yang daya tangkapnya kuat.