Anda di halaman 1dari 16

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kehadiran Tuhan Yang Maha Esa, atas segala
limpahan rahmat dan kurnia-NYa kepada kami sehingga dapat menyelesaikan makalah ini.
Kami menyadari bahwa di dalam pembuatan makalah ini berkat bantuan dan tuntunan Tuhan
Yang Maha Esa dan tidak lepas dari bantuan berbagai pihak.
Dalam kesempatan ini penulis menghaturkan rasa hormat dan terima kasih yang
kepada dosen pembimbing mata kuliah Pengantar Pariwisata dan Perhotelan ibuk. Vivi
Efrianova,S.ST.,M.Pd.T
Kami menyadari bahwa dalam proses penyusunan makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan baik dari materi maupun cara penulisannya. Namun demikian, kami telah
berupaya dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang di miliki sehingga dapat selesai
dengan baik dan oleh karnanya, dengan rendah hati dan dengan tangan terbuka menerima
masukan, saran dan usul guna penyempurnaan makalah ini. Akhirnya kami berharap semoga
makalah ini dapat bermanfaat buat kita semua.
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR…………………………………………………………………… 2

DAFTAR ISI……………………………………………………………………………

BAB I PENDAHULUAN
1. LATAR BELKANNG………………………………………………………….
2. RUMUSAN MASALAH………………………………………………………

BAB II PEMBAHASAN
1. MENJELASKAN TEORI TENTANG KEPRIBADIAN………………………..
2. PENJELASKAN TENTANG APA ITU KARAKTERISTIK……..……………..
3. MENJELASKAN APA ITU SIKAP MANUSIA...........................................……
4. MENJELASKAN TENTANG EXSTROVETDAN INTROVET..........................

BAB III PENUTUP


1. KESIMPULAN……………………………………………………………….
2. SARAN……………………………………………………………………….

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………
BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Masalah

Manusia merupakan makhluk yang memiliki kemampuan menciptakan kebaikan,


kebenaran, keadilan, dan bertanggung jawab. Sebagai makhluk berbudaya, manusia
mendayagunakan akal budinya untuk menciptakan kebahagiaan, baik bagi dirinya maupun
bagi masyarakat demi kesempurnaan hidupnya dengan menciptakan kebudayaan.Di samping
itu, manusia mampu menciptakan, memperbaharui, memperbaiki, mengembangkan dan
meningkatkan sesuatu yang ada untuk kepentingan hidup manusia.Tetapi, banyak juga
manusia yang tidak memiliki etika dan estetika dalam berbudaya serta tidak memanusiakan
manusia. Melalui makalah ini, kami akan membahas mengenai etika dan estetika berbudaya,
memanusiakan manusia dan problematika kebudayaan

2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas dapat disimpulkan
permasalahan sebagai berikut.
1. Menjelaskan tentang teori kepribadian ?
2. Menjelaskan tentang karakteristik?
3. Menjelaskan tentang prilaku manusia?
4. Menjelaskan kosep exstrovet dan introvet?
BAB II

KEPRIBADIAN
A. Pengertian Teori Kepribadian
Teori merupakan salah satu unsur penting dari setiap pengetahuan ilmiah atau ilmu,
termasuk psikologi kepribadian. Tanpa teori kepribadian usaha memahami perilaku dan
kepribadian manusia pasti sulit untuk dilaksanakan. Apakah yang dimaksud dengan teori
kepribadian ? Menurut Hall dan Lindzey (Koeswara, 1991 : 5), teori kepriadian adalah
sekumpulan anggapan atau konsep-konsep yang satu sama lain berkaitan mengenai
tingkah laku manusia.
B. Fungsi Teori Kepribadian
Sama seperti teori ilmiah pada umumnya yang memiliki fungsi deskriptif dan
prediktif, begitu juga teori kepribdian. Berikut penjelaskan fungsi deskriptif dan prediktif
dari teori kepribadian.
1. Fungsi Deskriptif
Fungsi deskriptif (menjelaskan atau menggambarkan) merupakan fungsi teori
kepribadian dalam menjelaskan atau menggambarkan perilaku atau kepribadian
manusia secara rinci, lengkap, dan sistematis. Pertanyaan-pertanyaan apa,
mengapa, dan bagaimana seputar perilaku manusia dijawab melalui fungsi
deskriptif.
2. Fungsi Prediktif
Teori kepribadian selain harus bisa menjelaskan tentang apa, mengapa, dan
bagaimana tingkah laku manusia sekarang, juga harus bisa memperkirakan apa,
mengapa, dan bagaimana tingkah laku manusia di kemudian hari. Dengan
demikian teori kepribadian harus memiliki fungsi prediktif
C. Dimensi-dimensi Teori Kepribadian
Setiap teori kepribadian diharapkan mampu memberikan jawab atas pertanyaan
sekitar apa, mengapa, dan bagaimana tentang perilaku manusia. Untuk itu setiap teori
kepribadian yang lengkap, menurut Pervin (Supratiknya, 1995 : 5-6), biasanya memiliki
dimensi-dimensi sebagai berikut :
1. Pembahasan tentang struktur, yaitu aspek-aspek kepribadian yang bersifat relatif
stabil dan menetap, serta yang merupakan unsur-unsur pembentuk sosok
kepribadian.
2. Pembahasan tentang proses, yaitu konsep-konsep tentang motivasi untuk
menjelaskan dinamika tingkah laku atau kepribadian.
3. Pembahasan tentang pertumbuhan dan perkembangan, yaitu aneka perubahan pada
struktur sejak masa bayi sampai mencapai kemasakan, perubahan-perubahan
pada proses yang menyertainya, serta berbagai faktor yang menentukannya.
4. Pembahasan tentang psikopatologi, yaitu hakikat gangguan kepribadian atau
tingkah laku beserta asal-usul atau proses perkembangannya.
5. Pembahasan tentang perubahan tingkah laku, yaitu konsepsi tentang bagaimana
tingkah laku bisa dimodifikasi atau diubah.
D. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Teori Kepribadian
Berkembangya teori-teori kepribadian tidak terlepas dari sejumlah faktor yang
melatar belakangi dan mempengaruhinya, yang secara garis besar dibedakan menjadi
dua, yaitu faktor-faktor historis dan faktor-faktor kontemporer. Koeswara (1991: 13)
mengibaratkan kedua faktor tersebut sebagai faktor pembawaan dan faktor lingkungan
yang mempengaruhi perkembangan kepribadian seseorang.
1. Faktor-faktor historis
Secara historis banyak faktor yang mempengaruhi berkembanya teori-teori
kepribadian dan empat diantaranya merupakan faktor yang pengaruhnya sangat
kuat. Keempat faktor yang dimaksud adalah : a. peng-obatan klinis Eropa, b.
psikometrik, c. behaviorisme, dan d. psikologi Gestalt (Koeswara, 1991: 13).
a. Pengobatan klinis di Eropa
Upaya pengobatan, sepanjang sejarah selalu dihubungkan dengan
konsepsi tentang kepribadian. Demikian halnya dengan apa yang
dilekukan di Eropa pada abad ke-18 dan ke-19, terutama di Perancis.
Atas dasar konsepsi-konsepsi fisiologis dan aktivitas-aktivitas mental
manusia, Philipe Pinel (1745-1926), seorang dokter dari Perancis,
menggambarkan gangguan kepribadian psikosis sebagai akibat dari
kerusakan fungsi otak.
Seorang dokter dari Jerman, Emil Kraeplin (1856-1926), membuat
klasifikasi gangguan kepribadian berdasarkan konsepsi tentang psikosis
yang fisikalistis. Ditinjau dari perkembangan teori kepribadian, apa yang
dilakukan Kraeplin merupakan langkah besar karena gangguan
kepribadian sudah dirumuskan dan diklasifikasikan secara ilmiah.
Pengaruh terbesar dari sejarah pengobatan klinis di Eropa terhadap
perkembangan kepribadian adalah yang terjadi pada abad ke-20, yaitu
ketika Sigmund Freud menuliskan konsepsi-konsepsinya yang dia susun
berdasarkan temuannya dalam menyembuhkan penderita neurosis,
khususnya histeria. Pengaruh Freud dengan Psikoanalisisnya terhadap
teori kepribadian dapat dilihat dari fakta bahwa hampir seluruh teori
kepribadian modern mengambil sebagian atau setidak-tidaknya
mempersoalkan konsepsi-konsepsi Freud dala penyusunan teori
kepribadian (Koeswara, 1991: 15).
b. Psikometrik
Psikometrik atau pengukuran psikologi memberikan pengaruh yang
harus diperhitungkan dalam perkembangan teori kepribadian. Sebelum
ada psikometrik, ada anggapan bahwa fungsi-fungsi psikologis manusia
seperti kecerdasan, bakat, minat, motif, dst., sangat sulit bahkan tidak
mungkin untuk bisa diukur.
Berbicara tentang psikometrik dari sisi historis, tidak terlepas dari
pembahasan mengenai apa yang dilakukan oleh Gustav Theodor Fecher
(1801-1887). Fechner, yang beranggapan bahwa jiwa itu identik dengan
raga, banyak melakukan penelitian, khususnya tentang pengideraan
dengan metode eksperimen.
Apa yang telah dilakukan oleh Fecher menjadi pendorong bagi para
ahli yang muncul kemudian untuk mengembangkan dan menggunakan
pendekatan psikometrik untuk kaitan antara aspek fisik dengan
aspek mental. Dengan berkembangnya psikometrik memungkinkan
dilakukannya penelitian di bidang kepribadian.
c. Behaviorisme
Behaviorisme merupakan aliran psikologi yang lahir di Amerika
Serikat dipelopori oleh John B. Watson (1878-1958). Pengaruh
behaviorisme terhadap perkembangan teori kepribadian terletak pada
upaya-upaya dan anjurannya untuk memandang dan meneliti tingkah
laku manusia secara objektif. Penelitian-penelitian yang telah dilakukan
oleh para behavioris dengan metode eksperimen mampu memberikan
sumbangan besar bagi terciptanya konsep-konsep tentang kepribadian
yang ketepatannya bisa diuji secara empiris.
d. Psikologi Gestalt
Psikologi Gestalt merupakan aliran psikologi yang lahir di Jerman
dan yang dipelopori oleh Max Wertheimer (1880-1943), Wolfgang
Kohler (1887- 1967), dan Kurt Koffka (18886-1941). Prinsip pertama
dan utama dari psikologi Gesltalt adalah bahwa suatu fenomena hanya
dan harus dimengerti sebagai suatu totalitas atau keseluruhan. Demikian
halnya dengan manusia berikut kesadaran dan tingkah lakunya hanya
dapat dipahami jika hal itu dilihat sebagai suatu totalitas. Beberapa teoris
kepribadian terkemuka yaitu Adler, Goldstein, Allport, Maslow, dan
Rogers mengembangkan teori kepribadian berdasarkan prinsip holistik
atai totalitas dari psikologi Gestalt.
Prinsip kedua psikologi Gestalt, yang juga ikut mempengaruhi para
teoris keprbadian adalah prinsip bahwa fenomena merupakan data
mendasar bagi psikologi. Untuk itu dalam memahami perilaku manusia
maka peneliti atau pengamat harus berusaha merasakan dan menghayati
apa yang dialami oleh subjek yang diamati.
2. Faktor-faktor Kontemporer
Faktor-faktor kontemporer yang mempengaruhi perkembanga
teori kepribadian mencakup faktor dari dalam dan dari luar psikologi. Faktor-
faktor yang bersumber dari dalam bidang psikologi yaitu: a. munculnya
perluasan bidang psikologi, seperti psikologi lintas budaya (cross-cultural
psychology), dan b. Studi tentang proses-proses kognitif dan motivasi.
Faktor-faktor kontemporer dari luar bidang psikologi yang mempengaruhi
perkembangan teori kepribadian antara lain berkembangnya aliran filsafat
eksistensialisme, perubahan sosial budaya yang pesat, dan berkembangnya
teknologi komputer.
Eksistensialisme merupakan aliran filsafat yang menekankan kebebasan,
penentuan diri, dan keberubahan manusia, mempengaruhi para teoris
kepribadian eksistensial dan humanistik. Perubahan sosial budaya telah
memberikan arah baru kepada penelitian dan penyusunan teori kepribadian.
Sedangkan berkembangnya teknologi komputer membuka peluang yang luas
bagi penelitian secara besar-besaran dan cermat.
E. Anggapan-anggapan Dasar tentang Manusia
Setiap orang, termasuk teoris kepribadian, memiliki anggapan-anggapan dasar (basic
assumtions) tertentu tentang manusia yang oleh George Boeree disebut asumsi-asumsi
filosofis (Boeree, 2005 : 23). Anggapan-anggapan dasar yang diperoleh melalui
hubungan pribadi atau pengalaman-pengalaman sosial ini secara nyata akan
mempengaruhi persepsi dan tindakan manusia terhadap sesamanya. Dalam konteks para
teoris kepribadian, anggapan-anggapan dasar ini mempengaruhi konstruksi dan isi teori
kepribadian yang disusunnya. Anggapan-anggapan dasar tentang manusia yang
mempengaruhi atau mewarnai teori-teori kepribadian adalah sebagai berikut.
1. Kebebasan – ketidak bebebasan
Ada anggapan bahwa manusia merupakan makhluk yang bebas
berkehendak, mengambil sikap, dan menentukan arah kehidupannya. Sebaliknya
ada anggapan yang berlawanan dengan itu, bahwa manusia merupakan makhluk
yang tidak bebas. Salah seorang teoris kepribadian, yaitu Abraham Maslow
menganggap bahwa manusia merupakan makhluk yang bebas, sementara itu
teoris kepribadiannya lainnya diantaranya Freud dan Skinner, menyatakan
bahwa pada dasarnya manusia merupakan makhluk yang perilakunya tidak
bebas karena ditentukan oleh sejumlah determinan.
2. Rasionalitas – irasionalitas
Maslow dan para teoris kepribaian humanistik lainnya beranggapan bahwa
manusia merupakan makhluk yang perilakunya digerakkan oleh faktor-faktor
yang rasional. Sedangkan Freud menganggap bahwa manusia merupakan
makhluk yang cenderung irasional. Sementara itu Skinner dan para behavioris
lainnya tidak begitu terikat pada anggapan dasar rasional-irasional.
3. Holisme – elementalisme
Menurut Freud dan Maslow manusia hanya dapat dimengerti bila dilihat dan
dipelajari sebagai totalitas. Sedangkan Skinner cenderung memenadang
menausia secara elemtalisme, bahwa perilaku manusia dapat dipelajari sebagian-
sebagian. Hal demikian juga diperkuat dengan pendapatnya bahwa kepribadian
adalah sekumpulan tingkah laku yang dipelajari.
4. Konstitusionalisme – environmentalisme
Konstitusionalisme merupakan pandangan yang menyatakan bahwa
kepribadian seseorang ditentukan oleh faktor-faktor yang sudah dimiliki sejak
lahir atau faktor bawaan. Sedangkan environmentalisme menganggap bahwa
kepribadian seseorang ditentukan oleh faktor-faktor yang berasal dari
lingkungannya.
Freud dengan teori mengenai naluri yang bersifat bawaan, termasuk teoris
kepribadian konstitusionalis, demikian halnya Maslow dengan teori kebutuhan
bertingkatnya. Namun komitmen Maslow pada konstitusi-onalisme ini tidak
sekuat Freud. Sedangkan Skinner dan para behavioris lainnya beranggapan
bahwa perilaku manusia merupakan hasil belajar dari lingkungannya.
5. Berubah – tidak berubah
Anggapan dasar berubah – tak berubah mempersoalkan berubah tidaknya
kepribadian individu sepanjang hidupnya. Freud sebagai penganut determinisme,
beranggapan bahwa kepribadian individu ditentukan oleh pengalaman masa
kanak-kanak awal dan tidak akan berubah sepanjang hidup individu. Sedangkan
Maslow dan Skinner beranggapan bahwa kepribadian individu mengalami
perubahan sepanjang hidupnya.
6. Subjektivitas – objektivitas
Anggapan dasar tentang subjektivitas dan objektivitas manusia berkenaan
dengan persoalan apakah perilaku manusia ditentukan oleh pengalaman
personalnya yang subjektif atau faktor-faktor eksternal yang objektif. Rogers,
tokoh psikologi fenomenologi dan salah satu tokoh psikologi humanistik,
menyatakan bahwa dunia batin atau dunia subjektif individu merupakan
penyebab terbesar bagi terjadinya perilaku individu.
Freud dan Maslow berpegang pada anggapan dasar yang sama dengan
Rogers bahwa perilaku manusia bersifat subjektif. Sedangkan Skinner menolak
pandangan tentang pengalaman subjektif manusia. Dia lebih menitik beratkan
pada tingkah laku yang dapat diamati dan diukur secara objektif.
7. Proaktif – reaktif
Pandangan proaktif-reaktif menjelaskan sumber penyebab perilaku manusia.
Apakah perilaku manusia didorong oleh faktor-faktor internal atau faktor-faktor
eksternal?
Freud dan Maslow merupakah teoris kepribadian yang menganggap bahwa
perilaku manusia bersifat proaktif, yaitu lebih banyak digerakkan oleh faktor-
faktor internalnya. Menurut Freud, perilaku manusia didorong oleh faktor
internal yang sebagian besar berasal dari alam yang tidak disadari. Sedangkan
menurut Maslow, perilaku manusia didorong oleh faktor-faktor internal yang
disadari.
Skinner dan para behavioris memandang bahwa perilaku manusia bersifat
reaktif. Menurut mereka perilaku manusia merupakan respon terhadap stimulus-
stimulus yang datang dari lingkungan.
8. Homeostatis – heterostatis
Konsep homeostatis menjelaskan bahwa perilaku manusia terutama
dimotivasi oleh upaya mengurangi atau menghilangkan ketegangan yang terjadi
akibat ketidak seimbangan, misalnya lelah, lapar, ingin tahu, dst. Sedangkan
konsep heterostatis menjelaskan bahwa perilaku manusia terutama dimotivasi
oleh upaya menuju perkembangan dan aktualisasi diri.
Freud merupakan salah satu teoris kepribadian yang berpegang pada konsep
homeostatis. Sedangkan Maslow berpegang pada konsep heterostatis. Sementara
Skinner menolak kedua konsep motivasi tersebut. Bagi Skinner, perilaku
manusia disebabkan oleh stimulus-stimulus yang datang dari luar dirinya dan
bukan kerena motivasi.
9. Dapat diketahui – tidak dapat diketahui
Freud berpandangan bahwa manusia dapat diketahui sepenuhnya melalui
metode ilmiah karena perilaku manusia berlangsung berdasarkan hukum-hukum
alam. Sejalan dengan pandangan Freud, Skinner menyatakan bahwa melalui
observasi-observasi yang sistematis dapat diperoleh pengetahuan yang memadai
tentang manusia.
Maslow berpandangan lain dengan Freud dan Skinner. Menurut Maslow
manusia tidak bisa diketahui sepenuhnya meskipun dengan uapaya-upaya
ilmiah.
F. Klasifikasi Teori-teori Kepribadian
Dewasa ini telah banyak teori-teori kepribadian untuk memudahkan mempelajari
para ahli telah mengklasifikasikan teori-teori tersebut ke dalam beberapa kelompok
dengan menggunakan acuan tertentu yaitu paradigma yang dipakai untuk
mengembangkannya. Berdasarkan paradigma yang dipergunakan dalam
mengembankannya, teori kepribadian dibedakan menjadi 4 paradigma (Alwisol, 2005:
2-7). Kempat paradigma tersebut adalah:
1. Paradigma psikoanalisis: tradisi klinis psikiatri.
2. Paradigma traits: tradisi psikologi fungsionalisme dan psikologi pengukuran.
3. Paradigma kognitif: tradisi Gestalt.
4. Paradigma behaviorisme: tradisi kondisioning.
Adapula klasifikasi teori kepribadian yang didasarkan padasejarah perkembangannya
yang kemudian menjadi kekutan besar yang dijadikan orientasi dalam pengembangan
teori-teori kepribadian. Boeree (2005 : 29) menyatakan bahwa ada 3 orientasi atau
kekuatan besar dalam teori kepribadian, yaitu :
1. Psikoanalisis beserta aliran-aliran yang dikembangkan atas paradigma yang sama
atau hampir sama, yang dipandang sebagai kekuatan pertama.
2.  Behavioristik yang dipandang sebagai kekuatan kedua.
3.  Humanistik, yang dinyatakan sebagai kekuatan ketiga.

SIKAP MANUSIA

Dibawah ini pengertian Sikap Menurut para Ahli:

1. Menurut Sarnoff (dalam Sarwono, 2000) mengidentifikasikan sikap sebagai kesediaan


untuk bereaksi (disposition to react) secara positif  (ravorably) atau secara negatif
(untavorably) terhadap obyek – obyek tertentu.

2. D.Krech dan R.S Crutchfield (dalam Sears, 1999) berpendapat bahwa sikap sebagai
organisasi yang bersifat menetap dari proses motivasional , emosional, perseptual, dan
kognitif mengenai aspek dunia individu.
3. La Pierre (dalam Azwar, 2003) mendefinisikan sikap sebagai suatu pola perilaku ,
tendensi atau kesiapan antisipatif, predisposisi untuk menyesuaikan diri dalam situasi sosial,
atau secara sederhana, sikap adalah respon terhadap stimuli sosial yang telah terkondisikan.

4. Soetarno (1994), sikap adalah pandangan atau perasaan yang disertai kecenderungan untuk
bertindak terhadap obyek tertentu. Sikap senantiasa diarahkan kepada sesuatu artinya tidak
ada sikap tanpa obyek. Sikap diarahkan kepada benda-benda, orang, peritiwa, pandangan,
lembaga, norma dan lain-lain.

5. Sumber di www. wikipedia.org menjelaskan sikap adalah perasaan seseorang tentang


obyek, aktivitas, peristiwa dan orang lain. Perasaan ini menjadi konsep yang
merepresentasikan suka atau tidak sukanya (positif, negatif, atau netral) seseorang pada
sesuatu.

6. Menunit G.W Alport dalam (Tri Rusmi Widayatun, 1999 :218) sikap adalah kesiapan
seseorang untuk bertindak.

7. Tri Rusmi Widayatun memberikan pengertian sikap adalah “keadaan mental dan syaraf
dari kesiapan, yang diatur melalui pengalaman yang memberikan pengaruh dinamik atau
terarah terhadap respon individu pada semua obyek dan situasi yang berkaitan dengannya.

8. Jalaluddin Rakhmat ( 1992 : 39 ) mengemukakan lima pengertian sikap, yaitu:

a. sikap adalah kecenderungan bertindak, berpersepsi, berpikir, dan merasa dalam


menghadapi objek, ide, situasi, atau nilai. Sikap bukan perilaku, tetapi merupakan
kecenderungan untuk berperilaku dengan cara-cara tertentu terhadap objek sikap. Objek sikap
boleh berupa benda, orang, tempat, gagasan atau situasi, atau kelompok.

b. sikap mempunyai daya penolong atau motivasi. Sikap bukan sekedar rekaman masa lalu,
tetapi juga menentukan apakah orang harus pro atau kontra terhadap sesuatu; menentukan apa
yang disukai, diharapkan, dan diinginkan,mengesampingkan apa yang tidak diinginkan, apa
yang harus dihindari.

c. sikap lebih menetap. Berbagai studi menunjukkan sikap politik kelompok cenderung
dipertahankan dan jarang mengalami pembahan.

d. sikap mengandung aspek evaluatif: artinya mengandung nilai menyenangkan atau tidak
menyenangkan.

e. sikap timbul dari pengalaman: tidak dibawa sejak lahir, tetapi merupakan hasil belajar.
Karena itu sikap dapat diperteguh atau diubah.

9. Sri Utami Rahayuningsih (2008) Sikap (Attitude) adalah


1. Berorientasi kepada respon : : sikap adalah suatu bentuk dari perasaan, yaitu
perasaan mendukung atau memihak (favourable) maupun perasaan tidak mendukung
(Unfavourable) pada suatu objek

2. Berorientasi kepada kesiapan respon : sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi


terhadap suatu objek dengan cara-cara tertentu, apabila dihadapkan pada suatu stimulus yang
menghendaki adanya respon suatu pola perilaku, tendenasi atau kesiapan antisipatif untuk
menyesuaikan diri dari situasi sosial yang telah terkondisikan

3. Berorientasi kepada skema triadic : sikap merupakan konstelasi komponen-komponen


kognitif, afektif, dan konatif yang saling berinteraksi dalam memahami, merasakan, dan
berperilaku terhadap suatu objek di lingkungan sekitarnya.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa sikap adalah keadaan diri dalam manusia yang
menggerakkan untuk bertindak atau berbuat dalam kegiatan sosial dengan perasaan tertentu
di dalam menanggapi obyek situasi atau kondisi di lingkungan sekitarnya. Selain itu sikap
juga memberikan kesiapan untuk merespon yang sifatnya positif atau negatif terhadap obyek
atau situasi.

B.     Proses dan Komponen Sikap

Secara umum, dalam berbagai referensi, sikap memiliki 3 komponen yakni: kognitif, afektif,
dan kecenderungan tindakan (Morgan dan King, 1975;Krech dan Ballacy, 1963, Howard dan
Kendler 1974, Gerungan, 2000).

1.       Komponen kognitif

Aspek sikap yang berkenaan dengan penilaian individu terhadap obyek atau subyek.
Informasi yang masuk ke dalam otak manusia, melalui proses analisis, sintesis, dan evaluasi
akan menghasilkan nilai baru yang akan diakomodasi atau diasimilasikan dengan
pengetahuan yang telah ada di dalam otak manusia. Nilai – nilai baru yang diyakini benar,
baik, indah, dan sebagainya, pada akhirnya akan mempengaruhi emosi atau komponen afektif
dari sikap individu.

2.       komponen afektif

Aspek  ini Dikatakan sebagai perasaan (emosi) individu terhadap obyek atau subyek, yang
sejalan dengan hasil penilaiannya.

3.       komponen kecenderungan bertindak

Berkenaan dengan keinginan individu untuk melakukan perbuatan sesuai dengan


keyakinandan keinginannya.
Sikap seseorang terhadap suatu obyek atau subyek dapat positif atau negatif. Manifestasikan
sikap terlihat dari tanggapan seseorang apakah ia menerima atau menolak, setuju atau tidak
setuju terhadap obyek atau subyek. Komponen sikap berkaitan satu dengan yang lainnya.
Dari manapun kita memulai dalam analisis sikap, ketiga komponen tersebut tetap dalam
ikatan satu sistem.

komponen kognitif, afektif, dan kecenderungan bertindak merupakan suatu kesatuan sistem,
sehingga tidak dapat dilepas satu dengan lainnya. Ketiga komponen tersebut secara bersama-
sama membentuk sikap  dan Ketiga komponen kognitif, afektif, dan kecenderungan bertindak
secara bersama- sama membentuk sikap.

C.    Faktor- Faktor yang mempengaruhi Sikap

a.       Pengalaman pribadi

Apa yang telah dan sedang kita alami akan ikut membentuk dan mempengaruhi penghayatan
kita terhadap stimulus sosial.

b.       Pengaruh orang lain yang dianggap penting

Orang lain di sekitar kita merupakan salah satu diantara komoponen sosial yang ikut
mempengaruhi sikap kita. Seseorang yang dianggap penting, seseorang yang kita harapkan
persetujuannya bagi setiap gerak, tingkah dan pendapat kita, seseorang yang tidak ingin kita
kecewakan atau seseorang yang berarti khusus bagi kita akan mempengaruhi pembentkan
sikap kita terhadap sesuatu. Contoh : Orang tua, teman sebaya, teman dekat, guru, istri, suami
dan lain-lain.

c.        Pengaruh kebudayaan

Kebudayaan dimana kita hidup dan dibesarkan mempunyai pengaruh besar terhadap
pembentukan sikap kita.

4.       Media massa

Sebagai sarana komunikasi, berbagai bentuk media massa seperti televisi, radio, surat kabar,
majalah dan lain-lain mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan.
Adanya informasi baru mengenai sesuatu hal memberikan landasan kognitif bagi
terbentuknya sikap terhadap hal tersebut. 

5.       Lembaga pendidikan dan lembaga agama

Lembaga pendidikan serta lembaga agama sebagai suatu sistem mempunyai pengaruh dalam
pembentukan sikap dikarenakan keduanya meletakkan dasar pengertian dan konsep moral
dalam arti individu.
6. Pengaruh faktor emosional

Tidak semua bentuk sikap dipengaruhi oleh situasi lingkungan dan pengalaman pribadi
seseorang, kadang-kadang sesuatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang didasari oleh
emosi yang berfungsi yang berfungsi sebagai penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk
mekanisme pertahanan ego.

D.    Teori – Teori Tentang Sikap

1.       Teori Keseimbangan

Pada teori ini fokusnya terletak pada upaya individu untuk tetap konsisten dalam bersikap 
dalam hidup yang melibatkan hubungan- hubungan antara seseorang dengan dua objek
sikap.Dan dalam bentuk sederhana, ketiga elemen tersebut dihubungkan dengan :

1. sikap favorable ( baik, suka, positif )


2. sikap Unfavorable ( buruk, tidak suka, negatif )

2.  Teori Konsistensi kognitif – Afektif

Pada teori ini fokusnya terletak pada bagaimana seseorang berusaha membuat kognisi mereka
konsisiten dengan afeksinya dan penilaian seseorang terhadap suatu kejadian akan
mempengaruhi keyakinannya.Sebagai contoh:

Tidak jadi makan direstoran X karena temannya bilang bahwa restoran tersebut tidak halal
padahal di belum pernah kesana

3.  Teori Ketidaksesuaian

Pada teori ini fokusnya terletak pada  bagaimana individu menyelataskan elemen – elemen
kognisi, pemikiran atau struktur ( Konsonansi selaras ) dan disonasi atau kesetimbangan yaitu
pikiran yang amat menekan dan memotivasi seseorang untuk memperbaikinya.dimana
terdapat 2 elemen kognitif dimana disonasi terjadi jika kedua elemen tidak cocok sehingga
menganggu logika dan penghargaan. Sebagai contoh Misalnya: ”Merokok membahayakan
kesehatan” konsonansi dengan ”saya tidak merokok”; tetapi disonansi dengan ”perokok”.

Cara mengurangi Disonansi:


a. Merubah salah satu elemen kognitif, yaitu dengan mengubah sikap agar sesuai dengan
perilakunya. Misalnya : stop merokok
b. Menambahkan satu elemen kognitif baru. Misalnya: tidak percaya rokok merusak
kesehatan
4. Teori Atribusi

Pada teori ini fokusnya terletak paad bagaimana individu mengetahui akan sikapnya dengan
mengambil kesimpulan sendiri dan persepsinya tentang situasi. Pada teori ini implikasinya
adalah perubhan perilaku yang dilakukan seseorang menimbulkan kesimpulan pada orang
tersebut bahwa sikapnya telah berubah. Sebagai contoh memasak setiap kesempatan baru
sadar kalu dirinya suka menyukai/ hobi memasak. 

E.     Hubungan sikap dengan perilaku

Sikap yang dilakukan oleh setiap individu sangatlah berpengaruh terhadap perilaku individu.
Pengaruh tersebut terletak pada individu sendiri terhadap respon yang ditangkap
,kecenderungan individu untuk melakukan tindakan dipengaruhi oleh berbagai faktor bawaan
dan lingkungan sehingga menimbulkan tingkah laku.

Kepribadian Introvert dan Ekstrovert.


Introvert atau Introversion adalah kepribadian manusia yang lebih berkaitan dengan
dunia dalam pikiran manusia itu sendiri. Jadi manusia yang memiliki sifat introvert ini lebih
cenderung menutup diri dari kehidupan luar. Mereka adalah manusia yang lebih banyak
berpikir dan lebih sedikit beraktifitas. Mereka juga orang-orang yang lebih senang berada
dalam kesunyian atau kondisi yang tenang, daripada di tempat yang terlalu banyak orang.
Hal yang khas dari introvert adalah pendiam, pemalu, mawas diri, gemar membaca, suka
menyendiri dan menjaga jarak kecuali dengan teman yang sudah akrab, cenderung
merencanakan lebih dahulu – melihat dahulu – sebelum melangkah, dan curiga, tidak suka
kegembiraan, menjalani kehidupan sehari-hari dengan keseriusan, dan menyukai gaya hidup
yang teratur dengan baik, menjaga perasaannya secara tertutup, jarang berperilaku agresif,
tidak menghilangkan kemarahannya, dapat dipercaya, dalam beberapa hal pesimis, dan
mempunyai nilai standar etika yang tinggi.
Extrovert atau Extraversion merupakan kebalikan dari Introvert. Manusia dengan
kepribadian extrovert lebih berkaitan dengan dunia di luar manusia tersebut. Jadi manusia
yang memiliki sifat extrovert ini lebih cenderung membuka diri dengan kehidupan luar.
Mereka adalah manusia yang lebih banyak beraktifitas dan lebih sedikit berpikir. Mereka
juga orang-orang yang lebih senang berada dalam keramaian atau kondisi dimana terdapat
banyak orang, daripada di tempat yang sunyi.
Hal yang khas dari ekstrovert adalah mudah bergaul, suka pesta, mempunyai banyak
teman, membutuhkan teman untuk bicara, dan tidak suka membaca atau belajar sendirian,
sangat membutuhkan kegembiraan, mengambil tantangan, sering menentang bahaya,
berperilaku tanpa berpikir terlebih dahulu, dan biasanya suka menurutkan kata hatinya, gemar
akan gurau-gurauan, selalu siap menjawab, dan biasanya suka akan perubahan, riang, tidak
banyak pertimbangan (easy going), optimis, serta suka tertawa dan gembira, lebih suka untuk
tetap bergerak dalam melakukan aktivitas, cenderung menjadi agresif dan cepat hilang
kemarahannya, semua perasaannya tidak disimpan dibawah kontrol, dan tidak selalu dapat
dipercaya (Arifianti 2007:35).
2.     Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Kepribadian.
Eysenck mengklasifikasikan ciri-ciri tingkah laku yang operasional pada tipe kepribadian
ekstrovert dan introvert menurut faktor-faktor kepribadian yang mendasarinya, yaitu :
(a)  Activity :
Pada aspek ini diukur bagaimana subyek dalam melakukan aktivitasnya, apakah energik
dan gesit atau sebaliknya lamban dan tidak bergairah. Bagaimana subyek menikmati setiap
pekerjaan yang dilakukan, jenis pekerjaan atau aktivitas apa yang disukainya.
(b)  Sociability :
Aspek sociability mengukur bagaimana individu melakukan kontak sosial. Pada interaksi
sosial individu ditandai dengan banyak teman, suka bergaul, menyukai kegiatan sosial,
mudah beradaptasi dengan lingkungan baru, menyukai suasana ramah tamah, atau sebaliknya
individu kurang dalam kontak sosial, merasa minder dalam pergaulan, menyukai aktivitas
sendiri.
(c)  Risk Taking :
 Aspek ini mengukur individu dalam berani mengambil risiko atas tindakannya dan
menyukai tantangan dalam aktivitasnya.
(d)  Impulsiveness :
Untuk membedakan kecenderungan ekstrovert dan introvert berdasarkan cara individu
mengambil tindakan, apakah cenderung impulsif, tanpa berpikir secara matang keuntungan
dan kerugiannya atau sebaliknya mengambil keputusan dengan mempertimbangkan
konsekuensinya.
(e)  Expressiveness :
Aspek ini mengukur bagaimana individu mengekspresikan emosinya baik emosional
sedih, senang, takut. Apakah cenderung sentimental, penuh perasaan, mudah berubah
pendirian dan demonstratif, atau sebaliknya mampu mengontrol pikiran dan emosinya,
tenang, dingin.
(f)  Responbility :
Aspek ini membedakan individu berdasarkan tanggung jawab terhadap tindakan maupun
tugas serta pekerjaannya.

3.     Ciri-ciri Kepribadian Introvert dan Ekstrovert.


Kepribadian ekstrovert yaitu individu ekstrovert dipengaruhi oleh dunia objektif, yaitu
dunia di luar dirinya. Orientasi utama tertuju ke luar. Pikiran, perasaan, dan tindakannya lebih
banyak ditentukan oleh lingkungan, baik lingkungan sosial maupun lingkungan nonsosial.
Ciri-ciri individu ekstrovert :
a) Berdaya ingat kuat (merecall memori jangka pendek),
b) Memiliki ambang rangsang yang tinggi.
c) Menunjukkan daya juang fisik yang tinggi.
  d) Dapat melaksanakan tugas yang tinggi taraf kesukarannya dengan baik,ramah,
impulsif, tidak suka diatur dan dilarang.
e) Terlibat dalam aktivitas kelompok.
f) Pandai membawa diri dalam lingkungannya, mudah gembira.
g) Memiliki keterikatan sosial, dapat memanfaatkan kesempatan yang ada, bertindak
cepat, optimis, agresif, cepat.
h) Mudah meredakan kemarahan, mudah tertawa, tidak dapat menahan perasaannya.

Kepribadian introvert yaitu individu ekstrovert dipengaruhi oleh pengalaman dirinya,


yaitu dunia pikiran sendiri serta keadaan dalam dirinya. Orientasi utama tertuju kedalam
dirinya. Pikiran, perasaan, dan tindakannya lebih banyak ditentukan oleh presepsi yang  ia tau
sendiri, baik lingkungan sosial maupun lingkungan non-sosial.
Ciri-ciri individu introvert :
a) Memiliki toleransi yang tinggi terhadap isolasi / kesendirian.
b) Kurang toleransi terhadap keluhan fisik.
c)  Cenderung melakukan secara baik terhadap tugas yang sederhana / mudah.
d) Cenderung melaksanakan secara baik tugas yang menuntut kesiapsiagaan.

Metode yang digunakan dalam pengumpulan data di atas adalah metode langsung dan
pencarian langsung dari berbagai sumber, seperti dari buku-buku yang berkaitan dengan judul
penulisan dan dari berbagai blog dan website yang ada.