Anda di halaman 1dari 3

TUGAS MATA KULIAH PKDM II

(Laporan Penilaian Pemeriksaan Fisik Sistem Integumen)

Oleh :

Putu Ayu Pratami (1914320096)


Tingkat I Semester II
Program Studi D-IV Keperawatan Anastesiologi

Institut Teknologi Kesehatan Bali

2019/2020
Laporan Penilaian tentang Video Pemeriksaan Fisik Sistem Integumen

Link Video : https://youtu.be/JKIW2sSgz9A

Berikut adalah penilaian saya terhadap video pemeriksaan fisik sistem integumen yang saya tonton:

1. Pada orientasi
Pada saat fase orientasi, di video perawat atau pemeriksa mencuci tangan terlebih dahulu
lalu diikuti dengan menyapa pasien. Padahal seharusnya perawat atau pemeriksa menyapa
pasien terlebih dahulu dengan cara memperkenalkan diri, menanyakan nama dan keadaan
pasien, kemudian memberi tahu apa saja atau bagian tubuh mana yang akan diperiksa,
meminta persetujuan apakah siap diperiksa atau tidak barulah kemudian mencuci tangan
dan memakai handscoon dan memulai tindakan pemeriksaan
2. Posisi pemeriksa dan pasien
Di video, posisi dan jarak pasien dengan pemeriksa menurut saya terlalu jauh untuk hal
pemeriksaan integumen. Seharusnya posisi pemeriksa lebih dekat dengan pasien agar
memudahkan pemeriksaan fisik integumen secara keseluruhan. Jika posisi pasien dan
pemeriksa hanya duduk berhadapan dihalangi meja seperti di video, maka bagian integumen
yang diperiksa hanya bagian tangan dan wajah saja, pemeriksa menjadi tidak bisa
memeriksa di bagian ekstremitas bawah dan memastikan bagian lainnya apakah ada lesi
atau tidak atau kelainan lainnya.
3. Sikap dan etika pemeriksa
Di video pemeriksa tidak mengatakan izin atau permisi saat akan memeriksa dari bagian satu
ke bagian lainnya melainkan langsung saja memeriksa tanpa berkomunikasi. Menurut saya
setiap akan memeriksa dari bagian satu ke bagian lainnya seharusnya pemeriksa selalu
mengatakan permisi atau izin akan memeriksa bagian tertentu agar pasien tidak terkejut
langsung disentuh atau diraba. Komunikasi itu juga perlu agar pasien tidak tegang dan
merasa percaya kepada pemeriksa sehingga pemeriksaan berjalan dengan lancar dan
mendapatkan hasil yang maksimal.
4. Bagian yang diperiksa
Di video, bagian yang diperiksa hanya lah organ kulit dan kuku saja dan itupun tidak
semuanya diperhatikan. Mungkin memang benar kalau pemeriksaan fisik tergantung juga
dengan bagian mana yang harus diperiksa, tidak harus semuanya akan tetapi yang memang
sesuai dengan keadaan dan penyakit. Akan tetapi, akan menjadi lebih baik jika melakukan
pemeriksaan fisik sistem integumen yang diperiksa itu lengkap dan menyeluruh seperti kulit,
kuku, rambut, kelenjar sebasea, kelenjar keringat ekrin dan apokrin, kelenjar seruminosa,
dan kelenjar mammae.
5. Peralatan
Di video, peralatan yang disediakan hanyalah sarung tangan, penggaris, dan buku
dokumentasi. Menurut saya walaupun belum tentu digunakan sebaiknya pemeriksa juga
menyiapkan alat yang lain seperti lampu senter untuk menerangi luka dan kaca pembesar
untuk mengamati luka jika memang ada luka.
6. Pemeriksa tidak mengkaji pasien
Di video, pemeriksa tidak mengkaji pasien terlebih dahulu padahal seharusnya pemeriksa
harus aktif bertanya demi mendapatkan diagnosis yang tepat seperti menanyakan keluhan
saat ini, riwayat penyakit sekarang dan dahulu, riwayat kesehatan keluarga, dan pengkajian
pola sehat sakit.
7. Teknik palpasi
Di video, menurut saya teknik palpasi pemeriksa saat memeriksa turgor kulit kurang tepat
karena pemeriksa mencubit kulit bagian punggung telapak tangan padahal seharusnya
mencubitnya di bagian lengan agar mendapatkan hasil yang akurat. Selain itu, pemeriksa
juga tidak mengukur suhu pasien dengan palpasi ataupun menggunakan termometer.
8. Teknik inspeksi
Di video, pemeriksa tidak melihat perubahan warna pada kulit pasien padahal itu seharusnya
dilakukan agar mengetahui jika ada perubahan yang tidak sesuai maka itu mengindikasikan
penyakit apa.
9. Tidak mencuci tangan
Di video, setelah melakukan pemeriksaan, pemeriksa tidak mencuci tangannya padahal
sebaiknya pemeriksa mencuci tangan untuk tetap menjaga personal hygene.