Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Dalam sejarah kuno kepercayaan dan pengobatan berhubungan sangat erat .Rumah sakit
dalam sejarah Islam memperkenalkan standar pengobatan yang tinggi pada abad 8 hingga 12.
Rumah sakit pertama di bangun pada abad 9 hingga 10.

Perubahan rumah sakit menjadi sekular di eropa terjadi pada abad 16 hingga 17. Tetapi
baru pada 18 rumah sakit modern pertama dibangun dengan hanya menyediakan pelayanan dan
pembedahan medis.

Sejarah perkembangan rumah sakit di indonesia pertama didirikan oleh VOC tahun 1626
dan kemudian juga oleh tentara inggris pada zaman raflles terutama di tunjuk untuk melayani
anggota militer beserta keluarganya dan juga masyarakat pribumi yang memerlukan pertolongan
dengan pelayanan gratis.

Setelah kemerdekaan perumahsakitan di Indonesia berkembang pesat sehingga muncul


berbagai macam rumah sakit baik milik swasta maupun milik pemerintah.

Secara umum rumah sakit dibedakan dengan 2 kategori yaitu rumah sakit umum dan
rumah sakit khusus. Menurut peraturan mentri kesehtan nomor 159B0/MENKES/PER/II/1998
Mencatumkan pengertian tentang rumah sakit, rumah sakit umum ,dan rumah sakit khusus.

1. Rumah sakit
Merupakan sarana kesehetan yang menyelangarakan pelayanan kesehatan secara merata,
dengan mengutamakan upaya penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan.
2. Rumah sakit umum
Merupakan rumah sakit yang menyelangarakan pelayanan kesehatan kepada masyarakat
untuk semua jenis penyakit, mulai dari pelayanan kesehatan dasar sampai dengan
pelayanan subspesialistis sesuai dengan kemampuannya.
3. Rumah sakit khusus
Merupakan rumah sakit yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan kepada masyarakat
untuk jenis penyakit tertentu atau berdasarkan disiplin ilmu tertentu.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 PERENCANAAN STRATEGIS

2.1.1 VISI DAN MISI

“menjadikan rumah sakit hoyong sehat menjadi rumah sakit dengan fasilitas terlengkap dan
pelayanan kesehatan terbaik”

Misi

- Melaksanakan pelayanan pendidikan penelitian dan pengabdian masyarakat di bidang


kesehatan dalam rangka membangun sumber daya manusia melalui pemenuhan dan
pembinaan dokter
- Menyelenggarakan pengabdian terutama dibidang kesehatan sesuai dengan kebutuhan
masyarakat
- Melengkapi peralatan rumah sakit yang memadai

2.1.2 TUJUAN

1. Pelayanan Bagi Masyarakat Miskin

2. Penyelenggaraan Sistem Pembiayaan Pelayanan kesehatan masyarakat

3. P2M : Memerangi DBD,TBC,HIV-AIDS,Dan Narkoba

4. Peningkatan Gizi Masyarakat

5. Peningkatan KIA

6. Penurunan angka penyakit tidak menular

7. Peningkatan pelayanan gawat darurat dan bencana kesehatan

8. Peningkatan mutu pelayanan & penertiban pelayanan kesehatan

9. Peningkatan mutu SDM & penertiban SDM kesehatan

10. Sistem informasi, promosi, dan sosialisasi program-program kesehatan


2.1.3 SASARAN DAN STRATEGI

SASARAN STRATEGI
a. Adanya pelayanan kesehatan 1. Melaksanakan koordinasi dan
rujukan pada KIA,Trauma, dan komunikasi dengan pusat pelayanan
Infeksi lanjut. kesehatan yang baik vertikal maupun
horizontal
b. Adanya lingkungan kerja yang 1. Penataan ruang kerja yang memadai
aman dan nyaman 2. Kelengkapan sarana dan prasarana
kerja
3. Komunikasi dan koordinasi sesama
rekan kerja
4. Sistem keamanan RS yang memadai
c. Adanya sumber daya manusia yang 1. Seleksi pegawai, diklat, pendidikan
profesional menuju tata kelola yang berkelanjutan, inhouse training dan
baik pembinaan pegawai
d. Meningkatkan sistem informasi 1. Tersedianya sarana dan prasarana
dan manajemen rumah sakit (SIM- SIM-RS secara maksimal
RS)

2.1.4 KEBIJAKAN UMUM

1. Melaksanakan pendidikan berkelanjutan, pelatihan, inhouse training bagi karyawan

2. Melaksanakan pengadaan sarana dan prasarana yang dibutuhkan

3. Melaksanakan pengadaan pegawai melalui pihak ke tiga

4. Melaksanakan pemeliharaan rutin / berkala sarana dan prasarana

5. Melaksanakan kemitraan peningkatan kualitas dokter dan paramedis serta non medis

6. Melaksanakan kemitraan dengan institusi pendidikan dibidang kesehatan

2.2 PENYUSUNAN PROGRAM KERJA


2.2.1 PENETAPAN AKTIVITAS
1. Program Pelayanan Administrasi
Perkantoran. Program ini dicapai dengan
kegiatan :

a. Penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik

b. Penyediaan jasa perbaikan peralatan kerja

c. Penyediaan alat tulis kantor

d. Penyediaan barang cetakan dan penggandaan

e. Penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan bangunan kantor

f. Penyediaan peralatan dan perlengkapan kantor

g. Penyediaan makanan dan minuman

h. Rapat-rapat koordiansi dan konsultasi ke luar daerah

i. Rapat-rapat koordiansi dan konsultasi ke dalam daerah

j. Peringatan hari besar naasional

2. Program Upaya Kesehatan


Masayarakat Program ini dicapai
dengan kegiatan :

a. Penyediaan Biaya Operasional dan Pemeliharaan.

b. Penyediaan Biaya Operasional dan Pemeliharaan (BLUD)

3. Program Pengadaan Peningkatan Sarana dan Prasarana Rumah


Sakit. Program ini dicapai dengan kegiatan :
a. Rehabilitasi pembangunan rumah sakit

b. Pengadaan alat-alat kesehatan rumah sakit

c. Pengadaan mebeulair rumah sakit

d. Pengadaan perlengkapan rumah tangga rumah sakit

e. Pengembangan tipe rumah sakit

4. Program Pemeliharaan Sarana dan Prasarana Rumah


Sakit. Program ini dicapai dengan kegiatan :

a. Pemeliharaan rutin/berkala rumah sakit

b. Pemeliharaan rutin/berkala instalasi pengolahan limbah rumah sakit

2.2.2 PENETAPAN ALAT UKUR / INDIKATOR KERJA

Indikator kinerja RS HOYONG SEHAT yang mengacu pada tujuan dan sasaran
RPJMD Kota Bandungadalah indikator kinerja yang secara langsung menunjukan
kinerja yang akan dicapai oleh RS HOYONG SEHAT untuk lima tahun mendatang
sebagai komitmen untuk mendukung pencapaian tujuan dan sasaran RPJMD Kota
Bandung.

Perumusan indikator kinerja RS HOYONG SEHAT dalam Rencana Strategis ini


mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD sesuai dengan keputusan Walikota Kota
Bandung Nomor 03 tahun 2014 tentang Standar Pelayanan Minimal Badan Layanan
Umum Daerah

Maksud ditetapkannya Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang rumah sakit adalah
guna memberikan pelayanan atau kegiatan minimal yang harus dilakukan rumah sakit
sebagai tolok ukur kinerja dalam menentukan capaian jenis dan mutu pelayanan
kesehatan di RS HOYONG SEHAT Kota Bandung.

Tujuan ditetapkannya SPM bidang rumah sakit adalah :


a. Terlaksananya peningkatan derajat kesehatan masyarakat melalui pelayanan

rumah sakit yang bermutu dan terjangkau;

b. Terlaksananya kegiatan peningkatan mutu berkelanjutan yang sesuai standar

berbasis profesionalisme dengan tetap mengedepankan masalah aksesibilitas

masyarakat;

c. Telaksananya pelayanan rujukan yang tepat guna dan berjalan lancar sesai

dengan tuntutan masyarakat diwilayah cakupannya.

Standar Pelayanan Minimal bidang rumah sakit pada RS HOYONG SEHAT meliputi jenis
indikator dan standar pencapaian kinerja pelayanan rumah sakit, jenis pelayanan rumah sakit
yang wajib disediakan oleh rumah sakit, yang meliputi :

a. Pelayanan gawat darurat;

b. Pelayanan rawat jalan;

c. Pelayanan rawat inap;

d. Pelayanan bedah;

e. Pelayanan persalinan dan perinatologi;

f. Pelayanan intensif;

g. pelayanan radiologi;

h. Pelayanan laboratorium patologi klinik;

i. Pelayanan rehabilitasi medik;

j. Pelayanan farmasi;

k. Pelayanan gizi;

l. Pelayanan tranfusi darah;

m. Pelayanan gawat darurat;

n. Pelayanan rawat jalan;

o. Pelayanan rawat inap;

p. Pelayanan bedah;

q. Pelayanan persalinan dan perinatologi;


r. Pelayanan intensif;

s. Pelayanan radiologi;

t. Pelayanan laboratorium patologi klinik;

u. Pelayanan rehabilitasi medik;

v. Pelayanan farmasi;

w. Pelayanan gizi;

x. Pelayanan tranfusi darah;

2.2.3 PENETAPAN BOBOT AKTIVITAS DAN TOLAK UKUR KERJA

Indikator standar pelayanan minimal bidang rumah sakit adalah sebagai berikut
Kondisi kinerja Kondisi

pada awal kinerja

periode RPJMD pada


Target capaian setiap tahun
N akhir
Indikator

o periode

RPJMD
Tahun 0 Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun

1 2 3 4 5

1 IGD :

a. Kemampuan 100%

menangani life

saving anak dan

dewasa

b. Jam buka Pelayanan 24 jam

Gawat Darurat

c. Pemberian 100%

pelayanan

kegawatdaruratan
yang bersetifikat

ATLS / BTLS / ACLS

/ PPGD

d. Ketersediaan tim satu tim

penanggulangan

bencana

e. Waktu tanggap ≤5 menit

pelayanan Dokter di

gawat darurat

f. Kepuasan pelanggan ≥70%

g. Kematian pasien ≤ ≤ 6 per seribu

24 jam

h. Tidak adanya pasien 100%

yang diharuskan

membayar uang

muka

2 Rawat Jalan

a. Dokter pemberi 80% Dokter

Pelayanan di Spesialis

Poliklinik Spesialis

b. Ketersediaan a. Klinik Anak

Pelayanan Klinik Penyakit

Dalam

Klinik

Kebidanan

Klinik Bedah

Klinik Mata

Klinik THT

Klinik Kulit dan

Kelamin

Klinik

Kesehatan

Jiwa

Klinik Syaraf
Klinik Gigi dan

Mulut

Klinik Ortopedi

Klinik

Rehabiliitasi

Medik

m. Klinik DOTS

c. Ketersediaan
a. Anak

Pelayanan pasien
remaja

di RS Jiwa
b. NAPZA

c. Ganggua

n Psikotik

d. Ganggua

Neurotik

e. Mental

retardasi

f. Mental

Organik

Usia lanjut

d. Buka pelayanan

sesuai ketentuan

08.00-13.00 setiap

hari kerja kecuali

Jum’at 08.00-11.00

e. Waktu tunggu di
08.00 s/d 13.00
rawat jalan
setiap hari
kerja kecuali

jumat 08.00 s/d

11.00

f. Kepuasan ≤90 menit

Pelanggan

g. 1) Penegakan ≥60%

diagosis TB

melalui

pemeriksaan

mikroskopis TB

2) Terlaksananya >60%

kegiatan

pencatatan dan

pelaporan TB

di RS

3 Rawat Inap

a. Pemberian 100%

pelayanan di Rawat

Inap (dokter

spesialis dan tenaga

perawat minimal

pendidikan D3)

b. Dokter 100%

penanggungjawab

pasien rawat inap

c. Ketersediaan a. Anak

pelayanan Rawat b. Penyakit

Inap Dalam

c. Kebidana
n

d. Bedah

e. THT

f. Mata

g. Kulit

Kelamin

h. Syaraf

i. Gigi

mulut

d. Jam Visite Dokter 08.00-14.00

Spesialis setiap hari

kerja

e. Kejadian infeksi ≤1,5%

pasca operasi

f. Kejadian infeksi ≤ 5%

nosokomial

g. Tidak adanya 100%

kejadian pasien

jatuh yang

berakibat

kecacatan /

kematian

h. Kematian pasien ≤ 0,24%

>48 jam

i. Kejadian pulang ≤5%

paksa

j. Kepuasan >90%

pelanggan

>60%
k. Rawat inap TB

a. penegakan
diagnosis TB

melalui

pemeriksaan

mikroskopis

TB

b. terlaksananya

kegiatan >60%

pencatatan

dan pelaporan

TB di rumah

sakit

- - - - - - -

l. Ketersediaan

pelayanan rawat inap

di rumah sakit yang

memberikan

pelayanan jiwa

- - - - - - -

m. Tidak adanya

kejadian kematian

pasien gangguan

jiwa karena bunuh

diri

- - - - - - -

n. Kejadian re-

adminssion pasien

gangguan jiwa dalam

waktu ≤ 1 bulan
- - - - - - -

o. Lama hari perawatan

pasien gangguan

jiwa

4
Bedah Sentral (Bedah

saja)

a. Waktu tunggu ≤ 2 hari

operasi elektif

b. Kejadian kematian ≤ 1%

di meja operasi

c. Tidak adanya 100%

kejadian operasi

salah sisi

d. Tidak adanya 100%

kejadian operasi

salah orang

e. Tidak adanya 100%

kejadian salah

tindakan pada

operasi

f. Tidak adanya 100%

kejadian

tertinggalnya benda

asing / lain pada

tubuh pasien setelah

operasi

g. Komplikasi anesthesi ≤ 2 hari

karena overdosis,
reaksi anestesi dan

salah penempatan

endotracheal tube

5
Persalinan dan

perinatologi (kecuali

rumah sakit khusus

di luar rumah sakit

ibu dan anak) dan

K
B

a. Kejadian kematian a. Pendarah

ibu karena an ≤ 1%

persalinan

b. Pre-

eksampsi

a ≤ 30%

Sepsis ≤ 0,2%

b. Pemberian a. Dokter

pelayanan Sp.OG

persalinan normal

(dokter spesialis, b. Dokter

Obtestri, Ginekolog, umum

dokter umum terlatih

terlatih asuhan (asuhan

persalinan normal persalina

dan bidan) n normal)

Bidan

Tim PONEK
c. Pemberian

yang terlatih
pelayanan

persalinan dengan

penyulit (dokter

spesialis Obtestri

Ginekolog)
d. Pemberian a. Dokter

pelayanan Sp.OG

persalinan dengan

b. Dokter
tindakan operasi :

(dokter Sp.OG, Sp.A

Dokter Sp.A, dokter

Sp,An)
100 %
e. Kemampuan

menangani BBLR

<1500gr - 2500 gr

≤20%
f. Pertolongan

Persalinan melalui

seksio cesaria

100%
g. Keluarga Berencana

a. Presentase KB

(vasektomi &

tubektomi) yang

dilakukan oleh

tenaga kompeten

dr.Sp.OG,

dr.Sp.B,dr.Sp.U,dr.

Umum terlatih

100%
b. Presentase peserta

KB mantap yang

mendapat

konseling KB

mantap oleh bidan

terlatih

6
Intensif

a. Rata-rata Pasien ≤3%

yang kembali ke

perawatan intensif
dengan kasus yang

sama < 72 jam

b. Pemberian a. dr Sp.

pelayanan Unit Anestesi

intensif (dokter dan dr

Spesialis, Perawat spesialis

D3 dengan sertifikat sesuai

Perawat Mahir dengan

ICU/setara) kasus

yang

ditangani

100%
b.

perawat

min D3

de

sertifikat

perawat

mahir

ICU /

setara D4
7
Radiologi

≤3 jam
a. Waktu tunggu hasil

pelayanan thorax

foto

Dokter Sp. Rad


b. Pelaksana

ekspertisi (Dokter

Sp.Rad)

Kerusakan poto
c. Kejadian kegagalan

≤2%
pelayanan Rontgen

karena kerusakan

foto

≤3 jam
d. Kepuasan

Pelanggan

Lab. Patologi Klinik

≤140 menit
a. Waktu tunggu hasil

kimia darah &


pelayanan
darah rutin
Laboratorium
Dokter Sp.PK
b. Pelaksanaan

ekstertisi (Dokter

Sp.PK)

100%
c. Tidak adanya

kesalahan

pemberian hasil

pemeriksaan

8
laboratorium

≥80%
d. Kepuasan

pelanggan

9
Rehabilitasi Medik

≤50%
1. Kejadian Drop Out

pasien terhadap

pelayananan

rehabilitasi Medik

yang direncanakan

100%
2. Tidak adanya

kejadian kesalahan

tindakan

rehabilitasi medik

3. Kepuasan ≥80%
Pelanggan

1
Farmasi

1. Waktu tunggu ≤30 menit

pelayanan :

a. Obat jadi

b. Obat racikan ≤60 menit

2. Tidak adanya 100%

kejadian kesalahan

pemberian obat

3. Kepuasan ≥80%

pelanggan

4. Penulisan resep 100%

sesuai formularium

11

Gizi

≥90%
1. Ketepatan waktu

pemberian makanan

kepada pasien

2. Sisa makanan yang ≤20%


tidak termakan oleh

pasien

100%
3. Tidak adanya

kejadian kesalahan

pemberian diet

12
Tranfusi Darah

90% terpenuhi
1. Kebutuhan darah

bagi setiap

pelayanan tranfusi

≤0,01%
2. Kejadian Reaksi

transfusi

13 Pelayanan
Pelayanan Gakin

terhadap pasien

GAKIN yang

datang ke RS

pada setiap unit

pelayanan

14

Rekam Medik

1. Kelengkapan 100%

pengisian rekam

medik 48 jam

setelah selesai

pelayanan
2. Kelengkapan 100%

Informed Concent

setelah mendapat

informasi yang jelas

3. Waktu penyediaan ≤10 menit

dokumen rekam

medik pelayanan

rawat jalan

4. Waktu penyelesaian ≤15 menit

dokumen rekam

medik pelayanan

rawat inap

15
Pengolahan Limbah

1. Baku mutu limbah a. BOD <

cair sesuai standar : 30 mg/I

b. COD <

80 mg/I

c. TSS < 30

mg/I

d. PH 6-9

2. Pengelolaan limbah 100%

padat infeksius

sesuai dengan

aturan

16
Administrasi

Manajemen

1. Tindaklanjut 100%
penyelesaian hasil

pertemuan tingkat

Direksi

2. Kelengkapan laporan 100%

akuntabilitas kinerja

3. Ketepatan waktu 100%

pengusulan kenaikan

pangkat

4. Ketepatan waktu 100%

pengurusan kenaikan

gaji berkala

5. Karyawan yang ≥60%

mendapat pelatihan

minimal 20 jam per-

tahun

6. Cost recovery ≥40%

7. Ketepatan waktu 100%

penyusunan laporan

keuangan

8. Kecepatan waktu ≤2 jam

pemberian informasi

tentang tagihan

pasien rawat inap

9. Ketepatan waktu 100%

pemberian imbalan

(insentif) sesuai

kesepakatan waktu
17
Ambulance / kereta

jenazah

24 jam
1. Waktu pelayanan

ambulance / kereta

Jenazah

≤30 menit
2. Kecepatan

memberikan

pelayanan

ambulance / Kereta

Jenazah di RS

3. Response time -

pelayanan

ambulance oleh

masyarakat yang

membutuhkan

18

Pemulasaran Jenazah

≤2 jam
Waktu tanggap (response

time) pelayanan

pemulasaraan jenazah

19 ≤80%
Pelayanan pemeliharaan

sarana rumah sakit

100%
1. Ketepatan waktu

menanggapi

kerusakan alat
100%
2. Ketepatan waktu

pemeliharaan alat

≤80%
3. Peralatan

Laboratorium dan

alat ukur digunakan

dalam pelayanan

terkalibrasi tepat

waktu sesuai dengan

ketentuan kalibrasi

20

Pelayanan laundry

100%

1. Tidak adanya

kejadian linen yang

hilang

100%

2. Ketepatan waktu

penyediaan linen

untuk ruang rawat

inap

21

Pencegahan &

Pengendalian Infeksi

1. Ada Anggota Tim PPI Anggota Tim


PPI yg terlatih

yang Terlatih

50%

60%

2. Tersedia APD di

setiap Instalasi /

Departemen

75%

3. Kegiatan pencatatan

dan pelaporan infeksi

nosokomial / HAI

(Healt Care

Assosiated Infection)

di RS (minimal 1

parameter)

2.3 PENYUSUNAN ANGGARAN

2.3.1 PENENTUAN DAN ANALISIS BIAYA STANDAR

TARIF RUMAH SAKIT

JENIS TARIF HARGA


Ruangan perawatan dewasa VVIP Rp2.500.000
VIP A Rp1.700.000
VIP B Rp1.500.000
VIP C Rp1.200.000
A Rp1.000.000
B Rp700.000
C Rp500.000
Biaya perawatan UGD - Rp.500.000
Ambulans A Rp350.000
B Rp300.000
C Rp250.000
Biaya Pengobatan Rp50.000-Rp200.000
Cek kesehatan Rp50.000-Rp1.000.000
Jasa Dokter Rp50.000-Rp100.000

2.3.2 PENYUSUNAN RENCANA ANGGARAN AKTIVITAS


TARIF OPERASIONAL
STRUKTUR ORGANISASI RUMAH SAKIT

Wakil direktur medis : Chandra Reza

Wakil direktur Umum : Nada Maulida Nabila

Komite Keperawatan : Chandra Reza

Manajer Kepemimpinan : Dewi Febri

Manajer Personalia : Dewi Wulan Sari

Staff Mutu : Rizky Esa G

Kepala SDM : Rizky Esa

Staff Fasilitas : Dewi Febri

Kepala Jaga : Rizky Esa

Kepala Perawat IGD : Nada Maulida

Kepala Perawat kamar Operasi : Nada Maulida

Kepada ICU : Nada Maulida

Kepala Perawat Umum : Nada Mulida

Kepala Perawat Kebidanan : Nada Maulida

Kepala Perawat Anak : Nada Maulida

Kepala Perawat Perina : Nada maulida Nabila

Kepala Perawat Kebidanan : Nada Maulida Nabila

Kepala Perawat Rawat Jalan : Nada Maulida Nabila


BAB III

SISTEM PENGENDALIAN MANAJEMEN

Tarif Rumah Sakit

JENIS HARGA
Ruangan perawatan dewasa VVIP Rp2.500.000
VIP A Rp1.700.000
VIP B Rp1.500.000
VIP C Rp1.200.000
A Rp1.000.000
B Rp700.000
C Rp500.000
Biaya perawatan UGD - Rp.500.000
Ambulans A Rp350.000
B Rp300.000
C Rp250.000
Biaya Pengobatan Rp50.000-Rp200.000
Cek kesehatan Rp50.000-Rp1.000.000
Jasa Dokter Rp50.000-Rp100.000
Sistem Pengendalian Manajemen

1. Penentuan Harga

Harga jual dari pekerjaan yang dilakukan pada organisasi profesi biasanya ditetapkan secara
tradisional. Tarif biasanya didasarkan pada jam kerja untuk kompensasi dengan tingkat
profesionalnya, ditambah biaya overhead dan laba. Biasanya juga dibebankan biaya tetapnya.

2. Pusat laba dan harga transfer

Organisasi nirlaba biasanya menggunakan pusat laba. Unit pendukung, seperti


pemeliharaan,proses informasi,transformasi, telekomunikasi, percetakan dan sejumlah
material dan jasa, membebankan uang yang dikonsumsinya pada jasa yang diberikannya.

3. Perencanaan strategi dan penganggaran

Pada umumnya, sistem perencanaan strategi dibuat tidak sebaik pada perusahaan manufaktur.
Pada organisasi profesi, asset utamanya adalah orang, dan walaupun terjadi fluktuasi jangka
pendek pegawainya, perubahan ukuran dan kompensasiuntuk stafnya lebih mudah dibuat dan
direvisi dimana perlu.

4. Pengawasan operasi

Perhatian yang besar hendaknya diberikan pada penjadwalanwaktu dan professional tersebut.
The billed time ratio adalah rasio jumlah jam yang dipakai terhadap total jam kerja yang
tersedia dari professional tersebut, diawasi dengan cermat. Ketidakmampuan untuk
menciptakan standar kerja dan ukuran prestasinya, akan membawa dampak terhadap
perencanaan dan pengendalian tugas sehari-hari.

5. Ukuran prestasi dan penghagaan

Kinerja professional cukup mudah dinilai. Namun ada juga kinerja professional yang cukup
sulit dunilai. Untuk beberapa kondisi, ukuran prestasi biasanya tersedia.