Anda di halaman 1dari 10

1

Kegiatan ke 1
Tes Golongan Darah

A. Tujuan Kegiatan
Mahasiswa dapat mengetahui golongan darah sistem ABO dan rhesus
seseorang.

B. Kajian Pustaka
Darah merupakan unsur berupa cairan dalam tubuh manusia, yang
berperan penting dalam mekanisme kerja tubuh yang berfungsi sebagai
medium atau transportasi massal jarak jauh berbagai bahan antara sel dan
lingkungan eksternal atau antara sel-sel itu sendiri, dimana transportasi
samacam itu penting untuk memelihara homeostatis. Darah berperan dalam
homeostatis atau keseimbangan, berfungsi sebagai medium untuk membawa
berbagai bahan ke dan dari sel, menyangga perubahan pH, mengangkut
kelebihan panas ke permukaan tubuh untuk di keluarkan, berperan penting
dalam sistem perubahan tubuh, dan memperkecil kehilangan darah apabila
terjadi kerusakan pada pembuluh darah. Berat darah rata-rata pada manusia
adalah 8% dari berat tubuhnya, pada laki-laki sekitar 5,5 liter sedangkan pada
perempuan adalah 5 liter ini dikarenakan berat tubuh laki-laki lebih berat dari
wanita (Andriyanto, 2011: 1).
Darah berupa jaringan cair meliputi plasma darah (cairan intersellulair,
55%) yang di dalamnya terdapat sel-sel darah (unsur padat, 45%). Volume
darah secara keseluruhan berkisar 1/12 dari berat badan. Secara fisiologis
volume darah adalah tetap (homeostatik) dan diatur oleh tekanan osmotik
koloid dari protein dalam plasma dan jaringan (Siswanto, 2017: 7).
Darah adalah kendaraan untuk transport masal jarak jauh dalam tubuh
untuk berbagai bahan antara sel dan lingkungan eksternal antara sel-sel itu
sendiri. Darah terdiri dari cairan kompleks plasma tempat elemen selular
diantaranya eritrosit, leukosit, dan trombosit. Eritrosit (sel darah merah) pada
2

hakikatnya adalah kantung hemogoblin terbungkus membran plasma yang


mengangkut O2 dalam darah (Fitriyadi, 2016: 1).
Darah merupakan bagian penting pada system transportasi di dalam
tubuh manusia. Darah adalah cairan yang bersirkulasi melewati jantung,
pembuluh arteri, vena dan kapiler. Darah membawa nutrisi, elektrolit,
hormon, vitamin, antibody, serta oksigen untuk jaringan tubuh dan
membawa sisa yang tidak berguna dan karbon dioksida (CO2) ke organ-
organ pembuangan. Berikut Gambar 1. memperlihatkan darah dengan
komponen lengkap (sel dan plasma) (Andiani, 2013: 292).
Golongan darah ABO pada manusia ditentukan berdasarkan jenis
antigen dan antibodi yang terkandung dalam darahnya. Pemeriksaan
golongan darah untuk mendeteksi keberadaan antigen di permukaan
membran sel darah merah dengan cara mereaksikan darah manusia dengan
anti A dan anti B. Golongan darah merupakan sistem pengelompokkan
darah yang didasarkan pada jenis antigen yang dimilikinya. Antigen dapat
berupa karbohidrat dan protein (Rahman, 2019: 77-78).
Darah itu terdiri dari dua komponen, yaitu sel-sel antara lain
eritrosit dan lekosit dan cairan (plasma). Plasma dikurangi fibrinogen
(protein untuk pembekuan darah) merupakan serum. Dalam abad 18 pada
waktu mulai dilakukan transfusi darah teqjadilah kematian pada resipien
(penerima darah) tanpa diketahui sebab-sebabnya. Akan tetapi Dr. Karl
Landsteiner dalam tahun 1901 yang bekerja di laboratorium di Wina
menemukan bahwa sel-sel darah merah (eritrosit) dari beberapa individü
akan menggumpal (beragglutinasi) dalanı kelompok-kelompok yang dapat
dilihat dengan mata telanjang, apabila dicampur dengan serum dari
bebcrapa orang, tetapi tidak dengan semua orang. Kemudian diketahui
bahwa dasar dari mcnggumpalnya eritrosit tadi ialah adanya reaksi antigen-
anlibodi. Apabila suatu substansi asing (disebut antigen) disuntikkan ke
(lalam aliran darah dari seekor hewan akan mengakibatkan terbcntuknya
antihodi tertentu yang akan bereaksi dengan antigen (Suryo, 2011: 338-
339).
3

Golongan darah tidak hanya sebagai identitas individu saja tetapi


memiliki fungsi yang sangat penting bagi manusia. Tipe golongan darah
berperan penting dalam beberapa prosedur medis terutama dalam
pemberian transfusi darah, meskipun perlakuan uji silang atau crossmatch
harus tetap dilakukan untuk kesesuaian antara donor dan resipien. Selain
itu dengan semakin berkembangnya penelitian tentang fungsi golongan
darah, jenis golongan darah juga dapat digunakan dalam proses
pengambilan keputusan tentang genetik, kesehatan, diet dan penentuan
sifat serta karakteristik manusia yang dapat dikembangkan dalam berbagai
tipe golongan darah (Handono, 2017: 16).
Dalam sistem golongan darah ABC, tiap orang dengan golongan
darah ABO apapun, dalam permukaan membran selnya terdapat senyawa
precursor berupa glikoprotein atau glikolipid dengan empat molekul
monosakarida yang menempel pada protein atau lipid membran sel.
Adanya pengaruh enzim pemindah gugus fukosa pada monosakarida
terujung, molekul precursor ini akan berubah menjadi senyawa H sebagai
antigen sel darah merah orang bergolongan darah O. Senyawa H sebagai
penentu antigen golongan darah O ternyata juga dijumpai di membran
eritrosit orang bergolongan darah A, B dan AB. Hal ini dimungkinkan
karena ternyata antigen A maupun antigen B terbentuk akibat penambahan
satu gugus monosakarida lagi pada senyawa H (Sofro, 2012: 15).
Menurut Sutanta (2019, 112) landsteiner membagi darah ke dalam
4 golongan, yaitu:
Golongan Darah Aglutinogen eritrosit Aglutinin serum
AB A dan B -
A A BETA
B B ALFA
O - ALFA BETA
Golongan darah yang sama jika dicampurkan tidak menimbulkan
penggumpalan oleh karena kedua darah itu mempunyai aglutinogen dan
agluinin yang serupa. Golongan darah O mempunyai aglutinin alfa beta tetapi
tidak mempunyai aglutinogen. Dengan demikian, jika diberikan pada darah
4

yang golongan AB dan A-B tidak akan menimbulkan penggumpalan, sehingga


orang yang mempunyai golongan darah O disebut general donor atau pemberi
darah umum (Sutanta, 2019: 113).
Golongan darah ABO pada manusia ditentukan berdasarkan jenis
antigen dan antibodi yang terkandung dalam darahnya, yaitu golongan darah A
memiliki sel darah merah dengan antigen A dipermukaan eritrositnya dan
menghasilkan antibodi terhadap antigen B dalam serum darahnya. Golongan
darah B memiliki antigen B di permukaan eritrositnya dan menghasilkan
antibodi terhadap antigen A dalam serum darahnya. Golongan darah AB
memiliki sel darah merah dengan antigen A dan B di permukaan eritrositnya
serta tidak menghasilkan antibodi terhadap antigen A maupun antigen B dalam
serum darahnya. Sedangkan golongan darah O memiliki sel darah tanpa
antigen, tetapi dalam serumnya terdapat antibodi terhadap antigen A dan B
(Rahman, 2019: 78-79).
Sel darah terdiri dari sel darah merah, sel darah putih dan trombosit. Sel
darah merah berbentuk cakram berlubang dengan panjang 8 m dan lebar 3 m.
Sel ini tidak memiliki nucleus (inti sel) dan hidup selama 120 hari.
Kapasitasnya berkisar 4,5 x 106 sampai 5,5 x 106 cells/mm3. didalam sel darah
merah ini terdapat hemoglobin. Oksigen dari alveolus paru-paru masuk ke
aliran darah dan bereaksi secara kimiawi dengan hemoglobin dan membentuk
oxyhemoglobin. Sel darah merah mengangkut jaringan dan menarik
karbondioksida untuk membentuk carbaminohemoglobin. Sel darah putih
merupakan sel yang menyerupai amoeba bentuknya berubah-ubah, berdiameter
10mm dan memiliki nucleus. Masa hidupnya sekitar 13-20 hari dan
kapasitasnya sebesar 6x103 sampai 10x103 cells/mm3. sel ini menghasilkan
getah bening untuk menghancurkan bakteri asing yang merusak tubuh seperti
racun (toxin). Secara spesifik sel ini membentuk antibody. Trombosit adalah sel
berfragmen diameter 3 mm yang tidak memiliki nucleus dengan kapasitasnya
berkisar 200 x 103 sampai 800 x 103 cells/mm3 sel ini menghasilkan zat
perbaikan yang berguna untuk pembekuan darah (Andiani, 2013: 293).
5

Suatu antibodi itu sangat spesifik untuk antigen tertentu. Terbentuknya


antibodi demikian itu tergantung dari masuknya antigen asing. Selain dengan
cara demikian, antibodi itü tidak akan dibentuk. Sistem demikian itu
merupakan dasar dari imunisasi maupun untuk reaksi alergi. Sebaliknya ada
pula antibodi yang dibentuk secara alamiah di dalam darah, meskipıın antigen
yang bersangkutan tidak ada. Antibodi alamiah inilah yang menganıbil peranan
dalam golongan darah manusia, terutama dalam golongan darah A, B, AB dan
O yang amat penting (Suryo, 2011: 339).
Menurut Suryo (2011, 339) tergantung dari sifatnya antigen dan
antibodinya dapat dibedakan:
1. Antitoksin, ialah antibodi yang mempunyai daya menetralisir antigen
yang bersifat sebagai racun, seperti yang dihasilkan oleh typhoid, kolera,
staphylococcus dan bakteri lainnya serta racun ular.
2. Lisin, ialah antibodi yang merusak apabila antigen yang maşuk adalah
berupa sel-sel.
3. Agglutinin, ialah antibodi yang mcnyebabkan penggumpalan (agglutinasi)
dari sel-sel.
Antisera atau antigen yang dipakai pada penentuan jenis golongan darah
ini adalah :antisera A dengan warna biru dan antisera B dengan warna
kuning.dalam sel darah manusia terdapat aglutinogen yang jika di tetesi dengan
antisera akan menghasilkan penggumpalan. Hal ini terjadi karena di dalam
antisera terdapat aglutinin yang sifatnya menggumpalkan aglutinogen. Gambar
2 akan meng-gambarkan ilustrasi antigen yang terjadi pada suatu golongan
darah (Andiani, 2013: 293).
Dikatakan bahwa antigen atau agglutinogen yang dibawa oleh eritrosit
orang tertentu dapat mengadakan reaksi dengan zat anti atau antibodi atau
agglutinin yang dibawa oleh serum darah. Dikenal dua antigen yaitu antigen-A
dan antigen-B, sedangkan zat antinya dibedakan atas anti-A dan anti-B. Orang
ada yang memiliki antigen-A, lain Lagi memiliki antigen-B Ada juga yang
memiliki kedua antigen, yaitu antigen-A dan antigen-B, sedangkan ada pula
yang tidak memiiiki antigen-A maupun antigen B (Suryo, 2013: 255).
6

Gambar: Golongan Darah Sistem ABO


Sumber: academia.edu
Individu dengan golongan darah A cenderung mengalami kesulitan
mencerna vitamin B12. Hal ini disebabkan faktor intrinsik yaitu zat yang
dihasilkan oleh dinding lambung untuk membantu penyerapan vitamin B12 ke
dalam darah. Asupan vitamin B12 dipenuhi dari konsumsi protein hewani.
Kekurangan vitamin B dapat berpengaruh terhadap tingginya kadar kolesterol
dalam darah, karena vitamin B mampu menurunkan kadar kolesterol (Murni,
2019: 13).
Golongan darah ABO memberikan pengaruh besar pada hemostasis dan
menjadi penentu utama konsentrasi plasma faktor von Willebrand (VWF),
peran VWF dalam hemostasis, apabila kadarnya terlalu rendah dapat
menimbulkan perdarahan, namun bila kadarnya cukup tinggi dapat
menimbulkan trombosis. Hemostasis merupakan suatu mekanisme pertahanan
tubuh yang penting dalam menghentikan perdarahan pada pembuluh darah
yang luka. Hemostasis dan koagulasi merupakan rangkaian kompleks reaksi
yang mengakibatkan pengendalian perdarahan melalui pembentukan trombosit
dan bekuan fibrin pada tempat cedera. Mekanisme hemostasis mempunyai dua
fungsi primer yaitu untuk menjamin bahwa sirkulasi darah tetap cair ketika di
dalam pembuluh darah, dan untuk menghentikan perdarahan pada pembuluh
darah yang luka. Hemostasis normal tergantung pada keseimbangan yang baik
dan interaksi yang kompleks antara komponen pembuluh darah, trombosit,
7

faktor koagulasi, sistem fibrinolisis, dan inhibitor untuk menjaga fluiditas


darah pada keadaan normal (Murni, 2019: 14-15).
Menurut Sutanta ( 2019: 107) secara umum fungsi darah manusia antara
lain:
1. Sebagai pengangkut, yaitu:
a. Mengambil oksigen atau zat pembakaran dari paru-paru untuk diedarkan
keseluruh jaringan tubuh.
b. Mengeluarkan karbondioksida dari jaringan untuk dikeluarkan melalui
paru-paru.
c. Mengambil zat-zat makanan dari usus halus untuk diedarkan dan
dibagikan keseluruh jaringan atau alat tubuh.
2. Sebagai pertahanan tubuh terhadap serangan bibit penyakit dan racun yang
akan dihancurkan tubuh dengan perantara leukosit, antibody atau zat
antiracun.
3. Sebagai penyebar panas ke seluruh tubuh.
Menurut Siswanto (2017: 7-8) fungsi darah yang terpenting di antaranya
adalah :
a. Sebagai alat transportasi, misalnya membawa dan mengantarkan zat-zat
makanan (nutrisi) dan bahan kimia dari saluran pencernaan ke jaringan
tubuh yang memerlukannya. Mengantarkan oxigen dari paru-paru ke
jaringan tubuh. Membawa keluar hasil-hasil buangan metabolisme (waste
product metabolit) dan CO2 dari jaringan ke organ-organ ekskresi misalnya
ginjal dan paru. Mengangkut hasil sekresi kelenjar endokrin (hormon) dan
enzime dari organ ke organ.
b. Mempertahankan keseimbangan air dalam tubuh, sehingga kadar air tubuh
tidak terlalu tinggi/rendah (homeostasis).
c. Mempertahankan temperatur tubuh, karena darah mempunyai panas spesifik
yang tinggi.
d. Mengatur pH tubuh (keseimbangan asam dan basa) dengan jalan mengatur
konsentrasi ion hydrogen.
8

e. Sebagai alat pertahanan tubuh terhadap mikro-organisme (oleh


leucocyte/butir darah putih). Pada dasarnya fungsi darah sebagai alat
penyelenggaraan lingkungan internal atau matrix cairan yang tetap dan ini
disebut sebagai homeostasis.
Transfusi darah adalah memasukkan darah seseorang ke dalam
tubuh orang lain melalui pembuluh darah vena diakrenakan suatu
kebutuhan. Jika ke dalam darah manusia dimasukkan sel-sel darah binatang
maka sel darah tersebut tidak akan lama beredar tetapi akan berkumpul dan
akhirnya mengendap. Peristiwa ini disebut aglutinin atau penggumpalan
yang mengakibatkan pembuluh darah tersumbat dan dapat membahayakan
bahkan mematikan (Sutanta, 2019: 112).
Mengikuti penemuan Landsteiner tentang penggumpalan sel-sel
darah merah dan pengertian tentang reaksi antigen-antibodi, maka
penyelidikan selanjutnya memberi penegasan mengenai adanya dua
antibodi alamiah di dalam serum darah dan dua antigen pada permukaan
dari eritrosit. Seseorang dapat membcntuk salah satu atau kedua antibodi
itü atau sama sekali tidak membcntuknya. Demikian pula dengan
antigennya. Dua antigen itü disebut antigen-A dan antigen-B, sedangkan
dua antibody itu disebut anti-A (atau a) dan anti-B. Melalui tes darah maka
setiap orang dapat mcngetahui golongan darahnya (Suryo, 2011: 339).

C. Alat dan Bahan


1. Alat
9

a. Kaca Objek 1 buah


b. Blood Lancet 1 buah
c. Lancing device 1 unit
d. Tusuk gigi 3 buah
e. Kertas label 1 lembar
2. Bahan
a.Serum anti-A
b. Serum anti -B
c.Serum anti-AB
d. Serum anti-D(anti-Rhesus)

D. Cara Kerja
1. Kaca objek dan Blood lancet yang sudah dibersihkan dengan alkohol 70%
disiapkan. Setiap anak harus menggunakan kaca objek dan Blood lancet
yang berbeda, tidak boleh dipakai secara bergantian.
2. Salah satu jari (biasanya jari tengah) dibersihkan dengan kapas yang
dibasahi dengan alkohol 70% dan ditusuk ujung jari tersebut dengan
menggunakan Blood lancet, kemudian dipijat-pijat ujung jari agar darah
mudah keluar.
3. Darah diteteskan pada 2 kaca objek masing-masing di 2 titik dengan jarak
tidak terlalu berdekatan. Ujung jari bekas tusukan dibersihkan dengan
alkohol 70% agar tidak terkena infeksi.
4. Kaca objek berjumlah dua buah diberi label nama pada masing –masing di 2
titik tersebut . Label pertama anti-A,label kedua anti-B, label ketiga anti-
AB, dan label keempat anti-D.
5. Serum anti-A ,anti-B, anti-AB dan anti-D diteteskan pada masing-masing
tetesan darah kemudian diaduk menggunakan tusuk gigi dengan gerak
memutar. Tusuk gigi yang digunakan harus berbeda agar tidak tercampur
dengan serum lainnya.
6. Darah diamati dengan cermat, diperhatikan ada atau tidaknya gumpalan.
10

7. Tipe golongan darah ditentukan berdasarkan hasil analisis reaksi


penggumpalan dan dicatat datanya ke dalam tabel.