Anda di halaman 1dari 8

p-ISSN : 2088-8201 e-ISSN : 2598-2982

AKSESBILITAS BAGI DIFABEL PADA BANGUNAN MASJID

Awik Retyaka A¹, Dwi Aries Himawanto²


Pascasarjana Pendidikan Luar Biasa Universitas Sebelas Maret,
Prodi Teknik Mesin Fakultas teknik Universitas Sebelas Maret
Email : ¹awik.retyaka@gmail.com ; ²dwiarieshimawanto@gmail.com

ABSTRAK
Klaten adalah salah satu kota yang menggemakan sebagai kota inklusi. Kota ini masih dalam
proses pembangunan dalam melengkapi sarana dan prasarana yang aksesibel bagi kaum difabel.
Fasilitas pada bangunan- bagunan umum untuk kaum difabel sudah dibangun walaupun masih
belum bisa dikatakan sempurna. Pada bangunan masjid Agung Al Aqsa Klaten fasilitas telah
menerapkan bangunan aksesbilitas untuk kaum difabel. Oleh karena itu untuk mengetahui sejauh
mana tingkat aksesbilitas bangunan bagi kaum difabel sesuai standar kebutuhan aksesbilitas.
Untuk itu peneliti melakukan observasi lokasi dengan menggunakan alat ukur,dan kamera serta
dilakukan wawancara tak terstruktur pada pengurus masjid. Dari kajian ini bahwa terdapat sarana
aksesbilitas pada bangunan masjid Agung Al Aqsa belum cukup aksesibel untuk diakses oleh
penyandang difabel karena sarana aksesbilitas pada bangunan masjid Agung Al Aqsa belum
memenuhi prinsip- prinsip desain yang sebagaimana mestinya dan Permen PU 30/ PRT/M/ 2006.
Kata Kunci : Aksesbilitas, Difabel, Masjid

ABSTRACT
Klaten is one of the cities that echo the city of inclusion. The city is still in the process of
development in equipping accessible facilities and infrastructure for people with disabilities.
Facilities in public buildings for disabled people have been built, although still not perfect. At the Al
Aqsa Grand Mosque building Klaten facility has implemented building accessibility for the disabled.
Therefore, to know the extent of the accessibility level of buildings for people with disabilities
according to the standard needs of accessibility. For that researchers do location observation using
measuring instruments, and cameras and conducted unstructured interviews on the board of the
mosque. From this study that there is accessibility facility in Al Aqsa mosque building not yet
accessible enough to be accessed by persons with disabilities because accessibility facility in Al
Aqsa Grand Mosque building has not fulfill the proper design principles and Permen PU 30 / PRT /
M / 2006.
Keywords: Accessibility, Disabled, Mosque

Awik Retyaka Afudaniati, Dwi Aries Himawanto, Aksesbilitas bagi Difabel 137
pada Bangunan Masjid
Jurnal Arsitektur, Bangunan, & Lingkungan | Vol.7 No.3 Juli 2018 : 137-144

1. PENDAHULUAN “stressed that the persons with


Saat ini kebutuhan aksesbilitas disabilities face challenges which
penyandang difabel dalam bangunan impact on their ability to accomplish
umum termasuk di dalamnya adalah daily activities such as moving
masjid mempunyai hak yang sama dengan around, communicating and fulfilling
individu normal. Hak untuk meningkatkan social roles and the social
kualitas dan kemandirian bagi penyandang participation assumes individuals with
berkebutuhan khusus seharusnya sudah disabilities live within their community
terpenuhi. Tetapi kenyataan di lapangan and interact with others”.
menunjukkan kondisi masih minimnya Yang artinya kaum difabel
fasilitas aksesbilitas pada tempat ibadah menghadapi tantangan yang berdampak
khususnya masjid. pada kemampuan mereka untuk mencapai
Masjid merupakan salah satu aktivitas sehari-hari seperti bergerak,
fasilitas yang sangat penting bagi orang berkomunikasi dan memenuhi peran sosial
muslim untuk menunaikan kewajibannya dan partisipasi sosial mengasumsikan
baik bagi individu normal maupun individu individu penyandang cacat tinggal di dalam
penyandang difabel. Menurut Sucipto komunitas mereka dan berinteraksi dengan
(2014) dalam Puteri dkk (Agustus,2016) orang lain. Sehingga ini berarti
Masjid tidak hanya berfungsi sebagai penyandang difabel sangat membutuhkan
tempat beribadah, namun memiliki fungsi fasilitas yang aksesibel pada fasilitas
lain, seperti fungsi sosial, pendidikan, dan umum seperti masjid untuk memenuhi
ekonomi. Fungsi masjid dengan peran dan partisipasi social mereka.
bertambahnya waktu akan semakin Aksesibilitas dalam kajian ini
berkembang karena banyak aktivitas yang difokuskan pada aksesbilitas difabel
dapat dilakukan di masjid. Sehingga dengan hambatan fisik anggota tubuh baik
semakin berkembangnya fungsi masjid lansia, pengguna kursi roda dan individu
akan bertambahnya pengunjung dari yang memiliki hambatan fisik pada anggota
masjid tersebut baik dengan tujuan untuh geraknya.
beribadah, wisata, pendidikan, sosial dan Penelitian terkait dengan
lain- lain. aksesibilitas pada tempat ibadah juga telah
Aksesibilitas menurut Permen PU beberapa kali dilakukan. Penelitian
30/ PRT/M/ 2006; Perda kabupaten klaten dilakukan oleh Maftuhin (2014) dengan
no. 2 tahun 2011; adalah kemudahan yang judul Aksesibilitas Ibadah bagi difabel:
disediakan bagi difabel guna mewujudkan Studi atas empat masjid di Yogyakart ;
kesamaan hak dan kesempatan dalam Puteri,dkk (Agustus, 2016) dengan judul
segala aspek kehidupan dan penghidupan. Aktivitas Sosial di Area Masjid Salman ITB
Asas aksesbilitas dalam Permen PU dan Pengaruhnya terhadap Layout;
30/ PRT/M/ 2006 diantaranya keselamatan, Kurniawan (2017) Komparasi Ergonomi
kemudahan, kegunaan, kemandirian. Ruang Wudhu Masjid Jami’ Al-Karim
Accessible congregations atau Pesanggrahan dan Masjid Ash Shaff
aksesibilitas ibadah adalah istilah yang Emerald Bintaro; Ramli (2017)
digunakan untuk menyebut tempat ibadah Accessibility of Facilities Provision
yang secara fisik, komunikasi, dan sikap for Person with Disabilities in Mosque. Oleh
bisa diakses dengan mudah oleh para karena itu, penulis ingin mengetahui sejauh
penyandang disabilitas (Maftuhin, 2014) mana perkembangan bangunan masjid
Penyandang Disabilitas atau difabel yang aksesibel bagi kaum difabel di Masji
menurut UU No 8 Tahun 2016 Pasal 1 Agung Al Aqsa Klaten. Masijid ini dipilih
adalah setiap orang yang mengalami karena pembangunannya masih belum
keterbatasan fisik, intelektual, mental, lama dilakukan dan sudah terdapat konsep
dan/atau sensorik dalam jangka waktu aksesibilitas pada bangunan masjid ini.
lama yang dalam berinteraksi dengan Prinsip desain bangunan aksesibel
lingkungan dapat mengalami hambatan untuk bangunan umum sebenarnya telah
dan kesulitan untuk berpartisipasi secara diatur oleh Permen PU 30/ PRT/M/ 2006
penuh dan efektif dengan warga negara dan beberapa standar desain yang
lainnya berdasarkan kesamaan hak. dikemukakan oleh ahlinya. Pada kasus ini
Seperti yang dikemukakan Swaine saya mengambil referensi dari Permen PU
(2014) dalam Ramli (2017) : 30/ PRT/M/ 2006, dan standar
perancangan tempat wudhu dan tata ruang

Awik Retyaka Afudaniati, Dwi Aries Himawanto, Aksesbilitas bagi Difabel 138
pada Bangunan Masjid
p-ISSN : 2088-8201 e-ISSN : 2598-2982

masjid oleh Purwoko. Fasilitas dalam tepi pengaman dibuat setinggi minimum 10
kajian ini dikhususkan pada area luar yang cm dan lebar 15 cm sepanjang jalur
terbagi menjadi dua area yaitu area pedestrian.
pesdestrian dan area parker sedangkan Pada Masjid Agung Al Aqsa Klaten
untuk area dalam dibagi menjadi pintu jalur pedestrian dilihat dari tekstur
masuk, ram, tangga, lif, toilet, wastafel, permukaannya dan ketinggian jalur
dan tempat wudhu. pedestrian sudah dibuat sesuai, disediakan
area untuk istirahat, bebas dari pohon dan
2. METODOLOGI tiang rambu- rambu. Namun lebar jalur
Metode yang digunakan yaitu pedestrian ini masih kurang dari 120 cm,
kualitatif deskriptif Penelitian ini bertujuan dan belum ada tepi pengaman pada area
untuk mendeskripsikan keadaan ini.
aksesbilitas di fasilitas umum yaitu masjid.
Tempat penelitian yang digunakan sebagai
objek penelitian adalah Masjid Agung Al
Aqsa. Teknik pengambilan data dengan
observasi terstruktur serta wawancara
tidak terstruktur kepada pengelola masjid.
Data dianalisis secara deskriptif. Gambar 1. Jalur pedestrian di area
masjid Agung Al Aqsa Klaten
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian ini dilakukan di Masjid 3.3 Area Parkir
Agung Al Aqsa Klaten yang terletak di Menurut Permen PU 30/ PRT/M/
kawasan Klaten Utara tepatnya di Jl. Jogja 2006 persyaratan area parkir antara lain :
- Solo, Jonggrangan, Klaten Utara, tempat parkir penyandang cacat terletak
Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Penulis pada rute terdekat menuju bangunan/
memilih Masjid Agung Al Aqsa Klaten fasilitas yang dituju, dengan jarak
karena masjid ini termasuk bangunan baru maksimum 60 meter; jika tempat parkir
dan masjid terbesar di kota Klaten. Masjid tidak berhubungan langsung dengan
ini sering dikunjungi karena bangunan, maka tempat parkir harus
kemegahannya, desain arsitektur masjid diletakkan sedekat mungkin dengan pintu
yang menarik dan letaknya yang strategis. gerbang masuk dan jalur pedestrian; area
Bangunan masjid ini dibangun mulai tahun parkir harus cukup mempunyai ruang
2012 hingga sekarang masih dalam proses bebas di sekitarnya sehingga pengguna
pembangunan. Masjid ini berdiri di atas berkursi roda dapat dengan mudah masuk
lahan seluas 5.266 meter persegi. dan keluar dari kendaraannya; area parkir
khusus penyandang cacat ditandai dengan
3.2 Pedestrian simbol tanda parkir penyandang cacat
Persyaratan area pedestrian yang berlaku; pada lot parkir penyandang
menurut Permen PU 30/ PRT/M/ antara cacat disediakan ramp trotoir di kedua sisi
lain : permukaan jalan harus stabil, kuat, kendaraan; ruang parkir mempunyai lebar
tahan cuaca, bertekstur halus tetapi tidak 370 cm untuk parkir tunggal atau 620 cm
licin; hindari sambungan atau gundukan untuk parkir ganda dan sudah dihubungkan
pada permukaan, kalaupun terpaksa ada, dengan ramp dan jalan menuju fasilitas-
tingginya tidak lebih dari 1,25 cm; fasilitas lainnya. Daerah menaik-turunkan
kemiringan maksimum 7° dan pada setiap penumpang dilengkapi dengan fasilitas
jarak 9 m disarankan terdapat ramp, jalur pedestrian dan rambu
pemberhentian untuk istirahat; area penyandang cacat, kemiringan maksimal
istirahat, terutama digunakan untuk 5° dengan permukaan yang rata di semua
membantu pengguna jalan penyandang bagian; diberi rambu penyandang cacat
cacat; lebar minimum jalur pedestrian yang biasa digunakan untuk
adalah 120 cm untuk jalur searah dan 160 mempermudah dan membedakan dengan
cm untuk dua; arah. Jalur pedestrian harus fasilitas serupa bagi umum.
bebas dari pohon, tiang rambu-rambu dan Pada area parkir masjid ini terbagi
benda-benda pelengkap jalan yang menjadi dua area yaitu area untuk parkir
menghalang; tepi pengaman penting bagi roda dua, dan area parkir roda empat atau
penghentian roda kendaraan dan tongkat lebih. Jarak area parkir ini bervariasi parkir
tuna netra 139ea rah area yang berbahaya; roda dua ada di samping masjid memiliki

Awik Retyaka Afudaniati, Dwi Aries Himawanto, Aksesbilitas bagi Difabel 139
pada Bangunan Masjid
Jurnal Arsitektur, Bangunan, & Lingkungan | Vol.7 No.3 Juli 2018 : 137-144

jarak dari bangunan 10 m- 15 m 120 cm dengan tepi pengaman, muka


sedangkan untuk area parkir roda empat datar pada awalan dan akhiran ram bebas
atau lebih jaraknya bervariasi karena area dan datar, permukaan datar awalan atau
parkir untuk roda empat ini disediakan di akhiran ram mempunyai tekstur, lebar tepi
berbagai sudut yaitu depan dan samping pengaman ram 10 cm, ram harus
masjid yang memiliki jarak 10m hingga dilengkapi dengan pegangan rambatan
lebih dari 60 m. Masjid ini belum (Permen PU 30/ PRT/M/ 2006 )
menyediakan area parkir khusus untuk
penyandang difabel, belum tersedianya
ramp dari area parkir menuju bangunan
masjid. Namun area parkir pada Masjid ini
sudah sangat memadai dari segi luasnya.

Gambar 2. Area parkir di area masjid


Agung Al Aqsa Klaten
Gambar 3. Desain RAM yang aksesibel
3.4 Pintu Sumber : Permen PU 30/ PRT/M/ 2006
Pintu masuk yang lebar dan mudah
diakses memudahkan bagi semua orang Masjid agung Al Aqsa adalah salah
yang akan melewatinya. Menurut Permen satu masjid yang menyediakan fasilitas
PU 30/ PRT/M/ 2006 kriteria pintu yang ramp baik di area pintu masuk masjid ada
digunakan untuk menganalisis bangunan 2 ramp dan di area dalam masjid ada 6
masjid Agung Al Aqsa antara lain : pintu ramp yang menghubungkan pintu masuk,
pagar ke tapak bangunan harus mudah tempat wudhu atau toilet, tempat sholat,
dibuka dan ditutup oleh penyandang cacat, dan ruang- ruang di dalam masjid. Lebar
pintu keluar/masuk; pintu utama memiliki dan panjang ramp sudah aksesibel jika
lebar bukaan minimal 90 cm, dan pintu- dilewati oleh pengguna kursi roda. Ramp
pintu yang kurang penting memiliki lebar juga telah dilengkapi dengan pegangan
bukaan minimal 80 cm, daaerah sekitar rambatan. Hanya saja tingkat kemiringan
pintu masuk sedapat mungkin dihindari ramp lebih dari 7º, sehingga kurang
adanya ramp atau perbedaan ketinggian aksesibel bagi penyandang difabel.
lantai, penggunaan bahan lantai yang tidak
licin di sekitar pintu, plat tendang yang
diletakkan di bagian bawah pintu
diperlukan bagi pengguna kursi roda.
Pada bangunan masjid Al Aqsa
belum tersedia plat tendang pada berbagai
pintu masuk di masjid yang menyebabkan
pintu di masjid ini kurang aksesibel bagi
penyandang difabel. Sedangkan kriteria
lainnya sudah terpenuhi.

Gambar 3. RAM di masjid Agung Al


Aqsa Klaten

Gambar 3. Area parkir di area masjid 3.6 Tangga


Agung Al Aqsa Klaten Menurut Permen PU 30/ PRT/M/
2006 dalam pembangunan tangga harus
3.5 Ramp memiliki dimensi pijakan dan tanjakan yang
Persyaratan dalam pembangunan berukuran seragam, harus memiliki
ram tidak boleh lebih dari 7º, panjang ram kemiringan tangga kurang dari 60°, tidak
dengan kemiringan tersebut tidak boleh terdapat tanjakan yang berlubang yang
lebih dari 900 cm, lebar minimum ram dapat membahayakan pengguna tangga,
adalah 95 cm tanpa tepi pengaman dan

Awik Retyaka Afudaniati, Dwi Aries Himawanto, Aksesbilitas bagi Difabel 140
pada Bangunan Masjid
p-ISSN : 2088-8201 e-ISSN : 2598-2982

harus dilengkapi dengan pegangan rambat dengan panel huruf braille (tanpa
(handrail), pegangan rambat harus mudah mengganggu panel biasa).
dipegang dengan ketinggian 65- 80 cm dari - Ruang lift : ukuran ruang lift harus
lantai, bebas dari elemen konstruksi yang dapat memuat pengguna kursi roda,
mengganggu, dan bagian ujungnya harus mulai dari masuk melewati pintu lift,
bulat atau dibelokkan dengan baik ke arah gerakan memutar, menjangkau panel
lantai, dinding atau tiang, pegangan rambat tombol dan keluar melewati pintu lift.
harus ditambah panjangnya pada bagian Ukuran minimal ruang lift adalah
ujung-ujungnya (puncak dan bagian 140cm x 140cm dan ruang lift harus
bawah) dengan 30 cm, untuk tangga yang dilengkapi dengan pegangan rambat
terletak di luar bangunan, harus dirancang menerus pada ketiga sisinya serta
sehingga tidak ada air hujan yang dilengkapi dengan dinding lift yang
menggenang pada lantainya. bersebrangan dengan pintu lift dapat
memantulkan bayangan
- Pintu lift : waktu minimum bagi pintu lift
untuk tetap terbuka karena menjawab
panggilan adalah 3 detik, mekanisme
pembukaan dan penutupan pintu harus
sedemikian rupa sehingga harus
dilengkapi dengan sensor photo-
electric.
Gambar 4. Desain tangga yang
aksesibel Dilihat dari persyaratan
Sumber : Permen PU 30/ PRT/M/ 2006 pembangunan lift yang aksesibel di atas,
lift yang dimiliki masjid Agung al Aqsa
Masjid Agung Al Aqsa telah memiliki belum aksesibel bagi penyandang difabel
beberapa tangga, di area luar bangunan karena dilihat dari aspek koridor dan pintu
ada 2 tangga di samping bangunan masjid lift masih belum memenuhi beberapa
dan 1 tangga di bagian depan masjid. aspek persyaratan sedangkan dilihat dari
Sedangkan untuk di area dalam masjid ada aspek ruang lift belum memenuhi semua
4 tangga kecil menuju toilet dan tempat aspek persyaratan yang dikemukakan
wudhu 3 tangga samping yang dalam Permen PU 30/ PRT/M/ 2006.
menghubungkan antar lantai dan 1 tangga
utama yang menghubungkan lantai satu ke
lantai dua. yang cukup aksesibel karena
telah memenuhi beberapa persyaratan
pembangunan tangga dari Permen PU 30/
PRT/M/ 2006.

3.6. Lift Gambar 5. Lift tampak luar dan tampak


Persyaratan lift yang digunakan dalam di masjid Agung Al Aqsa Klaten
menurut Permen PU 30/ PRT/M/ 2006
terbagi menjadi tiga bagian yaitu :
- Koridor/lobby lift : ruang perantara 3.7. Toilet
yang digunakan untuk menunggu Toilet memiliki ruang gerak yang
kedatangan lift dan mewadahi cukup untuk masuk dan keluar pengguna
penumpang yang baru keluar dari lift kursi roda, memiliki sirkulasi horizontal
harus disediakan. lebar dengan (lebar koridor 180 cm, tinggi pintu 200 cm,
minimal 185 cm, perletakan tombol dan lebar pintu, 100 cm) dan dari segi sirkulasi
layar tampilan yang mudah dilihat den vertikal lebar dan tinggi pijakan yang
dijangkau, panel luar yang berisikan sesuai bagi penyandang difabel. Toilet
tombol lift harus dipasang di tengah- dilengkapi pegangan rambatan, bahan
tengah ruang lobby lift dengan material lantai tidak licin, pintu mudah
ketinggian 90-110 cm dari muka lantai dibuka, letak tempat tisu, kran air, air dan
bangunan, panel dalam dari tombol lift perlengkapan lainnya dipasang sedemikian
dipasang dengan ketinggian 90-120 cm rupa sehingga mudah digunakan dan
dari muka lantai ruang lift, semua dijangkau, ketinggian kloset duduk 45- 50
tombol pada panel harus dilengkapi cm. (Permen PU 30/ PRT/M/ 2006)

Awik Retyaka Afudaniati, Dwi Aries Himawanto, Aksesbilitas bagi Difabel 141
pada Bangunan Masjid
Jurnal Arsitektur, Bangunan, & Lingkungan | Vol.7 No.3 Juli 2018 : 137-144

bebas di depan wastafel ada lantai yang


menurun (tempat pembasuh kaki). Namun
dari segi interior dan material wastafel
sudah dirancang sedemikian rupa sesuai
dengan aturan yang seharusnya.

Gambar 6. Desain toilet yang aksesibel


Sumber : Permen PU 30/ PRT/M/ 2006

Masjid Agung Al Aqsa memiliki dua


toilet duduk untuk jamaah putri yang
terletak berdampingan dengan tempat Gambar 9. Wastafel di masjid Agung Al
wudhu putri. Toilet duduk yang disediakan Aqsa Klaten
pada masjid ini memiliki tekstur lantai yang
kasar, pintu yang mudah terbuka, 3.9. Tempat Wudhu
ketinggan kloset 45 cm. Namun peralatan Perancangan standar tempat wudhu
toilet yang tersedia hanya tempat tisu untuk disesuaikan dengan Permen PU 30/
tempat handuk, pengering tangan dan PRT/M/ 2006 dan pendapat yang
tempat untuk menaruh pakaian belum dikemukakan oleh Suparwoko (Januari,
tersedia. 2016). Menurut Permen PU 30/ PRT/M/
memiliki sirkulasi horizontal (lebar koridor
180 cm, tinggi pintu 200 cm, lebar pintu,
100 cm) dan dari segi sirkulasi vertikal
lebar dan tinggi pijakan yang sesuai bagi
penyandang difabel, memiliki material
lantai yang kasar. Dilihat dari segi interior
Gambar 7. Toilet duduk di masjid Agung
pada tempat wudhu menurut Suparwoko
Al Aqsa Klaten
(Januari,2016) interior tempat wudhu
dapat digambarkan sebagai berikut ini:
3.8. Wastafel
Persyaratan wastafel yang sesuai
antara lain wastafel dipasang sedemikian
rupa sehingga tinggi permukaannya dan
lebar depan dapat dimanfaatkan pengguna
kursi roda, ruang gerak bebas yang harus
disediakan di depan wastafel, wastafel
harus memiliki ruang gerak di bawahnya
sehingga tidak menghalangi lutut dan kaki
pengguna kursi roda, pemasangan
ketinggian cermin diperhitungkan terhadap
pengguna kursi roda, dan menggunakan
kran dengan sistem pengungkit. (Permen
PU 30/ PRT/M/ 2006)

Gambar 10. Desain tempat wudhu


Sumber: Suparwoko (2016)

Tempat wudhu pada masjid ini


Gambar 8. Desain wastafel yang hanya disediakan tempat wudhu berdiri.
aksesibel Tempat wudhu pada masjid ini dilihat dari
Sumber : Permen PU 30/ PRT/M/ 2006 segi sirkulasi horizontal, vertikal, material
Wastafel yang disediakan pada dan interior sudah cukup memadai bagi
bangunan masjid ini belum dapat diakses penyandang difabel. Hanya saya kurang
secara baik oleh pengguna kursi roda disediakan tempat pijakan kaki pada
secara mandiri karena pada ruang gerak tempat wudhu berdiri.

Awik Retyaka Afudaniati, Dwi Aries Himawanto, Aksesbilitas bagi Difabel 142
pada Bangunan Masjid
p-ISSN : 2088-8201 e-ISSN : 2598-2982

Berdasarkan deskripsi aspek- aspek


penunjang bangunan yang aksesibel di
atas dapat disajikan tabel hasil penelitian
untuk memperjelas observasi mengenai
aksesibilitas pada masjid Agung Al Aqsa
Klaten. Berikut ini disajikan tabel hasil
observasi di lapangan yang diamati
berdasarkan Permen PU 30/ PRT/M/ 2006
Gambar 11. Tempat wudhu di masjid dan desain tempat wudu Suparwoko
Agung Al Aqsa Klaten (2016).

Tabel 1. Perolehan skor hasil observasi pada aspek aksesbilitas di Masjid Agung Al Aqsa Klaten

No. Fasilitas Jumlah butir Terpenuhi Tidak terpenuhi


instrumen
1 Area parkir 7 3 4
2 Pintu 5 4 1
3 Ram 6 4 2
4 Tangga 8 7 1
5 Lif 11 6 5
6 Toilet 17 15 2
7 Wastafel 12 9 3
8 Tempat Wudhu 17 14 3
Jumlah 83 62 21

Berdasarkan tabel tersebut dapat dapat diketahui dalam daerah tersebut


disimpulkan bahwa tingkat akjsesibilitas sudah memberikan pelayanan aksesibilitas
pada masjid Agung Al Aqsa Klaten adalah pada semua tempat ibadah yang ada di
75%. daerah tersebut.

4. KESIMPULAN DAN SARAN 4.2. Saran/ Rekomendasi


4.1. Kesimpulan Untuk renovasi bangunan masjid ke
Berdasarkan hasil observasi dan depannya perlu ditingkatkan lagi untuk
prosentase aksesibilitas masjid Agung Al aksesibilitas bagi kaum difabel lainnya
Aqsa Klaten dapat dikatakan bahwa seperti tunanetra. Hal ini dikarenakan
bangunan masjid sudah memenuhi kriteria belum adanya jalur pemandu, tempat parkir
pembangunan berdasarkan Permen khusus untuk difabel, dan belum adanya
Permen PU 30/ PRT/M/ 2006 dan desain fasilitas khusus bagi difabel tunanetra dan
tempat wudu Suparwoko (2016) . tunarungu seperti rambu dan marka
Kelebihan penelitian ini dideskripsikan dengan huruf braille dan jalur pemandu di
secara detail dari hasil observasi lapangan, area masjid.
dokumentasi dan hasil wawancara. Untuk penelitian lebih lanjut
Keterbatasan penelitian ini masih sebagiknya menambah objek penelitian
terbatasnya sampel yang digunakan untuk yang akan diukur tingkat aksesibilitasnya
mengukur aksesibilitas fasilitas umum untuk mengetahui lebih mendalam tentang
tempat ibadah. Penelitian selanjutnya penerapan aksesibilitas pada bangunan
dapat menambah objek penelitian supaya fasilitas umum khususnya tempat ibadah.

Awik Retyaka Afudaniati, Dwi Aries Himawanto, Aksesbilitas bagi Difabel 143
pada Bangunan Masjid
Jurnal Arsitektur, Bangunan, & Lingkungan | Vol.7 No.3 Juli 2018 : 137-144

5. DAFTAR PUSTAKA Ruang Masjid.diakses pada 1 Oktober


Kurniawan, Turiq A. 2017. Komparasi 2017 dari
Ergonomi Ruang Wudhu Masjid Jami’ Al- https://www.researchgate.net/publication/
Karim Pesanggrahan Dan Masjid Ash 289253959_Standar_Perancangan_TEM
Shaff Emerald Bintaro. Jakarta : PAT_WUDHU_dan_TATA_RUANG_MAS
Universitas Mercu Buana JIDpdf

Maftuhin, Arif. (Juli- Desember 2014). Undang- undang No 8 Tahun 2016 tentang
Aksesibilitas Ibadah Bagi Difabel: Studi Penyandang Disabilitas.
Atas Empat Masjid Di Yogyakarta. Inklusi
Vol I, No. 2 diakses pada 15 Oktober
2017 dari
https://docs.google.com/viewerng/viewer?
url=http://ejournal.uin-suka.ac.id/pusat
/inklusi/article/viewFile/010207/986

Peraturan menteri pekerjaan umum. 2006.


Pedoman Teknis Fasilitas dan
Aksesibilitas pada Bangunan gedung dan
Lingkungan. Jakarta: Peraturan Menteri
Pekerjaan Umum

Puteri, dkk. (Agustus,2016). Aktivitas Sosial


di Area Publik Masjid Salman ITB dan
Pengaruhnya terhadap Layout. Jurnal
Sosioteknologi Vol 15. No 2 diakses pada
1 Oktober 2017 dari
https://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q
=&esrc=s&source=web&cd=2&cad=rja&u
act=8&ved=0ahUKEwjYruCWm__WAhXI
pY8KHRx4DPMQFgguMAE&url=http%3A
%2F%2Fdownload.portalgaruda.org%2Fa
rticle.php%3Farticle%3D462369%26val%
3D7388%26title%3DSOCIAL%2520ACTI
VITY%2520IN%2520THE%2520PUBLIC
%2520AREA%2520OF%2520SALMAN%
2520MOSQUE%2520ITB%2520AND%25
20ITS%2520EFFECTS%2520TOWARD
%2520LAYOUT&usg=AOvVaw1yDmKPh
V771iU7rSP30nki

Peraturan Daerah Kabupaten Klaten. 2011.


Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten
Klaten tentang Kesetaraan Kemandirian
dan Kesejahteraan Difabel. Klaten :
Peraturan Daerah Kabupaten Klaten

Ramli, Rohaiza B .2017. Accessibility of


Facilities Provision for Person with
Disabilities in Mosque. e- Proceeding
National Innovation and Invention
Competition Through Exhibition diakses
pada 1 Oktober 2017 dari
https://upikpolimas.edu.my/conference
/index.php/icompex/icompex17/paper/vie
wFile/260/7

Suparwoko, Woko. (Januari,2016). Standar


perancangan Tempat Wudhu dan Tata

Awik Retyaka Afudaniati, Dwi Aries Himawanto, Aksesbilitas bagi Difabel 144
pada Bangunan Masjid